Ethan kembali dari kasino setelah malam. Aktivitasnya sebagai General Manager di Mensina Casino juga sebagai seorang mekanik bengkel yang didirikannya sendiri di pinggir utara kota menuntutnya untuk menghabiskan waktu lebih lama di luar rumah daripada di dalam rumah.
"Papa Ethan?" Si kecil Clarissa tiba-tiba saja memanggilnya yang akan naik tangga menuju lantai dua."Hei!! Kau belum tidur?" sapa Ethan pada gadis kecil dengan mata besar yang indah itu.Clarissa seperti biasa, ia pemalu. Ia hanya tersenyum memamerkan gigi-giginya yang rapi dan putih."Hei, kesinilah gadis cantik kesayangan Papa!" panggil Ethan.Clarissa pun menurut lalu berjalan menghampiri Ethan. Ethan pun langsung menggendong anak berusia dua setengah tahun itu dan menatapnya penuh cinta."Kau menunggu Papa pulang?" Ethan.Gadis kecil itu mengangguk."Kenapa? Ada yang kau inginkan?" tanya Ethan.Crystal kembali ke kamar Ethan dengan membawa bantal dan selimut kesayangannya. Jangan lupakan ia yang membawa bantal dan selimut Clarissa juga.Saat ia kembali ke kamar pria itu, Ethan sedang berada di kamar mandi. Crystal langsung memindahkan Clarissa ke sisi pinggir tempat tidur, lalu ia sendiri mengambil posisi di tengah-tengah ranjang agar ia bisa tidur di sebelah Ethan nantinya. Setelahnya ia memeluk Clarissa, membelakangi arah kamar mandi.Beberapa menit setelahnya Ethan pun keluar dari kamar mandi setelah ia selesai membersihkan diri. Seharian setelah pagi ke kasino, lalu siang hari ia ke bengkel, lalu ke kasino lagi hingga baru pulang malam begini, bisa dibayangkan betapa gerah dan lengket tubuhnya oleh keringat.Ethan mengernyitkan keningnya melihat Crystal yang kini sedang tidur tepat di tengah-tengah ranjang bersama Clarissa yang ia peluk di sisi sebelah tempat tidur."Ya Tuhan, tolonglah aku dari akal licik wanit
Ethan sedang menatap foto-foto Crystal bersama Clarissa yang melekat di dinding saat istrinya itu datang membawa sebotol red wine dan dua buah gelas khusus red wine berjenis Bordeaux."Apa yang sedang kau lihat?" tanya Crystal yang sempat berhenti sejenak di ambang pintu memperhatikan Ethan yang menatap foto-fotonya dengan Clarissa yang tergantung di dinding kamar."Oh ..." Ethan mengalihkan pandangannya dari foto kembali pada Crystal.Crystal masuk ke dalam kamar dan meletakkan botol wine dan gelas di atas nakas."Aku cuma heran, bagaimana bisa putriku yang manis dan pemalu punya ibu yang sangat temperamen dan hampir tak punya malu sepertimu. Apa mungkin dia mirip aku?" kekeh Ethan.Mendengar kata-kata Ethan itu, Crystal pun langsung menoleh pada pria itu dan melihatnya dengan pandangan malas."Oh, ayolah! Kau berkata begitu seolah kau adalah lelaki baik yang pemalu. Clarice mendapatkan sifat pem
"Oh, kepalaku sakit sekali," keluh Crystal sambil menepuk-nepuk kepalanya yang mulai sedikit berat."Kenapa? Apa kau sudah mabuk? Ya Tuhan, aku kira kau kuat minum," ejek Ethan meremehkan."Hei! Tentu saja aku kuat minum. Jangan ragukan aku, Breng sek!"Crystal menghabiskan kembali gelasnya yang telah diisi oleh Ethan tadi dan menuangkannya ke dalam gelas dan langsung menenggaknya."Kau lihat? Ini gelas keempatku!" Crystal meneguk wine itu lagi.Setelah itu ia menuang lagi."Ini gelas kelima!" tunjuknya sambil mengangkat gelas yang dipegangnya tinggi-tinggi."Keenam ....""Ketujuh!""Hei, Ethan! Kau menantangku tetapi kau bahkan belum menghabiskan minumanmu biar hanya segelas. Kau ... mempermainkanku?" ejek Crystal. "Ayo minum!"Crystal yang sudah setengah mabuk itu memaksa Ethan untuk menenggak minuman dalam gelasnya."Lagi!" pak
"Itu pasti kau, kan?" tunjuk Crystal pada Ethan.Ethan menunjuk dirinya sendiri."Aku? Apa maksudmu itu adalah aku?" tanya Ethan pura-pura tidak mengerti.Crystal mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha untuk tetap sadar. Kini ia yang sedari tadi sedang bersandar pada headboard tempat tidur, menurunkan kakinya ke lantai dan mengitari tempat tidur dengan sempoyongan sehingga ia bisa berada tepat di hadapan Ethan."Kau! Mengakulah padaku kalau kau adalah pria malam itu. Iya, kan?" tanya Crystal dengan tawa menyeringai.Ethan tersenyum tipis melihat Crystal yang terlihat mabuk berat akibat menghabiskan hampir satu botol wine. Sementara itu Ethan masih sangat sadar karena dia tadi hanya minum dua gelas wine saja."Apa yang harus kuakui?" Ethan balas tanya dengan nada tak bersalah."Sial an!!" jerit Crystal marah. "Kau masih tidak mau mengaku?"Ethan menahan tawanya melihat Cr
Mobil Lamb orghini Aven tador milik Benigno Mensina memasuki parking area Mensina Casino. Begitu Ethan keluar dari mobil semua mata pun tertuju kepada pria berusia tiga puluh tahunan itu.Ethan mengabaikan pandangan penasaran dari orang-orang Mensina Casino kepadanya dan beberapa meter sebelum ia melewati bodyguard di pintu masuk utama, ia pun melihat Ricardo, sang CEO yang kemarin bertengkar dengannya di meeting room.Dengan tangan menutupi benjol dan memar di keningnya itu ia hendak masuk ke dalam area casino begitu saja. Tetapi oleh sang bodyguard dia dilarang masuk."Hey! Apa yang sedang kalian lakukan? Menyingkir dari hadapanku!" perintahnya pada kedua bodyguard itu."Maafkan kami, Tuan Ricardo. Anda harus diperiksa dulu sebelum masuk kemari," kata salah seorang dari bodyguard itu."Oh, ya? Atas perintah siapa? Apa kalian baru bekerja di sini? Apa kalian bodyguard bo doh yang tidak tahu siapa aku?" kata Ri
"Andrew Bosseli, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Ethan dengan malas."Ethan Trovatelli, apa ada larangan aku tidak boleh datang ke sini, hmm? Setahuku kasino ini diperuntukkan untuk umum. Dan aku juga bukan anak di bawah umur sehingga aku tidak boleh datang ke sini. Beginikah cara Mensina Casino menyambut para pengunjungnya? Sungguh sangat tidak bersahabat. Kalau begini terus tidakkah kalian takut kalau lama-lama Mensina Casino akan berkurang pengunjungnya karena pelayanan yang tidak memuaskan ini? Ah, aneh sekali," cibir Andrew Bosseli sambil menatap ke sekeliling gedung Mensina Casino yang megah itu."Jangan terlalu banyak basa-basi. Katakan saja apa maksud kedatanganmu ke sini. Jika kau berniat membuat keributan di sini, sebaiknya pergilah!" usir Ethan."Wah, wah, wah! Galak sekali staf Mensina Casino ini. Hei, Bro! Bisa kau beri tahu aku, jabatan apa yang dipegang oleh pria ini, hmm? Apa Benigno telah menjadikan dia sebagai s
Selama beberapa menit Rose menjelaskan Ethan berusaha untuk tetap fokus, walaupun saat ini pikirannya sedang berada pada Clarissa dan Crystal. Ia masih saja sulit untuk mempercayai kata-kata Crystal saat ia mabuk semalam.Bukan dia menganggap Crystal adalah seorang pembohong. Tetapi rasanya masih saja sulit percaya. Kalau benar Crystal hanya pernah berhubungan intim dengannya, bukankah harusnya Crystal adalah putrinya. Ya Tuhan!Bagaimana bisa itu terjadi? Dia bahkan belum pernah, bahkan tidak pernah terpikir untuk memiliki seorang anak darah dagingnya sendiri. Posisinya sebagai capo dei capi yang rawan membahayakan orang-orang terdekatnya membuat ia tidak berkeinginan untuk memiliki sebuah keluarga. Selama ini Alessandro dan orang-orangnya cukup sebagai keluarga baginya. Lalu, Alessandro kakaknya yang sialan itu malah memintanya untuk menjadi ayah angkat bagi putrinya, Clarissa. Sialan? Ya! Ethan saat ini ingin mengumpat kakaknya itu sebagai sialan.
"Oh, ya? Lalu kau sendiri apa kalau bukan pecundang?"Tiba-tiba saja Ethan muncul begitu saja dari belakang.Andrew dan kedua anak buahnya menoleh."Oh, Ethan!!" seru Andrew terkekeh melihat Ethan yang kini ada di belakangnya."Apa kau sudah puas setelah bersenang- senang dengan merusak nama orang lain?" tanya Ethan pada Andrew yang sedang asyik menekan-nekan tombol di mesin slot."Ya, lumayan. Kalau tidak begini kau tidak akan datang padaku," kekeh Andrew pula."Apa maumu sebenarnya?" tanya Ethan melihat tingkah Andrew yang tak ubahnya seperti bocah kecil yang menginginkan sesuatu tetapi dengan membuat keributan terlebih dahulu."Aku ingin .... kau memberiku sebuah informasi!" kata Andrew. "Ya! Ya! Ya! Si alan! Mesin slot sial an ini pasti diprogram agar membuat bettor (penjudi) kalah! Curang sekaliiii!!!" jeritnya hingga mengundang perhatian orang-orang yang berada di lantai tujuh in
"Ya Tuhan, kau akhirnya tahu juga jalan pulang ke sini," cibir Julia pada Ethan saat pria itu berkunjung ke bengkel, setelah satu minggu lebih ia tak ke sana sama sekali."Ju, kau masih di sini? Kau tidak kembali ke Palermo?" tanya Ethan.Pertanyaan itu tak urung membuat Julia mendelik sebal pada Ethan."Kau mengusirku?" sahut Julia ketus."Aku tidak mengusirmu. Hanya saja aku mendengar ada berita yang kurang mengenakkan di Palermo. Apa kau tidak ingin mencoba mengecek-nya?" tanya Ethan."Ethan, kalau kau tidak lupa bukankah itu sebenarnya adalah urusanmu?" jawab Julia lagi-lagi tak kalah ketus dari yang tadi.Julia sudah mendengar dari anggota Aquila Nera yang bertugas di hotel Mare Nostrum tentang acara dinner sang capo dei capi dengan istrinya itu. Ya, anak buah para mafia itu pun kadang-kadang memiliki kesamaan dengan orang lain. Mereka sering bercanda,dan kadang menggosipkan pimpinan juga adalah salah satu hal yang bisa men
"Bon Appetito, Crys!" ucap Ethan dengan sebuah senyuman yang paling termanis yang belum pernah Crystal lihat sebelumnya."Ethan, terima kasih!" sahut Crystal senang.Ketika ia baru saja ingin menyendok makanan yang berada di piringnya, pelayan yang berdiri di sebelah mereka menjentikkan jari-jarinya. Lalu tak lama keluarlah tiga orang dengan dua diantaranya membawa alat instrumen musik masing-masing di tangannya. Yang satu memegang biola, sementara yang satu lagi membawa alat musik flute. "Ethan? Apa ini?" seru takjub Crystal.Ethan lagi-lagi hanya tersenyum dikulum. Ia pun lalu meminta pada orang yang akan tak memegang alat musik untuk mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian berbisik-bisik dengan dua temannya yang lain. Sementara itu pelayan yang tadi mengundurkan diri secara perlahan agar kedua pasangan itu bisa menikmati pertunjukan spesial yang telah dipersiapkan oleh pihak hotel u
Crystal mengedip-ngedipkan matanya heran. Jadi selama ini Christina berbohong? Untuk apa Christina berbohong padanya? Atau jangan-jangan bukan hanya pada Crystal saja? Apa pada orang lain juga?"Lalu? Kalau bukan menjadi manager di toko sepatu, lalu apa?" tanya Crystal tak mengerti."Aku ... aku bekerja di club malam, Crys!"Crystal sontak melebarkan matanya selebar-lebarnya."Club malam? Bagaimana bisa?" pekiknya tak percaya.Christina pun membungkam mulut Crystal dengab telapak tangannya."Sudah kubilang Crys, pelankan suaramu!" hardik Christina.Crystal mengangguk tanda paham, barulah Christina melepaskan tangannya yang membungkam mulut Crystal."Baiklah, baiklah!" kata Crystal sambil menghembuskan napasnya panjang. Sungguh Crystal tak menyangka akan mendapatkan kebenaran seperti ini dari mulut Christina sendiri. Setelah ia bisa merasa tenang, barulah ia kembali bertanya lagi pada Christina.
"Jadi Christina, apa bisnis suamimu itu? Apa benar dia capo dei capi?" tanya Crystal.Crystal malas jika mereka harus membahas Monica lagi."Husss, Crystal! Sssst!!!" Christina meletakkan jari telunjuk di bibirnya, untuk membuat Crystal diam.Crystal spontan menutup mulutnya."Kenapa kau membicarakan hal itu di depan umum seperti ini? Pelankan suaramu!" omel Christina."Maaf, Christine. Baiklah aku akan pelankan suaraku. Jadi, apa benar suamimu itu adalah capo dei capi?" bisik Crystal.Ethan dalam diam mendengarkan pembicaraan istri dan temannya itu. Dia juga ingin tahu ada hal konyol seperti apa lagi ini. Sepanjang dia menjabat menjadi capo dei capi entah sudah berapa kali Ethan menemukan orang-orang yang mengaku sebagai capo dei capi agar bisa mendapatkan keuntungan dari organisasi-organisasi mafia yang lain. Tapi untungnya, Ethan selalu punya tim dari Aquila Nera (Elang Hitam) yang bisa mengatasi orang-orang seperti itu. Dan E
"Cryssss!! Kau ada di sini juga?" tanya Christina pada Crystal. "Ah, iya," jawab Crystal singkat "Uuuugh .... kau sedang bersama suamimu yang hot itu?" bisik Christina pada Crystal sambil terkekeh. "Husss!!" Crystal langsung mencubit perut Christina. "Owhh ... Crys! Kau posesif sekali! Hahaha ... Apa kalian ke sini hanya untuk dinner? Atau juga untuk melewatkan malam yang something .... hot? Hahaa!" "Tutup mulutmu, Christine. Jangan membuatku malu," kecam Crystal sambil membekap mulut Christina yang sepertinya tak pernah diajari adab itu. Andrew yang melihat itu menatap malas pada Christina dan Crystal. Dia tak menyangka kalau kedua orang itu ternyata saling mengenal sebelumnya. Sekarang lihat! Ternyata tak hanya saling mengenal, keduanya terlihat seperti sahabat baik yang telah lama saling mengenal. Dan oh, sama seperti wanita pada umumnya, mereka juga melakukan hal yang paling dibenci oleh Andrew dari s
"Oh, Tuhan. Kau sangat sensitif dan kau juga pemarah. Bagaimana kalau kalian berdua ikut saja ke mejaku? Aku akan mentraktir kalian banyak foie gras di sana. Hahahaha ... itu makanan yang sangat lezat, Crys. Kau tahu, itu adalah makanan kesukaan para mafia. Papa Ben, ayahmu juga sangat menyukai itu. Rasanya lembut dan gurih. Dan apa katamu tadi? Menyiksa hewan-hewan itu? Ah .... itu adalah alasan lain kenapa makanan itu begitu enak untuk dinikmati. Ada begitu banyak kesakitan dan pengorbanan di sana. Itu yang membuat makanan itu terasa lebih enak. Demikian pula yang kita dapatkan dari hasil menindas orang lain, melakukan hal-hal ilegal yang seharusnya dilarang oleh pemerintah. Bukannya kau pun sama saja? Semua yang kau nikmati saat ini nyaris tak ada beda dari foie gras. Pakaian, rumah dan segala kenikmatan itu kau kira Benigno mendapatkan itu dari mana, hmmm?" Lalu Andrew dengan tawa mengejek yang menyeringai menertawakan Crystal.Crystal ingin membalas, namun i
"Crys! Tenanglah!" bujuk Ethan.Sungguh, istrinya ini memang luar biasa. Crystal selalu bisa membuat kejutan-kejutan tak terduga yang membuat Ethan ... ehem ... seringkali merasa malu dibuatnya."Ethan! Bagaimana aku bisa tenang? Kau membawaku ke sini, ke restoran di mana orang-orang bisa mengolah sesuatu yang kejam untuk dijadikan makanan? Yang benar saja! Hei, Tuan Pelayan!Panggilkan siapa pun yang bertanggung jawab atas menu makanan yang disajikan di restoran ini!"Pelayan itu kini bingung dibuatnya. "Emm ... Nyonya ada apa? Kenapa anda begitu marah?" tanya pelayan itu."Kau masih bertanya kenapa aku marah? Hah? Apa kau tidak tahu bagaimana foie gras dibuat? Ohhh ... jangan-jangan kalian malah memelihara angsanya di sini dan mengolahnya sendiri begitu? Ya Tuhan ... kalian memaksa bebek-bebek itu untuk makan terus menerus di empat puluh hari kehidupan pertama mereka? Lalu kalian mengurungnya dalam kandang sempit dan kecil, apa benar b
"Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya itu bukanlah pengalaman yang buruk. Bahkan karena hal itulah aku memiliki kau dan Clarissa di hidupku. Jadi apanya yang membuat jera? Lagi pula disini ada kau kan? Kalau aku mabuk aku yakin kau akan segera mengamankanku di tempat yang tepat. Betul kan, Tuan Trovatelli?" godanya."Owh. Tempat yang tepat ya?" balas Ethan sambil manggut-manggut."Ya. Seperti di ranjang misalnya?" jawab Crystal sambil mencibir.Pelayan yang masih berdiri di samping mereka, sampai tertawa terkekeh dibuatnya. Lalu kemudian pelayan itu buru-buru menutup mulutnya sebelum apa yang dilakukannya menjadi masalah di kemudian hari."Ya, ya, ya. Terserah kau saja, Nyonya! Kau pun menyukainya, bukan? Tak perlu malu untuk mengakuinya," kata Ethan balas mencibir Crystal."Kau ini ..." Crystal memanyunkan bibirnya."Baiklah, untuk makanannya kau pilih apa, Crys?" tanya Ethan lagi.Crystal kembali melihat pada buku me
Crystal digandeng Ethan masuk ke dalam hotel layaknya seperti gentleman sejati. Ethan membukakan pintu untuk Crystal barulah kemudian ia membuka lengannya agar Crystal dapat menggandengnya."Nyonya Trovatelli, ikutlah denganku!" ajak Ethan.Crystal mengangguk senang dan memeluk lengan pria itu hingga kini mereka bergandengan tangan antara satu dengan yang lain. Ketika mereka masuk melalui pintu utama, seorang penjaga yang bertugas di depan pintu terlihat terperanjat saat ia melihat Ethan. Lalu dengan penuh rasa hormat meski tidak mengatakan apa-apa, penjaga itu mengembangkan tangannya, mempersilahkan Ethan dan Crystal untuk masuk ke dalam hotel."Ke sini, Crys!" ajak Ethan pada Crystal.Wanita itu tadinya ingin melangkahkan kaki ke arah resepsionis, namun Ethan malah menuntunnya untuk berjalan ke arah sebaliknya. Pria itu mengajaknya berjalan menuju lift."Apa kita tidak check-in dulu?" tanya Crystal pada Ethan.Ethan t