Beranda / Pernikahan / Maafkan Aku Telah Mendua / Bab 5 Menjadi Bahan Gosip

Share

Bab 5 Menjadi Bahan Gosip

Penulis: Aira Tsuraya
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-03 20:48:46

BRUK!!

Fakhri langsung melepaskan cengkramannya sembari mendorong tubuh Aina hingga ia terjatuh ke lantai. Fakhri melihat Aina dengan sudut matanya, lalu tanpa berkata apa-apa sudah berlalu pergi meninggalkan Aina.

Aina terdiam, menahan sakit di dada sambil mengelus pipinya yang memerah. Buliran bening berjatuhan tak tertahan. Ini salahnya. Wajar jika suaminya bersikap seperti itu. Mana ada suami yang diam saja saat tahu istrinya punya anak dengan benih orang lain.

Aina menarik napas sambil menyeka air mata. Ini kebodohannya dan mulai hari ini dia harus mulai menikmati semua imbas dari kesalahannya.

“Bunda … .”

Suara Zafran tiba-tiba menyeruak masuk ke kamar Aina. Aina mendongak dan melihat putranya tampak menatap Aina dengan sendu. Untung dia sudah menghapus air matanya tadi.

“Iya, Sayang. Ada apa? Ini masih malam, kenapa Zafran bangun?”

Zafran terdiam sambil menatap Aina. Aina langsung bangkit menghampiri dan memeluknya. Aina menggiring Zafran duduk di sofa dalam kamarnya. Bocah berusia lima tahun itu masih terdiam menatap Aina tanpa kedip.

“Apa Ayah pulang, Bunda?”

Aina terkejut saat Zafran bertanya seperti itu. Apa dia mendengar tentang perselisihan mereka tadi?

“Memangnya kenapa?” Alih-alih menjawab pertanyaan Zafran, Aina malah balik bertanya.

Zafran tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Tadi Zafran melihatnya di luar rumah. Zafran juga mendengar suara mobilnya. Zafran pikir tadi mimpi makanya langsung ke sini.”

Aina menelan saliva sambil membelai wajah tampan putranya. Meski dia bukan anak kandung Fakhri, entah mengapa mata Zafran mirip dengan Fakhri.

“Enggak, Sayang. Ayah gak datang. Kamu pasti bermimpi tadi.” Aina terpaksa berbohong lagi.

Sedangkan Zafran hanya diam sambil menundukkan kepala. Aina melirik reaksinya, kemudian memeluk Zafran dengan erat.

“Kalau mau, malam ini Zafran boleh tidur sama Bunda.”

Sontak Zafran mengangkat kepala dan tersenyum lebar. “Beneran, Bunda?”

Aina mengangguk. Zafran tampak senang. Selang beberapa saat Zafran sudah terlelap di kamar Aina.

Sebelum subuh, Bi Isa dan Mang Samin datang. Mereka langsung mengerjakan tugasnya seperti biasa. Aina yang sedang sibuk menerima telepon, tiba-tiba terkejut saat melihat Bi Isa sedang berdiri di depannya.

“Ada apa, Bi?” tanya Aina.

Wanita paruh baya yang sudah dipekerjakannya sejak ia menikah hanya diam, menundukkan kepala dan berjalan tergesa ke dapur. Aina curiga dan gegas mengakhiri panggilannya, kemudian mengikuti Bi Isa.

“Ada apa, Bi? Apa uang belanjanya kurang?” Aina sudah menyusul dan kini berdiri bersisian dengan Bi Isa.

“Enggak, Bu. Semuanya cukup, kok.”

Aina terdiam kemudian memperhatikan Bi Isa dengan seksama.

“Kalau gak ada apa-apa, kenapa Bi Isa terlihat seperti orang bingung gitu?”

Bi Isa terdiam sesaat, tangannya yang sedari tadi sibuk memindahkan sayur mayur ke dalam lemari pendingin langsung berhenti. Perlahan ia membalikkan badan menghadap Aina.

“Bu … saya minta maaf sebelumnya, tapi saya sama sekali gak bermaksud apa-apa.”

Aina mengangguk sambil menatap Bi Isa. “Iya, katakan saja! Ada apa?”

Bi Isa menarik napas panjang sambil menundukkan kepala seakan tidak berani melihat ke arah Aina.

“Tadi saat saya belanja di tukang sayur depan, ibu-ibu kompleks bilang kalau Bapak menikah lagi. Apa benar seperti itu, Bu?”

Aina terdiam, tidak menjawab. Dia memang tinggal di perumahan yang padat penduduk. Sebelumnya Fakhri pernah mengajaknya tinggal di perumahan elit yang jarak antar rumah berjauhan dan tidak mau tahu satu sama lain. Hanya saja, Aina yang terbiasa bersosialisasi tidak suka dan akhirnya pilihannya jatuh pada kompleks perumahan ini.

“Saya tahunya dari Bu Wati. Semalam Bu Wati datang bersama Pak Dadang ke pesta pernikahan Bapak. Katanya ramai, Bu. Digelar di hotel bintang lima bahkan mengundang artis dari ibukota sebagai pengisi hiburannya,” imbuh Bi Isa.

Aina sama sekali tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu bagaimana pesta pernikahan suaminya semalam. Aina sengaja tutup telinga dan mata untuk itu. Lagi pula mana ada istri yang mau suaminya menikah lagi.

“Bu Wati juga bilang istri Bapak lebih cantik dari Ibu. Bu Wati diundang karena Pak Dadang merupakan rekan bisnis ayah dari istrinya. Begitu ceritanya, Bu.”

Aina hanya tersenyum datar sambil menatap Bi Isa dengan lembut. Ia tidak pernah tahu siapa Wulan dan memang sengaja Aina tidak mau tahu. Ini hukuman dari Fakhri dan Aina dengan tabah akan menjalaninya. Siapa tahu suatu saat nanti, Fakhri akan memaafkannya dan bersikap semanis dulu.

“Bu … Ibu baik-baik saja, kan?” Kini suara Bi Isa terlihat khawatir. Mungkin dia bingung saat melihat reaksi Aina yang hanya membisu sedari tadi.

“Iya, Bi. Udah, gak usah dipikirin omongan orang. Saya yang menjalaninya dan saya baik-baik saja, kok.”

Sengaja Aina menekankan kalimat terakhirnya, padahal saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia sengaja mengucapkan itu untuk membesarkan hatinya.

“Saya mau keluar. Saya ada janji dengan klien. Tolong jaga Zafran ya, Bi!!”

Tanpa menunggu jawaban dari Bi Isa, Aina langsung berlalu pergi. Ia masuk mobil dan perlahan meninggalkan rumah. Aina melihat ada sekumpulan ibu-ibu kompleks yang sedang asyik belanja tidak jauh dari rumahnya. Biasanya Aina akan menyapa dengan membuka kaca mobil dan tersenyum ke arah mereka. Namun, sepertinya tidak kali ini.

Pukul sembilan, Aina sudah tiba di sebuah kafe. Ia seorang ahli IT dan juga programmer. Aina terbiasa kerja online dan hanya keluar untuk menemui klien yang menginginkan jasanya. Seperti hari ini, seorang klien meminta dia membuat program yang meringankan kerja administrasi perusahaan.

Aina sudah memesan secangkir cappucino dan sandwich. Baru saja Aina mulai menikmati sarapannya, Tiba-tiba telinganya menangkap nama yang tidak asing.

“Mas Fakhri … kenapa kita mesti sarapan di sini? Aku kan maunya di kamar hotel saja,” rengek suara seorang wanita.

Aina urung memasukkan sandwich ke dalam mulut. Matanya malah beredar hingga berhenti ke dua sosok pria wanita yang duduk tak jauh darinya. Ia melihat Fakhri bersama seorang wanita. Bisa dipastikan itu adalah Wulan, istri kedua Fakhri.

“Sabar dong, Sayang. Mas kan mau ketemuan ama klien juga. Habis makan kita balik ngamar lagi, ya?”

Aina berdecak sambil tersenyum masam mendengar pembicaraan mereka.

“Halah … istrimu lagi palang merah aja pakai ngomong gitu,” batin Aina.

Aina tidak ambil pusing dan meneruskan makan paginya. Dia tidak tahu jika Fakhri akan datang ke kafe ini. Kalau tahu, pasti Aina memilih tempat lain. Kini Aina hanya berharap suaminya tidak melihatnya. Namun, keinginan Aina tidak didengar Tuhan hari ini.

Tanpa sengaja Fakhri melihat ke arahnya. Aina yang sedang menikmati sandwich, buru-buru buang muka, tapi reaksinya terlambat. Fakhri langsung berdiri dan berjalan menghampiri. Ia berdiri di depan Aina dengan tatapan menghujam.

“Jadi sekarang kamu juga menguntitku, Aina!!”

Bab terkait

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 6 Pertemuan Tak Terduga

    “Enggak!! Aku gak menguntitmu!!” sergah Aina.Aina berdecak sambil menatap Fakhri dengan kesal. Padahal tujuannya datang ke sini untuk menemui klien bukan menguntitnya.“Jadi kamu penasaran dengan istriku?” Fakhri kembali bersuara.Aina pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan makannya. Dia tidak berminat untuk berkenalan dengan istri kedua suaminya. Sudah cukup dia dihina semalam dan Aina tidak akan membiarkan suaminya terus merundungnya.“Sayang … sini!!” Tiba-tiba Fakhri berseru dan kini sambil meminta Wulan mendekat. Wulan berdiri berjalan dengan gemulai ke arah Aina.Wanita cantik berkulit putih bersih bak porselen dengan rambut hitam sepinggang sedang berdiri menatap Aina dengan sinis.“Jadi ini istri yang sudah selingkuh di belakangmu sampai punya anak, Mas?” ucap Wulan. Fakhri tidak menjawab hanya melihat Aina dengan dingin.Aina membalas tatapan sinis Wulan kemudian berdiri.“Iya, benar sekali. Saya Aina dan Anda pasti Wulan. Wanita yang mau menjadi madu dalam pernikahan kam

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 7 Tak Mau Bertemu Masa Lalu

    “Aku yang ingin memakai jasamu untuk membuat program di perusahaan milikku,” jelas Damar.Aina sontak membisu dan buru-buru menundukkan kepala. Damar Anggarda yang tak lain nama sosok pria di depannya ini hanya tersenyum sambil menatap Aina. Memang pernah terjadi sesuatu di antara mereka beberapa tahun lalu. Sayangnya Damar tidak pernah tahu apa yang dia lakukan telah membuat rumah tangga Aina retak.“Bagaimana kabar Fakhri?” Tiba-tiba Damar mengalihkan topik pembicaraan.Aina tidak menjawab hanya menganggukkan kepala. Damar memang sepupu jauh Fakhri. Dia tahu jika Aina menikah dengan Fakhri.“Lalu Zafran bagaimana? Dia sudah sekolah, belum?” Kembali Damar bertanya dan terdengar sangat tertarik untuk menanyakan kabar Zafran.“Iya. Zafran sudah sekolah. Semuanya … baik, kok.” Aina memutuskan untuk menjawab pertanyaannya.“Syukurlah. Sudah lama banget aku tidak kembali ke sini sehing

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 8 Maafkan Aku, Ibu

    “Masuk rumah sakit? Rumah sakit mana?” tanya Aina.Rini mendengkus sambil berdecak kencang.“Aku akan kirim alamatnya. Buruan Mbak ke sini!!”Rini sudah mengakhiri panggilannya, sementara Aina bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Hampir satu jam perjalanan hingga akhirnya Aina tiba di sana. Ada Rini yang menyambutnya.“Gimana keadaan Ibu, Rin? Kenapa bisa kena serangan jantung?” berondong Aina.Rini terdiam sambil menatap tajam ke arah kakaknya. Aina melihat reaksinya dan menghentikan langkah.“Kenapa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?”Rini berdecak dan kini memicingkan mata sinis ke arah Aina.“Harusnya aku yang marah ke Mbak, bukan sebaliknya,” sergah Rini.Aina terkejut dengan ucapan Rini dan melihatnya dengan alis mengernyit. Rini menghela napas panjang, melipat tangannya di depan dada sambil menatap Aina dengan kesal.“Ibu tahu kal

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 9 Tambahan Hukuman

    “Damar!! Kok … kamu di sini?” seru Aina.Dia terkejut saat melihat pria yang baru saja ditemuinya di kafe tadi pagi kembali berjumpa di rumah sakit. Damar tersenyum sambil menatap Aina dengan lembut.“Aku sedang menjengguk salah satu klien-ku. Kamu sendiri sedang apa?”Aina belum menjawab. Ia tampak ragu untuk berkata jujur, tapi tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Rini keluar menghampirinya.“Mbak, aku ke kantin dulu. Ibu sedang tidur, kok,” ujar Rini. Aina hanya mengangguk dan mengizinkan adiknya berlalu begitu saja.Kini Damar yang menatapnya dengan tajam.“Jadi ibumu yang sakit?” tebak Damar.Aina mengangguk sambil tersenyum. “Iya. I—ibu kena serangan jantung tadi pagi.”Damar terperangah kaget mendengarnya. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan juga keterkejutan. Aina yakin jika pria di depannya ini tidak sedang bersandiwara.“Lalu &helli

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-07
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 10 Sudah Mulai

    “MAS!! MBAK!!! Kalian ngapain?” seru Rini.Rini yang baru saja datang dari kantin terkejut saat melihat interaksi aneh yang terjadi antara Fakhri dan Aina. Sesaat tadi Fakhri memang mengirim pesan ke Rini untuk menanyakan rumah sakit Bu Hani. Kebetulan dia sedang menemui klien dan berada tak jauh dari rumah sakit tersebut sehingga bisa segera datang.Fakhri melirik Rini sekilas. Ia melepaskan cengkraman tangannya di pipi Aina lalu tanpa berkata sepatah kata langsung masuk ke ruang rawat inap Bu Hani. Aina dan Rini sengaja tidak mengikuti Fakhri. Mereka berdiri diam di teras dengan saling pandang satu sama lain.“Mbak … Mbak baik-baik saja, kan?” cicit Rini penuh kekhawatiran.Aina tersenyum lebar sambil mengangguk, tapi mata bulatnya sudah berkaca dan itu tidak bisa disembunyikan dari Rini. Rini hanya diam memperhatikan. Sebenarnya apa yang terjadi antara Aina dan Fakhri? Selama ini, yang Rini tahu penikahan kakaknya adem ay

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-07
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 11 Aku Penyebabnya

    “Syukurlah, aku senang akhirnya kamu bisa meluangkan waktumu, Aina,” ujar Damar.Pagi itu Aina memang bertemu dengan Damar. Aina sudah memutuskan akan menerima job dari Damar. Memang sebenarnya ini tidak sejalan dengan hatinya, tapi kebutuhan hidup tidak bisa dicukupi jika menuruti kata hati. Apalagi Fakhri benar-benar melakukan ucapannya tempo hari.“Iya, aku pikir aku bisa membagi waktunya, Damar.” Terpaksa Aina beralasan, ia tidak mau Damar curiga saat dia tiba-tiba menerima kerjaan dari Damar.“Oke, gak masalah. Lalu kapan kamu mulai mengerjakannya?”Aina diam sesaat sambil mengaduk cappuccino pesanannya.“Besok juga gak papa. Aku akan ke kantormu untuk mencari tahu apa saja yang harus dilakukan.”Damar manggut-manggut mendengar jawaban Aina. Entah dilihat Aina atau tidak, mata hazel pria manis itu terus berbinar. Seakan sedang menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira.“Terus &

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 12 Dia Penjahatnya Bukan Aku

    “Mas Fakhri … ,” seru Aina tertahan.Ia melihat Fakhri sedang berdiri terpaku menatap Zafran yang memeluk kakinya. Di sebelah Fakhri tampak Wulan sedang bergelayut manja. Wajah cantik Wulan terlihat masam dengan mata sinis menatap Zafran.Aina berjalan mendekat kemudian menarik Zafran yang masih memeluk kaki Fakhri. Mungkin dulu, Fakhri akan langsung menggendong Zafran dan mendaratkan banyak kecupan di wajah bocah laki-laki itu. Namun, tidak saat ini.“Zafran … ayo sini, Sayang!!!” pinta Aina.Ia berusaha melepas pelukan Zafran, tapi sepertinya bocah laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.“Gak mau!! Aku mau sama Ayah, Bunda.”Aina berdecak, ia duduk bersimpuh sambil mencoba mengurai pelukan Zafran.“Sayang … Ayah masih ada kerjaan. Ayo, kita makan dulu, yuk!!”Zafran menggeleng. “Enggak. Aku udah gak lapar. Aku mau sama Ayah.”Zafran m

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 13 Bohong Lebih Baik

    “Zafran, ayo makan dulu, Sayang!!” ucap Aina.Usai kepergian Fakhri tadi, Aina memutuskan pulang saja. Setiba di rumah, ia membujuk Zafran untuk makan. Namun, putra kecilnya itu terus memberi jawaban dengan gelengan kepala. Padahal, jelas-jelas saat perjalanan pulang tadi Zafran mengeluh kelaparan.“Sayang … ini makanan kesukaan Zafran. Spesial dibuatin Bunda tadi. Ayam kecap dengan telur puyuh. Yuk, buka mulutnya, Sayang.”Kembali Aina merayu putra kesayangannya untuk makan. Namun, lagi-lagi hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya.“Zafran udah kenyang, Bunda.” Akhirnya Zafran bersuara setelah terdiam sejak tadi. Tentu saja jawaban Zafran membuat Aina terkejut.“Zafran belum makan sejak pulang dari sekolah. Kenapa sudah kenyang?”Tidak ada jawaban dari bocah laki-laki itu. Ia hanya menunduk sambil memeluk erat gulingnya. Aina tertegun melihatnya. Ia meletakkan sepiring nasi lengka

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-09

Bab terbaru

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 20 Cukup Sekian Hari Ini

    “Bibi dan Mang Samin pulang saja. Biar saya yang jaga Zafran,” pinta Aina.Usai dipindahkan ke kamar rawat inap keadaan Zafran sudah stabil. Itu sebabnya Aina meminta Bi Isa dan Mang Samin pulang.“Iya, Bu. Besok pagi-pagi saya akan datang membawakan baju dan makanan buat Ibu,” ujar Bi Isa.Aina tersenyum sambil menganggukkan kepala. Bi Isa dan Mang Samin berpamitan pulang meninggalkan Aina seorang diri. Aina melirik ke arah brankar tempat Zafran terbaring. Bocah itu masih terlelap di sana.Tanpa diminta terlintas ingatan beberapa bulan lalu, saat Zafran masuk rumah sakit yang sama karena sakit demam berdarah. Ada Fakhri yang ikut menemani Aina. Bahkan suaminya memilih menginap di rumah sakit dan berangkat kerja dari sana. Fakhri juga sengaja membawa pekerjaannya ke rumah sakit sambil mengawasi Zafran. Lalu kalau malam tiba, Fakhri yang menjaga dan mengizinkan Aina terlelap dalam pangkuannya.Aina mendongak menahan buliran bening yang sudah berkump

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 19 Sisi Hati Fakhri

    “Zafran kejang, Bu. Saya takut ---”Belum sempat Bi Isa meneruskan kalimat, Aina sudah mengakhiri panggilannya. Ia berjalan cepat menuju mobil kemudian melajukannya dengan kecepatan penuh. Tidak sampai tiga puluh menit, Aina sudah tiba di rumah.“Mana Zafran, Bi?” seru Aina begitu turun dari mobil.Bi Isa tergopoh keluar dari dalam kamar. Ada Mang Samin yang menggendong Zafran.“Buruan, masukkan ke mobil!! Kita ke rumah sakit!!”Aina langsung melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ada Bi Isa dan Mang Samin duduk di belakang. Ia seperti orang yang kesetanan bahkan berulang kali menerobos lampu lalu lintas yang menyala merah.“Bu, hati-hati, Bu!!” seru Mang Samin dari belakang.Aina hanya mengangguk sambil terus fokus menatap lalu lintas sore itu yang semakin padat. Pukul enam petang saat Aina tiba di rumah sakit. Ia berlarian dengan Mang Samin dan Bi Isa di sampingnya.“Suster!! Tolong anak saya!!” seru Aina

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 18 Kamu Menghapus Kenangan Kita

    “Tunggu, Mas!! Aku mohon … ,” seru Aina.Wulan sudah lebih dulu menyeret tangan Aina untuk keluar dari ruangan Fakhri. Aina berontak, tapi cekalan Wulan lebih erat mencengkram pergelangan tangannya.“Kamu tidak dengar apa yang dikatakan Mas Fakhri, Aina!!” sentak Wulan.Aina hanya diam, menatap Wulan dengan tajam. Ia mendengar dengan jelas apa ucapan suaminya, tapi Aina sudah berjanji ke Zafran untuk membawa pulang ayahnya. Dan dia tidak mau mengecewakan putra kesayangannya itu.“DENGAR!! Aku tahu kamu ingin menemui Mas Fakhri, tapi dia juga punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, Aina.”Kembali Wulan bersuara. Entah dia berkata dengan sungguh-sungguh atau berkata seperti itu hanya untuk mengusir Aina. Aina tidak menjawab, hanya melirik Wulan sekilas kemudian dengan langkah gontai berjalan pergi meninggalkan ruangan Fakhri.Wulan tersenyum menyeringai kemudian berjalan masuk ke ruangan Fakhri.

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 17 Pengganggu yang Menyebalkan

    “Mas … aku mohon, sekali ini saja,” tutur Aina.Ia tidak peduli dengan tatapan penuh ejekan Fakhri ke arahnya. Kali ini yang terpenting bagi Aina adalah Zafran. Fakhri menarik mundur dirinya dan terdiam lama menatap Aina. Ia pikir Aina akan marah atau membalas ucapan kasarnya, tapi nyatanya tidak.Aina melihat reaksi Fakhri. Ia tahu suaminya seorang pria penyayang, ayah yang baik dan penuh kasih. Pasti sisi hati Fakhri yang paling dalam tidak menginginkan semua ini. Aina yakin Fakhri juga rindu pada Zafran. Hanya karena ego mereka, semuanya seperti ini.Perlahan tangan Aina terulur dan menyentuh tangan Fakhri. Tangan yang hampir tiga bulan ini tidak disentuhnya. Aina tertegun saat Fakhri tidak menepis tangannya seperti kala itu. Tangan pria ini masih sama hangatnya seperti dulu. Sungguh, Aina sangat merindukan semua sentuhannya.“Pulang sebentar ya, Mas. Hanya lima menit pun tak masalah,” bujuk Aina.Fakhri tidak menj

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 16 Permohonan Aina

    “Pulang??? Fakhri sudah berada di rumahnya, Aina,” jawab Wulan.Aina hanya membisu di seberang sana. Dia sangat terkejut saat mencoba menghubungi Fakhri malah Wulan yang menjawab teleponnya.“Eng … maaf, Wulan. Boleh aku bicara sebentar dengan Mas Fakhri?” Tepat seperti keputusan Aina tadi, ia akan melakukan apa saja agar Fakhri mau menemui Zafran hari ini. Termasuk memohon dan merendahkan diri seperti ini.“Tidak!! Mas Fakhri sibuk.” Wulan menjawab dengan cepat dan ketus.Aina menghela napas panjang sambil menyugar rambut hitamnya. Ia sudah tahu jika akan mendapat jawaban seperti itu dari Wulan. Apalagi saat pertemuan pertama mereka tempo hari, Aina sudah menyulut genderang perang.“Tolong, Wulan. Aku hanya bicara sebentar tidak sampai lima menit.” Aina sudah memohon kali ini.“Sekali tidak ya, tidak. Apa kamu tidak tahu arti kata tidak?”Aina terdiam, menelan ludah s

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 15 Demi Zafran

    “Zafran badannya panas, Bu. Tadi juga muntah usai makan nasi goreng,” jawab Bi Isa.Aina menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Ia tidak berharap Zafran jatuh sakit hari ini. Namun, bisa jadi sakit Zafran bukan karena fisiknya. Bocah kecil itu sudah bisa merasakan ada yang berubah dalam hidupnya. Sekali lagi Aina merasa yang paling bersalah.“Iya, Bi. Habis ini saya langsung pulang. Tolong, jaga Zafran sebentar, ya!!”Bi Isa sudah mengakhiri panggilannya bersamaan Damar yang masuk ke ruangan sambil membawa beberapa berkas.“Ini berkas kontrak kerjanya, Aina. Kamu bisa menandatangani di sini,” pinta Damar.Aina mengangguk, tanpa membaca dia langsung membubuhkan tanda tangannya. Damar hanya diam memperhatikan. Ekspresi Aina berbeda dengan beberapa saat tadi. Wajahnya terlihat gelisah dan gerakannya tampak tergesa, seakan tak sabar untuk segera pergi dari tempat ini.“Apa semuanya baik-baik

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 14 Hilang Satu Tumbuh Seribu

    “Sayang banget. Cantik-cantik, tapi tukang selingkuh,” ujar Bu Wati.Aina tidak berkomentar. Entah siapa yang telah menyebar berita tentang rumah tangganya. Bisa jadi Bu Wati mendapatkannya dari Wulan. Bukankah suami Bu Wati salah satu karyawan dari perusahaan milik ayah Wulan.Aina menarik napas panjang, tanpa berkata apa-apa. Ia langsung membalikkan badan. Bu Wati tercengang melihat reaksi Aina. Wanita bertubuh tambun itu mengejar Aina dan kini menarik lengan Aina.“Mbak, saya belum selesai ngomong. Kok ditinggal gitu aja, sih. Gak sopan banget.”Aina berdecak, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bu Wati.“Memangnya Bu Wati mau ngomong apa lagi? Toh saya sudah minta maaf. Ibu juga gak kenapa-napa, motornya juga baik-baik saja. Jadi apa lagi yang harus diomongin?”Bu Wati tersenyum kecut sambil menatap Aina dengan sinis. Aina menduga pasti wanita tambun ini kecewa karena ia tidak memberi jawaban y

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 13 Bohong Lebih Baik

    “Zafran, ayo makan dulu, Sayang!!” ucap Aina.Usai kepergian Fakhri tadi, Aina memutuskan pulang saja. Setiba di rumah, ia membujuk Zafran untuk makan. Namun, putra kecilnya itu terus memberi jawaban dengan gelengan kepala. Padahal, jelas-jelas saat perjalanan pulang tadi Zafran mengeluh kelaparan.“Sayang … ini makanan kesukaan Zafran. Spesial dibuatin Bunda tadi. Ayam kecap dengan telur puyuh. Yuk, buka mulutnya, Sayang.”Kembali Aina merayu putra kesayangannya untuk makan. Namun, lagi-lagi hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya.“Zafran udah kenyang, Bunda.” Akhirnya Zafran bersuara setelah terdiam sejak tadi. Tentu saja jawaban Zafran membuat Aina terkejut.“Zafran belum makan sejak pulang dari sekolah. Kenapa sudah kenyang?”Tidak ada jawaban dari bocah laki-laki itu. Ia hanya menunduk sambil memeluk erat gulingnya. Aina tertegun melihatnya. Ia meletakkan sepiring nasi lengka

  • Maafkan Aku Telah Mendua   Bab 12 Dia Penjahatnya Bukan Aku

    “Mas Fakhri … ,” seru Aina tertahan.Ia melihat Fakhri sedang berdiri terpaku menatap Zafran yang memeluk kakinya. Di sebelah Fakhri tampak Wulan sedang bergelayut manja. Wajah cantik Wulan terlihat masam dengan mata sinis menatap Zafran.Aina berjalan mendekat kemudian menarik Zafran yang masih memeluk kaki Fakhri. Mungkin dulu, Fakhri akan langsung menggendong Zafran dan mendaratkan banyak kecupan di wajah bocah laki-laki itu. Namun, tidak saat ini.“Zafran … ayo sini, Sayang!!!” pinta Aina.Ia berusaha melepas pelukan Zafran, tapi sepertinya bocah laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.“Gak mau!! Aku mau sama Ayah, Bunda.”Aina berdecak, ia duduk bersimpuh sambil mencoba mengurai pelukan Zafran.“Sayang … Ayah masih ada kerjaan. Ayo, kita makan dulu, yuk!!”Zafran menggeleng. “Enggak. Aku udah gak lapar. Aku mau sama Ayah.”Zafran m

DMCA.com Protection Status