Chapter 28"Grace, apa kau demam?" William bertanya sambil mengemudikan mobilnya. "Aku tidak," jawab Grace. Alisnya berkerut dalam karena pertanyaan William. Saat itu mereka dalam perjalanan ke suatu tempat yang dirahasiakan oleh William. Grace beberapa kali bertanya tetapi William tidak menjawab. "Benarkah?" William mengurangi kecepatan mobilnya, memberikan tanda kemudian perlahan menepikan mobilnya lalu menghentikannya dan meraba kening Grace untuk memastikan suhu tubuh wanita itu. Ia khawatir Grece terserang demam lagi lalu menularinya, tetapi bukan tertular demam yang membuatnya khawatir melainkan hal lain, ia khawatir Grace melarikan diri lagi saat dirinya sedang tidak berdaya."Aku baik-baik saja, kenapa kau mengira aku demam?" Grace mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia meraba keningnya sendiri merasakan suhu tubuhnya yang terasa normal."Kulihat wajahmu begitu merah, aku pikir kau sakit," ucap William sambil memastikan sekali lagi.Grace meraba pipinya dengan Kedua telapa
Chapter 29"Kau seharusnya berterima kasih kepadaku," ucap William menggoda Grace yang sedang terkagum-kagum melihat desain ruangan itu. Desainnya sangat cocok dan sesuai seleranya seolah William bisa membaca apa yang ada di dalam angannya."Aku sudah melakukannya tadi." Grace memajukan bibirnya."Itu belum cukup." William berbicara pelan sangat dekat di telinga Grace membuat bulu kuduknya terasa meremang. Grace menjauhkan tubuhnya dari lengan William yang sejak tadi merangkul pundaknya. "Apa di otakmu hanya ada itu?" bola mata Grace membesar menatap William dengan tatapan galak.William menaikkan sebelah alisnya. "Benar," ucapnya di sertai seringai di Bibirnya.Andai bukan karena kau mewujudkan mimpiku, aku benar-benar ingin menendang bokongmu hingga kau terpental dari atas sini!"Kalau begitu, ayo lakukan," ucap Grace dengan nada kesal.William berjalan menuju sofa bed lalu dengan nyaman meletakkan bokongnya di sana, ia menyandarkan punggung dan kepalanya. "Aku ingin kau yang melak
Chapter 30"Grace? Kenapa berdiri di situ? Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." William melangkah mendekati Grace yang terpaku melihat kedatangannya.Grace mendengus, ia menatap William dengan tatapan permusuhan tanpa membuka mulutnya."Kau pasti lapar, bukan? Ayo kita makan aku membeli banyak makanan kesukaanmu," kata William."Aku tidak lapar," jawab Grace dengan nada ketus."Kau pasti belum makan, 'kan?" "Aku tidak lapar," ucap Grace dengan nada semakin ketus. "Bagaimana mungkin kau tidak lapar? kau memesan makanan melalui....""Kubilang, aku tidak lapar!" potongnya dengan nada meninggi, dengan kasar ia melangkah dan naik ke atas ranjangnya kemudian mengubur tubuhnya ke dalam selimut.William mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa salahnya. "Grace, jangan seperti anak kecil." ucapnya sambil mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang."Pergi!" hardik Grace dari balik selimutnya. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah pria yang mungkin baru saja berkencan dengan gadis l
Chapter 31Hari pertama William tidak ada di tempat tinggal mereka, Grace memanfaatkan waktu bebasnya pergi berbelanja perlengkapan keperluan workshop miliknya. Hari ke dua dan hari ke dua kebetulan ia memiliki banyak waktu luang. Grace merenung beberapa saat memikirkan hidupnya, baru sehari saja tidak memiliki kesibukan dirinya sudah mulai akan bosan dan berpikir jika dirinya kesepian tinggal sendirian, seperti dulu ketika tinggal di Moscow. Untunglah saat itu ada Khaim, workshop milik Khaim adalah tempat paling menenangkan bagi Grace di masa lalu. Saat ia jenuh dengan pekerjaannya ia biasanya pergi untuk menemui Khaim meski hanya untuk sekedar mengobrol santai atau belajar mendesain bahkan pergi berdua dengan Khaim untuk sekedar meminum kopi di sebuah cafe.Grace berguling-guling di atas tempat tidur William, entah mengapa meski ia memiliki kamar sendiri nyatanya ia lebih memilih tidur di kamar William. Ia menyukai aroma William yang tertinggal di bantalnya. Setelah puas menghirup
Chapter 32"Alicia, Bagaimana kabarmu sayang?" Ford merangkul bahu Grace dengan gerakan lembut. Ia menyapukan bibirnya di atas kepala Grace.Grace tidak menghindar, dengan senang hati ia membiarkan lengan Ford berada di pundaknya sambil bibirnya tersenyum hingga menampakkan deretan giginya yang rapi, ia mendongak untuk menatap wajah Ford. "Aku baik-baik saja, senang sekali akhirnya kalian tiba juga di London, selamat datang Ford, Halifa," ucap Grace. "Terima kasih, Sayang. Kau tampak dalam suasana hati yang bagus, Alicia." Ford menggoyangkan bahu Alicia beberapa kali. Tentu saja karena aku akan perlahan memberi kalian pelajaran di sini. "Benar, suasana hatiku sangat baik hari ini," jawab Grace seraya melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Ford tanpa memedulikan Halifa yang berdiri sambil memegangi kedua kopernya yang berukuran besar. Jauh di dalam hati Grace mencibir Halifa yang berpenampilan seolah ia seorang biduan, gadis itu mengenakan rok potongan pensil selutut kemudian
Chapter 33Di sebuah ruangan tertutup di Glamour Entertainment. Mengenakan blouse berwarna putih lengan panjang yang dipadukan dengan celana panjang berbahan kain yang berwarna cream, Grace tampak sangat menawan. Ia juga mengenakan sepatu dengan hak tinggi yang tampak runcing berwarna senada dengan celana yang di kenakan, rambut panjangnya yang berwarna kuning kemerahan diikat ekor kuda rendah. Dengan anggun ia melangkah menuju bangku didampingi oleh Ford. Di sana, Leonel telah menunggunya. Senyum tampak tak lepas dari bibirnya yang berwarna pink kemerahan. Grace duduk di kursi yang telah disediakan untuknya diapit dua pria tampan. Leonel berdehem. "Aku Leonel Johanson, kali ini mengundang teman-teman wartawan di sini untuk memberitahukan bahwa terhitung dari hari ini saudara kembarku, Grace Elizabeth Johanson secara resmi dia telah bergabung bersama Glamour Entertainment," ucap Leonel mengawali pidatonya pagi itu. Grace melirik dengan ekor matanya ke arah Ford yang duduk di sampin
Chapter 34"Bagaimana pekerjaanmu?" William membelai rambut Grace dengan lembut, sore itu ia sengaja menjemput Grace di lobi gedung Glamour Entertainment. "Semuanya berjalan dengan baik, aku menerima beberapa kontrak dari brand ternama tetapi ada juga satu yang harus melalui penjurian, semacam kompetisi atau... seleksi," jawab Grace sambil memasang seat beltnya. William memindah persneling kemudian menginjak pedal gas, perlahan mobil melaju meninggalkan gedung Glamour Entertainment. "Kau pasti bisa melewatinya, kapan seleksinya di laksanakan?" "Kudengar dua minggu yang akan datang jadi selama dua minggu aku harus berlatih berjalan di atas catwalk, menjaga berat tubuhku dan aku harus menjaga pola makanku," jawab Grace sambil membuka kunci ponselnya. Ia membalas pesan yang masuk, itu adalah pesan dari Halifa yang telah ia siksa dengan berbagai macam pekerjaan baru. "Apa ada ahli gizi yang akan mengatur pola makanmu?" "Ya, manajerku telah mengatur semuanya," jawab Grace sambil bibir
Chapter 35William berdiri di depan pintu kamarnya, ia tampak menyandarkan salah satu bahunya di dinding. Tubuhnya yang tinggi tegap tampak sedikit melengkung, tatapan matanya menatap lurus mengarah kepada Grace yang baru saja kembali ke tempat tinggalnya. Sama seperti dirinya yang masih mengenakan setelan formal lengkap dengan dasi yang terikat rapi di lehernya, kebetulan ia baru saja masuk dan tidak lama kemudian Grace datang bersama Halifa yang baru pertama kali dilihatnya.Kedua wanita itu tampak sibuk meletakkan barang-barang di tangan mereka di atas meja dan sofa, kedua gadis itu duduk dengan nyaman setelah barang bawaan mereka telah berjejer rapi di tempatnya di letakkan. William menebak Grace baru saja berbelanja. "Kau menghamburkan uangmu, Grace?" tanya William.Grace mendongakkan kepalanya. Ia melepas senyum manis kepada William, matanya yang seindah samudra tampak berkilat. "Sedikit," jawabnya. Ia hanya sedikit memanfaatkan uang Ford yang tiba-tiba menjadi sangat baik dan
Chapter 11The Elapsed TimeGrace mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan sutra, ia melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambutnya yang berwarna kuning kemerahan tergerai di pundaknya. Ia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Tidak dipungkiri jika pikirannya sangat kacau meski ia berusaha bersikap setenang mungkin di depan William dan seluruh keluarga. Bukan memikirkan Nathalia, tetapi ia ingin menjumpai adiknya. Ia memejamkan mata seraya mencari-cari cara agar ia dapat menyelidiki keberadaan Theresia tanpa diketahui oleh Nathalia maupun William. Grace membuka matanya dan menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian wajahnya saat pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok suaminya. William menyuruh Grace untuk kembali ke kamar terlebih dahulu dan ia itu berbicara dengan Leonel di kamar Leonel."Kau belum tidur?" William menutup pintu laku berjalan ke meja untuk meletakkan laptop dan ponselnya. Grace menggelengkan kepalanya. "Apa ada ma
Chapter 10 Share the BodyguardAlexander duduk di kursi ruang belajar sambil mengetukkan jari tengah dan telunjuknya ke meja, kerutan di dahinya cukup dalam. Tetapi, sorot matanya masih tampak tenang. "Seharusnya Wilona menjalani hukuman seumur hidup, yang berarti ia harus mendekam di dalam penjara selama dua puluh delapan tahun," ujar Alexander. "Siapa kira-kira yang membantunya keluar?" William menatap ayahnya lekat-lekat."Aku tidak tahu," ujar Alexander setelah berpikir keras. "Apa mungkin Nathalia?" Seperti Alexander, William juga berpikir sangat keras. Alexander menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Nathalia sangat membenci Wilona, mustahil ia membantu. Lagi pula, Nathalia menikah dengan orang biasa. Hanya kepala sipir, ia tidak mungkin sanggup menyuap untuk mengeluarkan Wilona dan mereka tidak ada di London."Nathalia menjalani hukuman sepuluh tahun, setelah keluar, ia dinikahi oleh kepala sipir. Alexander memantaunya, menggunakan koneksinya, ia meminta pejabat kep
Chapter 9Low ProfileGrace memutuskan mengganti pakaian setelah Sidney meninggalkan kamarnya lalu mengambil ponsel untuk memberi tahu William jika ia berada di kediaman orang tua mereka. Ia juga memberi tahu Nina untuk membereskan ruang kerjanya sekaligus mengunci pintunya. Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya tertuju ke arah foto yang dibingkai dengan pigura kecil yang ada di atas nakas. Foto dirinya bersama Leonel dan William, saat foto itu diambil Alexa belum lahir. Mungkin saat itu usianya empat tahun, di dalam foto itu ia menyeringai lebar ke arah kamera, sama seperti Leonel. Sedangkan William, senyumnya tidak terlalu lebar. Grace tidak menyangka jika ia bukanlah anak kandung di keluarga Johanson, bahkan seluruh keluarga Johanson pun tidak. Mata Grace berwarna biru, sama seperti Leonel, mungkin karena hal itu yang membuat tidak seorang pun menyadari jika putri asli di keluarga Johanson telah ditukar hingga saat Grace berusia lima tahun, kebenaran terkuak. Nathalia menjual ba
Chapter 8We are FamilyNatalia tersenyum. "Aku ingin melihatmu dari dekat." Jantung Grace terasa membengkak, ia sama sekali tidak ingin bertemu wanita yang tega menjual darah dagingnya sendiri. Ia merasakan amarah dan kekecewaan yang datang bersamaan, tetapi tidak dipungkiri jika ia merasakan sedikit rasa haru yang ia coba tepis jauh-jauh, ia tidak ingin mengakui jika ia bahagian bisa melihat wanita yang mengandung dan melahirkannya, sedikit pun tidak."Kau menjualku, di antara kita tidak ada hubungan apa pun. Jadi, kau tidak perlu ingin melihatku lagi." "Aku tahu kau pasti langsung mengenaliku," ucap Nathalia diiringi senyum di bibirnya. Bibir Grace mengulas senyum sinis. Ia bisa mengenali Nathalia sejak pertama kali melihat ibu kandungnya, tentu saja. Istri ayah kandungnya beberapa kali menunjukkan foto Natalia muda yang merupakan perwujudan dirinya, bukan karena itu saja, tetapi Natalia memiliki tanda tahi lalat di bawah kelopak matanya sebelah kiri. "Kuperingatkan kau, jangan
Chapter 7StalkerMeski Grace menyangkal pengakuan William dengan mengatakan jika William hanya bercanda, tetapi penyangkalannya hanya berujung sia-sia karena sebelum William meninggalkan ruangan, Grace ditarik ke dalam pelukannya dan William menciumi bibir Grace dengan paksa. Tetapi, Grace tidak menolak. Tidak mamou menolak William tepatnya."Kau menikahi kakakmu sendiri?" tanya Nina yang masih tampak kebingungan. Kulit wajah Grace masih memerah, ia menyeringai. Nina menggelengkan kepalanya. "Itu hal tergila yang pernah kusaksikan. Tapi, cinta memang buta. Mau bagaimana lagi?" "Kuharap kau tidak membocorkannya kepada siapa pun," ujar Grace. "Pernikahan kalian dan cinta kalian pasti luar biasa, itu bukanlah hal yang memalukan. Kenapa mesti disembunyikan?" Grace duduk di kursinya. "Kurasa, ada yang harus kuluruskan," ucapnya disertai dengusan pelan. "Duduklah." Nina menarik kursi yang tadinya diduduki William. "Apa ini cerita cinta kalian?" tanyanya sambil duduk. "Ya, katakan sa
Chapter 6My WifeMeghan dan Calvin menikmati kopi di restoran hotel tempat mereka mengadakan pesta pernikahan kemarin."Sean," seru Meghan saat Sean, sepupunya terlihat memegangi piring berisi makanan dan segelas jus jeruk di restoran. Ia melambaikan satu tangannya."Sepertinya kau ingin memamerkan kemesraan pengantin baru padaku," seloroh Sean seraya menarik salah satu kursi.Calvin menaikkan kedua alisnya. "Tidak, kami tidak sekejam itu." "Ya, kami tidak seperti itu." Meghan meletakkan dagunya di pundak Calvin. "Aku mencintaimu."Calvin meraih telapak tangan Meghan lalu mengecupnya. "Dan aku mencintaimu." Sean mengernyit. "Aku tidak mengerti, kalian seharusnya sarapan di kamar, untuk apa kalian sarapan di sini?"Seharusnya begitu, Meghan dan Calvin menggunakan layanan yang bisa dinikmati dari kamar seperti biasanya pengantin batu, bukan malah menikmati sarapan pagi di restoran hotel. Meghan memutar bola matanya. "Kami ingin menikmati kopi di sini. Lagi pula kami hari ini akan p
Holla, selamat sore.Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan rate bintang lima di pojok kiri bawah layar ponsel kalian dan Follow Authornya.Chapter 5 The Traitors"Aku tidak menyukai pria tadi," ucap William yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat tinggal mereka. Di sampingnya, Grace terkikik mendengar pernyataan William. "Kau tidak menyukai semua pria yang ada di sekitarku." "Aku tidak suka istriku ditatap pria lain." Grace memutar bola matanya. "Bagaimana mungkin kau berbicara seperti itu, sedangkan istrimu berprofesi sebagai model." Sudut bibir William terangkat mengingat bagaimana cara Sean menatap Grace, pria itu seolah menginginkan istrinya. "Batalkan saja kontrak konyolmu dengan desainer gaun pengantin itu." Grace menatap William dengan tatapan memperingatkan, ia menyipitkan sebelah mata sambil menghela napasnya. "Kau mulai bertingkah pencemburu dan tidak masuk akal lagi." "Kau akrab dengannya." Itu adalah sebuah tuduhan, s
Chapter 4My Cousin"Sekarang beri tahu aku," erang Grace sambil perlahan menggoyangkan pinggulnya dengan pelan.Mata keduanya bersobok, saling mengunci. Grace menatap William yang berada di bawahnya dengan sorot mata memohon, juga mendamba, sedangkan William menatap Grace dengan tatapan penuh cinta, juga gairah yang membara. Membakar seluruh jiwanya."Kau yakin ingin mendengarnya?" Grace mengangguk lemah seolah tidak berdaya, ia memang terlalu lemah setiap kali William memenuhi tubuhnya."Kau akan cemburu jika mendengarnya." William mencengkeram kedua pinggul Grace, mengangkatnya dengan rendah lalu menghunjamkan dirinya dalam-dalam ke dalam tubuh Grace yang sempit dan hangat. Grace terengah, Ia mencengkeram kedua bahu William, nyaris menjerit karena William terlalu dalam memenuhinya. Tubuhnya bergetar hebat oleh kenikmatan yang menerjangnya seperti badai, ia menempelkan bibirnya di bibir William, mencumbu bibir suaminya dengan serakah. Menghisap lidah William seolah hanya William y
Chapter 3 Who is She? "Willy," sapa Meghan yang hari ini akan menjadi pengantin. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih tanpa lengan, bagian bawah gaun yang ia kenakan terbuat dari kain sepanjang delapan meter hingga membuatnya mekar dengan sempurna. Gaun pengantin yang sempurna itu dipadukan dengan veil dan crown, membuat penampilan Meghan tampak sempurna seperti seorang ratu. "Selamat, akhirnya kau menikahi Calvin." William menempelkan pipinya ke pipi sahabatnya, bergantian kanan dan kiri. Meghan menyeringai lebar. "Aku sangat bahagia, ya Tuhan." "Aku turut bahagia," ujar William. Meghan mengerutkan hidungnya, ia memiringkan kepalanya, matanya melirik ke arah Grace yang berdiri di samping William. "Grace? Lama tidak berjumpa." Grace tersenyum ramah. "Selamat atas pernikahanmu. "Terima kasih." Meghan menatap Grace dan William bergantian. "Kalian pasangan serasi," bisiknya pelan. William merengkuh pundak Grace. "Dia pernah cemburu padamu." Grace membeliak