Share

Meja Operasi

last update Last Updated: 2025-02-07 12:15:36

"Itu urusanmu!"

Hayati memutar bola matanya, lalu mengibaskan tangan seolah tak peduli.

"Lagian, kenapa kamu miskin? Sudah, cepat tanda tangani ini!"

Hayati melempar selembar kertas bermaterai ke atas perut Ayu.

Dengan tangan gemetar, Ayu mengambilnya. Matanya bergerak cepat membaca isi dokumen. Dadanya seketika terasa sesak.

"I—ini?"

Dalam surat itu tertulis bahwa semua biaya rumah sakit akan dianggap sebagai utang piutang oleh Ibu mertuanya. Tidak hanya itu, Ayu juga tak boleh menuntut apapun dari Jaka. Bahkan, jika suatu hari Jaka berniat menikah lagi.

Air mata Ayu terjatuh. Ia menatap Hayati dengan mata membulat, hatinya mencelos.

"Apa maksud surat ini, Ma?"

Hayati menatapnya dingin. "Sudah, tanda tangani saja! Kamu masih ingin hidup, kan?"

Hayati terus berbicara, "Kalau kamu nggak mau tanda tangan, aku juga nggak akan tanda tangan dokumen rumah sakit."

Ayu terisak, kepalanya berputar dalam ketakutan.

Ini benar-benar tidak adil! Ayu tahu, dirinya sedang ditipu. Tapi apakah ada pilihan lain?

Dengan tangan gemetar, Ayu akhirnya menandatangani surat perjanjian utang piutang.

"Bagus!"

Hayati menarik kasar dokumen itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ia berbalik dan pergi dari ruangan, meninggalkan Ayu sendirian dalam keputusasaan.

Ayu menangis lagi. Dadanya naik turun seiring isakan yang coba ia tahan.

Kosong. Ruangan ini terasa begitu sepi meski orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya. Tak ada genggaman tangan yang menenangkan. Dan tak ada seseorang yang meyakinkan Ayu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Sudah siap, Bu? Saya akan membawa Ibu ke ruang operasi sekarang."

Seorang perawat mendorong ranjang Ayu. Suaranya tenang, tetapi tak bisa menghangatkan kehampaan yang menyelimuti hati Ayu.

Melihat Ayu menangis, perawat bertanya, "Kenapa Ibu menangis? Apa Ibu takut?"

Ayu mengerjap, buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan. Ia tersenyum samar.

"Enggak, Mas. Aku cuma enggak sabar nunggu bayiku lahir."

Perawat itu mengangguk, menatapnya dengan iba. "Sabar ya, Bu. Semoga bayi dan Ibu sehat."

Ayu tersenyum tipis walaupun hatinya tetap terasa kosong.

Perawat terus mendorong ranjang Ayu, melewati lorong rumah sakit yang dingin dan berbau antiseptik. Lampu-lampu di langit-langit berganti dengan cepat dalam pandangannya, seakan waktu berjalan lebih cepat dari yang bisa ia ikuti.

Begitu memasuki ruang operasi, udara terasa lebih dingin. Cahaya putih menyilaukan menyambutnya, memantul di permukaan alat-alat bedah yang tertata rapi di meja stainless steel. Bau obat-obatan menusuk hidungnya.

Di sekelilingnya, tujuh orang berseragam hijau dan biru sudah bersiap. Beberapa di antaranya sibuk menyesuaikan alat, sementara yang lain berbicara dengan suara rendah.

Ayu menelan ludah. Pandangannya terpaku pada gunting, pisau bedah, dan alat-alat lain yang tampak asing namun mengancam. Jantungnya berdegup semakin kencang. Tangannya gemetar di atas kain operasi yang menutup tubuhnya.

Ayu memejamkan mata. Berusaha menarik napas dalam, tapi udara yang masuk terasa berat.

"Satu, dua, tiga..."

Tubuhnya terangkat sejenak saat beberapa perawat dan asisten dokter memindahkannya ke meja operasi. Dingin. Kasur bedah itu lebih dingin dari yang ia bayangkan, menusuk punggungnya hingga ke tulang.

Ketakutan mencengkeramnya lebih erat.

Sarung tangan lateks melesat dengan suara khas saat para dokter dan perawat menariknya dengan cekatan. Ayu menelan ludah. Detak jantungnya makin tak beraturan, seakan menggema di dalam ruang operasi yang kini terasa semakin sempit.

"Duduk sebentar ya, Bu!" Suara dokter anestesi terdengar lembut, tapi Ayu tetap merasa tegang.

Dengan hati-hati, Ayu mengikuti instruksi. Badannya membungkuk, tetapi punggungnya menegang. Sementara itu, tangannya gemetar mencengkeram sisi meja operasi.

Tusukan jarum mendarat di punggung bawahnya, tepat di tulang ekor. Nyeri tajam menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya meringis.

Ayu menggigit bibir, mencoba meredam suara yang hampir lolos. Matanya tetap terpejam rapat, berharap ketakutannya bisa berkurang.

Ayu mencoba melafalkan doa dengan suara nyaris berbisik. Napasnya pendek dan terburu-buru.

Setelah tubuhnya direbahkan kembali, seorang perawat menutupi dadanya dengan kain steril berwarna putih. Ayu berusaha mengatur napasnya. Tapi, setiap suara di ruangan itu terasa semakin menegangkan.

"Apakah Ibu merasakan sesuatu di sini?" Dokter anestesi mencubit kakinya.

Ayu mencoba fokus pada sensasi itu. Tidak ada. Hanya hampa. Ia menggeleng pelan. "Enggak, Dok," jawabnya, meskipun bibirnya bergetar.

"Baiklah, kalau begitu kita akan mulai operasinya ya, Bu. Santai saja, tidak perlu takut."

Ayu tak menjawab. Doa-doanya terus mengalir, lebih cepat, lebih putus-putus. Jemarinya mencengkeram erat kain yang menutupi tubuhnya.

Lalu, Ayu merasakan sesuatu. Sentuhan dingin di perutnya. Alkohol. Kapas steril yang diusap dengan gerakan tegas.

Napasnya tercekat. Ini benar-benar akan terjadi.

"Tunggu, Dok! Saya masih bisa merasakannya, Dok!"

Suara Ayu melengking, nyaris putus asa. Matanya membelalak saat melihat dokter kandungan mengangkat pisau bedah.

Related chapters

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Ketegangan

    "Merasakan apa, Bu?" Gerakan di ruang operasi terhenti seketika. Dokter anestesi menoleh. Suaranya tetap tenang, tapi ada sedikit ketegangan di balik nadanya.Ayu menelan ludah. "Dingin, Dok. Saya masih bisa merasakannya," katanya tergagap, napasnya mulai tersengal."Apakah sakit?" dokter anestesi kembali mencubit pahanya.Ayu menggeleng cepat. "Enggak, Dok. Tapi saya bisa merasakannya. Saya tahu, ada sesuatu menyentuh kulit saya!"Dokter kandungan berpaling. "Kalau begitu, coba angkat kaki Ibu!" perintahnya. Matanya mengamati Ayu dengan cermat.Ayu mengerahkan seluruh tenaganya, berusaha menggerakkan kakinya. Tapi tidak ada yang terjadi. Ia tetap kaku. Napasnya menjadi semakin berat."Enggak bisa, Dok," suaranya gemetar. "Tapi saya sesak, Dok. Enggak bisa napas."Panik mulai menyelimuti dirinya. Tangannya mencengkeram kain operasi lebih erat, tubuhnya bergetar hebat. Ayu mulai menangis. "Mbak, nggak perlu takut! Operasinya nggak lama kok," suara bidan Terbit terdengar lembut, tapi

    Last Updated : 2025-02-07
  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Bayi Malang

    Alat penyedot bekerja, mengeluarkan cairan dari paru-paru mungil itu. Namun, tetap tak ada suara."Pasang oksigen!" perintah dokter tanpa ragu.Seorang perawat segera menempelkan sungkup kecil di wajah bayi, mengalirkan oksigen ke paru-parunya yang masih berjuang untuk bekerja.Tetap sunyi.Dada dokter anak mulai terasa sesak. Ia tahu detik-detik ini sangat berharga.Tanpa membuang waktu, ia menempelkan dua jari di dada bayi dan mulai melakukan kompresi kecil—tepat di atas jantung mungil yang masih terlalu lemah. Tekanan ringan, berulang, namun penuh harapan.Setiap dorongan adalah perjuangan.Setiap dorongan adalah doa.Lalu, ia mengambil alat ventilasi dan mulai memberikan bantuan napas. Udara dialirkan perlahan, berharap paru-paru bayi itu mau bekerja.Detik-detik berlalu seperti selamanya.Semua orang di ruangan itu menunggu—menunggu satu suara kecil yang bisa mengubah segalanya.Tangisan.Namun, keheningan masih menggantung di udara."Belum menangis, Dok!" suara bidan memecah ket

    Last Updated : 2025-02-07
  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Kesendirian

    Bayi-bayi itu menggeliat pelan, jemari mereka yang kecil mengepal seakan mencari sesuatu yang tak kasat mata. Kulit mereka tipis, hampir transparan di bawah cahaya lampu inkubator. Kering, bersisik, seolah tubuh mungil mereka masih belum siap menghadapi dunia luar.Baim menelan ludah. "Mereka begitu kecil. Terlalu kecil," batinnya.Mereka lahir prematur seminggu yang lalu, dengan berat tak lebih dari sekantong gula pasir. Tubuh mereka masih bertarung untuk bertahan, paru-paru mereka belum sepenuhnya matang.Meski sudah mengenakan masker dan sarung tangan, ia tahu ia tak bisa menyentuh mereka. Lapisan tipis plastik inkubator menjadi penghalang antara dirinya dan anak-anaknya. Bukan sekadar jarak fisik, tapi juga ketakutan—ketakutan bahwa sentuhan sekecil apa pun bisa membawa bahaya, bisa mengundang infeksi yang bisa merenggut mereka dari genggamannya."Papa di sini, Nak… Papa janji, kalian akan baik-baik saja."Namun, janjinya terasa hampa jika ia tak segera menemukan donor ASI.Baim m

    Last Updated : 2025-02-07
  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Terabaikan

    Seorang perawat yang tengah memeriksa pasien lain segera berbalik, lalu bergegas ke sisi Ayu. Dengan cekatan, ia melepas corong oksigen dan memiringkan tubuh Ayu ke samping.Sesaat kemudian, cairan muntahan keluar dari mulut Ayu. Perawat menepuk punggungnya perlahan, memastikan semuanya keluar dengan lancar.Ayu terengah-engah, tubuhnya terasa lebih ringan, tapi juga lebih lemah dari sebelumnya.Perawat meraih tisu, menyeka sisa cairan di sudut bibir Ayu, lalu menatapnya dengan sorot mata penuh pertanyaan."Keluarganya di mana, Bu?" tanyanya, suaranya lembut, tapi ada nada heran di dalamnya.Ayu hanya bisa menatap kosong ke langit-langit. Tenggorokannya masih terasa kering, dan ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar muntah—kenyataan bahwa ia benar-benar sendirian."Enggak ada," jawab Ayu lirih."Suami?" tanya perawat, suaranya lembut tapi menusuk.Ayu menggeleng pelan. Bibirnya sedikit bergetar, tapi tak ada kata yang keluar. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang

    Last Updated : 2025-02-07
  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Pendarahan

    "Ya Allah, Mas! Tolong angkat teleponnya ...." Suara Ayu Lestari lirih, nyaris putus asa. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil besar. Ayu berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang temaram. Tangan kirinya menekan punggung bawah yang terasa ngilu. Perutnya yang besar hampir menyeret langkahnya, tetapi ia terus mencoba menyeimbangkan diri. Layar ponsel di tangannya kembali redup. Sudah lebih dari sejam ia mencoba menghubungi Jaka Daud, suaminya. Tetapi, hanya nada sambung yang menjawab. Di luar, langit semakin gelap, dan rumah itu terasa kian sepi. Ayu menatap ke bawah, matanya membulat saat melihat darah merembes di antara pahanya. Dingin menyergap tengkuknya. Tapi tidak ada kontraksi. Dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang semakin pendek. Ada sesuatu yang tidak beres. Ayu menggigit bibir, menelan rasa takut yang menekan tenggorokannya. Lalu, ia memberanikan diri untuk mengambil keputusan. "Aku harus ke rumah Mama mertua sekarang." Tekad Ayu sudah bula

    Last Updated : 2025-02-07
  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Dirujuk

    Ayu menunduk. "Maaf, Bu. Saya tidak ada biaya untuk melahirkan Caesar. Bisa normal saja, Bu?" Bidan menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Ayu yang dingin. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang dalam. "Mbak, ini berbahaya. Sekarang saja tidak ada kontraksi, bagaimana mau lahiran normal? Ayo, saya periksa dulu." Tanpa menunggu jawaban, ia merangkul Ayu masuk ke dalam. Hujan masih deras di luar, tetapi untuk pertama kalinya malam ini, Ayu merasakan sedikit kehangatan. Ayu berbaring di atas ranjang pasien, napasnya tersengal saat asisten bidan membantunya menekuk kaki. Hujan masih terdengar samar di luar, namun dinginnya kini berganti dengan ketegangan yang menggigit. Bidan menarik sarung tangan medis, lalu dengan hati-hati memasukkan jarinya ke liang kemaluan Ayu. Wajahnya mengeras. Hanya cukup satu jari. Tidak ada pembukaan. Bidan menarik tangannya keluar, melepas sarung tangan dengan gerakan cepat. "Mbak, ini tidak ada pembukaan sama sekali, tapi Mbak sudah pendarahan. H

    Last Updated : 2025-02-07

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Terabaikan

    Seorang perawat yang tengah memeriksa pasien lain segera berbalik, lalu bergegas ke sisi Ayu. Dengan cekatan, ia melepas corong oksigen dan memiringkan tubuh Ayu ke samping.Sesaat kemudian, cairan muntahan keluar dari mulut Ayu. Perawat menepuk punggungnya perlahan, memastikan semuanya keluar dengan lancar.Ayu terengah-engah, tubuhnya terasa lebih ringan, tapi juga lebih lemah dari sebelumnya.Perawat meraih tisu, menyeka sisa cairan di sudut bibir Ayu, lalu menatapnya dengan sorot mata penuh pertanyaan."Keluarganya di mana, Bu?" tanyanya, suaranya lembut, tapi ada nada heran di dalamnya.Ayu hanya bisa menatap kosong ke langit-langit. Tenggorokannya masih terasa kering, dan ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar muntah—kenyataan bahwa ia benar-benar sendirian."Enggak ada," jawab Ayu lirih."Suami?" tanya perawat, suaranya lembut tapi menusuk.Ayu menggeleng pelan. Bibirnya sedikit bergetar, tapi tak ada kata yang keluar. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Kesendirian

    Bayi-bayi itu menggeliat pelan, jemari mereka yang kecil mengepal seakan mencari sesuatu yang tak kasat mata. Kulit mereka tipis, hampir transparan di bawah cahaya lampu inkubator. Kering, bersisik, seolah tubuh mungil mereka masih belum siap menghadapi dunia luar.Baim menelan ludah. "Mereka begitu kecil. Terlalu kecil," batinnya.Mereka lahir prematur seminggu yang lalu, dengan berat tak lebih dari sekantong gula pasir. Tubuh mereka masih bertarung untuk bertahan, paru-paru mereka belum sepenuhnya matang.Meski sudah mengenakan masker dan sarung tangan, ia tahu ia tak bisa menyentuh mereka. Lapisan tipis plastik inkubator menjadi penghalang antara dirinya dan anak-anaknya. Bukan sekadar jarak fisik, tapi juga ketakutan—ketakutan bahwa sentuhan sekecil apa pun bisa membawa bahaya, bisa mengundang infeksi yang bisa merenggut mereka dari genggamannya."Papa di sini, Nak… Papa janji, kalian akan baik-baik saja."Namun, janjinya terasa hampa jika ia tak segera menemukan donor ASI.Baim m

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Bayi Malang

    Alat penyedot bekerja, mengeluarkan cairan dari paru-paru mungil itu. Namun, tetap tak ada suara."Pasang oksigen!" perintah dokter tanpa ragu.Seorang perawat segera menempelkan sungkup kecil di wajah bayi, mengalirkan oksigen ke paru-parunya yang masih berjuang untuk bekerja.Tetap sunyi.Dada dokter anak mulai terasa sesak. Ia tahu detik-detik ini sangat berharga.Tanpa membuang waktu, ia menempelkan dua jari di dada bayi dan mulai melakukan kompresi kecil—tepat di atas jantung mungil yang masih terlalu lemah. Tekanan ringan, berulang, namun penuh harapan.Setiap dorongan adalah perjuangan.Setiap dorongan adalah doa.Lalu, ia mengambil alat ventilasi dan mulai memberikan bantuan napas. Udara dialirkan perlahan, berharap paru-paru bayi itu mau bekerja.Detik-detik berlalu seperti selamanya.Semua orang di ruangan itu menunggu—menunggu satu suara kecil yang bisa mengubah segalanya.Tangisan.Namun, keheningan masih menggantung di udara."Belum menangis, Dok!" suara bidan memecah ket

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Ketegangan

    "Merasakan apa, Bu?" Gerakan di ruang operasi terhenti seketika. Dokter anestesi menoleh. Suaranya tetap tenang, tapi ada sedikit ketegangan di balik nadanya.Ayu menelan ludah. "Dingin, Dok. Saya masih bisa merasakannya," katanya tergagap, napasnya mulai tersengal."Apakah sakit?" dokter anestesi kembali mencubit pahanya.Ayu menggeleng cepat. "Enggak, Dok. Tapi saya bisa merasakannya. Saya tahu, ada sesuatu menyentuh kulit saya!"Dokter kandungan berpaling. "Kalau begitu, coba angkat kaki Ibu!" perintahnya. Matanya mengamati Ayu dengan cermat.Ayu mengerahkan seluruh tenaganya, berusaha menggerakkan kakinya. Tapi tidak ada yang terjadi. Ia tetap kaku. Napasnya menjadi semakin berat."Enggak bisa, Dok," suaranya gemetar. "Tapi saya sesak, Dok. Enggak bisa napas."Panik mulai menyelimuti dirinya. Tangannya mencengkeram kain operasi lebih erat, tubuhnya bergetar hebat. Ayu mulai menangis. "Mbak, nggak perlu takut! Operasinya nggak lama kok," suara bidan Terbit terdengar lembut, tapi

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Meja Operasi

    "Itu urusanmu!" Hayati memutar bola matanya, lalu mengibaskan tangan seolah tak peduli. "Lagian, kenapa kamu miskin? Sudah, cepat tanda tangani ini!" Hayati melempar selembar kertas bermaterai ke atas perut Ayu. Dengan tangan gemetar, Ayu mengambilnya. Matanya bergerak cepat membaca isi dokumen. Dadanya seketika terasa sesak. "I—ini?" Dalam surat itu tertulis bahwa semua biaya rumah sakit akan dianggap sebagai utang piutang oleh Ibu mertuanya. Tidak hanya itu, Ayu juga tak boleh menuntut apapun dari Jaka. Bahkan, jika suatu hari Jaka berniat menikah lagi. Air mata Ayu terjatuh. Ia menatap Hayati dengan mata membulat, hatinya mencelos. "Apa maksud surat ini, Ma?" Hayati menatapnya dingin. "Sudah, tanda tangani saja! Kamu masih ingin hidup, kan?" Hayati terus berbicara, "Kalau kamu nggak mau tanda tangan, aku juga nggak akan tanda tangan dokumen rumah sakit." Ayu terisak, kepalanya berputar dalam ketakutan. Ini benar-benar tidak adil! Ayu tahu, dirinya sedang ditipu. Ta

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Dirujuk

    Ayu menunduk. "Maaf, Bu. Saya tidak ada biaya untuk melahirkan Caesar. Bisa normal saja, Bu?" Bidan menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Ayu yang dingin. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang dalam. "Mbak, ini berbahaya. Sekarang saja tidak ada kontraksi, bagaimana mau lahiran normal? Ayo, saya periksa dulu." Tanpa menunggu jawaban, ia merangkul Ayu masuk ke dalam. Hujan masih deras di luar, tetapi untuk pertama kalinya malam ini, Ayu merasakan sedikit kehangatan. Ayu berbaring di atas ranjang pasien, napasnya tersengal saat asisten bidan membantunya menekuk kaki. Hujan masih terdengar samar di luar, namun dinginnya kini berganti dengan ketegangan yang menggigit. Bidan menarik sarung tangan medis, lalu dengan hati-hati memasukkan jarinya ke liang kemaluan Ayu. Wajahnya mengeras. Hanya cukup satu jari. Tidak ada pembukaan. Bidan menarik tangannya keluar, melepas sarung tangan dengan gerakan cepat. "Mbak, ini tidak ada pembukaan sama sekali, tapi Mbak sudah pendarahan. H

  • Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO   Pendarahan

    "Ya Allah, Mas! Tolong angkat teleponnya ...." Suara Ayu Lestari lirih, nyaris putus asa. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil besar. Ayu berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang temaram. Tangan kirinya menekan punggung bawah yang terasa ngilu. Perutnya yang besar hampir menyeret langkahnya, tetapi ia terus mencoba menyeimbangkan diri. Layar ponsel di tangannya kembali redup. Sudah lebih dari sejam ia mencoba menghubungi Jaka Daud, suaminya. Tetapi, hanya nada sambung yang menjawab. Di luar, langit semakin gelap, dan rumah itu terasa kian sepi. Ayu menatap ke bawah, matanya membulat saat melihat darah merembes di antara pahanya. Dingin menyergap tengkuknya. Tapi tidak ada kontraksi. Dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang semakin pendek. Ada sesuatu yang tidak beres. Ayu menggigit bibir, menelan rasa takut yang menekan tenggorokannya. Lalu, ia memberanikan diri untuk mengambil keputusan. "Aku harus ke rumah Mama mertua sekarang." Tekad Ayu sudah bula

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status