Aldi yang semula diam karena terkejut, ia menggeleng sambil tersenyum, berusaha gembira di hadapan sahabatnya.
"Gue... gue bekerja sama dengan salah satu perusahaan, yang di mana keuntungan itu mencapai miliaran." "Hah, beneran? Wahh, selamat, Bro. Gue salut banget sama Lo!" Andika semakin merasa bahagia, ia memeluk Aldi dengan tawa, sedangkan Aldi memejamkan mata untuk mengikhlaskan semuanya. "Saat aku sudah mengikhlaskan kamu, kenapa Tuhan malah mempersatukan kita berdua, Ran," gumam Aldi, ia ingin menyeruput kembali kopinya, tapi ternyata sudah kosong, hanya tersisa hampasnya saja. Pria itu tersenyum miring, ia bingung dengan permainan Tuhan yang diberikan padanya. Takdir apa ini? Dulu Ia ambil kekasih hatinya, sekarang Ia mengambil sahabatnya. "Andai waktu bisa berputar kembali, bisa kan kita mencintai wanita yang berbeda? Mungkin dengan itu kita akan bahagia sekarang, An." Aldi kini hanya bisa menghela napas pelan. Semuanya telah terjadi, ia kini memiliki kekasih yang dulu telah lama pergi. Tapi sekarang, sang sahabat yang meninggalkan dirinya pergi untuk selamanya. Antara sedih dan bahagia yang Aldi rasakan. Ia masih sungkan pada Andika jika untuk berbuat semaunya pada Rania. Padahal kini, wanita itu sudah menjadi miliknya seutuhnya. *** Hari Senin datang, semua orang sibuk di meja masing-masing, begitu juga dengan Rania yang sedang berkutik dengan pekerjaannya. Ia kemudian membuka laporan, ada satu yang harus ditandatangani oleh Aldi. Wanita itu masih ragu untuk bertemu dengan suaminya itu, bahkan sejak kemarin ia tidak melihat Aldi. Tidur pun terpaksa di kamar sang anak yang hanya ada satu kasur kecil yang hanya cukup untuk Azka saja. "Heh, anak baru. Beliin gue kopi, dong." Rania menatap perempuan yang ada di depannya itu. "Ini kan masih jam kerja, nanti aja pas istirahat ya." "Kalau gue bilang sekarang ya sekarang. Gimana sih." "Iya tapi, kan—" "Lo mau dipecat dari sini?" Perempuan bernama Nita itu mendekat. "Lo tau, kalau gue ini keponakan Pak Susanto." Melihat kesombongan perempuan itu, ingin sekali rasanya Rania berkata bahwa ia lebih berkuasa di sini karena dirinya adalah istri dari seorang bos. Tapi, urung wanita itu lakukan. Ia juga tak mau mengakui kalau dirinya adalah istri Aldi. Masih tak percaya rasanya bahwa dia sekarang sudah menikah untuk yang ke dua kalinya. "Iya aku beliin. Uangnya?" Wanita itu menadahkan tangan pada Nita. "Ya pake dulu uang Lo, lah." Rania berdiri dengan tangan yang sedikit menggebrak meja. Kemudian pergi dengan wajah yang masam. Panas terik membuat dia semakin emosi, ditambah lagi tempat untuk membeli kopi antri. Makin pusing Rania rasanya. "Nyebelin banget, huh! Semoga dia yang kena pecat. Kok ada orang modelan begitu." Sambil ngedumel, Rania menunggu antrian. Sampai akhirnya ia mendapatkan es kopi itu dan kembali ke kantor. "Uangnya?" Rania kembali menadahkan tangan saat kopi itu sudah berada di tangan Nita. "Apa? Uang? Ya Lo yang beliin lah, lawak kali minta uang segala." Nita mendelik sambil berlalu dari hadapan Rania. Membuat wanita itu mengepalkan tangan, ingin rasanya ia mencopot sepatunya dan melemparkan pada kepala Nita. Sedang kesal-kesalnya, seseorang memanggil Rania karena dicari oleh Aldi. Wanita itu semakin lesu rasanya, kenapa banyak sekali cobaan yang harus dicobain hari ini. Ketukan pintu ia lakukan, kemudian masuk dengan menunduk. Sama sekali tidak menatap Aldi. Pria itu yang menatapnya merasa aneh, kenapa Rania hanya diam menunduk seperti keberatan beban di pundaknya itu. "Dokumen yang kemarin mana?" "Yang mana?" tanya Rania balik, sambil tetap menunduk. "Bisa gak kalau lagi bicara angkat kepala terus tatap lawan bicara kamu." Dengan cemberut Rania mendongak dan menatap suaminya itu. Kening Aldi mengerut melihat itu, ia tak tau apa yang terjadi membuat wanita yang keras kepala itu diam dengan wajah yang masam. "Kenapa kamu?" "Gak papa." "Gak papa kenapa cemberut begitu." "Ya gak papa." Aldi mengusap wajahnya sambil menggaruk kepala. Panjang urusan kalau sudah seperti ini. "Ada yang ganggu kamu di sini?" Rania berpikir, sepertinya asik kalau ia mengadu soal Nita yang seenak jidat memperlakukan dia tadi. "Enggak, Mas. Cuma di sini kalau orang baru selalu disuruh sama harus ngeluarin uang buat beliin senior sesuatu gitu ya? Mana aku baru kerja belum gajian, malah dipalakin." Dengan nada yang disedih-sedihkan ia mengatakan hal itu. "Siapa yang berani lakuin itu sama kamu?" "Emm... namanya Nita." "Nita?" Aldi menatap tajam ke arah pintu, kemudian ia bangkit dan pergi dari ruangannya. Melihat itu Rania mengintip kepergian suaminya, ia cekikikan. Dia yakin, kalau Aldi akan memarahi perempuan licik itu. "Ternyata begini rasanya jadi istri bos. Eh, kok?" Rania keceplosan, ia menutup mulutnya sambil pelan-pelan keluar dari ruangan Aldi untuk mengintip keadaan Nita setelah ini."Mulai sekarang, gak ada lagi yang boleh menyuruh-nyuruh di kantor ini. Ketahuan ada yang melakukan itu, saya denda lima ratus ribu!" Nita yang merasa bahwa ucapan itu diarahkan padanya, ia hanya bisa tertunduk dan merasa kesal, ia yakin bahwa Rania telah mengadu pada bosnya itu."Dan yang di suruhnya, jangan mau lakuin hal itu," kata Aldi tegas, kemudian ia menatap Rania yang diam di pojokan dengan tangan yang saling bertautan.Mata Aldi tak lepas dari menatap sang istri saat berlalu ingin masuk lagi ke ruangannya. Begitu juga dengan Rania yang matanya mengikuti arah sang suami pergi.Nita yang memperhatikan Rania, tangannya terkepal. Ia akan mengadu pada sang paman agar Rania di pecat dari perusahaan. ***"Aww!" Sebuah tangan yang mencengkram leher Rania membuat wanita itu meringis karena kesakitan.Ia sedang berada di kamar mandi, dan ternyata Nita mengikutinya untuk memberikan Rania pelajaran."Lo kan yang udah ngadu sama Pak Aldi soal yang tadi. Sudah gue bilang, jangan berani
"Pa—Pak Aldi, foto ini saya dapat dari grup. Nita... dia yang ngirim, Pak.""Dia lagi," ujar Aldi jengkel. Ia meminta Anisa untuk kembali bekerja dan jangan terus menyebarkan rumor. "Udah dibilang jangan deket-deket, ngeyel!" Tekan Rania, dengan wajah yang kesal tapi tatapan fokus ke laptop. "Tapi memangnya kenapa kalau mereka tau? Toh kamu memang istriku aku, kan?"Entah ke berapa kali Aldi mendapatkan tatapan tajam dari istrinya itu. Ia hanya bisa tersenyum meledek sambil berlalu pergi memasuki ruangan.Siska yang menatap foto itu di ponselnya, ia mengepalkan tangan kemudian menggebrak meja. Ia berpikir Rania terlalu berani, dia saja belum pernah di ajak pulang bareng selama tiga tahun menjadi sekretaris Aldi, tapi dengan mudah Rania bisa mendapatkan itu semua padahal baru saja bekerja di kantor ini. "Sepertinya dia memang gak bisa aku diamkan!" Siska tersenyum miring merencanakan sesuatu yang akan membuat Rania menyesal karena telah berurusan dengannya. Jam istirahat datang, se
Rania mendongak dengan mata yang melotot. Dia bahkan lebih percaya orang-orang di sana daripada memastikan lebih dulu bahwa bukan Rania lah yang mencuri."Bapak juga memfitnah saya?" tekan Rania, satu bulir air mata menetes di pipi wanita itu. Melihat itu membuat Aldi tidak tega, ia berdehem agar sedikit lebih kalem lagi. "Bukan... Bukan begitu maksud saya. Tapi—""Alahh mana ada sih, Pak, maling ngaku!""Iya, Pak. Udah jelas-jelas semua barang teman-teman kita ada di tas dia semua.""Diam! Ini kenapa kalian berdua yang ribut dari tadi. Memangnya barang kalian juga ada di tas dia?" sentak Aldi. Siska dan Nita hanya bisa menunduk dan menggeleng mendengar Aldi yang sudah mulai marah. "Sudah, kalian kembali bekerja. Urusan Rania, biar saya yang urus. Dan kita lihat, siapa pelaku sebenarnya. Jika memang bukan Rania yang mencuri, maka orang itu akan saya pecat tanpa pesangon!"Nita dan Siska mendongak dengan mata yang melotot. Mereka saling pandang dengan isyarat mata. Habis sudah jik
Ia meminta semuanya untuk kumpul dan melihat kejadian yang sebenarnya. Kapan waktu orang itu mengambil barang, dan saat itu sedang di mana Rania berada. Semua orang di sana mengangguk dan merasa bersalah karena telah terlanjur menuduh Rania. Sebagian dari mereka ada yang meminta maaf, tapi juga yang hanya diam dan menganggap semua ini hanya keisengan semata. Aldi meminta mereka untuk kembali bekerja. Sedangkan Siska dan Nita diam-diam mengacungkan jempol satu sama lain. Mereka berpikir mereka itu pintar karena terpikir lebih dulu untuk tidak menampakan wajah. "Kamu ikuti saya." Rania dengan malas membuntuti suaminya itu. Di dalam, Aldi tersenyum penuh arti, sedangkan Rania menatap dengan bingung karena suaminya itu senyum-senyum sendiri sedari tadi. "Ada apa?" tanya Rania, ia tidak ingin lama-lama ada di ruangan berdua dengan suaminya itu. "Kamu lupa perjanjian kita?""Enggak," kata Rania. "Bagus kalau begitu. Ya udah, langsung aja. Aku mau....""Mau apa? Kan perjanjiannya juga
"Katanya Bu Linda sudah kembali.""Iyakah? Wah, berarti sekarang Pak Aldi gak bakalan kesepian lagi. Hihi.""Iya bener banget. Pasti mereka bakalan selalu pergi berduaan diam-diam. Padahal kita semua tau kalau mereka ada hubungan khusus."Rania mendengar itu jadi tak fokus pada pekerjaannya. Ia menggeser kursi mendekat pada Anisa yang sibuk berkutik dengan laptopnya."Siapa Bu Linda itu?" "Hah?" Anisa yang tak mendengar gosip mereka, ia membenarkan kacamatanya mencerna lagi apa yang Rania katakan. "Bu Linda siapa?""Bu Linda? Oh... dia. Itu, asisten Pak Aldi. Dia sempat cuti seminggu kayaknya gak tau kenapa. Dengar-dengar sih sekarang bakalan datang ke kantor.""Owh... emang ada hubungan apa dia sama Pak Aldi?" Anisa yang mendengar itu tersenyum penuh curiga pada Rania. Ia mendekatkan wajahnya sambil berbisik, "Kamu cemburu yaaa.""Ishhh, apaan sih. Aku kan cuma nanya, itu dengar-dengar katanya mereka ada hubungan spesial.""Hmm... Gak tau juga sih. Tapi biasanya mereka emang suka
Rania langsung lari keluar dan kembali duduk di tempat kerjanya dengan perasaan yang berkecamuk. Anisa yang melihat itu hanya bengong, bertanya-tanya ada apa dengan temannya itu. Sementara napas Rania masih belum stabil, ia mengusap dadanya berusaha untuk tenang. Namun, hal itu justru membuat orang-orang di sana memperhatikan dia. Karena dengan secara tiba-tiba berlari dari ruangan bos seperti melarikan diri dari kejaran anji*ng.Anisa yang melihat karyawan lain saling berbisik, ia mendekat pada wanita itu. "Are you oke?""Hmm." Rania mengangguk dan berusaha bersikap biasa saja."Kamu yakin? Wajah kamu pucat, gak abis dimarahin kan?""Hah? Eng—enggak. Aku cuma... Ahh, takut tadi ada kecoa. Iya, makanya aku kabur," elak Rania. Mana mungkin ia mengatakan bawah habis mendapatkan kecupan dari sang bos secara brutal. "Owalah... Kirain kenapa. Ya udah, lanjut kerja. Kalau Bu Linda tau kita suka ngerumpi, bisa habis dimarahi.""Iya." Rania tersenyum pada temannya itu, padahal jantungnya ma
"Es teehhh!" jawab Rania sebal. Bisa-bisanya dia memanggil seperti itu, bahkan di tempat umum begini. Kan dia jadi malu. Aldi kembali setelah memesan, ia duduk sambil menatap danau yang di ujungnya dipenuhi lampu-lampu dari penduduk sana. Semilir angin menabrak wajahnya, entah kenapa ia sangat menyukai tempat itu. Baginya, tempat itu tenang dan damai, bisa membuat mood jadi baik. Walaupun ramai orang yang berkunjung juga di sana. Pria itu yang tak sengaja melirik sang istri, Rania nampak mengusap-usap tangannya karena merasa dingin. Baju dengan lengan pendek yang ia kenakan, membuat angin dengan lembut menyentuhnya. Tanpa basa-basi Aldi berdiri dan membuka jaz-nya, ia menyelimuti sang istri, membuat Rania menatapnya dengan terheran-heran. Kenapa dia biasa sangat peka, padahal Rania tidak berkata apa-apa. "Makasih," ujarnya serius. "Sama-sama." Aldi tersenyum menanggapi. Tak lama makanan datang, disambut oleh Rania dengan mata yang berbinar. Ini makanan yang dia rindukan. Sudah
Tapi apa boleh buat, ia bekerja juga untuk menghidupi sang anak. Dalam situasi ini Rania dilema. Jika berhenti, ia tak mau kalau sampai Aldi menanggung kebutuhan mereka semuanya. Apalagi sekarang Mbok Nem juga ikut kerja di rumah Aldi setelah mereka pindah rumah. "Makasih, Bu. Akan saya usahakan untuk dekat dengan Azka."Sang guru tersenyum sambil mengusap punggung Rania. Ia kemudian izin pergi. Wanita itu duduk termenung. Melihat anak-anak yang lain nampak senang sekali bermain dan bercanda dengan ayah-ayah mereka. Hanya Azka yang bermain mengikuti teman-temannya yang sedang bercanda. Ia meneteskan air mata, andai saja sang suami masih ada. Mungkin sekarang mereka sedang bersenang-senang."Azka, ayah kamu gak datang?""Iya, kok kamu sering gak sama ayah kamu sih.""Ayah aku dong, kalau ke mana-mana selalu ajak aku."Teman-temannya yang sering mengolok-olok itu mendekat, membuat Azka tak nyaman dan berlari. Namun, ia bertabrakan dengan seseorang, sampai anak itu mendongak dan kemud
"Mmm, kita mau ke mana?""Ayo tebak. Mau ke mana?"Wanita itu menggeleng pelan."Nanti kamu juga tau."Rania mengangguk patuh. Sepanjang perjalanan ia tak banyak mengobrol. Mereka pun telah sampai di tempat yang dituju. Rania turun dengan tatapan penuh kerinduan pada tempat itu. Ia melirik pria di sampingnya yang sedang tersenyum, memberikan kode untuk ia menggandeng tangannya. Rania pun menerima tawaran itu, ia menggandengnya dan mereka memasuki area cafe yang banyak sekali kenangan di dalamnya. Mereka duduk, pria itu memesan makanan legend yang dulu selalu mereka pesan.Tak lama, pesanan itu pun datang."Nih, banana milk dengan steak ayam saus jamur. Kentangnya setengah matang, kesukaan kamu.""Kamu masih ingat?" tanya Rania. "Mana mungkin aku lupa makanan kesukaan kekasihku."Rania berdehem mendengar itu. Ia tak membenarkan apa yang dikatakan oleh pria bernama Irfan itu. "Oh, maaf. Maksudku, mantan kekasih."Rania mencoba tersenyum, ia kemudian menikmati makanan itu saat Irfan
"Pagi yang indah, istriku.""Hmm.""Gak mau bangun nih? Kayaknya enak banget ya tidur di pelukan aku.""Hmm?" Rania yang baru membuka mata itu mendongak, mengucek matanya dan kini terlihat jelas siapa yang berbicara. Aldi tersenyum menatap sang istri. Tangannya digenggam oleh tangan Rania yang sebelah kiri, sedangkan wajah wanita itu masih menempel di dadanya. "Apa aku bilang. Nyaman kan tidur di pelukan suamimu ini."Rania yang menyadari itu langsung menarik diri, ia merasa malu, kejadian itu terulang kembali. "Dasar modus!" umpatnya."Aku?" Aldi yang mendengar itu langsung duduk, ia mencondongkan tubuhnya kepada Rania, membuat wanita itu memundurkan tubuhnya."Kan kamu yang deketin aku duluan. Emangnya semalam gak ingat, apa yang kamu lakuin ke aku? Bahkan, seumur hidup pun aku tidak akan bisa melupakannya.""Memangnya apa yang aku lakuin?" tanya Rania cemas, sembari mengingat apa yang semalam ia lakukan. Perasaan dia tertidur pulas tanpa bangun sama sekali. "Kamu lupa atau pur
"Ya... takut aja. Kalau kayak waktu itu lagi, aku kan kalau tidur orangnya gak bisa diem. Di sofa aja sering jatoh kadang-kadang.""Hah, yang bener? Tuh kan... Udah, mulai sekarang, kamu tidur sama aku di ranjang. Jangan di sofa lagi.""Tapi—""Masih mau nolak?"Wanita itu mau tak mau mengalah. Ia akan pikirkan caranya nanti, biar tidak satu ranjang dengan sang suami tapi dia masih bisa tidur dengan pulas. ***Selepas bekerja, mereka kembali ke rumah. Azka sudah menunggu walaupun malam mulai larut. Anak kecil itu ingin mengobrol dulu dengan sang ayah. Ia berteriak gembira saat keduanya masuk ke rumah. Mbok Nem meminta maaf karena tidak menidurkan Azka seperti biasa, ia mengeluh bahwa Azka selalu ingin menunggu keduanya untuk pulang.Rania memaklumi, ia meminta Mbok Nem untuk istirahat lebih dulu. Malam ini ia yang akan menemani Azka tidur. Makan malam sudah tersedia, karena dingin wanita itu memanaskannya kembali. Walupun Aldi berucap tidak perlu karena takut sang istri merasa lela
Sepanjang malam Rania tidur hanya sebentar-sebentar, setakut itu dia jika sampai kebablasan dan tidur dalam keadaan memeluk Aldi. Alhasil, pagi ini saat bekerja ia mengantuk, sesekali menguap dan berakhir tertidur dengan beralasan tangan di meja. Nita yang baru selesai mengambil air, ia melihat Rania yang sedang terlelap. Tanpa pikir panjang ia menyiramkan airnya, membuat wanita itu langsung terbangun. "Enak banget Lo ya tidur di kantor, yang lain pada kerja.""Aku....""Kerja. Jangan makan gaji buta!"Nita tersenyum miring melihat wanita itu yang basah kuyup, kemudian kembali ke mejanya. Bukan kerja, tapi malah memainkan ponselnya.Karena basah, wanita itu memutuskan untuk pergi ke toilet, ternyata di sana ada Aldi yang juga baru keluar dari kamar mandi. Pria itu memperhatikan sang istri, ia pun bertanya kenapa bisa seperti ini. "Siapa yang lakuin ini ke kamu?""Nita." Dia sangat ingin rasa memberikan pelajaran pada perempuan itu, jika dia memberikan kesedihan pada sang suami, Ra
Setelah pegawai memberikannya, pria itu membantu Rania untuk memakainya. Ia menatap dengan dalam, sungguh cantik sekali istrinya itu mengenakan kalungnya. "Cantik sekali."Perkataan Aldi membuat Rania memalingkan wajah. Entah mengapa ia merasa malu dipuji seperti itu. "Kalungnya."Tak jadi merasa di sanjung, wanita itu mendelikan mata pada Aldi. Melihat ekspresi itu Aldi terkekeh karena merasa lucu. "Berikan kalung ini pada saya.""Baik, totalnya jadi tiga ratus lima puluh juga rupiah. Mau bayar cash atau debit?"Pria itu merogoh kartu hitam dari Jaz nya, kemudian memberikannya pada sang pegawai. Sedangkan Rania sejak tadi hanya bisa melotot dengan mulut yang menganga. Betapa fantastis sekali harga kalung itu. "Mas... Itu mahal banget. Aku gak mau nerima itu.""Sutt, udah gak usah komen. Anggap aja ini sebagai tanda terima kasihku, karena akhirnya dengan perlahan kamu bisa menerimaku sebagai suami."Rania menatap mata pria itu, sejujurnya ia masih bingung, antara harus dengan lap
"Hatiku sakit melihat dia menangis, aku gak bisa seperti ini terus...."Wanita itu memeluk erat sang suami, air matanya mengalir dengan deras. Baru ia sadari bahwa Aldi memanglah sangat menyayangi Azka seperti Andika menyayanginya. Wanita itu merasa sangat bersalah karena berniat ingin menjauhkan mereka berdua. Padahal Azka adalah hidup Aldi, dan Aldi adalah kebahagiaan bagi Azka. Wanita itu merelaikan pelukan, ia mengakup kedua wajah sang suami, kemudian mengusap air matanya."Maafkan aku, Mas. Aku gak tau kalau kasih sayangmu pada Azka sedalam ini. Mulai sekarang, Azka anakmu, tolong rawat dia dengan baik untukku dan Mas Andika, anggap dia sebagai anakmu sendiri. Jangan pernah kecewakan dia."Aldi mengusap tangan istrinya itu, ia kemudian berkata, "Beneran, Ran?" Pelan ia berbicara. Wanita itu mengangguk, Aldi langsung memeluknya dengan erat, berkali-kali berterimakasih karena telah mengizinkan dia untuk dekat dengan Azka setelah beberapa hari ia menahan sakit di hatinya karena m
Sedangkan Aldi mengelus rambut wanita itu agar ia lebih tenang. Tak lama dia mendengar dengkuran halus, Rania sudah terlelap kembali. Dengan hati-hati ia membaringkannya, kemudian ia pun tidur sembari memeluk sang istri.Pagi telah tiba, keduanya kini sedang menikmati sarapan bersama. Azka yang sedari tadi mengoceh pada Aldi, tapi pria itu sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan nampak dingin padanya. Azka mengadu pada sang ibu, kenapa pria yang dulu ia kenal baik dan sangat penyayang, sekarang bahkan untuk sekedar berbicara dengannya saja seperti tidak mau."Aku punya salah apa, Ayah. Apa kesalahanku karena memanggilmu ayah?" tanyanya, dengan raut wajah yang sedih.Aldi yang tak kuasa melihat itu, ia pergi begitu saja ke kamarnya, membuat Azka menangis menatap kepergiannya. "Bunda...." Anak itu menatap sang ibu, Rania memejamkan mata dan mengatur napasnya. Ini sungguh sangat sulit.Wanita itu mendekat, ia memeluk sang anak erat. Kemudian berkata, "Mungkin ayah hanya capek, tolong d
"Pernah. Tapi sekarang kita udah putus, karena dia hamil sama pria lain."Rania sontak melirik, ia kemudian berpikir sepertinya Aldi salah sangka pada Diki. "Kok bisa, ya? Maksudnya, pacaran sama kamu kok bisa tidur sama pria lain.""Entahlah, aku juga bingung. Padahal kita udah lama pacaran, bahkan hampir aja ke jenjang serius. Mungkin bukan takdirnya aja."Rania mengangguk. Ia semakin yakin bahwa Diki adalah lelaki yang baik. Wanita itu sedikit lega sekarang. Kalau dilihat dari penampilannya juga, Diki nampak sopan sekali. Alun-alun sudah di depan mata, wanita itu turun dengan mata yang berbinar. Sangat ramai di sana, banyak sekali makanan dan juga wahana bermain. "Rame kan?" tanya Diki, yang melihat Rania sibuk memperhatikan tukang makanan."Iya, makasih ya udah bawa aku ke sini."Diki tersenyum miring, ia membawa wanita itu untuk duduk dan menikmati makan. Dia kemudian menyodorkan secangkir minuman pada Rania, karena haus wanita itu langsung meneguknya sampai tandas.Diki menat
Pagi sekali, Rania terbangun, dia menatap sekeliling, Aldi sudah tidak ada di sofa. Dengan cepat wanita itu duduk dan memastikan, memang benar Aldi sudah tidak ada. Pintu kamar mandi pun terbuka, tidak mungkin pria itu ada di sana. "Jangan-jangan dia keluar ninggalin aku sendirian di sini. Dih, dasar pria menjengkelkan—"Pintu terbuka, membuat Rania seketika menatapnya. Ternyata Aldi baru keluar untuk membelikan pembalut. Semalam, saat pria itu ingin ke kamar mandi. Diam-diam ia menatap wajah sang istri yang sedang terlelap. Namun, pria itu gagal fokus saat melihat bercak darah yang ada di seprei. Saat dilihat lagi, ternyata di rok yang Rania kenakan juga ada. Pria itu mengangguk dan pergi ke kamar mandi. "Kamu udah bangun?"Rania menarik selimut dengan wajah yang masam. "Nih, ganti baju dan pakai ini. Lama-lama seprei habis merah oleh darahmu.""Hah?" Rania panik, dia langsung turun dari ranjang dan melihatnya, benar saja, banyak bercak darah di sana. "Kan? Sana."Tanpa pikir pa