Kumandang adzan subuh menyadarkanku dari tidur lelap semalam. Cukup lama rasanya aku tidak menikmati tidur nyaman seperti malam tadi. Farah masih meringkuk dalam balutan selimutnya. Sejak semalam Farah sudah berpesan untuk tak membangunkannya, karena tengah berhalangan untuk shalat. Perlahan bangkit, berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar Farah untuk berwudhu, melaksanakan kewajiban dua rakaat subuh. Perasaan damai menjalar di hatiku, tatkala air wudhu menyentuh setiap anggota tubuh yang kubasuh. Sangat menenangkan. Setelah shalat, aku kembali duduk di atas ranjang di dekat Farah. Membuka ponsel milikku, untuk memastikan siapa tahu Kak Naima menghubungiku. 24 panggilan tak terjawab. Setelah kuklik ternyata 22 di antaranya berasal dari nomor Bang Haikal, selebihnya dari nomor Kak Lila. Aku memutuskan nanti siang baru menelpon Kak Lila, siapa tahu ada yang perlu ia sampaikan padaku. Entah bagaimana kabar Harry, aku bahkan tak sempat lagi memikirkan anak malang itu, setelah me
Farah meraih ponsel di sampingnya, menekan tombol dial. Kemudian mata itu kembali tertutup. "Assalamu'alaikum, Bang.""Minggu depan?"Gadis itu terlonjak dengan mata terbuka lebar hingga pada posisi terduduk. Aku tak mengerti apa yang membuatnya sedemikian kagetnya. Suara yang tadinya sendu kini terdengar bersemangat. "Kenapa buru-buru?""Pinter gombal juga ternyata, ya!""Ya sudah, kalau sudah pasti kabarin Farah, biar segera ngasih tau keluarga Farah."Aku seperti mengerti kemana alur pembicaraan Farah di telpon. Ada rasa tak rela, ketika membayangkan Farah akan mengakhiri masa sendirinya. Mungkinkah nanti Farah akan tetap seperti ini terhadapku, ataukah akan berubah. Cepat aku menepisnya. Tak seharusnya aku bersedih atas kebahagiaan sahabat sebaik Farah. "Ngelamunin apa sih, Na?" Pertanyaan Farah mengagetkanku. "Gak ada kok." Aku kembali terdiam. "Kalau gak ada, kenapa muka sedih gitu?" Farah memutar-mutar wajahku, persis saat aku tengah memilah ikan di lapak Bik Marni di kamp
Pov. HaikalAku tak pernah menyangka, jika pernikahanku dengan Rania akan mengundang kemarahan besar bagi Kak Farida. Nyaliku menciut saat tanpa kuduga, Kak Farida datang ke rumah Rania saat aku tengah di sana, menemani Rania yang tengah kurang enak badan. Kemarahan dan kata-kata menusuk hati tak dapat terelakkan. Jika bisa memilih, aku lebih memilih Kak Farida menghajarku dengan tangan kosong hingga babak belur, dibandingkan menghujamkan kata-kata menyakitkan ke ulu hatiku. Kedua kakakku memang sangat menyayangi Zana. Itu semua terlihat dari sikap mereka saat bertemu. Kak Naima bahkan sangat dekat dengan Zana, persis seorang teman. Tak heran jika mereka sangat membenci ulahku yang telah menduakan Zana. Tapi tunggu … bagaimana Kak Farida bisa tau jika aku menduakan Zana demi Rania? Apa mungkin Zana sudah mengetahui semuanya? Kepalaku benar-benar ingin pecah. Alasanku untuk memiliki keturunan seakan tak sedikit pun membantu meluluhkan hati kakak tertuaku itu, yang ada bahkan dirinya
Tubuhku bergetar dengan tatapan mata mengabur, dengan lemas aku terduduk. Tak kupedulikan Harry yang terus merengek karena lapar. Sesuatu yang kutakutkan akhirnya benar-benar terjadi. Aku terduduk lemas, dengan air mata berurai tanpa suara. Harry terdiam menatapku bersikap tak seperti biasa. Tak dapat kubayangkan akan sehancur apa hidupku setelah Ibu pergi. Kembali berdengung di telingaku, perkataan Kak Farida beberapa hari lalu, jika alasan Zana bertahan karena Ibu. Akankah Zana akan benar-benar meninggalkanku setelah Ibu pergi. Air mata semakin berebut keluar. Wajah sembabku menyambut kedatangan mobil jenazah yang mengantar jasad Ibu, jasad wanita yang telah melahirkanku, tepat pukul sembilan pagi. Wajah berurai air mata Kak Naima keluar dari mobil yang turut serta mambawa jasad Ibu. Kakak perempuanku itu masuk rumah setelah menghujamku dengan tatapan menghunus. Tak kulihat Zana datang.Dua orang petugas mengeluarkan jasad Ibu dari dalam mobil jenazah, dibantu beberapa orang pela
Seminggu sudah Ibu pergi untuk selamanya. Semenjak itu pula, keluargaku memintaku untuk kembali ke rumah orang tuaku, mereka tak ingin hatiku lebih sakit lagi. Kenangan saat-saat bersama Ibu masih sangat sering melintas di pikiranku, membuat rinduku padanya yang tak dapat kupeluk menciptakan sesak di dada. Namun setidaknya, aku tak menyesal dengan kepergiaan Ibu, karena selama ini aku telah berusaha melakukan yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu damai bersama-Nya. Doaku. Tok! Tok! Tok! "Na!" Suara ketukan disusul panggilan dari arah pintu kamar, membuatku bangkit dari tempat tidur. Waktu memang masih jam delapan malam, tapi rasa ingin sendiri membuatku memilih masuk kamar lebih cepat. "Iya, Bu. Ada apa?" tanyaku pada Ibu, setelah pintu terbuka. Ibu terlihat menarik napas dalam sambil mengendikkan bahu. Sesaat Ibu menatapku dengan wajah sendu, "Tuh, Haikal udah ada di depan, pengen ketemu kamu!" Aku menarik napas dalam, menghembuskannya dengan kasar. Malas sekali rasanya jika haru
Aku menggeleng pelan, tak habis pikir. Setelah kesempatan itu dicampakkannya, dengan santainya ia menanyakan hal yang sama. "Jika bukan karena almarhum Ibu, aku bahkan sudah meninggalkanmu sejak pertama terluka."Tak ada lagi kata sapaan untuk menghormati lelaki di sampingku ini. Aku cukup sadar, jika status di antara kami masih sama. Namun, luka hati ini seakan membuatku enggan memperlakukannya dengan perlakuan yang sama seperti dulu. "Maafkan Abang, Na. Abang benar-benar menyesal. Semua Abang lakukan hanya karena ingin memiliki keturunan."Hatiku kembali sakit. Apa dirinya pikir, alasannya menyakitiku bisa dibenarkan? "Aku sungguh iri pada para istri yang meski seumur hidupnya tak mampu memberikan keturunan, namun sang suami tetap setia di sampingnya. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Aku hanya ingin berdamai dengan caraku sendiri."Bang Haikal bangkit dan mendekat ke arahku. Kemudian berlutut di kakiku, kedua tangannya menyentuh jemariku. Aku pun berusaha melepaskan tangannya
Sinar mentari pagi menembus celah jendela, melewati gorden kamar membuat silau mata Haikal yang masih terpejam. Lelaki itu buru-buru bangkit, karena tersadar kalau hari sudah terlanjur siang. "Ah, lewat lagi waktu subuh," gumamnya. Sejak kepergian Zana dua minggu lalu, Haikal merasa hidupnya tak beraturan. Untuk mengurus dirinya sendiri saja rasanya begitu ribet. Untungnya, Haikal sudah mempekerjakan Bik Sum sebagai pengasuh Harry, meski masih dalam waktu penyesuaian. Beberapa hari ini anak itu selalu memanggil-manggil Zana dengan sebutan Bunda. Kedekatannya dengan Zana membuat Harry sering menangis dan tidak mau makan, hingga semenjak ditinggal Zana, Harry tidak bersemangat dan terlihat lebih kurus. Sama halnya pagi ini. Harry masih meringkuk di samping Haikal, setelah tadi minta susu. Rasa tak tega selalu menyesakkan hati Haikal, tak jarang air matanya sampai menetes, saat melihat Harry yang menangis pilu karena menahan rindu pada Sang Bunda. Semua usaha yang dilakukan Haikal
Jarak rumah Ibu dan rumah Bang Hamka tak terlalu jauh, tak sampai setengah jam perjalanan saja. Aku berpikir sejenak. Melihat Farah seakan hatiku terketuk untuk menjadi wanita berpendidikan sekaligus mandiri. Dulu memang aku tak berniat ingin kuliah. Menurutku setinggi apa pun pendidikan seorang perempuan, pada akhirnya akan tetap kembali pada fitrahnya, menjadi ibu rumah tangga. Tapi kini seakan pemikiran salahku beberapa tahun lalu telah berubah. "Ada sih, Bu.""Terus?" tanya Ibu dengan bernada heran. "Zana belum kerja, Bu." "Kok kerja? Kan Ibu nanyanya kuliah?“ Dahi Ibu berkerut. "Kuliahkan perlu biaya, Bu. Zana belum bisa sekarang. Rencananya juga Zana mau kuliah nyambi kerja, Bu." Ayah dan Ibu saling berpandangan, kemudian beralih melirikku dari kaca spion yang menggantung di atas bagian depan mobil. "Kuliah aja dulu, Na. Kalo soal biaya, Ayah masih sanggup, kok." Kali ini Ayah buka suara. "Iya, Na. Lagian gak ada lagi yang butuh dibiayai selain kamu. Fikri semenjak buka