Share

Bab 53

Author: BELLA
"Dia 'kan memang wanita jalang!" balasku, menantang Joel dan Mark untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan.

"Jangan memanggilnya jalang lagi. Sandra adalah pacarku. Mungkin temanmu yang pantas mendapatkan sebutan itu."

Aku mundur dan menatapnya dengan tidak percaya. Aku tidak percaya Grace bisa jatuh cinta pada pria seperti ini. "Kamu bajingan! Pacarmu yang bodoh ini yang jalang. Kamu pikir aku akan tinggal diam ketika temanku dihajar olehnya?"

Joel berseru geram, "Nggak ada seorang pun yang menghajarnya. Selain itu, kamu bahkan nggak ada di sana dan nggak melihat apa yang Grace lakukan pada pacarku."

Aku menatap Sandra dari atas ke bawah. Aku menatap gaunnya yang sempurna dan tanpa sobekan sedikitpun. Rambutnya lurus seperti baru saja keluar dari salon. Juga tidak ada memar di wajahnya selain memar kuberikan padanya.

"Aku nggak lihat bekas gigitan ataupun goresan parah di wajah si jalang ini. Bahkan dia juga nggak terbaring di ranjang rumah sakit. Jadi, apa persisnya yang dil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Alya Pristika
Sidney keren bgt ya
goodnovel comment avatar
Dani Srikandi
bgus sidney.jgn jd perempuan lemah
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 54

    Joel tampak menarik diri tanpa sadar saat dia menoleh ke Mark. Alisnya berkerut menampakkan kebingungan. "Bung, kukira kita sahabat? Kupikir kamu akan selalu mendukungku," katanya dengan ekspresi tidak percaya."Kita sahabat dan aku akan selalu mendukungmu," jawab Mark acuh tak acuh sambil mengangkat bahu dan memasukkan tangannya ke dalam saku. "Tapi dia istriku, dan percayalah, aku nggak mendukung siapa pun.""Jadi, kamu hanya akan diam saja dan membiarkan istrimu menindas kita seperti itu?" gumam Joel dengan kekecewaan di matanya."Apa kamu akan membiarkan istriku menindasmu seperti itu?" balas Mark dengan tenang, lalu mengangkat alisnya, membuat Joel terdiam dan ternganga mendengarnya. Mark mengangkat bahu dan melanjutkan, "Apa? Kamu mau aku jadi pengawalmu, begitu?"Kata-kata Joel keluar dengan frustrasi saat dia mengumpat, "Aku menahan diri karenamu!" "Tolonglah." Aku menghadapinya dengan jijik. "Jangan jadi pengecut sekarang. Perlakukan aku seperti perlakuanmu kepada Grace. Biar

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 55

    "Nanti kujelaskan di rumah. Jangan rebut lagi. Ayo pergi," kata Mark dengan frustrasi. Aku bisa melihat dia berjuang untuk tetap tenang seperti sebelumnya. Namun, suaranya sedikit lebih keras daripada suaraku."Rumah? Itu rumahmu, oke? Itu rumahmu, bukan rumahku." Aku menunjuk pintu dengan jariku. "Aku nggak akan pergi ke mana pun denganmu. Aku juga nggak ingin mendengar penjelasan palsumu!""Sydney." Mark mengerutkan kening."Apa bedanya kamu dan Joel?" Aku mencibir kepada mereka berdua. "Kalian berdua egois, suka menipu, dan suka berkhianat! Pantas saja kalian berteman!"Wajah Mark makin gelap. "Sudah kubilang, Sydney, aku nggak tidur dengan Bella. Aku nggak mengkhianati pernikahan kita!""Tuh, 'kan? Kamu bahkan pembohong juga," tuduhku.Tangannya menyisir rambutnya dengan gerakan frustrasi sementara tangan lainnya bertumpu di pinggulnya. Dia mulai berbicara, tetapi dia tergagap, suaranya tercekat di tenggorokannya seperti sedang berusaha menemukan kata-kata yang tepat."Aku nggak ti

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 56

    Aku keluar dari kafe itu dengan marah, bersiap untuk kembali ke rumah sakit, menjauh dari semua manusia terkutuk ini dan kembali ke Grace.Sekitar empat meter dari mobil, aku mendengar langkah kaki berat yang dengan cepat mengejarku. Orang itu berhasil mengejarku dan meletakkan tangannya di bahuku."Sydney, tunggu. Tenanglah."Aku memutar mataku. Tentu saja itu dia. Tidak ada orang lain di sana yang searogan itu untuk melarangku pergi dari hadapannya atau cukup keras kepala untuk tetap mengikuti dan menyuruhku tenang!Aku menepis tangannya di bahuku dan terus melangkah maju. Dia mengejarku dan meraih bahuku lagi. "Ayolah!" Dia menggertakkan giginya. "Baiklah kalau begitu, biar aku antarkan. Kamu terlalu emosional untuk menyetir."Emosional! Aku mendengus dan dengan kasar menepis tangannya lagi. Aku menatap mobil itu dengan penuh tekad. Hanya beberapa langkah lagi, aku akan berada di dalam mobil itu dan melaju pergi dari bajingan ini."Sydney, kamu nggak boleh menyetir dalam kondisi sem

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 57

    "Ke rumah sakit!" teriakku. Suaraku meninggi di antara desiran angin dan klakson mobil saat Luigi dengan kasar melewati mobil-mobil itu."Siap!" teriaknya.Kemudian, dia melambat dan aku tidak merasa perlu mencengkeram perutnya lagi."Kamu bisa melepaskannya sekarang," ucapnya sambil terkekeh. "Kamu nggak akan jatuh.""Hahaha," balasku dengan sinis.Aku merasakan getaran tubuhnya saat dia terkekeh. "Tenang saja, aku bukan Mark," katanya saat aku melepaskannya.Aku tidak mengatakan apa pun kepadanya. Aku hanya mengeluarkan ponselku dan segera menelepon pengacaraku. Saat menekan nomor itu, aku merasakan kemarahanku kembali membara. Orang-orang berengsek itu! Mereka akan tahu rasa.Pengacaraku mengangkat telepon dan aku segera memerintahkan dengan keras, "Aku ingin menuntut Joel dan Sandra, dua bajingan itu! Bersiaplah."Ada keheningan di ujung sana dan aku bertanya-tanya apakah dia menutup telepon atau semacamnya. Aku menarik ponsel dari telingaku untuk memeriksa, tetapi panggilan itu ma

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 58

    Ketika aku tiba di bangsal Grace, dia masih tidur dengan wajah pucat pasi dan bibir kering seperti saat aku meninggalkannya! Aku bertanya kepada seorang perawat yang datang untuk mencatat suhu dan kondisinya."Apa dia menanyakanku saat aku nggak ada?" tanyaku, berharap mendapat jawaban yang meyakinkan. Namun, gelengan kepalanya memastikan kecurigaanku."Nggak, dia terus tidur sejak Ibu pergi," jawabnya.Dengan tenggorokan tercekat karena panik, aku mencari dokter. Aku menemukannya melangkah keluar dari bangsal lain dan segera berlari ke arahnya."Kenapa dia masih tidur? Aku sudah pergi cukup lama!" Tanpa basa-basi, aku langsung ke alasan utama menghadapnya.Dokter mengangkat alis. "Pasien di Kamar 7?" Aku mengangguk, lalu dia tersenyum tenang dan melanjutkan, "Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja."Aku sedikit tenang. Senyum dokter itu meyakinkanku. Namun, ketika aku duduk di samping Grace dan mendengarkan napasnya yang tidak teratur, aku tidak bisa melepaskan kekhawatiranku. Apa d

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 59

    Saat itu, aku tiba-tiba tersadar bahwa belum menerima pemberitahuan debit. Mengapa? Aku segera memeriksa saldoku di rekening itu dan masih sama, tidak ada potongan.Mengapa dia belum menariknya? Aku tidak mau hal itu menggangguku. Kartu itu ada padanya, dia bisa menariknya kapan saja dia mau.Sekitar setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan kantor pendaftaran perceraian. Bahkan saat aku mentransfer pembayaran kepada sopir taksi, aku tidak bisa menahan pandanganku menjelajahi area itu untuk mencari Mark.Aku berjalan ke pintu masuk dan melangkah ke area resepsionis. Mungkin Mark lelah menunggu di luar dan memutuskan untuk menunggu di dalam. Namun, dia juga tidak ada di sana.Menelan kemarahanku yang semakin memuncak, aku menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri sebelum duduk di salah satu kursi di area resepsionis. Aku mendapati diriku duduk di samping pasangan yang begitu manis sampai membuatku bertanya-tanya mengapa mereka bisa sampai di tempat ini.Aku mengetuk-ngetukkan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 60

    Dengan desahan pasrah, aku menaiki taksi lain dan menuju ke rumah Keluarga Torres. Aku tahu Nenek Doris pasti berada di sana.Nenek Doris lebih berhak atas rumah besar itu daripada Rose. Namun, sifat Nenek Doris yang periang membuatnya tidak bisa berdiam diri di satu tempat.Dia tidak membiarkan usia atau tanggung jawab membatasi kebebasannya. Jarangnya Nenek Doris berada di rumah membuat rumah besar itu sepenuhnya berada dalam perawatan Rose.Mark juga tidak tinggal di rumah besar itu sehingga Rose berkesempatan untuk berkeliaran di tempat itu sambil menunjukkan kelebihannya—menindas dan memerintah orang lain.Saat aku memasuki kompleks rumah besar Torres, tepat di garasi rumah besar itu ada mobil yang kutinggalkan di Bar Milli kemarin. Mobil itu mungkin dikemudikan oleh Mark. Bagus, kalau begitu, aku bisa membawa mobil itu saat pergi dari sini.Pikiranku masih dipenuhi dengan kemungkinan bertemu Nenek dan apa yang mungkin akan dikatakannya saat suara melengking Nenek membuyarkan lamu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 61

    Aku terkekeh. "Aku yakin, Nenek. Sekali menyebut nama Nenek, mereka akan langsung mundur."Nenek Doris tampak berusaha mengalihkan tatapannya dari Mark. Kemudian, dia bergumam, "Memang seharusnya begitu."Salah satu pelayan datang membawa tiga kotak anggur di nampan, yang lain meletakkan bangku kaca di depan kami masing-masing, lalu menyuguhkan jus jeruk kepada kami semua. Keheningan di ruangan itu meluas saat Nenek Doris menyesap anggurnya. Dia menurunkan gelasnya dan melirik kami masing-masing."Ayolah, jangan hanya melihatku minum." Dia menunjuk gelas kami. "Minumlah sampai puas." Dengan enggan, kami masing-masing mengambil gelas dan minum.Aku bisa tahu dari suasana tegang—yang hendak dicairkan oleh Nenek Doris—di ruangan itu, dia akan berbicara tentang perceraian. Bukan hanya membicarakannya, dia pasti akan mencoba menghentikanku menceraikan cucunya.Aku sangat menghormati Nenek Doris, tetapi aku tidak bisa begitu saja menyetujuinya. Aku tidak bisa menghentikan semua usahaku untuk

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status