“Never judge a book by its cover,” aku berkata perlahan pada diriku sendiri sambil maju mendekat.“Bran?,” sapaku ceria.“Bu Torres,” dia tersenyum. Saat aku sampai di meja tempatnya duduk, dia berdiri dari kursinya. Dia dengan mudah menjulang di atasku dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Aku meraih tangannya dan dia menjabatnya dengan erat.Kami duduk dan langsung masuk ke urusan bisnis. Rasanya ingin sekali bertanya apakah aku bisa memesan kopi lain selain yang sudah dipesan olehnya, tapi kurasa tidak perlu. Jelas tidak ada pelayanan di sini.Saat kami berbicara, aku memperhatikan bahwa dia terlihat sama antusiasnya seperti saat kami berbicara di telepon, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan aneh ini. Tatapan matanya yang tajam meneliti diriku saat dia tersenyum dan terus bicara tentang bagaimana kami bisa bekerja sama dan menghasilkan desain baru, membuatku merasa sangat tidak nyaman. Dan dia juga tidak seprofesional yang kuharapkan, terus memaksaku untuk minum k
Aku menahan pertanyaanku dan langsung bertindak, bergabung dengan Luigi dalam perkelahian. Dalam waktu singkat, kafe itu dipenuhi kekacauan, dengan kursi dan meja beterbangan.Saat Bran melihat situasi mulai tak terkendali dan kami mulai mengalahkan para pria kekar teman-temannya, dia pun ikut terjun ke dalam perkelahian. Dia langsung menabrak Luigi, mendorongnya ke seberang ruangan. Saat melihat Luigi jatuh ke lantai, aku dengan cepat menghindari pukulan dari pria yang sedang kulawan dan berlari ke arah mereka untuk membantu.Namun, saat aku tiba di sana, Luigi dengan cekatan membalikkan Bran ke lantai dan menekan telapak tangannya dengan kuat di wajah Bran. Tatapannya beralih ke belakangku sebelum akhirnya menatapku."Pergi," katanya tanpa suara, "Ada gang, tunggu di sana.""Bagaimana denganmu?!" bisikku kembali, mataku membelalak.Kenapa aku harus meninggalkannya di sini? Tidak mungkin aku akan melakukan itu."Pergi, Sydney!" Dia berteriak saat Bran memanfaatkan momen lengahny
Sambil menunggu di sana, aku meraba-raba ponselku, semprotan merica yang juga dapat berfungsi sebagai alat kejut tergenggam erat saat aku memanggil nomor darurat."Dimana lokasi Anda, Bu?" mereka bertanya setelah aku dengan napas terengah-engah menjelaskan situasiku pada mereka."Aku... aku... aku tidak tahu," aku berusaha membuat kata-kataku terdengar jelas. "Aku tidak tahu di mana aku berada.""Baiklah, Bu. Tolong, tenang dulu. Pastikan lokasi kamu tetap aktif, kami akan melacaknya dan menemukanmu.""Terima kasih," aku membungkuk, tanganku bertumpu pada lutut, "Tolong, cepat." Suaraku terdengar hampir seperti bisikan lelah saat panggilan berakhir.Aku menutup mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Kalau Luigi tidak muncul, pasti aku tidak akan bisa menghadapi mereka sendiri.Aku bertanya-tanya apa niat Bran sebenarnya. Dia mungkin dikirim oleh seseorang, karena dia tidak punya alasan untuk mendendam padaku. Dia pasti bertindak atas perintah seseorang. Tapi s
"Benar! Seorang pria yang baik selalu berjalan pincang dan ada darah yang menetes dari luka di perutnya."Dia tertawa kecil, bahunya bergetar. "Beri aku sedikit jeda dari sarkasmemu itu, Syd.""Bagaimana bisa kamu sampai ke tempat terpencil seperti itu?" aku spontan bertanya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Maksudku, kamu muncul di saat yang tepat dan menyelamatkanku." Aku menyipitkan mata ke arahnya, yang hanya membuat senyumnya semakin lebar dan memesona. "Apa kamu mengikuti aku, Luigi?"Matanya menelusuri rambutku, lalu turun ke pakaianku. "Kamu kelihatan kacau. Kamu harus mencari tempat untuk membersihkan diri.""Jawab pertanyaanku," aku mendesak dengan nada main-main.Dia mengangkat alisnya, senyum nakal masih menghiasi bibirnya. "Aku sudah menyelamatkanmu dua kali, dan kamu masih meragukanku?"Aku merasa sedikit lebih rileks. Aku memang belum mengenalnya dengan baik, tapi aku bisa merasakan bahwa dia tidak akan menyakitiku. Semoga perasaanku benar."Apa kamu piki
Rose melenggang masuk dengan keangkuhan di wajahnya. "Sekarang kamu sudah punya nyali, ya?""Selamat pagi, Rose," balasku dengan nada yang sama sambil duduk kembali di kursi.Rose adalah ibu mertuaku. Sebenarnya cukup lucu betapa semua orang yang kuanggap keluarga justru memperlakukanku sebaliknya. Suatu kewajaran bila ibu mertuaku benci setengah mati padaku. Atau mungkin yang dia benci adalah keluargaku, hanya karena status keluargaku di kalangan elit jauh di bawah keluarga mereka. Menurutnya, menikahi keluargaku adalah tamparan bagi martabat mereka. Dan itulah yang keluargaku lakukan - menaikkan martabat keluarga- dengan ‘menikahi’ keluarga mereka.Menurut Rose, aku membutakan putranya dengan cinta dan memaksakan diriku ke keluarga mereka. Aku rasa dia tidak tahu betapa putranya sangat tidak menyukaiku. Jika dia tahu, dia pasti akan bersorak gembira."Aku ingin tanya sesuatu, anak muda," dia menggeram.Aku memutar mata dan berpaling darinya, berpura-pura tidak mendengarnya. Luig
Aku memberikan kunci mobilnya dan mengucapkan selamat tinggal. Saat keluar, aku memastikan pada dokter bahwa mereka telah menyelesaikan semua perawatan untuk Luigi. Aku juga memastikan tidak ada satu sen pun yang tertinggal dalam tagihan medisnya.Aku memutuskan untuk langsung pergi ke vila Grace terlebih dahulu. Aku menyetop taksi dan memberitahukan tujuanku. Tidak perlu khawatir Mark akan mengancam untuk menaikkan biaya perpisahan hanya karena aku memutuskan tidak pulang; dia mungkin tidak akan berada di sana. Rose pasti memanggilnya hari ini, dan kemungkinan besar dia tidak akan pulang.Sesampainya di sana, aku membayar sopir taksi. Langkahku melambat saat melihat mobil Grace - parkirnya terlihat berantakan. Aku mengangkat bahu dan masuk ke dalam, mungkin dia terburu-buru melakukan sesuatu.Di dekat pintu, ada sebuah tas dan sepasang sepatu hak yang tergeletak. Tas itu terbuka dan sebagian isinya berantakan di lantai, dan sepatu itu juga tidak tertata rapi seperti biasanya. Salah
SUDUT PANDANG GRACEIt's my birthdayI'ma do what I likeI'ma eat what I likeI'ma kiss who I likeIt's my birthdaySaat irama energik dari bagian chorus lagu Anne Marie, *Birthday*, menggema dari speaker stereo, aku merasa tidak bisa menahan diri lagi. Sambil menyisir rambut, kepalaku ikut bergoyang mengikuti irama, bibirku mengikuti setiap kata dengan semangat, benar-benar tenggelam dalam nada.I'ma do what I likeI'ma wear what I likeI'ma party tonightGoddamn, it's my birthdayEverybody love meYeah, yeah, yeah, look at me, gimme moneyDamn, it's my birthdayAku berhenti sejenak untuk mengaplikasikan lipstik dengan hati-hati. Setelah merapatkan bibir, aku tersenyum pada bayangan diriku di cermin. Aku berdiri tegak dan mengagumi diriku sendiri di sana; mataku menelusuri garis leher gaun yang kupakai, kalung zamrud buatan Sydney, lekuk tubuhku yang dipertegas, dan belahan di gaun itu."Yes! Aku terlihat keren," gumamku sambil berputar di depan cermin, hatiku penuh dengan kebaha
Dengan hati yang berat karena pengkhianatan, aku berkata dengan suara tersendat, "Kamu benar-benar menyalahkan aku sekarang?" Aku menengadah, berusaha sia-sia untuk menghentikan air mata yang akan jatuh. Tawa pahit keluar dari bibirku bahkan saat aku terisak. "Aku hanya ingin memberimu kejutan, tapi malah memergoki kamu selingkuh!"Joel mencemooh, dan suara itu seakan menusuk hatiku yang sudah hancur berkeping-keping. "Selingkuh?" Dia mendengus. "Kita tidak pernah mendefinisikan hubungan kita. Tidak ada label, tidak ada komitmen. Kita bukan pacar. Bagaimana kamu bisa menuduhku selingkuh padahal kita tidak pernah eksklusif?"Aku melipat tangan di dada dan memohon padanya, "Jadi aku ini siapa bagimu, Joel? Jika bukan pacarmu, lalu apa?"Hatiku hancur menjadi jutaan keping saat Joel, pria yang kukira aku cintai dan yang kupikir juga mencintaiku dengan sepenuh hati, berkata dingin padaku, "Kita hanya teman kencan, Grace," katanya dengan nada dingin. "Kita hanya sekadar teman bercinta. K
Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga
Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa
Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker
Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn
Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal
Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan
Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu
Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah
Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di