Share

Bab 16

last update Last Updated: 2024-11-01 01:29:38

“Kok ada Pak Jonathan, sih?” gumamku menanggapi pertanyaan Doni.

“Nggak masalah kan?”

Jawaban itu spontan membuatku kaget. Jangan-jangan … justru Doni lah yang mengundangnya untuk datang kemari.

“Nggak masalah gimana? Dari sekian bioskop yang bisa dia kunjungi, gimana caranya dia bisa datang ke tempat yang sama dengan kita?” gumamku.

“Ya … terus terang, sih. Waktu aku lagi book online tiket ini, aku kepergok sama dia,” aku Doni sembari menggaruk rambut hitamnya yang bermodel ala oppa-oppa korea, “dan dia malah nitip book satu tiket lagi ke aku.”

“Duduk di sebelah kita?” tanyaku untuk memastikan.

“Enggak sih, nggak di sebelah kita.”

Jawaban itu cukup membuatku tenang. Bisa kubayangkan kalau Pak Jonathan duduk tepat di sampingku. Atau … di samping Doni. Dia pasti akan mengawasi kami, bukan film di hadapannya. Dan sudah pasti, itu akan sangat menyebalkan.

Bukankah dia sudah berjanji akan membiarkan aku melakukan semua keinginanku. Tapi … kenapa dia justru menguntit aku sampai sejau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Lea.....berhati hati sama Doni....sepertinya dia ada niat buruk sama kamu Jangan mau diajak jalan jalan sama Doni.... Jangan kesall pada Jonathan....tindakannya itu pasti ada alasannya...
goodnovel comment avatar
annisa syifa
jiahhh...pak Jhonatan...JD santap istrinya yang lagi pacaran yah🫢🫢
goodnovel comment avatar
Viva Oke
pasti pak Jonathan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Menikahi Guru Killer   Bab 17

    “Nggak usah sok sok’an ngambek! Seharusnya aku yang marah sama kamu.” Aku menoleh menatap lelaki yang kini berada di sisiku, menatap sekelilingnya seolah mencari sesuatu di sekitarnya.Wait, what? Dia yang lebih pantas ngambek? Bagaimana bisa? Jelas-jelas aku yang dirugikan. “Ya jelaslah aku marah. Bapak itu nggak nepatin kesepakatan kita,” balasku, “Bapak malah nguntit aku seperti … sengaja ingin mengacaukan hubunganku.” “Itu karena kamu juga nggak nepatin kesepakatan kita,” jawabnya, “kamu kabur di hari kebersihan. Lalu kamu lalai dengan kucing kamu, dan itu merugikan aku karena harus membereskan pup nya dan memberinya makan. Itu juga kesepakatan kita.”“Tapi Pak. Itu nggak sepadan dengan yang Bapak lakukan,” elakku, “Bapak mencampuri urusanku bahkan mengganggu kencan pertamaku.”Pak Jonathan mengedikkan pundaknya. “Aku lakukan itu buat kamu.” What? Sekarang dia justru mengatasnamakan aku. “Aku juga punya kesepakatan dengan Om Wenang buat jaga kamu,” tuturnya, “bagaimana jika l

    Last Updated : 2024-11-01
  • Menikahi Guru Killer   Bab 18

    “Ya udah, aku mau ke rumah papa aja kalo gitu. Silahkan aja kalo Bapak masih mau nguntit,” cicitku kesal.Tidak ada perubahan di rumahku. Semuanya tetap sama. Hanya papa yang kini mungkin sedang kesepian itu, terlihat bahagia ketika melihatku datang.Aku menghabiskan hari Minggu ku bersama Papa. Seperti biasa, kami selalu ribut dengan perbedaan pandangan. “Kamu kok datang sendirian. Mana Jonathan?” Aku mengedikkan pundakku. “Nggak tau. Bisa jadi dia pacaran, main sama teman-temannya atau …. Nggak tau lah.” “Kalian bertengkar? Kok jawaban kamu gitu?” tanya papa.“Dia rese, Pa,” keluhku, “dia ngerusak hubungan Alea sama teman-teman. Alea disuruh bersih-bersih rumah seperti babu. Eh, pas Alea nonton bioskop bareng teman, malah dia rese. Dia duduk di belakang kursi Alea dan …. Ah, pokoknya dia ngeselin banget.” “Nggak mungkin dia ngelakuin itu semua tanpa alasan.” “Ya, pasti alasannya biar hemat lah. Kan bisa saja dia nikah sama Alea biar dapat babu gratis,” sahutku cepat.“Kalo bers

    Last Updated : 2024-11-02
  • Menikahi Guru Killer   Bab 19

    Pagi itu seperti biasa, Pak Jonathan terlihat sibuk membuat sarapan. Aku bisa melihat meja dapur yang sangat berantakan. “Ta–ra! Selesai!” Ucapnya dengan nada riang tak seperti biasanya.“Ini sandwich tuna keju buat kamu. Cepet dihabiskan biar nggak terlambat sekolahnya.”Aku tersenyum senang. Sepertinya Pak Jonathan nggak selamanya sekejam itu sama aku. Buktinya pagi ini dia buatin aku sarapan semacam ini. Yaa … paling tidak, effortnya keliatan lah sebagai seorang suami. Kuraih piring sandwich dan mulai memotongnya menjadi beberapa bagian sebelum masuk ke dalam mulutku. Tapi … kenapa rasanya aneh seperti …. Aku langsung memuntahkan kembali suapan pertamaku. “Kenapa? Itu makanan sehat loh,” ucapnya tanpa rasa bersalah. “Bapak masukin apa di dalamnya. Kenapa rasanya pedes, seperti … ada balsam di dalamnya,” tebakku sambil menjulurkan lidahku yang terasa panas. “Masa sih?” sahutnya dengan senyuman yang membuatku semakin curiga. Perlahan kudekatkan hidungku ke hidangan itu. Tapi a

    Last Updated : 2024-11-03
  • Menikahi Guru Killer   Bab 20

    “Aduh … nggak usah tarik-tarik napa. Ntar tangan aku copot, ih,” cicitku saat Doni menarikku ke arah taman belakang sekolah.Ia melepaskanku setelah tak terlihat siapapun di sekitar kami. Sepasang tangannya kini hinggap di kedua pundakku, sementara sepasang mata kami beradu dengan intens. “Kamu … kenapa kamu pergi gitu aja. Kamu nggak angkat telpon kamu, kamu juga nggak kasih aku kabar,” protes Doni. Tangannya mengguncangku, membuat tubuhku rontak.“Sori, Don,” ucapku dengan memasang wajah menyesal, “aku … tiba-tiba saja nggak enak badan. Mungkin karena aku lupa nggak bawa jaket, jadi aku rada meriang gitu. Makanya aku putusin buat pulang, biar bisa segera istirahat.”“Tapi kamu bisa kasih kabar, kan?” protes Doni mulai tak sabar.“Sori …. Hape aku mati waktu itu,” imbuhku, “batrenya low. Kamu … marah sama aku?” Aku melihat lelaki muda itu menghela napas. Wajah tegang yang semula terlihat dengan jelas, perlahan kembali melembut. “Nggak … aku nggak marah. Cuman … kamu nggak boleh ngi

    Last Updated : 2024-11-05
  • Menikahi Guru Killer   Bab 21

    “Udah selesai pacarannya?” Entah sejak kapan Pak Jonathan berdiri di belakangku. Kenapa lama-lama dia makin mirip makhluk astral yang bisa muncul tiba-tiba di tempat yang diinginkannya. Atau … jangan-jangan dia punya kekuatan super yang bisa teleportasi kemanapun sesuai keinginannya. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding. “Ish! Memangnya kenapa? Bukannya kita sudah sepakat nggak bakal ikut campur urusan pribadi masing-masing?”“No … no … no! Tapi ini sekolah dan aku guru kamu,” sahutnya dengan nada yang menyebalkan, “nggak boleh pacaran di sekolah.”Aku mencebik kesal. “Aku sama dia nggak ngapa-ngapain, kok. Kita cuman ngobrol,” gerutuku. Aku harap dia tidak mempermasalahkan kecelakaan kecil tadi dan berasumsi bahwa kami berpelukan dengan sengaja.Pak Jonathan justru mengangkat tangannya dengan kedua jari menunjuk matanya lalu mengarahkannya padaku, kemudian ia pergi begitu saja. “Dasar ikan buntal!” desisku kesal. Aku menghentakkan kakiku dengan kesal. Sungguh, dia itu se

    Last Updated : 2024-11-05
  • Menikahi Guru Killer   Bab 22

    “Tiga … empat … lima ….” Doni terus menghitung dengan tempo yang sama. Mungkin karena dalam jiwa atletnya tertanam sportifitas, jadi ia tidak dengan curang mempercepat tempo hitungannya.Sementara aku selangkah demi selangkan mundur dan semakin jauh darinya.“Enam … tujuh … delapan,” hitungnya tanpa tahu aku telah berada di depan pintu rumahku, dengan tangan siap membukanya.“Sembilan … sepuluh.” Tentu saja aku sudah berada di dalam rumah. Dengan cepat, aku naik ke lantai atas, tempat kamarku berada dan melihatnya dari balkon. ‘Doni!” teriakku memanggilnya. Kulambaikan tanganku setelah meletakkannya di bibirku. Bukankah yang diinginkannya adalah ciuman perpisahan? Aku dapat melihat raut kecewa dengan jelas di wajahnya. Namun aku tak peduli, ku lambaikan tanganku sambil berteriak, “sampai ketemu besok!”***Aku duduk di depan meja makan, menerima tatapan menghakimi yang seperti hendak menelanku dengan ribuan pertanyaan yang belum terucap dari bibir papa.“Kamu pulang lagi? Kamu yaki

    Last Updated : 2024-11-06
  • Menikahi Guru Killer   Bab 23

    “Kalo kamu nggak sebutin apa yang ketinggalan, itu artinya nggak penting,” sahut Pak Jonathan, “jadi kita nggak perlu putar balik.” Aku merengut kesal. Tentu saja karena rencanaku tidak berhasil kali ini. Tapi nggak papa, seharusnya aku bisa minta papaku untuk mengirim Bik Titin ke rumah nanti. Jam sudah menunjuk pukul lima saat kami tiba di rumah. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang salah. Ada sesuatu yang tidak biasanya, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Tapi apa …. Rumah masih dalam keadaan rapi. Tidak ada siapapun yang masuk, bahkan tidak ada kotoran simba di bak pasirnya. Dan cat food yang tersaji di piringnya pun belum tersentuh. Simba! Dimana kucing abu itu berada? Kuarahkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Tapi tidak terlihat pergerakan kucing kecil nan lincah itu. “Pak buntal, simba dimana?” tanyaku pada lelaki yang langsung menyibukkan diri dengan setumpuk lembaran jawaban di hadapannya. “Mungkin dia sembunyi di kolong. Atau … keperangkap lagi di bawah panci

    Last Updated : 2024-11-06
  • Menikahi Guru Killer   Bab 24

    “Hah! Apa?” “Kamu belum dengar ya? Ada siswi sekolah kita yang nikah sama om-om!” ulang Vena, kali ini suara cemprengnya hampir memecahkan gendang telingaku. “Memangnya siapa?” tanyaku sambil berusaha menyembunyikan kegugupanku.“Nggak jelas juga, sih,” sahut Vena, “tapi beberapa siswa sempat liat cewek itu naik mobil asing di halte depan sekolah.” Jantungku seperti mau lompat dari tempatnya. Halte depan sekolah. Bisa jadi yang sedang mereka perbincangkan itu aku. Mungkinkah gosip itu tentang aku dan Pak Jonathan yang saat itu hendak ke rumah sakit untuk meresmikan pernikahan kami?“Ya udahlah, nggak usah terlalu dipikirkan. Bisa saja mereka cuma mengira-ngira. Bisa jadi om-om yang mereka maksud itu justru papanya,” cicitku untuk mempengaruhi cara berpikir Vena, “kasihan loh, yang terlanjur dikatain. Apalagi … penyebaran berita hoax macam itu, sekarang sudah bisa dituntut secara hukum, loh.” Vena mendadak diam. Aku rasa dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin perkataanku yang diras

    Last Updated : 2024-11-07

Latest chapter

  • Menikahi Guru Killer   Bab 142

    Kurasakan hangatnya hembusan napas di leherku. Seperti menyapu di setiap inci kulit leherku, memagut dengan liar bersama napasnya yang memburu. Tangannya dengan gesit menarik lepas kaos berukuran jumbo yang kupakai. Gegas aku menyilangkan kedua tanganku, menutupi sepasang gundukan kenyal, tempat Kiara biasa mendapatkan nutrisinya. “Kamu makin seksi, Alea.” “Ish! Emang dulu enggak?” “Semakin berisi dan menggemaskan,” godanya sembari menarik tanganku yang berusaha menyembunyikan puncak dadaku. Bagian berwarna merah itu saat ini sedang membengkak lebih dari biasanya karena Kiara sering kali menggigitnya, dan aku malu untuk sekedar memperlihatkannya. Tapi … Pak Jonathan justru tersenyum saat melihatnya. Dan, sumpah! Itu membuatku semakin nggak percaya diri. Tapi lagi-lagi Pak Jonathan justru menahan tanganku agar aku tak bisa lagi menyembunyikannya. Tangannya menggapai dan mengusap di puncaknya, menciptakan sensasi yang membuatku tak mampu menahan desah yang keluar dari bibirku.Sen

  • Menikahi Guru Killer   Bab 141

    Suara tangis itu menyadarkan aku. Samar kulihat bayi dengan kulitnya yang merah menangis dengan kencangnya. “Bayi perempuan yang cantik. Semuanya lengkap, sempurna.” Seorang perawat memperlihatkan bayi itu kepadaku. Namun aku merasa tanpa daya, bahkan untuk mengucapkan sebuah kata. Ingin kusentuh makluk mungil itu, namun aku tak sanggup untuk meraihnya. Mungkin efek dari anestesi itu benar-benar kuat di tubuhku. Dan aku kembali ke alam bawah sadarku.Saat aku terjaga, aku telah berada di dalam ruang kamar inapku. Ruangan dengan wallpaper bernuansa merah jambu itu seperti sengaja di desain untuk penghuninya. Rasa dingin itu terasa sampai ke tulangku. Aku benar-benar menggigil seperti sedang berada dalam lemari pendingin. Bahkan selimut yang menutup tubuhku seperti tak berarti. “Alea … kamu sudah sadar?” tanya Pak Jonathan sembari menggenggam tanganku. Wajahnya terlihat sangat cemas. “Dingin,” ucapku. Pak Jonathan segera menekan tombol di dinding untuk memanggil tenaga medis.“Ap

  • Menikahi Guru Killer   Bab 140

    “Dia menendangku! Aku bisa merasakannya!” teriak Pak Jonathan dengan wajah sumringah seakan baru pertama kalinya merasakan gerakan bayi di dalam perutku. Tentu saja, ini bukan yang pertama kalinya. Apalagi di usia kehamilanku yang sudah sembilan bulan ini. Ia bukan hanya menyentuh dan mengamati perutku sekali ini saja, tapi hampir setiap malam!Kini hanya tersisa beberapa hari sebelum jadwal kelahiran putra pertama kami. Sepertinya ia lebih kerap memperhatikan perutku. Gerak yang membuat perutku menjadi tak simetris pun, tak luput dari pandangannya. “Kamu nggak takut, kan?” tanyanya.“Jujur. Aku takut.” Pak Jonathan tersenyum, namun terlihat canggung. “Aku … sebenarnya aku juga. Aku mungkin … justru lebih takut dari kamu, Alea.” “Takut?” “Iya, aku takut tidak bisa menjadi suami yang baik. Aku takut tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik buat anak kita. Aku takut gagal menjadi seorang imam dalam keluarga kecil kita,” sahutnya.Aku menarik sudut bibirku. “Kamu itu suami yang palin

  • Menikahi Guru Killer   Bab 139

    “Jujur, katakan sama aku. Kamu masih ada perasaan kan, sama dia?” tanyaku dengan perasaan tak karuan. Mungkin seharusnya aku tak pernah mengatakan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang justru seperti bom waktu yang kupasang di antara kami. “Masih.” Jawaban itu seakan membuat jantungku berhenti berdetak. Aku masih menatapnya dalam diam. Sebuah jawaban yang akan menentukan nasib sebuah pernikahan. “Tapi perasaan yang berbeda dengan yang kurasakan untukmu,” lanjutnya, “dan aku sadar … dulu maupun sekarang, hubungan kami bukan tentang cinta.” “Lalu apa kalau bukan cinta? Tapi, kalian pacaran, kan. Mana mungkin nggak cinta?” cecarku. “Kamu mau dengar ceritaku?” tanyanya.Aku mengangguk dengan perasaan ragu. Tentu saja karena aku tidak yakin akan cerita yang akan dituturkannya. Bisa saja semua itu hanya karangannya agar aku memaafkannya. Tapi tak urung, aku ingin mendengar pembelaannya. Apa yang sebenarnya dirasakannya pada perempuan itu.Pak Jonathan menarik kursi dan duduk tepat

  • Menikahi Guru Killer   Bab 138

    Setelah mengatakan semua yang mengganjal di hatiku, aku segera menutup panggilan itu. Napasku bahkan terengah hanya karena menyampaikan emosiku yang meluap hebat. Bagaimana bisa dia menuduhku seperti itu, sementara dirinya sendiri melakukan hal yang tak berbeda. Hah! Seandainya saja dia tahu kalau Doni bahkan sudah tak ada lagi di hatiku. Seandainya saja dia tahu kalau perasaanku hilang begitu saja setelah mengenal keluarganya, setelah aku merasakan betapa takutnya kehilangan dirinya saat ditahan dulu. Seandainya saja dia tahu, bahwa aku bahkan hanya mengurung diri di kamarku sejak kedatanganku, menikmati kesendirianku. Seandainya saja dia tahu bahwa kenyataan bahwa keantusiasannya datang ke acara itu telah menorehkan luka di hatiku tentang masih adanya jejak cinta di hatinya. “Ah, pusingnya kepalaku,” keluhku. Kuangkat tanganku dan mulai memijit keningku yang terasa berdenyut. Suara telepon kembali terdengar. Kali ini sengaja aku tidak mengangkatnya. Kepalaku semakin terasa pusin

  • Menikahi Guru Killer   Bab 137

    “Aku ada ide!” teriak Vena tiba-tiba. Suara cempreng itu membuatku melompat saking terkejutnya. Ditambah lagi tepukannya di pundakku yang membuat jantungku berdegup lebih cepat. “Kamu pergi aja sama Kak Bernard!” “Vena …. Kali aja dia nggak marah, ngeliat aku sama kakak kamu,” keluhku, “kamu inget kan, terakhir kali mereka ketemu juga berantem. Aku nggak mau Kak Bernard terluka cuma gara-gara jagain aku.”“Lah … memang mesti ada pengorbanan buat mencapai suatu tujuan, kan. Seperti Kak Bernard, ngelakuin itu pasti ada tujuan. Walau nggak semua tujuan itu bakal tercapai,” ucapnya, “butuh effort buat mencapai sesuatu yang kita ingini, Al.” “Iya, kamu benar. Tapi aku tetap harus memperhitungkan kerugian apa yang bakal aku terima kalau melakukan semua itu, kan?” Vena mengedikkan pundaknya. “Jadi … kamu nggak mau datang ke acara itu?” Aku menghela napas dan menggeleng pelan. “Mungkin aku akan membuat kekacauan besar, yang bisa menahannya agar tidak bisa datang ke acara itu.” “Kekacau

  • Menikahi Guru Killer   Bab 136

    “Marsha memberitahukan kalau dia akan datang pada saat reuni akbar sekolah kami nanti.” Aku langsung melotot saat mendengar nama acara itu. Bukan karena aku tidak pernah mendengarnya, tapi karena aku sering membaca di media sosial bahkan cerita-cerita orang tentang acara reuni seperti ini. Acara yang justru menjadi awal perpecahan sebuah rumah tangga. “Lalu … kamu juga mau datang buat ketemu dia?” tanyaku sekali lagi tanpa sebuah basa basi. “Acara itu sebenarnya ajang paling tepat untuk mencari koneksi, memperluas hubungan kerja.” Jawaban itu sebenarnya membuatku langsung bisa memprediksi bahwa ia ingin datang walau apapun alasannya. Aku juga pasti akan terlihat konyol jika harus menahannya untuk tidak pergi. Seperti … seorang istri pencemburu yang bahkan menghalangi kemajuan langkah suaminya. “Al, kamu percaya kan, sama aku?” tanyanya sembari menatap mataku lekat lekat.Aku menarik napas panjang dan terpaksa menganggukkan kepalaku walau sejujurnya firasatku mengatakan yang sebal

  • Menikahi Guru Killer   Bab 135

    “Gimana? Yang ini atau yang ini?” tanyaku sementara kedua tanganku memegang dua hanger kaos pilihanku. Pak Jonathan menggelengkan kepalanya. “Nggak … sepertinya itu nggak cocok buat aku.” Sesaat kemudian, lelaki itu kembali mencari pakaian yang cocok untuknya. Kuletakkan kembali kedua hanger itu di tempatnya. Sudah cukup banyak model yang sudah kurekomendasikan buatnya, tapi belum satupun yang dipilihnya. Entah pakaian seperti apa yang sebenarnya ingin dicarinya. “Cari kaos untuk papanya, Kak?” sapa seorang yang memakai seragam pramuniaga toko, “sepertinya kemeja akan lebih cocok untuk lelaki seusia papa kakak, jika dibandingkan dengan t shirt.” Wait! Ini sudah yang ketiga kalinya Pak Jonathan dianggap sebagai papaku. Padahal usianya cuma berjarak belasan tahun saja. “Dia suami saya, Kak,” sahutku sekali lagi memberinya sebuah pembenaran, “dia sedang cari pakaian santai yang nyaman dan tidak membuatnya terkesan lebih tua dari usianya.” “Kemeja dengan corak yang cerah, mungkin,”

  • Menikahi Guru Killer   Bab 134

    “Ini Non, susunya lekas di minum, keburu dingjn.” Mbak Santi meletakkan susu hamil yang sengaja dibelikan oleh Pak Jonathan untuk menunjang nutrisiku. Sejujurnya aku merasa enggan untuk meminumnya. Bukan karena rasanya, tapi karena aromanya yang membuat perutku berontak tak ingin menerimanya. Tapi mau gimana lagi, aku juga tidak ingin bayiku kekurangan nutrisi karena aku terus memuntahkan semua yang masuk ke dalam perutku. Kucepit hidungku dan segera menegak cairan berwarna putih yang ada di dalam gelasnya hingga tandas, sebelum memasukkan permen kenyal berbentuk hamburger ke dalam mulutku. “Loh, Non mau kemana? Ke kantor lagi?” tanya Mbak Santi saat melihatku langsung mengambil sling bag kecil yang biasa kupakai. “Iya, Mbak. Mau belanja sama Pak Jonathan,” sahutku, “ada titipan?” “Beli sabun sekalian sama pembersih lantai ya, Non. Stoknya udah menipis,” jawabnya cepat. “Udah? Itu aja kan?” “Iya Non.” Setelah mencatat semua keperluan itu di dalam otakku, aku p

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status