Sudut pandang Dennis:"Dia ada di sini, di Eclipse?" tanyaku. "Bukan bermaksud menyinggung, tapi kamu yakin info yang kamu punya sudah benar?"Detektif itu tersenyum. "Ya, Pak Dennis. Kami nggak akan berada di sini kalau kami nggak yakin.""Bisa kamu kasih tahu siapa orang itu? Mungkin aku tahu kalau dia memang sering ke sini."Dia menggeleng dengan raut wajah menyesal dan menyatukan tangannya di atas meja. "Aku nggak bisa memberi tahu lebih dari yang sudah aku sampaikan. Tapi aku jamin kamu nggak perlu khawatir. Kamu nggak berada dalam masalah apa pun.""Keberadaan kami di sini bukanlah suatu kesalahan, kami sudah memastikan itu. Meskipun belum ada bukti kalau si pembunuh benar-benar ada di klub ini, tapi kemungkinannya cukup besar."Saat mendengar penjelasan detektif itu, aku berada di antara rasa lega dan cemas. Dia baru saja bilang tidak ada bukti, tetapi kemudian bilang ada kemungkinan besar."Sebenarnya, apa yang kamu butuhkan?"Dia melepas genggaman tangannya dan menaruh kedua t
Kemudian pemimpin tim melangkah maju. "Masih memungkinkan untuk mendapatkan rekaman itu, Pak." Dia meyakinkanku. "Ini nggak akan mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Kami punya rencana untuk melacak rekaman itu, menyisir arsip, dan menyusun kembali potongan-potongannya. Akan memakan waktu dan tenaga, tapi kami yakin bisa melakukannya."Aku mengangguk."Apa kalian bisa mendapatkannya hari ini?" tanya detektif itu sambil mengamati ruangan.Pemimpin tim itu sekilas menatap timnya yang masih sibuk mencoba mengambil rekaman, lalu menoleh kembali pada detektif dan mengangguk. "Akan memakan waktu sekitar satu atau dua jam, tapi bisa didapatkan hari ini."Meskipun aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan polisi di sini selama berjam-jam jika mereka menolak pergi sampai mendapatkan rekaman itu, perasaan lega perlahan menyelimuti diriku. Setidaknya, aku tidak lagi terlihat seperti mencoba menyembunyikan sesuatu."Baiklah, ayo kita kerjakan," kataku, bersyukur atas komitmen mereka.Saat mer
Sudut pandang Aiden:Aku menatap donat dengan taburan sayuran di atasnya dan mengangguk, sedikit terkesan.Para juri mengambil giliran mereka mencicipi camilan itu. Kemudian, tiba giliranku.Aku mengambilnya, bersiap untuk menggigit. Namun, aku tiba-tiba terhenti ketika mendengar teriakan, "Jangan!"Aku langsung mengenali suara itu, dan aku menoleh ke arahnya dengan jantung berdegup kencang.Apakah sesuatu terjadi padanya? Apakah dia terjatuh? Apakah dia terluka?Berbagai asumsi dan bayangan menyakitkan tentang Ana yang terluka berkelebat di pikiranku sebelum pandanganku benar-benar menangkap sosoknya.Aku menemukan tatapannya yang lebar dan ketakutan tertuju padaku. Pertanyaan refleksku, "Kamu baik-baik saja?" Langsung tertelan di kerongkongan.Dia menatapku seperti baru saja melihat hantu. Begitu mata kami bertemu, dia buru-buru menunduk, tampak malu.Dia melirik sekelilingnya, lalu menunjuk ke arahku dengan canggung. "Dia alergi wijen."Pikiran pertama yang seharusnya muncul di bena
Aku menoleh ke pria yang sekarang aku duga adalah Martin. "Uhh ...."Pengelola penginapan menepuk bahuku dengan keras. "Aiden, temanku, kenalkan, ini anakku, Martin."Martin menoleh kepadaku, pengakuan dalam matanya kini semakin jelas. "Oh, jadi kamu Aiden." Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, meskipun masih membawa beberapa kotak.Aku menjabat tangannya. "Senang bertemu denganmu, Martin." Sekarang setelah aku melihatnya lagi, aku mengerti mengapa wajahnya terlihat familier. Dia sangat mirip dengan ayahnya.Setelah bertukar sapaan, aku melanjutkan perjalananku menuju kamar Ana.Aku memastikan tanaman dalam genggamanku aman sebelum mengetuk pintu.Keningku kini berkerut dalam saat aku mengetuk untuk ketiga kalinya dan masih tidak mendapat respons."Ana!" aku memanggil, tak peduli siapa yang mungkin mendengar."Anastasia!" Aku mengetuk pintu lebih keras. "Kamu ada di dalam?"Pertanyaanku hanya disambut dengan keheningan.Saat aku hendak memanggil namanya lagi, aku mendengar
Sudut pandang Anastasia:Di kamarnya? Aku terpana menatapnya. Apakah dia sadar dengan apa yang dia katakan? Kenapa, dari semua kamar, aku harus memilih kamarnya?"Nggak, terima kasih," ucapku spontan sebelum sempat berpikir.Sekilas aku melihat luka di matanya sebelum dia menyembunyikannya dengan senyuman. Rasa bersalah menyelimutiku. Aku tak seharusnya menolak tawarannya sekeras itu.Aku hendak menjelaskan saat dia berkata, "Aku ngerti, tapi aku benar-benar nggak keberatan. Lagi pula ...." Kemudian, dia menambahkan dengan alis terangkat, "Aku nggak berniat tinggal di kamarku kalau kamu menginap di sana.""Oh." Aku terpaku. "Aku nggak tahu kalau kamu nggak akan tidur di kamarmu.""Tentu saja nggak," ujarnya seolah hal itu sangat jelas. "Aku nggak ingin membuatmu merasa nggak nyaman."Aku tersentuh. Itu mengingatkanku pada Aiden yang dulu kukenal. Tinggal di kamarnya sendirian terasa jauh lebih baik daripada sekamar dengan orang yang akan membombardirku dengan pertanyaan. Namun, di mana
Aku memucat. Kenapa pikiran itu tiba-tiba muncul?Aku menggeleng, mencoba mengusir setiap pikiran yang ada tentang Aiden. Kenapa aku berpikiran seperti itu? Aku bahkan berada di kamarnya sekarang.Akhirnya, aku pun berpindah untuk duduk di ranjang dan saat itulah aku menyadari bahwa sejak Aiden membawaku ke ruangan ini, sementara dia membereskan barang-barangnya, aku tetap berdiri di tempat yang sama.Aku menutup mata dan mengerang. Tidak heran dia tampak seperti tidak sabar untuk meninggalkan ruangan itu. Pasti aku membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Tenggelam dalam keempukan kasur saat aku berbaring, aku mengagumi ruangan itu. Tampaknya desain interior semua ruangan serupa.Tak lama kemudian, aku menanggalkan pakaianku dan menyeret diriku ke kamar mandi, di mana aku mandi dengan lama sambil memeriksa beberapa produk perawatan kulit miliknya. Produk-produk itu beraroma enak seperti biasanya, tetapi berbeda dari yang biasa dia gunakan.Aku sangat tergoda untuk mencoba beberapa di an
Sudut pandang Aiden:Ketika aku bergerak di ruangan itu, aku merasakan tatapannya mengikuti setiap langkahku. Entah mengapa, hal itu membuatku tersenyum. Hatiku terasa hangat karena dia menatapku, bukan mengabaikanku begitu saja.Saat aku menutup laci dan mulai berjalan menuju pintu, tiba-tiba suaranya menghentikanku. "Kamu bisa tidur di sini."Hatiku langsung berdetak kencang, seolah sedang mengikuti lomba maraton. Apa aku tidak salah dengar? Aku menoleh padanya. Ada sesuatu dalam mata indahnya yang menatapku. Rasa bersalah? Rasa iba? Aku tidak bisa memastikan.Ana duduk di tengah ranjang, dengan selimut melilit bagian bawah tubuhnya. Meski belum tidur, rambutnya sudah berantakan dengan cara yang memesona. Pasti dia sudah mandi, pikirku. Dia tampak lebih bersih dan segar dibanding saat aku meninggalkan ruangan dan rambutnya tak lagi terikat dengan kuncir kuda kendur sejak tantangan memasak.Mungkin dia menyadari aku terlalu menatapnya, dia memalingkan pandangannya, lalu kembali menata
Sudut pandang Anastasia:Aku membuka mata dan menatap langit-langit sangat lama. "Gimana aku bisa lupa?" gumamku pelan.Aku melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu. Sudah tengah malam dan aku tidak bisa tidur.Saat tiduran, terdengar suara dengkuran rendah, hampir seperti raungan serak seekor binatang buas yang mendekati mangsanya. Namun, itu hanyalah Aiden.Dengan telapak tangan yang kusatukan dan diletakkan di bawah pipiku, aku menoleh ke arah Aiden. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan dengkuran keras.Tanpa sengaja, kenangan pun membanjiri pikiranku. Satu kenangan khusus begitu menonjol .... Hari pertama aku menginap di tempatnya, kira-kira sebulan setelah pertama kali bertemu. Aku merasa ngeri saat menyadari bahwa pria setampan dia bisa bersuara seperti itu ketika tidur.Ketika aku meluapkan kekesalan keesokan harinya karena tidak bisa tidur, dia tertawa dan berkata bahwa aku akan terbiasa.Aku terkesan karena hal itu tidak membuatnya merasa kurang percaya diri, meski ak
Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga
Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa
Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker
Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn
Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal
Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan
Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu
Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah
Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di