Acara ulang tahun Alexander, ayah mertua Grace, berlangsung meriah di sebuah ballroom hotel mewah. Para tamu berdiri berkelompok, mengobrol dan menikmati hidangan mewah yang disajikan. Musik yang merdu terdengar di latar belakang, sementara para undangan tertawa riang. Namun, di tengah keramaian itu, Grace tampak sedikit cemas. Wajahnya pucat, dan matanya berusaha untuk tetap terbuka meskipun tubuhnya mulai lemas. Kehamilannya yang masih muda membuatnya merasa sangat tidak nyaman, namun dia berusaha menahan diri agar tidak menonjolkan keadaan."Kamu?! Berhenti memaksaku, Freya!"Saat Grace perlahan berusaha menjauhi Freya, justru wanita ular itu semakin mendesaknya."Kenapa harus takut?!"Grace merasa kepalanya semakin pusing, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tanpa diduga, tubuhnya hampir terhuyung, dan beruntungnya, Arthur, sepupu Grace, melihatnya dari kejauhan.Dengan refleks, dia bergegas menghampiri Grace yang ham
Setelah acara hampir selesai, tatapan Chelsea mencari Kenan, yang ternyata pria itu sedang membelakanginya. Pantas saja jika sejak tadi Chelsea tidak bisa melihat wajahnya, karena hampir rata-rata setelan jas yang dipakai Kenan menyamai para tamu undangan."Itu dia!" Chelsea bergegas menghampiri. Tepukan tangannya pada pundak Kenan mengejutkan sang bodyguard. "Eh, Nyonya." Kenan berbalik badan. Dengan sigap ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana yang menggenggam sesuatu."Acaranya hampir selesai, kita pulang, yuk!" Tanpa menjawab, Kenan mengangguk lirih, kemudian berjalan di belakang sang majikan. Tiba di samping mobil, pria itu langsung membukakan pintu tengah, "Silahkan, Nyonya."Darren pun demikian. Sejak tadi ia mengintai kesempatan untuk membalaskan dendamnya. Nyatanya, sampai pesta hampir berakhir ia tidak mendapat kesempatan."Brengsek! Supir sialan!"**Siang ini, Max sedang duduk di ruang k
Ruang kerja Max terasa lebih sunyi dari biasanya. Di balik meja kerjanya yang besar, Max duduk dengan punggung tegak, tatapannya tajam menembus jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung bertingkat yang ramai. Christ baru saja mengetuk pintu ruangannya. Meskipun pria itu selalu datang dengan informasi yang bisa diandalkan, kali ini Max merasa gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, sesuatu yang membuatnya meragukan apa yang akan Christ katakan padanya."Masuk!" titah Max dari dalamTak berselang lama, Christ masuk dengan langkah mantap, meskipun wajahnya nampak sedikit kelelahan. Ia tahu Max sedang berada dalam kebingungannya, dan ia harus segera menjelaskan apa yang sudah dia temukan.Sang asisten menarik bangku, lalu duduk di kursi di depan meja Max. Suasana hening sejenak sebelum Max membuka suara. "Apa yang kamu dapatkan, Christ?" tanya Max dengan penuh harap.Christ menatap sang CEO yakin. Ia suda
Seorang pria yang baru saja selesai menerima telepon langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Pria itu segera menuju kamarnya yang berada di belakang.Sejak sang CEO menjadikannya bodyguard, Chelsea memfasilitasi Kenan agar tinggal bersamanya. Bukan karena apa, namun itu ide Chelsea agar Kenan lebih mudah melindunginya."Sepertinya hari ini Nyonya Chelsea tidak keluar rumah," gumam Kenan duduk di tepi ranjang. Setelahnya pria itu menghela napas, lalu bangkit membuka jendela kamar. Ia bisa menghirup udara segar yang masuk ke dalam hidung. Tubuhnya menggeliat sejenak, meregangkan otot-otot."Berarti aku tidak ada kegiatan hari ini," monolognya lagi dengan kedua tangan yang terus bergerak olah raga ringan. "Apa sebaiknya aku berenang saja, ya? Tapi ... kira-kira Nyonya mengijinkan tidak, ya?"Kenan tampak kebingungan dengan keinginannya, yang nantinya tidak sejalan dengan jawaban Chelsea. Benar, di rumah Chelsea sudah difasilitasi ko
Chelsea membantu Kenan bangkit dengan keraguan. Bukan karena ia tidak ingin bersentuhan dengan sang pria. Namun, Chelsea berusaha menjaga jarak agar debaran jantungnya tidak terdengar."Semoga saja dia tidak mendengarnya," batin sang wanita bergerak kikuk, lalu melihat Kenan, menyodorkan tangan dengan gemetaran, "Kamu tak apa, Ken? Maaf ..."Kenan yang melihat uluran tangan lalu kemudian melihat ke wajah Chelsea, keduanya tampak canggung."Saya tidak apa-apa, Nyonya,"ucap Ken lalu berguling, bangkit dengan tegap. Kini, keduanya berhadapan. "Ya sudah, kalau kamu baik-baik saja. Oh ya, segera ganti bajumu, aku mau ke mall nanti," kata Chelsea. Setelah mengatakannya, Chelsea bergegas menjauh dari Kenan. Ia berusaha menutupi rona kemerah-merahan pada pipinya. "Duh ... Kenapa aku seperti ini ...?" batin Chelsea mondar-mandir di dalam kamar. "Tenang, Chelsea. Kamu pasti hanya kaget."Wanita itu menolak bahwa
Di Jerman, Rumah Sakit Chartie. Alika dan Leon berdiri di dekat jendela dalam kamar rumah sakit. Keduanya tampak berdiskusi dengan penuh harapan. Leon tampaknya antusias ke rumah Alika setelah gadis itu banyak menceritakan tentang tempat tinggalnya. "Ayo, Leon, kita pergi ke rumahku sebentar tidak jauh dari sini. Aku ingin menunjukkan beberapa hal padamu," ajak Lika dengan penuh binar.Memang, tempat tinggal Alika tidak jauh dari rumah sakit. Namun, kendala yang di hadapi keduanya adalah meyakinkan Brian dan Stella agar bisa mengijinkan Leon.Sementara Leon terlihat sedikit cemas namun tetap berharap bisa pergi. "Iya, aku ingin pergi, tapi … kita harus minta ijin dulu, kan? Aku tidak yakin Om Brian mengijinkannya, Lika," kata Leon ragu."Kita coba saja dulu. Kalau kita tidak mengatakannya, kita tidak tau hasilnya."Leon mengangguk-angguk. "Benar katamu. Ayo, kita cari mereka!"Keduanya kemudian mendekati Brian dan Stella ya
Leon sejenak terdiam, namun sembari berpikir. Ia tidak begitu suka dengan ide adanya pengawasan, tetapi melihat wajah sedih Alika tadi, dan mendengar persetujuan dari Brian, ia akhirnya setuju meskipun dengan berat hati.Anak tampan menyunggingkan senyum kecil, "Baiklah Om, kalau itu syaratnya, aku ikut. Tapi aku berharap tidak ada yang aneh."Mendengar Leon mau bersepakat dengan tawaran yang diberikannya, Brian sedikit merasa lega. Selain itu, Leon pun sudah tersenyum lagi padanya."Ayo, bawa aku ke kamar, Aunty!" pinta Leon tampak riang.Stella turut mengulas senyum, "Oke, Sayang."Dengan wajah sumringah, Leon bergegas bangkit dari kursi rodanya setelah tiba di kamar. Anak tampan itu berdiri di samping jendela, menatap pemandangan luar dengan penuh harapan. Ia merasa lega setelah mendapatkan kepastian. Sekarang, dia hanya perlu menghubungi Alika dan memberitahukan berita baik itu. Tangannya menggenggam ponsel, lalu dengan
Hanya ada cahaya senter yang mereka pegang, menerangi jalan yang tampaknya tak ada ujungnya. Udara di dalam lorong pun terasa pengap, seolah-olah tempat itu telah lama terlupakan. Dengan langkah hati-hati, mereka mulai berjalan memasuki lorong yang semakin dalam. Suara langkah kaki mereka terdengar bergema, seakan keduanya sedang berjalan di ruang yang kosong dan sunyi. "Ini... aneh, kan? Tidak ada suara sama sekali. Seperti dunia yang terpisah dari yang lain," kata Alika. Leon menatap lorong dengan waspada, suara sedikit bergetar, "Ya ... seperti kita sudah meninggalkan dunia luar dan masuk ke tempat yang tidak seharusnya kita tahu. Tapi aku heran, mengapa ada lorong ini di dalam rumahmu?" Alika menggendik bahu, "Entahlah, aku sendiri juga tidak tau jika ada lorong tersembunyi di dalam kamarku. Aku pun baru tau setelah memindahkan lemari itu." "Lalu, apakah kita akan terus mengikuti jalan ini?" Sambil melanjutkan langkah, Leon menggenggam senter lebih erat. Langkah mereka
Sudah hampir satu bulan sejak Chelsea mulai melakukan pencarian terhadap suaminya secara mandiri. Meskipun pihak kepolisian Jerman sudah menutup kasus kecelakaan ini. Pencarian polisi berakhir, bersamaan dengan ditutupnya kasus itu dan menyatakan dua orang sebagai korban. "Kenapa harus berakhir dengan begini, Ken ..." Chelsea meratapi di tempat kejadian sebelum mobil Kenan masuk ke jurang. "Kembalikan suamiku wahai alam. Kembalikan dia meskipun itu hanya abu atau tulang belulangnya ... Ijinkan aku memeluknya sekali lagi. Aku tidak akan marah padamu. Bagaimana aku bisa marah, kalau kau adalah rumah suamiku sekarang, selamanya ...." Wanita itu bahkan tidak kuasa menahan isak tangis. Setiap hari, ia tak kenal lelah, menyerahkan segalanya untuk mencari keberadaan Kenan. "Maaf, Nyonya." Suara Christ yang tiba-tiba pun tidak menghentikan isakan Chelsea. Sang asisten yang telah setia membantu, bersama dengan beberapa orang yang dikerahkan untuk mencari, sudah melakukan segala cara
Kelopak bulu mata lentik membuka matanya perlahan, samar-samar cahaya matahari menembus tirai jendela.Pusingnya pun masih terasa, dan tubuhnya juga masih lemah, namun Grace mencoba mengingat apa yang terjadi. Semua kenangan tentang operasi dan masa koma itu kabur, tapi ada satu hal yang sangat jelas di pikirannya. Anak laki-lakinya, Leon."Ergghhh ..." Grace memegangi kepalanya yang masih berdenyut.Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya dan menoleh ke sekeliling ruangan. Namun, tak ada siapapun di sana. Kosong!"Apa aku masih hidup?" Grace sendiri hampir tidak percaya dirinya masih bernyawa. Kemudian mengusap perutnya yang seakan tidak ada apa-apa. "Ke mana bayiku?" tanyanya kebingungan, entah pada siapa.Wanita itu lantas menoleh. Di sana, di ranjang yang terpisah, Leon sedang tertidur pulas. Wajah kecilnya tampak damai, meskipun di hati Grace, ada kekhawatiran yang menggantung."Leon, Mommy b
Reaksi Brian membuat Max menarik paksa hasil tes kesehatannya. Pria itu dinyatakan cocok menjadi pendonor tulang sumsum untuk Leon.Dengan wajah binar, Max langsung bangkit dari duduknya. "Ayo cepat, ke mana aku harus pergi, Brian!" "Ayo! Aku juga sudah tidak sabar menunggu waktu ini!" Brian langsung bangkit dari duduknya, kemudian melangkah keluar yang diikuti Max.Setelah kurang lebih satu jam proses pengambilan sel tulang sumsum Max, petugas Laboratorium mulai memprosesnya.Max keluar dari ruang periksa dengan langkah yang sedikit terhuyung. Udara dingin di ruang rumah sakit tak bisa mengurangi rasa lega yang perlahan merayap dalam dirinya. "Apapun yang terjadi, Daddy akan berusaha segala cara Leon," tekad Max lirih.Meski perasaan berat masih menggantung, setidaknya ia tahu bahwa tulang sumsum yang baru saja didonorkan untuk Leon, memiliki peluang besar untuk menyelamatkan hidupnya. Hasil tes genetik men
Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergerak pelan. Aroma desinfektan membuat Chelsea sadar seketika. Kepala terasa berat, tubuhnya lelah, dan rasa sakit mulai merayapi seluruh tubuhnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Kenaann ..." Ia berharap semua yang baru saja ia lihat adalah sebuah mimpi. Namun, sayangnya itu adalah hal nyata yang baru saja dialaminya. Chelsea melihat bekas tanah yang terdapat di sela-sela pada kuku-kuku. "Ini bukan mimpi ..." ratapnya menahan isak. Melihat sang Nyonya sudah sadar, Christ mendekati Chelsea yang terbaring di atas brankar rumah sakit. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" tanyanya. Chelsea menatap asisten sang kakak, "Katakan kalau semua ini hanya mimpi kan, Christ?" Chelsea berharap asisten itu menggeleng, namun nyatanya Christ menggangguk, hatinya tahu bahwa ini semua kenyataan.
Kegelapan langit malam berubah merah menyala karena ledakan mobil Kenan yang masuk ke jurang. Serpihan body mobil pun berterbangan hingga menjadi bagian terkecil. Semua orang mengalihkan wajah, menutup mata dengan lengan masing-masing. "Tidak Keennn ..." Chelsea meratapi terduduk di atas tanah. Tatapannya kosong pada nyala api di angkasa. Arthur memegang pundak Chelsea, menguatkan wanita itu, "Semua akan baik-baik saja, Chel. Kenan pasti selamat ..." Meski sejujurnya Arthur juga ragu akan ucapannya. Jurang dan ledakan sebesar itu mana mungkin tidak menghancurkan tubuh seseorang. Christ berlari ke tepian jurang, lalu menatap ke bawah. Namun, tak ada siapapun di sana. Hanya ada pecahan puing yang berserakan dan masih menyisakan bara api yang berkobar. Kemudian ia berbalik badan lalu menggeleng lirih. Isyarat Christ semakin membuat Chelsea semakin histeris. "Tidak! Kembali padaku Kenaannn ...!" Tangisan Chelsea yang terdengar pilu makin tak terkendali, hingga tiba-tiba semu
Setibanya di basecamp yang tersembunyi, Chelsea merasa ada sesuatu yang sangat salah. Tempat itu sangat kacau dan suasana mencekam memenuhi udara. "Apa ini tempatnya, Arthur?" tanya Chelsea penuh keraguan. "Hm, benar ini tempatnya." Belum juga kedua mata Chelsea memindai tempat itu, tiba-tiba ... Brak! Freya dan Kenan keluar dari bangunan sepi dengan pencahayaan minim. Meski demikian, sorot mata Chelsea mampu menangkap siluet bayangan sang suami. "Kenan ...?!" Chelsea hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seruan Chelsea ternyata mampu mengalihkan perhatian kedua orang itu, terutama Kenan. Ia lebih terkejut saat melihat Chelsea juga berada di sekitar tempat itu. Area yang tidak sebaiknya dituju. Namun, di balik semua rasa takut dan kecemasan Chelsea, hatinya semakin teriris saat kenyataan yang lebih pahit terbuka di hadapannya. Di sana, di tengah kekacauan, dia melihat Kenan—dengan jelas berdiri di sisi Freya. Sekarang tampak seperti musuh yang berdiri di samp
Grace dengan suara penuh amarah, "Kenan! Kau datang kemari hanya untuk jadi pengkhianat! Tidak tahu malu!" Berdiri tegak, Kenan menatap Grace dengan dingin, "Aku memilih sisi yang benar, Grace. Ini bukan tentang kamu atau aku lagi, ini tentang apa yang seharusnya terjadi." Grace tertawa sinis, "Cih! Sisi yang benar? Kau menjual dirimu kepada Freya, itu yang kamu sebut benar? Jangan lebih rendah dari itu, Ken!" "Aku tidak membutuhkan pembenaran darimu, Grace. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang." Freya, yang sejak tadi diam dan menyaksikan percakapan itu, akhirnya berbicara dengan suara penuh kebencian. Grace tertawa remeh pada Freya, seolah mengejek wanita ular itu. "Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Karena kau tidak pernah dicintai sampai mati! Kau tak akan pernah tau apa itu cinta!" ucapnya penuh penekanan, "kasihan sekali!" Suasana di antara kedua wanita itu semakin mencekam. Freya ingin seka
Max tampak berjalan mondar-mandir di ruang kantor yang gelap, ekspresinya tegang dan penuh amarah. Matanya yang tajam menatap beberapa anak buah Christ yang berdiri cemas di hadapannya."Bagaimana bisa kalian belum menemukan lokasi Freya?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh amarah. "Kalian cuma membuang-buang waktu! Ini sudah terlalu lama, aku ingin jawaban sekarang!"Anak buah Christ, yang satu bernama Markus dan yang satunya lagi disebut Simon saling pandang, tampak bingung dan tertekan."Ma-Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami belum menemukan petunjuk pasti," jawab Markus, suaranya terbata-bata.Max menggeram, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mereka. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang aku cari! Jika kalian tidak bisa melaksanakan perintah sederhana ini, lebih baik aku cari orang lain yang bisa!"Simon mencoba menenangkan situasi. "Kami benar-benar sudah berusaha, Tuan. Kami akan terus menca
Kenan terlihat tegang, tapi mencoba menurunkan egonya. "Freya, aku tahu aku salah. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin tahu di mana basecamp-mu. Aku punya rencana ... rencana untuk melancarkan keinginanmu." Namun, diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun. Kenan akan pastikan akan membebaskan Grace. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menebus semua kesalahan." Mendengar ketulusan Kenan, dan betapa pria itu juga memenuhi keinginannya mendapatkan lokasi Grace, Freya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau tidak akan menjadi pengkhianat di dalam basecamp-ku, kan?" "Kau bisa percaya padaku, Freya. Aku akan lakukan apa saja untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kau akan dapatkan semua yang kau inginkan." Dalam hati Freya melewati banyak perdebatan. Kemudian suara Freya berubah, sedikit lebih lembut. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan lagi. Basecamp-ku ada di kawasan Charlottenburg, dekat Stasiun Zoologischer Garten. Tapi ingat, Kenan. Satu langkah s