Sebelum kata-kata itu selesai, Henry sudah menampar mata temannya."Apa kamu ingin mati? Berani-beraninya kamu mengincar wanita Pak Zayn?""Hah? Wanita Pak Zayn?" Wajah temannya langsung berubah, buru-buru menutupi matanya sendiri sambil berkata, "Aku tidak akan melihat lagi, haha, aku tidak berani melihat lagi, aku pergi sekarang!"Pria itu berkata begitu sambil berlari cepat keluar ruangan.Aku berjalan mendekati Henry dan dengan serius berkata, "Jangan bilang ke orang-orang bahwa aku adalah wanita Zayn. Aku benar-benar tidak ada hubungan apa pun dengannya sekarang, dan kalau kabar ini sampai ke telinga orang yang dia cintai, itu tidak akan baik.""Apa? Orang yang dia cintai bukan kamu?"Henry terkejut melihatku, tapi sedetik kemudian dia buru-buru mengalihkan pandangannya, semburat tidak wajar muncul di wajah tampannya.Aku menduga mungkin dia tidak tahu soal keberadaan cinta pertama Zayn, jadi aku tidak mengatakan apa-apa lagi.Aku hanya berkata, "Orang yang dia cintai tidak mungki
Sepertinya aku melihat Zayn!Aku langsung berpaling, mencari-cari dari bawah panggung.Namun, aku tidak melihat pria itu.Sepertinya ini hanya ilusi karena perasaan bersalah.Lagi pula, Zayn saat ini berada di Kota A, mana mungkin dia muncul di sini.Saat aku termenung, musik pun mulai diputar.Aku sudah belajar menari selama dua puluh tahun.Begitu musik dimulai, aku segera masuk ke mode menari.Aku mendaftarkan tarian modern biasa ke Henry. Namun, mengingat penonton di bawah panggung suka melihat gerakan pinggul, aku menambahkan beberapa gerakan pinggul dalam tarian ini.Sorak-sorai dari penonton sangat meriah.Aku tiba-tiba teringat hutang ayahku yang sebesar tujuh miliar. Teringat olehku wajah ibuku yang berlinang air mata.Aku menari dengan lebih bersemangat, berharap nantinya aku bisa mendapatkan suara terbanyak.Beberapa menit kemudian, musik berhenti, tarian pun berakhir.Sorak-sorai dan tepuk tangan dari penonton masih belum berhenti.Aku memberi salam kepada penonton di bawah
Henry mengejek dengan tawa, "Kamu terlalu meremehkan kami. Dua orang yang sama-sama juara, tentu saja keduanya mendapat hadiah enam miliar, membagi seperti itu kan tidak masuk akal."Mendengar ucapannya, aku langsung merasa tenang.Setibanya di panggung, nomor 27 sedang berinteraksi dengan penonton di bawah.Senyum manisnya, dipadukan dengan nada manja yang menyenangkan, sangat disukai oleh penonton di bawah.Aku merasa canggung berdiri di samping, berharap pembawa acara segera memberikan hadiah.Untungnya, pembawa acara segera datang.Pembawa acara berdiri di antara aku dan nomor 27, lalu tersenyum berkata, "Sekarang aku umumkan, kedua peserta ini adalah juara bersama, mereka akan masing-masing menerima ...."Tunggu!Saat itu, suara rendah dan dalam tiba-tiba bergema dari bawah panggung.Hatiku bergetar hebat.Karena, itu adalah suara Zayn.Dengan mekanis, aku menoleh ke bawah.Kulihat sosok tinggi muncul perlahan dari bayangan di belakang.Pria itu memiliki tatapan dingin, aura jahat
Bermanja-manja dengan dia?Tidak mungkin!Memujinya?Tapi melihat ekspresinya yang dingin saat ini, aku tidak bisa memujinya.Aku menatap wajahnya yang dingin seperti es. Setelah bertahan sekian lama, aku baru bisa berkata, "Bisakah Anda berikan suara untuk aku? Ini benar-benar penting bagiku.""Benarkah?"Zayn tersenyum tipis, mata dan alisnya terlihat dingin.Saat dia tersenyum, hatiku langsung terasa dingin.Dia sangat membenciku, pasti tidak akan memenuhi permintaanku.Tetapi aku benar-benar tidak bisa kehilangan enam miliar itu.Aku melepaskan harga diri, menyingkirkan kebanggaan, berjuang hingga titik ini, aku tidak bisa gagal seperti ini.Henry yang sudah tidak sabar menunggu berkata kepada Zayn, "Ayo, jangan bikin penasaran, cepat berikan suaramu."Aku menatap tajam Zayn.Asalkan dia tidak memberikan suaranya kepada nomor 27, aku bisa mendapatkan enam miliar ini.Tapi jelas, dia tiba-tiba muncul hanya untuk menargetkanku.Harus bagaimana?Bagaimana agar dia membiarkanku kali in
Tanpa menunggu dia marah, aku langsung berbalik dan berlari keluar.Tidak mendapatkan hadiah uang, saat ini aku hanya ingin pergi.Aku berlari keluar dari hotel. Angin malam bertiup, seluruh tubuhku terasa dingin dari dalam.Aku memeluk tubuhku, hati ini terasa sangat perih.Henry dengan cepat menyusulku.Dia menarikku dan tersenyum. "Audrey, jangan pergi, kita bisa bicarakan baik-baik."Aku dengan kuat mengibaskan tangannya, menatapnya dengan sikap dingin. "Zayn adalah orang yang kamu panggil ke sini, 'kan?"Zayn jelas-jelas sedang bertugas di Kota A. Kalau bukan karena dia memberitahu Zayn bahwa aku mengikuti acara tari ini, bagaimana mungkin Zayn tiba-tiba muncul disini?Sebenarnya sejak dia bertanya apakah aku ingin memberi tahu Zayn tentang acara tari ini, aku seharusnya sudah menebak bahwa dia akan memanggil Zayn.Hanya saja, aku masih menganggap dia terlalu baik.Ya, orang-orang seperti mereka tidak ambil peduli. Mereka sudah terbiasa menghibur diri dengan mempermainkan orang la
Aku baru saja membuka mulut, tiba-tiba di sisi telepon terdengar seseorang memanggil namanya.Kakakku dengan terburu-buru berkata padaku, "Audrey, tunggu sebentar, Kakak harus pergi dulu ... tut ...."Telepon terputus, kalimat 'bisakah kamu menjemputku' tersangkut di tenggorokanku, tidak bisa keluar.Aku perlahan-lahan memeluk tubuhku seraya menatap kegelapan malam. Untuk pertama kalinya aku merasakan kesepian 'tanpa rumah'.Aku duduk bingung di tangga, tidak tahu harus pergi ke mana.Haruskah mencari Dorin?Tapi dia tidak ada di Kota Jenara hari ini.Dia mengirim pesan padaku di pagi hari, mengatakan bahwa dia akan pergi ke desa untuk menjenguk ibunya. Dia mungkin baru akan kembali beberapa hari lagi.Angin malam terasa dingin, hatiku pun makin dingin.Saat ini, kakakku pasti masih sibuk, pastinya untuk membayar utang perjudian ayahku yang 14 miliar itu.Sementara itu, aku sudah bekerja seharian, tapi tidak mendapatkan apa-apa.Mengingat enam miliar yang hampir kuraih itu tiba-tiba hi
Ini sudah menjadi jalan buntu, jika pria aneh itu masuk, aku benar-benar tidak punya jalan untuk melarikan diri.Aku menempelkan tubuhku erat-erat pada dinding, berusaha menyusutkan seluruh tubuhku ke dalam, berharap pria aneh itu tidak melihatku.Di sekelilingku terasa sunyi. Tubuhku tegang, ketakutan yang sangat mencekam terasa di hatiku.Di bawah cahaya rembulan yang dingin, sosok itu perlahan mendekat seperti hantu.Dia masuk ke gang.Aku hampir berteriak karena ketakutan.Dengan panik aku menutup mulutku, seluruh tubuhku bergetar ketakutan.Namun, sosok itu tetap menemukan aku, melangkah satu langkah demi satu langkah ke arahku.Suara langkah kakinya, seperti suara maut, satu per satu menyiksa sarafku.Saat dia makin mendekat, aku tidak tahan lagi dan berteriak. Tanpa berpikir panjang, aku menerobos dan menuju ke luar gang.Saat melewatinya, lengannya yang panjang langsung meraihku.Kepalaku rasanya meledak seketika, aku berjuang melawan sambil berteriak, "Lepaskan aku, lepaskan a
Wajahnya gelap, dia berkata dengan suaranya mengejek, "Sebelum aku pergi dinas, apa yang sudah aku katakan padamu? Hah?"Aku tetap tidak berkata apa-apa.Dia benar-benar marah. Jari-jarinya memberikan tekanan besar sehingga daguku terasa sangat sakit.Dia dengan dingin berkata, "Aku sudah peringatkan, jangan lakukan hal yang bikin aku marah. Kamu mengangguk setuju, tapi hasilnya?Audrey, kamu benar-benar sangat suka berbohong!"Diriku dengan pakaian pelayan yang memalukan tampak tak berdaya di bawah cengkeramannya.Aku merasa terhina, melindungi dadaku, dengan mata berair melihatnya. "Jangan seperti ini!""Jangan seperti apa?"Nada suaranya penuh dengan amarah yang menakutkan."Kamu berpakaian seperti ini, menari di atas panggung dengan bersemangat, bukankah itu untuk menggoda orang kaya?Kalau aku tidak seperti ini padamu, pria-pria itu juga akan berbuat sama padamu.Bagaimana? Kalau mereka, kamu tidak akan menolak?""Cukup, Zayn!"Aku menatapnya dengan penuh kemarahan, "Apa kamu tahu
"Ingat kirim pesan padaku setiap hari. Kalau ada waktu, telepon aku.""Betapa pun sibuknya aku, aku akan mengangkat teleponmu.""Ya."Keengganan Zayn membuat hatiku luluh.Pada saat ini, aku sepenuhnya merasakan cintanya yang begitu kuat.Namun cintanya tampak bercampur dengan sedikit kekhawatiran.Hatiku juga mulai merasa agak sedih serta gelisah.Aku bertanya padanya, "Apa yang kamu khawatirkan? Apa karena operasi ibumu?"Zayn menggelengkan kepalanya. "Dokter bilang untuk jenis operasi ini, selama ginjalnya cocok, tingkat keberhasilannya sangat tinggi.""Lalu apa yang kamu khawatirkan?" Aku bisa dengan jelas merasakan ketakutannya.Jadi aku tidak mengerti, selain penyakit ibunya, apa lagi yang ditakutkan oleh orang seperti dia?Zayn menatapku dengan serius, membelai pipiku dan berbicara dengan suara yang keras."Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman. Aku khawatir tidak akan bisa melihatmu lagi.""Dasar bodoh!"Aku melemparkan diriku ke dalam pelukannya, memeluk pinggan
Malam harinya, Zayn datang untuk makan malam bersamaku.Zayn pertama-tama pergi ke bangsal untuk menjenguk ibuku lalu membawa aku ke restoran yang sudah direservasi terlebih dahulu.Tahun ini bisa dikatakan sebagai tahun terdingin di Kota Jenara.Angin dingin yang menggigit terasa bagai pisau yang menyayat wajah orang.Zayn menutupiku dengan syal sambil menuntunku ke dalam mobil.Akhir-akhir ini aku tidak sering mengunjungi ibunya karena urusan ibuku.Aku mengencangkan sabuk pengaman dan bertanya padanya, "Apa akhir-akhir ini ibumu baik-baik saja?"Zayn mengangguk. "Setiap hari menerima suntikan serta perawatan tepat waktu, sekarang hanya menunggu operasi pada tanggal 20 saja."Aku berkata, "Pada tanggal 20, aku mungkin tidak bisa mengunjungi ibumu, aku juga tidak bisa menemanimu sampai operasi ibumu selesai.""Aku mengerti." Zayn memegang tanganku erat sambil tersenyum lembut padaku. "Pada hari itu, ibumu juga harus menjalani operasi. Meskipun kamu adalah istriku dan menantu ibuku, ka
"Kamu salah. Aku tidak punya prasangka buruk atau benci padanya. Aku hanya ingin tahu seperti apa rupa pacarmu.""Lalu, bagaimana kalau kamu sudah tahu seperti apa penampilannya?"Kakakku menatapku dengan serius dan ekspresi aneh, seakan-akan sedang marah padaku.Aku memalingkan wajahku lalu berkata dengan tenang, "Aku tidak berencana melakukan apa pun. Katakan saja padaku apakah wanita di foto itu adalah pacarmu.""Ya! Dia pacarku. Meskipun tidak cantik, aku tetap mencintainya.""Di hatiku, dia adalah gadis yang paling polos dan baik hati di dunia."Aku menundukkan mataku untuk melirik ponselku dan berkata padanya, "Lihat lagi, lihat baik-baik, aku akan bertanya sekali lagi, apa dia ....""Audrey, cukup!"Kakakku berdiri dan berkata dengan marah, "Dia pacarku, benar-benar pacarku. Apa kamu puas dengan ini?"Setelah berkata demikian, kakakku berjalan dengan marah ke kamarnya.Aku berbalik untuk berkata, "Kakak sudah mengakui kalau dia adalah pacarmu, maka aku yakin kalau dia benar-bena
Wanita yang berada di depanku terlihat sangat biasa.Hidungnya pesek, bibir agak tebal, matanya pun tidak terlalu besar. Secara keseluruhan, memang tidak terlihat cantik sama sekali.Satu-satunya keunggulannya adalah kulitnya sangat cerah.Dia hanya mengenakan sedikit riasan, hanya lipstik warna merah muda.Jadi meskipun fitur wajah serta bentuk wajahnya tidak menonjol, dia sekilas terlihat polos.Namun, penampilan ini sama sekali tidak sesuai dengan selera kakakku.Jadi, kenapa kakakku begitu setia kepada wanita ini, seakan-akan sudah terbius olehnya?"Audrey, apa aku benar-benar jelek? Pasti Bibi tidak akan menyukaiku, 'kan?"Tepat saat aku tengah memikirkan hal itu, wanita di depanku tiba-tiba bertanya dengan cemas.Aku kembali tersadar lalu tersenyum padanya. "Tidak akan, buku tidak menetapkan standar apa pun untuk pemilihan pasangan. Selama kakakku benar-benar menyukai orang itu, pasti akan menyetujuinya.""Kita juga sudah menyiapkan hadiah untukmu. Kita akan memberikannya padamu
Herman tersenyum, "Aku cuma mau memperkenalkanmu, dia adalah Audrey yang merupakan adik Irvin.""Ah! Kamu Audrey?"Perawat itu menatapku, lalu berkata dengan cemas dan penuh semangat, "Irvin sering mengungkitmu di depanku, aku juga sangat ingin bertemu denganmu dan Bibi.""Tapi akhir-akhir ini pekerjaanku sangat sibuk, sibuk bersaing untuk mendapatkan posisi, serta sibuk mencari sumber ginjal untuk Bibi. Jadi aku sama sekali nggak punya waktu untuk menemui kalian.""Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf karena sudah beberapa kali mengingkari janji. Aku juga selalu ingin minta maaf secara pribadi padamu."Perawat di depanku berkata dengan tulus, yang tidak terdengar seperti sedang berpura-pura.Aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir apakah pikiranku terlalu berlebihan?Sebenarnya Sella sama sekali tidak bermasalah, dia memang sangat sibuk sampai mengingkari janji denganku?"Audrey, kamu nggak marah padaku, 'kan?"Saat aku sedang berpikir, perawat di depanku tiba-tiba bertanya deng
Setelah tiba di Rumah Sakit Harmoni, aku langsung mendatangi meja resepsionis di bagian rawat inap."Permisi, apakah ada perawat yang bernama Sella di sini?"Perawat itu menatapku, lalu mengangguk, "Benar, ada perawat bernama Sella di sini. Ada apa kamu mencarinya?""Ada masalah pribadi yang mau kukatakan padanya, bolehkah tolong panggil dia untuk bertemu denganku?""Maaf, Nona. Saat ini waktu Sella bekerja, dia sepertinya sedang sibuk.""Kalau begitu aku akan menunggu di sana, tolong kasih tahu aku kalau dia sudah nggak sibuk, terima kasih."Setelah berkata pada perawat, aku duduk di kursi untuk menunggu.Tidak lama kemudian, seseorang memanggil namaku, "Nona Audrey?"Aku tertegun sejenak, aku melihat Herman sedang menghampiriku begitu menoleh.Herman masih mengenakan jas putih, temperamennya terlihat elegan dan lembut. Sepasang kacamata berbingkai emas membuat Herman terlihat seperti orang yang mengetahui sopan santun."Nona Audrey, kenapa kamu datang ke rumah sakit? Apakah kamu data
Aku mengabaikannya.Irvin memapahku sambil mengerutkan bibirnya, "Sudahlah, kamu pasti punya kesempatan untuk bertemu dengannya di masa depan. Apa yang kamu takuti?""Minggir!"Aku menepis tangannya dengan marah, lalu berjalan ke depan.Alasan kenapa aku sangat ingin menemui Sella adalah untuk memastikan bahwa tidak ada masalah pada sumber ginjal ibuku.Hanya saja, kakakku sama sekali tidak mengerti.Meskipun aku mengatakan ini padanya, Irvin akan menyalahkanku karena terlalu curigaan dan berprasangka buruk pada pacarnya.Singkatnya, aku sama sekali tidak ingin berbicara dengan Irvin.Otak seseorang yang sudah dibodohi dengan cinta benar-benar sangat menakutkan.Menyebalkan sekali.Irvin mengikutiku sampai ke lantai bawah, dia berlari untuk menarikku saat melihatku terus berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang, "Apa yang kamu lakukan? Ayo, aku akan mengantarmu pulang."Aku menghempaskan tangannya, "Nggak perlu, kamu pulang sendiri saja!""Huh, apa lagi yang mau kamu lakukan?!"Irvi
Aku kembali menatap rumah ini.Jika dilihat dari lingkungan rumah ini, Sella sepertinya adalah perempuan yang mencintai kebersihan dan menjalani kehidupan yang elegan.Kalau bukan karena Sella selalu mengingkari janji dan bertindak dengan misterius, aku juga tidak ingin mencurigainya.Hanya saja, sebentar lagi aku akan segera bertemu dengannya!Saat berpikir seperti ini, aku menatap ke arah kamar tidur utama.Hanya saja, aku melihat Irvin berjalan keluar dari kamar dengan ekspresi kecewa pada detik berikutnya.Aku mengerutkan keningku, kurang lebih sudah mengetahui apa yang telah terjadi.Aku menghampiri Irvin, lalu mengangkat sudut mulutku, "Dia nggak ada di dalam, 'kan?"Irvin tidak mengatakan apa pun.Aku mendengus, "Terlihat jelas kalau dia melakukan kesalahan dan nggak berani menemui kita.""Jangan bicara seperti itu."Irvin masih membela wanita itu, "Sella punya urusan mendadak, jadi dia nggak bisa menunggu kita di rumah, dia bahkan meninggalkan catatan untukku.""Dia juga kirim
Irvin menyipitkan matanya, lalu menatapku dengan tatapan tidak puas, "Lihatlah, kamu mulai curigaan lagi. Kampung Sella memang di desa pegunungan, tapi itu nggak berarti keluarganya miskin, nggak berarti Sella juga nggak bekerja, 'kan?""Nenek kita juga tinggal di kota yang terpencil, tapi itu nggak berati Ibu miskin, 'kan?"Aku mengerutkan bibirku tanpa mengatakan apa pun.Ucapannya masuk akal juga.Lupakan saja, aku akan mengetahui situasinya setelah naik ke atas.Irvin membeli beberapa makanan ringan dan buah-buahan.Aku mengeluarkan hadiah dari dalam mobil, lalu memasuki apartemen bersamanya.Dekorasi apartemen ini lumayan bagus, seperti dekorasi hotel bintang lima.Kami menaiki lift hingga ke lantai 15.Irvin membawaku ke depan sebuah pintu di ujung koridor.Aku mengira Irvin ingin mengetuk pintu, tapi siapa sangka dia menoleh untuk berkata padaku, "Audrey, ingatlah untuk tersenyum. Jangan pasang ekspresi sedatar ini, kalau nggak Sella akan curiga kalau kamu nggak menyukainya."Ak