Bab 64
Lisa menarik napas lega. “Terima kasih, Farhan. Aku juga tidak ingin Davin terjebak di antara kita. Mungkin… kita bisa mencoba mengasuhnya secara bergilir.”Farhan tersenyum kecil. "Itu yang aku pikirkan. Aku ingin Davin juga merasakan kehadiranku dalam hidupnya, tapi aku tahu kau tetap bagian terpenting dalam hidupnya."Lisa mengangguk, setuju dengan usul Farhan. “Kita bisa bicarakan jadwalnya. Yang penting, Davin tidak kehilangan salah satu dari kita.”Farhan tersenyum lega. "Setuju. Aku juga ingin membawanya tidur di rumahku sesekali. Apa kau setuju?"Lisa terdiam sejenak, menimbang permintaan itu. Akhirnya, dia mengangguk. "Baiklah, Farhan. Tapi tolong, jaga dia dengan baik."Farhan tersenyum, kali ini dengan penuh kebahagiaan. "Tentu saja, Lisa."Keesokan harinya, di rumah Farhan, Davin bersiap-siap tidur di kamar yang telah disiapkan khusus untuknya. Farhan melihat putranya dari pintu, peBab 65Dengan lembut, Lisa memeluk Davin erat. “Sayang, dengar ya... Mama dan papa memang tidak bisa tinggal bersama lagi, tapi itu bukan berarti papa tidak sayang sama kamu. Papa akan selalu ada buat kamu, begitu juga mama.”Davin tidak menjawab, hanya memeluk Lisa lebih erat sambil menumpahkan air matanya. Lisa mengusap punggung putranya, berusaha menenangkan.“Mama janji, kamu gak akan pernah kehilangan papa. Kamu bisa ketemu papa kapan saja, dan papa akan selalu ada untuk kamu. Tapi... untuk tinggal bersama lagi, itu tidak mungkin.”“Kenapa gak mungkin, Ma?” Davin bertanya lagi, suaranya serak karena menangis.Lisa terdiam sesaat, lalu menjawab dengan lembut, “Karena... ada banyak hal yang sudah terjadi di antara mama dan papa. Kami sudah memilih jalan yang berbeda. Tapi yang penting sekarang adalah kamu tetap punya dua orang tua yang sayang banget sama kamu.”Davin terisak, masih belum sepenuhnya mengerti, tapi dia mulai ten
Bab 66"Mas..."Farhan menunduk, mendekatkan diri agar bisa mendengar suaranya dengan jelas."Aku di sini. Ada apa?" tanya Farhan.Sonya tersenyum lemah."Aku ingin kita bicara... tentang sesuatu yang penting."Farhan terdiam, melihat wajah pucat Sonya yang tampak begitu lelah. Dia tahu ini bukan percakapan biasa. Ada sesuatu yang lebih berat yang ingin disampaikan oleh Sonya.Sonya menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mas... aku tahu selama ini aku sudah banyak salah. Aku... aku menyadari aku telah menghancurkan kebahagiaanmu.""Sonya, jangan bicara seperti itu. Aku juga punya kesalahan. Semua yang terjadi bukan cuma karena kamu," sahut Farhan lirih."Aku tahu, tapi aku ingin minta maaf. Aku yang mendorong kamu jauh dari Lisa. Aku yang membuatmu terjebak di antara perasaanmu padanya dan tanggung jawabmu padaku."Farhan menunduk, merasakan kehangatan air mata yang mulai mengalir di
Bab 67Waktu berlalu perlahan bagi Farhan. Meskipun dukungan Lisa dan Davin membantunya melewati masa-masa sulit, luka yang ditinggalkan oleh kematian Sonya belum sepenuhnya sembuh. Setiap kali melihat Davin, Farhan merasa ada harapan, tapi setiap kali berada sendirian, perasaan bersalah dan duka kembali menghantui.Di hari-hari berikutnya, Farhan mulai lebih sering berinteraksi dengan Lisa. Bukan hanya sebagai orang tua dari Davin, tapi sebagai sahabat yang saling mendukung. Lisa selalu hadir, menemani Farhan melewati momen-momen sulit, meskipun hubungan mereka belum kembali seperti dulu.Lisa sendiri semakin sering menghabiskan waktu dengan Satria. Hubungan mereka berkembang secara alami, meski Lisa belum sepenuhnya membuka hati. Satria selalu sabar, menunggu Lisa siap, dan kehadirannya memberikan kenyamanan yang stabil dalam hidup Lisa.Davin juga mulai semakin dekat dengan Satria. Setiap kali mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, Satria s
Bab 68KECELAKAAN DI TENGAH MALAMMalam sudah larut. Farhan mengemudi seorang diri di jalan yang lengang, satu-satunya penerangan berasal dari lampu mobilnya yang menerobos gelapnya malam. Jarum jam di dasbor menunjukkan pukul 11.45 malam. Kelopak matanya terasa berat setelah seharian bekerja. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba mengusir kantuk yang mulai datang.Di jalanan yang sepi, ia sesekali melihat bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin. Suasana begitu hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar mengisi kesunyian. Sesekali, ia melirik kaca spion, memastikan tak ada kendaraan lain di belakangnya.BRAK!Farhan tersentak ketika mobilnya menghantam sesuatu. Ia segera menginjak rem dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang, dan tangannya mencengkeram setir erat-erat. Saat menoleh ke depan, matanya membelalak melihat seseorang tergeletak di jalan.“Ya Tuhan…”Dalam beberapa detik, ia hanya duduk terpaku, men
Bab 69Aku ingin kamu… menikahi putriku, Najwa.”Ruangan mendadak terasa membeku.Najwa mendongak dengan mata membelalak. “Ayah, apa yang Ayah katakan?"Pria itu tersenyum tipis, meski tampak sangat lemah. “Najwa… kau sendirian di dunia ini. Aku tidak ingin meninggalkanmu tanpa perlindungan…” suaranya semakin melemah, tetapi setiap kata yang ia ucapkan begitu jelas.Farhan merasakan jantungnya berdegup kencang. “Pak, saya ....”Pria itu menggenggam tangannya, meski cengkeramannya lemah. “Aku memohon padamu…”Air mata Najwa kembali mengalir. “Ayah, jangan seperti ini… Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak butuh pernikahan seperti ini.”Dengan lemah, pra itu menggelengkan kepalanya.“Aku ingin pergi dengan tenang, mengetahui bahwa kau akan baik-baik saja…”Farhan merasakan dilema yang luar biasa. Ia ingin menolak. Bagaimana mungkin ia menikahi seseorang yang baru saja ditemuinya? Tetapi, melihat mata
Bab 70SATU MINGGU KEMUDIAN Satu Minggu kemudian, Farhan kembali dan menjemput Najwa. Meskipun enggan, mau tidak mau dia harus ikut pria tersebut. Apapun alasannya, pria itu saat ini telah sah menjadi suaminya.Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, mereka pun sampai di apartemen. Najwa menatap gedung tinggi di hadapannya dengan perasaan campur aduk.“Perhatikan caranya agar kamu bisa keluar masuk sendiri tanpa bantuanku,” ujar Farhan. Meskipun tak menjawab apa-apa, namun Najwa tetap memperhatikan bagaimana caranya dan nomor lantai tempat dia akan tinggal.Sesampainya di depan apartemen, Farhan segera membuka pintu setelah sebelumnya memasukkan kode kunci pintunya. Najwa masuk seraya menatap sekelilingnya dengan perasaan takjub. Apartemen itu didesain dengan tema sederhana, namun elegan, sangat kentara jika pemiliknya adalah seorang pria. Semakin ke dalam, mata Najwa semakin dimanjakan dengan perabotan yang terlihat mewah dan berkelas.
Bab 71Pagi harinya, Farhan membawa Najwa makan di cafe yang berada di lantai bawah apartemen tersebut. Di samping cafe, ada sebuah pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam barang kebutuhan mereka secara lengkap. Usai makan pagi, Farhan meminta Najwa berbelanja barang kebutuhan pribadi dan dapur. Setelah mendapatkan semuanya, mereka pun kembali ke apartemen, lalu menata barang belanjaannya. Usai merapikan barang belanjaannya, Najwa terlihat celingukan. Dia merasa kebingungan menggunakan kompor yang berada di sana. Akhirnya dengan terpaksa, dia menghampiri Farhan yang tengah bersantai di ruang tengah.“Em ... Om!” “Ada apa?”“Aku mau buat teh.”“Terus?”“Em ... aku gak bisa nyalakan kompor,” ujar Najwa malu-malu. Dengan malas, Farhan pun bangkit, lalu mengajarkan cara menggunakan beberapa peralatan elektronik yang berada di dapur. Karena pada dasarnya dia anak yang pintar, Najwa dapat dengan mudah mencerna apa yang diajarkan oleh Farh
Bab 72Kali ini, tujuan Farhan adalah restoran. Dia mengajak Najwa untuk mampir makan siang terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan agenda belanja.“Tunggu!” ujar Farhan saat Najwa hendak turun. Najwa menghentikan gerakannya seketika.“Ada apa?” tanya Najwa bingung. Tanpa menjawab pertanyaan Najwa, Farhan segera meraih paper bag belanjaan mereka, lalu mengambil beberapa buah barang.“Ganti baju dulu sana!” perintah Farhan.“Disini?” tanya Najwa bingung.“Iya, cepetan! Saya tunggu di depan.” “Ta—tapi ....”“Gak usah pakai protes bisa gak sih?” ujar Farhan dengan kesal.“Gak kelihatan dari luar,” lanjutnya, lalu melangkah keluar dari mobil. Najwa terdiam sejenak di posisinya, lalu berpindah ke bangku belakang dan berganti disana. Meskipun merasa kikuk, namun dia malas untuk kembali berdebat. Setelah selesai, dia pun segera turun, lalu mengamati mobil tersebut dari luar.‘Benar juga, tidak terlihat dari luar,’ gumamnya dalam hati.“K
Bab 128Tubuh Najwa menegang, tetapi bukan karena ketakutan. Ada sesuatu yang asing menjalar di dalam dirinya. Sensasi yang membuatnya bingung.Tangan Farhan yang semula hanya mengusap pipinya, kini bergerak turun, meremas gundukan kenyal dengan lembut. Tanpa sadar, Najwa mendesis lirih.Merasa mendapat respon, Farhan semakin intens melancarkan serangannya. Sementara itu, Najwa semakin tak dapat mengendalikan diri merasakan sensasi baru yang terasa candu.Tiba-tiba, Farhan mengehentikan aksinya. Ditatapnya gadis di bawahnya dengan intens. Sementara itu, Najwa balik menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya."Wa, bolehkah?" tanya Farhan dengan suara berat. Untuk sesaat, Najwa meragu. Meskipun belum berpengalaman, namun dia paham arah pembicaraan pria di hadapannya tersebut.Beberapa saat kemudian, Najwa menganggukkan kepalanya. Akhirnya, Farhan kembali melancarkan aksinya dengan lembut dan hati-hati. Dia paham betul jika ini pengalaman pertama bagi wanita di hadapannya tersebut.Aksi
BAB 127PERASAAN YANG TAK TERDUGASesampainya di apartemen, Najwa segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Ia berjalan menuju ranjangnya, lalu duduk di tepinya dengan wajah kesal. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian di kafe tadi.Bayangan Farhan bersama wanita lain terus mengusik benaknya. Tatapan mata wanita itu, senyum genitnya, cara dia menyentuh lengan Farhan, semua itu membuat dadanya terasa sesak.Najwa menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, perasaan aneh yang menggelayuti hatinya tak kunjung pergi.Tak lama kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.Tok tok tok...."Najwa?"Najwa mendongak sejenak, mengenali suara itu. Namun, alih-alih menjawab, ia malah memalingkan wajahnya.Farhan, yang tak mendapat respons, akhirnya memutuskan untuk masuk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri gadis itu hingga hanya berjarak dua jengkal."Kamu kenapa?" tanyanya tenang.Najwa tetap tak melihat ke arahny
Bab 126Rahasia yang TerpendamFarhan menyesap kopinya perlahan, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba merayapi benaknya. Ia menatap David yang duduk di hadapannya, pria itu terlihat tenang, tetapi jelas sedang mengamati setiap gerak-geriknya."Jadi?" David mengangkat alisnya. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Farhan. Apa hubunganmu dengan Najwa?"Farhan menaruh cangkir kopinya dengan gerakan yang terkendali. "Maaf, tapi itu bukan urusan Anda."David tersenyum tipis. "Sebenarnya, itu urusanku. Najwa adalah anak tiriku sekarang dan aku ingin memastikan dia berada di tangan yang tepat."Farhan tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di sana. "Anda tidak perlu khawatir soal itu. Najwa baik-baik saja."David mencondongkan tubuhnya, tatapannya semakin tajam. "Dengar, aku tidak bodoh, Farhan. Fara sudah memberitahuku bahwa mantan suaminya tidak memiliki kerabat. Jadi bagaimana mungkin kau bisa menjadi 'om' bagi Najwa?"Farhan tetap tenang, tetapi jari-jarinya mengepal di bawa
Bab 125Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Fara masih dihantui rasa bersalah.Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Dari dalam laci, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah lama ia simpan. Perlahan, ia membuka tutupnya, memperlihatkan sebuah foto usang, foto dirinya bersama Najwa dan Suratman.Air matanya langsung mengalir. Ia menyusuri wajah kecil Najwa dalam foto itu dengan jemarinya yang bergetar."Najwa, sedikit saja, apakah tidak ada perasaan rindu untuk ibu?"Pertanyaan itu terus mengganggunya sejak pertama kali dia bertemu kembali dengan putrinya. Putri kecilnya yang kini telah beranjak dewasa.***Farhan masih sibuk memeriksa laporan keuangan ketika suara pintu ruang kerjanya terbuka tanpa izin."Farhan!" suara Arum terdengar tajam. Wanita paruh baya itu berjalan masuk dengan wajah kesal.Farhan menutup map di hadapannya dan mengusap wajah dengan lelah. "Ada apa, Ma?""Apa maksudmu bertanya ada apa?" Arum melipat tangan di depan dada. "Uang yan
Bab 124SURAT CERAITangannya bergetar saat menatap lembaran itu. Nama Fara tertera jelas di sana. Ia nyaris tidak bisa percaya dengan apa yang ia baca."Ini tidak mungkin. Fara tidak mungkin melakukan ini," gumam Suratman dengan suara bergetar."Sudah cukup. Jangan cari dia lagi. Kalian sudah bukan siapa-siapa."Suratman menatap pria tua itu dengan mata membelalak. "Kenapa? Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan pada Fara?"Pak Karim tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum akhirnya menutup pintu tanpa sepatah kata lagi.Suratman berdiri di sana, masih memegang surat cerai itu dengan tangan gemetar.Dengan langkah gontai, ia kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana mungkin Fara meninggalkannya begitu saja? Kenapa tanpa penjelasan?Ketika ia tiba di rumah, Najwa berlari menghampirinya. "Ayah! Ibu sudah pulang?"Suratman menatap wajah polos putrinya dan seketika dadanya sesak. I
Bab 123SAAT-SAAT TERAKHIRHari demi hari berlalu, dan kondisi Najwa semakin membaik. Warna di wajahnya mulai kembali, senyum kecilnya sudah lebih sering muncul, dan suaranya tak lagi selemah dulu. Fara selalu berada di sampingnya, membacakan cerita sebelum tidur, menyuapinya makan, dan menggenggam tangannya setiap kali Najwa merasa kesakitan.Namun, di balik senyum yang ia tampilkan, ada kesedihan yang semakin dalam. Setiap kali melihat Suratman tertidur di kursi samping ranjang Najwa, Fara ingin menangis. Setiap kali pria itu bangun dan tersenyum padanya, seolah mereka adalah keluarga yang utuh, hatinya semakin hancur.Di saku tasnya, surat panggilan dari pengadilan agama telah berulang kali ia lipat dan sembunyikan. Ia tahu waktunya semakin sedikit. Proses perceraiannya dengan Suratman hampir selesai, dan saat Najwa benar-benar pulih, ia harus pergi.***Suatu sore, ketika Suratman pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang di rumah, Fara duduk di samping Najwa yang tengah ter
Bab 122TAWARANFara berdiri di depan rumah orang tuanya dengan dada sesak. Tangannya gemetar saat hendak mengetuk pintu. Selama ini, ia sudah dianggap tidak ada oleh keluarganya setelah memutuskan menikah dengan Suratman, seorang pedagang keliling yang menurut mereka tidak pantas untuknya.Namun, sekarang ia tidak punya pilihan lain.Ia mengetuk pintu dengan ragu. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka, memperlihatkan wajah sang ibu, Bu Halimah, yang langsung berubah dingin begitu melihatnya."Untuk apa kamu kemari?" suara wanita paruh baya itu terdengar tajam.Fara menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh."Ma, aku butuh bantuan," suaranya bergetar.Bu Halimah melirik anaknya dari ujung kepala hingga kaki, lalu mendengus. "Jadi sekarang kamu ingat keluarga setelah sekian lama menghilang?"Fara menggeleng cepat. "Aku nggak pernah melupakan papa dan mama. Aku hanya… aku hanya tidak punya keberanian untuk kembali.""Tapi sekarang kamu kembal
BAB 121SEPULUH TAHUN YANG LALULangit sore mulai meredup ketika suara tawa anak-anak masih terdengar di gang sempit perkampungan kecil di pinggiran kota. Najwa, bocah perempuan berusia delapan tahun, berlari kecil mengejar bola plastik yang meluncur ke jalan raya. Tanpa sadar, langkah kakinya melampaui batas aman dari gang sempit itu.Tiba-tiba, suara klakson yang keras menggema di udara. Dalam sekejap, tubuh kecil Najwa terpental ke aspal, diikuti oleh jeritan histeris dari anak-anak lain yang menyaksikan kejadian itu. Mobil yang menabraknya melaju kencang tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan, menghilang di belokan sebelum ada yang sempat mencatat nomor platnya."Najwa!"Seorang wanita berlari dari dalam rumah, wajahnya pucat pasi saat melihat tubuh kecil putrinya tergeletak tak bergerak di jalan. Darah mengalir dari pelipis dan hidungnya, membentuk genangan kecil di aspal.Orang-orang mulai berdatangan. Beberapa ibu berteriak panik, sementara beberapa bapak berusaha menenangkan i
BAB 120KERINDUAN YANG TAK TERPADAMKANFara duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah yang dipenuhi kesedihan. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia sudah menangis cukup lama. Di tangannya, ia menggenggam erat selembar foto lama, foto seorang gadis kecil dengan senyum polos yang begitu dirindukannya.David duduk di sampingnya, tangannya dengan lembut mengusap punggung istrinya, berusaha menenangkan. Namun, Fara tetap terisak, rasa sesak yang menghimpit dadanya tak kunjung mereda."Aku tidak bisa terus seperti ini, Mas. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya setidaknya sekali saja. Aku ingin menebus semua kesalahan yang telah aku buat," ujar Fara dengan suara bergetar.David menarik napas dalam. Ia paham betul bagaimana perasaan istrinya. Setiap malam, ia melihat Fara duduk termenung di depan jendela, matanya menerawang jauh, pikirannya entah ke mana."Sayang, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus bersabar sedikit lagi. Jangan gegabah, kita harus menunggu waktu yang te