"Gimana, apa kamu setuju?" Arthur bertanya di antara kebimbangan Grace."Idemu tidak masuk akal, Arthur! Aku menolaknya!""Hei, kenapa? Bukannya kamu juga sudah mengatakan pada Max jika kau ingin menanam saham di bisnisku ..." tawa Arthur "Meski aku juga tidak tahu bisnis yang mana yang kamu maksud ..." tawanya tergelak."Tetap saja ini akan beresiko bila Max sampai tau yang sebenarnya!" Grace mendengus kasar."Ya terserah kamu saja ..." balas Arthur seraya menggendikkan bahunya. "Aku tidak ada ide lain."Grace menggigit bibir bawahnya, kemudian bangkit dari duduk, berjalan menuju kaca jendela ruang kerjanya. Sejenak ia memandang lurus pada gedung-gedung bertingkat pencakar langit sembari berpikir."Tapi ... tidak ada salahnya aku coba lebih dulu, Arthur." Grace mengangguk, kemudian berbalik menatap sepupunya. "Aku akan mencoba katakan pada Max."Arthur tersenyum bahagia. "Nah, gitu dong! Aku tunggu kabar darimu!"Setelah mendapat ide dari saran Arthur, Grace sedang merancang rencana
Brak!Sorot mata tajam menatap nyalang, menusuk hingga kulit-kulit keduanya. Namun, Freya tidak gentar dengan tatapan tajam itu, ia justru tersenyum licik padanya."Max ...!" bentak Grace murka. Kedua kalinya Max sangat dekat dengan Freya, sebelum pria itu bisa menghindari jebakan wanita ular. "Apa-apaan kau ini?!"Wanita cantik itu benar-benar marah dengan aksi Freya, terlebih melihat suaminya juga tidak melakukan penolakan.Max seketika berdiri menyambut Grace. Bukannya takut, tapi aksi Max sungguh di luar dugaan kedua wanita itu. Max langsung merengkuh pinggang sang istri dan menciumnya. Ya, mencium di hadapan Freya!Grace sontak tertegun, mengerjap dengan tindakan liar Max. Setelah selesai mencium, dan sang wanita tak lagi marah, Max melepaskan tautan bibirnya. "Kenapa, ada apa kau kemari, hm?" tanya Max dengan tatapan penuh hangat. Bahkan, seolah tak ada siapapun di ruangan itu selain mereka berdua."A-aku ..." Grace menjeda ucapannya, kemudian melihat ke arah Freya.Max mengert
Kecemasan Grace kembali muncul saat ia menerima email dua tiket boarding pesawat untuk tujuan Italia—Rusia.Pasalnya, jika ia benar-benar pergi ke Rusia, tentu sudah sangat senang dengan kemudahan itu, namun bukan Rusia yang menjadi negara tujuan. Wanita itu sekarang mondar-mandir di ruang tengah dalam rumahnya."Duh, bagaimana ini! Kenapa sih Christ pakai pesan tiket segala?" decak kesal Grace mengomel sendiri.Sebab, ia benar-benar harus merancang perjalanan ini sangat rahasia. Semua apapun tentang mengenai Jerman, tidak boleh tercantum dalam misi kali ini.Sama seperti saat pelariannya 8 tahun silam. Ia sangat menyusunnya dengan sangat rapi, sehingga tidak ada orang yang bisa menemukan dirinya bersembunyi selama itu.Grace mengambil telepon dan menghubungi Arthur. Telepon itu langsung tersambung dengan sosok pria di sana."Hallo, Grace. Ada apa?""Arthur, ada yang harus kamu soal perjalanan kita nanti," ungkap Grace."Hm, kenapa memangnya?""Kau tahu, Max sudah memberikan ijin itu
Permasalahan Chelsea ternyata terdengar oleh sosok pria yang baru datang. Dialah Max, kakak kandung Chelsea.Pria dengan wajah datar, tapi dengan tatapan tajam, bertanya ulang pada sang adik, "Apa kau mau pergi?"Grace tergugu mendengarnya, sementara Chelsea gelagapan dengan pertanyaan mendadak itu."Aku tanya sekali lagi, Chelsea, apa kau mau pergi?!" Suara Max kini menggelegar hingga seluruh ruang tamu. Pria itu menatap makin tajam dengan mengepalkan tangan. "Kalau kau ingin bercerai, cerailah! Tapi kau tidak perlu pergi!""Max!" Grace makin tidak terima di saat sang suami justru mendukung Chelsea bercerai. Max kemudian masuk ke dalam kamar, meninggalkan dua wanita itu. Pria itu tidak banyak bicara dalam menghadapi masalah sang adik."Apa-apaan dia, malah setuju dengan idemu," gerutu Grace tidak terima. "Biar nanti aku yang bicara padanya."Chelsea menarik tangan Grace sembari menggeleng, "Tidak Grace, biarkan saja dia begitu. Aku bisa selesaikan masalahku sendiri. Terima kasih kam
Sebelum keberangkatan Grace menuju Bandara, Max kini sedang bermanja-manja memeluk sang wanita. Pria itu tak hentinya menciumi bibir sang istri hingga berulang kali. "Max, hentikan, kau membuat lipstikku hilang!" protes Grace menjauhkan wajah sang pria.Max terkekeh dengan ketidaksukaan itu. "Kau ini membuatku ingin tertawa Grace, dan kau masih tetap cantik!""Tapi, tetap saja kau harus berhenti. Kau sudah menciumku berulang kali ..." Grace mengerucutkan bibir."Oke, oke, aku berhenti," balas Max mengalah. "Karena sebentar lagi kita berpisah. Aku dan kamu tidak akan bertemu untuk waktu yang lama."Grace menangkup wajah Max menggunakan telapak tangan. "Di mana lamanya, Max? Aku hanya pergi beberapa hari saja.""Jadi berapa hari kamu di sana, Baby?""Uhm, kemungkinan satu Minggu."Grace sudah menyusun semua rencana yang akan memperlancar perjalanannya menuju ke Rusia. Setelah perjalanannya menuju Rusia dengan tiket yang dipesan oleh Christ, ketiganya akan menuju Jerman dengan tiket yan
Perjalanan Grace, Arthur, dan Edward yang cukup lama itu makan waktu hampir beberapa jam. Memang tidak terlalu lama, tetapi keduanya harus melakukan transit terlebih dahulu sebelum ke Jerman.Grace tidak mau mengambil resiko atau bahkan tidak memakai tiket yang diberikan Max. Karena akan membuat kecurigaan pria itu semakin besar.Mendengar pramugari menyerukan pesawat akan landas, maka Arthur menoleh sekilas, "Sebentar lagi kita landas, Grace. Kencangkan sabuk pengamanmu," ucap sepupunya.Grace langsung mengencangkan dan mengecek sabuk pengamannya. "Kau tau Arthur, aku sudah tidak sabar."Mata binar bahagia tampak pada raut wajah wanita itu. Perjalanan kali ini, Grace tidak bisa tenang. Pasalnya ia akan bertemu dengan sang buah hati. "Tunggu sebentar lagi, kau bisa melihat dan memeluk sepuasnya.""Tentu. Aku sangat berhutang padamu kali ini," jawab Grace."Ah, tidak. Ini pun juga menguntungkanku. Aku bisa melihat keponakanku," cetus Arthur terkekeh.Grace mengulas senyum lembut, kemu
Di Negara Italia, Perusahaan Phoenix Enterprises. Hari menjelang siang, kebetulan Steve dan Agatha datang bersamaan secara tidak sengaja ke perusahaan itu.Keduanya tampak terkejut saat berpapasan satu sama lain, dan bertemu dengan cara tidak terduga."Hai, Agatha!" sapa Steve terlihat turun dari mobil. Ia melihat Agatha yang juga baru saja menutup pintu mobilnya.Wanita itu terperanjat, sekilas ia mengingat-ingat. "Wah, Steve!" Senyum senang tersungging seketika di wajah cantik sahabat Grace saat ia sudah mengingatnya. "Tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat ini! Apa kamu mau bertemu Grace?" tanyanya."Hm, ya, aku mencarinya," pria itu tersenyum tipis, "dan Kamu? Apa kamu akan pergi dengannya? Kenapa kamu terlihat cantik sekali."Pujian Steve membuat Agatha tersipu malu. Wanita itu seketika berusaha menyembunyikan pipinya yang menjadi merah merona.*Ah tidak, kamu bisa saja," balas Agatha merendah. "Ayo, kita naik!"Keduanya lantas langsung menaiki lift dari basement parkir
Sesaat Steve tampak serius dengan ponselnya. Ia baru saja mengirim pesan pada anak buahnya agar membawa mobil Agatha ke tempat makan itu. Setelah mengirim pesan, Steve kemudian mendongak, fokus kembali pada sang wanita.Di dalam gedung resto tempat acara makan siang Steve dan Agatha, keduanya juga bertemu sosok pria yang berjalan dengan Christ. Pria itu adalah Max.Ya, Steve dan Agatha bertemu Max. Max pun demikian, pria itu menggeleng lirih. Seharusnya ia tidak perlu bertemu dengan pria yang menyukai istrinya. "Huh, malas sekali bertemu dengannya! Membuat moodku buruk saja," gerutunya lirih." Kenapa harus bertemu di sini?" Agatha pun juga membatin.Keduanya lantas berdiri menyapa pria tampan tersebut. "Hai, Max!" sapa Steve menyodorkan tangan saat di depan pria itu.Tetapi ... Max enggan membalasnya. Wajahnya terlihat datar dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku. Christ yang berada di belakang Max, tertunduk sekilas seolah menyapa."Tuan Steve, Nona Agatha," ucap Christ mewak
Kegelapan langit malam berubah merah menyala karena ledakan mobil Kenan yang masuk ke jurang. Serpihan body mobil pun berterbangan hingga menjadi bagian terkecil. Semua orang mengalihkan wajah, menutup mata dengan lengan masing-masing."Tidak Keennn ..." Chelsea meratapi terduduk di atas tanah. Tatapannya kosong pada nyala api di angkasa.Arthur memegang pundak Chelsea, menguatkan wanita itu, "Semua akan baik-baik saja, Chel. Kenan pasti selamat ..."Meski sejujurnya Arthur juga ragu akan ucapannya. Jurang dan ledakan sebesar itu mana mungkin tidak menghancurkan tubuh seseorang.Christ berlari ke tepian jurang, lalu menatap ke bawah. Namun, tak ada siapapun di sana. Hanya ada pecahan puing yang berserakan dan masih menyisakan bara api yang berkobar. Kemudian ia berbalik badan lalu menggeleng lirih.Isyarat Christ semakin membuat Chelsea semakin histeris. "Tidak! Kembali padaku Kenaannn ...!"Tangisan Chelsea yang t
Bab250#Setibanya di basecamp yang tersembunyi, Chelsea merasa ada sesuatu yang sangat salah. Tempat itu sangat kacau dan suasana mencekam memenuhi udara. "Apa ini tempatnya, Arthur?" tanya Chelsea penuh keraguan."Hm, benar ini tempatnya."Belum juga kedua mata Chelsea memindai tempat itu, tiba-tiba ...Brak!Freya dan Kenan keluar dari bangunan sepi dengan pencahayaan minim. Meski demikian, sorot mata Chelsea mampu menangkap siluet bayangan sang suami."Kenan ...?!" Chelsea hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seruan Chelsea ternyata mampu mengalihkan perhatian kedua orang itu, terutama Kenan. Ia lebih terkejut saat melihat Chelsea juga berada di sekitar tempat itu. Area yang tidak sebaiknya dituju.Namun, di balik semua rasa takut dan kecemasan Chelsea, hatinya semakin teriris saat kenyataan yang lebih pahit terbuka di hadapannya. Di sana, di tengah kekacauan, dia melihat Kenan—dengan jel
Grace dengan suara penuh amarah, "Kenan! Kau datang kemari hanya untuk jadi pengkhianat! Tidak tahu malu!" Berdiri tegak, Kenan menatap Grace dengan dingin, "Aku memilih sisi yang benar, Grace. Ini bukan tentang kamu atau aku lagi, ini tentang apa yang seharusnya terjadi." Grace tertawa sinis, "Cih! Sisi yang benar? Kau menjual dirimu kepada Freya, itu yang kamu sebut benar? Jangan lebih rendah dari itu, Ken!" "Aku tidak membutuhkan pembenaran darimu, Grace. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang." Freya, yang sejak tadi diam dan menyaksikan percakapan itu, akhirnya berbicara dengan suara penuh kebencian. Grace tertawa remeh pada Freya, seolah mengejek wanita ular itu. "Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Karena kau tidak pernah dicintai sampai mati! Kau tak akan pernah tau apa itu cinta!" ucapnya penuh penekanan, "kasihan sekali!" Suasana di antara kedua wanita itu semakin mencekam. Freya ingin seka
Max tampak berjalan mondar-mandir di ruang kantor yang gelap, ekspresinya tegang dan penuh amarah. Matanya yang tajam menatap beberapa anak buah Christ yang berdiri cemas di hadapannya."Bagaimana bisa kalian belum menemukan lokasi Freya?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh amarah. "Kalian cuma membuang-buang waktu! Ini sudah terlalu lama, aku ingin jawaban sekarang!"Anak buah Christ, yang satu bernama Markus dan yang satunya lagi disebut Simon saling pandang, tampak bingung dan tertekan."Ma-Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami belum menemukan petunjuk pasti," jawab Markus, suaranya terbata-bata.Max menggeram, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mereka. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang aku cari! Jika kalian tidak bisa melaksanakan perintah sederhana ini, lebih baik aku cari orang lain yang bisa!"Simon mencoba menenangkan situasi. "Kami benar-benar sudah berusaha, Tuan. Kami akan terus menca
Kenan terlihat tegang, tapi mencoba menurunkan egonya. "Freya, aku tahu aku salah. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin tahu di mana basecamp-mu. Aku punya rencana ... rencana untuk melancarkan keinginanmu." Namun, diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun. Kenan akan pastikan akan membebaskan Grace. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menebus semua kesalahan." Mendengar ketulusan Kenan, dan betapa pria itu juga memenuhi keinginannya mendapatkan lokasi Grace, Freya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau tidak akan menjadi pengkhianat di dalam basecamp-ku, kan?" "Kau bisa percaya padaku, Freya. Aku akan lakukan apa saja untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kau akan dapatkan semua yang kau inginkan." Dalam hati Freya melewati banyak perdebatan. Kemudian suara Freya berubah, sedikit lebih lembut. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan lagi. Basecamp-ku ada di kawasan Charlottenburg, dekat Stasiun Zoologischer Garten. Tapi ingat, Kenan. Satu langkah s
Kenan berdiri di tengah kota. Kebingungan jelas tergambar di wajahnya. Ia melirik kiri-kanan, mencari-cari tanda yang bisa mengarahkannya pada basecamp Freya.Gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk suara kendaraan membuatnya merasa semakin terasing. Tidak ada petunjuk yang jelas, dan dia semakin merasa hilang."Bagaimana kalau aku meneleponnya?" ragu Kenan dalam kebimbangan.Setelah beberapa menit, Kenan mengeluarkan ponsel. Tatapannya tersentak saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dan deretan pesan dari sang istri."Maafkan, aku sayang ..." gumamannya terhenti dengan kedua bola mata berkaca-kaca, terharu, "Benarkah Chelsea hamil? Dia hamil ..."Rasanya Kenan benar-benar dilema. Di saat ia sudah menghancurkan semua, mahkluk kecil kini sedang bersemayam di rahim sang istri."Apa yang harus aku lakukan?" Kenan mengusap wajah kasar, "Argh!!"Namun, dengan cepat Kenan mengontrol emosinya. Ia harus secepatnya meny
Setelah berhasil membebaskan Anna, Kenan langsung menuju ke bandara dengan mengambil penerbangan tercepat. Semua benar-benar sudah ia persiapkan, pasport dan visa pun sudah dia kantongi di balik jaket."Maafkan aku, Chelsea," ucap Kenan lirih, "Tanpa pesan, tanpa panggilan, tanpa berkomunikasi. Lihatlah, sehening itu caraku mencintaimu sekarang ..."Dengan berat hati ia memandang sendu negara talia dengan lampu-lampu yang menghiasi setiap kota. Ada hati yang sudah ia lukai. Padahal, hati yang selalu membuat dunianya menjadi berisik.**Dengan gemetaran Grace berusaha memasukkan kunci yang justru membuat kunci itu terjatuh ke bawah kakinya."Ah, sial!"Wajah Leon pun tampak jelas ketakutan dan penuh ketegangan. "Ayo, Mom!"Grace mencoba meraih kunci dibawah kakinya, namun Jack terlebih dulu memecahkan kaca mobil dengan ujung senapan.PYAR!"Aaaww ...!" Grace menutup kedua telinga
Di negara Italia. Chelsea duduk termenung di sofa dalam kamarnya. Pagi ini, tubuhnya terasa lelah dan pusing, seolah-olah ada sesuatu yang salah. Rasanya seperti ada beban berat yang menekan dadanya. Namun jauh di dalam hati, ada kecemasan yang lebih besar lagi. Kenan, suaminya, tidak pulang sejak kemarin. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi, pesan-pesan yang dikirimkan tak kunjung dibalas. Sejak tadi malam, Chelsea sudah berusaha mencari tahu di mana Kenan berada, tapi tetap tak ada kabar. Rasa cemasnya menjadi semakin memuncak."Memangnya di mana sih dia sekarang," gerutu Chelsea memandang layar ponselnya yang perlahan berubah gelap.Ia bangkit dan berjalan pelan menuju meja, mengambil segelas air. Keringat dingin mengucur di dahinya. Rasanya seperti ada yang aneh dengan tubuhnya, dan perasaan cemas tentang Kenan hanya memperburuk keadaan.Tanpa berpikir panjang, Chelsea memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Ia ingin memastikan semuanya baik-ba
Melihat Stella datang dengan membawa kantong belanjaan, Grace keluar dari rumah, menghampiri sang perawat. "Apa semua sudah kamu beli, Stella?" tanya Grace. "Sudah semua, Nyonya. Perbekalan ini cukup untuk satu minggu ke depan." "Hm, baguslah." Ketiga pasang mata tiga pria dalam mobil seketika berbinar senang, saat melihat Grace dengan mata kepala sendiri. "Itu dia!" tunjuk Nick dengan yakin. "Benar, tepat sekali!" "Keberuntungan kita, dia keluar dengan sendirinya ...!" seru Jack sudah tidak sabar. "Selesaikan dengan cepat, dan jangan meninggalkan jejak!" "Siap, Bos!" Nick, Willy dan Jack langsung merapatkan langkah menuju rumah itu. Baru saja Stella dan Grace masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian pintu rumah mereka terbuka dengan sangat keras. BRAK!! Suara dentuman pintu yang ditendang sangat keras membuat Grace dan Leon terkejut setengah mati. Jack, Nick, dan Willy sudah ada di depan pintu. "Hohoho ... Lihatlah siapa yang kita temui ...!" Jack menyeringai si