Ben mengantarku pulang. Ke kantor.
Di perjalanan kami berdua nggak ngobrol banyak sejak kecupan dan ketukan itu. Bahkan sesampainya di apartemen, aku langsung mandi, uring-uringan, berguling-guling kesana kemari seperti adonan moci di tepung kacang, sampai hpku bunyi. Telepon masuk.
Ben."Hm?" Sapaku nggak semangat.
"Assalamualaikum kek Nat."
"Waalaikumsalam."
"Lagi apa?" Tanyanya ragu.
"Uring-uringan." Jawabku jujur.
"Maaf soal yang tadi."
"Yang mana?"
"Jangan judes makanya biar aku nggak takut jelasinnya."
Aku hampir ngakak.
Apa iya aku judes? Tapi pas ngomong gitu dia lucu. Cakep pula.."Iya Ben. Minta maaf soal yang mana? Gitu?"
"Iya gitu Nat." Sambungnya ketika mendengar intonasiku lebih halus.
"Yaudah jawab."
"Tapi kamu pasti tahulah aku mau minta maaf soal apa."
"Kamu kalau nggak niat minta maaf, nggak usah nelepon!" Bentakku.
Dan sedetik sebelum telepon dari Ben kuputuskan, aku mendengar pria itu berbicara di ujung sana.
"Maafin aku udah nyium kamu tanpa izin. Maafin aku udah ngajak dan nyuruh kamu nunggu di ruangan orang. Maafin aku karena kamu harus malu mungkin saat yang punya ruangan dateng. Maafin aku yang kemungkinan besar jadi alasan kenapa kamu uring-uringan. Maafin aku Nat."
Aku diam.
Dia diam. Beberapa waktu berlalu tanpa satupun dari kami berbicara. Sibuk menerka-nerka. Hubungan macam apa ini."Ben?" Panggilku. Berusaha memecahkan diam.
"Iya Nat."
"Ciuman tadi nggak berarti apa-apakan?"
Oke aku jelasin.
Aku perempuan baik-baik. Bertanya seperti ini bukan berarti aku terbiasa nyium cowok. Nggak gitu. Hanya saja, kali ini, dengan Ben, semua terasa begitu mulus. Ketemu sekali, saling naksir, ketemu lagi, lunch bareng, terus ciuman? Bahkan di novel-novel atau filmpun, kisah cinta seperti ini mustahil kan? Kalaupun ada di awal, kisah seperti ini akan berakhir menyakitkan kan?Well aku benci sakit hati. Kalian tahu betul itu. Ngerasa ada yang salah ketika Ben dan aku seperti tergesa-gesa. Padahal ngga ada yang mendesak, pun mengejar."Ciuman itu jujur. Aku nggak tahu buat kamu berarti apa. Tapi untuk aku itu sesuatu."
"Beeeeeen. Terlalu cepat. Aku pikir kita sekarang hanya sebatas dua orang yang saling nyembuhin kan?"
"Nat, ciuman nggak bakal nyembuhin kecewa dan sakit hati aku yang karena perempuan lain. Sakit hatiku biar aku yang urus. Ciuman yang tadi, has nothing to do with it."
"Terlalu cepat Ben."
"Aku nggak tahu apa yang kamu khawatirin. Tapi apapun itu, aku bakal buktiin ke kamu, seriusnya orang nggak diukur dari durasi kalian kenal."
Dan telponnya dia putusin.
Setelah membuatku terdiam speechless. Ben siapa sih? Kenapa Tuhan dengan mudahnya memasukkan Ben ke hidup aku? Kenapa ada cowok maha baik seperti dia yang tiba-tiba hadir saat akupun masih kesusahan berdamai dengan sakit hatiku sendiri yang karena Gugi.Dan ngomong-ngomong soal Gugi, kenapa dia muncul sekarang?
Di antara semua waktu, kenapa sekarang? Kenapa aku harus ketemu sama dia di saat yang bersamaan dengan saat Ben masuk di hidup aku? Apa tadi dia lihat kami ciuman? Apa itu buat dia sakit hati? Apa yang Gugi pikirin sekarang? Cemburukah? Atau malah dia juga lagi nyium ceweknya?See? Dengan pikiran yang belum bisa normal begini, kenapa aku bisa-bisanya mencium laki-laki lain coba?Dari arah pintu terdengar ketukan, yang membuatku sedikit terkaget dan reflek memegang jantungku sendiri.
Terakhir kali mendengar suara ketukan, itu adalah Gugi yang memergoki aku dan cowok lain. Ternyata kejadian itu sukses membuat jantungku menjadi sedikit lebih sensitif seperti sekarang.Aku membukanya.
Mas rumi.Dan, Gugi.
"Kok lama banget sih bukanya?" Tanya Rumi yang langsung nyelonong masuk. Nggak lupa dia mengajak Gugi yang masih berdiri depan pintu. Menatapku.
Aku mundur selangkah, mempersilahkannya masuk. Dia langsung nyusul Mas Rumi yang kini sudah duduk di sofa dengan dua kaleng soft drink yang dia comot dari kulkas.
"Pada dari mana?" Tanyaku kikuk.
"Dari tempat ngopi. Mau basket cuma macet banget di luar. Yaudah kesini dulu deh. Kalian kenalkan?" Jelas Mas Rumi dengan polosnya. Sedang Gugi mengalihkan tatapannya. Menghindar.
Aku cepat-cepat mengangguk mendengar penjelasan teman kantorku yang nggak tahu apa-apa itu, sebelum akhirnya berjalan ke bar, membuka kulkas, melihat apa yang bisa kumasak untuk mereka berdua. Karena kapanpun Rumi muncul di apart ini, dia pasti minta makan.
"Jadi, makan apa kita malam ini Jenata?" Tanya Rumi. Kan? Kubilang juga apa.
"Yang biasa aja ya." Tawarku. Dia setuju.
"Gi, si Nata masakannya nggak yang enak-enak banget. Tapi kemakan kok. Makan disini aja ya."
"Selama yang punya rumah nggak keberatan." Gugi menatapku sekilas.
"Nggaklah. Kan temen. Masa keberatan." jawabku padat. Mengembalikan istilah favoritnya. -kan temen-. Makan tuh temen. Kenyang nggak lu gue tanya Gi?!
Dan aku buatin mereka berdua pasta dengan saos tomat panggang. Rasanya lumayan. Mungkin karena sering kubuat. Semua yang pernah kubuatkan pasti suka.
Malam itu setelah makan, kami bertiga ngobrol seadanya sambil nonton. Menghabiskan waktu.
Durasi terlama aku duduk di satu ruang dengan Gugi ya sekarang ini. Lalu Rumi berdiri. Berjalan ke arah balkon. Kutahan betisnya yang berbulu."Mau kemana?"
"Boleh nih sekarang ngerokok di dalem?"
Ish.
Kesel. Rumi berjalan keluar. Duduk di balkon dengan rokoknya. Meninggalkan aku dan Gugi yang nggak seharusnya ditinggal hanya berdua.“Jadi, kamu udah lama kenal ama Ben?”
“Hm?” aku kaget. Kupikir pria ini nggak bakal mau ngomong sama aku setelah aksi ngegepnya itu.
“Kamu. Sama Ben.”
“Uhum?”
“Udah lama?”
“Apanya?”
“Kenalnya?”
“Ouh.” Aku kali ini benar-benar mikir harus jawab apa adanya atau sedikit berimprovisasi. Kalau aku jujur baru mengenal Ben berapa hari belakangan, BAMMMM! Jadilah aku perek di kepala Gugi. Sepertinya cuma perek yang mau aja dicium pria walau baru kenal beberapa jam. And of course aku nggak mau image jelek itu menjadi pandangan Gugi terhadapku. Gila lu.
“Aku rasa itu bukan topik yang lagi pengen aku bahas deh Gi,” sambungku.
“Kenapa? Apa yang salah dari ngobrol soal kehidupan percintaan satu sama lain ama temen sendiri?”
Aku menatapnya dalam. Matanya. Mata Gugi. Manusia yang ingin ku patahkan lehernya beberapa waktu yang lalu. Bisa-bisanya tadi aku berpikiran dia cemburu melihatku bersama Ben, saat lagi-lagi dia berusaha sekuat tenaga menggaris bawahi bahwa kami berdua hanya sebatas teman. Nggak lebih. Nggak pernah.
“You know what Gugi, nggak ada yang salah dari itu. Oke. Ask me. Kamu mau tahu apa? Aku sama Ben? Let see. It’s been a while, and it iiiiiiis amazing so far. I love and pretty much enjoying apapun yang ada di antara aku sama dia.”
“Dia sepupu aku.”
“Lantas?”
Kini berbalik Gugi menatapku. Tatapan yang cukup membuat kolestrolku naik. Bisa kurasakan pundakku tegang. Seperti sedang berhadapan dengan Jaksa setelah makan lemak kambing.
“Dia juga punya pacar, Jenata.”
“Tania? Mereka udah putus.”
“Gara-gara kamu?”
“Kayaknya aku pernah ngasih tahu ke kamu deh kalau aku bukan perebut.”
“Terus apa?”
“Terus apa- APA? To the point aja maksud kamu apa!”
Dan kalian tahu apa? Tuhan baru aja nyelametin nyawa Gugi dengan mengirim Mas Rumi. Karena aku hampir ingin menikamnya dengan ujung garpu bekas pasta yang ada di antara kami berdua.
“Yuk Gi. Anak-anak udah pada di lapangan katanya. Kayaknya macet juga udah nggak parah-parah amat. Nat, thank you ya dinner-nya. See you at work, oke?”
Aku mengangguk. Berdiri mendahului mereka berdua ke arah pintu. Membukanya, mempersilahkan mereka pergi, menguncinya, lalu memaki Gugi habis-habisan. Brengsek. Siapa dia berhak nge-judge aku kaya tadi?
Memangnya siapa yang ngerebut sepupunya itu?
Gila kali ya.
Ada juga kalau aku mau ngerebut cowok orang, mending aku ngerebut Ian Somerhalder tuh dari istrinya. Ngapain ngerebut Ben? Sepupunya pula! Kaya nggak ada cowok cakep lain aja! Gugi sinting!
Itu juga Rumi!
Ngapain pake acara bawa-bawa Gugi maen ke sini? Dia nggak punya teman lain apa? Yang jomblo, tampan, nggak doyan pertaruhin nyawanya dengan lemparin kata-kata yang bisa bikin insting murderer aku keluar?
Bajigur!
Besoknya sesuai apa yang Ben bilang, dia benar-benar menjemputku makan siang lagi. Kami makan di resto dekat kantorku. Siang itu Ben nggak menggunakan baju seformal kemarin."Kamu nggak ngantor?""Kenapa?""Nggak pake dasi.""Emang aku CEO pake dasi mulu?""Aamiin.""Kamu mau punya suami CEO?""Maulah.""Yaudah kalau gitu aku bakal jadi CEO."Aku tersedak. Ben senyum cepat-cepat membukakan segel botol air."Jangan gitu lagi.""Gimana?" Tanyanya menyebalkan. Nggak menganggapiku serius."Kamu kalau ngomong suka nggak mikir ya Ben?""Iya. Perihal kamu, semuanya dari hati. Nggak perlu dipikir dulu." Ucap Ben lanjut menyuapi bibirnya dengan sepotong pizza dengan toping entahlah aku lupa tadi dia pesan apa.“Oh sure, bullshit,”“Hahahahha, kita lihat nanti.” Ucapnya entah bermakna apa.Aku mengamatinya diam-diam. Siapa tahu ada clue dari ekspresinya tentang siapa dia, apa maunya. Apapun. Kenapa Tuhan bisa kepikiran pertemuin aku dengan Ben.Tapi bagiku, mungkin seperti itulah Ben. Dia denga
"Kamu apa-apaan sih? Keluar nggak!" kupikir-pikir, Gugi emang doyan mancing emosiku kapanpun dimanapun. Dengan alesan apapun."Nggak. Naik buruan!" Titahnya."Nggak. Kamu turun dulu. Ini mobil aku. Kamu ngapain?" aku masih nggak habis pikir, dan melototin di habis-habisan. Menolak diperintah, apalagi tunangan orang."Kamu mau naik sendiri apa harus aku paksa?""Enak banget kamu perintah-perintah! Turun!" Protesku nggak percaya dia punya keberanian memerintahku setelah semua kelakuannya belakangan ini. Hebat.Gugi mengangguk. Lalu turun. Kupikir akhirnya dia mengalah. Tapi yang terjadi adalah, pria ini menarik tanganku, kemudian dia giring naik ke kursi penumpang. Menutup pintu. Dan berlari kembali ke kursi pengemudi. Menatapku sekilas, menginjak gas, dan mobil inipun melaju. Persis adegan penculikan anak SD. Meninggalkan gedung itu. Meninggalkan gadis itu.Sudah sekian kilo kami duduk bersama. Tidak sedikitpun dia bicara."Kamu mau kemana sih Gi? Minimal jelasin!" Tanyaku kesal."
Oke mungkin ini salahku. Kecewaku belakangan ini, semua salahku.Bermain-main dengan perasaan yang belum sembuh. Berpikir bahwa baik-baik aja memulai secepat ini.Tapi, siapa yang bisa nolak perlakuan manis saat lagi galau? Apa lagi perlakuan itu datang dari sosok setampan Ben.Percaya deh, Ben bukan sosok yang bisa kalian hindarin gitu aja.Tatapannya yang nggak mampu untuk nggak kalian balas, ucapan-ucapan manisnya yang spontan, sentuhannya yang begitu hati-hati.Nggak butuh aku waktu lama untuk ingin tetap ada di samping Ben. Untuk ngebayangin gimana kedepannya.Serius. Ben se-magic itu.Ben tipe pria yang membuat ‘nyaman' itu mudah untuk kita rasain. Nggak tahu deh.Pokoknya, kecewaku yang kali ini pure kesalahan sendiri. Bukan salah Ben, bukan waktu.Salahku.Aku yang salah.Well, kurasa Jenata Soebandono sampai pada umur cukup dewasa untuk nggak nyalahin siapapun atas patah hatinya.Rupanya, cinta itu mendewasakan.Mendewasakan siapapun yang mau berpikir di sela-sela tangisnya,
“Tahu gini aku nggak dateng tadi,” bisikku ke Mbak Nana yang sedang riweuh dengan pom-pom yang dia buat dari kantor itu.“Hah? Kenapa emangnya?”“Nggak. Brisik banget!”“Ah lu-nya aja yang norak. Eh lucu kali ya kalo kita joget sambil lompat-lompat mini di depan tuh. Kayak anak puber lagi cheerleader, Nat. Tu wa ga pat, tu wa ga pat,” ucapnya percaya diri sambil mengayun-ayunkan kedua pom-pomnya naik turun, kaya mau nahan angkot.“Nggak-nggak-nggak-nggak. Gila lu Mbak,” ucapku memalingkan muka dari Mbak Nana, yang justru kemudian kusesali, karena mataku dan mata pria itu bertemu lagi. Kulihat keringatnya sedang diseka oleh tunangannya.“NAT! NATA!”“Hah? Apa?”“You oke?” Mas Rumi yang menghampiri kami di pinggir lapangan, dan langsung menyadari kemana arah mataku. “Heeeey..” Sapanya sekali lagi sambil mengelus kepala sambil merangkulku. Menarikku dari pemandangan yang nggak bagus. Untuk mata, maupun hatiku. Sekali lagi, bukan cemburu. Emosiku masih menggebu-gebu melihat tampang Gugi ya
PLAKKKK!Kudengar beberapa suara di sekeliling kami ikut hening seketika, mengiringi suara tamparanku pada pipi Gugi, yang kuyakin kali ini sangat keras. Aku nggak tahu berapa orang yang mendengar dan ikut mematung bersama kami bertiga. Aku terlalu fokus pada kebencianku sekarang.Dan kurasa Gugi bisa ngelihat itu semua dari mataku. Kami saling menatap beberapa detik pasca tamparan keras yang tiba-tiba itu. Sedang aku juga bisa lihat penyesalan di matanya. Yang jika sedang nggak emosi, mungkin bakal buat aku bahagia walau cuma ditatap langsung aja sama dia.“Beraninya ngatain perempuan. Laki-laki pecundang kamu Gi!” tuturku penuh tekanan, dan sangat jelas. Setelah memastikan Gugi mendengarnya, aku berbalik dan berlari ke arah parkiran. Tangisku hampir kembali pecah. Sekali lagi. Karena Gugi. Karena pria yang pernah begitu kuingini.“Nat, tunggu. Ada apa? Kalian kenapa?” Derry menahanku. Aku bahkan lupa soal orang ini saking emosinya.“Ada apaan Der? Nat? Kenapa?” Mas Rumi yang terlihat
Angin malam yang berhasil lolos melalui pintu balkon yang kubiarkan terbuka lebar ternyata cukup kurang ajar dalam menciptakan suasana super kikuk antara aku dan Gugi.Berdua, aku dan dia duduk di depan tv. Tidak di sofa. Di lantai beralaskan karpet yang belum pernah kucuci sejak kubeli setahun yang lalu. Kami duduk berhadapan. Dia bersila, aku juga.Setelah memastikan air es yang kugunakan untuk merendam handuk di mangkok sudah meresap, aku mengangkat dan memerasnya sedikit, kemudian menatap Gugi yang juga tengah menatapku.Kutempelkan handuk itu pada luka samping bibirnya. Dia belum berteriak sampai aku mulai menekan dan sedikit menggesekan handuk di sana. Biar darah yang sudah mengering itu bisa terangkat. Sekalian bersama beberapa buliran pasir halus yang terjebak di sana."Aw! Nat pelan dong Nat. Sakit," Ucapnya terpotong-potong. Menahan tanganku agar tidak bergerak dengan kasar."Oh.""OH?""Mau dibersihin nggak ini?" Dia mengangguk."Tapi pelan-pelan Nat," mohonnya.Aku melihat
Matahari pagi masuk dari celah tirai jendela yang lupa ditutup semalem. Nggak hanya menghangatkan wajahku, tapi juga berusaha menembus kelopak mataku.Aku yang masih belum sadar penuh pun, meregangkan semua urat-urat juga tulang-belulang di tubuh seperti biasa, hingga tanganku menyentuh seseorang di sebelah kiri. Demi apapun aku kaget. Sedang yang kusentuh, yang ternyata sudah terbangun lebih dulu itu, menatapku dengan kepala yang bertumpuh pada lengan kanannya.Aku membeku. Kutahan posisi itu barang sekian detik. Dengan berkedip-kedip beberapa kali, aku berusaha melihat wajah orang itu dengan jelas. Memastikan.Dia,Maksudku Gugi. Dia menopang kepala dengan lengan kanan yang membuat posisinya jadi lebih tinggi dari kepalaku. Pria itu maju mendekat dan mengecup keningku berulang kali, lalu pucuk hidungku, sebelum akhirnya satu kecup lembut mendarat di bibirku.Guuuuys, when I said lembut, it really is. Kelembutan bibirnya mengingatkanku pada Hokkaido milk bread hangat di satu toko rot
Nggak mau terlalu mikirin Gugi, aku langsung menyanggupi undangan salah satu sahabatku di salah satu Night Club. Vipa namanya. Mumpung hari ini aku nggak perlu ngantor.Musik yang dar dar dar itu membuat jantungku seperti sedang bermasalah, membuatku nyaris nggak tahan, dan ingin keluar secepatnya.“VI GUE BALIK DULUAN YA! BISA BUDEG GUE DI SINI!” Teriakku ketika sukses menarik kuping Vipa mendekat. Terlihat yang punya kuping menatapku kesal.“OH NGGAK BISA TA! INI ULTAH GUE. PALING NGGAK LU HARUS TEMENIN GUE AMPE ACARA INI KELAR! JUS JERUK LU GUE REFIL DEH”Aku memelototi cewek disampingku dengan tatapan nggak percaya.“NGGAK USAH! BISA OVERDOSE VITAMIN C GUE!” Kesalku.Sedang Vipa hanya tertawa mengecup pipiku kemudian lanjut larut dalam lagu EDM yang jelas kubenci itu. Dia bahkan mengiyakan saat beberapa tamu menariknya ke dance floor.Vipa is Vipa. Kalau dia bilang aku harus nemenin dia ampe acaranya abis, ya berarti harus.Aku nggak mau dia ngerengek minta dibeliin barang highend
[ Gugi’s POV ]Terlalu bising. Ini harusnya bising yang membuatku bahagia. Tapi nggak. Aku benci bisingnya. Orang-orang lain sibuk kecuali aku. Mama yang sedari tadi bolak balik memastikan aku sudah siap dan nggak kekurangan apapun, papa yang nggak kalah sibuknya dengan Crew Wedding Organizer, dan orang-orang lain yang merasa punya kepentingan di ruang ini. Demi apapun aku nggak suka.“Raf,” panggilku pada Raffi yang standby menemaniku sejak subuh tadi. Assistenku di kantor, juga sahabatku.“Kenapa Mas?”“Pinjem HP lu dong,”“Buat?”“Gue butuh ngomong sama Nata,” bisikku.“Mas, please lu jangan aneh-aneh,” ucap Raffi memelototiku yang langsung kubalas.“HP lu. Sekarang!”Tahu watakku seperti apa, Raffi mau nggak mau minjemin HPnya.Kutekan nomor Nata yang sudah kuhapal di luar kepala itu, dengan jariku yang sedikit gemetar. Aku berjalan ke balkon. Menjauh dari kebisingan, setelah pamit ke orang-orang dengan alesan ada telepon dari salah satu klien penting. Dan harus kuangkat.Nggak ad
Kalian pernah nggak sih suka tiba-tiba sibuk sama pikiran sendiri? Ngobrol sama diri sendiri? Aku sering. Seperti sekarang, saat pikiranku lagi penuh-penuhnya, lagi berisik-berisiknya.Udah banyak loh penelitian soal itu. Gimana ngobrol dengan diri sendiri, atau self talk itu bisa begitu berperan penting dengan kesehatan mental kita. Tentu saja tergantung dari yang kita obrolin itu apa. Positif kah, negatif kah.Dari banyaknya hal menyakitkan yang beterbangan di isi kepalaku belakangan, selama hamil, aku nyoba buat memilah-milah mana dan siapa yang perlu dan nggak perlu dipikirin.Dan ternyata sulit.Gugi selalu berhasil ngedobrak semua tembok pertahanan yang kubuat. Meski kini tembok itu berupa manusia sebaik Ben.Setelah kubalas chatnya malem itu dan ngeblok nomornya for good, kucoba ngejalanin hari-hariku sebagai wanita hamil tanpa suami dengan sangat percaya diri.Tapi entah kenapa, ada aja titik dimana aku tiba-tiba ngebutuhin Gugi brengsek itu. Dalam wujud apapun. Kehadirannya k
“Oh,” ucapku ngembaliin HP milik Mas Rumi sambil berbalik, ngatur nafas, berjalan kembali ke kursiku. “Kirain apaan.”“Kamu tahu?”“Tahu,” ucapku bersandar pada kursi kerjaku yang empuk. Menjawab setenang mungkin.Mas Rumi menatapku. Tanpa berkedip. Aku tahu dia kahawatir. Lebih dari itu, entah apa lagi yang dia pikirin.“Oh Im good, kok Mas. Mamanya bahkan ngundang aku buat hadir,” jelasku sekali lagi. Agar temenku itu makin percaya bahwa aku sungguh baik-baik aja dengan kabar pernikahan Gugi. Cepat atau lambat, toh itu bakal terjadi. Kita semua tahu itu. Kan?“Kamu ketemu Mamanya?”“Uhum,”“Kapan?”“Di bandara, pas kita baru balik dari Singapura kemarin,”“Waktu sama Ben?” kuangguki. “Jadi kamu mau hadirin acara itu?” tanya Mas Rumi sekali lagi.Yang ini hanya kurespon dengan mengangkat kedua bahuku. Karena aku beneran masih belum tahu harus hadir apa nggak. Kuat hadir atau nggak.“Makan siang yuk Mas,” ajakku.Sebenarnya, adalah ketololan kalau aku benar-benar menghadiri pernikahan
Ben sekali lagi menghabiskan seminggunya menemaniku di Yogyakarta. Nggak hanya Mamah Papah, dia juga ikut serta mendampingiku konsul kembali ke Dokter Lendro sebelum kami balik ke Jakarta berdua.Nggak mau kalah denganku, dia bahkan lebih fokus dan memperhatikan penjelasan Dokter kandungan itu dengan teliti. Mencatat semua suplemen dan segala hal yang baik untuk menunjang kesehatanku janinku dan aku. Kami juga berkesempatan ngobrol dengan salah satu bidan senior yang direkomendasiin Dokter Lendro untuk bertanya-tanya hal-hal yang mungkin saja lebih enak jika ku obralkan ke sesama perempuan.Selain itu, Mamah Papah juga ngajak ngajak kami ngelakuin kegiatan-kegiatan ringan yang bisa menghiburku juga Ben. Entah kenapa mereka berpikir Ben juga butuh dihibur. Tapi setelah kupikir-pikir, emang benar. Disini, sekarang, nggak hanya aku yang punya beban. Mereka bertiga juga memiliki beban pikiran yang nggak kutahu serumit apa hanya karena masalah-masalahku ini.Perasaan bersalah yang kerap mu
Ruang makan rumah kami selain dipenuhi aroma masakan buatan Mamah yang udah sibuk di dapur sejak berjam-jam yang lalu, juga dipenuhi alunan instrumen Sunda yang samar-samar. Salah satu hobby Papah. Menurutnya, makan sambil dengerin instrumen Sunda ngerasa dia makan di kampung halamannya. Dan nggak ada yang protes, walaupun aku kurang suka makan diiringin suara suling.“Assalamualaikum Mah, Pah,” salamku sedikit keras. Berusaha menarik perhatian kedua pasangan yang lagi sibuk Nata piring itu.“Waalaikumsalam. Eeh udah pada dateng? Ayo-ayo sini nak, kita langsung makan ya. Takut keburu dingin supnya,” ucap Papah menghampiriku dan Ben.Aku memeluknya sebentar, sebelum dia beralih ke Ben. Ben tertunduk menyalim Papah, sambil Papah puk-puk punggungnya ringan. Aku berjalan lebih dulu ke meja makan sebelum kemudian mereka susul.Kuperkenalkan Ben secara resmi dan singkat ke kedua orang tuaku. Sepanjang sarapan bareng yang hangat itu, kulihat gimana antusias Ben ngobrol dengan Mamah Papah, sa
Menjadi seorang Ibu tanpa suami, apa aku mampu?Lagi, kepalaku dipenuhi banyak pertanyaan. Aku nggak fokus ngedengarin penjelasan dan obrolan orang tuaku bersama Dokter Lendro. Satu tanganku turun mengelus perutku, sedang tanganku yang lain digenggam Mamah.Malam ini berat. Tapi ringan berkat mereka.Sesampainya di rumah, aku masuk kamar yang sudah beberapa lama nggak kutempati. Nggak ada yang berubah. Kuyakin Mamah Papah repot ngebersihin kamar ini sejak pagi.Kunyalakan kembali Ponselku. Beberapa pesan masuk, nggak kuperdulikan. Mataku fokus pada Ben. Dia mengirimiku beberapa chat. Mengabari kegiatannya, juga menyampaikan khawatirnya.Kutelpon.“Nat? Assalamualaikum. Kamu dimana sekarang? Kok hp kamu baru nyala?”“Waalaikumsalam Ben. Maaf ya. Tadi ngurus sesuatu dulu.”“Gimana? You oke now?”“Aku perlu ngasih tahu kamu sesuatu Ben,”“Please jangan bilang kamu dijodohin di sana. Malam ini juga aku jemput kamu kalau sampai benar!”“Hahaha. Kamu pikir segampang itu jodohin anak jaman s
Suasana jalan siang ini cukup padat. Perjalanan menuju kantor kutempuh dengan perasaan yang bingung dan banyak takutnya. Kalian tahu betul alasannya apa. Aku nggak mau nyimpulin apapun di luar sepengetahuanku. Yang jelas, yang kutahu, sangat wajar jika seorang wanita dewasa mengalami terlambat datang bulan. Iyakan? Maksudku, nggak semua yang telat menstruasi itu hamil. Nggak perlu panik, nggak perlu takut. Aku juga nyoba buat kerja senormal mungkin. Mencari distraksi agar fokusku terpecah ke hal-hal lain. Seperti memperhatikan teman-teman kerjaku yang sedang santai. Beberapa bahkan asik ngobrol satu sama lain perihal kerjaan atau pasangan mereka masing-masing, sampai rasa itu muncul di satu pagi. Mual yang kurasa sejak bangun tidur dua hari belakangan ini, membuat pikiranku makin kacau. Aku nyoba mikirin kemungkinan-kemungkinan lain. Maagku kambuh misalnya. Atau efek dari makanan yang kukonsumsi di malam sebelumnya. Semua selalu dipatahkan dengan mual yang kembali muncul, lagi dan
Mencoba menyembunyikan panikku, aku berdehem dengan susah payah, lalu tertawa. Sungguh sebuah tawa yang juga susah.“Hm? Kok bisa? Haha,” nggak tau harus tersinggung atau gimana.“Waktu aku awal-awal hamil dia nih, aura aku kaya kamu persis. Kelihatan capek banget, kaya kurang tidur. Bawaannya lemes.”“Oh hahahhha. This, is what work did to me Mbak,” ucapku menjelaskan sambil menujuk wajahku sendiri.Kami sempat ngobrol beberapa saat, sebelum Mbak-Mbak itu meminta maaf sekali lagi pada akhirnya. Mungkin dia bisa melihat kepanikan dari wajahku. Ia kemudian berlalu. Pamit untuk mencari suaminya.Aku melanjutkan kegiatan ini hingga rampung dan bersiap pulang. Vipa mengantarku sampai di unit. Memastikanku sampai di tempat tujuan dengan aman.Ku bereskan semua belanjaan. Menempatkannya di tempat yang seharusnya. Setelah semua rapi, entah kenapa, kalimat di supermarket tadi terlintas kembali di kepalaku.Gimana mungkin seseorang mengira aku sedang hamil. Kuraba perutku yang rata. Cepat-cepa
Aku bangun dengan keadaan yang, sebut saja berantakan. Rambutku yang awut-awutan, mataku yang bengkak, dan badanku yang terasa lemas. Ternyata nyakitin orang itu semelelahkan ini ya? Kok banyak yang doyan ngelakuin itu?Aku berjalan keluar kamar, menuju balkon. Menyibakkan tirai berwarna abu tua yang juga belum pernah kucuci sejak kubeli setahun lalu. Pandanganku jauh melihat langit di luar. Pagi ini mendungnya enak.Setelah beres mengamati cuaca Jakarta, aku berjalan ke arah westafel. Mencuci mukaku, sebelum mengambil dan meneguk segelas air putih. Mataku menangkap gelas yang digunakan Gugi tadi malam. Belum kucuci. Masih bertengger manis di meja depanku, sedang orangnya sudah pergi. Sudah benci.Saat sibuk dengan isi kepala, kudengar pintu unitku diketuk.“JENATAAAAAAAAAAA, BUKAAAAA!”Kalau kamu dengar teriakan itu langsung, minimal ritme jantungmu sedikit mengencang. Sensasinya seperti diteriakin Guru BP pas lagi usaha manjat pagar samping sekolah.“Utang lu banyak ya ke gue!” sempr