Pengadilan di Jakarta pagi ini terasa lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah kaki bercampur dengan dengungan suara dari ruang-ruang sidang yang penuh sesak. Di salah satu ruangan mediasi, suasana tegang masih terasa meskipun sesi sudah berakhir. Aroma kayu dari meja panjang dan bangku-bangku yang melingkar memenuhi ruangan itu, seolah menyerap setiap emosi yang meluap-luap sejak pagi.Bastian tampak duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, tangannya memijat pelipis. Gurat kelelahan begitu jelas di wajahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya menjadi saksi malam-malam panjang yang ia habiskan memikirkan jalan keluar dari semua kekacauan ini. Selama mediasi, ia lebih banyak diam, membiarkan pengacaranya berbicara. Sesekali ia mengangguk, tetapi sorot matanya kosong, seakan pikirannya berada di tempat lain.Maya, yang duduk di seberangnya, terus berusaha mendominasi pembicaraan. Sesekali ia menghela napas panjang, berusaha menunjukkan bahwa ia adalah pihak yang dirugikan. Sementara itu, Ami
Beberapa menit berlangsung dengan keheningan. Baik Bastian maupun Rania tidak mengucap sepatah kata pun. Hanya senyuman yang terukir di bibir masing-masing sampai akhirnya terdengar kembali suara Bastian di antara mereka.“Rania,” suara Bastian terdengar pelan, hampir seperti bisikan, namun cukup untuk membuat Rania mendongak.“Hm?” sahut Rania singkat, meletakkan gelasnya perlahan. Tatapannya penuh kehati-hatian, seolah tak ingin terjebak dalam percakapan yang terlalu dalam.Bastian menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata. Tangannya mengusap pelan tepi meja kayu itu. “Aku tahu… tidak mudah bagimu untuk setuju bertemu denganku malam ini.”Rania diam. Ia hanya memandangi Bastian, menunggu pria itu melanjutkan.Bastian tersenyum kecut, mencoba meredam gugup yang perlahan menjalari tubuhnya. “Aku ingin minta maaf, Rania. Atas semua yang terjadi di masa lalu. Atas tuduhan-tuduhan yang aku lonta
Mobil SUV hitam yang dikendarai Bastian perlahan berhenti di depan halaman rumah Rania. Malam di Lembang terasa sunyi, hanya diselingi suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Rania membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar sambil membenahi ujung jaket hangat yang dikenakannya. Ia menoleh ke arah Bastian dengan senyum tipis.“Terima kasih sudah mengantar,” ucap Rania dengan nada formal.Bastian membalas dengan senyum kecil. “Sama-sama.” Namun, alih-alih hanya membalas dari dalam mobil, ia ikut membuka pintu dan turun, seolah ingin mengabaikan kenyataan bahwa Rania tidak memberinya undangan untuk itu.Rania hanya bisa menghela napas, merasa tak punya alasan untuk menolak secara langsung. Ia melangkah menuju pintu rumah dengan Bastian mengikutinya beberapa langkah di belakang.Pintu rumah terbuka saat mereka mendekat. Cucu berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah, seperti biasa. “Rania, kamu sudah pulang,” katanya
Pagi itu, suasana ruang makan rumah Bastian dan Maya dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Bastian duduk di ujung meja makan, mengenakan kemeja putih yang terlihat rapi namun tidak mengurangi kesan dingin pada dirinya. Maya, yang biasanya bersikap ceria, kini tampak lebih pendiam. Wajahnya dihiasi raut tegang saat ia berusaha mengaduk secangkir teh di depannya.Hanya suara lentingan cangkir dan piring yang beradu dengan sendok terdengar di antara mereka. Tidak ada kata yang terucap, tidak ada pandangan yang bersilang. Kehadiran mereka dalam satu ruang terasa seperti dua dunia yang terpisah.Beberapa menit berlalu, Maya menghela napas panjang. Ia meletakkan sendoknya dengan perlahan, menatap Bastian yang masih menunduk memandangi ponselnya. Dengan suara yang ia buat selembut mungkin, ia mulai membuka percakapan.“Bastian,” ucap Maya dengan nada penuh kehati-hatian. “Aku ingin meminta maaf. Aku tahu apa yang kulakukan dulu salah... dan aku hampir menghancurkan segalanya. Tapi aku benar-
Langit di atas padang itu terlihat merah jingga, seperti sore yang kehilangan harapan. Bintang kecil berlari-lari dengan riangnya, tangan mungilnya mengejar kupu-kupu putih yang terbang rendah. Tawa ceria anak itu menggema, mengalirkan kehangatan yang membuat Rania tersenyum di kejauhan. Namun, langit perlahan gelap. Awan kelabu menggulung, menutupi mentari.Dari kejauhan, seekor burung elang besar melayang, kepakan sayapnya memotong udara dengan suara nyaring. Rania berteriak, memperingatkan Bintang, tetapi suara angin dan kepakan sayap menenggelamkan suaranya. Burung itu mendekat, matanya yang tajam seperti menusuk hati Rania.“Elang itu tidak akan...,” gumamnya dalam hati, tetapi ketakutannya menjadi kenyataan. Dengan kecepatan tak terduga, elang itu menyambar tubuh mungil Bintang. Teriakan anak kecil itu menggema saat cakar tajam burung itu mencengkeram tubuhnya.“Tidak! Jangan bawa anakku! Jangan!” Rania mencoba berlari, tetapi kakin
Pagi yang tenang dan Rania terus memacu mobil kecilnya melewati jalanan yang mulai sepi seiring dengan jarak yang kian jauh dari keramaian kota. Ia menikmati perjalanan, ditemani musik lembut yang mengalun dari radio mobil. Tidak ada firasat buruk, tidak ada bayangan bahwa sesuatu akan merusak pagi yang damai itu.Namun, semuanya berubah ketika ia mendekati tikungan tajam di jalan pedesaan. Dari kejauhan, Rania melihat sesuatu yang membuat hatinya tercekat. Di tengah jalan, seorang wanita terduduk dengan sepeda motor tergeletak di aspal. Di pelukannya, seorang bayi yang tampak berlumuran darah menangis keras.Naluri kemanusiaan Rania langsung tersentuh. Ia segera menepikan mobilnya, mematikan mesin, dan keluar dengan langkah cepat. “Ibu, Anda baik-baik saja?” tanyanya, setengah berteriak sambil mendekat.Wanita itu mengangkat wajahnya, mata basah oleh air mata, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memeluk bayi itu erat-erat, seola
Di dalam kamar mewahnya, Maya sedang duduk santai di sofa dengan segelas anggur di tangannya. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi latar yang tidak ia pedulikan. Di meja samping, laptop terbuka menampilkan laporan bisnis yang baru saja dikirimkan sekretarisnya. Namun, perhatian Maya tidak ada pada layar itu. Ia sedang menunggu sesuatu, sesuatu yang lebih penting daripada urusan pekerjaan.Sembari menunggu kabar penting itu, Maya memainkan jarinya di atas layar ponselnya. Ia berselancar di dunia maya walau pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Bahkan video lucu yang lewat saja, tidak mampu membuat Maya tersenyum dan bergeming. Wajahnya masih datar sebab pikirannya memang tidak ada di sana saat ini.Ponselnya bergetar. Nama yang sudah ia tunggu-tunggu muncul di layar. Senyum tipis menghiasi wajahnya sebelum ia menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan itu. “Halo?” sapanya dengan nada tenang, tapi penuh dominasi.Suara seorang pria dari ujung telepon terdengar. “Bu Maya, se
Waktu di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suara detaknya terdengar lebih pelan dari biasanya, seperti memperburuk suasana yang sudah mencekam. Cucu duduk di sofa dengan wajah penuh kekhawatiran, sementara Bintang, yang biasanya ceria, kini tertidur lelap di kamar setelah puas bermain seharian.Namun, hati Cucu sama sekali tidak tenang. Sesekali ia bangkit dari sofa, berjalan ke teras, lalu mengintip ke jalan dengan harapan melihat lampu mobil Rania muncul dari kejauhan. Tetapi, seperti sebelumnya, jalanan tetap lengang.“Rania, kamu di mana sih?” gumam Cucu sambil menghela napas berat. Ia memutuskan untuk mencoba menelepon lagi, tetapi hasilnya tetap sama.Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Kalimat otomatis itu semakin membuat dadanya sesak.Dengan tangan sedikit gemetar, Cucu menekan nomor telepon Rania sekali lagi. Harapan tipis masih ada, tetapi jawaban yang ia dapatkan tetap sama. Ponsel Rania mati.Di sela keheningan malam, suara langkah kaki ter
“Selamat pagi, Bintang…” Dengan senyum merekah, Nora dan Prakas datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar. Mereka sengaja memesan buket khusus untuk cucu mereka yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik.“Terima kasih, Oma,” balas Bintang.“Bintang sekarang sudah segar ya, sudah ganteng. Hari ini, kita akan pulang ke rumah. Tapi oma sedih deh, karena nggak akan bisa bebas lagi bertemu dengan Bintang.” Nora sedikit cemberut. Namun manyun itu malah membuat Bintang tertawa.“Siapa bilang jeng Nora dan mas Prakas tidak bisa bebas datang ke rumah. Kalian bisa datang kapan pun untuk bertemu dengan Bintang. Selama di rumah sakit, kami sadar kalau ikatan darah tidak dapat dipisahkan begitu saja,” ucap Rita.“Iya, Tante. Tante dan om boleh kok datang kapan saja dan bertemu dengan Bintang.” Rania menggenggam lembut tangan kanan Nora.Nora tersenyum lembut. Ia belai pipi Rania sekali, lalu ia pun kembali mengalihkan pandangan ke arah Bintang. “Terima kasih, Rania. Kamu memang sangat baik
Setelah beberapa jam berada di ruang observasi pascaoperasi, Bastian dan Bintang akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sama, kamar VVIP terbaik di rumah sakit itu, yang telah disiapkan sebelumnya oleh keluarga mereka. Meski keduanya sudah sadar, kondisi mereka masih sangat lemah. Namun, Bastian terlihat lebih baik dibandingkan dengan Bintang yang masih tampak pucat dan lemah.Rania duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecil putranya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang masih begitu rapuh. Sesekali, ia mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang. Di tempat tidur sebelah, Bastian menatap ke arah mereka dengan senyum tipis. Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat operasi, hatinya terasa lebih ringan karena telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan putranya.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Rania lirih, suaranya penuh perhatian.Bastian mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja. Jangan khaw
“Hasilnya..." dokter berhenti sejenak, melihat ekspresi cemas mereka. Semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat dokter."Bastian cocok menjadi donor untuk Bintang."Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas lega. Rania menutup wajahnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bastian mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. Namun, dokter belum selesai. "Namun, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Operasi ini harus dilakukan secepat mungkin."Rania menghapus air matanya dengan cepat. "Secepat mungkin? Seberapa cepat, Dok?""Idealnya, dalam 24 jam ke depan. Kondisi Bintang semakin melemah. Jika kita menunda lebih lama, risiko kegagalan akan semakin besar. Kami akan segera menyiapkan jadwal operasi dan memastikan semua persiapan berjalan lancar."Bastian langsung mengangguk. "Saya siap, Dok. Kapan pun operasi akan dilakukan, saya siap."Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi dan tim bedah. Un
Di dalam ruangan dokter, suasana terasa begitu tegang. Rania menggenggam jemarinya sendiri, sementara Bastian duduk dengan wajah serius menatap dokter ahli yang akan menangani transplantasi hati Bintang."Sebelum kita melanjutkan ke tahap pemeriksaan, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu risiko yang mungkin terjadi dalam operasi ini," ujar dokter dengan nada hati-hati.Bastian mengangguk mantap. "Tolong jelaskan, Dok. Saya ingin tahu semua risikonya."Dokter menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. "Pertama, operasi transplantasi hati merupakan prosedur besar yang memiliki risiko komplikasi. Bagi pasien penerima, dalam hal ini Bintang, ada kemungkinan tubuhnya menolak organ baru meskipun sudah cocok secara medis. Jika ini terjadi, kita harus segera mengambil langkah medis tambahan untuk mengatasinya."Rania menelan ludah, hatinya semakin gelisah. "Lalu bagaimana dengan risiko untuk pendonor? Maksud saya... untuk Bastian?"Dokter menatap keduanya dengan tenang. "Sebagai pendono
Ruangan rumah sakit dipenuhi keheningan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang ketika pintu kamar terbuka dan seorang dokter spesialis masuk dengan raut wajah serius. Semua mata langsung tertuju padanya.Dokter itu berjalan mendekati ranjang tempat Bintang terbaring lemah. Ia memeriksa kondisi bocah itu dengan seksama, mencatat beberapa hal di berkasnya sebelum akhirnya menatap seluruh keluarga yang berkumpul di dalam ruangan.“Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan terbaru Bintang,” kata dokter dengan suara tenang namun tegas.Rania menggenggam tangan kecil putranya yang terasa dingin. Hatinya berdebar kencang. Begitu pula dengan Rita, Boby, Nora, Prakas, dan tentu saja Bastian yang berdiri dengan wajah tegang di sudut ruangan.Dokter menarik napas dalam, lalu berkata, “Hasil menunjukkan bahwa Bintang mengalami gagal hati akut. Kondisinya cukup serius, dan kami harus bertindak cepat untuk menyelamatkannya.”Ruangan kembali sunyi. Pernyataan itu seperti petir di sia
Pagi itu, udara rumah sakit masih terasa dingin. Rita dan Boby tiba lebih awal dari biasanya, membawa sekantong penuh buah segar dan makanan untuk Rania. Keduanya berjalan menuju kamar tempat Bintang dirawat dengan hati yang dipenuhi kecemasan.Saat mereka masuk, mata mereka langsung tertuju pada sosok Bastian yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengannya, dan nafasnya terdengar teratur namun lelah. Selimut tipis yang diberikan perawat tadi malam masih membungkus tubuhnya.Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur Bintang, menoleh dan tersenyum lemah melihat kedua orang tuanya.“Dia tidak tidur semalaman,” bisik Rania, sebelum mereka sempat bertanya.Rita menghela napas panjang. Meski dalam hatinya masih ada sedikit ganjalan terhadap Bastian, ia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu benar-benar peduli terhadap anaknya.“Bagaimana keadaan Bintang?” tanya Boby, suaranya lirih.Rania menatap buah hatinya
Satria berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Bastian duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecilnya dengan penuh kepedulian. Ada sesuatu dalam tatapan Bastian—ketulusan, ketakutan, sekaligus rasa tanggung jawab yang begitu besar. Hal yang selama ini Satria ingin berikan untuk Rania dan Bintang, namun nyatanya, dia hanya orang luar dalam kisah ini.Ia menghela napas panjang. Melawan perasaannya sendiri, ia akhirnya memilih untuk mundur. Untuk saat ini, Bintang memang membutuhkan orang tua kandungnya. Tidak ada ruang untuknya di sini. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rita dan Boby yang masih berdiri di dekat pintu.“Tante, Om... Aku pamit dulu,” katanya dengan suara rendah.Rita menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. “Terima kasih sudah datang, Satria. Kami sangat menghargainya.”Satria tersenyum tipis. “Tidak masalah, Tante. Jika ada yang bisa aku bantu, aku selalu siap.”Boby menepuk pundaknya dengan ringan, tanda penghormatan dan terima kasih
Suasana di rumah sakit masih dipenuhi kecemasan. Setelah diputuskan untuk dirawat inap, Bintang kini berada di kamar VVIP dengan perawatan terbaik. Monitor di samping tempat tidurnya terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang mengukur kondisi tubuhnya. Rania tak bergeming dari sisi putranya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat. Di wajahnya tergambar kelelahan, namun ia tak ingin pergi barang sejenak pun.Di ruang tunggu rumah sakit, Prakas dan Nora berdiri dengan gelisah. Sesekali, Prakas melirik jam tangannya, menanti kedatangan Bastian yang sudah dalam perjalanan dari Singapura. Nora memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri meski hatinya terus bergetar memikirkan cucunya.Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk. Bastian muncul dengan wajah yang penuh kecemasan, masih mengenakan pakaian dari penerbangannya yang terburu-buru. Matanya langsung mencari kedua orang tuanya. Begitu melihat mereka, ia berjalan cepat dan langsung bertanya,“Mami, Papi!
Di lorong rumah sakit yang terasa begitu dingin, Nora dan Prakas berjalan mendekati Rita dan Boby. Ekspresi wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai orang tua Bastian, mereka memang harus menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Namun, saat ini, hati mereka benar-benar tak tenang melihat kondisi Bintang yang terbaring lemah di ruang IGD.“Rita... Boby...” suara Nora bergetar saat berbicara, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap penuh simpati. “Kami sangat prihatin dengan kondisi Bintang. Apa yang sebenarnya terjadi?”Boby menarik napas panjang, seolah berusaha menahan emosinya yang sudah meluap-luap sejak tadi. Sementara itu, Rita hanya mampu mengusap air matanya yang terus mengalir. “Kami masih menunggu hasil lab,” ucapnya dengan suara lirih. “Dokter masih melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.”Prakas menatap Rita dan Boby dengan penuh empati. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Bintang bukan hanya cucu mereka, tetapi juga cucu kandungnya s