Setelah pergulatan panas malam itu, Noah dan Jasmine tertidur lelap di bawah selimut putih yang menyelimuti tubuh mereka. Kamar hotel terasa tenang, hanya suara pendingin ruangan yang samar-samar terdengar.Namun, tepat pukul 04.30 dini hari, Jasmine tiba-tiba terbangun. Dia mengerjap pelan, lalu mengguncang-guncang tubuh Noah dengan rengekan kecil seperti anak kecil yang sedang merengek manja."Noah... Noah..."Noah mengerang pelan, matanya masih setengah tertutup, tubuhnya masih hanya terbungkus selimut tipis yang hampir melorot dari pinggangnya. Suaranya terdengar serak karena kantuk."Ada apa, Jasmine? Aku masih mengantuk..."Jasmine mengerucutkan bibirnya dengan wajah imut, matanya berbinar seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu."Aku lapar," ujarnya dengan nada manja.Noah menghela napas, lalu tersenyum sambil mengetuk pelan kening Jasmine."Kamu masih tidak berpakaian, dan sekarang mau mandi malam-malam hanya untuk mencari makan?" godanya, menatap tubuh Jasmine yang masih
Jasmine hanya mengangkat bahu. "Kenapa harus malu? Lagipula, itu kenyataan."Noah menggelengkan kepala, terkekeh pelan. Dia kemudian meraih tangan Jasmine di atas meja, menggenggamnya lembut. "Aku senang melihatmu ceria seperti ini."Jasmine tersenyum, tatapannya melembut. "Aku juga senang. Rasanya nyaman bisa bersamamu tanpa harus berpikir terlalu banyak."Mereka berbincang santai hingga pesanan mereka datang. Jasmine langsung menyeruput sup ayamnya dengan penuh semangat, matanya berbinar menikmati rasa hangat yang mengalir ke dalam tubuhnya.Noah mengamati Jasmine yang sedang makan dengan lahap. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menikmati kopinya."Jasmine," panggil Noah tiba-tiba."Hmm?" Jasmine menatapnya dengan pipi yang masih penuh makanan.Noah tersenyum kecil. "Bagaimana perasaanmu tentang ini semua? Tentang aku, tentang kita?"Jasmine berhenti mengunyah sejenak, menelan makanannya sebelum menjawab. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya... Tapi aku nyaman. Aku bahag
Jasmine terus melangkah cepat menuju hotel tanpa menoleh ke belakang. Hatinya masih bergetar karena ciuman Noah tadi. Bukan karena marah, tapi karena ada sesuatu yang terasa lebih dalam dari sekadar amarah dan gairah.Begitu tiba di depan pintu kamar hotel, Jasmine berhenti dan berbalik. Noah yang sedari tadi mengikutinya juga berhenti beberapa langkah di belakangnya.“Apa kau ingat sesuatu, Noah?” suara Jasmine terdengar pelan, tetapi menusuk.Noah mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”Jasmine menatapnya dalam-dalam, lalu mengulang dengan nada dingin, “Kamu jangan berharap lebih, bahkan kamu harus bisa merahasiakan hal ini.”Noah terdiam. Kata-kata itu terdengar begitu familiar, dan Jasmine mengatakannya dengan nada yang sama seperti dirinya dulu saat awal kontrak mereka.“Dulu kau mengatakannya dengan begitu
“Oh, kebetulan sekali! Aku ada jadwal meeting di sana juga. Senang bisa bertemu. Bisa kita bertukar pikiran nanti?”Jasmine tersenyum kecil. “Tentu. Akan sangat menyenangkan.”Setelah beberapa pertukaran kata, Pram akhirnya menutup telepon. Jasmine mengembalikan ponsel itu ke tangan Noah sambil melipat tangan di depan dada.Noah menatapnya tajam. “Jadi, Bulgarion?”Jasmine mengangkat bahu. “Kau tidak punya alasan lain, kan? Setidaknya sekarang Pram tidak curiga.”Noah mendengus frustrasi. “Kau tahu dia menyukaimu, bukan?”Jasmine menahan tawa. “Ya, aku tahu.”Noah mencengkram dagu Jasmine, memaksanya menatapnya. “Dan kau membiarkannya?”Jasmine tersenyum misterius. “Bukankah sejak awal kau yang berkata kalau aku tidak boleh berha
“Pram, ayo bicara tentang proyekmu,” kata Jasmine berusaha mengalihkan suasana.“Oh, tentu,” Pram menoleh ke arah Jasmine dan mulai menjelaskan tentang proyek pemasaran terbaru yang sedang ia kerjakan.Namun, meski Pram berbicara, Noah tidak benar-benar mendengarkannya. Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal: Jasmine miliknya. Tidak ada pria lain yang boleh mendekatinya, apalagi menyentuhnya seperti yang Pram lakukan tadi.Ketika mereka sampai di hotel, Noah langsung menarik Jasmine keluar dari mobil sebelum Pram sempat mengatakan sesuatu. Ia menggenggam pergelangan tangan Jasmine erat dan menyeretnya menuju lift hotel tanpa peduli pada tatapan bingung Pram.Begitu pintu lift tertutup, Noah mendorong Jasmine ke dinding dan menatapnya dengan mata yang membara.“Kau menikmatinya, ya?” gumam Noah tajam.“Aku tidak peduli dengan kont
Jasmine menggeleng, mencoba mempertahankan akalnya. “Kau hanya mengatakan ini karena kecemburuanmu. Besok, kau mungkin akan melupakannya.”Noah mendesah frustrasi. Ia mengusap wajahnya, lalu menatap Jasmine dengan mata penuh luka dan keinginan yang ia sendiri belum bisa pahami.“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih tenang tapi masih penuh ketegangan. “Kalau memang begitu yang kau pikirkan, maka nikmati saja sisa waktu kita bersama.”Lalu, dengan tatapan tajam dan penuh ancaman, ia menambahkan, “Tapi jangan salahkan aku jika setelah kontrak ini berakhir, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”Jasmine menahan napasnya.Karena ia tahu, Noah tidak sekadar berbicara. Noah benar-benar tidak akan melepaskannya.Malam itu Noah tidur dengan mendekap erat tubuh Jasmine, sedangkan Jasmine tidur membelakanginya.Pagi di Bulgarion terasa lebih dingin dibandingkan biasanya. Langit mendung, angin berhembus sejuk, namun suasana hati Noah justru semakin panas.Sejak kedatangan Pram, batas antara di
Tangannya menekan pinggang Jasmine, membuat gadis itu semakin dekat dengannya. Bibirnya bergerak lebih agresif, menuntut respons, dan Jasmine meskipun berusaha mempertahankan harga dirinya, tidak bisa menolak perasaan yang perlahan menguasainya.Saat mereka akhirnya menarik napas, Noah menatapnya dengan mata gelap yang penuh dengan ketegangan. “Aku tidak suka melihatmu dengan Pram.”Jasmine tersenyum samar, meskipun pipinya merona. “Tapi aku tidak melanggar aturan apa pun.”Noah menggeram, lalu dengan suara serak dia berkata, “Aku akan mengubah aturannya.”Tidak lama mereka langsung saling menjauh saat terasa Pram mendekat ke arahnya. Jasmine dan Noah bersikap seolah hanya perselisihan antar saudara.Pram menatap Noah dengan ekspresi jengkel. Ia melipat tangan di dadanya dan mendesah keras sebelum akhirnya berkata, “Ayolah, Noah. Beri kesempatan sepupumu ini bersenang-senang. Kamu nggak kasihan? Dia sudah jauh dari suaminya, di sini cuma tertekan olehmu sebagai sepupu iparnya.”Noah t
Jasmine menghela napas panjang saat ia berusaha membawa Noah yang setengah sadar menuju mobil. Pria itu benar-benar memberatkannya, tubuhnya terasa lemas akibat pengaruh alkohol, membuat Jasmine harus menopangnya dengan hati-hati.“Kamu mengerjaiku, Noah! Dan juga bayimu saat ini. Kalau ada apa-apa dengan kami, aku tidak akan memaafkanmu,” omelnya kesal.Namun, Noah hanya tersenyum samar, matanya yang sayu menatap Jasmine dengan tatapan yang sulit diartikan. Dengan gerakan lambat, ia mengangkat satu jarinya dan menempelkannya di bibir Jasmine.“Ssttt… diam, cantik. Semua salahmu,” gumamnya dengan suara berat dan serak. “Aku lelah… mau beristirahat…”Jasmine memutar bola matanya. “Dasar menyebalkan,” gumamnya, tetapi tetap membantunya masuk ke dalam mobil.Di perjalanan menuju hotel, Jasmine harus menghadapi kekacauan lainnya—Noah hampir muntah berkali-kali. Ia menggertakkan giginya, berusaha menjaga kesabaran sementara tangannya sibuk menahan kepala Noah agar tidak terlalu banyak berg
Malam itu, setelah meninggalkan rumah yang disiapkan Noah untuk mereka, Jasmine memilih untuk kembali ke rumah keluarga Dirgantara. Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri—hati kecilnya mengakui bahwa apa yang dilakukan Noah untuknya sangat berarti. Namun, bayangan masa lalu, ketakutan akan masa depan, dan keberadaan Ryan serta Pram masih menghantuinya.Ketika ia memasuki mansion keluarga Dirgantara, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Tapi begitu Jasmine melewati ruang tengah, suara seseorang menghentikan langkahnya.“Jasmine, duduklah sebentar.”Suara berat namun berwibawa itu berasal dari Dursila Dirgantara, nenek Noah. Wanita tua itu duduk dengan anggun di salah satu sofa besar, matanya meneliti Jasmine dengan tajam. Di sebelahnya, Tari, sepupu Noah, ikut menatap Jasmine dengan ekspresi yang sulit dibaca.Jasmine menelan ludah, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi
Jasmine masih memikirkan pertemuannya dengan Ryan saat Noah tiba-tiba mengajaknya keluar. Mata pria itu serius, tanpa memberikan kesempatan untuk menolak. "Kita pergi sekarang.""Ke mana?" tanya Jasmine curiga. Tangannya masih menggenggam ponsel, seakan enggan untuk melepaskan bayangan percakapan terakhirnya dengan Ryan.Noah hanya tersenyum kecil, tetapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tegas, yang tidak bisa dibantah. "Kau akan tahu saat kita sampai di sana."Dengan berat hati, Jasmine akhirnya menurut. Mereka melaju dalam diam, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Aroma kulit jok mobil yang khas, suara lembut gesekan roda dengan aspal, dan tatapan tajam Noah yang sesekali melirik ke arahnya dari kaca spion membuat perjalanan ini terasa lebih panjang daripada yang seharusnya.Pikiran Jasmine terus berputar. Kata-kata Ryan masih menghantuinya. "Jika semua ini tidak pernah terjadi—jika tidak ada kontrak, tidak ada Noah, apakah kau akan m
Setelah semua yang terjadi, Jasmine merasa ada jurang tak kasat mata di antara dirinya dan Noah. Meskipun Juan telah ditangkap, skandal Zora terbongkar, dan Jorse Corp kini berada di tangannya, hati Jasmine masih diliputi kebingungan.Di dalam kamar yang sunyi, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Wanita di sana tampak lebih kuat daripada sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang masih menggantung di matanya—keraguan.Noah mengetuk pintu sebelum masuk. "Kenapa masih belum tidur?" tanyanya, mendekat.Jasmine tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir."Noah duduk di sampingnya, menatapnya lekat. "Tentang apa?"Jasmine menghela napas. "Tentang kita. Setelah semua yang terjadi... aku masih bertanya-tanya, apa aku pantas berada di sisimu? Apa aku benar-benar bagian dari hidupmu, atau hanya seseorang yang kebetulan terjebak dalam pusaran masalah ini?"Mata Noah menggelap, rahangnya mengencang. "Jasmine, aku tidak pernah mengang
Berita tentang penangkapan Juan menyebar dengan cepat. Media menyebarkan informasi mengenai keterlibatannya dalam berbagai kejahatan, mulai dari konspirasi bisnis yang melibatkan Jorse Corp hingga skandal gelap keluarga Santika yang kini terungkap ke publik. Setiap detik, nama keluarga Santika semakin tercoreng, dan banyak pihak mulai berbalik melawan mereka. Dengan ini, hanya tinggal menunggu waktu hingga hukum akan menjatuhkan vonis pada semua yang terlibat.Di rumah keluarga Dirgantara, Jasmine duduk di ruang kerja Noah. Matanya menatap layar laptop yang penuh dengan dokumen-dokumen penting mengenai Jorse Corp. Keberadaan perusahaan itu di ambang kehancuran, tetapi kesempatan kini ada di tangannya untuk merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi warisan keluarganya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya, hal yang lebih dalam dari sekadar bisnis. Ia harus membersihkan nama orang tuanya, membersihkan setiap noda yang ditinggalkan oleh pengkhianatan yan
Noah duduk di ruang kerja, menatap layar laptopnya dengan rahang mengatup. Serangkaian dokumen tentang perusahaan terpampang jelas di layar. Ancaman dari keluarga Bulharm bukan hanya rumor belaka—mereka benar-benar berusaha mengambil alih Dirgantara Group secara diam-diam.Namun, kali ini, dia merasa lebih tenang. Tidak ada lagi tekanan dari Zora, tidak ada lagi permainan licik yang harus dia hadapi darinya. Perceraian mereka sudah final, dan Zora kini menjalani hukuman 15 tahun penjara bersama Leonard Wijaya. Semuanya terasa lebih ringan, tetapi ancaman belum benar-benar berakhir.Pintu ruangannya diketuk. Jasmine masuk dengan ekspresi tenang tetapi penuh perhatian. “Ada masalah baru?”Noah menghela napas. “Bulharm mencoba mengambil saham mayoritas dari tangan investor kecil. Mereka ingin menguasai Dirgantara Group.”Jasmine duduk di hadapannya, matanya menatap Noah dengan serius. “Apa yang bisa kita lakukan?”
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di tepi pantai, pasir putih lembut di bawah kaki mereka, sementara ombak berkejaran menuju bibir pantai. Angin laut menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin yang khas.Noah menatapnya dalam, menggenggam tangannya erat. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini hidup yang kita pilih, dan aku ingin menjalaninya bersamamu."Jasmine menghela napas, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan pria itu. "Aku juga ingin itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kita tidak akan menyesal."Noah tersenyum kecil, mengangkat tangan Jasmine dan mengecup punggung tangannya lembut. "Tidak ada penyesalan. Hanya masa depan yang akan kita bangun bersama."Jasmine mengangguk, hatinya dipenuhi kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar merasa berada di tempa
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh keyakinan. Mereka berdiri di depan teras rumah kayu mereka, angin laut bertiup lembut membawa aroma asin yang menenangkan. Langit mulai berubah jingga, menandakan sore akan segera berganti malam.Noah tersenyum kecil, menatap mata Jasmine yang penuh dengan harapan. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini adalah awal baru kita."Jasmine mengangguk pelan, menggenggam tangan Noah erat. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar meninggalkan masa lalu. Aku ingin hidup kita dipenuhi kebahagiaan, tanpa gangguan."Noah mengusap punggung tangannya lembut. "Dan itu yang akan kita lakukan. Tidak ada lagi yang bisa mengusik kita. Kita memilih jalan kita sendiri."Jasmine menarik napas panjang, menikmati ketenangan yang selama ini sulit mereka dapatkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa sepenuhnya bebas.
"Apa kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di depan meja makan kecil di rumah kayu mereka, lilin yang menyala lembut di tengah meja menciptakan suasana hangat. Di luar, suara deburan ombak terdengar tenang, seolah dunia akhirnya memberikan mereka kedamaian setelah sekian lama berjuang.Noah menaruh sendoknya, lalu menatap Jasmine dalam. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Aku ingin hidupku bersamamu, tanpa ada gangguan dari siapa pun."Jasmine menggigit bibirnya, lalu menundukkan kepala. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar siap. Aku tidak ingin ada lagi yang mengganggu kita."Noah tersenyum, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jasmine dengan lembut. "Tak ada yang bisa mengganggu kita lagi. Ini adalah awal baru kita."Jasmine menghela napas, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kita jalani bersama."Di tempat lain, dalam d
"Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan serius, mencoba mencari keraguan di matanya. Mereka berdiri di depan sebuah rumah kayu kecil yang berada di atas bukit, menghadap ke laut biru yang berkilauan. Angin menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin khas pantai.Noah tersenyum, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Aku ingin tempat ini menjadi awal baru bagi kita."Jasmine menghela napas, matanya kembali menatap rumah sederhana yang berdiri kokoh di hadapan mereka. "Aku tidak menyangka kau ingin menetap di sini. Aku pikir kau lebih suka kehidupan kota."Noah melangkah mendekat, meraih tangan Jasmine dan menggenggamnya erat. "Kota hanya penuh dengan ingatan tentang masa lalu. Aku ingin sesuatu yang segar, yang benar-benar milik kita. Di sini, kita bisa membangun sesuatu tanpa ada yang mengusik."Jasmine mengangguk pelan, merasakan ketulusan dalam ka