“Sakha, kamu nggak cuci muka sama gosok gigi?" Suara Tabitha yang cukup keras mengembalikan fokus Sakha yang malah teringat kejadian lama yang benar-benar membuat dirinya trauma. Dengan menyeret kaki malas-malasan, Sakha menyusul ke kamar mandi dan melihat istrinya baru saja berkumur. “Kamu udah?” Tabitha mengangguk. Sementara Sakha mencuci muka, Tabitha mengambilkan sikat gigi milik Sakha setelah membasahinya dengan air yang mengalir dari wastafel lalu mengoleskan pasta gigi dan baru menyerahkannya kepada Sakha. “Thank you.” Tabitha tidak langsung keluar dari kamar mandi, tetapi menunggu Sakha menggosok gigi dengan cepat. “Kalau kamu gosok giginya nggak hati-hati nanti bisa berdarah. Bisa sariawan juga,” ucap Tabitha mengingatkan. Peringatan itu seperti sudah tersetting otomatis di kepala Tabitha, sehingga hampir setiap pagi Sakha akan mendengar Tabitha mengucapkan itu. “Done.” Sakha selesai menggosok gigi dan meletakkan sikat giginya kembali ke dalam cangkir, bergabung deng
Setelah pertemuan dengan Ibu kala itu yang membuat Tabitha uring-uringan, Tabitha berusaha keras untuk tidak terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan yang hanya membuatnya semakin sedih. Untungnya, kesibukan demi kesibukan membuat Tabitha tidak punya waktu banyak untuk bersedih. Tabitha juga tidak punya cukup banyak waktu untuk sekadar nongkrong dengan teman-teman satu kosnya maupun dengan Albert yang belakangan telah kembali menjadi teman mengobrol Tabitha lewat chat. Sejak pertemuan dengan Albert dan Alex beberapa waktu lalu, yang kini tak terasa sudah lewat lebih dari dua bulan, Tabitha belum punya waktu lagi untuk bertemu mereka meski Albert sudah beberapa kali mengajaknya keluar. Bukan karena Tabitha mendadak takut bertemu mereka lagi setelah pertemuan dengan Ibu membuat Tabitha galau berkepanjangan. Kebetulan saja Tabitha memang sedang tidak punya banyak waktu untuk main. Ada proyek besar yang sedang dipegang kantornya dan Tabitha mendapat pekerjaan yang cukup b
"Mbak Tabitha," panggil seseorang yang ternyata office boy kantor yang cukup akrab dengan Tabitha. Langkah Tabitha yang baru akan masuk ke dalam lift untuk turun makan siang pun terhenti. "Siang, Pak Bejo. Mau turun makan siang juga?" Laki-laki paruh baya yang dipanggil Pak Bejo itu menggeleng. "Saya baru ingat kemarin ada tukang pos yang nitip surat buat Mbak." Tabitha mengernyit. "Surat? Dari siapa?" Pak Bejo menggeleng. "Wah, kalau soal itu saya nggak baca, Mbak. Saya langsung simpan karena kemarin Mbak Tabitha nggak di kantor seharian waktu Pak Posnya kasih suratnya ke saya." "Saya kayaknya nggak lihat ada surat di meja waktu datang ke kantor pagi tadi." "Masih saya simpan, Mbak. Takut hilang kalau langsung saya taruh di meja Mbak Tabitha kemarin. Ini mau saya ambilkan dulu suratnya atau gimana, Mbak? Buru-buru turun atau nggak?" "Bukan surat buat kantor ya?" "Sepertinya bukan, Mbak. Kalau buat kantor kan biasanya ada cap perusahaan atau apa itu." Tabitha mengangguk-anggu
Selama beberapa minggu terakhir, sangat jarang sekali Tabitha bisa sampai di kos sebelum matahari sepenuhnya tenggelam. Waktunya habis di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya. Hari ini, adalah kejadian langka. Tabitha sudah sampai kos sebelum jam lima sore.Setelah mandi dan memesan makan malam lewat layanan pesan antar, Tabitha membuka tas kerjanya dan mengeluarkan ponsel, laptop, serta postcard dari Sakha.Gara-gara memegang kembali postcard itu, Tabitha seketika lupa jika ia harus segera memeriksa email dari klien yang baru dikirim bertepatan dengan Tabitha masuk ke dalam lift untuk pulang sore tadi.Tabitha mendesah.Bingung dengan perasaannya terhadap Sakua yang timbul tenggelam. Ada rasa senang yang sempat muncul di dada saat menyadari bahwa Sakha masih melakukan rutinitasnya yang dulu. Sakha belum lupa. Setiap kali Sakha pergi ke luar negeri, laki-laki itu selalu mengirimkan postcard kepada Tabitha dari negara yang dikunjungi.Namun, dengan cepat ra
Hidup Tabitha yang sudah mulai tenang dan tertata mendadak kembali berguncang sejak beberapa minggu lalu. Tabitha sudah berusaha melupakan postcard dan email yang dikirim Sakha, namun ternyata tidak mudah bagi Tabitha. Tabitha yang akhirnya menandai email Sakha sebagai spam itu tetap tak bisa mengenyahkan bayangan mantannya dari kepalanya. Ajakan Albert untuk bertemu juga Tabitha tolak terus meski pekerjaan sudah tidak begitu banyak menyita waktu. Tabitha takut, jika ia bertemu dengan Albert... atau Alex, Tabitha akan bertanya-tanya tentang Sakha. Bagaimana kabarnya? Sedang berada di belahan bumi mana laki-laki sekarang? Apakah laki-laki itu bercerita tentang postcard dan email itu kepada dua sahabatnya? Baru dipikirkan, orang yang bersangkutan menelepon. Tabitha menunggu sampai dering ketiga baru mengangkatnya. "Hai, Al!" Tabitha berseru dengan nada terlalu riang. "Gue abis ketemu klien di dekat kantor lo, nih. Makan siang bareng yuk!" Ini mungkin sudah yang ketiga puluh kalinya
Proyek yang dikerjakan Sakha dan timnya di beberapa negara selesai dalam kurun waktu lima bulan. Satu bulan lebih cepat dari batas waktu maksimal yang ditargetkan. Namun, Sakha tidak langsung kembali ke Indonesia. Negara yang terakhir dikunjungi adalah China. Meski jaraknya lebih dekat untuk ke Indonesia, Sakha memutuskan untuk ikut David kembali ke Washington DC sementara teman-teman satu timnya memilih untuk pulang ke negara masing-masing selama dua minggu. "Saya nggak biasa meninggalkan pekerjaan sebelum benar-benar selesai." Begitu alasan Sakha saat David bertanya kenapa ia tidak ikut pulang seperti teman-temannya yang lain. Setelah berkeliling di beberapa negara, pekerjaan tidak lantas selesai begitu saja. Mereka masih harus membuat laporan, mengedit hasil foto dan video sebelum nanti mendapat jatah untuk diunggah di sosial media, di chanel TV NatGeo, dan di website resmi. Sementara itu, film dokumenter pendek yang mereka buat hanya akan tayang di chanel TV NatGeo, dan juga saa
Setelah meninggalkan kantor, Sakha tidak langsung pulang ke rumah. Tiba-tiba saja ia ingin jalan-jalan sebentar. Meski Sakha meninggalkan Jakarta tidak terlalu lama, ternyata ia rindu juga bagaimana kebisingan kota yang biasanya membuat Sakha kesal. Menyusuri trotoar seorang diri, Sakha tidak bisa untuk tidak mengingat Tabitha, yang lagi-lagi gagal ia singkirkan dari kepala meski sudah ribuan kilometer jauhnya ia pergi selama berbulan-bulan kemarin. Parahnya lagi, jarak yang membentang itu malah semakin membuat Sakha terus-menerus memikirkan Tabitha dan kenangan yang mereka punya dulu saat masih menikah. Ah, postcard yang Sakha kirimkan itu pasti sudah diterima Tabitha. Sakha memang sempat merutuki kebodohannya yang dengan impulsif mengirimkan postcard dari beberapa negara yang Sakha kunjungi saat bekerja. Dulu, Sakha memang senang mengirimkan postcard setiap kali harus meninggalkan Tabitha sendirian di rumah.Itu sudah menjadi kebiasaan. Dan rupanya kebiasaan itu tidak lantas terlup
Seperti dejavu, Sakha ingat saat pertama kalinya ia berada dalam kondisi bingung dan kalang kabut saat Tabitha sakit. Sakha lupa tepatnya kapan, tetapi saat itu tengah malam ketika Tabitha merintih kesakitan dalam tidurnya, badannya panas dan berkeringat dingin. Dengan panik Sakha memeluk istrinya, lalu menggendongnya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit. Setelah mendapat penanganan di IGD, rupanya Tabitha terkena usus buntu dan harus segera dioperasi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana takutnya Sakha saat itu. Sakha sudah hampir menangis saat harus menghubungi Ibu dan juga mama mertuanya untuk mengabarkan keadaan Tabitha. Bahkan saat Tabitha sudah pulih dari operasi, Sakha masih tidak tenang. Banyak ketakutan yang mendera hingga laki-laki itu sendiri nyaris tumbang karena saking lelahnya dan terlalu banyak pikiran. "Hubungan Bapak dengan pasien?" tanya dokter pria yang baru saja mengecek kondisi Tabitha dan mengobati luka-luka yang tampak di mata. Pertanyaan itu membuat Sakha bung
[Yunani 2026] Tabitha terbangun dari tidurnya karena mendengar suara debur ombak yang menyapa telinga. Ketika kedua matanya telah sepenuhnya terbuka, wanita itu langsung dihadapkan pada pemandangan indah yang membuat senyum manisnya terukir. Yaitu punggung liat suaminya yang tak terbalut sehelai kain menjadi yang pertama Tabitha lihat. Laki-laki itu berdiri membelakanginya, dengan kedua tangan bersandar di pagar balkon kamar. Senyumnya melebar kala sang suami menyadari kalau ia telah bangun dan sosok itu berbalik untuk menatapnya. "Selamat pagi, Istriku." Sapaan itu membuat wajah Tabitha memerah. Gara-gara panggilan yang terdengar manis itu juga kemarin Tabitha berakhir telanjang di atas tempat tidur sesaat setelah mereka tiba di kamar dengan pemandangan menakjubkan itu. Mereka bergumul di atas ranjang hingga tengah malam, sama-sama banjir peluh dan kelelahan, tetapi banjir kenikmatan. Tanpa sempat menikmati pemandangan yang disuguhkan salah satu pulau di Yunani yang menjadi dest
Pada pernikahan pertamanya dengan Sakha, banyak tangis yang diam-diam Tabitha pendam setiap kali wanita itu kembali mendapatkan tamu bulanan. Pada saat memasuki tahun kedua pernikahan, Tabitha masih belum terlalu mempermasalahkannya. Ia masih bisa berpikir positif dan menganggap bahwa ia belum siap menjadi ibu. Bahwa ia masih diberi waktu oleh Tuhan untuk menyiapkan mental. Tabitha memilih menikmati hari demi harinya bersama Sakha. Merajut cinta yang terus bertumbuh seiring berjalannya waktu.Tabitha baru mulai khawatir saat tahun ketiga, sudah mulai ikut promil, tetapi malam-malam penuh cintanya bersama Sakha tak juga menghadirkan bayi di dalam perutnya. Terlebih mengetahui Sakha yang sudah sangat mengharapkan kehadiran anak, Tabitha jadi gundah gulana.Hati Tabitha remuk setiap kali Sakha mengecup perutnya dan membisikkan doa agar usahanya membuahkan hasil, tetapi esok harinya Tabitha mendapati bercak merah di celana dalamnya. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika Tabitha sudah t
Rachel Kalila Ramadhani."Halo, anak Ayah."Sakha memandangi bayi mungil yang masih merah dari balik kaca dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah sejak berpuluh-puluh menit ia berdiri di sana. Ia sangat bahagia karena akhirnya bisa menyambut buah cintanya bersama Tabitha, tetapi juga teramat patah hati karena tidak bisa langsung merengkuh anak gadisnya yang masih harus mendapatkan beberapa penanganan medis khusus.Karena sudah harus lahir beberapa minggu sebelum HPL, berat badannya saat ini hanya 2,4 kilogram. Laju pernapasannya masih belum teratur sehingga harus dibantu alat pernapasan yang terpasang di hidungnya. Istrinya saat ini sedang beristirahat di kamar inap setelah operasi caesar yang harus dilaluinya karena kondisi medis darurat.Tadi, saat harus mendengar berita itu disampaikan oleh dokter dan istrinya menangis karena mengkhawatirkan kondisi bayinya, Sakha nyaris ikut meneteskan air mata. Ia benar-benar tidak tega melihat sang istri yang menahan sakit di perut sekaligus terte
"Lho, Bee? Kok belum ganti baju?" Sakha mengernyit bingung melihat istrinya belum selesai bersiap-siap. Istrinya masih mengenakan jubah mandi seperti satu jam yang lalu. Bedanya, wajahnya sekarang sudah full make-up. Menambah kesan cantik yang memikat Sakha meski hanya melihat wajah istrinya dari samping. "Aku bingung mau pakai baju apa," gumam Tabitha. Masih betah memandangi deretan gaun di dalam lemari yang pintunya telah terbuka lebar-lebar. "Semalam bukannya udah kamu siapin sama baju aku sekalian, Bee?" Tidak hanya itu. Sebenarnya sudah sejak jauh-jauh hari Tabitha membeli gaun--yang serasi dengan batik yang dikenakan Sakha sekarang--untuk dipakai saat resepsi pernikahan Haga dan Meg. Sakha mendekat kepada istrinya dan ikut melongok ke dalam lemari lalu meraih gaun berwarna salem yang langsung terlihat di matanya. "Pakai ini, kan?" Tabitha merengut saat melihat ke arah suaminya. "Aku kelihatan makin gendut kalau pakai ini. Mau pakai yang lain tapi bingung. Semua baju yang
Mata Tabitha mulai berkaca-kaca karena tidak bisa menahan rasa haru yang mengisi dadanya karena dua nama yang sarat makna indah yang sudah disiapkan oleh suaminya itu. Saat menyinggung soal nama anak tadi dan mendengar fakta kalau suaminya telah menyiapkan dua nama untuk calon anak mereka, Tabitha sama sekali tidak berekspektasi tinggi. Tetapi begitu mendengar Sakha mengucapkan dua nama itu dengan tatapan penuh cinta, bahkan sampai menjelaskan arti namanya masing-masing, Tabitha langsung tahu bahwa Sakha telah mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak asal mencomot nama dari internet karena tampak bagus dipadu-padankan. Dan hal itu membuat Tabitha semakin tak bisa menahan air matanya. "Bee, kok nangis? Kamu nggak suka, ya?" Sakha mendadak panik. Tampak rasa khawatir yang pekat membayangi wajahnya. Ia langsung mencerocos panjang lebar. "Aku nggak akan maksa kamu pakai nama itu kalau nama yang aku siapin nggak sesuai harapan kamu kok. Maaf, Bee. Udah ya? Jangan nangis lagi. Kala
"Kalian kenapa lebay banget, sih? Gue nggak papa kali!" keluh Albert yang sama sekali tidak terlihat baik-baik saja, seperti yang diucapkannya barusan.Laki-laki itu masih telungkup di atas tempat tidur, hanya mengenakan celana pendek dan singlet. Aroma tidak sedap karena sisa-sisa alkohol memenuhi kamarnya yang terang benderang karena cahaya dari lampu."Lo nggak inget semalem nelepon gue sampai nyaris dua jam? Kuping gue sampai panas denger lo ngomong sambil kumur-kumur!" cibir Ranis seraya membuka gorden dan jendela.Sementara Tabitha menyingkirkan pakaian-pakaian kotor milik Albert yang bertebaran di lantai. Memasukkannya ke dalam keranjang kotor yang ada di dekat pintu kamar mandi.Bukannya merasa bersalah, Albert malah cengengesan. "Masa, sih?""Lo bikin gue kurang tidur gara-gara nungguin Sakha nggak balik-balik tau nggak!" omel Tabitha menimpali keluhan Ranis yang diganggu malam-malam oleh curhatan Albert di telepon. "Kenapa jadi gue yang salah? Sakha yang inisiatif nemenin g
Tabitha sudah berniat memanjangkan durasi marahnya kepada Sakha, tetapi kemarahannya dengan ajaib menguap saat ia bangun pagi. Menatap wajah sang suami yang masih lelap dalam tidur damainya membuat senyum wanita itu terkembang lebar. Tidak adanya bau alkohol atau bau rokok yang tersisa seperti saat semalam laki-laki itu pulang semakin melebarkan senyum di wajahnya. "Ganteng banget sih laki gue," gumam wanita itu setelah mengecup pipi Sakha yang agak kasar karena jambang ttipisnya yang sudah mulai tumbuh. Sakha tidak terganggu sama sekali dengan tindakan Tabitha barusan, membuat Tabitha gemas lalu mencubit hidung mancung suaminya pelan. Dan detik kemudian wanita hamil itu tertawa kecil karena tingkah lakunya sendiri. Belakangan ini, Tabitha punya lebih banyak alasan untuk bersyukur setiap menemukan sosok Sakha ada di sampingnya ketika membuka mata. Dari mulai hal-hal sederhana seperti bisa menyantap sarapan bersama, berangkat ke kantor diantar sang suami sembari mengobrolkan agenda h
Wajah merah padam Tabitha menjadi pemandangan pertama saat Sakha muncul di rumah pada pukul sebelas malam. "Sayang, kok belum tidur?" Sakha tetap memangkas jarak meski sang istri menunjukkan gelagat tidak ingin berdekatan dengannya, yang telat pulang ke rumah itu. Sebenarnya, ekspresi Tabitha tidak tampak menakutkan. Pipi gembil yang semakin menonjol karena rambut pendeknya dan perut buncitnya yang terbalut daster selutut itu membuat wanita itu malah tampak manis dan memesona. Namun, tentu saja Sakha tidak akan mengucapkannya terang-terangan di saat sang istri sedang marah. Itu cari mati namanya. "Bee—" "Nggak usah pegang-pegang!" Tabitha berkacak pinggang. Dasternya terangkat naik dan kedua sisi daster di pinggangnya sedikit tertarik oleh kedua tangan, semakin menunjukkan perut bulatnya yang berisi calon bayi mereka. Sakha batal merengkuh sang istri dalam pelukan. "Aku beliin kamu sate Padang. Tadi kamu katanya pengen—" "Kamu pikir aku bakal nggak marah lagi cuma dengan sogokan
"Kenapa, Sayang?" Sakha menolehkan kepala, menatap sang istri yang baru saja menyuarakan pertanyaan setelah lima belas menit perjalanan pulang dari restoran. "Kenapa?" Dan ia malah mengulang pertanyaan itu. Tabitha mengendikkan bahu. "Kamu kelihatan nggak fokus gitu. Ada yang mengganggu kamu soal hubungan Haga sama Meggie?" "It's not like that," balas Sakha. Ia mendesah kecil. "Rasanya aneh aja memikirkan bagaimana takdir bekerja." Tawa ringan Tabitha memenuhi mobil. "It's kinda surprising, right?" Sakha mengangguk setuju. Menilik pada kisah cintanya dengan Tabitha, yang sempat runtuh dan terpisah. Lalu, suatu waktu, mereka dipertemukan oleh takdir di saat keduanya sudah berusaha keras untuk bangkit di jalan masing-masing. Hingga di satu titik mereka dipersatukan kembali dalam keadaan yang utuh dan saling melengkapi. Sakha tidak akan pernah bisa berhenti takjub pada bagaimana semesta mengejutkannya. "More than that, aku beneran syok lihat Haga ternyata bisa sebucin itu," gumam T