Home / Romansa / Obsesi Sepupu Suami / 5. Makan malam bersama

Share

5. Makan malam bersama

Author: Raisya_J
last update Last Updated: 2024-12-17 12:32:35

Renata membuka pintu itu, ternyata di sana hanya ada keran menyala dengan air yang terus keluar. Alhasil ia menghembuskan nafasnya lega, lantaran tadi sempat merasa takut kalau ada orang lain di dalam sana.

“Rupanya dia lupa mematikan kerannya.” Renata langsung mematikan keran itu.

Renata menutup pintunya kembali, ia menatap ke arah kamar yang sekarang sudah berantakan dengan menghela nafas.

“Aku jadi membereskan ini dua kali." Renata memukul kepalanya pelan.

Renata pun memilih untuk membereskan semua barang yang berserakan.

“Memang apa yang dia cari sampai membuat kamar ini menjadi berantakan seperti ini!” gerutu Renata seorang diri, tangannya sambil memunguti pakaian kotor.

Hanya saja Renata pun melihat kalau kemeja yang awalnya ia gantung di balik pintu menjadi terjatuh di lantai. Ia pun bergegas untuk memungutnya, lantaran dirinya sudah tahu kalau ada gelang emas di dalam saku kemeja tersebut. 

“Bisa-bisanya dia menjatuhkan ini ke bawah. Apa dia lupa kalau di sini ada barang berharga? “ Renata menggantung kembali kemeja itu tanpa merasa curiga.

Hanya saja entah kenapa Renata ingin merogoh kembali saku kemeja itu. Tangannya pun mulai meraba-raba isi di dalamnya, tetapi tidak menemukan gelang emas yang seharusnya berada di sana. Keningnya pun menjadi mengerut, lantaran tidak menemukan barang tersebut. 

“Kenapa tidak ada di sini? Apa terjatuh?” Renata melirik ke arah bawah, tetapi ia tidak mendapati gelang emas di situ.

Renata pun bergegas untuk menggantung kemeja itu kembali, ia berniat untuk mencari gelang emas tersebut. Lantaran merasa kalau tidak sengaja terjatuh ke bawah akibat suaminya mencari barang penting yang tertinggal.

“Bisa-bisanya dia sangat ceroboh sekali!” Renata berjongkok untuk mencari gelang emas itu.

Tak lupa Renata pun mencari ke setiap sudut ruangan, ia takut kalau gelang emas itu tak sengaja terlempar ke sudut atau terselip ke bawah. Namun, sudah dua jam mencari, tidak kunjung menemukan di mana pun. Alhasil membuat wanita itu menjadi sangat lelah sekali.

“Ke mana, ya? Aku tidak menemukannya dari tadi, sampai membuatku terasa sangat lelah sekali.” Renata duduk bersimpuh di lantai.

Renata berusaha untuk berpikir positif, dengan memikirkan kalau dirinya lah yang tidak teliti sehingga tidak dapat menemukan gelang emas itu di mana pun. Sehingga ia pun memilih untuk mencari sekali lagi, supaya bisa memastikan kalau memang berada di dalam kamar atau tidak.

"Sudahlah sepertinya tidak ada di sini!” gerutu Renata kesal.

Setelah itu pikiran Renata hanya terfokus kepada gelang emas yang sekarang entah berada di mana. Ia pun mulai mengingat tentang Gio pulang ke rumah, setelah lelaki itu pergi tanpa pamit gelang emas itu pun menjadi tidak berada di tempat lagi.

"Apa dia yang mengambilnya?” gumam Renata pelan.

Mata Renata tak sengaja menatap ponsel yang berada di atas kasur. Ia lantas mengambilnya. “Bahkan dia meninggalkan ponselnya!”

Tangan Renata mengetuk-ngetuk meja, ia terus memandangi televisi yang menyala dengan tatapan kosong. Karena sekarang pikirannya tidak beralih dari gelang emas yang hilang.

Suara dering ponsel pertanda ada pesan masuk membuyarkan lamunan Renata. Ia bergegas mengambil ponsel milik Gio yang berada di meja untuk melihat siapa pengirim pesan tersebut.

“Nomor tanpa nama?" Renata mengerutkan alisnya, ia tidak mengetahui siapa pengirim pesan itu.

Sebenarnya Renata sangat malas membuka pesan tersebut, lantaran nomor itu tanpa nama yang berarti tidak tersimpan di dalam kontak. Namun, ia sangat penasaran dengan isi pesan dari pengirim tersebut, sehingga memilih untuk membukanya.

[ Apa kau sudah menemukan gelangnya? ] Isi pesan tersebut.

“Maksudnya apa? “ Renata menaik-turunkan alisnya.

Dahi Renata terus saja berkerut, ia berusaha untuk memahami maksud dari isi pesan itu. Seketika ia baru saja teringat kalau mungkin saja yang dimaksud adalah gelang emas itu.

“Maksudmu gelang emas? Tapi kau siapa? Aku tidak mengenalmu karena nomormu tidak tersimpan di kontak. “ Renata menekan tombol kirim.

Hanya saja pesan itu tidak kunjung dibalas oleh orang itu, padahal sudah centang biru membuat Renata menjadi semakin penasaran. Kegelisahannya menjadi semakin menjadi, ia pun memilih untuk memeriksa poto profil pemilik pengirim pesan itu, tetapi ternyata tidak ada.

“Apakah aku harus menanyakan gelang itu kepada Gio dan pemilik nomor tanpa nama ini? Tapi bagaimana kalau gelang itu untukku dan nomor ini hanya salah alamat? Bukankah aku malah membuat Gio menjadi kesal?” Renata menggigit kuku jarinya, ia terus mondar-mandir di ruang tamu dengan gelisah.

Renata memilih untuk menatap jam di dinding, Ia tidak sabar menunggu kepulangan Gio untuk menanyakan semua itu.

“Ternyata sekarang sudah jam empat sore, sebaiknya aku segera memasak dan setelah itu mandi untuk menjernihkan pikiran.” Renata mengusap wajahnya kasar untuk menyadarkan dirinya.

Renata berusaha tetap fokus untuk memasak makanan, karena ia tidak ingin lagi kejadian mengosongkan makanan itu untuk kedua kalinya. Alhasil setelah dirinya memasak langsung pergi ke lantai dua untuk membersihkan diri, berharap kalau perasaan gelisah akan segera sirna secepat mungkin. Namun, tetap saja ia terus memikirkan hal itu, seakan hidupnya sekarang hanya tertuju ke gelang emas tersebut.

Waktu yang ditunggu sudah tiba, terdengar suara mesin mobil mendekati halaman. Renata pun memilih untuk berlari kecil menghampiri keluar, lantaran ia sudah tidak sabar lagi untuk bertanya kepada Gio. Namun, saat pintu dibuka, betapa terkejutnya dirinya melihat lelaki yang sekarang sedang bersama dengan sang suami. Bahkan lelaki tersebut pun mengedipkan mata kepada Renata.

‘Apa yang dia lakukan di sini dan apa-apaan itu?’ gerutu Renata dalam hati, saat ia melihat Bram berjalan mendekat bersama Gio.

“Hai, Sayang.” Gio mengecup kening Renata dengan mesra.

Renata sekilas melihat kalau Bram mengepalkan tangannya, tetapi saat ia memperhatikan lelaki itu dengan seksama Bram malah tersenyum kepada dirinya.

Gio menyadari kalau Renata terus menatap ke arah Bram. Ia pun mendekati sang istri secara perlahan.

“Ah, ini Bram. Dia adalah sepupuku, kamu masih ingatkan?” tanya Gio, ia menatap lekat Renata.

Renata hanya menjawab dengan anggukan, karena ia fokus menatap Bram.

“Aku mengajak Bram untuk ikut makan bersama dengan kita. Tidak masalahkan?” tanya Gio meminta persetujuan Renata.

Renata tersentak, ia tidak ingat kalau sekarang ada Gio berada di antara mereka. Karena terlalu fokus memandangi Bram.

Lantas Renata pun mengukirkan senyuman manis di bibirnya. “Tidak masalah, Sayang. Lagi pula bukankah dia adalah sepupumu? Berarti dia juga adalah sepupuku juga.”

Gio merangkul erat Bram, ia tersenyum dengan sangat lebar. “Benarkan apa yang kukatakan? Istriku ini adalah istri yang baik, jadi tidak mungkin dia akan marah kalau kau ikut makan dengan kami.”

“Benar sekali. Istrimu adalah wanita yang baik, bahkan mungkin lebih, kau sangat beruntung mendapatkannya.” Bram tersenyum dengan menaikkan sudut bibirnya, tatapannya tidak beralih dari Renata.

Bram mengambil tangan Renata, ia langsung mengecup punggung tangan wanita itu tanpa sungkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Obsesi Sepupu Suami   6. Cemburu

    Renata menjadi tegang dengan apa yang dilakukan oleh Bram. Ia tidak menyangka lelaki itu malah langsung mengecup tangannya di depan Gio, yaang adalah suami Renata.“Apa yang kau lakukan?” Renata menarik tangannya dengan cepat, wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat.Suasana menjadi terasa hening, Renata sangat ketakutan sekali kalau Gio memarahi dirinya lantaran perlakuan dari Bram. Namun, selama menunggu beberapa menit, tak kunjung terdengar suara dari sang suami. Membuat ia menjadi mendongak untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh Gio.Hanya saja Gio malah mendekati dirinya dan merangkul pundak Renata.“Gio, aku tidak tahu apa yang dia lakukan kepadaku. Tadi terlalu tiba-tiba dan aku tidak sempat menarik tanganku!” ucap Renata dengan terbata-bata, bingung menjelaskan seperti apa.Gio hanya diam, tetapi tiba-tiba falah tertawa dengan keras. “Kau ini terlalu menggoda Renata, lihatlah wajahnya sampai menjadi berkeringat karena merasa sangat gugup.” Ia memukul pundak Bram.“Kau tahuk

    Last Updated : 2025-01-02
  • Obsesi Sepupu Suami   7. Menahan amarah

    Gio tiba-tiba mencengkram tangan Renata dengan kuat, membuat wanita itu menjadi meringis kesakitan. "Apa yang kau pikirkan sendiri tadi? Sehingga kau tidak menggubris perkataanku!” Ia menaikkan sebelah alisnya, tatapan matanya sangat tajam menatap ke arah sang istri.“Sakit,Gio!”"rintih Renata."Jawab dulu pertanyaanku!" hardiknya.Lidah Renata terasa sangat kelu ingin mengucapkan sesuatu, lantaran melihat tatapan mata dari Gio yang sangat mengerikan. Lelaki itu menatapnya dengan tajam, sehingga membuat ia menjadi gemetar ketakutan.“Aku hanya merasa heran, kenapa kau tidak marah dengan perkataan dari Bram, itu saja,” jawab Renata dengan tergagap.Cengkraman dari tangan Gio mulai melunak, membuat Renata menjadi merasa sangat lega.“Oh, itu. Lagi pula itu kan sudah masa lalu kalian, jadi aku tidak akan mencampurinya dan bukankah semua orang sering memiliki masa lalu?” Gio mengedikkan bahunya, pertanda ia tidak mempermasalahkan semua itu.“Aku kira kau akan marah kepadaku.” Renata menun

    Last Updated : 2025-01-02
  • Obsesi Sepupu Suami   8. Keterlaluan

    Renata menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, ia keceplosan mengatakan hal itu di depan Bram. Karena Gio selalu tidak suka kalau dirinya mengatakan hal itu di depan tamu, entah siapapun itu.“Aku tidak menyangka kalau kau tidak dapat merubah kebiasaanmu itu, yang selalu minta dilayani walau hal sekecil apapun," ejek Bram dengan tertawa kecil.“Apa maksudmu? Kau lihat sendiri kan kalau aku tidak melarangnya untuk ikut duduk bersama kita. Tapi dia lah yang memiliki kebiasaan selalu melayaniku lebih dulu. Baru setelah melakukan itu dia akan makan,” sahut Gio terdengar seperti sanggahan di telinga Bram.“Kau lucu sekali! Kalau kau memang seperti itu, kau tidak perlu menutupinya. Kalian kan suami-istri wajar saja seperti itu.“ Bram melirik dengan sinis.“Sayang, duduklah! Kamu makan saja bersama kami, karena lelaki ini tidak percaya kalau kamu sendiri yang menginginkan untuk melayaniku lebih dulu sebelum menyantap makananmu.” Gio mengisyaratkan dengan lirikan matanya supaya Rena

    Last Updated : 2025-01-02
  • Obsesi Sepupu Suami   9. Semakin berani

    Suasana menjadi hening setelah Renata mengatakan hal itu. Ia pun menjadi menatap kedua lelaki itu secara bergantian, Bram ataupun Gio hanya memandangi dirinya saja.Renata menjadi sadar apa yang sekarang dirinya lakukan, sehingga ia langsung duduk kembali ke kursinya dengan wajah memerah menahan perasaan malu.Gio tertawa dengan terbahak-bahak melihat Renata menjadi malu."Kamu terlalu berlebihan, Renata. Lagipula Bram terlalu lama tinggal di luar negeri, jadi wajar saja kalau bicaranya itu terkadang keterlaluan. Kamu tidak perlu menanggapi dengan serius,” tutur Gio, ia mencoba menasehati Renata.Renata mendongakkan kepalanya menatap ke arah Gio yang berada di samping, matanya menjadi berkaca-kaca lantaran lelaki itu malah tidak ada rasa cemburu kepada lelaki lain padahal jelas-jelas Bram mengatakan ingin merebut dirinya. Namun, ia dengan cepat menundukan kepalanya sambil tangan terus mencengkeram ujung pakaian kuat. Berharap kalau perasaan sakit ya

    Last Updated : 2025-01-07
  • Obsesi Sepupu Suami   10. Senyuman ganjil

    Renata sekarang tidak terlalu fokus untuk mencuci piring lantaran mendengar Bram akan bermalam di rumahnya sekarang. Ia sangat yakin sekali kalau lelaki itu akan melakukan sesuatu di dalam istananya ini.“Kenapa Gio malah mengizinkan dia bermalam di sini? Apa dia tidak melihat ada mataku yang mengatakan tidak mengijinkannya!” Renata mencengkram kuat spons cuci piring yang berada di tangannya.Renata ingin mempercepat mencuci piring, tetapi ia terlalu malas sekali untuk bertemu dengan Gio di dalam kamar, lantaran merasa sangat kesal dengan lelaki itu. Sehingga ingin berlama-lama di dapur untuk menenangkan diri, supaya tidak terlalu kentara kalau sedang marah kepada suaminya tersebut.“Lebih baik aku menyeduh teh saja daripada hanya menggerutu. Siapa tahu setelah minum teh akan menjadi lebih baik.“ Renata mengelap tangannya dengan sapu tangan.Renata lantas segera membuat secangkir teh hangat untuk dirinya, supaya bisa me

    Last Updated : 2025-01-08
  • Obsesi Sepupu Suami   11. Panggilan di larut malam

    Renata segera beranjak dari kursinya melihat senyuman itu. “Apa maksud dari senyumanmu, Bram?”Hanya saja saat Renata sudah berada di ambang pintu dapur, ia tidak melihat lagi keberadaan Bram. Sehingga membuat ia menjadi bertanya-tanya ke mana lelaki itu dan kenapa sangat cepat sekali. Padahal baru saja keluar dari dapur, tetapi sudah tidak terlihat lagi.“Ke mana dia? Aku sangat yakin sekali kalau dia baru saja keluar dari dapur, tapi kenapa sudah tidak ada lagi di sini.” Renata melirik kesana-kemari mencari keberadaan Bram.Renata meneruskan langkahnya untuk mencari keberadaan Bram. Saat itu malah menabrak Gio yang sedang memegangi ponsel di tangan. Ia menjadi mengerutkan dahinya melihat lelaki itu keluar di waktu hampir larut malam seperti sekarang, tidak seperti biasa yang dirinya ketahui.“Kamu dari mana?” tanya Renata dan Gio serempak.“Kau duluan! “ ucap Renata dan Gio serempak lagi.Sua

    Last Updated : 2025-01-10
  • Obsesi Sepupu Suami   12. Wanita bergaun tidur

    Renata menjadi terbangun mendengar suara pintu tertutup, ia melihat kalau Gio tidak lagi berada di belakangnya membuat ia menjadi langsung beranjak dari ranjang."Ke mana dia?” Renata berjalan dengan perlahan menuju ke arah pintu.Renata mencari keberadaan Gio, ia melihat kalau lelaki itu sekarang sedang menuruni tangga sambil berbicara dengan seseorang di ponsel. Ia pun langsung berlari kecil, tetapi berusaha untuk tidak terdengar oleh sang suami.“Berapa kali sudah aku bilang jangan telepon aku saat aku di rumah. Tapi kenapa kau masih tidak menuruti perkataanku?” Gio mengusap wajahnya dengan kasar, raut wajahnya terlihat sangat kesal.Renata berhenti di dekat tangga, ia memperhatikan Gio yang sedang melangkahkan kakinya turun ke bawah.“Seharusnya kamu mengerti, aku tidak bisa kalau ditelepon seperti ini terus saat malam hari. Padahal kita bisa bertemu saat siang nanti,” tutur Gio.“Bertemu saat si

    Last Updated : 2025-01-10
  • Obsesi Sepupu Suami   13. Memperjelas siapa wanita itu?

    Renata bergegas untuk mengambil ponsel yang sekarang terjatuh di kamar mandi. Ia mengecek kondisi ponsel tersebut, takut kalau ada lecet ataupun tergores di sana. Beruntungnya tidak ada yang seperti ia pikirkan, sehingga ia menghembuskan nafas lega.“Syukurlah tidak ada yang rusak ataupun tergores.” Renata memeluk ponsel itu sambil mengucapkan syukur di dalam hati.Hanya saja Renata tentu saja tidak merasa tenang lantaran memergoki ponsel milik Gio yang ternyata ada seorang wanita cantik mengenakan gaun tidur. Namun, ia tidak bisa berlama-lama di dalam kamar mandi takutnya kalau sang suami akan segera terbangun. Alhasil sekarang Renata memilih untuk keluar dari kamar mandi walaupun hatinya sekarang tidak tenang. Matanya terus mengawasi Gio, takutnya kalau lelaki itu ternyata sudah terbangun sehingga ia tidak bisa mengembalikan ponsel itu ke tempat semula. Saat memasukkan kembali ponsel itu ke bawah bantal, Renata menatap datar ke arah Gio. Hatinya terasa sangat nyeri sekali membayang

    Last Updated : 2025-01-12

Latest chapter

  • Obsesi Sepupu Suami   34. Selama semalam bersama Bram

    Renata tersengal, ia merasa kalau lehernya sekarang sedang dicekik oleh seseorang. Namun, ternyata dirinya berada di ranjang kamarnya sendiri bersama Bram yang sedang memandanginya.“Tenang, Renata! Tarik nafasmu secara perlahan!” perintah Bram sembari mengelus punggung tangan wanita itu untuk menenangkan.Renata memegangi dadanya yang terasa sangat sesak, bagaikan ditusuk dengan ribuan pisau tajam, terasa menyakitkan dan perih. Namun, tidak ada setetes darah pun keluar dari saja. Alhasil dirinya hanya diam mematung, berusaha menetralkan perasaan terguncang dengan rekaman sang terus berputar di dalam kepala layaknya kaset.“Aku sangat tahu kalau apa yang kau tunjukan kepadaku itu hanyalah sebuah omong kosong. Mana mungkin Gio melakukan itu dan bagaimana kau bisa mendapatkan rekamannya?” Renata menutupi separuh wajahnya menggunakan tangan, ia tertawa keras sambil beberapa tetes bulir bening dari kedua matanya.Renata yang terlalu terpukul menjadi berusaha menyangkal semua yang sudah di

  • Obsesi Sepupu Suami   33. Terguncang

    Bram menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku mabuk!”Renata menatap dengan sorot mata tajam, ia sangat yakin sekali kalau Bram tidaklah mabuk. Namun, lelaki itu hanya berpura-pura saja.“Mabuk cinta,” kekeh Bram.Bram terus tertawa keras, tetapi tangannya tidak pernah lepas dari tubuh Renata. Ia tak ingin kalau wanita itu melarikan diri, sehingga terus memegangi layaknya sedang memegangi seorang anak kecil.“Bram, tolonglah! Jangan seperti ini!” gonta Renata.“Kau tidak ingin sekedar berpegangan tangan denganku? Padahal suamimu sedang melakukan hal lebih dengan wanita lain.” Bram merogoh kantong celananya, ia memberikan ponsel miliknya kepada Renata.Renata terkesiap saat melihat ponsel Bram, sebuah video sepasang kekasih sedang memadu kasih di atas ranjang. Jantungnya berdegup dengan kencang, bumi terasa berputar dan membuat dirinya menjadi terduduk lemas di lantai dingin.Bagaimana tidak? Salah satu orang yang berada di video adalah suami Renata sendiri. Lelaki itu sedang bersama

  • Obsesi Sepupu Suami   32. Melamar

    Renata menggigil ketakutan, tetapi ia memilih mengintip siapa orang yang sekarang menggedor pintu itu. Ternyata orang itu adalah Bram, namun ia memilih untuk tidak membuka pintu tersebut.“Ck, kenapa aku malah terus berurusan dengan dia? Apalagi disaat Gio tidak ada di rumah.” Renata melipat tangannya dengan perasaan malas, tetapi sesekali akan mengintip keluar.Bram terlihat semakin tidak sabar, lantaran gedoran itu semakin kuat. Renata menjadi terpaksa membuka pintu itu lantaran khawatir Bram malah akan menarik perhatian.“Bisakah kau hentikan itu? Itu akan mengganggu ketenangan orang lain!” gerutu Renata kesal.Wajah Renata memerah, ia menatap Bram dengan penuh amarah membara. Namun, yang ditatap malah hanya terkekeh kecil, seakan ia sekarang hanya mengatakan sebuah lelucon.“Menginaplah di hotel atau tempat lain, Gio tidak ada di rumah sehingga aku malas berduaan denganmu!” Renata berbalik, ia tidak ingin menatap wajah Bram.Aroma minuman keras tercium sangat jelas dari Bram, memb

  • Obsesi Sepupu Suami   31. Hanya milikku

    Entah kenapa Renata menjadi merasa merinding mendengar perkataan dari Gio. Ia lantas melepaskan pelukan lelaki itu, lantaran merasa sangat tidak nyaman sekali.“Aku akan pergi mencari Bram,” Renata memalingkan wajahnya, ia melangkah menjauh dari Gio.Renata bahkan tidak menoleh dari ke belakang, ia sangat tidak nyaman sekali mendengar perkataan dari sang suami. Dari cara bicara Gio, terdengar sangat jelas kalau lelaki itu posesif.‘Tidak! Itu hanya perasaanku saja!’ gumam Renata di dalam hati.Renata memeluk dirinya sendiri sambil mencari keberadaan Bram di kamar tamu. Langkahnya perlahan dan terasa ragu, lantaran rasa bersalah kembali menyelimuti perasaan.“Bram, apa kau di dalam?” Renata mengetuk pintu secara perlahan.Beberapa menit mengetuk pintu, Renata tidak mendapati suara apapun dari dalam.“Aku masuk!” seru Renata.Tangan Renata mulai perlahan mendorong pintu, ia khawatir kalau mendapati Bram yang ternyata sedang mandi. Namun, ternyata di dalam sana sangat sepi, seperti tidak

  • Obsesi Sepupu Suami   30. Tidak cemburu lagi

    Renata tertegun, ia pu mendongak menatap mata Bram lekat mencoba mencari tahu apakah lelaki itu berbohong kepada dirinya atau tidak, tetapi tatapan lelaki itu masih sama, masih seperti dulu.Bram masih memandang Renata dengan sama, bahkan ia tidak bisa melihat sedikit pun kebohongan di dalam mata lelaki itu. Namun, dirinya tidak ingin secepat itu percaya dan lagi pula hubungan mereka itu sudah menjadi masa lalu. Sehingga yang berlalu biarlah berlalu, ia tidak ingin mengenang lagi.“Entahlah.” Renata memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menatap Bram lebih lama.Bram mundur beberapa langkah, ia merasa sangat sakit hati mendengar kenyataan Renata tidak mempercayai dirinya. Namun, ia bisa apa? Sudah beberapa kali menyakinkan wanita itu untuk percaya, tetapi malah tidak mempercayainya.Renata menoleh sekilas, ia dapat sekali melihat kalau raut wajah Bram yang awalnya selalu angkuh berubah menjadi kecewa. Bahkan lelaki itu berjalan menjauh dari dirinya tanpa diminta, membuat perasaan bersal

  • Obsesi Sepupu Suami   29. Tidak berkhianat

    Punggung belakang Gio menghilang di balik pintu, membuat Renata baru berani untuk membuka matanya. Setetes bulir bening pun meluncur dengan begitu deras di sudut mata.“Ternyata memang benar apa yang kupikirkan selama ini.” Renata menangkup wajahnya dengan kedua tangan.Hati Renata begitu sakit mendengar kenyataan itu, awalnya ia terbangun lantaran merasa haus, tetapi ternyata harus mendengar kenyataan pahit dari mulut Gio sendiri. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak membuka mata atau sekedar menangis, beruntung bisa menahannya.“Tidak! Aku tidak boleh seperti ini, aku akan mengumpulkan bukti lebih banyak supaya bisa mengurus perceraian!” Renata menyeka kedua sudut matanya dengan kasar.Renata bertekad, ia akan menyelidiki semuanya dengan jelas. Supaya bisa menceraikan Gio, karena dirinya tahu lelaki itu pasti tidak akan membiarkannya dengan mudah.“Sayang, kamu tidak tidur?” Gio melirik sekilas, tak lupa tangannya mengunci pintu kamar.Renata menggeleng lirih. “Haus, jadi bangun.”

  • Obsesi Sepupu Suami   28. Terjebak

    Gio langsung tergagap mendengar perkataan dari Renata, tetapi ia dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Tidak mungkin menunjukkan ponselnya sekarang, lantaran ia sedang berkirim pesan dengan para wanita cantik, termasuk Rosetta.Renata mengerutkan dahinya, ia menatap penuh dengan selidik kepada Gio yang sekarang berada di depannya. Terlihat sekali kalau lelaki itu tidak ingin menunjukkan apa yang ada di dalam ponsel, sehingga membuat dirinya berpikir kalau kecurigaan selama ini adalah benar.“Kenapa wajahmu seperti itu? Seperti ada yang disembunyikan saja.” Renata menaikkan sebelah alisnya, ia terus menatap lekat ke arah Gio.Pupil mata Gip bergetar, ia mulai merasa gugup mendapati pertanyaan Renata seperti itu. Namun, ia mengubah posisinya menjadi telentang dengan tubuh yang ditutupi selimut.“Apa kamu tidak mau menunjukkannya kepadaku? Padahal aku hanya ingin melihat saja, apa yang membuatmu menjadi asik sampai tidak sad

  • Obsesi Sepupu Suami   27. Terkejut

    Selama makan malam Renata terus memandangi Bram dengan tatapan dingin, di dalam hatinya terus mengumpat lelaki tersebut karena merasa sangat kesal sekali. “Kalau kau menatapku seperti itu, nanti wajahku malah akan berlubang.” Bram menyendokan nasi ke dalam mulutnya, ia tidak menatap sedikitpun kepada Renata. Renata menjadi ditatap oleh Gio, membuat ia menjadi salah tingkah akan hal itu. Alhasil memilih untuk berpura-pura tidak ada yang terjadi, karena tidak ingin kalau sang suami memberikan banyak pertanyaan kepada dirinya.“Kapan kau memotret diriku?“ Renata menahan tangan Bram yang ingin pergi, tatapannya tajam menusuk ke arah lelaki itu. Sekarang hanya ada mereka berdua di ruangan makan, sehingga membuat Renata bisa menanyakan hal yang mengganggu pikirannya sekarang.Bram menoleh sekilas, lalu wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tetapi tiba-tiba malah menjadi tertawa kecil.“Kau cantik, jadi tentu saja aku memotretmu untuk bisa melihat wajahmu nanti.” Bram mengukirkan se

  • Obsesi Sepupu Suami   26. Cara licik

    Sentuhan tangan Gio membuat Renata menjadi tersadar dari lamunan. Ia dengan cepat menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, supaya suaminya itu tidak tidak melihat isi pesan tersebut."Ada apa dengan dirimu? Setelah kamu melihat ponsel wajahmu malah langsung memucat." Gio menautkan kedua alisnya, tatapannya penuh selidik kepada Renata.“Tidak. Kamu hanya salah paham saja, aku cuma terkejut dengan perkataanmu. Karena bukankah tidak baik kalau ada orang lain tinggal di tempat sepasang suami istri?” Renata meneguk ludahnya dengan susah payah, ia gugup mengatakan isi pikirannya karena sambil berharap kalau Gio akan membenarkan perkataannya sekarang.Gio terdiam, tak lama lelaki itu malah tertawa dengan terbahak-bahak memandangnya Renata. “Kamu tahu sendiri kan, kalau dia bukanlah orang asing bagiku, tapi dia adalah sepupuku. Lagipula dia juga sudah memiliki kekasih. Jadi kamu tidak perlu merasa khawatir tentang itu, “ ucapnya, ia berusaha men

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status