Share

Drama Bagus

Author: El Nurien
last update Huling Na-update: 2024-11-20 16:37:32

"Biasanya berapa lama bertahan?"

"Mungkin tahunan. Hanya saja, karena biasanya untuk konsumsi pribadi jadi tidak pernah menghitung berapa lama dan tidak memerhatikan perubahannya warna dan struktur. Biasanya ada endapan putih yang muncul. Kalau dikonsumsi pribadi, endapan itu tidak masalah, karena putih itu seperti garam yang mengkristal. Tapi kalau untuk dijual … Semoga saja kali ini berhasil." 

"Santai saja. Tuh akhirnya juga sambil dijual 'kan?"

"Iya, tapi masih dalam bentuk basah. Itupun hanya bisa dititip pada Acil Imai yang pulang pergi ke Kal Teng. Dijual secara curah. Belum bisa dijual dengan kemasan produk dan melalang buana ke mana saja."

"Santai saja. Anggap itu rencana jarak panjang dan kafe itu sebagai pelepas lelahmu."

Teratai mengangguk. 

"Oh iya, Wahda jago bikin es krim. Coba kau ajak dia. Siapa tau bisa kalian cocok. Kalian bisa saling menguntungkan. Kamu bisa menambah menu, dia bisa reliks"

Teratai meluruskan badannya. Matanya menyipit "Boleh dicoba."

"Nanti aku coba telpon Arsa." 

*** 

"Sanad mengundangmu ke kafe Teratai. Barangkali kamu menyukai. Aku sering santai ke sana."

Gerakan Wahda terhenti mendengar cerita Arsa. Ia kembali memasukkan pakaiannya ke dalam box pakaian yang telah disiapkan Arsa. 

"Masih sepi, tapi lumayan untuk santai. Tempatnya juga nyaman." 

Wahda meluruskan badannya ke arah Arsa. "Arsa, kamu sering ke kafe Teratai?"

Arsa mengangguk. Ia mengambil alih box yang dipegang Wahda.

“Kamu masih menyimpan rasa pada  Teratai?” tanya Wahda. Gerakan Arsa terhenti. Ia kembali meletakkan box itu ke atas ranjang, lalu menjentikkan jarinya ke jidat Wahda.

“Aku masih normal. Aku memang playboy. Tapi tidak akan mengembat punya saudaraku sendiri.”

“Aku tanya apa yang kau masih punya rasa sama Teratai,” sungut Wahda sambil mengusap dahinya yang sakit.

“Sudahlah. Kalau sudah kita pergi sekarang."

Wahda meraih tangan Arsa. "Sa, aku serius. Kalau memang kamu masih menyukainya, lebih baik berhenti sekarang. Jangan lagi ke tempatnya." 

Arsa mengembuskan napasnya. "Aku tau kamu masih trauma dengan sesuatu yang bernama rasa. Tapi jangan samakan aku dengan suamimu yang tidak tahu terima kasih itu. Kuakui, aku tidak bisa mengenyahkan perasaanku padanya begitu saja, tapi aku mempunyai cara untuk membentengi diri. Adapun aku sering ke sana, karena tempat itu memang cocok untuk santai. Aku juga sering ajak cewek-cewek aku ke sana."

"Cewek-cewek?!" ejek Wahda. 

Arsa memasang wajah cengir. "Bukan salahku kalau aku ganteng," ucap Arsa sambil membetulkan kerah bajunya.

Mata Wahda membelalak, lalu menjulurkan lidahnya.

"Sudahlah. Kita balik sekarang." 

Wahda mengangguk, lalu mengedarkan pandangannya sejenak, memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal.

***

Wahda dan Arsa memelankan langkahnya. Di luar terlihat orang berkerumun, dan beberapa orang perawat menatap sekilas pada mereka lalu saling berbisik. Hingga sampai di teras rumah sakit, keduanya saling bersitatap.

Di depan mereka, Bagus dengan mengenakan setelan jas biru malam berdiri sambil memegang buket besar berisi mawar merah. Wahda menduga mawar di dalam buket itu ada ratusan. Di belakang Bagus ada Angel yang terus memberikan senyuman. 

Bagus mendekat, lalu berjongkok, meletakkan sebelah lututnya ke lantai, dengan tengadah ia menyerahkan buket besar itu kepada Wahda. 

“Apa ini?” tanya Wahda.

“Terimalah. Ini sebagai permohonan maafku. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi, ya.” 

Angel mendekat. “Wahda, percayalah kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku akan resign dan pergi dari sini."

Wahda terdiam, menatap mawar merah yang masih terarah padanya, meminta disambut. Perlahan tangannya terangkat menyentuh buket itu. 

Arsa menatapnya dengan dengusan ejek. “Dasar, bucin,” omelnya. 

Mata Bagus berbinar cerah. 

Namun, siapa sangka, tangan Wahda mendorong buket itu ke arahnya. “Kita sudah menjadi orang asing. Tidak mungkin lagi kita bersatu.”

Bagus berdiri. “Jika memang demikian, aku akan kembali menikahimu. Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Wahda tersenyum sinis. “Sebagai apa? Istri yang terus melayanimu, tanpa kamu peduli dia mau apa?! Apa bedanya dengan pembantu?!”

“Bukan begitu. Jangan samakan seorang istri dengan pembantu! Aku tidak pernah memandangmu seperti itu,” sanggah Bagus.

“Oke, aku tanya padamu. Sebutkan satu saja makanan favoritku. Jika benar, aku akan mempertimbangkannya.”

Bagus tergagap.  Ia membuka mulut, tetapi tidak ada huruf yang keluar darinya. Tiba-tiba ia menyadari, mungkin inilah yang paling tolol dalam seumur hidupnya.

“Tidak tahu kan?!” sela Wahda. “Gus, aku melayanimu lima tahun, masa kamu tidak tahu satupun makanan kesukaanku?!"

“Oke, aku salah. Tapi, apa yang kulakukan ini bukankah sudah berusaha menyenangkanmu? Beri aku satu kesempatan lagi," pinta Bagus.

“Jadi ini bukan permintaan maaf yang tulus? Menyenangkan?” ejek Wahda. “Kau pikir ini apa? Drama? Ini memalukan! Apa kamu tidak lihat, kita jadi perhatian orang-orang?!”

Bagus tergagap. Ia memutar pandangannya. Puluhan mata tertuju padanya. Kemudian ia menatap Angel. Angel memperlihatkan wajah bersalah. 

Wahda tersenyum sumbang. “Jadi kamu melakukan ini juga atas saran Angel?”

Bagus tidak menjawab. Namun dari kilatan matanya, Wahda sudah tahu jawabannya. 

“Gus, rupanya kamu benar-benar buta tentangku. Kemana saja selama lima tahun ini?!” Wahda berpaling ke arah Arsa. “Sa, yuk!” 

Arsa mengangguk. Ia melangkah maju sambil masih mendekap box berisi peralatan Wahda.

Bagus termangu. Menatap Wahda yang menjauh dan memasuki mobil Arsa.

Angel menepuk bahunya. “Nanti kita bisa coba lagi.” 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Mendadak Talak    Sepupu Paling Care

    Angel menepuk bahunya. “Nanti kita bisa coba lagi.” Bagus mengangguk lesu. Ia menyerahkan buket itu kepada Angel, lalu melangkah ke dalam. Beberapa orang di selasar menatapnya dengan berbagi rupa. Ada yang menatap dengan iba, ejek, juga mengolok. Hilang semua wibawa yang ia bangun selama ini. Di belakang Angel menciumi mawar merah yang kini beralih ke tangannya. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Sebagai wanita mandiri hingga sampai ke titik ini, telah banyak mengecap asam garam kehidupan tentu sangat kenal dengan karakter manusia umumnya.Tatapan seperti itu hanyalah lalat yang akan pergi cukup dengan dikibas. Ia mengambil beberapa tangkai mawar, lalu membagikannya satu persatu kepada beberapa perempuan di sana. Seketika mereka menatapnya dengan penuh terima kasih. ***"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Arsa saat mereka menunggu plang parkir belum terbuka. "Ke rumah ibuku.""Apa kamu sudah siap?" tanya Arsa melajukan mobilnya. "Ada kamu," jawab Arsa berdecak. "Dasar

    Huling Na-update : 2024-11-20
  • Mendadak Talak    Harus Move On

    "Menangislah. Kuharap setelah ini, tidak ada lagi air mata yang tumpah. Air matamu sangat berarti. Tak layak kau tumpahkan untuk seorang Bagus. Songsonglah masa depan, kamu berhak bahagia. Entah sendiri atau dengan siapapun."Wahda mengangkat wajahnya. Menatap wajah sepupu yang selama ini suka membuatnya kesel. Pada saat tertentu, sepupunya yang satu ini memang dapat diandalkan. Arsa mengusap lembut wajahnya. "Kamu tidak sendiri. Ada ibumu dan aku yang siap ada untukmu. Perlu kamu ingat, kamu memiliki banyak sepupu laki-laki. Meski sepupu, percayalah kami akan selalu membelamu."Wahda mengangguk. Kembali ia membenamkan wajahnya di pinggang Arsa. *** Terlihat mobil Arsa memarkir, saat Bagus memasuki halaman rumahnya. Ia bergegas keluar dari mobil, Wahda dan Arsa muncul dari balik pintu rumahnya. Hatinya terasa diremas melihat wajah bengkak Wahda dan langkah yang terlihat lemah. “Wahda, ini rumah kita, rumahmu,” ucap Bagus setelah melihat koper besar yang ditarik Arsa. Arsa terus

    Huling Na-update : 2024-11-20
  • Mendadak Talak    Sekelabat Luka

    Tiba-tiba Sanad merasakan matanya mengaca. "Aku tidak menyangka, Evan akan bertemu ibu sambung sebaik kamu.""DUAR!!" Teriakan Wahda membuyarkan lamunan Teratai. Ia mengerjap. Di depannya sudah ada Arsa dan Wahda yang cengengesan menatapnya. "Melamunkan apa? Sampai tidak sadar dengan kedatangan kami?" tanya Wahda dengan terkekeh sambil duduk."Wahda?! Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" cecar Teratai. “Dibilang baikan nggak juga. Karena itu, Arsa bawa aku ke sini, katanya di sini nyaman untuk santai.”“Alhamdulillah, di sini lumayan nyaman.” Wahda mengedarkan pandangannya. Ia tahu betul, kalau itu bangunan empat pintu milik Sanad yang sekarang disulap menjadi kafe dengan gabungan tiga elemen. Di ruang pojok, tempat yang mereka duduki, berdiri sebuah rak kayu di dinding, di depan kaca beberapa rak bentuk hexagonal yang juga di isi beberapa buku. Dua tanaman anggrek bulan yang sedang berbunga warna putih menggantung di tepi kaca. Di ruangan itu hanya dua buah meja tanpa kursi, seda

    Huling Na-update : 2024-12-27
  • Mendadak Talak    Kecurigaan

    Sanad mengangguk. Teratai menuangkan infused water untuknya. Ia langsung meneguk minuman itu. “Kamu mau ini, Arsa?” tawar Teratai. Arsa hanya menjawab dengan mengangkat americano miliknya. “Wahda?” tanya Teratai ke Wahda. “Boleh. Sebenarnya aku jarang minum ini, mumpung ada. Sejak kapan kalian mengonsumsi ini?” tanya Wahda. “Tidak lama. Mungkin semenjak ada kafe ini berdekatan dengan penanam mint, jadi dicoba saja. Alhamdulillah, Sanad juga menyukainya. Kadang dibikin teh.”“Oh iya, tanaman yang di situ banyak jenis mint. Orangnya mana?” “Mungkin di belakang. Dia kalau sudah di kebun suka lupa kalau lagi jualan di luar,” jawab Teratai sambil terkekeh. “Oh iya, Sanad bilang kamu jago bikin es krim. Gimana kalau selama cuti kamu bergabung dengan kami, buat tambahan menu es krim. Tidak menjanjikan banyak sih, kamu lihat sendiri masih sepi. Tapi lumayanlah untuk mengisi waktu dan mengalihkan kegalauanmu itu Gimana?" urai Teratai tanpa basa basi.“Oke, aku suka tempat ini. Besok aku

    Huling Na-update : 2024-12-27
  • Mendadak Talak    Naluri Seorang Ibu

    Sanad tersentak. Teratai menatapnya heran. "Memangnya kenapa? Kok kaget gitu?!" "Tidak apa. Aneh saja, memang dia tidak punya pekerjaan? Apa saja yang dilakukannya?" "Dia kan datang habis kerja atau hari libur. Dia bawa pacarnya, kadang baca buku. Aneh sih, buku yang dibacanya nggak selesai-selesai." Ia menoleh ke arah Sanad. "Aku pikir dia menyukai Adena. Dia sering ngajak ngobrol dan membantu Adena merawat tanaman. Menurutmu?"Sanad terdiam, menatap wajah polos istrinya. Ia berpikir, pantesan dulu dibohongi Arbain. Ternyata Teratai pandai membaca alam, tetapi tidak dengan sikap pria. "Kok diam?" Pertanyaan Tera menembus lamunannya. "Entahlah. Aku tidak melihatnya langsung," sahut Sanad akhirnya. "Kalau begitu nanti seringlah mampir. Siapa tahu bisa kita comblangin."Sanad menghempaskan napasnya. "Kalau dia menyukai Adena, ngapain membawa banyak perempuan ke kafe? Seharusnya menunjukkan pribadi yang baik dan keseriusan. Arsa dari dulu memang tipe pria hangat dan suka humor. Lih

    Huling Na-update : 2025-01-03
  • Mendadak Talak    Perhatian Sepupu

    “Bagus bagaimana keadaannya? Apa dia sibuk sekali, mulai rumah sakit sampai sekarang ibu tidak melihat batang hidungnya? Kamu baru saja sakit, seharusnya dia menjenguk, setidaknya ada menelpon gitu. Kalian tidak mempunyai masalah kan?” cecar Mauriyah. “Ibu jangan berprasangka buruk. Bagus memang sibuk banget karena sekarang dia lagi melakukan penelitian. Ibu tau sendiri bagaimana workholicnya dia. Dan aku juga butuh istirahat. Daripada aku sendirian di rumah, lebih baik ke sini kan?!" Mauriyah menghela napasnya. Ia memilih diam, menunggu Wahda siap bercerita padanya. “Malam ini, tidur sama ibu saja, ya.” “Benar?!” Wahda mengangguk bak anak kecil. Seketika mata Mauriyah mengaca. *** Wahda terkesiap. Mengapa tiba-tiba ia berada di seberang jalan rumahnya? Habis shalat Subuh ia membuka jendela kamarnya. Udara sejuk segera memenuhi rongga dadanya begitu pintu jendela terbuka. Namun, s

    Huling Na-update : 2025-01-03
  • Mendadak Talak    Cinta Setengah Mati

    Tak lama Arsa keluar dengan menarik lengan Wahda dan mendudukkannya di inflatable sofa. Tera dan Adeena mengikuti. Mereka menduduki dua sofa lainnya “Wahda, kamu sudah bergabung ke kafe kami, jadi kamu juga bisa berbagi dengan kami. Kamu tahu, mengapa konsep kafe seperti ini? Di pojok ada beberapa inflatable sofa, lantainya dikasih alas tikar rotan karena aku ingin kafe ingin friendly dengan tetap mengusung natural. Semua orang bisa santai, duduk, dan saling berbagi di sini. Jadi jangan sungkan bercerita ke kami.” “Aku bukannya sungkan, tapi tidak tahu harus bercerita apa. Kepalaku dipenuhi dengan kontradiksi. Senang, benci. marah dan rindu.” “Apalagi lagi yang dilakukan Bagus padamu?” tanya Arsa dengan emosi. "Tak peduli apa yang dilakukan Bagus, akunya saja yang terlalu lemah, rapuh. Aku terlalu mencintainya." "Kalau boleh tahu, detik ini apa yang kamu inginkan? Kembali atau cerai saja," tanya Teratai te

    Huling Na-update : 2025-01-04
  • Mendadak Talak    Dia Sepupumu

    "Lalu bagaimana kamu bisa jadi cinta setengah mati padanya?" "Suatu saat Tante ingin menjodohkanku dengan Teratai, saat itulah aku mulai serius memikirkan Teratai." Sudut bibir Arsa menyungging senyum. "Tapi sainganku anak kecil saat itu, Evan. Rasanya konyol sekali kalau memikirkan itu. Saat aku berusaha memikirkan celah untuk mendekatinya, sayangnya dia kembali ke desanya. Aku mencari informasinya pada pegawai di kantor yang ternyata iparnya. Dia mengatakan kalau Teratai sudah bertunangan. Pupuslah harapanku. Aku tidak berminat mengejarnya, apalagi kalau sampai merebut tunangan orang." "Lalu cintamu bersemi kembali ketika telah menjadi istri Sanad?" "Mengapa kau terdengar selalu mengejekku," protes Arsa. "Ini penyakit kejiwaan aneh sekali. Kamu selalu menyukai apa yang disukai Sanad. Jangan-jangan dulu kau juga menyukai Kayat?" Arsa menggeleng. "Sudah aku katakan aku mulai memerhatikan Ter

    Huling Na-update : 2025-01-04

Pinakabagong kabanata

  • Mendadak Talak    Luka yang Tersisa

    “Wah, bolehkah aku meminta lagi padamu?”Wahda mengangkat alisnya, lalu mengangguk. “Saat ini, hanya kamu dan Nurul yang kukenal, dan kurasa kamu lebih mengenalku daripada Nurul. Karena itu ….”“Karena itu?”“Kau mau tetap menemaniku sampai aku pulih?”Wahda terdiam. Bukannya tidak mau, tapi bagaimana dengan Arsa? Laki-laki itu juga perlu perhatian. Kenyataannya ia hanya bisa mengangguk. Sebagai seorang dokter, tentu ia harus tetap mengutamakan pasien.Bagus tersenyum semringah. “Terima kasih ya.”“Makanlah, nanti buburnya dingin.”***

  • Mendadak Talak    Permintaan Bagus

    "Iya, aku mengerti. Begini saja, pindah rawatnya ke rumah sakit dia bekerja. Siapa tahu lalu lalang orang-orang di sana bisa membantu memulihkan ingatannya."Wahda tersenyum semringah."Benar juga.""Tapi mungkin kamu sedikit lebih capek, bolak balik dari satu rumah sakit ke rumah sakit itu."Wahda menghela napasnya. "Apa boleh buat. Terima kasih, Dokter. Semoga urusanmu di sana cepat selesai dan cepat balik ke sini.""Amiin. Terima kasih juga atas pengertiannya."***Wahda mendorong kursi roda yang diduduki Bagus menyusuri lorong rumah sakit."Selama

  • Mendadak Talak    Mengembalikan Ingatan

    Andre lagi berdecak mengejek. “Serius amat hidup Lo. Hebat.” Andre mengacungkan dua jempolnya. "Atau jangan-jangan punya mainan baru?!"Arsa hanya merespon dengan tersenyum nyengir."Wah, dari senyumnya mengerikan. Jangan katakan di sana mainan lo perempuan!"Andre teman seasrama dari Jakarta. Anak IT. Andre sering ngajak ke club mereka, yang akhirnya Arsa juga tergiur ikut bersama mereka. Hanya saja, sejak itu ia sudah berprinsip hanya sekadar mainan buatnya. Dari awal, ia hanya ingin mendedikasikan untuk Tante Fatima. Setelah pulang, ia pun melupakan segalanya. Meski sesekali teringat mainan di Amerika jika melihat Angga mengerjakan orderan di kafe Teratai.Ia tidak begitu peduli tentang IT di perusahaan karena sudah ada divisi yang menanganinya. Siap

  • Mendadak Talak    Permainan Arsa

    "Katakan, kau marah padaku?"Wahda menggeleng."Lalu?"Wahda kembali menghidupkan kompor. Ia mengambil spatula, lalu mengaduk masakan. Arsa terus berdiri di sampingnya."Aku cuma sedih, di saat kamu kesulitan aku tidak bisa ngapa-ngapain. Bahkan sekadar mengantar makanan saja juga buatan ibu. Aku iri dengan Cintia. Dia membantumu menyelesaikan masalah kantor, sedang aku? Bisaku cuma merengek."Arsa merengkuh badannya. "Aku tidak butuh itu. Aku hanya ingin kita saling mempercayai dan menjaga kepercayaan."Wahda merapatkan tubuhnya. Aroma parfum Arsa sedikit membuat hatinya terasa lega."Mungkin Cintia

  • Mendadak Talak    Kepercayaan Diri

    "Menurutmu apa dia masih mencintai Bagus?" Arsa tak kuasa menahan kegalauannya."Entahlah. Mungkin saja, mengingat hubungan mereka selama lima tahun, mungkinkah bisa hilang dengan hanya beberapa bulan?"Arsa semakin menunduk."Mengungkit ini, aku hanya bermaksud agar kau berupaya lebih keras lagi. Sangat disayangkan kalau hubungan kalian putus gara-gara ini.""Kenapa? Apakah kamu juga berpikir akan merusak hubungan kekeluargaan?"Teratai menggeleng. "Bukan itu maksudku. Mungkin kalian masih meragukan perasaan masing-masing. Namun, satu hal yang harus kalian tahu, kalian sudah seperti anggota tubuh satu badan. Kalian akan merasa sedih kalau satunya kesusahan. Mungkin emosional asmara kalian masih perlu dipertanyaka

  • Mendadak Talak    Keraguan

    Arsa memerhatikan jam di tangannya. “Sebentar lagi kami ada rapat penting. Aku minta tolong antar ke dalam ya.”Wahda mengangguk.“Terima kasih ya. Aku pergi dulu.”Arsa dan Cintia menjauh. Wahda menatap sedih punggung Arsa dan Cintia, lalu beralih pada tas yang berisi lunch Box buatan ibunya.***Arsa menghempas sebuah dokumen di depan manajer Doni. Sontak semua yang ada di situ terkejut. Dengan heran Doni membuka dokumen dan seketika matanya membesar.“Ini ….”“Jelaskan!” titah Arsa.&

  • Mendadak Talak    Potongan Masa Lalu

    Arsa tersentak. Tiba-tiba tangannya mengibas dokumen di atas meja sehingga berserakan di lantai. Napasnya memburu. “Maaf, Pak. Maafkan saya,” ucap Cintia dengan wajah menunduk.“Rapikan dokumen itu!” perintah Arsa dingin. Cintia segera memunguti dokumen-dokumen itu, lalu meletakkan di atas meja. “Taruh di sana,” tunjuk Arsa pada meja kerjanya. “Lalu keluarlah.”Cintia meletakkan dokumen ke atas meja, lalu melangkah keluar. Tiba-tiba di tengah pintu Arsa memanggilnya. “Cintia!”“Iya, Pak.”“Jam berapa rapat?”“Jam 19, Pak.”Arsa mengangguk. Lalu menyuruh keluar dengan isyarat. Sepeninggalan Cintia, Arsa menyandarkan punggung ke sofa dan menengadahkan kepala. Dari sini ia mengerti mengapa Sanad tidak mau bergabung dengan ibunya atau ke ayahnya. Ibunya juga tidak memaksa, meski sebagai seorang ibu tentu berharap dibantu oleh anaknya. Dirinya benar-benar pengecualian. Hubungan darah atau emosional dalam pekerjaan kadang membuat bertindak tidak profesional lagi.Mendadak ia juga ter

  • Mendadak Talak    Amnesia

    “Bagaimana keadaannya?” bisik Wahda pada Nurul Hadi.Nurul Hadi menggeleng. Bagus yang mendengar itu menatap Wahda. Tatapan Bagus seketika membuat mata Wahda membesar.“Kamu siapa?” tanya Bagus.Wahda menoleh ke Nurul Hadi. Nurul Hadi mengangguk. Wahda kembali bertanya ke dokter yang merawatnya.“Ingatanya masih berantakan.”“Cincin? Cincin mana?” ucap Bagus sambil menyentuh saku kemeja, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada jari Wahda.“Wahda?”Sontak mereka saling berpandangan satu sama lain.

  • Mendadak Talak    Rendah Diri

    “Hubungi perusahaan server, kita sewa dua unit server,” perintah Arsa. “Bapak tau betapa mahalnya sewa server?!” “Yang terpenting sekarang kepercayaan. Kalau sudah stabil baru kita pecahkan masalahnya.”“Baiklah!” *** Arsa menghenyakkan tubuhnya ke sofa. Hari yang sangat melelahkan. Jam promosi telah berakhir. Masalah sedikit teratasi, hanya saja perusahaan mengalami banyak kerugian. Ia memejamkan mata sambil meletakkan tangan ke dahi.Tok tok. Arsa membuka matanya.“Belum pulang?”Cintia menggeleng. “Semua orang kelelahan hari ini. Bapak pasti paling lelah. Bapak juga belum sejak siang tadi.”Cintia meletakkan dua bungkus nasi kotak ke atas meja. “Saya ambilkan kopi ya.”Arsa duduk. Ia menggeleng. “Air putih saja.*** “Nur, kapan kamu ke sini? Aku dari siang tadi belum pulang.” “Maaf. Malam ini kamu yang jaga ya. Aku capek sekali. Hari ini aku melakukan dua operasi. Aku harus istirahat, besok juga ada jadwal operasi pagi hari. Aku usahakan besok aku yang jaga Bagus, ya."W

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status