Home / Romansa / Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder / Bab 59. SELAMAT DATANG DI KELUARGA GHAZY

Share

Bab 59. SELAMAT DATANG DI KELUARGA GHAZY

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2024-02-02 21:35:01

“Anda tidak bisa memindahkan saksi tanpa izin Tuan Ghazy,” Alex mencoba untuk menghalangi niat Deniz untuk membawa pulang istrinya.

“Dia istriku, aku berhak melakukan apa saja padanya—termasuk menyelamatkan nyawanya.” Jawab Deniz dengan tatapan tajam.

Mendengar keributan kecil di dalam, Mark menerobos masuk ke dalam kamar pasien dan meninggalkan Grace di luar dengan tampang heran. “Hei, hei, tunggu! Aku belum selesai bicara denganmu Tuan.” Ujar Grace yang merasa diacuhkan.

“Tuan muda,” Mark sudah berdiri di antara mereka berdua.

Tangan Deniz menghalangi Mark agar pria muda itu tidak bertindak ceroboh. Mark mengangguk tanda mengerti, kemudian ia berdiri menepi dan mengamati keduanya dalam diam.

“Dia akan menjadi saksi, jika kondisinya sudah pulih Tuan Alex.” Lanjut Deniz menuturkan.

“Tidak bisa selama dia dalam pengawasan kami,” Alex bersikukuh.

“Istriku baru saja kehilangan bayinya, Tuan.” Tunjuk Deniz agar hati Alex sedikit dilembutkan.

“Tapi di sini saya menjalankan tugas Tuan,” ban
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 60. MAAFKAN MAMA NAK

    Ada perasaan hangat saat segaris sinar masuk melalui celah gorden jendela. Ia menggerakkan jari tangannya secara perlahan, Marissa merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk. “W-What, what, what the ….” ia terkejut saat benar-benar telah siuman setelah sekian lama tertidur.“Hei, tenanglah! Kamu sudah aman bersamaku,” Deniz yang sejak semalam berjaga di samping tempat tidur, langsung sigap menenangkan istrinya. Marissa terbangun dengan posisi duduk, perempuan itu seolah merasakan trauma mendalam. Ia kesusahan saat mencoba untuk menstabilkan frekuensi napasnya, hingga peluh sebesar biji jagung membanjiri sebagian wajah Marissa.“Minumlah!” Deniz mengangsurkan segelas air putih.Semula ia menyambutnya dengan ragu, saat ia menoleh ke arah Deniz Marissa pun minum hingga habis separuh. “A-Aku di mana?” tanya Marissa sambil melihat kedua telapak tangannya yang masih utuh, salah satu punggung tangan itu masih tertancap jarum infus guna memulihkan kesehatannya.“Home,” jawab Deniz dengan singk

    Last Updated : 2024-02-06
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 61. GIVE ME MORE!

    “Aku sudah tidak mau bertemu dengannya, jangan memaksaku.” Marissa duduk di kursi sofa dengan wajah penuh kebencian. “Mereka membutuhkan kesaksianmu, Marissa.” Ujar Deniz yang telah menarik kursi lain agar bisa duduk di hadapannya. “Kesaksian seperti apa? Aku hampir mati di sana dan tidak tahu menahu soal bibi May seperti yang kamu bicarakan,” jawab Marissa yang memang tidak mengetahui asal usul kejadian di Antalya. “Kamu marah padaku karena aku memasukkan Joanna ke dalam penjara?” Deniz pun berusaha bicara dari hati ke hati. “Marah padamu? Untuk apa?” Marissa balik bertanya. Marissa menatap Deniz dengan kedua alis ditautkan, “Seharusnya aku mati saja,” gumamnya saat mengalihkan pandangan ke tempat lain. “Marissa, kenapa ngomong seperti itu?” Deniz meraih tangannya, tapi perempuan itu buru-buru menepis. Ia enggan disentuh oleh suaminya dengan banyak alasan, salah satu alasannya adalah suasana hati Marissa sedang tidak baik hari ini. Deniz menghela napasnya dengan berat, “Maafkan

    Last Updated : 2024-02-07
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 62. PRIA DUNGU

    Kota Ankara terasa asing baginya kini, ia terlihat tidak nyaman saat berada di keramaian. Buru-buru Marissa masuk ke dalam mobil untuk menghindar dari kejaran paparazzi yang terus saja mendesaknya. “Nona! Bisakan anda meluangkan sedikit waktu?” “Nona, tolonglah kami!” “Bisa Anda ceritakan, apa yang anda alami selama berada di kota Antalya?”Pertanyaan demi pertanyaan terus saja memberondong perempuan itu. Mereka mengikuti ke mana Marissa melangkahkan kakinya. Para pemburu berita itu tidak melepas sedetik pun untuk mendapatkan informasi yang akurat. “Sialan! Ke mana perginya Alex saat begini?” gerutu Deniz setelah berhasil masuk ke dalam mobil. “Cepat minggir atau kalian aku tabrak!” teriak Deniz dari dalam mobil agar mereka tidak menghalangi jalan. “Kamu tidak apa-apa?” ia menoleh ke arah samping, di mana istrinya memilih untuk melihat ke luar jendela mobil. Tidak ada sahutan dari Marissa dan Deniz tahu jika saat ini suasana hati perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. “Se

    Last Updated : 2024-02-12
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 63. RENCANA GILA MARISSA

    “Gila Marissa, ini gila!” Joshua gusar saat mendengar pengakuan dari perempuan di hadapannya itu. “Sttt ….” Marissa meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir yang kini dipoles dengan warna plum.“Jangan keras-keras! Nanti Deniz curiga,” lanjutnya dengan perasaan cemas.Ia mendekatkan kursinya agar bisa mengobrol lebih intens dengan Joshua. Marissa merasa jika hubungannya dengan Deniz harus memiliki kejelasan, dan ia pun meminta pendapat pada teman dekatnya yang mengerti benar tentang masalahnya selama ini—Joshua.“Lalu apalagi, Josh? Jika aku berada di dekatnya, dia akan selalu terlibat dalam masalah. Kamu tahu itu bukan?” tutur Marissa dengan sikap yang tidak kalah gusarnya dengan Joshua. “Setelah apa yang kalian lakukan bersama hingga sejauh ini, dan kamu akan menyerah begitu saja?” Joshua memundurkan wajahnya dengan dahi yang berkerut. “Tidak, Josh. Sampai kapanpun kamu tidak akan mengerti, karena ….” Marissa tidak melanjutkan kalimatnya. “karena apa? Dengan bersikap sep

    Last Updated : 2024-02-21
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 64. AKU PERGI

    Marissa keluar dari dalam mobil begitu saja, ia meninggalkan Deniz yang masih duduk termangu. Pria itu merasa heran dengan perubahan sikap, Marissa. Namun sampai di mana Deniz mengejarnya hingga ke dalam kamar, Marissa tetap memasang wajah yang masam.“Ada apa denganmu? A-Aku benar-benar tidak mengerti,” Deniz menarik tangan Marissa, perempuan itu pun menghentikan langkahnya.“Aduh, jangan kasar dong!” Marissa menepis tangan Deniz agar tidak menyentuhnya.“Apa aku telah melakukan kesalahan? Tolong jawab, Marissa!” kata Deniz dengan semburat wajah yang terlihat kacau.Marissa terpaku, ia menatap nyalang ke arah suaminya. Entah apa yang saat ini dipikirkan oleh perempuan itu, “Tidak, tidak ada.” Jawabnya dengan cepat.“Lantas? What’s wrong with you?” Deniz membuka kedua tangannya, ia meminta alasan yang tepat pada perempuan yang dinikahinya beberapa bulan lalu.“Kamu tahu, Deniz? Kamu terlalu baik untukku.” Jawabnya dengan saliva yang menggantung di kerongkongan.“Aku tidak pantas untuk

    Last Updated : 2024-02-22
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 65. ARE YOU SERIOUS?

    Sepi. Padahal waktu sudah menunjukkan tengah hari. Marissa berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah outlet yang ada di hadapannya. Ia menyeret sebuah koper yang tentu saja berisi pakaian saat dirinya baru pertama kali berjumpa dengan Deniz. “Here we are,” gumamnya sebelum benar-benar membuka pintunya. Marissa menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan, lalu memandang bangunan yang tidak berubah sejak beberapa tahun lalu. “Marissa ….!” teriak seorang perempuan yang sigap menyambut kedatangannya. Perempuan itu memeluk Marissa dengan hangat, lalu menatapnya dengan senyuman tipis. “Kamu datang sendirian?” tanya perempuan bernama Ruth itu dengan kelopak mata sedikit melebar. “Memangnya kamu melihat aku datang bersama siapa? Tenang saja, tidak ada yang mengikutiku.” Marissa menjawab dengan bibir dimanyunkan. “Hanya berjaga-jaga, siapa tahu ‘kan? Kamu tahu sendiri kalau orang-orang di sekelilingmu itu sangat— mengerikan.” Ujar Ruth dengan bahu digedikkan.“Termasu

    Last Updated : 2024-02-27
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 66. ANTARA WANITA DAN MINUMAN

    “Jika kamu berhasil menjual satu potong baju minggu ini. Aku akan memberimu upah 10 persen dari harga baju tersebut, bagaimana?” Ruth pun menyetujui usul Marissa yang sepertinya tidak main-main jika soal pekerjaan. “Hem, menarik!” senyumnya mengembang dengan sempurna. “Hitung-hitung, kamu bantu temanmu ini.” Lalu ia meringis dan memperlihatkan sederet giginya. Ruth manyun, lalu menautkan kedua alisnya. “Memangnya kamu sudah berpikir masak-masak soal itu?”Marissa menghembuskan napas dengan kasar, “Mau bagaimana lagi?”“Kamu tidak merasa sayang apa?” selidik Ruth yang mendekatkan diri saat menatapnya. “Sayang kenapa?” Marissa mengernyitkan dahi saat membalas tatapan Ruth yang menurutnya sangat mengherankan. “Ada seorang pria mapan, tajir melintir dan sangat tampan. Dia bersedia menikahimu yang ….” Ruth tidak melanjutkan kalimatnya, ia melirik ke arah Marissa dari bawah kaki sampai atas kepala. “Itu hanya accident, Ruth.” Jawab Marissa sambil melengos.“Accident atau tidak, kenya

    Last Updated : 2024-02-28
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 67. SANTAI SAJA MARISSA

    Hanya berselang beberapa minggu saja, galeri fashion milik Ruth sudah kembali ramai seperti sedia kala. Perempuan cantik berambut cepak tersebut melebarkan senyumannya saat melihat sekeliling. Tidak ada raut cemberut atau mengajukan protes karena dulu ia selalu menolak retur produk dari para pelanggan. “Jangan bengong! Bantu aku melayani mereka,” Marissa menyenggol bahu Ruth hingga perempuan itu tersadar. Ia menoleh pada Marissa yang baru saja melewati dirinya dan membaur dengan pelanggan di depan sebuah manekin. “Kenapa bisa?” bisik Ruth setelah mendekat. Marissa menoleh, ia memanyunkan bibirnya lalu mengedikkan kedua bahu. “Buktinya bisa ‘kan?” jawab Marissa singkat. Ia terlihat sangat ramah saat melayani para pembeli yang menurut Ruth sangat cerewet itu. Marissa bersikap profesional seolah dirinya sudah terbiasa dengan pekerjaan tersebut. “Hem, bagus deh.” Ujar Ruth sambil mengangguk pelan. Waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Ruth melirik jarum jam di pergelangan tangan kir

    Last Updated : 2024-03-01

Latest chapter

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   108. HAPPY

    "Seberapa kaya dirimu, Mas?" tanya Marissa saat keduanya tengah menikmati semilir angin di teras balkon bungalow. Pemandangan laut telah menyihir mereka untuk tetap berlama-lama di waktu menjelang siang hari. Matahari bersinar cukup terik, tapi tidak mengusik ketenangan mereka sedikitpun. Bahkan sekarang keduanya tengah menikmati segelas jus nanas untuk Marissa dan segelas wine untuk, Deniz. Deniz memanyunkan bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari, Marissa. "Sangat kaya," jawabnya kemudian menyesap minumannya dengan penuh perasaan. "Sebesar apa? Kenapa keluarga Ghazy bisa masuk ke jajaran pengusaha sukses di rate 10 orang terkaya di dunia?" Marissa penasaran, ia ingin mendapatkan satu kisah tentang keluarga Ghazy dari mulut suaminya sendiri. "Kamu tidak akan bisa menghitungnya, apalagi dengan jari-jari lentik itu." Deniz menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke laut lepas yang ada di hadapannya. Marissa mengarahkan bola matanya ke samping dengan bibir dilipat k

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   107. HAPPY BIRTHDAY

    Kaki jenjang sehalus susu itu berlari kencang menghampiri ombak yang menggulung di bibir pantai. Saat kaki indahnya basah karena sapuan air laut, Marissa tergelak senang. Tawanya begitu lebar hingga kelopak matanya hanya terlihat bagaikan garis melengkung.Deniz tersenyum tipis saat melihat perempuan cantik yang sedang menari dan berputar lincah itu sedang melambaikan tangan ke arahnya. Deniz membalasnya, hingga menampilkan deretan gigi putih rapi miliknya. Ia memilih untuk menikmati panorama senja dengan siluet Marissa yang menawan di hamparan pasir putih, bahagia; itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.Setelah memuaskan diri dengan hanya menatap presensi Marissa di tepi laut, Deniz yang mengenakan setelan casual pun menggulung celananya hingga batas betis dan berniat untuk ikut bergabung dengan istrinya. Sepertinya berlarian di atas pasir dan mengejar perempuan menawan di depannya dengan sebuah godaan adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini, hin

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   106. RENCANA DENIZ

    “Really?” Marissa masih mematung di tempat, bola matanya hampir lepas dengan decak kagum menjadi-jadi.“Kamu belum pernah naik pesawat?” tanya Deniz saat langkah kakinya berhenti tepat di samping, Marissa.Marissa menoleh cepat, ia dengan wajahnya yang tercengang namun bagi Deniz apa yang dilihatnya sungguh menggemaskan. “Ini jet pribadi, Mas.” Jawabnya sangat antusias.“Iya, terus?” Deniz memiringkan kepalanya, nampak dua alisnya saling bertautan.“Kalau naik pesawat di bandara-bandara gitu sih udah biasa, Mas. Marissa kan belum pernah ngerasain naik pesawat pribadi model begini, apalagi ini adalah milik suaminya aku.” Gestur wajahnya berubah-ubah saat menjelaskan, kadang kelopaknya memicing serius, lalu berubah menjadi datar kemudian tergelak senang.Deniz menikmati pemandangan di hadapannya seperti sebuah mukjizat, baginya Marissa bukan hanya sebagai obat dalam hidupnya, namun perempuan itu adalah anugerah dari Tuhan yang diturunkan untuknya. “Milik aku itu juga milik kamu, Sayang

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   105. APRESIASI

    "Jangan telat minum obat, Deniz! Apalagi sengaja untuk lupa," canda dokter Sunny. "Tenang saja Dok, kan sudah ada alarm original buat ingetin aku." Jawab Deniz dengan senyum simpulnya. "Alarm original?" ulang dokter Sunny sambil mengernyitkan keningnya. Deniz melirik Marissa yang duduk di sebelahnya, "Ini alarm original ku, Dok." Senggol Deniz pada lengan istrinya yang sejak datang memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. "Idih, apaan sih?" ujar Marissa malu-malu. "Tapi ada benarnya lho, sejak kalian kembali rujuk, aura Deniz berubah menjadi semacam lampu mercusuar yang menerangi lautan lepas." Kata dokter Sunny dengan antusias. "Jokes Anda sungguh terlalu Dokter, segala lampu mercusuar dibawa-bawa ...." Deniz tergelak. "Aku tidak bohong, Deniz. Kamu sebelum kembali dengannya, jangankan rutin melakukan fisioterapi ataupun medical check up. Untuk obat pun kamu sengaja tidak mau menebusnya, padahal dari segi finansial seorang CEO perusahaan manufaktur terbesar di dunia,

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   104. DOUBLE BREAKFAST

    Satu bulan berlalu, sejak masa fisioterapi yang dilakukan Deniz di London kala itu. Kini Deniz aktif melakukan olahraga rutin seperti jogging ringan untuk membantu mempercepat proses pemulihannya. Semua perubahan drastis itu tidak lepas dari peran Marissa yang menyiapkan makanan sehat untuk menyeimbangkan asupan yang masuk ke dalam tubuh, Deniz. "Mas, diminum dulu jusnya." Marissa membawakan satu gelas jus jeruk segar setelah Deniz datang dengan keringat penuh membasah hampir di seluruh tubuhnya. "Makasih Sayang," lalu Deniz menghabiskan jus jeruk di tangannya seperti onta yang sedang berada di tengah gurun Sahara. "Hm ...." jawab Marissa bergumam, tentu saja di bibir berpoles warna pink nude itu tidak lepas menarik garis senyuman. "Oh ya, Mas mau sarapan apa? Aku masakin bentar ya, setelah ini Mas mandi dulu. Kita ada janji lho sama dokter Sunny, aku tidak ingin Mas terlambat untuk itu." Lanjut Marissa yang hendak pergi ke arah dapur. "Eeeh .... tunggu dulu, mau ke mana Sa

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 103. OPTIMIS

    Genap 3 Minggu mereka menghabiskan waktu di London, Inggris. Marissa dengan sabarnya mendampingi Deniz dalam segi pengobatan dan juga kesembuhan mentalnya. Seperti hari ini di mana Marissa menghabiskan waktu setengah harinya melatih Deniz untuk berjalan meskipun masih dengan bantuan tongkat penyangga. Merasa lelah setelah berputar di taman rumah sakit, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan. Tak putus kata semangat Marissa lontarkan, "Bagus Mas, ya, terus .... pelan-pelan, kalau capek kita bisa berhenti dulu." Marissa memegang pinggang Deniz dengan erat, sementara tangan kiri suaminya dilingkarkan pada bahunya agar mereka bisa berjalan secara beriringan. "Kalimat kamu itu, bisa diralat nggak sih?" sahut Deniz dengan napas sedikit tersengal karena menahan nyeri di bagian sendinya. "Kalimat aku? Bagian yang mananya, Mas?" tanya Marissa dengan dua alis menukik tajam. "Kalau kalimat itu terucap lagi dari bibir kamu, bisa-bisa orang menyangka kalau kamu itu lagi a

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 102. LOVE YOU MORE, MAS!

    Marissa masih terjaga saat jarum jam di dinding menunjukkan angka 11 malam. Ia melihat Deniz sudah tertidur pulas sejak kepulangan mereka 4 jam yang lalu. Marissa membuka kacamata minusnya, lalu meletakkan ke samping lembaran dokumen yang baru saja ia pelajari, Marissa harus memenuhi konsekuensinya untuk membantu mengembalikan data perusahaan milik suaminya. seperti yang diketahui sebelumnya data perusahaan yang Deniz pimpin telah bocor, akibat beberapa akses perusahaan manufaktur yang dipegang terakses oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dipijatnya pangkal hidung yang terasa nyeri, "Kenapa tingkat keamanannya tidak berlapis? Padahal perusahaan ini begitu besar. Selama ini mereka fokus ngerjain apa aja sih? Bisa-bisanya data investor, kolega serta pemilik saham bisa kecolongan seperti ini." Monolog Marissa dengan helaan napas berat. Langkah kakinya menuntun Marissa menuju dapur apartemen, ia membuka satu botol Tequila dan menuangkannya ke dalam gelas kristal. Otaknya harus ri

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 101. GIVE ME MORE ++

    Di kursi belakang, Marissa merebahkan bobot tubuh Deniz di atas kursi penumpang. Ia meminta agar Sam memberi mereka waktu sebentar. Berbekal beberapa lembar uang yang diberikan Marissa, Sam pun memilih untuk menunggu dua anak manusia yang tengah terbakar gelora itu di sebuah Coffee Shop. Menyesap kopinya dengan penuh hati-hati, Sam hanya bisa bergumam kala melihat SUV berwarna hitam di tepi parkir tengah bergoyang secara perlahan. Bibirnya berjengit menarik senyuman, lalu menggeleng kecil saat memikirkan apa yang telah terjadi di dalam sana. Kepulan asap yang keluar dari arah pods yang dihembuskan oleh Sam membuat perasaannya sedikit lega. Hingga tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda mereka yang ada di dalam mobil akan menyerah. "Harap maklum, Sam. Mereka sudah menahannya cukup lama ...." monolog Sam pada dirinya sendiri. Dan suara geram tertahan itu berkali-kali lolos dari mulut Deniz saat Marissa mencari kepuasan di bawah sana. Dengan posisinya yang mendominasi di

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 100. JUST CODDLING

    "Sakit, Sayang ...." Peluh Deniz menetes dari keningnya, ia menahan bobot tubuhnya di tiang penyangga yang terdapat di kedua sisi tangannya. Hampir saja menyerah ketika dirinya sudah terlalu nyaman duduk di kursi roda. Penyakit tidak percaya dirinya muncul begitu saja saat dua kakinya tidak lagi mampu berpijak dengan tepat di atas lantai. "Ada aku, Mas. Jangan menyerah!" bisik Marissa sambil mengangkat sebelah tangan suaminya dan meletakkan di bahu agar Deniz tidak terjatuh. Deniz menggeleng lemah, deru napasnya tidak teratur. "Mas duduk dulu, istirahat lah! Aku ambil minum sebentar, Mas." Marissa pergi ke sudut ruang setelah mendudukkan Deniz di sebuah sofa untuk mengambil satu botol air mineral. "Jangan dipaksa, pelan-pelan saja Nyonya Sawyer." Ucap salah satu perawat yang menghampirinya. Marissa menoleh, ia terlihat sangat tegang. "Oh, i-iya." Kata Marissa sambil mengangguk ragu. "Butuh waktu, Nyonya harus bersabar saat mendampingi tuan Ghazy." Sambung perawat di ha

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status