"Tapi... kamu gak papa kalau aku kerja dengan seorang pria? Maksudnya, sebagai sekretaris otomatis akan terus ketemu kan?"
Senyuman Aldi sangat manis mendengar hal itu. "Tentu saja tidak." "Makasih, Mas. Aku mau siapin berkas-berkasnya dulu biar besok lolos wawancara. Kalau begitu aku pulang." Aldi mengangguk, ia tidak mengantarkan Rania ke depan, pria itu malah memanggil Siska untuk masuk setelah sang istri pergi. "Manggil saya, Pak?" "Siska, kamu saya pindahkan jadi staf kantor. Besok akan ada sekretaris baru, dan saya harap kamu dengan lapang dada menerima keputusan saya." "Tapi, Pak. Apa salah saya kok di pindahkan?" "Daripada kamu saya pecat?" Siska menunduk, ia tak mampu lagi menjawab perkataan Aldi. Namun hatinya bergemuruh, ia berjanji akan menyingkirkan kembali orang yang telah merenggut jabatannya itu. "Mulai besok, kamu gabung dengan yang lain." "Baik, Pak," jawab Siska pelan, dia melenggang pergi dengan tangan yang terkepal. Sebenarnya bukan soal jabatan, tapi dengan tidak menjadi sekretaris lagi, ia jadi tidak bisa berdekatan dengan Aldi. Perempuan itu benar-benar kesal. *** Tengah malam, Rania masih sibuk mempelajari untuk besok wawancara. Sedangkan Aldi yang sedari tadi hanya bermain ponsel pun sesekali memperhatikan. Se-serius itu dia melakukan semuanya. "Huh, akhirnya selesai. Semoga besok aku bisa lulus dan mulai bekerja. Dengan begitu aku bisa hidupi Azka." Wanita itu memeluk berkasnya sambil tersenyum. Aldi yang melihat itu merasa senang, ini adalah senyuman pertama Rania setelah empat bulan hanya diam dan merenung karena kepergian sang suami. Pria itu janji, akan membahagiakan Rania dan Azka apa pun yang terjadi. Meskipun sekarang memang wanita itu belum bisa menerimanya, tapi Aldi akan tetap berusaha, karena dia lah pria itu belum menikah sama sekali. "Loh, kamu belum tidur?" "Belum, aku masih ada kerjaan dikit." "Ish, udah di rumah gini kok masih kerja. Bosmu itu pasti galak dan suka nyuruh-nyuruh, ya? Duh apes dong kalau begini. Tapi gak papa deh, demi Azka." Aldi hanya bisa menahan tawa saat Rania menggosip tentang bosnya. "Lihat aja besok, aku yakin kamu pasti terpana liat dia." Rania bergidik ngeri, kemudian ia berusaha berbaring agar besok bisa melakukan aktifitas dengan baik. *** "Mas Aldi!" kata Rania terkejut saat melihat orang yang duduk di kursi direktur itu ternyata adalah suaminya. "Jangan bilang kalau...." "Iya, aku bosnya. Bukankah kamu terpana melihatku?" tanya Aldi, sembari merapikan jas nya dengan senyuman yang menyeringai. Wanita itu masih diam tak percaya, bagaimana bisa suaminya itu seorang CEO? Sedangkan kemarin saat dia masuk ke ruangannya.... Mata wanita itu membelalak, kemudian melihat meja yang bertuliskan nama lengkap Aldi di sana. Dia memejamkan mata sambil berbalik, tangannya menepok jidat karena ia sangat bodoh pikirannya. "Sopankah membelakangi bos?" canda Aldi, tapi dengan nada suara yang dingin. Mendengar itu Rania berbalik dengan senyuman yang penuh tekanan, ia menggaruk kepalanya karena bingung, ini sekarang dia harus gimana? "Hari ini juga kamu bisa bekerja di perusahaan ini. Selamat, ya!" Pria itu berdiri mendekat, kemudian mengulurkan tangan, dengan pelan Rania ingin menerimanya, tapi Aldi dengan cepat menarik tangan wanita itu sampai ia menabrak tubuh sang suami. Hal itu membuat Rania terkejut, ia menatap wajah sang suami penuh protes. "Di sini belum ada yang tau kalau kamu istriku. Nanti ada saatnya kita umumkan." Rania mengangguk mendengarnya. Kemudian ia mengusap-usap tangannya saat sudah lepas dari dekapan Aldi. "Ya sudah." Pria itu mempersilakan Rania untuk duduk di kursi sekretaris dan memulai pekerjaannya. Siang berlalu, sampai pada sore hari wanita itu mengetuk pintu dan masuk untuk memberitahukan ada meeting mendadak dengan perusahaan lain. "Kamu ikut, ya. Jangan lupa pakai baju yang bagus." "Baik." Rania kembali duduk di kursinya. Ia berpikir, kalau seperti ini caranya, ia akan selalu bertemu dengan Aldi setiap saat. Padahal, memang itu tujuan Aldi yang sebenarnya.Meeting selesai pukul sembilan malam. Mereka kini masih berada di dalam mobil untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, Aldi berinisiatif ingin membelikan ayam untuk sang anak karena tadi saat ia di telfon belum tidur karena besok hari libur.Pria itu pun belok dulu ke resto yang ia tuju. Sedangkan Rania yang merasa sangat lelah dia terpejam sepanjang perjalanan.Menunggu tanpa harus turun dari mobil, pria itu mendapatkan apa yang ia beli. Kemudian mobil kembali melaju dan setengah jam kemudian sampai di rumah."Om!" teriak Azka, ia menyambut dengan gembira saat Aldi dan Rania pulang bersama."Kok belum tidur?" tanya Rania, sembari memeluk sang anak."Gak papa, kan besok libur, ya?" Aldi mengusap kepala Akza lembut."Iya, Bun. Besok aku libur, jadi malam ini mau main sama makan ayam goreng!""Ayam goreng?" Rania bergumam. "Yuk kita makan! Mbo, tolong sapin nasi buat kami, ya.""Eh, aku aja!" seru Rania, membuat Aldi mencekal tangannya agar ia diam menikmati makana karena sudah lelah sehari
Namun, ia melihat pintu terbuka, dengan pelan Aldi melepaskan Rania yang masih senyum-senyum, ia berjalan nenengoki Azka, ternyata anak itu sudah pules di kamarnya. Aldi bisa bernapas tenang, ia kembali menutup pintu kamar sang anak dan masuk kembali ke kamarnya, kemudian dikunci. "Aku kangen sama kamu," gumam Rania.Aldi melihat itu merasa kasihan, ia kembali berbaring sambil menatap wajah istrinya. Tangan pria itu terangkat, mengelus pipi Rania lembut. Malam yang dingin dengan suara hujan di luar, di hadapannya ada wanita cantik yang sudah sah menjadi istri. Aldi pria normal, terlebih lagi ia masih perjaka belum pernah melakukan hal-hal yang berbau suami istri. Pria itu terbawa, ia semakin mendekat untuk mengecup bibir ranum sang istri yang sebentar lagi akan ia dapat. Namun gagal, Rania berbalik dan memeluk guling yang ada di sampingnya. Padahal tubuh Aldi sudah memanas, ia kini hanya bisa sabar sambil mengatur napas. Setidaknya, tadi ia sudah mendapatkan kecupan dari sang ist
Di meja makan, Rania hanya diam bahkan menatap Aldi saja tidak. Ia merasa malu dan bersalah dengan kejadian yang tadi mereka lewati.Meskipun Aldi sudah berdehem berkali-kali memberikan kode agar wanita itu mendengar atau hanya sekedar menatapnya, tapi Rania tidak berkutik sama sekali. Sarapan selesai, Rania memilih kembali ke kamar membuka laptopnya melihat laporan untuk besok. Ia menggaruk kepalanya karena sedikit pusing, selama ini ia hanya diam di rumah menikmati hasil yang Andika berikan. Akan tetapi sekarang ia harus berjuang mati-matian untuk menghidupi sang anak meskipun ada Aldi yang dengan siap untuk merawat mereka berdua.Tapi yang Rania rasa mereka menikah hanyalah menjalankan wasiat, tidak wajib bagi Aldi untuk menafkahi mereka berdua. Padahal pria itu tulus sekali menyayangi mereka berdua. "Urusan besok biar besok, ngapain kamu kerjakan hari ini?" Tiba-tiba saja Aldi masuk dengan secangkir kopi di tangannya."Gak dikerjain, cuma mastiin aja buat besok.""Oh." Singka
Aldi yang semula diam karena terkejut, ia menggeleng sambil tersenyum, berusaha gembira di hadapan sahabatnya. "Gue... gue bekerja sama dengan salah satu perusahaan, yang di mana keuntungan itu mencapai miliaran.""Hah, beneran? Wahh, selamat, Bro. Gue salut banget sama Lo!" Andika semakin merasa bahagia, ia memeluk Aldi dengan tawa, sedangkan Aldi memejamkan mata untuk mengikhlaskan semuanya."Saat aku sudah mengikhlaskan kamu, kenapa Tuhan malah mempersatukan kita berdua, Ran," gumam Aldi, ia ingin menyeruput kembali kopinya, tapi ternyata sudah kosong, hanya tersisa hampasnya saja. Pria itu tersenyum miring, ia bingung dengan permainan Tuhan yang diberikan padanya. Takdir apa ini? Dulu Ia ambil kekasih hatinya, sekarang Ia mengambil sahabatnya. "Andai waktu bisa berputar kembali, bisa kan kita mencintai wanita yang berbeda? Mungkin dengan itu kita akan bahagia sekarang, An."Aldi kini hanya bisa menghela napas pelan. Semuanya telah terjadi, ia kini memiliki kekasih yang dulu tel
"Mulai sekarang, gak ada lagi yang boleh menyuruh-nyuruh di kantor ini. Ketahuan ada yang melakukan itu, saya denda lima ratus ribu!" Nita yang merasa bahwa ucapan itu diarahkan padanya, ia hanya bisa tertunduk dan merasa kesal, ia yakin bahwa Rania telah mengadu pada bosnya itu."Dan yang di suruhnya, jangan mau lakuin hal itu," kata Aldi tegas, kemudian ia menatap Rania yang diam di pojokan dengan tangan yang saling bertautan.Mata Aldi tak lepas dari menatap sang istri saat berlalu ingin masuk lagi ke ruangannya. Begitu juga dengan Rania yang matanya mengikuti arah sang suami pergi.Nita yang memperhatikan Rania, tangannya terkepal. Ia akan mengadu pada sang paman agar Rania di pecat dari perusahaan. ***"Aww!" Sebuah tangan yang mencengkram leher Rania membuat wanita itu meringis karena kesakitan.Ia sedang berada di kamar mandi, dan ternyata Nita mengikutinya untuk memberikan Rania pelajaran."Lo kan yang udah ngadu sama Pak Aldi soal yang tadi. Sudah gue bilang, jangan berani
"Pa—Pak Aldi, foto ini saya dapat dari grup. Nita... dia yang ngirim, Pak.""Dia lagi," ujar Aldi jengkel. Ia meminta Anisa untuk kembali bekerja dan jangan terus menyebarkan rumor. "Udah dibilang jangan deket-deket, ngeyel!" Tekan Rania, dengan wajah yang kesal tapi tatapan fokus ke laptop. "Tapi memangnya kenapa kalau mereka tau? Toh kamu memang istriku aku, kan?"Entah ke berapa kali Aldi mendapatkan tatapan tajam dari istrinya itu. Ia hanya bisa tersenyum meledek sambil berlalu pergi memasuki ruangan.Siska yang menatap foto itu di ponselnya, ia mengepalkan tangan kemudian menggebrak meja. Ia berpikir Rania terlalu berani, dia saja belum pernah di ajak pulang bareng selama tiga tahun menjadi sekretaris Aldi, tapi dengan mudah Rania bisa mendapatkan itu semua padahal baru saja bekerja di kantor ini. "Sepertinya dia memang gak bisa aku diamkan!" Siska tersenyum miring merencanakan sesuatu yang akan membuat Rania menyesal karena telah berurusan dengannya. Jam istirahat datang, se
Rania mendongak dengan mata yang melotot. Dia bahkan lebih percaya orang-orang di sana daripada memastikan lebih dulu bahwa bukan Rania lah yang mencuri."Bapak juga memfitnah saya?" tekan Rania, satu bulir air mata menetes di pipi wanita itu. Melihat itu membuat Aldi tidak tega, ia berdehem agar sedikit lebih kalem lagi. "Bukan... Bukan begitu maksud saya. Tapi—""Alahh mana ada sih, Pak, maling ngaku!""Iya, Pak. Udah jelas-jelas semua barang teman-teman kita ada di tas dia semua.""Diam! Ini kenapa kalian berdua yang ribut dari tadi. Memangnya barang kalian juga ada di tas dia?" sentak Aldi. Siska dan Nita hanya bisa menunduk dan menggeleng mendengar Aldi yang sudah mulai marah. "Sudah, kalian kembali bekerja. Urusan Rania, biar saya yang urus. Dan kita lihat, siapa pelaku sebenarnya. Jika memang bukan Rania yang mencuri, maka orang itu akan saya pecat tanpa pesangon!"Nita dan Siska mendongak dengan mata yang melotot. Mereka saling pandang dengan isyarat mata. Habis sudah jik
Ia meminta semuanya untuk kumpul dan melihat kejadian yang sebenarnya. Kapan waktu orang itu mengambil barang, dan saat itu sedang di mana Rania berada. Semua orang di sana mengangguk dan merasa bersalah karena telah terlanjur menuduh Rania. Sebagian dari mereka ada yang meminta maaf, tapi juga yang hanya diam dan menganggap semua ini hanya keisengan semata. Aldi meminta mereka untuk kembali bekerja. Sedangkan Siska dan Nita diam-diam mengacungkan jempol satu sama lain. Mereka berpikir mereka itu pintar karena terpikir lebih dulu untuk tidak menampakan wajah. "Kamu ikuti saya." Rania dengan malas membuntuti suaminya itu. Di dalam, Aldi tersenyum penuh arti, sedangkan Rania menatap dengan bingung karena suaminya itu senyum-senyum sendiri sedari tadi. "Ada apa?" tanya Rania, ia tidak ingin lama-lama ada di ruangan berdua dengan suaminya itu. "Kamu lupa perjanjian kita?""Enggak," kata Rania. "Bagus kalau begitu. Ya udah, langsung aja. Aku mau....""Mau apa? Kan perjanjiannya juga
"Mmm, kita mau ke mana?""Ayo tebak. Mau ke mana?"Wanita itu menggeleng pelan."Nanti kamu juga tau."Rania mengangguk patuh. Sepanjang perjalanan ia tak banyak mengobrol. Mereka pun telah sampai di tempat yang dituju. Rania turun dengan tatapan penuh kerinduan pada tempat itu. Ia melirik pria di sampingnya yang sedang tersenyum, memberikan kode untuk ia menggandeng tangannya. Rania pun menerima tawaran itu, ia menggandengnya dan mereka memasuki area cafe yang banyak sekali kenangan di dalamnya. Mereka duduk, pria itu memesan makanan legend yang dulu selalu mereka pesan.Tak lama, pesanan itu pun datang."Nih, banana milk dengan steak ayam saus jamur. Kentangnya setengah matang, kesukaan kamu.""Kamu masih ingat?" tanya Rania. "Mana mungkin aku lupa makanan kesukaan kekasihku."Rania berdehem mendengar itu. Ia tak membenarkan apa yang dikatakan oleh pria bernama Irfan itu. "Oh, maaf. Maksudku, mantan kekasih."Rania mencoba tersenyum, ia kemudian menikmati makanan itu saat Irfan
"Pagi yang indah, istriku.""Hmm.""Gak mau bangun nih? Kayaknya enak banget ya tidur di pelukan aku.""Hmm?" Rania yang baru membuka mata itu mendongak, mengucek matanya dan kini terlihat jelas siapa yang berbicara. Aldi tersenyum menatap sang istri. Tangannya digenggam oleh tangan Rania yang sebelah kiri, sedangkan wajah wanita itu masih menempel di dadanya. "Apa aku bilang. Nyaman kan tidur di pelukan suamimu ini."Rania yang menyadari itu langsung menarik diri, ia merasa malu, kejadian itu terulang kembali. "Dasar modus!" umpatnya."Aku?" Aldi yang mendengar itu langsung duduk, ia mencondongkan tubuhnya kepada Rania, membuat wanita itu memundurkan tubuhnya."Kan kamu yang deketin aku duluan. Emangnya semalam gak ingat, apa yang kamu lakuin ke aku? Bahkan, seumur hidup pun aku tidak akan bisa melupakannya.""Memangnya apa yang aku lakuin?" tanya Rania cemas, sembari mengingat apa yang semalam ia lakukan. Perasaan dia tertidur pulas tanpa bangun sama sekali. "Kamu lupa atau pur
"Ya... takut aja. Kalau kayak waktu itu lagi, aku kan kalau tidur orangnya gak bisa diem. Di sofa aja sering jatoh kadang-kadang.""Hah, yang bener? Tuh kan... Udah, mulai sekarang, kamu tidur sama aku di ranjang. Jangan di sofa lagi.""Tapi—""Masih mau nolak?"Wanita itu mau tak mau mengalah. Ia akan pikirkan caranya nanti, biar tidak satu ranjang dengan sang suami tapi dia masih bisa tidur dengan pulas. ***Selepas bekerja, mereka kembali ke rumah. Azka sudah menunggu walaupun malam mulai larut. Anak kecil itu ingin mengobrol dulu dengan sang ayah. Ia berteriak gembira saat keduanya masuk ke rumah. Mbok Nem meminta maaf karena tidak menidurkan Azka seperti biasa, ia mengeluh bahwa Azka selalu ingin menunggu keduanya untuk pulang.Rania memaklumi, ia meminta Mbok Nem untuk istirahat lebih dulu. Malam ini ia yang akan menemani Azka tidur. Makan malam sudah tersedia, karena dingin wanita itu memanaskannya kembali. Walupun Aldi berucap tidak perlu karena takut sang istri merasa lela
Sepanjang malam Rania tidur hanya sebentar-sebentar, setakut itu dia jika sampai kebablasan dan tidur dalam keadaan memeluk Aldi. Alhasil, pagi ini saat bekerja ia mengantuk, sesekali menguap dan berakhir tertidur dengan beralasan tangan di meja. Nita yang baru selesai mengambil air, ia melihat Rania yang sedang terlelap. Tanpa pikir panjang ia menyiramkan airnya, membuat wanita itu langsung terbangun. "Enak banget Lo ya tidur di kantor, yang lain pada kerja.""Aku....""Kerja. Jangan makan gaji buta!"Nita tersenyum miring melihat wanita itu yang basah kuyup, kemudian kembali ke mejanya. Bukan kerja, tapi malah memainkan ponselnya.Karena basah, wanita itu memutuskan untuk pergi ke toilet, ternyata di sana ada Aldi yang juga baru keluar dari kamar mandi. Pria itu memperhatikan sang istri, ia pun bertanya kenapa bisa seperti ini. "Siapa yang lakuin ini ke kamu?""Nita." Dia sangat ingin rasa memberikan pelajaran pada perempuan itu, jika dia memberikan kesedihan pada sang suami, Ra
Setelah pegawai memberikannya, pria itu membantu Rania untuk memakainya. Ia menatap dengan dalam, sungguh cantik sekali istrinya itu mengenakan kalungnya. "Cantik sekali."Perkataan Aldi membuat Rania memalingkan wajah. Entah mengapa ia merasa malu dipuji seperti itu. "Kalungnya."Tak jadi merasa di sanjung, wanita itu mendelikan mata pada Aldi. Melihat ekspresi itu Aldi terkekeh karena merasa lucu. "Berikan kalung ini pada saya.""Baik, totalnya jadi tiga ratus lima puluh juga rupiah. Mau bayar cash atau debit?"Pria itu merogoh kartu hitam dari Jaz nya, kemudian memberikannya pada sang pegawai. Sedangkan Rania sejak tadi hanya bisa melotot dengan mulut yang menganga. Betapa fantastis sekali harga kalung itu. "Mas... Itu mahal banget. Aku gak mau nerima itu.""Sutt, udah gak usah komen. Anggap aja ini sebagai tanda terima kasihku, karena akhirnya dengan perlahan kamu bisa menerimaku sebagai suami."Rania menatap mata pria itu, sejujurnya ia masih bingung, antara harus dengan lap
"Hatiku sakit melihat dia menangis, aku gak bisa seperti ini terus...."Wanita itu memeluk erat sang suami, air matanya mengalir dengan deras. Baru ia sadari bahwa Aldi memanglah sangat menyayangi Azka seperti Andika menyayanginya. Wanita itu merasa sangat bersalah karena berniat ingin menjauhkan mereka berdua. Padahal Azka adalah hidup Aldi, dan Aldi adalah kebahagiaan bagi Azka. Wanita itu merelaikan pelukan, ia mengakup kedua wajah sang suami, kemudian mengusap air matanya."Maafkan aku, Mas. Aku gak tau kalau kasih sayangmu pada Azka sedalam ini. Mulai sekarang, Azka anakmu, tolong rawat dia dengan baik untukku dan Mas Andika, anggap dia sebagai anakmu sendiri. Jangan pernah kecewakan dia."Aldi mengusap tangan istrinya itu, ia kemudian berkata, "Beneran, Ran?" Pelan ia berbicara. Wanita itu mengangguk, Aldi langsung memeluknya dengan erat, berkali-kali berterimakasih karena telah mengizinkan dia untuk dekat dengan Azka setelah beberapa hari ia menahan sakit di hatinya karena m
Sedangkan Aldi mengelus rambut wanita itu agar ia lebih tenang. Tak lama dia mendengar dengkuran halus, Rania sudah terlelap kembali. Dengan hati-hati ia membaringkannya, kemudian ia pun tidur sembari memeluk sang istri.Pagi telah tiba, keduanya kini sedang menikmati sarapan bersama. Azka yang sedari tadi mengoceh pada Aldi, tapi pria itu sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan nampak dingin padanya. Azka mengadu pada sang ibu, kenapa pria yang dulu ia kenal baik dan sangat penyayang, sekarang bahkan untuk sekedar berbicara dengannya saja seperti tidak mau."Aku punya salah apa, Ayah. Apa kesalahanku karena memanggilmu ayah?" tanyanya, dengan raut wajah yang sedih.Aldi yang tak kuasa melihat itu, ia pergi begitu saja ke kamarnya, membuat Azka menangis menatap kepergiannya. "Bunda...." Anak itu menatap sang ibu, Rania memejamkan mata dan mengatur napasnya. Ini sungguh sangat sulit.Wanita itu mendekat, ia memeluk sang anak erat. Kemudian berkata, "Mungkin ayah hanya capek, tolong d
"Pernah. Tapi sekarang kita udah putus, karena dia hamil sama pria lain."Rania sontak melirik, ia kemudian berpikir sepertinya Aldi salah sangka pada Diki. "Kok bisa, ya? Maksudnya, pacaran sama kamu kok bisa tidur sama pria lain.""Entahlah, aku juga bingung. Padahal kita udah lama pacaran, bahkan hampir aja ke jenjang serius. Mungkin bukan takdirnya aja."Rania mengangguk. Ia semakin yakin bahwa Diki adalah lelaki yang baik. Wanita itu sedikit lega sekarang. Kalau dilihat dari penampilannya juga, Diki nampak sopan sekali. Alun-alun sudah di depan mata, wanita itu turun dengan mata yang berbinar. Sangat ramai di sana, banyak sekali makanan dan juga wahana bermain. "Rame kan?" tanya Diki, yang melihat Rania sibuk memperhatikan tukang makanan."Iya, makasih ya udah bawa aku ke sini."Diki tersenyum miring, ia membawa wanita itu untuk duduk dan menikmati makan. Dia kemudian menyodorkan secangkir minuman pada Rania, karena haus wanita itu langsung meneguknya sampai tandas.Diki menat
Pagi sekali, Rania terbangun, dia menatap sekeliling, Aldi sudah tidak ada di sofa. Dengan cepat wanita itu duduk dan memastikan, memang benar Aldi sudah tidak ada. Pintu kamar mandi pun terbuka, tidak mungkin pria itu ada di sana. "Jangan-jangan dia keluar ninggalin aku sendirian di sini. Dih, dasar pria menjengkelkan—"Pintu terbuka, membuat Rania seketika menatapnya. Ternyata Aldi baru keluar untuk membelikan pembalut. Semalam, saat pria itu ingin ke kamar mandi. Diam-diam ia menatap wajah sang istri yang sedang terlelap. Namun, pria itu gagal fokus saat melihat bercak darah yang ada di seprei. Saat dilihat lagi, ternyata di rok yang Rania kenakan juga ada. Pria itu mengangguk dan pergi ke kamar mandi. "Kamu udah bangun?"Rania menarik selimut dengan wajah yang masam. "Nih, ganti baju dan pakai ini. Lama-lama seprei habis merah oleh darahmu.""Hah?" Rania panik, dia langsung turun dari ranjang dan melihatnya, benar saja, banyak bercak darah di sana. "Kan? Sana."Tanpa pikir pa