“Oh ayolah Nyonya Elsa… “ Pak Robert yang tak mau membawa kekakuan ini lebih lama mengambil alih pembicaraan. Mendekat menjajari Nyonya Elsa dengan sepasang aslis bergerak naik turun memberi kode-kode rahasia. “Kita ke sini kan mau bahas pekerjaan. Betul ??”
“Alah…. Kamu ini ada-ada saja, Robert.”
Pak Robert mendelik panik
“Mau bahas urusan pribadi sesekali juga nggak papa loh.”
Ganti Hana ikut mendelik. Kata pribadi barusan jangan-jangan merujuk padanya. Tapi Hana merasa tidak ada hubungan spesial apa pun dengan Pak Robert. Jangankan menaruh hati, mana sudi Hana ja
Padahal sejujurnya, Hana sendiri juga tidak tahu seberapa keren nama Pak Hartono di mata Nyonya Elsa. Hana cuma sembarangan saja mengajukan nama bapaknya. Jadi tameng, bersembunyi di balik nama Pak Hartono. Meski begitu, sekarang terbukti cara yang Hana pakai cukup berhasil. Hana dan Pak Robert yang tadinya terdesak kekuasaan perempuan aneh bernama Elsa sekarang jadi seimbang. Ancaman Hana berhasil menyiutkan nyali Nyonya Elsa. “Ahaha…” Lagi dan lagi, di tengah ketegangan yang terjadi Nyonya Elsa masih bisa tertawa. Hana mendelik tak percaya. “Hahahaha…. Hahahaha…. ” tawanya makin m
Di akhir abad ke 20 pemerintah Indonesia secara mengejutkan tiba-tiba mengumumkan dibukanya sebuah proyek besar yang akan dibangun di sebelah selatan Pulau Jawa, posisi persisnya berada lurus dengan Jakarta. Proyek yang menelan biaya ratusan triliun rupiah satu ini digadang-gadang bisa mengatasi penuhnya penduduk yang bermukim di Jakarta sekaligus jadi penyerap mega bisnis penggerak roda ekonomi di Indonesia. Nama proyek itu ialah Pulau Reklamasi. Setelah lima puluh tahun berjalan setelah proyek pulau reklamasi dimulai, hari ini sudah berdiri 3 pulau besar yang dihuni jutaan penduduk Jakarta asli atau pendatang baru. Rusun-rusun didirikan, mulai dari yang mewah sampai yang kaki lima. Sebagian besar orang yang bermukim di pulau reklamasi bekerja di Jakarta.
“EH YANG BENAR AJA, SIS!! MASA’ AKU SEKAMAR SAMA PAK ROBERT??” Sekilas Hana melirik melihat Pak Robert dari ekor matanya. Tampak raut wajah Pak Robert yang pasrah menggeleng kepala pelan. Hana tahu ia sudah kelewatan. Nada protesnya merendahkan Pak Robert secara tidak langsung. Tapi ayolah, kondisi ini juga sudah kelewatan. Bertahan satu mobil dengan orang yang menyebabkan hubungannya hancur saja sudah menguras emosi. Apalagi kalau harus tinggal bersama dua hari dua malam. “Ayolah… bercandaanmu sama sekali nggak lucu loh, Sis.” Hanya karena melihat mimik muka tidak enak Pak Robert, akhirnya Hana menurunkan nada bicaranya. “Masa nggak ada hotel lain yang punya kamar lebih sih? Cuma butuh dua kamar aja kan.”&nbs
Siapa yang meyangka perjalanan dua jam lebih siang ini ternyata sudah lewat begitu saja. Meski suasana di dalam mobil terasa seperti di neraka. Terutama buat Hana yang semakin benci dengan Pak Robert. Bos sialan satu itu sampai detik ini masih belum juga menjawab pertanyaan Hana. Bagaimana mungkin pulau reklamasi di Perairan Dumadi tidak punya kamar hotel mewah tersisa? Pasti ini semua akal-akalan Pak Robert biar dia bisa menikmati tubuh Hana diam-diam. Ini semua pasti sudah direncanakan bos busuk satu itu. Namun apalah daya Hana di hadapan Pak Robert dia cuma bawahan. Dia tak bisa mendesak Pak Robert. Toh waktu yang ia punya tidak banyak, tidak mungkin putar balik pulang. Perahu boat mewah yang disiapkan Siska sudah menunggu di dermaga depan sana.&nbs
Kapal boat mewah yang sudah berpindah tangan dari pemilik sebelumnya ke tangan Pak Robert melaju. Bukan cuma body kapal yang dirombak total, tapi juga dua mesin utama yang tengah menderu halus memutar kipas di bawah permukaan air. Kapal berwarna putih tulang dengan tulisan PT. Cakra tergambar di tubuhnya memecah ombak. Berselancar di atas lapisan air membawa tiga orang penting di atasnya. “Gimana kapalnya sekarang?” Pak Robert muncul dari balik pintu ruang kemudi. Mengalihkan perhatian Fredy yang sebelumnya sibuk memperhatikan kecepatan kapal. “Jadi lebih enak kan sekarang?” Ibu jari Fredy menyusul tubuhnya yang sudah lebih dulu menoleh. “Mantap sih ini, Pak.” Kembali perhatian Fredy tertuju pada perairan di hadapan perahu.
“Pak Robert mending diem deh,” ketus Hana dengan mata melotot. Fredy yang baru pertama kali bertemu Hana sampai terperangah kaget. Baru kali ini ia melihat ada asisten pribadi yang seberani itu pada Pak Robert. Asisten Pak Robert sebelumnya yang pernah Fredy temui tak ada yang seberani Hana. Jangankan menyuruh Pak Robert diam, menurunkan senyum kaku mereka saja rasanya tak pernah. “Gara-gara Pak Robert saya dan Arya jadi putus. Gara-gara bapak loh semua chatku nggak ada yang dibalas Arya. Pak Robert jahat banget asli.” “Hah?? Serius?” Kedua alis Pak Robert sampai terangkat saking keheranannya.&nbs
Siapa juga yang mengira Arya sudah berdiri di sana. Seperti penerima tamu, berdiri tegap persis di ujung tangga satu-satunya jalan menuju pintu masuk hotel. Berdiri dengan jaket hoodie Tim Arkana yang khas dengan corak warna merah hitam. Dicetak sedemikian rupa dengan nomor punggung dan nama Arya tertulis jelas di belakangnya. “Ka-kamu …” Hana masih belum juga bisa mengendalikan tubuhnya. Gugur, kaget, bercampur getir yang mengerubungi hati jadi satu. Hana sendiri tak tahu ekspresi seperti apa yang harus ia pasang sekarang. Senang? Sedih? Terharu? Panik? Hana tak bisa mendefinikan perasaan yang ia rasakan saat ini. Satu sisi Hana bahagia sekaligus terharu, akhirnya rasa rindunya dilunasi sekarang. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan sosok laki-laki yan
Pertemuan yang sama-sama tidak pernah Hana atau Arya sangka berlangsung cukup lama. Di depan hotel, disaksikan banyak orang mulai dari media sampai tim-tim basket lain. Ciuman yang kembali lahir menyambung kembali hubungan mereka Hana yang awalnya Arya akan mengacuhkannya sekarang mendapatkan jawaban yang di luar dugaan. Cinta Arya pada Hana sama kuatnya dengan cinta Hana pada anggota Tim Arkana itu. “Aku main besok sore,” ucap Arya di pengujung perpisahan. Dengan lembut mengangkat tangan Hana dan mengecup punggung tangannya. “Aku harap kamu bisa datang ya besok. Biar aku lebih semangat,” tandasnya dengan mata berkaca-kaca iba. “Aku selama ini kesepian nggak ada kamu, Han.” Senyum paling manis te