Drrtt... Drrrrrtt... Drrrttttt...
Ponsel Adefi berdering di atas meja, gadis itu terbangun beberapa detik kemudian. Melihat sekitarnya dan tak mendapati ayahnya telah pulang. Lalu menyadari semalam dirinya tertidur di lantai ruang tamu tanpa selimut, gadis itu bangun dengan langkah gontai agar bisa menggapai ponselnya. Tertera nama MamaMia di layar ponsel, sahabatnya saat dia masih sering main air kobokan. Mia, gadis itu satu-satunya sahabat yang Fi miliki. Walaupun dari segi mana pun, Mia jauh berkebalikan darinya.Mia memiliki wajah yang manis, lelaki manapun bakal melirik dua kali kalau berpas-pasan dengannya. Dengan kulit bening serta senyuman yang memikat. Ditambah lagi dia berasal dari keluarga kaya. Bagi Mia mendapatkan pacar sama halnya seperti menangkap nyamuk. Hanya dalam sekali tepuk, ya begitulah. "Assalamualaikum, waalaikumsalam!" teriak Mia semangat. "Apaan sih Mia." Masih dengan nada serak, Fi menanggapi teman sengkleknya itu. Dia tidak sedang dalam mood untuk diajak bercanda."Elah gue bercanda aja kali, ada masalah idup apa lagi sih lo?" Nada interogasi terasa di setiap kalimatnya."Dah kayak aparatur negara aja sih lo, Fi. Pening sana pening sini. Gak lo liat sekarang udah jam berapa dan gue-yang kesepian nungguin di sini- gak ngeliat muka ngenes lo itu?"
Fi baru mendapatkan kesadaran penuhnya, sekarang jam menunjuk angka 08:20, jam delapan tadi seharusnya dia harus masuk dan batas kompensasi waktu hanya sampai 08:30."Yaudah aku ke sana, nempel dulu sama cicak Mi biar situ gak kesepian." Tut... Tut...Sengaja Fi mematikan sambungan telepon, dia tahu di seberang sana Mia sudah mencakar siapapun yang lewat di depannya. Tiga menit berselang Fi sudah bersiap pergi ke kampus, tentu saja dia tidak mandi-dan tidak akan memberi tahukannya pada siapapun karena pasti bakal kena hujat sekampung.Jarak dari rumahnya hingga ke kampus hanya beberapa meter, Fi tidak begitu cemas. Segera di tutupnya pintu rumah dan melenggang pergi, mencari ojek namun tidak ada satupun yang lewat.
Daripada menunggu Fi memutuskan untuk langsung berjalan kaki, melewati jalanan kota yang berdebu.Sesampainya di zebra cross, dia tertegun saat mendapati sebuah dompet tebal terjatuh dari saku seseorang. Gadis itu lantas merunduk agar bisa mencapai dompet tersebut dan segera melihat kartu nama di dalamnya ataupun identitas apa saja. Dia hendak mengembalikan kepada pemiliknya.
Namun seorang ibu-ibu menabrak tubuhnya dan marah. "Jangan berenti di tengah jalan dong, mbak! Lihat bentar lagi lampu ijo! Mau ketabrak?!"Kontan seluruh pasang mata melirik penasaran kepada mereka, Fi meminta maaf dengan sopan hingga sebuah suara memotong pembicaraan mereka."Loh dompet saya?" Lelaki dengan paras tampan serta tubuh atletis tiba-tiba menyelutuk dan meraba sakunya. "Mencuri dompet saya kamu ya?"Fi tertohok, "Ini mau saya kembalikan tadi jatuh di jalan-""Halah jangan ngeles kamu!"Gadis itu sedikit tersentak dengan kedua mata melebar. Orang-orang menatapnya lalu menggelengkan kepala, membuat kesalahpahaman semakin berlanjut."Maaf ya, saya gak ada maksud mencuri. Udah saya bilangin tadi jatuh dan pengen saya kembalikan.""Terus? Kenapa masih di tangan kamu?""Iya ini tadi ibu ini nabrak, jadi-""Ngeles lagi kamu, pake bawa-bawa orang yang gak tau apa-apa."Ingin rasanya Fi menjambak rambut lelaki itu, walaupun wajahnya sangat enak dipandang. Hidung mancung, wajah bersih dan juga mengenakan jas hitam layaknya orang berpendidikan. Dia merasa mulut pria itu yang perlu disekolahkan. Mana mungkin dia mau mencuri dompet tersebut.Tin... Tin...Klakson mobil menginterupsi perdebatan mereka, orang-orang di lalu lintas mulai gaduh karena mereka menghalangi jalan. Pria tersebut segera merampas dompet miliknya dari tangan Fi, dengan wajah tidak ikhlas dan sama sekali tak bersahabat.Dan juga tanpa mengatakan sepatah kata pun selain umpatan.'Itu orang ngeselin banget, gila.' batin gadis itu menahan rasa gondoknya. Kalau ada batu di tangannya mungkin bakal dia lempar ke wajah menyebalkan itu.'Moga-moga gak ketemu lagi sama dia, aamiin ya Allah. Jauhkan hamba dari manusia-manusia gak berahklak sepertinya.'Dia menghembuskan napas berat, membayangkan wajah merendahkan pria itu cukup memancing emosinya kembali. "Sebenarnya salahku apa sih?" celutuknya kesal saat di meja kantin, usai mata kuliah pertama dia dan Mia memutuskan untuk beristirahat di sana.Mia memberhentikan acara makannya, menarik sudut mata memicing ke arah Fi. "Salah lo itu banyak, banyak banget sampe timbunan utang lo ke gue aja kalah jauh.""Hem. Bukan itu yang aku maksud, Mama Mia lezatos." Nama ejekan itu dibuat Fi karena Mia mengejeknya papan cucian. Orang yang diajaknya berbicara itu memutar bola mata malas. "Jadi?""Aku bakal dijodohin."Gebrak!"APA?! SERIUS? DEMI APA LO?!" kaget Mia setengah mati, dia berdiri dengan sendok makan yang bahkan masih bertengger di mulut saking terkejutnya."Rusuh banget kagetmu Mi, malu diliatin kakak kelas ...."Mia berangsur duduk tenang, seolah tak terjadi apa-apa dia berdehem kecil. "Jadi," ucapnya berjeda."Seberapa ganteng calon suami lo itu? Hartanya? Keluarga dia? Pekerjaan? Mukanya?"Pertanyaan tersebut hanya membuat Fi sedih, dia menggelosor malas di atas meja dengan kedua lengan sebagai bantal. "Aku bakalan dinikahin sama aki-aki, Mi." "APA?!"lagi-lagi Mia kehilangan kendali, membuat Fi terpaksa menegakkan punggungnya dan memarahi gadis itu."Kecilin dikit kek itu mulut, Mi. Udah kayak toa aja.""Ya gue gak habis pikir aja Fi. Masa lo mau dijodohin ama aki-aki sih? Gue mah ogah. Itu ayah lo dibiarin makin ngelunjak aja."Terdengar helaan napas panjang di hadapan Mia, sedikit rasa tak tega menghinggapi hati Mia. "Fi, kalo lo gak sanggup lagi lo bisa tinggal di rumah gue untuk sementara.""Aku gak mungkin bergantung sama keluarga mu lagi, Mi. Udah terlalu banyak orang tuamu ngebantu aku ...."Mia diam karena tahu Fi tetap akan merasa bersalah walaupun beribu kali dia mengatakan tidak apa-apa jika bergantung pada keluarganya. Semuanya kembali kepada keputusan Adefi. Tak berapa lama Fi melanjutkan, "Dan sialnya tadi pagi aku dituduh nyopet, di depan orang-orang lagi."
"Lah kok bisa?""Aku padahal cuma mau kembaliin dompetnya, cuma yang punya udah keburu suudzon terus nuduh yang enggak-enggak.""Wah parah sih tuh orang, ketemu sama dia udah gue celupin di kali pasti dia."Mia tidak tahu kalau orang yang diceritakannya itu memiliki paras yang lumayan, nanti kalau ketemu bukannya dicemplungin ke kali yang ada dikarungin sama si Mia orang itu. Karena sahabatnya itu memang pemburu para cowok-cowok ganteng.Dari kejauhan terdengar suara air hujan mulai jatuh membasahi bumi, aliran air mulai muncul di atas tanah mengarah ke arah selokan. Untungnya Fi sudah lebih dulu sampai ke rumah, tas yang tadinya digunakan untuk melindungi kepalanya kini ia tepuk-tepuk."Anak ayah... Ayo masuk dulu."Tiba-tiba terdengar ayahnya memanggil dari belakang, entah mengapa sikapnya begitu lembut ia juga tak tahu. Lelaki tua itu telah menunggunya di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar, dengan sepiring gorengan di depan dan juga makanan yang terlihat enak. Sangat jarang sekali lelaki itu membelikan makanan warung."Makan dulu."Banyak pertanyaan muncul di benaknya namun Fi juga tak mau menyia-nyiakan kebaikan ayahnya yang sangat langka ini. Meskipun dia tahu lelaki itu sebentar lagi akan menikahkannya dengan pria hidung belang. Fi masih menganggapnya sebagai ayah.Tidak terucap satu patah kata pun dari mulut lelaki itu, sebelum akhirny
Dua jam berlalu, akhirnya Fi memilih mencari tempat lain yang lebih layak untuk berteduh, dia takut jika tidur di pemberhentian bus akan ada lelaki bejat yang mengganggunya. Kakinya berjalan tak tentu arah, entah ke mana nasib akan membawanya nanti.Fi mengeratkan pelukannya pada tas yang biasa dia pakai untuk ke kampus. berusaha setegar mungkin menerima kenyataan bahwa, dia tak memiliki tempat tujuan sama sekali.Saat terlarut dalam lamunannya sendiri sebuah mobil melaju dengan begitu kencang di belakangnya, gelapnya malam membuat sosok Fi yang berjalan di pinggir jalan tak terlihat jelas. Pengemudi mobil menjadi panik, dia menurunkan kecepatan dengan drastis saking terkejutnya. Membuat suara decitan terdengar jelas memekakkan telinga, mobil nyaris menabrak tubuh gadis itu.Biarpun tabrakan berhasil terhindarkan namun tetap saja betis Fi tersenggol oleh bagian depan mobil. Cukup parah. Luka goresan di kulitnya mulai mengeluarkan darah, i
Rangga sudah keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Fi, sembari memapahnya masuk ke dalam rumah. Di daun pintu terlihat seorang wanita yang agak tua dengan dandanannya membuat umurnya lebih muda dari umur aslinya keluar, memasang wajah cemas karena anaknya tidak pulang hingga selarut ini. Tak lupa juga dengan pembantunya yang baru bekerja 3 hari di sana ikut keluar."Astaghfirullah Rangga! Anak siapa kamu tabrak ini?!" suara tersebut terdengar cukup keras, raut wajah cemas terlihat jelas di mukanya. Wanita tersebut buru-buru membawa Fi ke dalam rumah untuk menghentikan pendarahan di kakinya.Fi dibawa ke ruang tamu, usai diobati oleh Ibu Rangga wanita itu meminta maaf. Anaknya itu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Gadis itu menoleh ke sekelilingnya, tampaknya hanya ada Rangga, ibunya dan juga satu pembantu di rumah besar ini."Nyari menantu saya, ya?""Eh?" Dia menjadi malu, tahu isi kepal
Adefi Putri Trisya, hanya seorang gadis berumur 19 tahun dengan keadaan ekonomi pas-pasan serta penampakan biasa. Depan-belakang sangat biasa, tanpa ada lekukan di tubuhnya membuat orang-orang yang minim ahklak memanggilnya tepos, papan cucian, triplek, daun lidi dan segala hinaan lainnya yang membuat Fi- nama panggilan Adefi sakit hati.Sebagai anak satu-satunya dalam keluarga Fi diharuskan untuk bekerja keras, menanggung semua beban di pundaknya sendirian. Mungkin selama ini anggapan bahwa anak satu-satunya akan menjadi anak emas yang selalu disayang salah. Selama ini Fi tidak pernah merasakan kebahagiaan tersebut.Saat teman-temannya sibuk hangout di cafe-cafe terkenal, Fi sibuk mencuci pakaian laundry di tempat orang. Ketika mereka disibukkan dengan hubungan percintaan, Fi menutup dirinya dan memilih belajar mati-matian untuk meraih cita-citanya. Dia cukup sadar diri, sebagai anak dengan keadaan ekonomi yang menyedihkan tidak seharusnya mengharapk
Rangga sudah keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Fi, sembari memapahnya masuk ke dalam rumah. Di daun pintu terlihat seorang wanita yang agak tua dengan dandanannya membuat umurnya lebih muda dari umur aslinya keluar, memasang wajah cemas karena anaknya tidak pulang hingga selarut ini. Tak lupa juga dengan pembantunya yang baru bekerja 3 hari di sana ikut keluar."Astaghfirullah Rangga! Anak siapa kamu tabrak ini?!" suara tersebut terdengar cukup keras, raut wajah cemas terlihat jelas di mukanya. Wanita tersebut buru-buru membawa Fi ke dalam rumah untuk menghentikan pendarahan di kakinya.Fi dibawa ke ruang tamu, usai diobati oleh Ibu Rangga wanita itu meminta maaf. Anaknya itu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Gadis itu menoleh ke sekelilingnya, tampaknya hanya ada Rangga, ibunya dan juga satu pembantu di rumah besar ini."Nyari menantu saya, ya?""Eh?" Dia menjadi malu, tahu isi kepal
Dua jam berlalu, akhirnya Fi memilih mencari tempat lain yang lebih layak untuk berteduh, dia takut jika tidur di pemberhentian bus akan ada lelaki bejat yang mengganggunya. Kakinya berjalan tak tentu arah, entah ke mana nasib akan membawanya nanti.Fi mengeratkan pelukannya pada tas yang biasa dia pakai untuk ke kampus. berusaha setegar mungkin menerima kenyataan bahwa, dia tak memiliki tempat tujuan sama sekali.Saat terlarut dalam lamunannya sendiri sebuah mobil melaju dengan begitu kencang di belakangnya, gelapnya malam membuat sosok Fi yang berjalan di pinggir jalan tak terlihat jelas. Pengemudi mobil menjadi panik, dia menurunkan kecepatan dengan drastis saking terkejutnya. Membuat suara decitan terdengar jelas memekakkan telinga, mobil nyaris menabrak tubuh gadis itu.Biarpun tabrakan berhasil terhindarkan namun tetap saja betis Fi tersenggol oleh bagian depan mobil. Cukup parah. Luka goresan di kulitnya mulai mengeluarkan darah, i
Dari kejauhan terdengar suara air hujan mulai jatuh membasahi bumi, aliran air mulai muncul di atas tanah mengarah ke arah selokan. Untungnya Fi sudah lebih dulu sampai ke rumah, tas yang tadinya digunakan untuk melindungi kepalanya kini ia tepuk-tepuk."Anak ayah... Ayo masuk dulu."Tiba-tiba terdengar ayahnya memanggil dari belakang, entah mengapa sikapnya begitu lembut ia juga tak tahu. Lelaki tua itu telah menunggunya di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar, dengan sepiring gorengan di depan dan juga makanan yang terlihat enak. Sangat jarang sekali lelaki itu membelikan makanan warung."Makan dulu."Banyak pertanyaan muncul di benaknya namun Fi juga tak mau menyia-nyiakan kebaikan ayahnya yang sangat langka ini. Meskipun dia tahu lelaki itu sebentar lagi akan menikahkannya dengan pria hidung belang. Fi masih menganggapnya sebagai ayah.Tidak terucap satu patah kata pun dari mulut lelaki itu, sebelum akhirny
Drrtt... Drrrrrtt... Drrrttttt...Ponsel Adefi berdering di atas meja, gadis itu terbangun beberapa detik kemudian. Melihat sekitarnya dan tak mendapati ayahnya telah pulang. Lalu menyadari semalam dirinya tertidur di lantai ruang tamu tanpa selimut, gadis itu bangun dengan langkah gontai agar bisa menggapai ponselnya.Tertera nama MamaMia di layar ponsel, sahabatnya saat dia masih sering main air kobokan. Mia, gadis itu satu-satunya sahabat yang Fi miliki. Walaupun dari segi mana pun, Mia jauh berkebalikan darinya.Mia memiliki wajah yang manis, lelaki manapun bakal melirik dua kali kalau berpas-pasan dengannya. Dengan kulit bening serta senyuman yang memikat. Ditambah lagi dia berasal dari keluarga kaya. Bagi Mia mendapatkan pacar sama halnya seperti menangkap nyamuk. Hanya dalam sekali tepuk, ya begitulah."Assalamualaikum, waalaikumsalam!" teriak Mia semangat."Apaan sih Mia." Masih dengan nada serak, Fi
Adefi Putri Trisya, hanya seorang gadis berumur 19 tahun dengan keadaan ekonomi pas-pasan serta penampakan biasa. Depan-belakang sangat biasa, tanpa ada lekukan di tubuhnya membuat orang-orang yang minim ahklak memanggilnya tepos, papan cucian, triplek, daun lidi dan segala hinaan lainnya yang membuat Fi- nama panggilan Adefi sakit hati.Sebagai anak satu-satunya dalam keluarga Fi diharuskan untuk bekerja keras, menanggung semua beban di pundaknya sendirian. Mungkin selama ini anggapan bahwa anak satu-satunya akan menjadi anak emas yang selalu disayang salah. Selama ini Fi tidak pernah merasakan kebahagiaan tersebut.Saat teman-temannya sibuk hangout di cafe-cafe terkenal, Fi sibuk mencuci pakaian laundry di tempat orang. Ketika mereka disibukkan dengan hubungan percintaan, Fi menutup dirinya dan memilih belajar mati-matian untuk meraih cita-citanya. Dia cukup sadar diri, sebagai anak dengan keadaan ekonomi yang menyedihkan tidak seharusnya mengharapk