“Kamu bercanda? Cerita dari mana jika kamu itu adiknya, Kevin?” Deniz tertawa kecil sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.“Jangan ngarang kamu, Cath!” sambung Deniz yang sudah tidak ada simpati sedikitpun pada perempuan muda itu.“Aku memang tidak pernah memberitahumu tentang keluargaku, karena kamu tidak memintanya,” jawab Catherine yang nada suaranya terdengar seperti—menyesal.“Cih, tidak penting.” Deniz langsung menimpali nya dengan cepat.“Kamu sudah berkhianat dan kita tidak ada hubungan TITIK!” jari telunjuk Deniz mengarah ke bawah lantai sebagai bentuk keputusan yang mutlak agar Catherine menerima dengan lapang dada.“Sudah aku jelaskan jika semuanya salah paham, Deniz. Kamu harus percaya kepadaku,” Catherine masih berusaha mendapatkan kepercayaan Deniz yang sudah hilang kepadanya. Pria bertampang dingin itu dulu sangat hangat saat menatap ke arahnya. Ucapan yang keluar dari mulut seorang Deniz sangatlah lembut, sehingga berhasil meluluhkan hati Catherine yang keras k
“Aku tidak menukar takdir siapapun. Jika harus menyalahkan, kenapa kau harus membebankan semua ini kepadaku? Aku tidak tahu apa-apa, Jo.” Ujar Marissa yang masih dalam posisi semula, telentang di atas ranjang lapuk.“Tapi karena kau, semuanya menjadi kacau.” Balas Joanna dengan wajah mengerikan. Ia melempar dagu Marissa dengan kasar.“Aku? Salahku di mana? Sedangkan aku sendiri tidak tahu jika kau mengalami hari yang berat. Kita bertemu di saat usiamu baru menginjak 12 tahun, saat paman Mike membawamu ke rumah.” Jawaban dari Marissa membuat Joanna bungkam, ia hanya melirik dengan sinis.Joanna mengepalkan tangannya dengan kuat, hampir saja ia melayangkan bogem mentah itu pada kakaknya. Ia urung melakukan, Joanna masih butuh Marissa untuk memuluskan rencananya. Masih banyak hal yang harus ia wujudkan di samping Marissa adalah pemegang saham tertinggi di perusahaan konstruksi itu.Lalu ia melampiaskan amarahnya dengan menendang sebuah kursi, hingga kursi tersebut berpindah tempat dengan
“Miriam, kemarilah!” Joanna memanggil wanita yang dulu dipercaya sebagai kepala pelayan di keluarga Ghazy itu agar masuk ke dalam.“Nona,” jawab Miriam dengan penampilannya yang tetap terlihat elegan di mata siapapun.“Singkirkan dia!” “Baik, Nona.” Miriam mengangguk patuh, ia sangat tahu jika Joanna tidak suka dibantah. Perempuan muda itu pun pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata. Miriam masih dalam posisi menunduk dengan kedua telapak tangan saling menggenggam di depan. “Kerjakan dengan rapi!” Joanna menepuk bahu Miriam yang terlihat tegang.Miriam mematung hingga di sepersekian detik, hingga ia tersadar dari lamunan yang menuntutnya untuk menuruti perintah majikannya. Ia yang telah terdesak oleh keadaan terpaksa harus setuju dengan tawaran yang diberikan oleh Joanna kepadanya. Miriam yang takut mati itu pun sepakat untuk bekerja dengan Joanna sebagai salah satu syarat.“Oh my God,” gumamnya lirih saat melihat Marissa yang sudah tidak bergerak.“Sam!” Miriam memanggil seseoran
“Dasar anak tidak tahu diri. Apa yang sudah kau lakukan, Sam Antonio Bennedict?” teriak wanita berusia 60 tahun itu dengan berkacak pinggang—marah. “Seharusnya kau membawa calon pengantin, bukannya—argh ….!” Bibi May meluapkan emosinya setelah membantu Sam membaringkan tubuh Marissa di kamar tamu. Bibi May berdiri dengan gelisah, bahkan celemek untuk memasak masih dikenakan wanita berpostur tambun tersebut. Saat Sam datang, kedua telapak tangan wanita itu menyambutnya dengan sarung tangan anti panas untuk mengangkat ayam saus tomat dalam oven. “Bibi, aku tidak bilang kalau ….” “Alah, kau ini banyak alasan dari dulu. Mana ada gadis yang mau denganmu jika kau setiap hari sibuk bekerja dan lihatlah kondisimu sekarang. Pulang-pulang bukannya membawa istri, tapi membawa ….” bibi May menghembuskan napas dengan kasar setelah melirik ke arah pintu kamar, ia tidak meneruskan kalimatnya. Wanita berambut sebagian memutih dan digelung asal tersebut memilih untuk berdiri, ia berkacak pinggang
“Nona hanya menderita syok, Bi. Saya sudah mengobati lukanya, jadi Bibi jangan terlalu khawatir.” Dokter Ramon meletakkan beberapa obat di atas meja dan memberi petunjuk cara minum sesuai dosisnya.“Apa Sam akan kembali, Bi?” tanya dokter Ramon yang menatap kasihan pada bibi May yang telah menghabiskan masa tuanya sendirian tanpa ada sanak saudara.“Entahlah, Ramon. Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini,” jawab bibi May dengan mengedikkan bahunya.“Nanti ada Frans yang datang ke mari. Aku sudah memintanya membantuku selama nona muda masih dalam pemulihan,” lanjutnya setelah duduk di kursi yang berseberangan dengannya.Kini mereka duduk dalam satu meja di ruang makan. Hidangan yang sudah dimasaknya sengaja dihangatkan kembali saat dokter Ramon singgah. Ia ingin membaginya dengan dokter muda itu agar makanan yang telah masak tidak terbuang sia-sia.“Begitukah? Sungguh aku khawatir jika meninggalkan Bibi sendirian seperti ini. Syukurlah jika ada yang menemani, jadi aku tidak terlal
Pagi itu—gempar!Berita tersebar dengan cepat di sebuah desa yang terletak pada kaki gunung. Desa yang hanya sebatas dua kabupaten saja itu telah menorehkan sebuah kisah tragis hari ini. Bukan hanya tentang kematian seorang pemuda berusia belasan tahun, tapi juga seorang nenek berusia hampir seperempat abad dengan kondisi yang sama.“Pindahkan Nona itu ke dalam ambulans. Dia masih bernapas ‘kan? Langsung bawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan,” tanya salah satu penyidik pada petugas medis yang menangani kasus kematian bibi May.“Iya, Pak.” Petugas medis yang mengenakan baju nakes itu mengangguk patuh, lalu mengerjakan tugasnya dengan segera.Sang penyidik berjalan mendekat ke arah bibi May, ia menghembuskan napas dengan kasar. Pria berperawakan 175 centimeter itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana saat memandangi wajah bibi May yang sudah membiru di bagian bibirnya.“Nenek yang malang,” ujar sang penyidik bernama James Alexander itu sambil menggeleng kecil.“Apa perlu k
“Anda tuan yang ….” jari telunjuk Deniz mengarah pada Alex yang telah menunggu kedatangannya. Tepat pukul satu siang, Alex sampai di kota Ankara pusat. Di mana perusahaan keluarga Ghazy berdiri di salah satu jajaran gedung megah ibukota Turki. Perusahaan manufaktur terbesar itu merajai banyak cabang di hampir seluruh permukaan bumi. Bisa dibilang saat ini Alex sedang berhadapan dengan seorang miliarder ternama.“Alex. Panggil saja Alex, tuan ….” jawab Alex saat menoleh. Ia berdiri di depan jendela besar, lebih tepatnya Alex berada di lantai 3 salah satu ruangan khusus yang disediakan untuk menerima tamu secara privat.“Deniz. Deniz Ansel Ghazy,” ujar Deniz sambil menjabat erat tangan Alex.“Silahkan duduk!” ujar Deniz dengan sopan.“Hem, ya. Terima kasih tuan,” Alex mengulas senyuman—tipis.Pria yang bekerja pada salah satu bareskrim itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan, semua terlihat normal di mata manusia biasa. “Boleh saya tahu, anda mendapatkan n
Cairan infus menetes perlahan melewati selang kecil yang terpasang di punggung tangan kanannya. Bantuan oksigen bersih pun dikerahkan agar perempuan itu bisa menyambung hidup. Alex menatapnya dari balik kaca ruang ICU. Ia mendengus kasar sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel.“Syukurlah kalau dia baik-baik saja.” Gumam Alex sambil berbalik.“Sore Tuan Alex,” sapa dokter Ramon membuat Alex terkejut dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba.“Oh, selamat sore Dok.” Jawab Alex yang mampu mengendalikan diri kembali.“Sedang menangani kasus?” tanya dokter Ramon dengan senyuman tipis.“Ya, begitulah ….” ujar Alex yang sekilas menoleh ke arah samping, di mana Marissa sedang terbaring di atas bed pasien.“Apa Dokter mau memeriksanya?” ibu jari Alex mengarah ke belakang, tepat di mana ruangan Marissa berada.“Tidak-tidak, aku mau ke ruang laborat. Ada sesuatu yang harus aku urus. Kamu tahu sendiri Alex, jika aku ….” jawab dokter Ramon dengan canggung, kalimatnya pun menggantun
"Seberapa kaya dirimu, Mas?" tanya Marissa saat keduanya tengah menikmati semilir angin di teras balkon bungalow. Pemandangan laut telah menyihir mereka untuk tetap berlama-lama di waktu menjelang siang hari. Matahari bersinar cukup terik, tapi tidak mengusik ketenangan mereka sedikitpun. Bahkan sekarang keduanya tengah menikmati segelas jus nanas untuk Marissa dan segelas wine untuk, Deniz. Deniz memanyunkan bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari, Marissa. "Sangat kaya," jawabnya kemudian menyesap minumannya dengan penuh perasaan. "Sebesar apa? Kenapa keluarga Ghazy bisa masuk ke jajaran pengusaha sukses di rate 10 orang terkaya di dunia?" Marissa penasaran, ia ingin mendapatkan satu kisah tentang keluarga Ghazy dari mulut suaminya sendiri. "Kamu tidak akan bisa menghitungnya, apalagi dengan jari-jari lentik itu." Deniz menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke laut lepas yang ada di hadapannya. Marissa mengarahkan bola matanya ke samping dengan bibir dilipat k
Kaki jenjang sehalus susu itu berlari kencang menghampiri ombak yang menggulung di bibir pantai. Saat kaki indahnya basah karena sapuan air laut, Marissa tergelak senang. Tawanya begitu lebar hingga kelopak matanya hanya terlihat bagaikan garis melengkung.Deniz tersenyum tipis saat melihat perempuan cantik yang sedang menari dan berputar lincah itu sedang melambaikan tangan ke arahnya. Deniz membalasnya, hingga menampilkan deretan gigi putih rapi miliknya. Ia memilih untuk menikmati panorama senja dengan siluet Marissa yang menawan di hamparan pasir putih, bahagia; itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.Setelah memuaskan diri dengan hanya menatap presensi Marissa di tepi laut, Deniz yang mengenakan setelan casual pun menggulung celananya hingga batas betis dan berniat untuk ikut bergabung dengan istrinya. Sepertinya berlarian di atas pasir dan mengejar perempuan menawan di depannya dengan sebuah godaan adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini, hin
“Really?” Marissa masih mematung di tempat, bola matanya hampir lepas dengan decak kagum menjadi-jadi.“Kamu belum pernah naik pesawat?” tanya Deniz saat langkah kakinya berhenti tepat di samping, Marissa.Marissa menoleh cepat, ia dengan wajahnya yang tercengang namun bagi Deniz apa yang dilihatnya sungguh menggemaskan. “Ini jet pribadi, Mas.” Jawabnya sangat antusias.“Iya, terus?” Deniz memiringkan kepalanya, nampak dua alisnya saling bertautan.“Kalau naik pesawat di bandara-bandara gitu sih udah biasa, Mas. Marissa kan belum pernah ngerasain naik pesawat pribadi model begini, apalagi ini adalah milik suaminya aku.” Gestur wajahnya berubah-ubah saat menjelaskan, kadang kelopaknya memicing serius, lalu berubah menjadi datar kemudian tergelak senang.Deniz menikmati pemandangan di hadapannya seperti sebuah mukjizat, baginya Marissa bukan hanya sebagai obat dalam hidupnya, namun perempuan itu adalah anugerah dari Tuhan yang diturunkan untuknya. “Milik aku itu juga milik kamu, Sayang
"Jangan telat minum obat, Deniz! Apalagi sengaja untuk lupa," canda dokter Sunny. "Tenang saja Dok, kan sudah ada alarm original buat ingetin aku." Jawab Deniz dengan senyum simpulnya. "Alarm original?" ulang dokter Sunny sambil mengernyitkan keningnya. Deniz melirik Marissa yang duduk di sebelahnya, "Ini alarm original ku, Dok." Senggol Deniz pada lengan istrinya yang sejak datang memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. "Idih, apaan sih?" ujar Marissa malu-malu. "Tapi ada benarnya lho, sejak kalian kembali rujuk, aura Deniz berubah menjadi semacam lampu mercusuar yang menerangi lautan lepas." Kata dokter Sunny dengan antusias. "Jokes Anda sungguh terlalu Dokter, segala lampu mercusuar dibawa-bawa ...." Deniz tergelak. "Aku tidak bohong, Deniz. Kamu sebelum kembali dengannya, jangankan rutin melakukan fisioterapi ataupun medical check up. Untuk obat pun kamu sengaja tidak mau menebusnya, padahal dari segi finansial seorang CEO perusahaan manufaktur terbesar di dunia,
Satu bulan berlalu, sejak masa fisioterapi yang dilakukan Deniz di London kala itu. Kini Deniz aktif melakukan olahraga rutin seperti jogging ringan untuk membantu mempercepat proses pemulihannya. Semua perubahan drastis itu tidak lepas dari peran Marissa yang menyiapkan makanan sehat untuk menyeimbangkan asupan yang masuk ke dalam tubuh, Deniz. "Mas, diminum dulu jusnya." Marissa membawakan satu gelas jus jeruk segar setelah Deniz datang dengan keringat penuh membasah hampir di seluruh tubuhnya. "Makasih Sayang," lalu Deniz menghabiskan jus jeruk di tangannya seperti onta yang sedang berada di tengah gurun Sahara. "Hm ...." jawab Marissa bergumam, tentu saja di bibir berpoles warna pink nude itu tidak lepas menarik garis senyuman. "Oh ya, Mas mau sarapan apa? Aku masakin bentar ya, setelah ini Mas mandi dulu. Kita ada janji lho sama dokter Sunny, aku tidak ingin Mas terlambat untuk itu." Lanjut Marissa yang hendak pergi ke arah dapur. "Eeeh .... tunggu dulu, mau ke mana Sa
Genap 3 Minggu mereka menghabiskan waktu di London, Inggris. Marissa dengan sabarnya mendampingi Deniz dalam segi pengobatan dan juga kesembuhan mentalnya. Seperti hari ini di mana Marissa menghabiskan waktu setengah harinya melatih Deniz untuk berjalan meskipun masih dengan bantuan tongkat penyangga. Merasa lelah setelah berputar di taman rumah sakit, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan. Tak putus kata semangat Marissa lontarkan, "Bagus Mas, ya, terus .... pelan-pelan, kalau capek kita bisa berhenti dulu." Marissa memegang pinggang Deniz dengan erat, sementara tangan kiri suaminya dilingkarkan pada bahunya agar mereka bisa berjalan secara beriringan. "Kalimat kamu itu, bisa diralat nggak sih?" sahut Deniz dengan napas sedikit tersengal karena menahan nyeri di bagian sendinya. "Kalimat aku? Bagian yang mananya, Mas?" tanya Marissa dengan dua alis menukik tajam. "Kalau kalimat itu terucap lagi dari bibir kamu, bisa-bisa orang menyangka kalau kamu itu lagi a
Marissa masih terjaga saat jarum jam di dinding menunjukkan angka 11 malam. Ia melihat Deniz sudah tertidur pulas sejak kepulangan mereka 4 jam yang lalu. Marissa membuka kacamata minusnya, lalu meletakkan ke samping lembaran dokumen yang baru saja ia pelajari, Marissa harus memenuhi konsekuensinya untuk membantu mengembalikan data perusahaan milik suaminya. seperti yang diketahui sebelumnya data perusahaan yang Deniz pimpin telah bocor, akibat beberapa akses perusahaan manufaktur yang dipegang terakses oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dipijatnya pangkal hidung yang terasa nyeri, "Kenapa tingkat keamanannya tidak berlapis? Padahal perusahaan ini begitu besar. Selama ini mereka fokus ngerjain apa aja sih? Bisa-bisanya data investor, kolega serta pemilik saham bisa kecolongan seperti ini." Monolog Marissa dengan helaan napas berat. Langkah kakinya menuntun Marissa menuju dapur apartemen, ia membuka satu botol Tequila dan menuangkannya ke dalam gelas kristal. Otaknya harus ri
Di kursi belakang, Marissa merebahkan bobot tubuh Deniz di atas kursi penumpang. Ia meminta agar Sam memberi mereka waktu sebentar. Berbekal beberapa lembar uang yang diberikan Marissa, Sam pun memilih untuk menunggu dua anak manusia yang tengah terbakar gelora itu di sebuah Coffee Shop. Menyesap kopinya dengan penuh hati-hati, Sam hanya bisa bergumam kala melihat SUV berwarna hitam di tepi parkir tengah bergoyang secara perlahan. Bibirnya berjengit menarik senyuman, lalu menggeleng kecil saat memikirkan apa yang telah terjadi di dalam sana. Kepulan asap yang keluar dari arah pods yang dihembuskan oleh Sam membuat perasaannya sedikit lega. Hingga tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda mereka yang ada di dalam mobil akan menyerah. "Harap maklum, Sam. Mereka sudah menahannya cukup lama ...." monolog Sam pada dirinya sendiri. Dan suara geram tertahan itu berkali-kali lolos dari mulut Deniz saat Marissa mencari kepuasan di bawah sana. Dengan posisinya yang mendominasi di
"Sakit, Sayang ...." Peluh Deniz menetes dari keningnya, ia menahan bobot tubuhnya di tiang penyangga yang terdapat di kedua sisi tangannya. Hampir saja menyerah ketika dirinya sudah terlalu nyaman duduk di kursi roda. Penyakit tidak percaya dirinya muncul begitu saja saat dua kakinya tidak lagi mampu berpijak dengan tepat di atas lantai. "Ada aku, Mas. Jangan menyerah!" bisik Marissa sambil mengangkat sebelah tangan suaminya dan meletakkan di bahu agar Deniz tidak terjatuh. Deniz menggeleng lemah, deru napasnya tidak teratur. "Mas duduk dulu, istirahat lah! Aku ambil minum sebentar, Mas." Marissa pergi ke sudut ruang setelah mendudukkan Deniz di sebuah sofa untuk mengambil satu botol air mineral. "Jangan dipaksa, pelan-pelan saja Nyonya Sawyer." Ucap salah satu perawat yang menghampirinya. Marissa menoleh, ia terlihat sangat tegang. "Oh, i-iya." Kata Marissa sambil mengangguk ragu. "Butuh waktu, Nyonya harus bersabar saat mendampingi tuan Ghazy." Sambung perawat di ha