"Saya bukan L****e! Dan Saya gak pernah morotin siapapun!" Teriak Marni yang sejak tadi belum memiliki kesempatan karena terus diserang oleh kedua wanita yang sudah kesetanan mengamuk.
"Mana ada L****e ngaku!" Nyolot si Wanita masih akan menyerang Marni namun ditahan beberapa warga yang memisahkan. "Ya Allah Gusti! Dek! Kamu ngapain disini! Walah ini kok banyak orang!" Joko segera menerobos kerumunan warga yang mengerubungi Marni dan dua wanita pengeroyoknya. "Lah Kamu juga kenapa ada disini Sum! Mbakmu kenapa ga ditahan." Joko melirik Adiknya yang sudah dalam keadaan acak-acakan sama dengan Ijah istrinya Joko. "Kamu ga usah belain si L****e Mas! Sini Kamu! Duit Kamu nguli Kamu kasih sama nih L****e kan?" Ijah melotot tatapan mata merah begitupun raut wajahnya melampiaskan kemarahan. "Loh,Loh, Dek. Kamu jangan asal nuduh! Mas ga ada kasih uang apa-apa sama Marni. Mas paling langganan Jamu aja. Ya kan Mar?" Joko menenangkan Istrinya yang tak mau disentuh. Tangan Joko di gubris saat akan merangkul Ijah Istrinya. Marni menatap nyalang kepada Mereka. Tak sedikitpun Marni gentar. Ia tak salah. Kenapa harus Ia di sudutkan seperti ini. Main Hakim Sendiri. "Sampeyan datang langsung ngereog, ngelabrak Saya padahal Saya tidak tahu apa-apa! Sekarang tanya langsung sama bojo koe! Kemana uangnya ga disetor ke Kamu! Jangan asal nuduh!" Kali ini ucapan Marni terdengar penuh kemarahan. Sorot mata Ijah melirik tajam pada Joko, "Uangnya betul kok ga Mas kasih Marni, ga dikasih ke siapa-siapa juga," Joko menjawab hati-hati, yakin kalau jujur Ijah akan semakin mengamuk. Saat ketegangan menyelimuti Ijah dan Joko, ponsel Joko berdering, namun Joko mendiamkannya. "Jangan-jangan itu selingkuhannya! Angkat coba!" Salah satu warga memprovokasi. Ijah yang sudah naik pitam meraih ponsel Joko yang berada di saku celana Suaminya. Beberapa warga yang melihat ikut penasaran siapa yang menelepon Joko. Ijah segera menekan tombol di ponsel menerima panggilan yang diabaikan Joko. "Eh A****g! Lu udah berani ya ga angkat telepon Gue! Bayar utang Lu T****L! Jangan kabur Lo!" Ijah terkejut setengah mati, bukannya suara perempuan seperti yang ada dalam pikirannya malah makian dari laki-laki yang terdengar marah dan membahas perihal hutang piutang. "Sampeyan siapa ya?"Ijah dengan terbata menjawab. "Oh, Lo bininya! Bilang tih sama Laki Lo! Kalo punya utang bayar! Jangan minjemnya doang! Makanya kalo ga punya duit ga usah main Judol! Laki Lo tuh kecanduan Judol! Dimana Laki Lo! Bilang sama Gw! Jangan kayak B****i ngumpet dibawah ketek bini!" Ijah segera memutus panggilan tersebut. Mata Ijah sudah membulat sempurna. Rasanya tanduk dan khodam Ijah mau keluar mengetahui rupanya Joko malah masih terjerat Judol. Padahal Ijah sudah sering bilang, berhenti karena sudah habis barang-barang Mereka di jual Joko. Tanpa banyak cincong dan tak ada kata maaf pada Marni, Ijah dan Sumi sang Ipar segera menyeret Joko dari hadapan semua warga yang menyaksikan. "Dek, ampun, Dek. Jangan ngono toh! Sakit ini kuping Mas!" Joko memegangi telinganya yang diseret Ijah dan Sumi pulang. "Sudah, yang lain bubar. Marni sebaiknya Kamu beresin itu pecahan botol-botol Jamumu." Pak RT meminta bubar dan segera meninggalkan rumah petak Marni. Tak ada seorangpun yang mau membantu Marni. Senyum getir tersungging di bibir Marni. Marni menatap nanar botol Jamu yang berserakan di tanah. Semua pecah. Hancur. Bahkan bakul Jamu miliknya rusak tak berbentuk. Kalo sudah begini, siapa yang harus disalahkan. Marni memunguti sisa-sisa kerusuhan dan membereskannya. Hati Marni sakit. Hanya Si Mbah yang terlintas di kepalanya. "Mbah, Mereka jahat sama Marni. Marni harus bagaimana?" Langit seakan tahu kesedihan dan rasa pilu yang kini menyelimuti relung hati Marni. Seketika rintik gerimis menyapa Bumi. Meredakan amarah di hati Marni yang masih berkobar tak terima perlakuan Istri Joko yang Main Hakim Sendiri. Marni bingung, malu juga dengan kejadian hari ini. Seharian Marni tak keluar rumah kontrakannya. Tubuhnya sakit-sakit paska diserang dua wanita laknat yang main asal tuduh. "Ish," Marni membersihkan luka dibeberapa tangannya dan sudut bibirnya yang sempat kena tamparan Ijah dan Sumi. "Begini banget nasibku, bukan untung malah buntung. Enak saja Mereka habis rusak semuanya dan Aku sampe luka begini malah kabur! Dasar laki-laki kerjanya ngapusi wanita. Ngebohongi Istri malah Aku yang kena sasaran." Malam semakin larut, Marni terduduk lemas di sudut ruangannya, ruangan yang biasanya dipenuhi dengan aroma rempah-rempah sekarang hanya tercium bau pesakitan dan kesedihan. Tubuhnya masih memar, bekas hujan pukulan yang dilepaskan Ijah dan Sumi atas tuduhan yang tidak berdasar. Dengan mata sembab, dia menatap panci-panci yang biasa digunakannya untuk menyeduh jamu. Kini, mereka hanya seonggok logam yang menyimpan cerita pahit. Di sudut lain, pecahan kaca botol jamu berserakan, seperti hatinya yang remuk. Ijah dan Sumi, dengan marah, telah menghancurkan segala yang ia bangun dengan tangan dinginnya. Marni perlahan membuka kaleng kecil tempat ia menyimpan uang hasil penjualan jamu. Lembar demi lembar ia hitung dengan hati yang gundah, mempertimbangkan masa depan yang kini serba tidak pasti. Haruskah ia melanjutkan usaha jamu yang telah membesarkan namanya atau mencari pekerjaan baru yang mungkin lebih stabil di pabrik? Marni menghela napas panjang, keputusan besar menanti di malam yang sunyi, keputusan yang akan menentukan arah hidupnya setelah tragedi ini. Marni terbangun. Merasakan sekujur tubuhnya nyeri semua. Biasanya sepagi ini Marni sudah sibuk menggodok Jamu untuk jualan, hari ini malah Marni merasakan seluruh tubuhnya sakit bahkan beberapa luka mulai membiru. "Ya Allah Gusti, ini badanku panas sekali." Marni mengusap peluh disudut dahinya. Meski berat dan terasa nyeri disana sini, Marni memaksakan bangun, tenggorokannya merasa haus. "Alhamdulillah." Marni memejamkan mata, lumayan segelas air membasahi tenggorokannya yang kering. "Gusti, badanku remuk rasanya." Marni perlahan mendudukan tubuhnya. Sedikit menyingkap kausnya, Marni terkejut rupanya di perutnya ada legam memar. "Ya Allah Gusti, paringi sehat. Marni ga mau mati konyol Gusti!" Marni menutup kembali kaus yang ia kenakan. Marni berjalan perlahan, mencari kaleng tempat ia menyimpan obat. "Coba minum ini deh. Siapa tahu sakitku hilang. Kok ya apes bener Marni, badan sakit semua yang pekakas dagang juga ambyar semua. Sudah jatuh Marni ketiban tangga ini sih." Awalnya tak mengeluh tapi lama-lama diingat-ingat ya nelangsa juga Marni rasakan. Suara perut Marni menandakan lapar. "Baru inget dari kemaren Marni ga makan. Ya Allah Gusti, yo urip nelongso tenan! Sabar! SABAR!" Marni mengusap dadanya menentramkan amarah yang masih terasa bila teringat kejadian kemarin.Marni sudah mulai merasa tubuhnya lebih enak dan tidak sesakit kemarin. Lebam membiru masih ada namun tak nyeri jika ditekan."Kayaknya Aku balik Jualan Jamu lagi aja deh. Masa cuma karena kejadian kemaren jadi kapok. Padahal langganan yang lain masih banyak. Anggap aja kemarin lagi apes. Kan kata orang hari apes emang ga ada di kalender."Marni menunaikan shalat subuh kemudian mandi. Rencananya Marni hari ini akan ke pasar membeli perabot seperti botol-botol untuk membuat Jamu, Bakul, Ember dan bahan-bahan membuat Jamu."Gusti, dosa apa Marni sampe boncos begini. Kayak baru mulai dagang beli perobot, botol-botol sampe ember buat cuci gelas rusak, ambyar gara-gara duo kunti." Mau diikhlasin tapi ya nyesek pas membayar perabotan Jamu yang baru saja Marni beli."Mar, itu beli botol-botol jamu lagi memang Kamu mau buka cabang?" Marni tak sengaja bertemu sesama pedangan jamu yang memang sama-sama langganan di toko itu."Wes toh, jangan banyak tanya." Marni sebenarnya tak suka dengan si In
"Jadi Kamu mau pindah bukan karena kejadian kemaren Mar?" Si Pemilik Kontrakan petakan yang selama ini Marni sewa memastikan bahwa kepindahan Marni bukan karena kejadian dilabrak oleh Istri dan Adik Joko."Bukan Bu. Saya mau jualan dipasar. Jadi biar sekalian tinggal disana." Marni sebetulnya malas menjelaskan. Toh apapun yang Marni katakan seperti angin lalu.Warga sekitar petakan tempat Marni tinggal sudah terlanjur memiliki stigma negatif sebab kejadian kemarin."Ya sudah kalau begitu. Sudah Kamu rapikan lagi kan? Saya ga mau loh banyak sampah dan kotor. Soalnya sering banget yang ngontrak kalo pindah ninggalin sampah dan barang-barang rongsokan. Saya juga yang capek bersihinnya. Mana pada nunggak!""Ibu bisa cek sendiri. Kalau memang masih ada sampah tinggal kasih tahu Saya. Saya yang buang." Marni menyerahkan kunci rumah dan kartu token listrik kepada sang Pemilik."Oh ya, itu tokennya ga bunyi kan Kamu tinggalin?""Enggak Bu. Malah baru Saya isi dua hari lalu. Saya juga ga nungg
Marni dengan semangat menggebu, memulai hari sejak dini hari mempersiapkan dagangannya. Mulai hari ini Marni akan membuka kedai minum Jamu. Marni memilih mencoba cara baru selagi diberikan kesempatan dan lapak oleh Bude Sri.Sambil mengaduk Jamu yang sedang digodok dalam panci besar, Marni tersenyum. Tekadnya bulat. Tak akan gentar meski ia yakin kejadian serupa akan ada saja namun Marni akan melindungibdirinya lebih baik.Jika memang tak salah, Marni akan mempertahankan diri dan akan sekuat tenaga berjuang dengan segala upaya yang ia miliki sekarang.Terlebih saat ini ada Bude Sri yang mendukung Marni untuk kembali bangkit dan tak terus meratapi nasib.Setelah menunaikan dua rakaat shalat subuh Marni mandi dan memakai pakaian bersih dan sopan, siap memulai hari dengan tempat dan suasana yang semoga mendatangkan rezeki.Marni membereskan lapak berjualannya. Menata botol-botol jamu dan gelas bagi pelanggan yang datang."Mumpung beli ada pembeli, Aku mau membawakan Bude Sri jamu agar bi
Sebulan sudah Marni berjualan Jamu di Pasar. Sudah banyak pembeli yang datang dan langganan Jamu dengan MarniSelain Kaum Adam yang betah berlama-lama di lapak Jamu Marni, pembeli Kaum Emak-Emak juga banyak tang rutin minum Jamu Racikan Pamungkas Marni.Bahkan para Emak-Emak minta bungkus bawa pulang untuk stok dan jaga-jaga kalau Pak Suami ngajak tempur malam jumat."Ndok, Bude titip lapak yo. Fapi lapaknya Bude tutup. Repot kalo buka Kamu jadi jaga dua lapak. Bude mau bantu rewang." Bude Sri mampir ke lapak Jamu Marni."Bude, ini titipannya Bude Sum."Marni memberikan beberapa botol Jamu siap minum sudah ia racik."Walaj si Sum ada-ada aja. Tapi mantap sih! Biasanya emang kalau habis rewangan badan pegel-pegel mesti udah bikin bubur sum-sum untuk sarat tetap aja, adanya Jamu Kamu membantu. Sini tak Bude kasihin ke Si Sum." Bude Sri mengambil bungkusan botol Jamu yang telah Marni siapkan."Memang hajatnya kapan Bude?""Lusa. Lah sekarang sampine dipotong. Mau langsung dimasak. Jadi Su
Marni baru pertama kali menginjakkan rumah Bude Sumi. Biasanya hanya melihat dari luar saja. Dan kalaupun ada keperluan dengan Marni memesan Jamu, paling hanya sampai teras rumahnya saja."Mar, Bude Makasi loh! Untung tadi Mbak Sri bilang sekarang Kamu tinggal deket sama Mbak Sri, nyaman jualan di pasar?" Bude Sum mengajak Marni duduk dulu sebelum akan bergabung dengan tukang masak."Alhamdulillah Bude. Oh ya Bude, Marni bantu apa nih? Tukang masaknya ada?""Ada. Tadi ada masalah untung ada Mbak Sri. Mar, Kamu bantuin Bude ya."Marni menganggukan kepala. "Yuk Ndok, Kita ke belakang saja." Ajak Bude Sri saat melihat tatapan Ipar Bude Sum yang melirik Marni."Loh, Dar Kamu udah sampe? Masmu masih diluar. Sudah makan ora?" Bude Sum mengajak Adik Iparnya Darma masuk.Darma adalah Adik Kandung Suami Bude Sum, Pakde Karto. Darma, yang kesehariannya menjadi Juragan Tambak, memiliki Tambak berhektar-hektar dan terkenal tukang kawin."Tadi siapa Mbak?" Darma malah masih memperhatikan Marni yan
"Mbak Sri! Marni!" Bude Sum memanggil keduanya saat akan pulang."Besok Aku kesini, tapi habis subuh yo Sum." Bude Sri memberi tahu Bude Sum."Duduk dulu Mbak, Mar. Ada yang Aku mau omongin." Terlihat wajah panik Bude Sum."Ada apa toh Sum, mukamu kok pucet, pias begitu? Ada masalah?" Bude Sri menatap lekat mencari tahu apa yang sedang dipikiran Bude Sum."Ini Mbak, duh gimana ya ngomongnya?" Wajah panik Bude Shm semakin membuat Bude Sri dan Marni penasaran."Ya ngomong aja. Ngomong aja susah banget Sum." Penasaran membuat Bude Sri jadi kesal karena Bude Sum plintat plintut."Jadi sodaranya Mas Karto yang bakal jadi penanggung jawab urusan makanan mendadak ngabarin ga bisa datang. Aku tuh mau minta tolong sama Mbak Sri dan Marni. Tapi ya malu, ga enak. Kalian kan dagang juga. Aku sebenernya ga enak harus ngomong gininya. Tapi bingung minta tolong siapa yang bisa dipercaya selain ke Mbak Sri."Bude Sri menghela nafas berat. Satu sisi ia kasihan juga dengan Sum yang pasti kepikiran taku
Mata Marni berbinar saat ia memasuki rumah Bude Sum yang telah berubah drastis. Setiap sudut ruangan kini berkilau dengan hiasan yang mewah dan elegan, membuat suasana menjadi semakin hangat dan menyambut. Di pintu masuk, Bleketepe yang gagah berdiri, menyapa setiap tamu dengan keindahan yang memukau, seakan memberitahu bahwa mereka akan memasuki sebuah kerajaan kecil. Cahaya lampu gantung berkilauan memantul pada permukaan marmer, memberikan kesan glamour yang tak terlupakan.Marni tak henti-hentinya mengagumi keindahan dekorasi yang telah diubah oleh Bude Sum, dengan taman mini di dalam rumah yang dilengkapi dengan air mancur kecil yang menari-nari, menambah suasana menjadi lebih ajaib."Mar, Kamu kesana ya. Mbak, ini yang bakal melayani prasmanan. Dandani yang cantik ya, walau sudah cantik biar semakin cantik." Bude Sum begitu bahagia.Sebagai orang tua, Bude Sum dan Pakde Karto tentu senang, melihat anak pertamanya kini sebentar lagi akan berkeluarga."Mari Mbak." Perias mempersil
Akad nikah berlangsung khidmat dan lancar. Kedua mempelai pun kini sudah bersanding di pelaminan. Bude Sum dan Juragan Karto tampak bahagia sudah menikahkan anak pertama Mereka dan pesta berlangsung dengan meriah.Tamu undangan yang datang kebanyakan kerabat dan relasi Juragan Karto.Sebagai orang kaya di Kampung tentu saja Juragan Karto banyak memiliki relasi.Silih berganti undangan yang datang memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.Marni sejak tadi sibuk melayani di bagian prasmanan tak memperhatikan bahwa sejak awal kemunculannya sudah menjadi buah bibir undangan yang satang terutama kaum Adam."Silahkan Pak." Marni memberikan piring pada antrian undangan yang akan menikmati hidangan yang tersaji dan menggugah selera."Makasi. Mbaknya cantik sekali." Goda salah satu undangan yang kini sedang antri prasmanan.Marni tak menjawab. Terpaksa senyum walau hati dongkol ditatap sedemikian rupa dan membuat risih."Maaf Pak, bisa dipercepat, antriannya sudah panjang." Marni dengan
Marni menyesal akhirnya ikut dalam mobil Juragan Basir. Sepanjang jalan ditengah hujan lebat dan begitu deras ada saja kesempatan Juragan Basir untuk bisa mendekati Marni."Ngak lagi-lagi ikut mobil Si Tua Keladi! Gak sadar diri! Bojo udah tiga malah ada tang lagi meteng yo mau jadikan Aku yang keempat! Edan!" Batin Marni."Abang sih masih nunggu loh, kali aja Neng Marni mau mikir lagi, Abang sih oke oke aja. Tapi jangan kelamaan Neng, digantung gak enak." Sungguh rasanya mau muntah saja melihat ekspresi genit tatapan Juragan Basir yang bagai singa lapar."Maaf Juragan, sebaiknya Juragan cari Perempuan lain saja. Saya gak berniat merubah keputusan Saya."Juragan Basir membolakan matanya, baru kali ini ada Perempuan menolaknya secara terang-terangan."Terima kasih banyak Juragan, maaf mobilnya jadi basah." Marni segera turun begitu sudah sampai di dekat rumahnya dan saat bunyi pintu mobil terbuka.Marni buru-buru menurunkan belanjaannya, meski masih keki dengan penolakan Marni Juragan
Juminten dan Ratmi secara bersamaan tiba di rumah Bude Sri dan Marni dengan tubuh terpapar air hujan."Jum, Mi, Kalian opo ndak pake payung? Itu basah-basahan. Masuk angin. Bentar," Bude Sri masuk ke dalam kamarnya membawa dua handuk bersih dan daster untuk keduanya."Salin dulu. Baru sana di kamar Bude.""Enakan Bude. Dasternya adem. Mana bahannya jatuh begini. Beli dimana Bude, mana masih baru ini." Juminten malah memutar tubuhnya bagai pragawati tapi dengan daster sebagai kostumnya."Loh, Bude sendiri Marni kemana?" Kini Ratmi yang kekuar dengan daster sejenis namun berneda warna."Lah yang dipakai Ratmi bagus juga warnanya. Bahannya sama dan baru juga." Juminten masih saja ribut soal daster."Wes toh, jadi ngeributin daster. Sini duduk dulu, minum jahe hangat dulu." Bude Sri membawa keduanya duduk menikmati Jahe hangat."Ini enak banget Bude Jahe hangatnya, sopo yang buat? Marni?" Ratmi yang kedinginan kembali meneguk jahe hangat yang ia tuang dari teko berbahan tanah."Iyo,""Pa
"Ini uangnya semua seratus ribuan kompak banget? Apa udah turun THRnya?"Marni dan Bude Sri berangkat bersama menuju agen yang tak jauh dari rumah Mereka.Persediaan bahan masakan yang minyak goreng, tepung-tepungan, kerupuk dan bumbu-bumbu kering sudah habis."Ndok, sekalian beli bahan kue juga, sesekali snack takjilan Kita buatin bolu. Biar ada variasinya.""Berarti tambah terigunya sama margarinnya Bude. Kalau pasta-pasta dibeli sekalian saja Bude?""Yo ambil saja yang diperlukan untuk buat bolu. Sama plastik kecil buat bungkusnya sekalian juga. Oh ya, tissu makan juga sudah tinggal sedikit, sendok garpu masih ada setengah, mau beli boleh enggak ya masih ada.""Beli yang sekiranya butuh dulu saja Bude. Selebihnya kalau kurang gampang, Marni bisa kesini atau pesan nanti diantar.""Iyo baik kalo begitu."Marni memasukkan kebutuhan membuat kue tak lupa Marni juga memasukan beberapa toping seperti mesem, chocochip dan lainnya agak kue Mereka semakin menarik."Lah kalo ada receh yo dika
"De, tadi sore kemana toh?" Ratmi sedang mencetak nasi dan memasukkannya ke kotak nasi berkolaborasi dengan Juminten yang menata sambal goreng kentang ati plus tumis buncis putren."Oh pas buka? Aku karo Marni ke rumahnya Babeh Ali, Si Leha minta dibawakan makanan. Minta dimasakin urap sayur. Kepingin." Bude Sri duduk di meja makan sambil mengecek kelengkapan nasi kotak agar tak ada menu yang tertinggal dan memasukkan komponen terakhir pisang ambon, kerupuk udang dan air mineral."Ladalah, Jangan-Jangan ngisi yo De?" Juminten terkejut mengira Mpok Leha hamil."Wus masih pagi jangan ghibah! Nduk, pisangnya masih ada di dalam, ini tuker, kekecilan. Kasian yanh dapet takut iri ngelihat kotak nasi sebelahnya pisangnya gede!" "Bude bisa saja, Lah tahu gitu doyanan wong pisang yang gede-gede!" Juminten malah mesam mesem sendiri sambil memikirkan sesuatu tang bersifat mesum."Yo koe aja Jum yang otaknya ngeres, tak sapu nanti. Lah pisang yang diomong iki pisang buahan, Ora pisang bojomu!""
Brakkkk!Tatapan tajam dengan nafas memburu, garis wajah mengeras, rahang yang ditumbuhi jenggot yang telah memutih gemeretak menahan amarah yang telah memuncak jelas tergambar dari sorot penuh emosi yang Babeh Ali tunjukkan saat ini"Beh, Leha! Saya minta maaf, Abang minta maaf Leha, Beh, Udin minta maaf." Bang Udin baru saja datang seketika meringsut di bawah kaki Babeh Ali."Lu bawa semua barang-barang Lu! Gua gak sudi nampung gelandangan tang gak tahu diri kayak Lu!" Sekali hentak Babeh Ali melepas tangan Bang Udin yang memegangi kakinya."Leha, Leha, tunggu! Abang bisa jelasin!" Bang Udin menggapai tangan Mpok Leha besar harapan agar Istrinya mau mendengarkan kata-katanya."Abang, cukup sampe disini aje ye. Leha ikhlas Bang, Abang pergi aje ye. Nanti tunggu surat dari pengadilan." Tak lagi melihat kebelakang Mpok Leha mengikuti Babeh Ali masuk ke dalam rumah."Bang," penjaga rumah Babeh Ali menghampiri Bang Udin.Udin merasa akan di bantu namun tidak sesuai harapan, "Bang mending
"Kamu kenapa toh Ndok? Sejak tadi Bude perhatikan yo mesam-mesem gitu. Gak kesambet kan di rumah Bu RW? Maklum banyak patung tadi rupanya." Bude Sri heran melihat Marni sesekali menatap Bude Sri sambil senyum-senyum."Ndak Bude. Marni baik-baik saja. Marni ruh cuma lagi kagum saja. Keren!" Marni masih tersenyum menatap Bude Sri sambil memberikan dua jempolnya."Sopo yang keren? Lah Bude gak lihat ono lanang disini." Bude Sri celingak celinguk memperhatikan apakah ada pria yang membuat Marni senyum-senyum begitu.Keduanya masih menunggu angkot yang lewat menuju pasar untuk membeli belanjaan."Yang keren itu ada si depan Marni!""Bude?"Anggukan serta senyum manis Marni dengan semangat membenarkan."Ada-ada saja Kamu Ndok. Lah Bude pake baju lama, Dandan juga enggak, yo keren dari mana? Wes mujimu salah alamat Ndok. Bude kasih sewu mau ora?" Tawa Bude Sri balik menggoda Marni."Ih Bude, Bukan karena penampilan, tapi Bude Keren banget tadi bisa melibas makhluk-makhluk julid yanh ada di r
"Ndok, udah dikunci?" Bude Sri memastikan pintu belakang dan juga depan sebelum Mereka berangkat berbelanja kebutuhan Katering."Sampun Bude, kompor juga uwis. Sekalian mampir ke warung mau beli gas. Habis. Ada dua tabung yang kosong. Biar diantar nanti pas Kita sudah di rumah.""Iyo Ndok. Untung saja persoalan Gas yang sempat langka segera teratasi ya. Bulan Puasa yo repot kalo gas langka macam kemaren. Kalo dulu di Kampung bisa masak pakai kayu bakar. Lah disini jangankan kayu bakar, pohon aja susah. Tanah sudah gak ada. Lahan buat nanem ya seadanya."Marni tersenyum mendengarkan ceriwisnya Bude Sri yang membuatnya selalu sayang dengan perempuan yang sudah Marni anggap Ibunya sendiri."Bude, Kita naik angkot saja yo berangkatnya. Nanti pulangnya baru naek becak. Kan bawa belanja banyak.""Iyo, Wes jalan ke depan itung-itung olahraga.""Bu Sri mau kemana iki?" Sapa salah seorang tetangga."Mau belanja buat Katering. Loh, iki mau kemana toh ramean?""Itu loh Bu Sri, denger-denger Cucu
Setiap dini hari aktivitas di dapur Bude Sri sudah sibuk. Menyiapkan seratus porsi Katering orderan Mpok Leha untuk anak-anak Pabrik yang bekerja di Pabrik milik Babeh Ali.Ramadhan memang selalu mendatangkan rezeki bagi siapa saja yang mau berusaha.Tergantung bagaimana setiap individu menyikapinya.Ada yang mengisi Ramadhan dengan tidur saja seharian, ada yang memilih fokus beribadah namun tak sedikit yang mencari rezeki dengan berjualan takjil dan sebagainya.Dibalik kejadian penggusuran lahan di pasar yang hingga kini masih terkendali soal pemberian kompensasi, Bude Marni bersyukur Allah masih memberikan jalan bagi dirinya dan Marni untuk dapat menjemput rezeki dengan cara lain yakni dengan berjualan sayur dan kini saat Ramadhan tidak disangka-sangka Allah datangkan rezeki lewat order Katering sebulan full.Betapa rasa syukur yang terucap dari lisan dan hati Bude Sri atas segala kemurahan Allah kepada dirinya dan Marni untuk bisa bertahan dalam situasi apapun.Selesai menunaikan s
Tok!Tok!Tok!"Kayaknye ada yang ngetok pintu Mar?" Mpok Leha menajamkan indera pendengarannya sambil ekor mata beralih kearah pintu rumah."Iya ya, Bude kalau pulang pasti salam dan langsung masuk. Apa Aku lupa ngunci ya. Sek Mpok tak lihat dulu."Marni bangkit dari kursi diikuti Mpok Leha yang beradang dibelakang Marni.Ceklek!"Leha! Lu disini! Lu bikin Abang kuatir seharian! Lu gak angkat telepon! WA Abang Lu kagak bales! Pulang!" Bang Udin langsung saja masuk tak memperdulikan Marni yang kini melongo dengan apa yang kini Ia lihat."Lu jangan ciba deket-deket agua Bang! Gua kagak mau Lu sentuh! Najis! Tangan Lu udah kotor belas megang-megang Si Sundel!" Mpok Leha menepis tangan Bang Udin yang memegang lengannya."Lu kenape sih! Ngomong jangan begini Leha! Malu! Ini dirumah orang! Lu malah disini! Abang cari Lu dirumah Babeh tapi gak ada orang. Babeh lagi ke Kota dan Lu Gak bisa dihubungin! Abang Kuatir Leha!""Dah Bang! Lu Kagak usah banyak cincong! Gua udah gak mau lagi Lu boongin