Mata Marni berbinar saat ia memasuki rumah Bude Sum yang telah berubah drastis. Setiap sudut ruangan kini berkilau dengan hiasan yang mewah dan elegan, membuat suasana menjadi semakin hangat dan menyambut. Di pintu masuk, Bleketepe yang gagah berdiri, menyapa setiap tamu dengan keindahan yang memukau, seakan memberitahu bahwa mereka akan memasuki sebuah kerajaan kecil. Cahaya lampu gantung berkilauan memantul pada permukaan marmer, memberikan kesan glamour yang tak terlupakan.Marni tak henti-hentinya mengagumi keindahan dekorasi yang telah diubah oleh Bude Sum, dengan taman mini di dalam rumah yang dilengkapi dengan air mancur kecil yang menari-nari, menambah suasana menjadi lebih ajaib."Mar, Kamu kesana ya. Mbak, ini yang bakal melayani prasmanan. Dandani yang cantik ya, walau sudah cantik biar semakin cantik." Bude Sum begitu bahagia.Sebagai orang tua, Bude Sum dan Pakde Karto tentu senang, melihat anak pertamanya kini sebentar lagi akan berkeluarga."Mari Mbak." Perias mempersil
Akad nikah berlangsung khidmat dan lancar. Kedua mempelai pun kini sudah bersanding di pelaminan. Bude Sum dan Juragan Karto tampak bahagia sudah menikahkan anak pertama Mereka dan pesta berlangsung dengan meriah.Tamu undangan yang datang kebanyakan kerabat dan relasi Juragan Karto.Sebagai orang kaya di Kampung tentu saja Juragan Karto banyak memiliki relasi.Silih berganti undangan yang datang memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.Marni sejak tadi sibuk melayani di bagian prasmanan tak memperhatikan bahwa sejak awal kemunculannya sudah menjadi buah bibir undangan yang satang terutama kaum Adam."Silahkan Pak." Marni memberikan piring pada antrian undangan yang akan menikmati hidangan yang tersaji dan menggugah selera."Makasi. Mbaknya cantik sekali." Goda salah satu undangan yang kini sedang antri prasmanan.Marni tak menjawab. Terpaksa senyum walau hati dongkol ditatap sedemikian rupa dan membuat risih."Maaf Pak, bisa dipercepat, antriannya sudah panjang." Marni dengan
Sudah menjadi tradisi kalau setelah hajatan pasti si pemilik acara membuat bubur sumsum kemudian dibagikan kepada semua yang terlibat dalam acara tersebut.Tradisi bubur sumsum setelah hajatan merupakan tradisi Jawa yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Bubur sumsum juga dipercaya dapat memulihkan stamina setelah kelelahan."Terima kasih Mbak Sri, Marni sudah bantu-bantu disini. Maaf kalau ada salah-salah kata dan perbuatan ya Mbak, Mar." Bude Sum dengan senyum ramah sambil memberikan mangkok berisi bubur sumsum."Sama-sama Sum. Sing penting acarane lancar sampe akhir. Semalam Aku ga ikut lihat wayangan, wes ngantuk. Makanya muleh.""Iya Bude maaf semalam Marni juga balik ga lihat wayangan.""Gapapa. Lah wong yang banyak malah Bapak-Bapak. Dan Aku sendiri mending selonjoran. Pegel." Tawa Bude Sum."Oh ya Mbak, Mar. Ini ada sedikit, mohon diterima." Bude Sum memberikan amplop kepada Bude Sri dan Marni."Loh Sum kemarin sudah dan ini ada lagi? Ya Aku sih enak saj
"Bude, kalau Marni mau nambahin dagangan sambil jualan Jamu gimana?"Sepanjang jalan bersama Bude Sri, Marni mulai berani menyampaikan apa yang ada dipikirannya.Marni melihat banyaknya pembeli Jamu yang terkadang nyari cemilan sebagai pendamping minum jamu. Meski biasanya orang minum kopi sambil makan cemilan tapi kini diwarung Jamu banyak pembeli yang menanyakan cemilan juga."Kalau memang potensi yang belinya ada gapapa Ndok. Bikin saja yang gampang dan laku. Gorengan misalnya. Sekalian saja sediakan kopi. Siapa tahu Bapak-Bapak juga mau minum kopi.""Gitu ya Bude? Oke deh besok Marni mulai tambah sedikit demi sedikit."Sudah menjadi rutinitas bagi Marni bangun pukul dua dini hari.Meregangkan tubuh, ngulet sebentar gapapa asal jangan kebablasan tidur lagi.Marni sudah terbiasa bangun di waktu seperti ini, mencurahkan segala isi hati dan harapannya diatas sajadah dalam sujud qiyamul lail yang selalu Marni lakukan.Marni tak bosen untuk berdoa dan memohon ampunan dosa serta turut me
"Juragan, silahkan, gorengannya masih hangat." Marni saat meletakkan Jamu pesanan Juragan Basir dan menawarkan gorengan."Kamu tahu aja Saya suka yang anget-anget." Juragan Basir mengambil pisang goreng dan memakannya."Pinter banget bikin pisang gorengnya panjang begini. Legit enak. Masih anget lagi." Sungguh rasanya Marni kepingin menendang saja manuk si ganjen dihadapannya.Tatapan mesum Juragan Basir sambil mengunyah pisang goreng buatan Marni.Kalau ga ingat masih butuh butuh tempat dagang dan lagi pula masih banyak orang yang melihat Marni memilih tak menanggapi."Kamu betah jualan disini?" Kini sambil meminum Jamu pesanannya Juragan Basir me.perhatikan Marni yang sengaja menghindar."Betah Juragan." Marni sekilas saja menengok. Malas sekali harus berhadapan dengan wajah cabul sang Juragan yang sudah memiliki Istri hingga tiga orang."Kamu masih muda, masih cantik, kenapa ga nikah? Dari pada jualan begini gimana kalau nikah sama Saya. Saya akan jamin hidup Kamu gak perlu susah b
"Santi! Apa-apaan ini!"Semua mata kini tertuju pada suara menggelegar yang membuat semua terkejut."Abang." Umi Halimah terkejut meski wajahnya tetap tenang."A-Abang, kok Abang kesini?" Wajah Santi yang sejak tadi nyolot berubah jinak bahkan dibuat teduh sambil menghampiri Juragan Basir.Semua mata yang melihat terlihat pura-pura tak memperhatikan namun enggan beranjak, seolah ingin mengetahui kelanjutan prahara yang begitu menarik dihadapan mata dan sayang untuk dilewatkan."Juragan, silahkan bawa kedua Istri Juragan keluar dari warung Saya. Sejak datang hanya buat rusuh saja." Marni tanpa ekspresi namun kata-kata yang dikeluarkan setajam silet.Bahkan yang sedang mengerubungi Mereka menatap ngeri akan keberanian Marni dengan halus mengusir kedatangan Juragan Basir dan Kedua Istrinya."Ndok, ada apa?" Bude Sri yang baru tiba, dibuat terkejut dan mencoba memahami situasi yang kini ada dihadapannya."Mereka berdua Istri Juragan Basir Bude datang hanya membuat gaduh dan menuduh Marni
"Kamu yang dilamar sama Basir buat jadi bini keempat? Mau?"Tatapan menelisik dari pria yang Marni taksir berusia lima puluhan akhir namun masih terlihat gagah dan awet muda."Maaf Pak, Saya bukan perempuan seperti itu." Marni menunggu reaksi apalagi dari Pria Baya yang masih kekar dan berotot dihadapannya."Bagus! Jadi Gue ga perlu pusing lihat Leha ngambek gara-gara Lu bakal ngeladenin si Udin, Buaya buntung.""Tenang saja Pak, Saya juga ga minat jadi madu dari Putri Bapak.""Panggil Gue Babeh Ali. Biar sama kayak orang-orang manggil Gue. Bu Sri, kalo si Basir datang lagi dan bikin kacau lapor sama Saya.""Oh iya Beh."Babeh Ali menatap dengan sorot mata yang membuat Marni bingung, "Lu harus berani kalau emang bener! Jangan nerima aje kalo orang mau semena-mena sama Lu! Biar perempuan kudu kuat dan tahan banting!"Marni sendiri masih bingung, seperti apa sebenarnya sosok Babeh Ali yang baru saja meninggalkan lapak Bude Sri."Ndok, Kamu melamun?" Bude Sri menepuk pelan bahu Marni men
"Mar! Bude Sri!"Salah satu penjual di pasar datang dengan tergesa-gesa membuat Marni dan beberapa pembeli terkejut hingga kini semua segera menuju lapak milik Bude Sri.Marni dengan cepat mendekati Bude Sri yang kini duduk ditepi dipan sambil mengurut Kakinya."Ndok, Kamu ngapain kesini? Lah ini Kalian juga pada ngapain? Lapak Kalian siapa yang jaga?" "Bude kenapa bisa bengkak begini kakinya? Bude jatoh?" Marni mendekat sambil memeriksa Kaki Bude Sri yang bengkak."Oalah! Ini toh! Tadi Bude pas mau ke kamar mandi Bude terpeleset. Ya jadi bengkak. Tapi gapapa Ndok. Namanya wes tua jadi mungkin terkilir.""Masha Allah Bude. Bude Kita ke Rumah Sakit saja yuk!" Marni segera bangkit hendak menyiapkan keperluannya yang akan dibawa ke Rumah Sakit."Ndok. Ga usah. Nanti panggil tukang urut saja. Bude barusan sudah bell si Leha. Leha kenal tukang urutnya. Sudah Kamu ga usah panik." Bude Sri bisa melihat kekhawatiran di wajah Marni dan itu membuat hati Bude Sri menghangat.Bude Sri akhirnya
Marni menyesal akhirnya ikut dalam mobil Juragan Basir. Sepanjang jalan ditengah hujan lebat dan begitu deras ada saja kesempatan Juragan Basir untuk bisa mendekati Marni."Ngak lagi-lagi ikut mobil Si Tua Keladi! Gak sadar diri! Bojo udah tiga malah ada tang lagi meteng yo mau jadikan Aku yang keempat! Edan!" Batin Marni."Abang sih masih nunggu loh, kali aja Neng Marni mau mikir lagi, Abang sih oke oke aja. Tapi jangan kelamaan Neng, digantung gak enak." Sungguh rasanya mau muntah saja melihat ekspresi genit tatapan Juragan Basir yang bagai singa lapar."Maaf Juragan, sebaiknya Juragan cari Perempuan lain saja. Saya gak berniat merubah keputusan Saya."Juragan Basir membolakan matanya, baru kali ini ada Perempuan menolaknya secara terang-terangan."Terima kasih banyak Juragan, maaf mobilnya jadi basah." Marni segera turun begitu sudah sampai di dekat rumahnya dan saat bunyi pintu mobil terbuka.Marni buru-buru menurunkan belanjaannya, meski masih keki dengan penolakan Marni Juragan
Juminten dan Ratmi secara bersamaan tiba di rumah Bude Sri dan Marni dengan tubuh terpapar air hujan."Jum, Mi, Kalian opo ndak pake payung? Itu basah-basahan. Masuk angin. Bentar," Bude Sri masuk ke dalam kamarnya membawa dua handuk bersih dan daster untuk keduanya."Salin dulu. Baru sana di kamar Bude.""Enakan Bude. Dasternya adem. Mana bahannya jatuh begini. Beli dimana Bude, mana masih baru ini." Juminten malah memutar tubuhnya bagai pragawati tapi dengan daster sebagai kostumnya."Loh, Bude sendiri Marni kemana?" Kini Ratmi yang kekuar dengan daster sejenis namun berneda warna."Lah yang dipakai Ratmi bagus juga warnanya. Bahannya sama dan baru juga." Juminten masih saja ribut soal daster."Wes toh, jadi ngeributin daster. Sini duduk dulu, minum jahe hangat dulu." Bude Sri membawa keduanya duduk menikmati Jahe hangat."Ini enak banget Bude Jahe hangatnya, sopo yang buat? Marni?" Ratmi yang kedinginan kembali meneguk jahe hangat yang ia tuang dari teko berbahan tanah."Iyo,""Pa
"Ini uangnya semua seratus ribuan kompak banget? Apa udah turun THRnya?"Marni dan Bude Sri berangkat bersama menuju agen yang tak jauh dari rumah Mereka.Persediaan bahan masakan yang minyak goreng, tepung-tepungan, kerupuk dan bumbu-bumbu kering sudah habis."Ndok, sekalian beli bahan kue juga, sesekali snack takjilan Kita buatin bolu. Biar ada variasinya.""Berarti tambah terigunya sama margarinnya Bude. Kalau pasta-pasta dibeli sekalian saja Bude?""Yo ambil saja yang diperlukan untuk buat bolu. Sama plastik kecil buat bungkusnya sekalian juga. Oh ya, tissu makan juga sudah tinggal sedikit, sendok garpu masih ada setengah, mau beli boleh enggak ya masih ada.""Beli yang sekiranya butuh dulu saja Bude. Selebihnya kalau kurang gampang, Marni bisa kesini atau pesan nanti diantar.""Iyo baik kalo begitu."Marni memasukkan kebutuhan membuat kue tak lupa Marni juga memasukan beberapa toping seperti mesem, chocochip dan lainnya agak kue Mereka semakin menarik."Lah kalo ada receh yo dika
"De, tadi sore kemana toh?" Ratmi sedang mencetak nasi dan memasukkannya ke kotak nasi berkolaborasi dengan Juminten yang menata sambal goreng kentang ati plus tumis buncis putren."Oh pas buka? Aku karo Marni ke rumahnya Babeh Ali, Si Leha minta dibawakan makanan. Minta dimasakin urap sayur. Kepingin." Bude Sri duduk di meja makan sambil mengecek kelengkapan nasi kotak agar tak ada menu yang tertinggal dan memasukkan komponen terakhir pisang ambon, kerupuk udang dan air mineral."Ladalah, Jangan-Jangan ngisi yo De?" Juminten terkejut mengira Mpok Leha hamil."Wus masih pagi jangan ghibah! Nduk, pisangnya masih ada di dalam, ini tuker, kekecilan. Kasian yanh dapet takut iri ngelihat kotak nasi sebelahnya pisangnya gede!" "Bude bisa saja, Lah tahu gitu doyanan wong pisang yang gede-gede!" Juminten malah mesam mesem sendiri sambil memikirkan sesuatu tang bersifat mesum."Yo koe aja Jum yang otaknya ngeres, tak sapu nanti. Lah pisang yang diomong iki pisang buahan, Ora pisang bojomu!""
Brakkkk!Tatapan tajam dengan nafas memburu, garis wajah mengeras, rahang yang ditumbuhi jenggot yang telah memutih gemeretak menahan amarah yang telah memuncak jelas tergambar dari sorot penuh emosi yang Babeh Ali tunjukkan saat ini"Beh, Leha! Saya minta maaf, Abang minta maaf Leha, Beh, Udin minta maaf." Bang Udin baru saja datang seketika meringsut di bawah kaki Babeh Ali."Lu bawa semua barang-barang Lu! Gua gak sudi nampung gelandangan tang gak tahu diri kayak Lu!" Sekali hentak Babeh Ali melepas tangan Bang Udin yang memegangi kakinya."Leha, Leha, tunggu! Abang bisa jelasin!" Bang Udin menggapai tangan Mpok Leha besar harapan agar Istrinya mau mendengarkan kata-katanya."Abang, cukup sampe disini aje ye. Leha ikhlas Bang, Abang pergi aje ye. Nanti tunggu surat dari pengadilan." Tak lagi melihat kebelakang Mpok Leha mengikuti Babeh Ali masuk ke dalam rumah."Bang," penjaga rumah Babeh Ali menghampiri Bang Udin.Udin merasa akan di bantu namun tidak sesuai harapan, "Bang mending
"Kamu kenapa toh Ndok? Sejak tadi Bude perhatikan yo mesam-mesem gitu. Gak kesambet kan di rumah Bu RW? Maklum banyak patung tadi rupanya." Bude Sri heran melihat Marni sesekali menatap Bude Sri sambil senyum-senyum."Ndak Bude. Marni baik-baik saja. Marni ruh cuma lagi kagum saja. Keren!" Marni masih tersenyum menatap Bude Sri sambil memberikan dua jempolnya."Sopo yang keren? Lah Bude gak lihat ono lanang disini." Bude Sri celingak celinguk memperhatikan apakah ada pria yang membuat Marni senyum-senyum begitu.Keduanya masih menunggu angkot yang lewat menuju pasar untuk membeli belanjaan."Yang keren itu ada si depan Marni!""Bude?"Anggukan serta senyum manis Marni dengan semangat membenarkan."Ada-ada saja Kamu Ndok. Lah Bude pake baju lama, Dandan juga enggak, yo keren dari mana? Wes mujimu salah alamat Ndok. Bude kasih sewu mau ora?" Tawa Bude Sri balik menggoda Marni."Ih Bude, Bukan karena penampilan, tapi Bude Keren banget tadi bisa melibas makhluk-makhluk julid yanh ada di r
"Ndok, udah dikunci?" Bude Sri memastikan pintu belakang dan juga depan sebelum Mereka berangkat berbelanja kebutuhan Katering."Sampun Bude, kompor juga uwis. Sekalian mampir ke warung mau beli gas. Habis. Ada dua tabung yang kosong. Biar diantar nanti pas Kita sudah di rumah.""Iyo Ndok. Untung saja persoalan Gas yang sempat langka segera teratasi ya. Bulan Puasa yo repot kalo gas langka macam kemaren. Kalo dulu di Kampung bisa masak pakai kayu bakar. Lah disini jangankan kayu bakar, pohon aja susah. Tanah sudah gak ada. Lahan buat nanem ya seadanya."Marni tersenyum mendengarkan ceriwisnya Bude Sri yang membuatnya selalu sayang dengan perempuan yang sudah Marni anggap Ibunya sendiri."Bude, Kita naik angkot saja yo berangkatnya. Nanti pulangnya baru naek becak. Kan bawa belanja banyak.""Iyo, Wes jalan ke depan itung-itung olahraga.""Bu Sri mau kemana iki?" Sapa salah seorang tetangga."Mau belanja buat Katering. Loh, iki mau kemana toh ramean?""Itu loh Bu Sri, denger-denger Cucu
Setiap dini hari aktivitas di dapur Bude Sri sudah sibuk. Menyiapkan seratus porsi Katering orderan Mpok Leha untuk anak-anak Pabrik yang bekerja di Pabrik milik Babeh Ali.Ramadhan memang selalu mendatangkan rezeki bagi siapa saja yang mau berusaha.Tergantung bagaimana setiap individu menyikapinya.Ada yang mengisi Ramadhan dengan tidur saja seharian, ada yang memilih fokus beribadah namun tak sedikit yang mencari rezeki dengan berjualan takjil dan sebagainya.Dibalik kejadian penggusuran lahan di pasar yang hingga kini masih terkendali soal pemberian kompensasi, Bude Marni bersyukur Allah masih memberikan jalan bagi dirinya dan Marni untuk dapat menjemput rezeki dengan cara lain yakni dengan berjualan sayur dan kini saat Ramadhan tidak disangka-sangka Allah datangkan rezeki lewat order Katering sebulan full.Betapa rasa syukur yang terucap dari lisan dan hati Bude Sri atas segala kemurahan Allah kepada dirinya dan Marni untuk bisa bertahan dalam situasi apapun.Selesai menunaikan s
Tok!Tok!Tok!"Kayaknye ada yang ngetok pintu Mar?" Mpok Leha menajamkan indera pendengarannya sambil ekor mata beralih kearah pintu rumah."Iya ya, Bude kalau pulang pasti salam dan langsung masuk. Apa Aku lupa ngunci ya. Sek Mpok tak lihat dulu."Marni bangkit dari kursi diikuti Mpok Leha yang beradang dibelakang Marni.Ceklek!"Leha! Lu disini! Lu bikin Abang kuatir seharian! Lu gak angkat telepon! WA Abang Lu kagak bales! Pulang!" Bang Udin langsung saja masuk tak memperdulikan Marni yang kini melongo dengan apa yang kini Ia lihat."Lu jangan ciba deket-deket agua Bang! Gua kagak mau Lu sentuh! Najis! Tangan Lu udah kotor belas megang-megang Si Sundel!" Mpok Leha menepis tangan Bang Udin yang memegang lengannya."Lu kenape sih! Ngomong jangan begini Leha! Malu! Ini dirumah orang! Lu malah disini! Abang cari Lu dirumah Babeh tapi gak ada orang. Babeh lagi ke Kota dan Lu Gak bisa dihubungin! Abang Kuatir Leha!""Dah Bang! Lu Kagak usah banyak cincong! Gua udah gak mau lagi Lu boongin