Pagi itu, Max sedang berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Jas berwarna abu-abu tua yang elegan melekat sempurna pada tubuhnya. Wajahnya yang tampan terlihat tenang, namun pikirannya sibuk mempersiapkan strategi yang akan disampaikan dalam rapat hari ini. "Aku harus fokus! Aku tak mau acara penting seperti ini terganggu oleh pikiran-pikiran yang sedari kemarin mengusikku!" batin Max segera menarik nafas panjang lalu mengembuskannya."Ah, sudah jam segini ternyata." Jam di dinding menunjukkan pukul 07:55 ketika ketukan di pintu kamar terdengar."Masuk," ujar Max singkat.Christ membuka pintu, mengenakan setelan formal dengan raut wajah profesional seperti biasa. "Tuan, kata sopir, mobilnya sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang," katanya sembari melirik arloji."Oke, ayo kita berangkat."Max mengangguk kecil, mengambil berkas-berkas yang telah disiapkannya di meja, lalu berjalan keluar kamar. Keduanya menuju lift, lal
Setelah makan siang yang memuaskan, Max mengikuti Anthony menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit Chartie. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa lebih tenang. Max, yang biasanya penuh keyakinan, tampak berpikir. Sementara itu, Christ duduk di kursi depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan segalanya berjalan lancar."Anthony ... bagaimana kondisi Tuan Elvis sekarang?" tanya Max, memecah keheningan.Anthony, yang duduk di sebelahnya di kursi belakang, menatap jendela mobil sebelum menjawab, "Cukup stabil, tapi beliau masih harus banyak istirahat. Ini sudah minggu kedua papa dirawat di sana. Jujur saja, papa selalu membicarakanmu sebelum aku bertemu denganmu, Max."Max sedikit tersenyum, mencoba merespons dengan sopan. "Aku merasa terhormat. Aku berharap pertemuan ini bisa membuatnya lebih semangat."Anthony mengangguk, wajahnya menunjukkan rasa syukur. "Haha ... aku juga berharap begitu."Ket
Langit malam yang gelap dihiasi oleh taburan bintang. Angin sepoi-sepoi menyapu halaman rumah besar tempat Kenan bertugas. Di teras, Kenan duduk di kursi kayu, tangannya menopang dagu, matanya menatap kosong ke arah pepohonan yang bergoyang perlahan.Pikirannya berputar-putar sejak perbincangan kemarin. Chelsea, majikannya, mengutarakan perasaannya dengan jujur. Bukan perasaan biasa, tapi perasaan cinta. Kenan menghela napas panjang, mencoba mencari jawab atas kebingungannya."Sebenarnya apa sih yang dipikirkan Nyonya Chelsea?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Kenapa harus aku? Bukannya Nyonya Chelsea banyak kenalan pria tampan dan mapan yang memiliki segalanya?"Kenan selalu mengagumi Chelsea. Sebagai majikan, Chelsea tak hanya cantik tetapi juga berhati baik. Ia memperlakukan semua orang dengan hormat, termasuk dirinya yang hanya seorang bodyguard. "Aku menghormati dia... tapi, ah ... perasaan apa ini? Saat nyonya berbuat baik dan perhati
Max menggeleng lirih, saat panggilan Grace justru terputus begitu saja. Ia menatap lagi gadis kecil di depannya dengan penuh rasa iba, setelah melewatkan panggilan sang istri. Mata Alika sembab karena air mata yang terus mengalir. Max, meskipun tidak mengenal siapa anak kecil yang terbaring di ruang ICU itu, merasa harus memberikan sedikit semangat."Kamu harus sabar, ya. Doakan saja agar temanmu itu cepat sadar dan pulih kembali. Kadang doa itu jauh lebih kuat daripada yang kita kira. Paman juga akan mendoakan dia," kata Max lembut, mencoba menghibur.Alika mengangguk pelan, bibirnya gemetar. "Terima kasih, Paman. Aku pasti ... akan terus berdoa untuknya.""Kalau begitu, Paman tinggal dulu ya." Max tersenyum tipis.Alika mengangguk paham. "Iya, Paman."Max seketika menoleh ke arah Christ dan Anthony. "Kita pergi sekarang?"Anthony mengangguk sambil menepuk bahu Max. "Ya, mari kita pergi."Ketiganya berjalan me
Di sebuah kedai kopi yang terletak di pinggir jalan, Alfonso dan Carlos duduk santai menikmati secangkir kopi yang masih hangat. Suasana pagi yang sejuk membuat keduanya sedikit terlena dalam obrolan santai. "Hari ini kita libur, ya?" Carlos berkata sambil mengaduk kopinya. "Akhirnya bisa istirahat tanpa perlu mikirin tugas-tugas aneh dari Jack." Alfonso tertawa kecil. "Kau benar. Sesekali kita perlu menikmati hidup." Namun, ketenangan itu terganggu ketika ponsel Alfonso bergetar di atas meja. Ia melirik layar, melihat nama Jack tertera di sana. Alfonso menghela nafas panjang lalu bergumam, "Astaga ... baru juga dibicarakan ..." Dengan cepat ia pun mengangkat teleponnya, "Ya, Bos? Ada apa?" Alfonso bertanya dengan nada waspada. "Dengar, aku punya tugas penting untukmu dan Carlos." Suara Jack terdengar tegas di ujung telepon. "Tugas apa?" tanya Alfonso penasaran. "Apa kau ingat target itu, pria yang fotonya pernah kau kirimkan padaku?" Jack terdengar sedang mengkonfirm
Kenan duduk di balkon kamarnya yang kecil. Angin malam yang sejuk terasa menusuk kulitnya, tetapi pikirannya jauh lebih kacau dibandingkan udara dingin itu. Ia mengingat kembali momen saat ia menerima perasaan Chelsea. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah Chelsea, tetapi Kenan merasa dadanya sesak. "Apakah aku salah menerima perasaannya?" pikir Kenan.Bayangan tentang Max, kakak Chelsea yang berwibawa namun protektif, muncul dalam benaknya. Kenan bisa membayangkan tatapan tajam Max jika tahu adik perempuannya memilih seorang bodyguard untuk menjadi pasangannya.Lalu ada Alexander, ayah Chelsea yang terkenal sebagai pengusaha sukses sekaligus sosok yang tegas."Apakah Tuan Alexander akan merestui hubungan ini?"Dan Felly, ibu Chelsea yang anggun namun penuh perhitungan. Kenan tak yakin wanita itu akan menyukai ide anaknya berhubungan dengan pria yang memiliki kasta jauh di bawah mereka.Ia menghela napas panjang, menyandarkan tubu
Suasana di restoran Jepang yang semula tenang berubah tegang ketika Darren, mantan suami Chelsea, memasuki ruangan. Darren mengenakan setelan kasual yang tetap menunjukkan gaya hidup mewahnya. Tatapannya langsung tertuju pada Chelsea dan Kenan yang duduk di salah satu sudut restoran. "Ha? Bukannya itu Chelsea?" batin Darren. "Dan ... bodyguardnya?" Ia tertegun sejenak. "Apa yang mereka lakukan di sini berdua? Ah, jangan-jangan ..."Darren berjalan mendekati mereka dengan langkah penuh percaya diri. Sorot matanya terlihat sayu dan terkesan merendahkan saat melihat mereka berdua. Chelsea yang tengah berbicara serius dengan Kenan terhenti seketika begitu melihat Darren berdiri di hadapan mereka."Hoho ... bukannya ini Chelsea ... mantan istriku," Darren memulai dengan nada sinis. Ia memandang Chelsea dari atas sampai bawah, lalu beralih ke arah pria yang bersamanya.Kenan mendongak dengan tatapan tak percaya. "Tuan Darren?" batin
Alfonso dan Carlos masih duduk di mobil mereka yang terparkir di area rumah sakit. Dari tempat mereka mengintai, Edward kini terlihat tengah berbincang dengan Leon, Alika, dan Stella di dalam ruang rumah sakit. Leon tertawa kecil saat bercanda dengan Edward dan Stella, sementara Alika dengan gembira melompat-lompat di sekitarnya. Pemandangan itu membuat Alfonso menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan yang berkecamuk. Ia melirik Carlos yang tampak termenung. "Kau tahu, Alfonso?" Carlos memulai, suaranya berat. "Anak itu, Leon... benar-benar mirip mendiang putraku..." Alfonso menoleh, menghela nafas kasar. "Iya, Carlos. Aku juga berpikir seperti itu..." Carlos mengangguk pelan. "Senyumnya, caranya bicara, bahkan sorot matanya. Leon seperti ... putraku saat masih hidup. Makanya, aku merasa agak berat untuk menjalankan tugas ini." Alfonso menghela napas panjang sekali lagi. "Aku bisa melihat itu. Tapi ini bukan tentang perasaan kita, Al. Kita punya tugas. Kau tahu siapa yan
Sudah hampir satu bulan sejak Chelsea mulai melakukan pencarian terhadap suaminya secara mandiri. Meskipun pihak kepolisian Jerman sudah menutup kasus kecelakaan ini. Pencarian polisi berakhir, bersamaan dengan ditutupnya kasus itu dan menyatakan dua orang sebagai korban. "Kenapa harus berakhir dengan begini, Ken ..." Chelsea meratapi di tempat kejadian sebelum mobil Kenan masuk ke jurang. "Kembalikan suamiku wahai alam. Kembalikan dia meskipun itu hanya abu atau tulang belulangnya ... Ijinkan aku memeluknya sekali lagi. Aku tidak akan marah padamu. Bagaimana aku bisa marah, kalau kau adalah rumah suamiku sekarang, selamanya ...." Wanita itu bahkan tidak kuasa menahan isak tangis. Setiap hari, ia tak kenal lelah, menyerahkan segalanya untuk mencari keberadaan Kenan. "Maaf, Nyonya." Suara Christ yang tiba-tiba pun tidak menghentikan isakan Chelsea. Sang asisten yang telah setia membantu, bersama dengan beberapa orang yang dikerahkan untuk mencari, sudah melakukan segala cara
Kelopak bulu mata lentik membuka matanya perlahan, samar-samar cahaya matahari menembus tirai jendela.Pusingnya pun masih terasa, dan tubuhnya juga masih lemah, namun Grace mencoba mengingat apa yang terjadi. Semua kenangan tentang operasi dan masa koma itu kabur, tapi ada satu hal yang sangat jelas di pikirannya. Anak laki-lakinya, Leon."Ergghhh ..." Grace memegangi kepalanya yang masih berdenyut.Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya dan menoleh ke sekeliling ruangan. Namun, tak ada siapapun di sana. Kosong!"Apa aku masih hidup?" Grace sendiri hampir tidak percaya dirinya masih bernyawa. Kemudian mengusap perutnya yang seakan tidak ada apa-apa. "Ke mana bayiku?" tanyanya kebingungan, entah pada siapa.Wanita itu lantas menoleh. Di sana, di ranjang yang terpisah, Leon sedang tertidur pulas. Wajah kecilnya tampak damai, meskipun di hati Grace, ada kekhawatiran yang menggantung."Leon, Mommy b
Reaksi Brian membuat Max menarik paksa hasil tes kesehatannya. Pria itu dinyatakan cocok menjadi pendonor tulang sumsum untuk Leon.Dengan wajah binar, Max langsung bangkit dari duduknya. "Ayo cepat, ke mana aku harus pergi, Brian!" "Ayo! Aku juga sudah tidak sabar menunggu waktu ini!" Brian langsung bangkit dari duduknya, kemudian melangkah keluar yang diikuti Max.Setelah kurang lebih satu jam proses pengambilan sel tulang sumsum Max, petugas Laboratorium mulai memprosesnya.Max keluar dari ruang periksa dengan langkah yang sedikit terhuyung. Udara dingin di ruang rumah sakit tak bisa mengurangi rasa lega yang perlahan merayap dalam dirinya. "Apapun yang terjadi, Daddy akan berusaha segala cara Leon," tekad Max lirih.Meski perasaan berat masih menggantung, setidaknya ia tahu bahwa tulang sumsum yang baru saja didonorkan untuk Leon, memiliki peluang besar untuk menyelamatkan hidupnya. Hasil tes genetik men
Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergerak pelan. Aroma desinfektan membuat Chelsea sadar seketika. Kepala terasa berat, tubuhnya lelah, dan rasa sakit mulai merayapi seluruh tubuhnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Kenaann ..." Ia berharap semua yang baru saja ia lihat adalah sebuah mimpi. Namun, sayangnya itu adalah hal nyata yang baru saja dialaminya. Chelsea melihat bekas tanah yang terdapat di sela-sela pada kuku-kuku. "Ini bukan mimpi ..." ratapnya menahan isak. Melihat sang Nyonya sudah sadar, Christ mendekati Chelsea yang terbaring di atas brankar rumah sakit. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" tanyanya. Chelsea menatap asisten sang kakak, "Katakan kalau semua ini hanya mimpi kan, Christ?" Chelsea berharap asisten itu menggeleng, namun nyatanya Christ menggangguk, hatinya tahu bahwa ini semua kenyataan.
Kegelapan langit malam berubah merah menyala karena ledakan mobil Kenan yang masuk ke jurang. Serpihan body mobil pun berterbangan hingga menjadi bagian terkecil. Semua orang mengalihkan wajah, menutup mata dengan lengan masing-masing. "Tidak Keennn ..." Chelsea meratapi terduduk di atas tanah. Tatapannya kosong pada nyala api di angkasa. Arthur memegang pundak Chelsea, menguatkan wanita itu, "Semua akan baik-baik saja, Chel. Kenan pasti selamat ..." Meski sejujurnya Arthur juga ragu akan ucapannya. Jurang dan ledakan sebesar itu mana mungkin tidak menghancurkan tubuh seseorang. Christ berlari ke tepian jurang, lalu menatap ke bawah. Namun, tak ada siapapun di sana. Hanya ada pecahan puing yang berserakan dan masih menyisakan bara api yang berkobar. Kemudian ia berbalik badan lalu menggeleng lirih. Isyarat Christ semakin membuat Chelsea semakin histeris. "Tidak! Kembali padaku Kenaannn ...!" Tangisan Chelsea yang terdengar pilu makin tak terkendali, hingga tiba-tiba semu
Setibanya di basecamp yang tersembunyi, Chelsea merasa ada sesuatu yang sangat salah. Tempat itu sangat kacau dan suasana mencekam memenuhi udara. "Apa ini tempatnya, Arthur?" tanya Chelsea penuh keraguan. "Hm, benar ini tempatnya." Belum juga kedua mata Chelsea memindai tempat itu, tiba-tiba ... Brak! Freya dan Kenan keluar dari bangunan sepi dengan pencahayaan minim. Meski demikian, sorot mata Chelsea mampu menangkap siluet bayangan sang suami. "Kenan ...?!" Chelsea hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seruan Chelsea ternyata mampu mengalihkan perhatian kedua orang itu, terutama Kenan. Ia lebih terkejut saat melihat Chelsea juga berada di sekitar tempat itu. Area yang tidak sebaiknya dituju. Namun, di balik semua rasa takut dan kecemasan Chelsea, hatinya semakin teriris saat kenyataan yang lebih pahit terbuka di hadapannya. Di sana, di tengah kekacauan, dia melihat Kenan—dengan jelas berdiri di sisi Freya. Sekarang tampak seperti musuh yang berdiri di samp
Grace dengan suara penuh amarah, "Kenan! Kau datang kemari hanya untuk jadi pengkhianat! Tidak tahu malu!" Berdiri tegak, Kenan menatap Grace dengan dingin, "Aku memilih sisi yang benar, Grace. Ini bukan tentang kamu atau aku lagi, ini tentang apa yang seharusnya terjadi." Grace tertawa sinis, "Cih! Sisi yang benar? Kau menjual dirimu kepada Freya, itu yang kamu sebut benar? Jangan lebih rendah dari itu, Ken!" "Aku tidak membutuhkan pembenaran darimu, Grace. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang." Freya, yang sejak tadi diam dan menyaksikan percakapan itu, akhirnya berbicara dengan suara penuh kebencian. Grace tertawa remeh pada Freya, seolah mengejek wanita ular itu. "Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Karena kau tidak pernah dicintai sampai mati! Kau tak akan pernah tau apa itu cinta!" ucapnya penuh penekanan, "kasihan sekali!" Suasana di antara kedua wanita itu semakin mencekam. Freya ingin seka
Max tampak berjalan mondar-mandir di ruang kantor yang gelap, ekspresinya tegang dan penuh amarah. Matanya yang tajam menatap beberapa anak buah Christ yang berdiri cemas di hadapannya."Bagaimana bisa kalian belum menemukan lokasi Freya?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh amarah. "Kalian cuma membuang-buang waktu! Ini sudah terlalu lama, aku ingin jawaban sekarang!"Anak buah Christ, yang satu bernama Markus dan yang satunya lagi disebut Simon saling pandang, tampak bingung dan tertekan."Ma-Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami belum menemukan petunjuk pasti," jawab Markus, suaranya terbata-bata.Max menggeram, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mereka. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang aku cari! Jika kalian tidak bisa melaksanakan perintah sederhana ini, lebih baik aku cari orang lain yang bisa!"Simon mencoba menenangkan situasi. "Kami benar-benar sudah berusaha, Tuan. Kami akan terus menca
Kenan terlihat tegang, tapi mencoba menurunkan egonya. "Freya, aku tahu aku salah. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin tahu di mana basecamp-mu. Aku punya rencana ... rencana untuk melancarkan keinginanmu." Namun, diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun. Kenan akan pastikan akan membebaskan Grace. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menebus semua kesalahan." Mendengar ketulusan Kenan, dan betapa pria itu juga memenuhi keinginannya mendapatkan lokasi Grace, Freya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau tidak akan menjadi pengkhianat di dalam basecamp-ku, kan?" "Kau bisa percaya padaku, Freya. Aku akan lakukan apa saja untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kau akan dapatkan semua yang kau inginkan." Dalam hati Freya melewati banyak perdebatan. Kemudian suara Freya berubah, sedikit lebih lembut. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan lagi. Basecamp-ku ada di kawasan Charlottenburg, dekat Stasiun Zoologischer Garten. Tapi ingat, Kenan. Satu langkah s