Share

Bab 29. MENCURI START

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2023-11-20 20:50:07

Pria itu terusir dari kamarnya sendiri. Ia kini berjalan ke arah kantornya setelah melewati lobi dan masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas. Kali ini Mark menemaninya, setelah kemarin malam ia dikawal dengan Sam.

“Mana dokumen itu?” todong Deniz setelah ia sampai di depan meja kerjanya.

“Permisi, Pak. Boleh saya masuk?” seorang perempuan muda berusia 25 tahun membuka pintu setelah ia mengetuk beberapa kali.

“Silahkan,” jawab Deniz yang masih berdiri di samping meja kerjanya. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana sambil menatap Ryn sekretarisnya berjalan mendekat.

“Ini semua berkas yang Anda minta, Pak.” Ryn meletakkan tumpukan dokumen yang diperlukan oleh atasannya di atas meja.

“Apa ini, Ryn?” Deniz meraih sebuah benda berukuran sepanjang tiga sentimeter yang turut diserahkan Ryn pada tumpukan dokumen.

“Flashdisk itu untuk Anda pelajari lebih lanjut, Pak. Jika hanya mengandalkan dokumen ini saja, saya rasa Anda akan sedikit kesulitan untuk mengurus kasus ini.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder    Bab 30. PEREMPUAN HINA

    “Dasar gadis hina! Tak tahu diri, beraninya kamu menampakkan batang hidungmu di depanku.” Tangan Nichole, ibu sambung Deniz dipegangi oleh Mark saat hendak melayangkan pukulan ke arah Marissa. “Karena kamu, keluargaku jadi berantakan. Apa alasanmu datang ke sini hah?! Apa belum puas kamu membuat suami dan anakku menderita?” belum puas Nichole meluapkan amarahnya. Ia pun mengacungkan jari telunjuknya dengan ekspresi sengit. Sementara itu, Marissa hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu masuk kamar pasien. Di dalam sana, tubuh Deniz terbaring dengan luka tembak serius tepat mengenai dadanya. Bodohnya Marissa, ia tidak bisa melihat atau menemani sang suami dalam kondisi kritis. “Cukup, Nyonya Besar! Jangan sampai membuat keributan lebih dari ini,” Mark pun melepaskan cekalan tangannya saat Nichole sedikit lebih tenang. Wanita paruh baya itu memendam emosi dengan sangat. Nampak dadanya naik turun seirama dengan pergolakan hatinya. Belum usai masalah pelik yang dihadapi dengan suaminy

    Last Updated : 2023-11-22
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 31. TENDANG SAJA ANU NYA

    “Kamu,” Kevin sudah mencengkeram lengan, Marissa. Perempuan muda itu tidak gentar sedikitpun, ia berbalik menatap Kevin. Meski ia menahan rasa sakit saat tangan Kevin menyakiti kulit lengannya secara langsung.“Marissa!” teriak seseorang dari arah depan. Marissa langsung menoleh, ia sangat tahu siapa pemilik suara itu.Kevin mengurai cengkramannya, ia pun bersikap biasa saat ada orang lain datang ke arah mereka. Ia membetulkan letak jasnya agar terlihat rapi, Kevin berpura-pura mengalihkan pandangan ke tempat lain. “Ekhem,” Kevin berdehem untuk menutupi sikapnya yang terbilang sedikit kasar pada, Marissa.“Hai, Jo!” sapa Marissa saat Joshua sudah berada di dekatnya.“Sudah lama?” tanya Joshua sedikit terengah-engah. Sepertinya pria muda berpostur kurus itu habis berlari kecil menembus waktu.“Tidak juga. Bisa kita segera pergi?” Marissa langsung menodong Joshua untuk segera membawanya pergi dari hadapan, Kevin.“Oh, Pak Kevin.” Joshua berusaha bersikap sopan, ia menyapa Kevin dengan

    Last Updated : 2023-11-23
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 32. DOKUMEN LAMA KELUARGA SAWYER

    BRAK!“Keluar!” suara gebrakan itu berasal dari arah samping mobil. Sekumpulan pria berbaju rapi sudah mendekat ke arah mobil yang telah dikendarai oleh, Joshua.“M-Marissa,” pria itu gemetar, ia menggenggam kemudi mobil dengan sangat erat. Tangannya tiba-tiba berkeringat dengan suhu ruang dingin.“Tenanglah!” ujar Marissa yang mengintai kondisi sekitar.“A-Apa yang harus kita lakukan?” Joshua panik, bola matanya bergerak tak tenang.“Tunggu di sini!” Marissa melepas sepatu berhak tinggi yang ia kenakan, lalu ia turun dari dalam mobil.“M-Marissa. Apa yang kamu lakukan, hah? Bahaya, Marissa.” Cegah Joshua dengan ekspresi bingung bercampur takut.Perempuan itu berdiri tegak di samping pintu mobil setelah keluar dengan membawa sebelah sepatunya. “Siapa kalian? Ada perlu apa menghentikan perjalanan kami?” Marissa menunjuk pria-pria itu dengan high heels yang ada di tangannya. Ia menatap sengit pada kawanan pria tersebut tanpa takut sedikitpun.“Kau, tidak perlu tahu siapa kami. Kami han

    Last Updated : 2023-11-24
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 33. PEREMPUAN MASA LALU

    “Untuk sementara kita di sini dulu, Marissa.” Ujar Joshua yang telah menghentikan kendaraannya di sebuah rumah yang bertempat di pedalaman. Marissa memperhatikan sekeliling, ia menajamkan penglihatannya. “Di mana kita, Jo?” tanya Marissa tanpa menoleh.“Dulu aku sering berkemah di sekitar sini, dan gubuk itu adalah milik ayahku.” Joshua menunjuk ke arah rumah yang berdiri secara non permanen. Bangunan rumah itu didominasi oleh kayu balok dan dinding bata di sebagian sisinya. Terlihat begitu estetik dan teduh di mata, Marissa.“Ooo, ….” Marissa mengangguk tanda mengerti, lalu ia memanyunkan bibirnya sambil meremas pucuk berkas yang masih ada di tangan.“Sudah lama aku tidak datang ke sini. Maaf jika kondisinya sedikit kotor, ayo turun!” ajak Joshua saat membuka pintu mobil.Marissa termangu sebentar, lalu ia pun membuka pintu mobil meski saat ini dirinya diliputi perasaan bimbang. Kakinya yang tidak mengenakan sepatu sebelah, membuat Marissa harus berjinjit sedikit untuk menghindari d

    Last Updated : 2023-11-26
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 34. RENCANA BALAS DENDAM?

    “Pfttt, ….!” Semburan air keluar dari mulut Joshua saat Marissa bercerita tentang kekasih suaminya, Deniz. Ia mengambilkan selembar tisu pada temannya itu dengan wajah yang terpasang cemberut. “Untung saja aku tidak tersedak,” ujar Joshua sambil meletakkan gelas di atas meja makan.Marissa diam, tidak menyahut. Ia memilih untuk menghempaskan bobot tubuhnya pada sebuah kursi. Wajahnya lebih ditekuk dari biasanya. Buru-buru Joshua menghentikan lawakannya saat melihat perubahan gestur pada sahabatnya itu.“Memangnya, yang mengejar kita tadi ada hubungannya dengan Deniz?” tanya Joshua yang kini berdiri di depan kabinet dengan tangan menyilang di dada.“Tidak. Aku rasa tidak, Deniz tidak ada hubungannya dengan ini.” Ujar Marissa dengan memijat pangkal hidungnya.“Lantas? Perempuan yang ada di telepon milik Sam itu?” Joshua masih menerka-nerka.“Dia baru muncul, Josh. Deniz saja tidak pernah menceritakan soal hubungannya,” tutur Marissa dengan enggan.“Bisa saja Deniz menutupinya darimu _

    Last Updated : 2023-12-03
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 35. MAKAN TUH----SIALAN!

    “Tapi dia suamiku, Ma!” bentak Marissa pada ibu sambung Deniz yang sedari kemarin menghalangi untuk bertemu.“Mama tidak tahu bagaimana perasaanku? Terlepas restu atau tidaknya dari kalian—dia. Lelaki di dalam sana adalah, suamiku.” Tunjuk Marissa pada dirinya sendiri setelah ia menunjuk ke dalam ruangan ICU. Ia berusaha melunakkan suaranya setelah dirasa sedikit terpancing emosi.Nichole Aprodhite, wanita berusia 50 tahun itu langsung bungkam. Ia menatap tajam pada Marissa yang sedang memperjuangkan haknya. “Biarkan dia masuk,” suara berwibawa itu muncul dari arah berlawanan. Marissa berputar dan mendapati ayah mertuanya sudah di belakang tubuh dengan menggunakan kursi roda. Tuan Ghazy nampak belum pulih benar kondisinya, namun saat ia mendengar putra pertamanya terlibat dalam masalah. Mau tak mau pria itu harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat.“Tapi Sayang, ….” Nichole merajuk, ia bersikukuh tidak mengizinkan Marissa untuk bertemu dengan Deniz—sekalipun.“Biarkan saja,

    Last Updated : 2023-12-04
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 36. BERISIK!

    “Nona, aduh! Apa yang Nona lakukan barusan? Dia, perempuan itu. Aduh, ….” Mark menggerutu sepanjang perjalanan menuju ke dalam kamar di mana Deniz saat ini dirawat. “Kenapa? Apa kamu takut?” ujar Marissa dengan enteng, ia berjalan seperti biasanya tanpa rasa bersalah. “B-Bukan begitu, Nona. Tapi nona Catherine terluka,” jawab Mark yang sepertinya mencemaskan perempuan tak tahu malu itu. “Bisa-bisanya dia menemani suami orang. Sedangkan istrinya ini masih—sehat dan benar-benar masih hidup.” Kira-kira seperti itulah kekesalan Marissa pada sosok perempuan bernama Catherine tersebut. “Kamu mengkhawatirkan pelakor itu, Mark?” selidik Marissa yang mulai tidak nyaman dengan sikap sang pengawal. Marissa menghentikan langkahnya, ia menatap Mark dengan tampang tak suka. Bahkan kini kedua alisnya saling bertautan dengan lirikan yang cukup sinis. “T-Tidak, Nona. M-Maafkan saya,” ujar Mark dengan menundukkan kepala. “Sialan kau! Kau tidak bisa berbohong padaku, Mark. Buktinya—ini!” Marissa m

    Last Updated : 2023-12-05
  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 37. DEG!

    Roll Royce berjenis Phantom itu berhenti tepat di depannya. Marissa mengernyitkan dahinya sejenak, perlahan rasa penasaran itu pupus ketika seseorang turun dari dalam mobil mewah tersebut.“Bagus. Aku tidak perlu capek-capek mencarinya,” gumam Marissa dengan bibir dimanyunkan.“Hai, Marissa! Kita bertemu kembali, apakah ini adalah kebetulan yang sudah direncanakan oleh Tuhan pada kita?” dengan angkuhnya Kevin memulai sapaan itu saat melihat seseorang yang dikenalnya.“Jangan menyeret nama Tuhan di sini, Kevin! Kau tidak pantas untuk itu, meski hanya sekedar menyebut.” Sahut Marissa dengan culas.“Oh, begitukah menurutmu? Sorry deh,” Kevin memanyunkan bibirnya.“Marissa, ayo cepat pergi! Kenapa pula dia ada di sini?” Joshua datang menghampiri saat melihat kemunculan Kevin di tengah-tengah mereka.“Apa kau sedang mengantarkan, Joanna?” sapanya hanya untuk sekedar berbasa-basi. Ekspresi Joshua berubah semakin tidak mengenakkan, ia tidak ingin ada perseteruan di saat hati Marissa sedang k

    Last Updated : 2023-12-09

Latest chapter

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   108. HAPPY

    "Seberapa kaya dirimu, Mas?" tanya Marissa saat keduanya tengah menikmati semilir angin di teras balkon bungalow. Pemandangan laut telah menyihir mereka untuk tetap berlama-lama di waktu menjelang siang hari. Matahari bersinar cukup terik, tapi tidak mengusik ketenangan mereka sedikitpun. Bahkan sekarang keduanya tengah menikmati segelas jus nanas untuk Marissa dan segelas wine untuk, Deniz. Deniz memanyunkan bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari, Marissa. "Sangat kaya," jawabnya kemudian menyesap minumannya dengan penuh perasaan. "Sebesar apa? Kenapa keluarga Ghazy bisa masuk ke jajaran pengusaha sukses di rate 10 orang terkaya di dunia?" Marissa penasaran, ia ingin mendapatkan satu kisah tentang keluarga Ghazy dari mulut suaminya sendiri. "Kamu tidak akan bisa menghitungnya, apalagi dengan jari-jari lentik itu." Deniz menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke laut lepas yang ada di hadapannya. Marissa mengarahkan bola matanya ke samping dengan bibir dilipat k

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   107. HAPPY BIRTHDAY

    Kaki jenjang sehalus susu itu berlari kencang menghampiri ombak yang menggulung di bibir pantai. Saat kaki indahnya basah karena sapuan air laut, Marissa tergelak senang. Tawanya begitu lebar hingga kelopak matanya hanya terlihat bagaikan garis melengkung.Deniz tersenyum tipis saat melihat perempuan cantik yang sedang menari dan berputar lincah itu sedang melambaikan tangan ke arahnya. Deniz membalasnya, hingga menampilkan deretan gigi putih rapi miliknya. Ia memilih untuk menikmati panorama senja dengan siluet Marissa yang menawan di hamparan pasir putih, bahagia; itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.Setelah memuaskan diri dengan hanya menatap presensi Marissa di tepi laut, Deniz yang mengenakan setelan casual pun menggulung celananya hingga batas betis dan berniat untuk ikut bergabung dengan istrinya. Sepertinya berlarian di atas pasir dan mengejar perempuan menawan di depannya dengan sebuah godaan adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini, hin

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   106. RENCANA DENIZ

    “Really?” Marissa masih mematung di tempat, bola matanya hampir lepas dengan decak kagum menjadi-jadi.“Kamu belum pernah naik pesawat?” tanya Deniz saat langkah kakinya berhenti tepat di samping, Marissa.Marissa menoleh cepat, ia dengan wajahnya yang tercengang namun bagi Deniz apa yang dilihatnya sungguh menggemaskan. “Ini jet pribadi, Mas.” Jawabnya sangat antusias.“Iya, terus?” Deniz memiringkan kepalanya, nampak dua alisnya saling bertautan.“Kalau naik pesawat di bandara-bandara gitu sih udah biasa, Mas. Marissa kan belum pernah ngerasain naik pesawat pribadi model begini, apalagi ini adalah milik suaminya aku.” Gestur wajahnya berubah-ubah saat menjelaskan, kadang kelopaknya memicing serius, lalu berubah menjadi datar kemudian tergelak senang.Deniz menikmati pemandangan di hadapannya seperti sebuah mukjizat, baginya Marissa bukan hanya sebagai obat dalam hidupnya, namun perempuan itu adalah anugerah dari Tuhan yang diturunkan untuknya. “Milik aku itu juga milik kamu, Sayang

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   105. APRESIASI

    "Jangan telat minum obat, Deniz! Apalagi sengaja untuk lupa," canda dokter Sunny. "Tenang saja Dok, kan sudah ada alarm original buat ingetin aku." Jawab Deniz dengan senyum simpulnya. "Alarm original?" ulang dokter Sunny sambil mengernyitkan keningnya. Deniz melirik Marissa yang duduk di sebelahnya, "Ini alarm original ku, Dok." Senggol Deniz pada lengan istrinya yang sejak datang memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. "Idih, apaan sih?" ujar Marissa malu-malu. "Tapi ada benarnya lho, sejak kalian kembali rujuk, aura Deniz berubah menjadi semacam lampu mercusuar yang menerangi lautan lepas." Kata dokter Sunny dengan antusias. "Jokes Anda sungguh terlalu Dokter, segala lampu mercusuar dibawa-bawa ...." Deniz tergelak. "Aku tidak bohong, Deniz. Kamu sebelum kembali dengannya, jangankan rutin melakukan fisioterapi ataupun medical check up. Untuk obat pun kamu sengaja tidak mau menebusnya, padahal dari segi finansial seorang CEO perusahaan manufaktur terbesar di dunia,

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   104. DOUBLE BREAKFAST

    Satu bulan berlalu, sejak masa fisioterapi yang dilakukan Deniz di London kala itu. Kini Deniz aktif melakukan olahraga rutin seperti jogging ringan untuk membantu mempercepat proses pemulihannya. Semua perubahan drastis itu tidak lepas dari peran Marissa yang menyiapkan makanan sehat untuk menyeimbangkan asupan yang masuk ke dalam tubuh, Deniz. "Mas, diminum dulu jusnya." Marissa membawakan satu gelas jus jeruk segar setelah Deniz datang dengan keringat penuh membasah hampir di seluruh tubuhnya. "Makasih Sayang," lalu Deniz menghabiskan jus jeruk di tangannya seperti onta yang sedang berada di tengah gurun Sahara. "Hm ...." jawab Marissa bergumam, tentu saja di bibir berpoles warna pink nude itu tidak lepas menarik garis senyuman. "Oh ya, Mas mau sarapan apa? Aku masakin bentar ya, setelah ini Mas mandi dulu. Kita ada janji lho sama dokter Sunny, aku tidak ingin Mas terlambat untuk itu." Lanjut Marissa yang hendak pergi ke arah dapur. "Eeeh .... tunggu dulu, mau ke mana Sa

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 103. OPTIMIS

    Genap 3 Minggu mereka menghabiskan waktu di London, Inggris. Marissa dengan sabarnya mendampingi Deniz dalam segi pengobatan dan juga kesembuhan mentalnya. Seperti hari ini di mana Marissa menghabiskan waktu setengah harinya melatih Deniz untuk berjalan meskipun masih dengan bantuan tongkat penyangga. Merasa lelah setelah berputar di taman rumah sakit, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan. Tak putus kata semangat Marissa lontarkan, "Bagus Mas, ya, terus .... pelan-pelan, kalau capek kita bisa berhenti dulu." Marissa memegang pinggang Deniz dengan erat, sementara tangan kiri suaminya dilingkarkan pada bahunya agar mereka bisa berjalan secara beriringan. "Kalimat kamu itu, bisa diralat nggak sih?" sahut Deniz dengan napas sedikit tersengal karena menahan nyeri di bagian sendinya. "Kalimat aku? Bagian yang mananya, Mas?" tanya Marissa dengan dua alis menukik tajam. "Kalau kalimat itu terucap lagi dari bibir kamu, bisa-bisa orang menyangka kalau kamu itu lagi a

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 102. LOVE YOU MORE, MAS!

    Marissa masih terjaga saat jarum jam di dinding menunjukkan angka 11 malam. Ia melihat Deniz sudah tertidur pulas sejak kepulangan mereka 4 jam yang lalu. Marissa membuka kacamata minusnya, lalu meletakkan ke samping lembaran dokumen yang baru saja ia pelajari, Marissa harus memenuhi konsekuensinya untuk membantu mengembalikan data perusahaan milik suaminya. seperti yang diketahui sebelumnya data perusahaan yang Deniz pimpin telah bocor, akibat beberapa akses perusahaan manufaktur yang dipegang terakses oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dipijatnya pangkal hidung yang terasa nyeri, "Kenapa tingkat keamanannya tidak berlapis? Padahal perusahaan ini begitu besar. Selama ini mereka fokus ngerjain apa aja sih? Bisa-bisanya data investor, kolega serta pemilik saham bisa kecolongan seperti ini." Monolog Marissa dengan helaan napas berat. Langkah kakinya menuntun Marissa menuju dapur apartemen, ia membuka satu botol Tequila dan menuangkannya ke dalam gelas kristal. Otaknya harus ri

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 101. GIVE ME MORE ++

    Di kursi belakang, Marissa merebahkan bobot tubuh Deniz di atas kursi penumpang. Ia meminta agar Sam memberi mereka waktu sebentar. Berbekal beberapa lembar uang yang diberikan Marissa, Sam pun memilih untuk menunggu dua anak manusia yang tengah terbakar gelora itu di sebuah Coffee Shop. Menyesap kopinya dengan penuh hati-hati, Sam hanya bisa bergumam kala melihat SUV berwarna hitam di tepi parkir tengah bergoyang secara perlahan. Bibirnya berjengit menarik senyuman, lalu menggeleng kecil saat memikirkan apa yang telah terjadi di dalam sana. Kepulan asap yang keluar dari arah pods yang dihembuskan oleh Sam membuat perasaannya sedikit lega. Hingga tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda mereka yang ada di dalam mobil akan menyerah. "Harap maklum, Sam. Mereka sudah menahannya cukup lama ...." monolog Sam pada dirinya sendiri. Dan suara geram tertahan itu berkali-kali lolos dari mulut Deniz saat Marissa mencari kepuasan di bawah sana. Dengan posisinya yang mendominasi di

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   Bab 100. JUST CODDLING

    "Sakit, Sayang ...." Peluh Deniz menetes dari keningnya, ia menahan bobot tubuhnya di tiang penyangga yang terdapat di kedua sisi tangannya. Hampir saja menyerah ketika dirinya sudah terlalu nyaman duduk di kursi roda. Penyakit tidak percaya dirinya muncul begitu saja saat dua kakinya tidak lagi mampu berpijak dengan tepat di atas lantai. "Ada aku, Mas. Jangan menyerah!" bisik Marissa sambil mengangkat sebelah tangan suaminya dan meletakkan di bahu agar Deniz tidak terjatuh. Deniz menggeleng lemah, deru napasnya tidak teratur. "Mas duduk dulu, istirahat lah! Aku ambil minum sebentar, Mas." Marissa pergi ke sudut ruang setelah mendudukkan Deniz di sebuah sofa untuk mengambil satu botol air mineral. "Jangan dipaksa, pelan-pelan saja Nyonya Sawyer." Ucap salah satu perawat yang menghampirinya. Marissa menoleh, ia terlihat sangat tegang. "Oh, i-iya." Kata Marissa sambil mengangguk ragu. "Butuh waktu, Nyonya harus bersabar saat mendampingi tuan Ghazy." Sambung perawat di ha

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status