"Lex, kamu mau pulang jam berapa? Ini sudah sore. Kita mau ke rumah Aini.""Alex ada lemburan, Ma. Besok saja kita ke sana. Alex udah mastiin keadaan Aini. Aink baik-baik saja. Cuma lagi healing katanya lagi gak pengen diganggu.""Masa, sih? Bukannya Aini yang minta kita berdua ke rumahnya?""Iya, Ma, tapi masih bisa besok. Alex ada lemburan. Besok siang kita ke sana, oke?" Bu Asma tidak punya pilihan lain, selain setuju dengan ucapan putranya. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan Aini, tetapi ia harus bersabar sampai besok. Bu Asma pun mengetik pesan untuk Aini yang mengabarkan bahwa ia dan Alex tidak bisa berkunjung malam ini karena putranya itu lembur. Namun, pesan yang ia kirimkan hanya ceklis satu saja. Apa aku sendirian saja ke sana? Tapi kata Aini, dia minta aku dan Alex. Duh, ada apa sih, benar-benar penasaran jadinya. Batin bu Asma. Kring! Kring! Ponselnya pun berdering. Muncul nama salah satu temannya di layar ponsel. "Halo, iya, Mbak.""Halo,
"Makasih udah selamatin Aris." Aini tersenyum tipis. Wanita itu merapikan selimut Aris yang tersingkap. "Aris pernah aku anggap anakku, Ai, sebelum tes DNA." Aini tertawa. "Ya, hanya bayiku saja yang tak pernah dianggap anak." Dhuha merasa sudah mengucapkan kalimat yang salah. Keinginan untuk rujuk dengan Aini tidak mudah. Ada banyak hal yang sangat menyinggung wanita itu baik sebagai istri, maupun ibu. Dhuha berjalan masuk dan duduk di dekat Aini. "Tidak seperti itu maksudnya, Ai. Kamu selalu saja salah paham denganku. Aku minta maaf jika ucapanku menyinggung kamu, tapi aku gak bermaksud. Aku suka anak-anak Ai. Sebagaimana aku dekat dengan Izzam dan Intan." Aini membuang pandangannya. Ia lekas berdiri dan keluar dari kamar Dhuha. Sudah ada Hakim yang menunggu di kursi tamu. "Bagaimana, Mbak?" tanya Hakim. "Besok akan kita bawa ke Jakarta. Aris harus segera dipertemukan dengan Anton." "Mbak Aini ikut nganter?" Aini mengangguk. "Apa gak papa anak-anak ditinggal ke Jakarta?" "Bi
"Aini, tunggu! Aini!" Aini terpaksa menahan langkahnya karena pergelanhan tangannya dipegang sedikit kuat oleh Alex. "Ada apa lagi, Mas? Bukannya semua sudah jelas, bahwa Mas Alex mau mengambil manfaat dari saya! Mas, padahal semuanya akan halal dalam hitungan hari, tapi Mas malah gak sabar. " Aini menjeda sebentar ucapannya, sambil menarik napas begitu dalam. Ia pun sebenarnya masih bingung harus berbuat apa. Maju kena, mundur juga kena. "Lagian, Dhuha kembali. Dia ada di Indonesia dan ia bilang, saya masih sah sebagai istrinya. Saya juga merasa ini semakin rumit. Sudahlah, Mas, saya masuk dulu. Ini sudah malam, saya capek mau istirahat. Mas pulang ya, nanti kita bicara lagi." Alex pun akhirnya melepas pergelangan tangan Aini. Membiarkan wanita itu masuk ke dalam rumah dengan keadaan lelah. "Dhuha hanya alasan kamu saja, kan, Ai? Aini, Aini! kita tetap perlu bicara!" seru Alex, tetapi Aini malah menutup pintu, lalu mengunci rumahnya. Hakim hanya memantau saja dari luar pagar dan
"Kamu kenal di mana sama calon menantuku ini, Mbak Mar?" tanya bu Asma terkejut saat Aini dan wanita mantan mertuanya itu saling sapa. "Di Jakarta, pernah ketemu, tapi hanya sebatas kenal saja, Ma. Biar saya siapkan menu yang sudah dipesan Mama ya. Tunggu sebentar.""Makasih, Sayang. Kamu pasti jadi repot ada Mama dan teman-teman Mama." Ainu tersenyum begitu tulus. "Gak papa, Ma. Mari, Om, Tante, saya permisi dulu." Aini pun segera keluar dari ruangan VIP yang ad akan transparannya itu. Jantung wanita itu berdetak cepat. Keduanya tangannya dingin, sampai-sampai ia harus duduk di kursi kosong di dekat lorong dapur. "Bu Aini gak papa?" tanya Muslim; salah pelayan restoran yang kebetulan memperhatikan keadaan Aini. "Air, tolong ambilkan saya air, Mus!""Baik, Bu, tunggu sebentar!" lelaki muda itu segera menuangkan air dalam gelas besar, lalu membawanya lagi pada Aini yang sedang mengusap peluh dengan tangannya. Keringat belum berhenti bercucuran di dahi dan kening wanita itu. Aini me
Enak, beneran enak," kata Viona jujur. "Ya, kan, Mbak Mar?" tanya Viona sengaja. Maria hanya tersenyum saja karena menghargai Asma. Semua makan dengan lahap, kecuali ibu dari Dhuha. Wanita itu tidak bisa menelan nasi di dalam mulutnya. Ia bahkan sudah menghabiskan dua gelas jus jeruk, tetapi nasi dan menu lainnya tak bisa ia telan dengan baik. "Permisi!" Aini masuk kembali, lalu berbisik pada bu Asma. "Ma, Aini ada urusan. Jadi gak bisa nemenin sampai selesai ya." "Mau ke mana?" "Ke Jakarta, Ma. Teman Aini yang namanya Anton sakit." Bu Asma langsung mengingat nama pria yang sering disebut Aini maupun cucunya. "Oh, ya? Oke, salam dari Mama ya. Jangan lupa kamu belikan oleh-oleh khas di sini untuk Anton. Anak-anak biar sama Mama. Dari sini, Mama akan jemput anak-anak." Aini mengangguk sambil tersenyum. "Makasih, Ma." "Om, Tante, saya ijin tidak menemani sampai selesai ya. Masih ada pekerjaan lain. Silakan dinikmati hidangannya. Jika kurang, panggil saja pelayan say
"Kalian berdua ini, bisa tidak, jangan berdebat di dalam mobil? Kita masih di tol. Ada anak kecil yang harus kita urus dahulu. Kalian berdua jangan egois. Benar-benar pernikahan bikin aku takut. Kalau gak ada yang mau ngalah, ya udah gak ada lagi namanya suami istri di bumi ini, tapi janda dan duda! Dua-duanya egois dan gak mau ngalah!" Teguran Hakim membuat Dhuha dan Aini terdiam, tetapi membuat Aris terbangun. "Ada apa, Om?" tanya Aris. "Kita sudah sampe Jakalta?" tanya anak itu lagi sambil menguap lebar. Ia masih mengantuk, tetapi suara perdebatan di dalam mobil membuatnya terbangun. "Belum, masih satu jam lagi sampai ketemu ayah Anton. Sabar ya. Aris mau makan? Ini ada roti dan minuman." Dhuha mengeluarkan bekal snack yang tadi sempat ia beli di rest area. Aris mengangguk "Mau minum, Om." Dhuha membukakan tutup botol minuman untuk Aris. Anak kecil itu meneguknya dengan cepat. Ia benar-benar haus. "Ada yang beltengkal ya? Alis denger. Sama kayak ibu di lumah, tapi bapak gak ga
"Apa kabar Aini?" wanita bernama bu Nikmah itu memeluk Aini dengan erat, di luar kamar perawatan Anton. Bu Nikmah menangis sedih karena mengingat Aini dan nasib keponakannya saat ini. "Makasih udah bawa Aris kembali, Ai." "Bukan saya, Bu, tapi Dhuha dan Hakim. Mereka berdua yang menemukan Aris di lampu merah." Suara Aini pun bergetar. Wanita itu sembari menoleh ke kiri, tempat di mana Dhuha dan Hakim tengah duduk. "Kalian sama-sama orang baik." Bu Nikmah menyentuh pipi Aini, lalu berjalan menuju Dhuha dan Hakim yang berdiri cepat saat melihat Aini dan saudara dari Anton ingin menghampiri mereka. "Yang mana namanya Dhuha?" tanya bu Nikmah. "Saya, Bu." Dhuha mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Oh, berarti kamu Hakim." Pandangan bu Nikmah kini beralih pada Hakim. Hakim mengangguk juga sambil mengulurkan tangannya. "Terima kasih ya, kalian udah bawa Aris kembali ke Jakarta. Anton jika sudah sembuh, pasti sangat berterima kasih pada kalian.""Sama-sama Bu. Semoga Anton lekas se
"Ada apa ini? Eh, I-ibu." Luna melotot saat mengenali suara wanita yang berteriak-teriak di rumahnya. "Heh, kamu ini istri yang gak tahu diri ya? Suami sakit, gak pernah sekali pun kamu ke sana!" Bu Ami berkacak pinggang. "Sabar, Bu, kita bisa bicara baik-baik!" Ujar bu Mira, menenangkan besannya. "Mana bisa saya sabar melihat menantu gak tahu diuntung seperti anak kamu ini. Udah bikin anak hilang, jadi pengamen. Suami sakit gak peduli, masih ngambil ATM anakku lagi. Kembalikan! Kembalikan!" Luna menelan ludah. "Tidak, Bu, itu adalah hak Luna.""Itu hak istri dan kamu bukan istri, kamu itu nyonya. Gak pernah masak, gak nyapu, gak setrika, semua dibawa ke laundry. Kamu makan, anak kamu gak kamu kasih makan. Ibu macam apa kamu?!" Kali ini bu Mira yang terkejut mendengar ucapan besannya. Bahkan warga yang saat ini sudah berkumpul di depan rumah wanita itu, menjadi tahu semuanya. Karena bu Mira tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Luna dengan cucunya karena Luna tidak pernah bercerit
Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa—sarapan bersama, mengantar Aris ke sekolah, dan Anton berangkat kerja. Namun, suasana rumah justru dipenuhi suara tangisan keras dari anak berusia lima tahun itu."Aku mau ke rumah Ibu!" Aris merengek sambil menarik ujung kausnya. Matanya yang sembab menunjukkan betapa kerasnya ia menangis sejak bangun tidur.Amel memijat keningnya, mencoba bersabar menghadapi rengekan anak sambungnya. Ia sudah berusaha menjadi ibu yang baik bagi Aris, tetapi setiap kali anak itu menyebut nama Luna, ada rasa kesal yang menggelitik perasaannya."Aris, Nak, kamu harus sekolah dulu. Setelah itu, kita lihat nanti," ujar Amel, berusaha menenangkan."Tidak! Aku mau ke rumah Ibu sekarang!" Aris berteriak.Amel menghembuskan napas panjang. "Aris, sudah cukup. Bunda tidak suka kalau kamu berteriak seperti itu. Sekarang bersiaplah untuk sekolah."Aris menggeleng keras. "Aku nggak mau sekolah! Aku mau ke rumah Ibu! Aku udah lama gak ketemu ibu, Bunda. Waktu itu ibu saki
"Aini! Mama!" Dhuha refleks menangkap tubuh ibunya yang hampir jatuh ke lantai. Wajah Maria pucat, napasnya tersengal.Aini yang juga panik langsung berjongkok di samping suaminya. "Mas, kita harus bawa Mama ke rumah sakit!"Dhuha mengangguk cepat. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh ibunya ke dalam gendongan. Aini berlari lebih dulu untuk menekan tombol lift.Saat pintu lift terbuka, mereka masuk dengan tergesa. Dhuha terus memegangi tubuh Maria yang lemas dalam dekapannya, sementara Aini mencoba menenangkan dirinya sendiri. Meski ia kesal dengan Maria, tapi bagaimanapun wanita itu adalah ibu mertuanya.Begitu sampai di basement, Dhuha langsung membawa Maria ke kursi belakang mobil. Aini dengan cepat masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin."Aku yang nyetir, Mas. Kamu fokus ke Mama," ucap Aini cepat."Sayang, kamu gak papa?" Aini mengangguk cepat. Dhuha tak membantah. Ia terus mengecek denyut nadi dan suhu tubuh Maria. "Ma, bertahan, ya," bisiknya.Maria hanya mengerang
"Monic, kenapa suara kamu lemes gitu, Sayang? kamu sakit?""Iya, Tante, saya lagi sakit. Gak bisa bangun dari ranjang. Sayang bibik yang bisa nemenin di apartemen mendadak pulang kampung.""Ya, ampun, Sayang, kasihan sekali kamu. Berarti sekarang kamu sendirian?""Iya, Tante, uek! uek!""Ya ampun, b-begini, mungkin Tante akan ke sana minta dianter Dhuha.""Jangan, Tante, Tante masih sakit.""Tante udah enakan kok, kamu jangan sungkan."Suara lirih itu keluar dari ponsel Maria, membuat hatinya tergerak. Monic adalah gadis yang sangat ia harapkan menjadi menantu. Menikah dengan Dhuha, tetapi putranya malah memilih Aini, mantan istrinya. Maria keluar dari kamarnya. Dhuha baru saja selesai meeting melalui zoom karena hari ini ia WFA."Dhuha, kamu bisa antar Mama ke apartemen Monic? Dia sakit," pinta Maria kepada putra tunggalnya yang sedang duduk di ruang tamu, menikmati teh sore bersama Aini.Dhuha terdiam sejenak, menatap mamanya yang baru saja pulih dari sakitnya sendiri. "Ma, Mama ka
Anton terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka Amel akan berkata sejauh itu.“Amel, jangan seperti ini. Aku—”“Kamu pikir aku tidak serius?” potong Amel dengan suara dingin. “Aku sudah cukup bersabar, Mas. Aku sudah berusaha memahami. Tapi aku bukan wanita bodoh yang akan membiarkan suaminya terus terikat dengan masa lalunya.”Anton mengusap wajahnya, merasa buntu. Ia tahu Amel berhak marah, tapi bukan seperti ini caranya."Amel, aku mencintaimu. Aku nggak mau kehilanganmu," ucap Anton dengan nada putus asa.“Tapi kamu juga nggak bisa meninggalkan Luna, kan?” Amel mengejek. “Setiap dia butuh kamu, kamu selalu ada di sana. Kamu nggak pernah benar-benar melepaskan dia, Mas. Apa sebenarnya kamu masih punya perasaan dengannya?"Anton terdiam. Dalam hati, ia tahu ada kebenaran dalam ucapan Amel.Amel tidak menunggu lebih lama. Setelah menutup telepon, ia segera mengambil tas dan menyambar kunci mobilnya. Amarah membakar hatinya. Ia harus menyelesaikan ini,
Amel masih terpaku dalam diam. Pikirannya terus berkecamuk, seolah ada dua suara yang beradu di kepalanya. Satu suara ingin mempercayai Anton, ingin mencoba memahami situasinya. Tapi suara lainnya terus meneriakkan ketakutan terbesar yang selalu berusaha ia abaikan—bahwa dirinya hanyalah pelarian, bahwa Anton akan kembali pada Luna, bahwa semua janji dan harapan yang ia bangun dengan Anton akan runtuh begitu saja.Hakim, yang masih duduk di sampingnya, menatap adiknya dengan penuh pemahaman. Ia mengerti apa yang dirasakan Amel, tapi ia juga tahu bahwa membiarkan rasa cemburu dan sakit hati menguasai pikiran hanya akan memperburuk keadaan."Kamu nggak bisa terus seperti ini, Mel," ucap Hakim lembut. "Kalau memang kamu sayang sama Anton, kalau kamu percaya sama dia, kamu harus bicara langsung. Tatap matanya, dengarkan penjelasannya. Jangan biarkan ketakutanmu merusak pernikahan kalian."Amel menghela napas panjang. "Mas nggak ngerti... Ini bukan cuma soal percaya atau nggak. Ini soal pe
Anton menatap layar ponselnya yang kini gelap setelah Amel menutup telepon dengan kasar. Dadanya terasa sesak. Ia tahu Amel marah—bukan hanya marah, tapi juga kecewa dan merasa dikhianati. Namun, meninggalkan Luna dalam kondisi seperti ini? Itu bukan pilihan.Ia mendesah panjang, menatap Aris yang masih menunggu jawaban darinya. Mata polos anak itu dipenuhi kebingungan."Bapak,di perut Ibu beneran ada adiknya Aris, ya?"Anton menelan ludah. Ia berjongkok, menyamakan tinggi dengan putranya, lalu menggenggam tangan kecilnya dengan lembut."Iya, Nak," jawabnya pelan. "Ibu hamil, dan kamu akan punya adik." Ia terpaksa mengatakan hal ini pada Aris, karena putranya terlanjur mendengar ucapan dokter tadi. Aris terdiam, seakan mencoba memahami kata-kata ayahnya. Perlahan, ia menatap perut ibunya yang masih tertutup selimut."Adiknya Aris siapa?" tanyanya polos.Anton tersenyum tipis. "Kita belum tahu. Nanti kalau sudah lahir, baru bisa kita beri nama."Anak itu tampak berpikir sebentar sebel
“Ibu, kok perut Ibu buncit? ada adiknya ya?”Luna yang sedang duduk di sofa, mengelus perutnya refleks, menatap anak lelakinya, Aris, dengan senyum tipis. Bocah lima tahun itu baru saja tiba di apartemennya untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Namun, ketajaman mata anak sekecil itu ternyata bisa menangkap perubahan pada tubuhnya.“Ibu cuma kekenyangan, Sayang,” Luna berusaha mengelak, mengacak rambut Aris pelan.“Tapi perut Ibu gendut banget. Apa Ibu gemuk?,” protes Aris, mendekatkan wajahnya ke perut Luna, seakan ingin mendengar sesuatu dari dalam sana. “Apa ada adik di dalamnya?”Luna menelan ludah, menahan debar yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia belum siap menghadapi pertanyaan seperti ini, apalagi dari Aris yang masih polos.“Aris, Ibu cuma makan kebanyakan tadi. Makanya perut Ibu begini,” katanya, mencoba terdengar santai.Namun, ekspresi Aris masih penuh selidik. Ia memiringkan kepala kecilnya, lalu mengangkat bahu. “Ya udah. Tapi kalau nanti Ibu perutnya makin sakit, bil
Aku mengambil piring dim sum yang diulurkan Pak Alex, uap panasnya masih mengepul, dan aroma jahe yang khas tercium samar. Hatiku masih berdebar dengan apa yang baru saja terjadi. Aku sudah menerima lamarannya di hadapan keluarganya, tapi aku masih butuh waktu untuk benar-benar menyesuaikan diri dengan semua ini.“Terima kasih, Pak,” ucapku pelan.Pak Alex tersenyum, lalu duduk di sebelahku di sofa ruang keluarga. Lampu temaram memberikan suasana hangat di ruangan ini. Dari kamar anak-anak, terdengar suara Intan yang bergumam dalam tidurnya. Aku tersenyum kecil, membayangkan bagaimana nanti kehidupanku akan berubah sepenuhnya setelah pernikahan ini.Malam ini pak Alex memutuskan untuk menginap di rumah bu Asma karena ingin menemani mamanya. Lagian, saudara masih pada asik bercakap-cakap. Tentu pak Alex tidak mungkin pulang begitu saja. Aku tersenyum melihat ke arah pintu masuk rumah besar bu Asma. Sebentar lagi, aku bukan hanya pengasuh cucunya, tapi aku akan menjadi menanti beliau .
POV ZitaAku masih berdiri di ruang tamu, memandangi punggung Pak Alex yang baru saja masuk ke kamar setelah pembicaraan kami. Hatiku masih berdebar kencang, seakan tak percaya dengan keputusan yang baru saja aku ambil.Menikah lagi.Itu adalah sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sejak pernikahan pertamaku berakhir dengan begitu banyak luka. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak terjebak dalam hubungan yang bisa menyakitiku lagi. Aku ingin hidup tenang, cukup dengan pekerjaanku dan anak-anak Pak Alex yang sudah seperti keluarga bagiku.Tapi Pak Alex…Dia datang dengan tawaran yang berbeda. Bukan dengan janji-janji manis, bukan dengan rayuan. Hanya dengan kejujuran dan rasa tanggung jawab yang bisa aku lihat dari caranya memperlakukan anak-anaknya.Aku kembali duduk di sofa, menatap ke arah tanganku yang saling menggenggam.Apakah aku melakukan kesalahan?Aku menggeleng pelan, mencoba menepis keraguan yang mulai mengusik. Aku sudah memikirkannya selama berhari-hari. Aku s