Mata Davian mengerjap pelan menyadari arah pertanyaan istrinya. Itu sebuah pertanyaan serius, kan?Kaira nampak polos dengan mata bulat besar nan jernih yang menatapnya seperti anak anjing lucu. Namun di saat yang bersamaan, gerakan perlahan telunjuk wanita itu di belakang leher Davian justru kontras sebab menunjukkan seberapa flirty Kaira yang sebenarnya. Bagaimana bisa Davian menahan diri dari godaan secara terang-terangan seperti ini?"Kenapa?" Tanya Davian yang kini telah sepenuhnya meninggalkan makanannya. Fokus pria itu tentu saja istrinya yang memberi sebuah pertanyaan polos namun penuh godaan. Mengendikkan bahunya sekali lagi, Kaira melanjutkannya dengan membentuk senyum segaris tanpa rasa bersalah. "Hanya penasaran. Apa yang mas tinggalkan selalu sulit bagiku untuk menyembunyikannya. Tapi aku bahkan tidak berhasil membuat satu," ungkapnya jujur. Entah apa motivasi Kaira mengatakan ini sekarang. Terkadang, wanita itu cukup frontal terhadap apa yang ada dalam benaknya. Davia
Kaira menggenggam map tebal dan juga satu totebag berisi bekal makan siang yang dia siapkan untuk suaminya. Sekitar pukul sepuluh pagi ketika Kaira yang tengah menyelesaikan tulisannya mendapatkan panggilan dari sang suami yang memintanya untuk mengirimkan sebuah dokumen penting yang tertinggal di ruang kerja rumah mereka. Kalau bukan karena merupakan data penting untuk rapat siang ini, Davian mungkin tidak akan terdengar sangat panik saat meminta tolong pada istrinya itu.Sejatinya, Davian hanya meminta Kaira untuk mengirimkannya menggunakan layanan ojek online secara instan. Hanya saja, Kaira sendiri yang menawarkan bantuan untuk membawanya langsung sebab Davian bilang dokumen tersebut sangat penting dan cukup rahasia. Bukankah lebih baik untuk Kaira sendiri yang mengantarkannya dan memastikan dokumen tersebut diterima dengan aman dan selamat langsung oleh sang suami?Lagipula, Kaira juga ingin sekaligus mengunjungi suaminya dan membawakan bekal makan siang. Tadi pagi Davian terlalu
"Selamat Pagi Bu Kaira!"Sapaan Aldo di lobby menyambut Kaira yang baru saja sampai. Pagi itu, Kaira melangkah masuk ke kantor Davian dengan senyum tipis yang tersembunyi di balik wajahnya yang serius. Sebagai istri, rasanya janggal berada di posisi asisten pribadi suaminya, tapi mereka sepakat untuk tidak mengumumkan status pernikahan mereka di kantor demi menjaga profesionalitas. Meskipun mereka juga tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Tidak diumumkan bukan berarti disembunyikan, bukan?Sejujurnya, itu adalah request khusus dari Kaira. Wanita itu ingin dia diperlakukan sama layaknya karyawan lain di kantor. Dia ingin menunjukkan kapasitas kerjanya sebaik mungkin tanpa ada embel-embel 'istri CEO' saja. Katakanlah Kaira terlalu idealis untuk urusan ini. Hanya saja, dia juga tidak mau suaminya diberikan cap-cap negatif jika Kaira tidak menunjukkan kinerja baiknya. Status pernikahan mereka suatu saat pasti akan terungkap, hanya saja Kaira memilih untuk membiarkannya seperti itu sa
Davian duduk di belakang mejanya dengan raut wajah serius, tampak seperti bos besar yang siap memberikan arahan. Di hadapannya, Kaira berdiri tegap, menyiapkan catatan kecil dan pena, berusaha mempertahankan konsentrasinya untuk menerima setiap pekerjaan yang ditugaskan.Sebagai seorang asisten pribadi pemula, Kaira tentu masih memerlukan banyak arahan dan bimbingan dalam pekerjaannya. Aldo memang telah memberikannya informasi sedetail yang dia bisa, namun semua itu harus diaplikasikan secara nyata dalam pekerjaan yang terkadang selalu membutuhkan improvisasi. Ketelitian dan aspek cekatan dari pribadi seseorang akan tercermin langsung melalui hasil kerjanya. Untuk itu, Kaira bertekad untuk menunjukkan kualitas dirinya dengan hasil kerja yang sebaik mungkin.Tanpa banyak basa-basi, Davian mulai menjelaskan beberapa tugas yang perlu Kaira kerjakan hari itu dan beberapa proyek mendatang."Kaira, aku ingin kamu menyiapkan laporan mingguan mengenai progres proyek perumahan di pinggiran kot
Sekarang pukul empat sore. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum jam kerja berakhir apabila memang benar tidak ada lemburan.Kaira melirik bosnya yang masih belum bergerak sama sekali dari tempat duduknya. Pria tersebut nampak sangat fokus menatap layar. Sesekali dia juga terdengar berbicara untuk menyampaikan pendapatnya dalam lokakarya online yang diikutinya. Diam-diam Kaira tersenyum tipis, mengapa Davian nampak seribu kali lebih atraktif saat dia tengah serius bekerja begini?Sadar bahwa dirinya mulai tidak fokus, Kaira menepuk pelan pipinya sendiri. Dia kembali memfokuskan pandangannya pada lembaran-lembaran di mejanya yang dua jam lalu telah diberikan kepadanya untuk diperiksa. Terutama dua dokumen penting yang bersifat urgent, Kaira perlu memastikan bahwa tidak ada tanda salah ketik ataupun poin-poin nyeleneh saat dokumen tersebut nantinya tiba di meja Davian.Yang pertama ada mengenai rancangan proyek resort mewah di Bali dan Lombok milik salah satu klien VIP yang gambarnya
Waktu bergulir begitu cepat hingga Davian tidak menyadari bahwa langit telah berubah menjadi lebih gelap. Ini sudah pukul delapan belas, lebih satu jam dari jam kerja biasanya. Lelaki itu melirik istrinya yang juga masih sibuk menatap laptop. Setelah kesenangan kecil mereka yang terinterupsi tadi, Davian pada akhirnya membuka kembali kunci ruangannya dan tidak melanjutkan rencana jahilnya. Kaira nampak tidak sedang dalam mood untuk melakukan itu disini dan memang staf humasnya diluar cukup perhatian pada mereka sehingga dia bahkan tidak bisa mengunci pintunya tanpa satu alasan jelas.Pada akhirnya, dua manusia itu memilih untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Kaira dengan jadwal Davian esok hari serta konfirmasi pada orang-orang yang memiliki janji temu dengannya serta Davian yang melanjutkan menandatangani dokumen-dokumen yang sudah diperiksa Kaira sebelumnya.Lelaki itu melepaskan kacamata tanpa bingkainya lanjut memijit pangkal hidungnya untuk menghilangkan ketegangan yang t
Mereka tiba di lobi resto sekaligus hotel itu sekitar sepuluh menit kemudian. Tidak lama sebab hanya berjarak sekitar satu kilometer. Kalau bukan karena kemacetan jam pulang kerja, mereka mungkin bisa sampai lebih cepat daripada itu.Kaira berada dalam mobil yang sama dengan Kenny, Aldo dan Tika. Dalam perjalanan menembus kemacetan, suasana disana terasa cukup menyenangkan sebab terutama Aldo dan Tika adalah tipikal yang banyak bicara dan nyeletuk hal-hal lucu. Ada sekitar tiga mobil dengan total dua belas orang yang ikut dalam makan malam hari itu. Hanya staf humas dan juga divisi yang bersinggungan langsung dengan Aldo saja. Setelah semuanya berkumpul, Kaira dan rekan kerjanya bergegas menuju restoran yang berada tepat di lantai teratas hotel ini.Selain sebagai hotel bintang lima, lantai teratasnya memang difungsikan sebagai luxury fine dining restaurant dengan bagian outdoornya digunakan sebagai area lounge rooftop bar yang cukup trendi. Tempat ini konon katanya langganan para ek
Entah bagaimana sampai akhirnya rombongan tersebut kini berada di outdoor resto. Berpindah meja berbeda entah inisiasi dan tanggungan siapa hingga akhirnya Kaira pun harus terus menahan diri dan bahkan duduk dengan canggung di tengah rekan-rekan kerjanya yang satu per satu mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan kesadaran. Kaira merasa jengah saat melihat suasana makan malam yang semula terasa menyenangkan kini dibayangi dengan keributan teman-teman kerjanya yang mulai ngelantur. Aneka minuman tersaji penuh warna di atas meja, dan cengkerama yang awalnya sekadar basa-basi kerja perlahan berubah jadi obrolan yang semakin tak terkendali.Jangan tanya dimana Aldo! Pria itu sudah lebih dulu dicekoki oleh rekan-rekannya yang lain sehingga sudah teler di meja bar. Kaira bukannya hendak menyalahkannya, dia tahu sejak tadi Aldo sudah berusaha untuk menggiringnya pamit saat ajakan pindah meja itu terdengar. Sayangnya, Kaira yang tidak peka pada akhirnya mengabaikan kode-kode dari tangan kana
Langit sore tampak cerah, seolah turut merayakan momen spesial di perhelatan sederhana namun meriah keluarga bahagia tersebut. Siapapun bisa dengan mudah melihat dan merasakan binar yang terpancar, terutama dari Kaira dan Davian.Ketika mereka menikah sekitar dua tahun lalu, mungkin tak pernah sepasang insan itu sangka bahwa mereka akan ada di titik seperti sekarang ini. Tersenyum bahagia dengan mata penuh cinta. Pernikahan yang awalnya digagas penuh intrik oleh adik Davian sekaligus juga mantan Kaira—Alvero. Pernikahan yang awalnya dilaksanakan dengan prinsip hanya untuk sekadar "menikah". Pernikahan yang mungkin tidak didasari cinta tapi tetap dengan komitmen bahwa menikah hanya sekali seumur hidup. Kalau bukan karena kekuatan mereka berdua yang menjalani didalamnya, tentu semua tidak akan seperti ini, kan?Hari ini adalah ulang tahun pertama Arsandi Rajendra—putra kecil mereka yang telah membawa begitu banyak kebahagiaan dalam keluarga. Ruang tamu dan halaman belakang rumah didekora
Mobil yang dikendarai Davian melaju dengan kecepatan stabil, membawa mereka pulang dengan anggota keluarga baru yang mungil dan berharga. Di kursi belakang, Kaira duduk dengan hati-hati, memastikan bayi mereka tetap nyaman dalam gendongannya. Sesekali, ia menatap wajah mungil itu dengan mata berbinar, seolah masih sulit percaya bahwa mereka akhirnya bisa membawa pulang buah hati mereka setelah seminggu di NICU.Kaira sudah diperbolehkan pulang lebih dulu sekitar tiga hari lalu. Selama itu juga dia bolak-balik rumah sakit untuk menengok putranya sekaligus memberikan ASI. Setelah perjuangan tersebut, akhirnya pagi ini bayi mereka diperbolehkan untuk dibawa pulang. Berat dan kadar bilirubinnya dikatakan sudah normal sehingga kondisinya sudah memungkinkan untuk pulang ke rumah."Dia tidur nyenyak sekali," bisik Kaira, menatap wajah bayi mereka yang tenang dalam balutan selimut lembut.Davian melirik melalui kaca spion tengah, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. "Akhirnya kita pulang be
Teruntuk Kaira—Kakak Iparku.Ketika kamu membaca ini, aku mungkin sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja atau bahkan sudah tak bernafas di lingkup yang sama denganmu. Aku nggak berharap kamu membaca ini pada akhirnya, tapi sebagai manusia aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya atau bagaimana Tuhan menggagalkan aneka rancangan rencanaku. Aku pasrah.Tapi satu yang pasti. Ketika kamu membaca surat ini, aku yakin kamu sudah berbahagia dengan laki-laki yang kamu cintai dan bisa mencintai kamu sama atau bahkan lebih besar. Dan itu..tentu saja kakak kebangganku—Davian Rajendra. Aku nggak bohong saat mengatakan bahwa Davian adalah lelaki terbaik yang bisa menemani kamu. Begitupula untuk Davian, aku yakin kamu adalah pilihan terbaik untuknya. Aku sangat mengenal bagaimana kalian berdua. Itulah mengapa aku berjuang menjodohkan kalian dan syukurnya aku berhasil, kan? Lihat bagaimana Davian menatapmu penuh dengan cinta. Juga kamu yang selalu tanpa sadar tersenyum bahag
Lorong ruang tunggu ICU terasa amat sangat dingin. Kaira masih duduk di kursi roda, berdampingan dengan Cindy yang duduk di kursi ruang tunggu sembari memandang kosong tembok yang ada dihadapannya. Suasana terasa lebih sunyi dan mencekam setelah Kaira pada akhirnya mengetahui fakta baru. Alvero kritis karena kanker?"Maaf, aku dan Alvero belum bisa menepati janji kami untuk menemani persalinanmu," buka Cindy setelah lama menutup mulutnya. Bahkan ketika Davian menitipkan Kaira padanya untuk membiarkan mereka bicara, Cindy baru bersuara selang tiga menit lamanya.Dalam selang waktu tersebut juga Kaira tidak bersuara sama sekali. Dia hanya mendengar sedikit dari Davian, selebihnya Davian bilang Kaira harus mendengarnya dari Cindy langsung. Tapi jujur saja, apa yang bisa Kaira tampilkan selain keterkejutan yang mendalam? Kaira bergeming, wajahnya terlalu datar dan tidak memberikan jawaban apapun pada Cindy. Kali ini dia hanya akan fokus mendengarkan. "Aku...aku nggak tahu harus mulai da
Kaira menggenggam erat tangan Davian saat mereka berdiri di depan ruang NICU. Hatinya bergetar melihat bayi mungil mereka yang terbaring di dalam inkubator, tubuhnya yang kecil masih dipenuhi selang dan monitor yang berbunyi lembut. Meski dokter sudah menjelaskan bahwa putra mereka harus mendapat perawatan intensif karena lahir prematur di usia kandungan 34 minggu, tetap saja sulit bagi Kaira untuk menahan air matanya.Davian melingkarkan lengannya di bahu sang istri, menguatkannya. "Dia kuat, Sayang. Lihat, dia bahkan sudah mulai menggenggam jari perawat tadi." Suaranya lembut, namun ada kebanggaan dan kasih sayang yang begitu dalam di matanya.Mata Kaira terus memandangi buah hati mereka, dadanya sesak oleh campuran emosi. "Dia masih begitu kecil..." bisiknya, suaranya nyaris patah. "Aku ingin memeluknya, Mas. Aku ingin menghangatkannya di dekapanku."Davian menenangkan dengan mengusap punggung istrinya. "Sebentar lagi, Sayang. Dokter bilang kondisinya sudah terus membaik. Dia hanya
Kaira membuka matanya perlahan, cahaya lampu kamar rumah sakit terasa sedikit menyilaukan setelah ia tak sadarkan diri entah berapa lama. Ada rasa lelah yang masih melekat di sekujur tubuhnya, tapi itu semua langsung tergantikan oleh kehangatan yang menjalar di hatinya saat melihat sosok suaminya, Davian, duduk di samping ranjangnya. Pria itu tampak begitu lelah, lingkaran hitam menghiasi bawah matanya, tetapi senyum lega yang menghiasi wajahnya saat melihat Kaira sadar membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya. "Kaira..." Suaranya terdengar serak, seperti seseorang yang hampir tak berani berharap. Kaira mengerjap pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Bibirnya merekah dalam senyum kecil. "Hei..." Seolah tak mampu menahan diri lebih lama, Davian langsung menggenggam tangannya, mengecupnya lembut. "Kamu baik-baik saja?" Kaira mengangguk, meski tubuhnya masih terasa lemah. "Bayinya?" "Dia masih harus berada di ruang NICU, tapi tidak akan lama lagi dia bisa berkumpul bersama
Dokter telah menjelaskan semuanya—Kaira mengalami placenta previa, kondisi di mana plasenta menutupi jalan lahir, menyebabkan pendarahan hebat dan berisiko bagi ibu dan bayi. Tidak ada pilihan lain selain operasi caesar darurat.Sejujurnya Davian tidak sepenuhnya kaget akan terjadinya Placenta Previa. Memang di beberapa pemeriksaan, indikasi sebab plasenta tidak bergerak naik dengan posisi janin juga menjadi kekhawatiran mereka. Kaira pun sempat stres, namun Davian menjadi suami yang berupaya untuk menjaga pikiran sang istri. Mengafirmasi bahwa mereka akan baik-baik saja. Tapi tetap saja, ketika ini sudah di depan mata, Davian tidak bisa tidak ikut panik. Melihat raut dan suara istrinya yang tengah kesakitan sudah jelas membuatnya kalut. Tak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain memanjatkan doa berkali-kali dan berharap bahwa baik istri dan anaknya akan keluar dari ruang operasi dengan kondisi yang baik. Belum lagi, Alvero yang tadi secara tiba-tiba tidak sadarkan diri membuat p
Apa yang lebih membahagiakan dari berkumpulnya seluruh keluarga dengan penuh riuh canda tawa? Tania Rajendra, di usianya yang jelas tak muda lagi, satu-satunya yang paling dia inginkan adalah menemani dan menyaksikan anak-anaknya dengan kebahagiaan mereka. Putra-putranya yang sudah menghadapi asam garam kehidupan bersamanya meskipun mereka terlahir dari keluarga berada. Saling menguatkan ketika dihantam cobaan saat harus merelakan suami dan ayah tercinta berpulang lebih dulu. Berjuang dengan keras untuk mempertahankan semua yang mereka miliki atas nama keluarga Rajendra. Sekarang, melihat bagaimana Davian dan Alvero tersenyum cerah sembari tertawa dalam suasana hangat yang melingkupi, membuatnya merasa sangat bahagia.Malam itu, suasana rumah keluarga Rajendra dipenuhi gelak tawa dan kehangatan. Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali berkumpul lengkap. Mama Tania Rajendra jelas tampak begitu bahagia melihat anak-anaknya duduk mengelilingi meja makan, menikmati hidangan yang te
Kata orang, kalau sedang berbahagia, maka waktu jadi terasa berlalu begitu cepat. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh pasangan yang tengah menanti kehadiran buah hati mereka—Davian dan Kaira. Sepasang insan yang tak sabar menunggu peran baru keduanya. Menginjak bulan kedelapan usia kehamilan, Kaira pada akhirnya diminta untuk rehat di rumah. Kaira menurut saja. Lagipula, dia masih bisa melakukan banyak aktivitas di rumah seperti menulis dan bahkan turut menghandle pekerjaan kantor secara remote. Kaira tidak akan bosan sebab Davian benar-benar menyediakan semua yang dia perlukan. Dia bahkan mengganti tv lama mereka dengan layar yang lebih besar hanya untuk membuat aktivitas menonton Kaira jadi lebih nyaman. Rumah mereka semakin dipenuhi kehangatan. Setiap sudutnya terasa lebih hidup dengan keberadaan Kaira yang kini tengah mengandung buah hati mereka. Davian, yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, semakin sering menyempatkan diri untuk pulang lebih awal, hanya untuk menemani istriny