Share

Me and You
Me and You
Author: Iccan

Mencari

Author: Iccan
last update Last Updated: 2022-03-24 22:32:05

“Mau gak nikah sama kakak?” tanya Irsya.

Apa Irsya baru saja melamarnya? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Irsya sudah ia anggap sebagai Kakak sama seperti Rara sahabatnya.

Ica bingung harus menjawab apa sekarang. Situasi seperti ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Emm ...”

“Maaf kalo lancang,” kata Irsya lagi.

“Ica gak tahu, Kak.” Ica masih tidak tahu harus menjawab apa.

“Gak harus dijawab sekarang, tapi kakak minta tolong kalo ada hal yang mau ditanyakan, tanya aja ke kakak, Rara, atau mamah sama papah.”

“Mereka tahu soal ini?”

Tentu saja Ica menanyakan hal ini karena sebelumnya di antara mereka tidak ada yang memberi tahunya atau pun sekedar berbasa-basi ke arah sana. Ahh yang benar saja.

Irsya menjawab, “tahu, kakak minta pendapat mereka terlebih dahulu sebelum kakak bicara sama kamu.”

Perkenalan Irsya dan Ica sudah lama sama seperti ia mengenal Rara. Namun, intensitas keduannya tidak sama sebab saat Ica dan Rara masih duduk di bangku sekolah Irsya sangat jarang bergabung dengan mereka berdua. Hanya satu tahun belakangan ini setelah Ica dan Rara menjadi mahasiswa barulah mereka bertiga sering jalan bersama meskipun Irsya kuliah di luar kota. Benar kata orang terkadang jarak malah mendekatkan yang jauh.

Seketika suasana menjadi hening, tak ada yang mampu melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

“Ini lagi pada sariawan atau gimana sih?” Kedatangan Rara mampu mencairkan suasana yang sudah sangat canggung.

Irsya dan Ica hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rara.

••••

Gadis dengan setelan syar’i berlari tergesah-gesar mengejar seorang pria yang terlihat gagah dari belakang. Keberuntungan masih berpihak padanya, dikarenakan kini dalam masa libur semester sehingga suasana kampus juga tidak begitu ramai mahasiswa yang datang. Keadaan ini sangat mendukung dirinya untuk berlari mengejar seseorang yang sedari tadi ia cari-cari keberadaannya.

Namun, tak disangkanya ternyata pria itu berlari sangat cepat sehingga tidak bisa ia kejar dengan tenaganya dan mungkin juga karena jarak dirinya dengan pria itu yang terlampau jauh.

“Huh cepat banget larinya,” gumamnya untuk pria yang gagal ia kejar tadi lalu mengatur nafasnya yang terengah-engah, “tahu gini mending aku sendiri aja yang dapat tugas dari Pak Habib!” gerutu gadis itu lagi sambil berbalik menuju perpustakaan dan menatap nanar tumpukkan kertas yang sedari tadi dibawanya.

Ia kira kali ini usaha untuk mencari pria itu akan selesai, tapi nyatanya tidak. Di tengah perjalanannya tiba-tiba ...

“Ayo, Ca. Udah ditungguin loh.” Tanpa aba-aba seseorang langsung menarik tangannya. Namun, yang ditarik hanya berjalan malas menanggapinya.

“Sabar dong,” balasnya menanggapi ucapan Rara, “habis lari-lari nih.”

Mutiara Azzahra atau yang sering dipanggil Rara adalah mahasiswa semester 3 fakultas manajemen disebuah universitas negeri di kotanya. Rara dan Ica sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku kelas 7 SMP. Pada saat hari kelulusan tiba Rara memilih masuk SMK sedangkan Ica memilih masuk SMA.

Kendati beda sekolah, tapi hal itu tidak membuat hubungan keduanya menjadi merenggang. Dengan berbedanya sekolah justru mereka memanfaatkan keadaan itu untuk saling bertukar informasi, pengetahuan dan banyak hal lainnya sehingga intensitas mereka semakin dekat dan sekarang keduanya memilih untuk masuk ke universitas dan fakultas yang sama.

“Ra,” panggil Ica lalu menahan tangan Rara agar berhenti dan mereka pun duduk pada kursi yang tersedia di sana.

Gadis itu berkata. “Apalagi?”

“Istirahat sebentar, ya,” ucap Ica memelas. Jujur saja saat ini ia butuh sedikit waktu untuk mengatur nafasnya.

Rara yang melihat ekspresi Ica saat ini hanya menurut saja. “Kamu tuh dari mana sih?”

“Panjang ceritanya, nanti aku certain,” jawab Ica lesu, “oya buku yang aku pinjam kamu bawain gak?” lanjutnya lagi.

“Gak!”

Mendengar jawaban Rara, Ica langsung berdiri namun, tangannya terlebih dulu dicekal oleh Rara. “Kamu ke depan dulu aja.”

Rara mengeluarkan sesuatu di tasnya tanpa melepaskan tangan Ica digenggamannya dan memberikan benda itu pada Ica.

“Nih, udah ayo,” kata Rara menggandeng tangan Ica pergi dari tempat itu agar segera menemui seseorang di parkiran kampus.

“Kak Irsya.”

Rara melambaikan tangan kepada pria yang bersandar pada mobil hitam di depannya. Tanpa membuang waktu ia langsung menghamburkan pelukan padanya.

“Maaf, Kak terlambat. Ica tuh lelet,” katanya sembari melempari wajah sebalnya pada Ica yang berada di samping dirinya.

Dengan melihat ke arah lain Ica membalas, “siapa suruh nungguin aku.”

“Huh!” sahut mereka bebarengan. Memang selalu kompak dalam hal apapun.

“Udah ... udah!” lerai Irsya, “gara-gara nungguin kalian kakak jadi pusat perhatian cewek-cewek, lumayan gak ada ruginya,” katanya berbohong karena sebenarnya Irsya itu tidak suka jika ada perempuan seperti itu.

“Idih PD boros,” ujar Rara.

Irsya tertawa mendengar ucapan sang adik. “Buruan masuk keburu siang.”

“Mmm ... maaf sebelumnya, Kak, tapi Ica gak bisa ikut,” dengan ragu ia mengatakannya.

“Kok gak ikut?” tanya Irsya.

Rara menatap Ica dalam. “Kan aku udah bilang ke kamu.”

Saat berangkat tadi memang Rara sudah menyampaikan kepada Ica jika selesai mencari buku, mereka akan singgah terlebih dahulu di supermarket yang mana tidak ditanggapi oleh Ica.

“Masih banyak pesanan nganggur di rumah, ditambah sebentar lagi udah mau masuk kuliah jadi harus bisa selesaiin secepatnya,” tutur Ica tak enak hati.

“Yahh masa cuma berdua,” sergap Rara mendahului Irsya yang sudah membuka mulutnya akan berbicara.

“Lain waktu ya, Ra,” ucapnya sambil mencubit pipi cubby Rara.

“Kalo gitu kita anter Ica dulu ya, Ra,” kata Irsya.

Ica bingung harus menjawab apalagi. Sebenarnya alasan ia tidak ikut karena dirinya harus segera mencari kakak tingkat yang mendapat tugas dengannya dan ini bukan saatnya untuk Ica bicarakan soal ini pada Rara.

Ica berkata, “Kak Irsya sama Rara langsung aja gak papa, nanti Ica pake ojol aja.”

“Kita tungguin.” timpal Rara.

“Apaan ditungguin. Udah sana pergi.”

“Ngusir?”

“Tepat,” tangkasnya setelah menjentikkan jari dan menyisakan jari telunjuk dan ibu jari ke arah Rara.

Jika sudah berbicara tentang pekerjaannya, Rara tidak akan bisa memaksa karena mereka sudah saling mengerti akan hal itu. Pertemanan mereka sudah 7 tahun terjalin. Sudah banyak peristiwa yang mereka alami bersama. Bukan hanya suka, tetapi duka juga mereka rasakan.

Ica menuntun Rara masuk ke dalam mobil dan membisikkan. “jangan lupa kuras dompet Kak Irsya.” Kemudian mengedipkan satu matanya.

Related chapters

  • Me and You   Bertemu

    Dan dibalasnya dengan menunjukkan jari yang membentuk isyarat OK dan tidak lupa dengan muka jailnya.“Ekhem.” Mendengar deheman dari Irsya. Ica tersenyum kikuk menampilkan deretan gigi putihnya menanggapi tatapan Irsya yang pasti sudah mendengar obrolan mereka. Setelahnya ia menyingkir dari pintu mobil lalu Irsya menutupnya.“Di rumah aja kan?” tanyanya pada Ica.“Iya, Kak, ngejar deatline.” Irsya mengangguk paham dan berkata, “kakak sama Rara pergi dulu, assalamualaikum.”“Waalaikumsalam.” Lambaian tangan Ica mengiringi hilangnya mobil hitam itu dari pandangannya."Pokoknya tuh orang harus ketemu hari ini juga, inget, Ca, jahitan masih numpuk," batin Ica."Semangat, Ca,” ucapnya menyemangati diri sendiri dengan terus berjalan mencari pria yang ditugaskan oleh Pak Habib bersamanya.Sudah cukup lama mencari, tetapi masih saja tidak membuahkan hasil. Dan karena sudah masuk

    Last Updated : 2022-03-25
  • Me and You   Terlambat

    “Ini biar gue aja yang bawa sekalian mau dipelajarin, sekali lagi gue minta maaf,” jelas pria itu lagi tak enak hati pada Ica.“Aku juga minta maaf, assalamualaikum,” kata Ica lalu berjalan meninggalkan Perpustakaan.Yang dibalas, “waalaikumsalam,” oleh pria itu.Ica terus berjalan menjauhi Perpustakaan menuju depan gedung fakultas untuk menunggu angkutan umum di halte depan. Selama Ica berjalan ia terus mengucap istighfar atas kecerobohan yang hampir saja berakibat juga pada orang tuanya. Ica sudah berjanji bahwa ia akan selalu menjaga semua yang telah Allah SWT kasih padanya karena semua itu hanya titipan dan akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat maka ia harus bisa menjaganya dari semua laranganNya. Walaupun Ica kadang harus bekerja sama dengan lawan jenis namun, ia mampu menjaga batasan saat harus dihadapkan dengan yang bukan mahromnya. Awal-awal pasti akan ada kecanggungan, tapi Ica mampu mengatasi masalah tersebut.

    Last Updated : 2022-03-25
  • Me and You   Pesta

    Jika sudah seperti ini tidak ada yang bisa Irsya lakukan. Biarkan hal ini menjadi urusan kedua sahabat itu. Ia tak mau terlalu ikut campur atau lebih tepatnya Irsya diam dengan maksud ingin membantu Rara agar Ica bisa hadir, tapi ia tidak mau memaksa kehendak Ica. Apalagi jika alasannya karena pekerjaan. Irsya tidak mau gadis itu mengabaikan tanggung jawabnya hanya untuk hadir di acara orang tuanya.“Pulang dulu, Ca, assalamualaikum,” ucap Irsya seorang karena Rara sudah berlari menuju mobil terlebih dahulu.“Hati-hati ya, Kak, waalaikumsalam,” balas Ica.Irsya hanya tersenyum membalas ucapan Ica dan bergegas masuk mobil. Kemudian Ica melambaikan tangan.Rumah bernomor 12A merupakan peninggalan satu-satunya dari kedua orang tua Ica. Walaupun rumah ini tidak berlalu besar dan hanya ada dua kamar tidur saja, tetapi rumah ini selalu membawa kebahagiaan untuk keluarganya dan kini hanya dirinya seorang. Namun, suasana rumah selalu mengantarkann

    Last Updated : 2022-03-25
  • Me and You   Penguntit

    “Ayo, Ca,” kata Irsya yang sudah membukakan pintu mobil. Setelah keluar dari mobil, gadis itu terdiam seperti memikirkan sesuatu.“Kak, tapi Ica malu,” ucapnya.Meskipun sering hadir di acara keluarga Rara, tapi selama ini hanya acara antar keluarga saja, tidak seperti sekarang. Yang sepertinya ini acara formal dengan rekan kerja orang tua Rara. “Malu kenapa? Kita kan keluarga,” ujar Irsya mencoba meyakinkan Ica, “udah ditungguin papah sama mama loh, Ca.”Baiklah. Tak ada lagi hal yang bisa ia gunakan untuk pergi dari acara ini. Ica berjalan beriringan dengan Irsya masuk ke dalam hotel menuju ruang acara berlangsung. MEWAH, satu kata yang mewakili tempat ini setelah Ica masuk ke dalam sana. Dekorasi dengan dominan warna gold yang terlihat elegan menghiasi ruangan ini. “Caa,” sapa Rara. Kemudian berdiri dari duduknya menyambut Ica.Banyak pasang mata yang tertuju padanya dan Irsya

    Last Updated : 2022-03-25
  • Me and You   Nganterin

    Dari tempatnya duduk ia terus memperhatikan gerak-gerik seseorang yang sedari tadi tidak bisa ia alihkan dan selalu menuntun matanya untuk terus menatap pada gadis itu.“Abi, tau gak keluarga yang di meja sana?” tanyanya pada pria paru baya di depannya.“Itu keluarga Pak Herman dan Bu lita. Mereka yang menggelar acara ini.”Pria itu hanya mengangguk tidak berniat merespon lagi.“Ada apa?” tanya wanita yang dipanggilnya umi sedikit meledek.“Kakak suka sama salah satu gadis di sana, ya?” lanjut wanita itu lagi.Sedari tadi dirinya tidak memperhatikan perkataan uminya karena pandangannya terus memperhatikan interaksi dari keluarga Herman. Obrolan mereka terlihat sangat hangat menurutnya.Melihat gadis itu beranjak dari tempatnya segera ia akan menyusul namun, tangannya dicekal uminya terlebih dahulu.“Mau ke mana?”“Cari angin sebentar setelah itu balik lagi, Mi. Assalamualaikum.” Dirinya berjalan cepat mengejar Ica yang keluar ruangan.Ica terus berjalan keluar dari hotel berbintang it

    Last Updated : 2022-06-14
  • Me and You   Humaira

    Alarm sudah berkali-kali bunyi sejak tadi namun, belum juga dimatikan oleh pemiliknya. “Eemmm,” eram seseorang bergerak untuk mematikan alarm dan melihat jam dengan wajah yang masih berat. “Astaghfirullah udah subuh,” ucap Ica saat mengetahui jika dirinya telat bangun tahajjut. Sebegitu lelahkah ia semalam sampai tidur sepulas itu. Setelah sampai rumah, Ica kembali melanjutkan pekerjaannya dan baru selesai jam 1 dini hari. Ini pertama kalinya Ica mengerjakan pesanan sampai selarut ini, biasanya hanya sampai jam 22.00 WIB paling malam ia tidur. Karena Ica masih kuliah jadi ia harus bisa mengatur pola tidurnya agar tidak mengganggu waktu kuliah di pagi harinya, tetapi kali ini ia melanggar peraturan yang dirinya buat sendiri. Selesai membersihkan diri dan dilanjut menunaikan sholat shubuh. Sekarang Ica sedang menata pesanan yang akan ia antarkan. Alhamdulillah tadi malam dirinya bisa menyelesaikan semua pesanan yang tertunda sehingga hari ini Ica bisa fokus pada tugas yang diberikan o

    Last Updated : 2022-07-24
  • Me and You   Salah Paham

    Mereka mulai melakukan penelitian ke beberapa narasumber sesuai dengan rencana awal. Mereka bertanya, menyimak, dan mencatat informasi yang disampaikan setiap narasumber. Kali ini Alfa dan Ica bekerja sama dengan sangat baik. Tidak disangka proses wawancara selesai lebih cepat dari perkiraan mereka sebelumnya. Jadi saat ini mereka berdua hanya perlu membuat makalah saja. Alfa memang pintar dalam melilih tempat untuk bahan observasi. Dia memilih tempat yang di dalam lingkungan tersebut terdapat banyak para pengepul barang bekas, tapi berbeda rumah produksinya. Sehingga mereka dapat mencari banyak informasi di berbagai sumber tanpa harus berpindah ke tempat lain yang mana itu akan memakan banyak waktu. Tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu dhuhur. “Sholat dulu ya, Kak,” kata Ica, “Ayo, Mai,” ajak Ica pada Humaira. Saat di perjalanan tadi gadis itu meminta Ica untuk memanggilnya Mai saja agar tidak terlalu panjang Mereka bertiga pun beranjak menuju masjid terdekat. Beberapa wakt

    Last Updated : 2022-09-20
  • Me and You   Rumah Makan

    “Ca.” Ica menoleh saat seseorang memanggil namanya. Terlihat seorang pria tidak jauh dari mejanya lalu berjalan mendekat. “Kak Irsya,” lirihnya lalu berdiri dari duduknya. “Lagi nugas?” tanya Irsya. “Iya, Kak. Abis nugas terus mampir ke sini,” jawabnya. “Oh ya, duduk, Kak.” Ica keluar dari mejanya dan mempersilahkan Irsya untuk duduk di kursinya namun, pria itu justru mengambil kursi dari meja lain dan meletakkannya di sisi meja antara kursi Ica dan Alfa. “Kakak di sini aja.” Baru saja Ica akan duduk, seseorang menepuk bahunya. “Hai,” ucapnya dengan suara sedikit keras. Rara tersenyum kikuk mendapati ekspresi Ica yang kurang bersahabat karena mengagetkannya. Tanpa berucap apapun Ica bergeser duduk di kursi sampingnya, berhadapan dengan Humaira. Dan Rara duduk di kursi Ica sebelumya, berhadapan dengan Alfa dan Irsya di sisi meja antara mereka berdua. “Kenalin ini Kak Alfa dan ini adik Kak Alfa, Humaira,” Ica memperkenalkan mereka pada Irsya dan Rara. Mereka berempat pun berkena

    Last Updated : 2022-12-09

Latest chapter

  • Me and You   Teman Lama

    Beberapa hari ini hanya Ica gunakan untuk mengerjakan beberapa pesanan yang harus selesai sebelum dirinya disibukkan kembali dengan kegiatan kuliah. Rencananya besok Ica akan main ke rumah Rara sesuai janjinya kemarin lusa dan selama dua hari ini Rara selalu menyuruhnya untuk segera datang. Gadis itu tidak pernah kehabisan cara, contohnya Rara selalu memberikan berbagai macam penawaran agar Ica mau datang tanpa menunggu hari yang sudah ditetapkan, namun hal itu tidak berhasil. Jika ditanya, mengapa tidak Rara saja yang datang ke rumah Ica? Jawabannya tentu karena Ica sedang bekerja jadi ia tidak ingin mengganggunya namun, jika Rara menggoda dengan memberikan penawaran dan Ica datang berarti gadis itu memang sudah longgar.Sapuan angin malam yang menembus jaket coklatnya membuat malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Saat ini Ica sedang menuju minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan. Sesampainya di minimarket Ica mulai berbelanja.“Udah cukup deh kayaknya.” Ica memeriksa kem

  • Me and You   Minimarket

    “Sana, Mai, kamu aja yang masuk. Nih uangnya.” Alfa menyodorkan beberapa uang lembar kepada Humaira.Saat ini mereka bertiga berhenti terlebih dahulu di minimarket untuk membelikan pesanan umi Alfa yang tadi sudah mengingatkan anaknya itu agar tidak kelupaan.“Kan Kakak yang disuruh Umi,” tolak Humaira.“Tolong dong, Mai. Kakak ada keperluan nih,” bujuknya pada Humaira.“Biar aku aja yang ke masuk, Kak.” Ica menawarkan diri berhubung ada yang mau ia beli sekalian. “Kak Alfa sama Humaira tunggu di sini ya,” ucapnya lagi.Ica pun langsung turun dari mobil tanpa menunggu jawaban dari kakak beradik itu dan tidak menerima uang yang sudah Alfa sodorkan. Gadis itu terus berjalan masuk ke dalam minimarket. Setelah mengambil keranjang belanja dan akan mulai mengambil barang yang di beli tiba-tiba ia teringat sesuatu.“Ya Allah, tuh kan lupa nanya apa yang harus dibeli. Main turun-turun aja sih!” katanya dalam hati sambil mengetuk pelan jidatnya dengan jari telunjuk.Jika sudah begini tentunya

  • Me and You   Rumah Makan

    “Ca.” Ica menoleh saat seseorang memanggil namanya. Terlihat seorang pria tidak jauh dari mejanya lalu berjalan mendekat. “Kak Irsya,” lirihnya lalu berdiri dari duduknya. “Lagi nugas?” tanya Irsya. “Iya, Kak. Abis nugas terus mampir ke sini,” jawabnya. “Oh ya, duduk, Kak.” Ica keluar dari mejanya dan mempersilahkan Irsya untuk duduk di kursinya namun, pria itu justru mengambil kursi dari meja lain dan meletakkannya di sisi meja antara kursi Ica dan Alfa. “Kakak di sini aja.” Baru saja Ica akan duduk, seseorang menepuk bahunya. “Hai,” ucapnya dengan suara sedikit keras. Rara tersenyum kikuk mendapati ekspresi Ica yang kurang bersahabat karena mengagetkannya. Tanpa berucap apapun Ica bergeser duduk di kursi sampingnya, berhadapan dengan Humaira. Dan Rara duduk di kursi Ica sebelumya, berhadapan dengan Alfa dan Irsya di sisi meja antara mereka berdua. “Kenalin ini Kak Alfa dan ini adik Kak Alfa, Humaira,” Ica memperkenalkan mereka pada Irsya dan Rara. Mereka berempat pun berkena

  • Me and You   Salah Paham

    Mereka mulai melakukan penelitian ke beberapa narasumber sesuai dengan rencana awal. Mereka bertanya, menyimak, dan mencatat informasi yang disampaikan setiap narasumber. Kali ini Alfa dan Ica bekerja sama dengan sangat baik. Tidak disangka proses wawancara selesai lebih cepat dari perkiraan mereka sebelumnya. Jadi saat ini mereka berdua hanya perlu membuat makalah saja. Alfa memang pintar dalam melilih tempat untuk bahan observasi. Dia memilih tempat yang di dalam lingkungan tersebut terdapat banyak para pengepul barang bekas, tapi berbeda rumah produksinya. Sehingga mereka dapat mencari banyak informasi di berbagai sumber tanpa harus berpindah ke tempat lain yang mana itu akan memakan banyak waktu. Tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu dhuhur. “Sholat dulu ya, Kak,” kata Ica, “Ayo, Mai,” ajak Ica pada Humaira. Saat di perjalanan tadi gadis itu meminta Ica untuk memanggilnya Mai saja agar tidak terlalu panjang Mereka bertiga pun beranjak menuju masjid terdekat. Beberapa wakt

  • Me and You   Humaira

    Alarm sudah berkali-kali bunyi sejak tadi namun, belum juga dimatikan oleh pemiliknya. “Eemmm,” eram seseorang bergerak untuk mematikan alarm dan melihat jam dengan wajah yang masih berat. “Astaghfirullah udah subuh,” ucap Ica saat mengetahui jika dirinya telat bangun tahajjut. Sebegitu lelahkah ia semalam sampai tidur sepulas itu. Setelah sampai rumah, Ica kembali melanjutkan pekerjaannya dan baru selesai jam 1 dini hari. Ini pertama kalinya Ica mengerjakan pesanan sampai selarut ini, biasanya hanya sampai jam 22.00 WIB paling malam ia tidur. Karena Ica masih kuliah jadi ia harus bisa mengatur pola tidurnya agar tidak mengganggu waktu kuliah di pagi harinya, tetapi kali ini ia melanggar peraturan yang dirinya buat sendiri. Selesai membersihkan diri dan dilanjut menunaikan sholat shubuh. Sekarang Ica sedang menata pesanan yang akan ia antarkan. Alhamdulillah tadi malam dirinya bisa menyelesaikan semua pesanan yang tertunda sehingga hari ini Ica bisa fokus pada tugas yang diberikan o

  • Me and You   Nganterin

    Dari tempatnya duduk ia terus memperhatikan gerak-gerik seseorang yang sedari tadi tidak bisa ia alihkan dan selalu menuntun matanya untuk terus menatap pada gadis itu.“Abi, tau gak keluarga yang di meja sana?” tanyanya pada pria paru baya di depannya.“Itu keluarga Pak Herman dan Bu lita. Mereka yang menggelar acara ini.”Pria itu hanya mengangguk tidak berniat merespon lagi.“Ada apa?” tanya wanita yang dipanggilnya umi sedikit meledek.“Kakak suka sama salah satu gadis di sana, ya?” lanjut wanita itu lagi.Sedari tadi dirinya tidak memperhatikan perkataan uminya karena pandangannya terus memperhatikan interaksi dari keluarga Herman. Obrolan mereka terlihat sangat hangat menurutnya.Melihat gadis itu beranjak dari tempatnya segera ia akan menyusul namun, tangannya dicekal uminya terlebih dahulu.“Mau ke mana?”“Cari angin sebentar setelah itu balik lagi, Mi. Assalamualaikum.” Dirinya berjalan cepat mengejar Ica yang keluar ruangan.Ica terus berjalan keluar dari hotel berbintang it

  • Me and You   Penguntit

    “Ayo, Ca,” kata Irsya yang sudah membukakan pintu mobil. Setelah keluar dari mobil, gadis itu terdiam seperti memikirkan sesuatu.“Kak, tapi Ica malu,” ucapnya.Meskipun sering hadir di acara keluarga Rara, tapi selama ini hanya acara antar keluarga saja, tidak seperti sekarang. Yang sepertinya ini acara formal dengan rekan kerja orang tua Rara. “Malu kenapa? Kita kan keluarga,” ujar Irsya mencoba meyakinkan Ica, “udah ditungguin papah sama mama loh, Ca.”Baiklah. Tak ada lagi hal yang bisa ia gunakan untuk pergi dari acara ini. Ica berjalan beriringan dengan Irsya masuk ke dalam hotel menuju ruang acara berlangsung. MEWAH, satu kata yang mewakili tempat ini setelah Ica masuk ke dalam sana. Dekorasi dengan dominan warna gold yang terlihat elegan menghiasi ruangan ini. “Caa,” sapa Rara. Kemudian berdiri dari duduknya menyambut Ica.Banyak pasang mata yang tertuju padanya dan Irsya

  • Me and You   Pesta

    Jika sudah seperti ini tidak ada yang bisa Irsya lakukan. Biarkan hal ini menjadi urusan kedua sahabat itu. Ia tak mau terlalu ikut campur atau lebih tepatnya Irsya diam dengan maksud ingin membantu Rara agar Ica bisa hadir, tapi ia tidak mau memaksa kehendak Ica. Apalagi jika alasannya karena pekerjaan. Irsya tidak mau gadis itu mengabaikan tanggung jawabnya hanya untuk hadir di acara orang tuanya.“Pulang dulu, Ca, assalamualaikum,” ucap Irsya seorang karena Rara sudah berlari menuju mobil terlebih dahulu.“Hati-hati ya, Kak, waalaikumsalam,” balas Ica.Irsya hanya tersenyum membalas ucapan Ica dan bergegas masuk mobil. Kemudian Ica melambaikan tangan.Rumah bernomor 12A merupakan peninggalan satu-satunya dari kedua orang tua Ica. Walaupun rumah ini tidak berlalu besar dan hanya ada dua kamar tidur saja, tetapi rumah ini selalu membawa kebahagiaan untuk keluarganya dan kini hanya dirinya seorang. Namun, suasana rumah selalu mengantarkann

  • Me and You   Terlambat

    “Ini biar gue aja yang bawa sekalian mau dipelajarin, sekali lagi gue minta maaf,” jelas pria itu lagi tak enak hati pada Ica.“Aku juga minta maaf, assalamualaikum,” kata Ica lalu berjalan meninggalkan Perpustakaan.Yang dibalas, “waalaikumsalam,” oleh pria itu.Ica terus berjalan menjauhi Perpustakaan menuju depan gedung fakultas untuk menunggu angkutan umum di halte depan. Selama Ica berjalan ia terus mengucap istighfar atas kecerobohan yang hampir saja berakibat juga pada orang tuanya. Ica sudah berjanji bahwa ia akan selalu menjaga semua yang telah Allah SWT kasih padanya karena semua itu hanya titipan dan akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat maka ia harus bisa menjaganya dari semua laranganNya. Walaupun Ica kadang harus bekerja sama dengan lawan jenis namun, ia mampu menjaga batasan saat harus dihadapkan dengan yang bukan mahromnya. Awal-awal pasti akan ada kecanggungan, tapi Ica mampu mengatasi masalah tersebut.

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status