Apa?Utangnya sudah dibayar?Mana mungkin? Bukankah Herkules sudah marah?Wulan dan yang lainnya langsung bengong, bahkan Tuan Besar Basagita juga tertegun. Dia menggaruk telinga sambil bertanya, "Kalian ... kalian benar-benar berhasil mendapatkan uangnya?"Sambil mengangguk, Luna segera memberikan buktinya dengan hormat."Kakek, ini ceknya, Kakek lihat dulu."Setelah melihatnya beberapa kali, Tuan Besar Basagita pun menghela napas lega. Dia lalu mengangguk dan berkata, "Ini memang cek milik perusahaan Herkules."Ekspresi tegang di wajah setiap anggota Keluarga Basagita pun menjadi lebih lega.Kalau bisa mendapatkan uangnya, hal itu membuktikan bahwa Herkules tidak marah. Keluarga Basagita juga akan baik-baik saja."Huh! Kalian kira utangnya dibayar gara-gara kalian? Jangan mimpi!" Saat ini, Wulan tiba-tiba maju ke depan dan berkata, "Kalau bukan karena aku dipukul oleh Kak Herkules, mana mungkin kalian bisa mendapatkan uangnya?""Pasti karena Kak Herkules ingin meminta maaf kepadaku,
"Masih berpura-pura! Dari mana seorang idiot punya uang untuk membeli Hati Peri?"Sambil pamer ke arah Luna, Wulan pun berkata, "Nanti aku akan memakai Hati Peri untuk pesta ulang tahun, kemudian memakainya untuk tanda tangan kontrak dengan Grup Angkasa Sura. Bahagia sekali ...."Wisnu juga memuji adiknya, "Wulan, nantinya kamu akan menjadi wanita paling menarik perhatian di Kota Banyuli. Adapun beberapa orang, mereka bahkan nggak pantas berada di sisimu."Semua orang merasa iri. Tuan Muda David sangat baik hati, dia bahkan membelikan hadiah seperti Hati Peri.Kaya sekali.Ardika merasa kesabarannya sudah habis. Dia mengepalkan tangannya dan berjalan maju, tetapi dihentikan oleh Luna."Ardika, tenangkan dirimu.""Astaga, coba lihat tampang si idiot ini, dia ingin memukulku, ya?" ucap Wulan sambil berpura-pura takut."Kalau dia berani memukulku, aku akan menyuruh Kakek untuk mengusirnya dari Keluarga Basagita.""Gila! Orang idiot ini mau pukul orang."Tidak sedikit anggota Keluarga Basa
Yuni menerima kartu itu dengan ekspresi bingung, dia lalu bertanya, "Tuan Ardika, apakah ini kartu bank kami? Kenapa aku nggak pernah melihat yang warna hitam seperti ini?"Setelah Wulan dan David selesai bertransaksi, mereka pun mendekat ketika mendengar ucapan Yuni. Mereka juga melirik kartu bank di tangan Ardika."Haha, Ardika si pecundang ini, kamu ingin bertransaksi dengan kartu palsu, ya? Konyol sekali!"Wulan tertawa dengan keras. David juga ikut tersenyum sinis dan berkata kepada Amel, "Aku nggak tahan lagi, cepat usir si bodoh ini.""Baik, aku akan segera ...."Amel pun langsung mengangguk. Namun, ketika tatapannya jatuh di kartu hitam milik Ardika, dia langsung terdiam.Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi tidak yakin, dia lalu merebut kartu hitam di tangan Ardika."Yuni, kamu jaga dulu. Aku akan menanyakan kepada pimpinan cabang."Setelah merebut kartunya, Amel melihat kartu itu beberapa kali, kemudian berlari ke atas tanpa menoleh ke belakang.Wulan berjalan mendekat dan
Desi menatap Ardika dengan penuh kebencian, napasnya juga tampak terengah-engah. Kemudian, dia tiba-tiba berlari ke dalam dapur, lalu kembali dengan pisau di tangannya."Masih saja membual! Kalau bukan idiot seperti kamu, kami nggak akan diusir dari Keluarga Basagita.""Hari ini, aku harus membunuhmu."Selesai bicara, Desi pun melemparkan pisau di tangannya."Bu! Apa yang kamu lakukan?" teriak Luna. Wajahnya sudah menjadi pucat karena terkejut.Jacky juga terkejut, dia tidak menyangka Desi akan melempar pisau.Ketika pisau hampir mengenainya, Ardika malah tampak tenang. Dia hanya sedikit memiringkan tubuhnya, pisau pun mengenai pintu dan terjatuh ke lantai."Astaga!"Terdengar seruan kaget dari depan pintu.Semua orang menoleh ke belakang, lalu menyadari orang yang datang adalah Tony."Tony? Kenapa kamu datang?"Desi segera menenangkan diri dan menyambutnya.Setelah terkejut, Tony langsung menenangkan diri. Dia berusaha tersenyum dan berkata, "Bibi, aku mendengar bahwa kalian dikeluark
Kompleks Anggrek.Hari ini, Luna berdandan dengan cantik dan mengenakan baju baru.Namun, dia masih terlihat miskin."Ardika, aku sudah selesai, ayo berangkat."Luna tersenyum dengan ceria. Meskipun Ardika tidak bisa memberikan pesta ulang tahun yang meriah, Luna sudah merasa puas selama mereka bisa bersama.Ardika juga mengangguk sambil tersenyum. Ketika dia ingin menggandeng tangan Luna, Desi malah memukulnya.Desi lalu berkata dengan kesal, "Kamu mau pergi makan warung pinggir jalan dengan si idiot ini?""Tuan Muda Tony sudah memesan hotel bintang lima untukmu, dia memesan satu meja seharga dua ratus juta." Setelah itu, terdengar suara klakson yang keras.Desi pun menunjukkan ekspresi gembira sambil berkata, "Tony sudah datang, Luna, ayo kita pergi."Ketika mereka turun ke bawah, mereka melihat Tony yang mengenakan jas putih sedang memegang satu buket mawar merah muda. Dia berdiri di samping mobil Maserati.Melihat Luna turun ke bawah, dia segera mendekat."Luna, selamat ulang tahun
Suasana di depan hotel terasa sangat hening.Perhatian semua orang tertuju kepada Ardika dan Luna.Pesta ulang tahun Nona Luna?Kalau begitu, direktur utama Grup Angkasa Sura ... adalah Ardika?Anggota Keluarga Basagita langsung bengong, mereka juga sangat terkejut.Wulan juga merasa pusing."Nggak! Nggak mungkin ....""Pak ... Pak Henry, Apakah Anda salah ...."Wulan hampir saja pingsan, mana mungkin Ardika adalah direktur utama Grup Angkasa Sura?"Diam!"Henry langsung menampar wajah Wulan, aura seorang bos besar memang berbeda. Wulan yang ketakutan setengah mati langsung terjatuh ke tanah.Henry kembali berkata dengan hormat kepada Luna, "Nona Luna, silakan masuk.""Aku ...."Luna berdiri di tempat dengan tegang dan bingung. Dia tidak bisa menggerakkan kakinya, karena semua ini terasa tidak nyata.Pada saat ini, sebuah mobil Rolls-Royce yang panjang keluar dari hotel. Henry pun datang ke samping mobil, kemudian membukakan pintu untuk Ardika dan Luna.Sikap yang seperti seorang pelay
Tanpa menunggu Ardika menjawab, daftar hadiah sudah mulai dibacakan."Wali Kota Banyuli, Ridwan Basuki, memberikan hadiah satu lukisan bersejarah ....""Kepala Keluarga Unima, Keluarga Yendia, Keluarga Remax dan keluarga lainnya memberikan hadiah uang tunai sebesar 10 miliar.""Direktur Irwan, Direktur Calvin, Direktur Bella ...."Ketika sampai di aula pesta, orang-orang yang sedang menunggu langsung terkejut.Orang-orang dari pemerintahan dan dunia bisnis, bahkan ada orang-orang dari dunia kepolisian dan dunia bawah.Semua orang besar di Kota Banyuli datang merayakan pesta ini serta memberikan hadiah yang mahal.Herkules yang bertugas membacakan nama juga diam-diam menelan ludah. Meskipun Herkules sudah sering melihat banyak hal, dia juga tidak pernah melihat hadiah yang begitu mahal.Ketika Tuan Besar Basagita mendengar daftar hadiah yang diberikan, matanya memancarkan kecemburuan, terutama si Wulan.Kalau semua hadiah itu diberikan kepada Keluarga Basagita, mereka pasti akan sangat
Ardika tersenyum dan menjawab, "Bu, aku adalah direktur utama dari Grup Angkasa Sura."Wajah Desi sangat merah, dia terus menggenggam lengan Ardika dan tidak mau melepaskannya lagi.Direktur utama dari Grup Angkasa Sura adalah menantunya. Kalau begitu, bukankah Desi akan menjadi ibu mertua kaya raya di Kota Banyuli?Lain kali, ketika berkumpul dengan teman-temannya, dia akan merasa sangat bangga.Semua sahabat yang sering merendahkan Desi mungkin akan berlutut untuk memujinya lagi.Melihat tumpukan hadiah yang sangat banyak itu, Tuan Besar Basagita tidak bisa menahan diri. Dia pun membawa segelas anggur dan mendekat, lalu berkata, "Luna, belakangan ini keuangan Grup Agung Makmur sedang bermasalah, apakah kamu boleh membagikan sedikit hadiahnya kepada kakek? Anggap saja kontribusi kepada keluarga ...."Setelah mendengarnya, Desi langsung tidak senang."Tuan Besar, aku ingat kami sudah dikeluarkan dari Keluarga Basagita, 'kan? Kenapa kami harus berkontribusi terhadap keluarga?"Tuan Besa
"Ardika, bukannya kamu sangat hebat?""Ayolah, sekarang Tuan Muda Cahdani sudah berdiri tepat di hadapanmu, apa kamu berani mengatainya anjing sekali lagi?"Gijran memasang ekspresi mempermainkan.Saat ini, dia sedang berdiri membelakangi Cahdani, jadi dia tidak melihat saat ini raut wajah Cahdani sudah berubah menjadi seburuk apa.Ardika melirik Cahdani sekilas, lalu tersenyum tipis dan berkata, "Cahdani, coba kamu menggonggong dulu, aku mau dengar."Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Ardika, suasana di tempat itu kembali berubah menjadi hening.Orang yang satu ini benar-benar masih ingin melanjutkan aksi cari mati?"Pfffttt ...."Gijran tertawa dengan mengeluarkan suara. Dalam hatinya, dia berkata, 'Ardika ini benar-benar bodoh! Aku mendorongnya untuk terus memprovokasi Cahdani, dia nggak hanya memprovokasi, bahkan makin menjadi-jadi. Benar-benar cari mati!'"Tuan Muda Cahdani, kamu sudah mendengarnya, 'kan?""Si Ardika ini nggak hanya mengataimu anjing, dia bahkan memintamu untu
Begitu mendengar ucapan Gijran, Cahdani mencibir, sorot matanya berubah menjadi sangat dingin.Secara naluriah, dia teringat Ardika, pria itu juga begitu arogan.Hanya saja, Ardika begitu arogan memang karena punya modal untuk itu.Dengan identitas sebagai ketua Organisasi Snakei cabang Gotawa, serta orang yang diundang secara pribadi oleh Vanya, sang Ratu Ular, untuk membersihkan Organisasi Snakei cabang Gotawa, biarpun dia luar biasa arogan, juga wajar saja.Namun, atas dasar apa orang asing yang satu ini berani bersikap begitu arogan?"Malam ini aku mau lihat apakah orang asing ini adalah naga asli, atau hanya serangga yang suka membual!" kata Cahdani dengan dingin.Saat ini, melihat sosok Cahdani yang penuh percaya diri dan luar biasa arogan itu, para nona di sekeliling tempat itu merasakan getaran yang kuat dalam hati mereka.Cahdani adalah putra sulung Sirilus, ketua Organisasi Snakei cabang Provinsi Denpapan.Pria ini memiliki kekuasaan Organisasi Snakei cabang Provinsi Denpapan
Ada orang luar kota yang baru datang ke ibu kota provinsi berani memprovokasi Gijran?Tanpa banyak bicara lagi, Cahdani memutuskan untuk datang sendiri. Lagi-lagi orang dari luar kota.Dia tidak bisa menginjak-injak Ardika, bukan berarti dia tidak bisa menginjak-injak orang lain!Karena memilih untuk menjadi orang luar kota yang berlagak hebat di dalam wilayah ibu kota provinsi, maka malam ini bocah itu sudah ditakdirkan untuk sial!Jadi, Cahdani bergegas memanggil anak buahnya, lalu datang secepat mungkin."Tuan Muda Cahdani, kamu sudah datang!""Tuan Muda Cahdani, apa kamu terluka? Kamu harus memperhatikan kondisi tubuh sendiri ....""Ya, benar. Tuan Muda Cahdani adalah sosok tokoh yang mewakili kami, para generasi muda ibu kota provinsi ...."Melihat Cahdani melangkah maju, para nona dan tuan muda itu segera melangkah mundur, membuka jalan untuk Cahdani. Selain itu, dengan senyum lebar menghiasi wajah mereka, mereka menyapa Cahdani, bahkan terkesan menyanjung dan menjilat pria itu.
Kelihatannya persyaratan Ardika tidak sekejam persyaratan Ardika.Akan tetapi, lebih nyata.Hal ini membuat semua orang di tempat itu mengerti, Ardika berbicara serius, tidak sedang bercanda.Banyak orang yang membelalak kaget, menatapnya dengan tatapan terkejut.Bagaimana orang kampungan ini bisa begitu berani? Di hadapan mereka yang berjumlah begitu banyak, bocah itu masih berani melawan Gijran?Sangat jelas Gijran juga tidak menyangka, Ardika masih berani melawannya seperti ini.Dia langsung melompat turun dari mobilnya dan berkata dengan marah, "Eh, Ardika, kalau kamu terus memprovokasiku seperti ini, nanti kamu akan berakhir dengan lebih mengenaskan lagi!""Saat aku turun tangan sendiri nanti, persyaratan akan makin bertambah!"Ardika melirik sekeliling, lalu tertawa pelan dan berkata, "Gijran, kalau kamu hanya memanggil para pecundang ini kemari, sebaiknya kamu segera berlutut, lalu merangkak menuju ke arah akses keluar tempat parkir bawah tanah ini.""Bagaimanapun juga, jaraknya
Ardika mengirimkan foto ikan yang dimakannya sebelumnya kepada Luna. Kemudian, dia juga mengetikkan pesan balasan kepada Luna. Dia meyakinkan istrinya dia baik-baik saja di ibu kota provinsi, meminta istrinya untuk tidak mengkhawatirkannya.Tentu saja Luna tidak tahu, baru hari pertama tiba di ibu kota provinsi saja, Ardika sudah mengalami serangkaian kejadian.Ardika menyunggingkan seulas senyum bahagia.Orang-orang mengatakan dia sudah diusir oleh istrinya, tetapi mereka tidak tahu istrinya bahkan ingin menyusul ke ibu kota provinsi untuk menemaninya.Akan tetapi, melihat senyumannya itu membuat amarah Gijran mencapai titik puncaknya.Sekitar belasan menit kemudian, satu per satu mobil mewah melaju kemari.Model mobil-mobil ini cukup unik dengan penampilan luar yang menawan. Hanya dengan melihat luarnya, sudah bisa diketahui karakter masing-masing pemilik mobil.Ya, kenyataannya memang demikian.Kalangan pertemanan Gijran di ibu kota provinsi sangat luas, dia memanggil semua tuan mud
"Kalau orang yang kamu panggil kemari benar-benar bisa membuatku takut, aku akan mematahkan kedua lengan dan kedua kakiku untukmu."Selesai berbicara, Ardika melayangkan satu tamparan lagi, hingga tubuh Gijran terpental keluar, lalu tergeletak di lantai dan dalam kondisi berkedut."Apa lagi yang kalian tunggu? Apa gunanya Tuan Muda Gijran memelihara kalian? Cepat serang!"Saking ketakutannya, wanita cantik itu langsung berteriak dengan suara melengking.Akhirnya, para tindak pelaku kriminal yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu tersadar kembali. Mereka segera mengeluarkan senjata sendiri, lalu menerjang ke arah Ardika."Kak Ardika, biar aku saja!"Tanpa perlu Ardika turun tangan sendiri, Levin sudah menyambut orang-orang itu dengan ekspresi senang dan penuh semangat. Dia bahkan menghadapi lawannya dengan tangan kosong.Dengan iringan serangkaian suara tamparan, satu per satu dari dua puluh orang itu terjatuh ke lantai dan mengeluarkan teriakan menyedihkan.Setelah mulai bekerja un
Semua orang tercengang menyaksikan pemandangan itu!Tidak ada yang menyangka dalam situasi seperti ini, Ardika berani menyerang dengan begitu liar.Selain itu, dia bahkan menyiksa Gijran tanpa berbelas kasihan, menggunakan cara seperti ini untuk menyiksa Gijran.Baik wanita itu maupun para pengikut dan para pelaku tindak kriminal di tempat itu, mereka merasa seperti menyaksikan sesuatu hal yang baru.Ini adalah pertama kalinya, ada orang yang berani melawan Gijran dengan kekerasan di wilayah ibu kota provinsi, bahkan menyiksa Gijran dengan cara seperti ini.Bagaimanapun juga, dia adalah keponakan Wali Kota Ibu Kota Provinsi.Bahkan para ketua preman di berbagai wilayah pun, setelah mengetahui identitas Gijran, mereka akan memperlakukannya dengan sopan dan ramah.Kalau berani menyinggung Gijran, walaupun kamu adalah seorang ketua dunia preman, juga akan lenyap kapan saja.Bagaimanapun juga, sejak zaman dahulu, rakyat biasa tidak pernah melawan para pejabat.Terlepas dari seberapa hebat
Gijran mengisap rokoknya. Melalui asap rokok yang menutupi pandangannya, dia menatap Ardika sambil tersenyum palsu.Adapun mengenai sorot mata dingin Ardika, dia sama sekali tidak peduli.Saat ini, wanita yang sebelumnya dipeluk oleh Gijran itu, melangkah maju, merangkul lengan Gijran dan berkata dengan nada bicara manja, "Eh, bocah, cepat lakukan instruksi Tuan Muda Gijran! Aku berani jamin, kalau Tuan Muda Gijran sampai turun tangan sendiri, nasibmu pasti akan sangat ... sangat mengenaskan!"Para pelaku tindak kriminal yang berada di sekeliling tempat itu juga menatap Ardika dengan lekat sambil tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka menunjukkan dengan jelas mereka sangat meremehkan Ardika.Mereka sempat mengira bocah yang berani melawan Gijran ini adalah seorang tokoh hebat.Eh, ternyata hanya seorang bocah kampungan yang berasal dari sebuah kota kecil.Dengan identitas Gijran, dia bahkan bisa bertindak semena-mena di ibu kota provinsi. Ada banyak tuan muda keluarga kaya yang suda
"Oh? Kalau begitu, itu artinya kamu kurang berwawasan.""Tapi, sekarang seharusnya kamu sudah menambah wawasanmu."Menghadapi sindiran Gijran, Ardika tetap bersandar di kepala mobil dan menanggapinya dengan santai."Kamu bilang aku kurang berwawasan?"Gijran tertawa mendengar ucapan Ardika. Namun, raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin, sangat aneh.Bagi orang-orang yang sudah mengenal Gijran sudah tahu.Setiap kali dia menunjukkan ekspresi seperti itu, pasti akan ada orang yang tertimpa masalah.Tertimpa masalah besar!Walaupun Gijran bukan tuan muda keluarga kaya, juga bukan pangeran dari keluarga bangsawan, tetapi dengan mengandalkan pamannya, Jace, yang merupakan Wali Kota Ibu Kota Provinsi dengan kedudukan setara dengan wakil kodam, tentu saja dia selalu bertindak arogan.Paling tidak, di ibu kota provinsi, dia bisa bertindak sesuka hatinya."Eh, Ardika, kamu benar-benar terlalu menganggap serius dirimu, ya?"Dengan memasang ekspresi muram, Ardika mengisap rokoknya. Dia menat