Share

Bab 50.

Author: Ellea Neor
last update Last Updated: 2025-01-11 10:39:58
Clara ingin sekali memprotes nama panggilan itu, namun Sebastian lebih dulu menyela. "Roger, perkenalkan ini Clara."

"Selamat datang, Nyonya Clara," sapa pria setengah baya dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu. Dilihat dari penampilannya, mungkin saja Roger ini sekelas Andrew.

Clara mengangguk sopan kemudian berkata. "Halo, Tuan Roger."

"Apa semuanya sudah siap?" Kini giliran Sebastian yang bertanya.

"Sudah, Tuan. Mari silakan masuk," ucap Roger.

Pintu utama terbuka. Sebastian dan Clara memasuki ruang tamu.

Clara mengedarkan pandangannya. Villa ini sangat besar, dan juga megah.

Dari banyaknya Villa yang berdiri di pegunungan ini, milik Sebastian lah yang paling megah.

Sebastian mengajak Clara untuk naik ke lantai atas di mana kamar utama berada.

Pintu kamar dibuka. Ketika Clara masuk, dia mendengar suara berisik dari luar jendela. Clara berjalan mendekati kusen jendela dan mengintip dari tirai yang tersibak sedikit. Seketika itu Clara membulatkan mata.

"Air terjun?" gumam Clara.

Gumam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 51.

    Clara terdiam beberapa saat. Bukannya Clara merasa besar kepala. Namun, sosok yang disebutkan Sebastian sangat mirip dengan dirinya saat masih kecil.Dulu mendiang neneknya suka sekali mengepang rambutnya, itu sebabnya sang nenek melarangnya untuk memotong rambut tersebut. Lalu sang kakek selalu berkata, bahwa rambut adalah salah satu mahkota terindah bagi perempuan. Itu sebabnya Clara begitu menjaga serta merawat kesehatan rambutnya."Rambutmu bagus, Clara."Ucapan Sebastian seketika menyentakkan Clara dari lamunannya. Wanita itu melirik ke samping dengan ekor mata yang mengarah ke belakang. Dia dapat melihat Sebastian sedang bermain-main dengan rambutnya, sesekali lelaki itu menciumnya."Apa teman masa kecil Tuan suka berkebun?" tanya Clara penasaran."Kenapa kamu bisa tahu?"Clara kembali terdiam. Dia merasa sangat aneh. Jantungnya kembali berdegup kencang. "Hanya menebak saja," ucap Clara akhirnya. "Apa Tuan tidak mencarinya?" tanya Clara lagi."20 tahun, aku sudah mencarinya ke ma

    Last Updated : 2025-01-11
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 52.

    Sebastian seketika menutup bukunya, kemudian menatap Clara. Wanita itu nampak menggigil kedinginan. Sebastian meletakkan bukunya di atas nakas kemudian berdiri dari duduknya, dia meraih remote lalu menyalakan penghangat ruangan. Jendela ditutup rapat, lalu tirai juga dirapatkan.Setelah memastikan ruangan dalam kondisi hangat, Sebastian naik ke atas ranjang. Dia membuka kancing kemejanya kemudian merebahkan diri di dekat Clara.Wanita itu merubah posisinya menghadap Sebastian dan menenggelamkan diri di dada bidang pria itu.Sebastian merengkuh tubuh Clara dan memeluknya dengan sangat erat.Cara ini memang sangat akurat untuk menghangatkan tubuh. Clara tidak menolak, dia justru merasa sangat bersyukur karena Sebastian sudah membantunya."Terima kasih, Tuan," ucap Clara. Dia tidak lagi merasa sungkan terhadap Sebastian."Tidurlah, sepertinya kamu tidak cocok dengan cuaca di sini, besok kita pulang saja," kata Sebastian.Clara mengangguk. Kali ini dia setuju dengan ucapan Sebastian. Clara

    Last Updated : 2025-01-11
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 53.

    Clara demam, suhu tubuhnya mencapai 41 derajat celcius. Hal itu jelas membuat Sebastian panik. Dokter Daniel menyarankan agar dilakukan pengompresan. Selain penanganan medis, cara itu cukup membantu menurunkan panas pada tubuh. Sebastian memerintahkan Andrew untuk membawakan keperluan yang dibutuhkan untuk mengompres tubuh Clara. Sementara Sebastian memastikan secara langsung dengan meletakkan punggung tangannya pada dahi Clara.Dan benar saja, suhu tubuh wanita ini benar-benar panas.Dokter Daniel menatap sahabat sekaligus tuannya ini, pertama kalinya dia melihat kekhawatiran di wajah pria yang selalu terlihat dingin dan ketus. Hingga Dokter Daniel berpikir bahwa Sebastian menyimpan perasaan terhadap wanita ini.“Jadi siapa dia?” tanya Dokter Daniel.Sebastian menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan kesal. Rupanya temannya ini tidak menyerah.“Tidak bisakah kau bekerja saja. Jangan banyak tanya!” protes Sebastian.Dokter Daniel mendecak. “Masih saja kau menganggapku ini orang la

    Last Updated : 2025-01-12
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 54.

    Clara seketika menutup mulutnya. Tidak ingin membangunkan Sebastian. Clara memiringkan kepalanya. Dia menatap Sebastian yang masih terlelap. Jika dilihat dalam kondisi seperti ini, Sebastian terlihat sangat polos, sebagian rambutnya menutupi matanya terpejam. Rasa-rasanya membuat Clara merasa iba.Melihat posisinya saat ini, sepertinya Sebastian telah menjaganya semalaman. Dan itu membuat Clara merasa tidak enak hati. Ternyata Sebastian tidak seperti yang dia pikirkan. Tangan Clara terulur hendak menyentuh wajah pria itu, namun Clara mengurungkannya. “Tuan, jika Anda sebaik ini, bagaimana bisa saya tidak menggunakan perasaan saya.”Perlahan Clara turun dari atas ranjang, Clara mencoba untuk tidak bersuaraagar tidak mengganggu tidur Sebastian.Clara lantas berjalan ke arah kamar mandi.Tak lama kemudian, Sebastian terbangun dan melihat Clara tidak ada di tempatnya. Dia seketika panik, namun ketika mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, seketika itu Sebastian merasa lega.

    Last Updated : 2025-01-12
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 55.

    Sebastian tidak mengerti, mengapa ibunya datang pagi-pagi begini tanpa memberi kabar? Sebastian mendunga bahwa ini ada kaitannya dengan masalah penerus. Sebastian juga tidak tahu jelasnya. Namun yang jelas dia harus menyembunyikan Clara."Clara, kamu masuklah ke kamar!" titah Sebastian.Clara mengangguk. Kemudian dia berdiri dari duduknya dan segera menuju ke arah tangga. Selang beberapa menit, seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia yang memasuki kepala 6 memasuki muncul dari arah depan."Good morning, My Emperor," sapa Sania Abraham."Kenapa tidak memberi kabar?" Sebastian melirik ke arah kursi yang baru saja ditinggalkan Clara, kini diduduki oleh Sania."Tidak sempat, Mom kemari karena ada sesuatu." Tatapan Sania jatuh pada piring yang ada di depannya. "Oh, apa ada orang lain di sini?" Sania celingukan.Sebastian memejamkan mata. Dia melupakan hal yang satu itu."Tidak, Mom," jawab Sebastian.Kening Sania mengkerut. Dia merasa ada yang aneh. Dia meneliti gelas yang ada di

    Last Updated : 2025-01-13
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 56.

    Sofia semakin melotot saja. Dia merasa Clara ini menjadi sangat arogan. Apa karena dia sudah menjadi asisten Sebastian?"Memangnya kamu siapa ha?" sergah Sofia.Senyum Clara mengembang sempurna. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih."Kamu masih tanya siapa aku?" Clara maju satu langkah, mengikis jarak yang tersisa. Kemudian dia menatap wanita yang lebih pendek darinya itu. "Aku adalah Asisten pribadi kesayangan Tuan Bastian. Kamu ingin tahu bagaimana aku bisa membuatmu keluar dari sini, hmmm?"Kedua mata Sofia membola. Dia sungguh tidak terima."Kurang ajar kamu!"Plakkkk!Satu tamparan mendarat di pipi Clara. Dan membuat wanita cantik itu tertoleh ke kanan.Panas dan kebas menjalar di sekitar wajah. Meski begitu, Clara tetap tersenyum. Dia kembali menatap Sofia dan menampakkan senyumnya itu."Hanya segitu saja?" tanya Clara dengan nada meremehkan.Mendengar itu, Sofia naik pitam. Dia kembali mengangkat tangannya, hendak memberikan tamparan kedua namun, tiba-tiba tanganny

    Last Updated : 2025-01-13
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 57.

    Clara terdiam untuk beberapa saat. Hanya karena itu, Sebastian sampai memecat Sofia? Clara merasa terharu, namun dia tidak boleh terlena begitu saja. Clara memang tidak menyukai Sofa. Akan tetapi, dia tidak akan membiarkan wanita itu dipecat. Sofia akan semakin membencinya jika ini benar-benar terjadi. Itu sebabnya Clara harus membujuk Sebastian."Tuan..." Clara hendak bicara, namun segera dipotong oleh gerakan tangan Sebastian. Pria itu mengarahkan pandangannya kepada Ramon."Ramon, bawakan aku kotak P3K!" titah Morgan."Baik, Tuan."Setelah Ramon meninggalkan ruangan, Sebastian kembali pada Clara."Duduk!" titahnya lagi.Clara menelan saliva. Nada bicara Sebastian yang sangat dingin membuat Clara tak mampu menolak. Dia sudah hapal tabiat Sebastian yang memang tidak suka dibantah. Lagi pula dirinya tidak ingin menambah masalah.Tak lama kemudian, Ramon kembali muncul dengan kotak P3K di tangan. Dia lantas memberikannya kepada Sebastian."Ini, Tuan.""Baiklah, kamu boleh pergi. Oh ya,

    Last Updated : 2025-01-14
  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 58.

    Kalung berlian dengan permata zamrud berwarna merah menyapa indera penglihatan Clara. Sesaat dia merasa terlena. Berlian ini sangat indah.Sebastian melirik ke samping. Sudut bibirnya terangkat ke atas. Kebahagiaan terpancar di wajahnya ketika melihat ekspresi Clara."Permata Zamrud berwarna merah itu sesuai dengan warna gaunmu," ucap Sebastian."Terima kasih, Tuan. Apa saya boleh memakainya?" tanya Clara."Tentu saja, biar aku yang pakaian."Mendengar itu, Clara tidak keberatan.Dia memposisikan dirinya memunggungi Sebastian. Dan membiarkan pria itu memasangkan kalung di lehernya. Clara menatap permata merah yang menggantung di lehernya."Ini benar-benar sangat indah," gumam Clara."Selesai.""Terima kasih, Tuan."Sepanjang perjalanan, keheningan menemai keduanya.Saat hampir sampai. Sebastian baru membuka suara."Clara, dengarkan aku baik-baik. Saat keluargaku bertanya tentang kehidupan pribadimu, kamu tahu 'kan apa yang harus kamu katakan?" tanya Sebastian."Ya, Tuan."Clara tahu, S

    Last Updated : 2025-01-14

Latest chapter

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 180.

    Di mansion, kehidupan terus berjalan dengan suasana yang semakin hangat. Hari-hari Sania dihabiskan bersama Kaisar dan Clara, menciptakan ikatan yang semakin erat di antara mereka. Sebastian, yang dahulu kaku dan menjaga jarak, mulai menunjukkan sisi lembutnya. Ia tak lagi canggung menyaksikan interaksi ibunya dengan Clara dan putranya. Suatu sore, Sania membawa Kaisar ke taman kecil di belakang mansion. Clara menemaninya, membawa selimut kecil untuk alas duduk mereka. Kaisar yang mulai aktif menggerakkan tangan dan kakinya tampak begitu ceria dalam dekapan neneknya. "Dia semakin aktif setiap hari," kata Clara sambil tersenyum. Sania mengusap kepala cucunya dengan lembut. "Ya, dia tumbuh dengan sangat baik. Aku bahagia bisa melihatnya berkembang seperti ini." Clara menatap Sania dengan penuh penghargaan. "Mom, aku ingin berterima kasih. Kehadiran Mom benar-benar membuat keluarga ini lebih lengkap. Aku bisa melihat Sebastian juga mulai menerima Mom sepenuhnya." Sania menatap Clara

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 179.

    Hari-hari berlalu dengan penuh kehangatan di mansion. Sania semakin sering datang, selalu membawa berbagai perlengkapan bayi atau hadiah kecil untuk Kaisar. Hubungan antara dirinya dan Clara pun semakin akrab.Sebastian yang awalnya masih menjaga jarak dengan ibunya, perlahan mulai menerima kehadiran Sania dalam kehidupan mereka. Ia melihat betapa ibunya benar-benar berusaha menebus kesalahan di masa lalu.Suatu sore, saat Sebastian baru saja pulang dari kantor, ia mendapati pemandangan yang menghangatkan hati. Sania tengah duduk di ruang keluarga, memangku Kaisar yang sudah tertidur pulas. Di sampingnya, Clara tersenyum sambil menyesap teh hangat.Sebastian berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya. "Sepertinya Kaisar semakin dekat dengan Mom," ujarnya pelan.Sania mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Tentu saja. Dia adalah cucuku, dan aku ingin berada di sisinya sebanyak mungkin."Sebastian terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Terima kasih, Mom."Sania menatap putranya de

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 178.

    Dareen mengernyitkan dahi, merasa tidak nyaman dengan nada tegas pria di hadapannya. "Apa maksud Anda?" tanyanya dengan nada kesal.Pria itu tetap tenang, tatapannya dingin dan profesional. "Reservasi Anda telah dibatalkan, Tuan. Kami menerima perintah langsung dari pemilik hotel. Anda memiliki waktu satu jam untuk meninggalkan tempat ini."Dareen terkekeh sinis. "Batal? Aku sudah membayar untuk satu bulan penuh!""Benar, namun pemilik hotel memiliki kebijakan untuk tidak menerima tamu dengan riwayat... mencurigakan," jawab pria itu tanpa ekspresi.Dareen semakin bingung. "Riwayat mencurigakan? Omong kosong macam apa ini?"Pria itu tidak menjawab, hanya menyerahkan sebuah amplop berisi dokumen. Dareen merobeknya dengan kasar dan membaca isi surat di dalamnya. Matanya membelalak saat melihat sebuah nama yang tidak asing baginya—Abraham."Brengsek..." gumamnya, meremas kertas di tangannya. Jadi ini ulah Abraham? Dia bahkan tidak menyangka pria tua itu masih memiliki pengaruh sebesar ini

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 177.

    Tiada hari tanpa kehadiran Sania. Pagi-pagi sekali wanita itu datang dengan beberapa tas belanja di tangan. Kedatangan wanita itu jelas membuat heboh penghuni mansion. Para pelayan tengah sibuk dengan pekerjaan dapur, perhatian mereka teralihkan oleh perhatian Sania. Penasaran lantaran kedatangan Nyonya besar mereka sepagi ini. Menimbulkan berbagai macam pertanyaan di benak mereka. "Apa yang membuat Nyonya Besar datang sepagi ini?" "Ada urusan apa?" Suara-suara bisikan itu menggema di antara suara dentingan peralatan dapur. Para pelayan yang belum terbiasa dengan kedatangan Sania jelas merasa heran. Seperti yang mereka tahu, tuannya sempat tidak menghendaki kedatangan kedua orang tuanya lantaran sempat berselisih paham dalam kurun waktu yang cukup lama.Namun, keberadaan Clara mampu mencairkan hubungan mereka yang sempat memanas. Kedatangan Clara dalam keluarga ini memang benar-benar membawa keberuntungan. "Semua berkat Nyonya Clara. Hubungan Tuan dan kedua orang tuanya jadi mem

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 176.

    Sejak hari itu, hubungan Clara dan kedua orang tua Sebastian mulai membaik. Sania kembali datang, kali ini dia seorang diri karena Leonard tengah disibukkan oleh urusan Abraham Group. Pria itu kembali menjadi pemimpin perusahaan tersebut dan kembali membangun kekuatan dari nol. "Nyonya Sania di sini, Nyonya." Clara yang tengah bersantai dengan Kaisar sembari berjemur segera menatap pelayan yang memberi laporan. Wanita cantik itu menyunggingkan senyumnya. Tidak terkejut, lantaran Sania sudah berkata akan kembali esok hari. Rupanya wanita itu menepati ucapannya. Clara lantas bangun, bersiap untuk menyambut kedatangan sang ibu mertua. Kaisar yang kini lelap dalam kereta bayi itu didorong masuk. Sania berdiri dari duduknya ketika mendengar suara ketukan sepatu yang mulai menggema, ketika dia menoleh, wajah antusiasnya segera terlihat. "Cucuku!" Sania melangkah cepat, sedikit berlari menghampiri Kaisar. Dia bahkan tidak menyapa Clara karena terlalu bersemangat terhadap cucunya. Bayi

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 175.

    Clara mendelik, pupil matanya membesar. Dari pada mendengarkan ucapannya, sepertinya suaminya ini tetap bersikeras dengan keinginannya untuk tidak memaafkan kedua orang tuanya. Sementara Clara memiliki pemikiran yang berbeda dengan pria itu. Bagi Clara, berhubungan baik dengan kedua orang tua adalah hal yang penting. Sania yang mendengar itu, wajahnya seketika berubah sendu. Sementara Leonard seperti sebelumnya, terlihat dingin dan datar seolah apa yang dikatakan oleh Sebastian adalah hal yang biasa. Kenyataannya, dia memang mulai terbiasa dengan sikap puteranya. Sebastian memperhatikan perubahan wajah Sania. Sedikit iba. Namun, dia masih tidak bisa melupakan perlakuannya terhadap Clara. Bisa jadi, hal itu akan terulang kembali suatu hari nanti. "Kalian pergi saja, acara sudah selesai. Hadiahnya juga sudah kami terima." Kali ini Sebastian bicara dengan nada sedikit ringan. Kemarahan yang sempat menghiasi wajahnya sedikit mereda. Clara yang sejak tadi mengamati, kini mendekati sua

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 174.

    Clara terpejam, kala sebuah sentuhan dia rasakan di bibirnya. Clara dapat merasakan hawa panas yang mengalir dari sentuhan bibir Sebastian. Deru napasnya yang begitu memburu kuat. Kemudian, pegangan di pinggangnya semakin mengencang. Membuat tubuh Clara seketika menegang. Clara refleks menekan kukunnya di pundak Sebastian, menekannya dengan kencang. Setiap pagutan terasa begitu liar, indera perasa Sebastian menjelajah memasuki rongga mulut istrinya. Clara merasakan mulutnya penuh. Dalam hatinya ingin sekali menolak, namun tubuhnya bereaksi berbeda. Bukan hanya sekedar menerima, melainkan mendorongnya untuk melakukan lebih. Sebelum Clara akhirnya benar-benar hanyut dalam permainan panas dan penuh gairah, Clara segera tersadar. Dia menarik diri, dan melepaskan pagutannya. "Sayang..." Dada bidang suaminya itu didorong pelan. Dan itu sempat membuat Sebastian kesal. "Kamu jangan coba menahanku, kamu tahu aku sudah lama berpuasa..." Clara tahu itu bohong. Buktinya saat hamil besar, s

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 173.

    Clara menoleh, matanya yang terang menyipit kala menangkap siluet seseorang yang baru saja menghilang di balik dinding ruangan. Sebelah sudut bibirnya ditarik sedikit. Dia berusaha untuk mengabaikan semua itu, meski dia belum benar-benar bisa melakukannya. Dia mencoba fokus pada puteranya yang kini berada dalam gendongan ibu mertua. Clara ingin sedikit tinggal lebih lama, menikmati momen yang mungkin saja tidak akan kembali terulang. Namun, semakin lama dia tinggal, ada perasaan yang mengusiknya. Dia tidak bisa mengabaikan Sebastian begitu saja. Selanjutnya, Clara beranjak dari kursinya. Kaisar masih terlelap, sementara kedua mertuanya masih ingin Kaisar bersama mereka. Jadi tidak masalah bila Clara meninggalkan mereka. Clara melangkah ke arah di mana siluet tubuh Sebastian menghilang. Tujuannya sudah jelas, Clara tahu ke mana perginya suaminya itu. Ketika sudah dekat, Clara melihat pintu Paviliun tertutup, sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Meski begitu Clara yakin,

  • Melahirkan Anak Presdir Posesif   Bab 172.

    "Clara!" Clara menatap ke arah Sebastian sekilas. Kemudian melangkah mendekati Leonard dan Sania dan berhenti tepat di hadapan mereka. "Apa kalian ingin melihat bayi kami?" Clara memiringkan sedikit tubuhnya, supaya kedua mertuanya dapat melihat bayi yang tertidur lelap, sembari bersembunyi di ketiak ibunya. Sania menatap Leonard berkaca-kaca. Ketika Sang suami mengangguk, dia segera kembali fokus pada wanita di hadapannya. "Apa aku boleh menggendongnya?" Air mata telah menggenang di sudut mata Sania. "Tentu saja," kata Clara dengan senyum ramah. Air mata Sania menetes. Akhirnya dia mendapatkan keinginannya. Memeluk dan menggendong sang cucu. Kaisar menggeliat ketika dipindahkan dalam gendongan Sania, dan itu membuat Sania merasa gemas. Dengan berhati-hati dia mendekap bayi mungil itu supaya tidak terbangun. Dan sesuai dengan keinginannya, Kaisar kembali tertidur seperti semula. Seolah tidak terganggu dengan dunia sekitar. Tangis haru Sania berubah menjadi senyum kebahagiaan.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status