Bab 54
Saat jam istirahat hampir usai, pria tersebut mendekati Davin, berpura-pura menjadi seseorang yang hendak menjemput. "Nak, ayo pulang. Aku diutus untuk membawamu."Davin, yang tak mengenal pria itu, hanya mengernyit. "Tapi... aku masih mau main, Om. Aku belum boleh pulang."Melihat interaksi itu, Kenzi bergegas menghampiri."Tuan Muda! Ayo, kita ke kelas sekarang." Suaranya sedikit tegas namun penuh perhatian. Dia meraih tangan Davin dan mencoba menjauh dari pria misterius itu.Pria tersebut tak menyerah, mencoba bersikap santai."Aku di sini untuk menjemput dia. Atas perintah keluarganya," katanya sambil tersenyum lebar yang terasa dipaksakan.Kenzi tak terpancing. "Cukup, dia dalam pengawasanku. Kalau ada urusan, bicarakan dengan pihak sekolah."Pria itu semakin frustrasi, dan ketika dia mencoba mendekati Davin lagi, Kenzi dengan sigap memberikan isyarat pada satpam sekolah yang langsung mendekat. Melihat situaBab 55Lisa, yang sejak awal sidang berusaha tetap tenang, kini mulai merasa emosinya tak terkendali. Dia mencengkeram pinggiran bangku, matanya menatap lurus pada Farhan. "Farhan, kamu tidak bisa begitu saja merebut Davin dariku! Aku yang membesarkannya! Di mana kamu selama ini?" suaranya mulai gemetar.Farhan menoleh perlahan ke arah Lisa. "Aku tidak tahu dia anakku, Lisa. Kalau aku tahu dari awal, aku pasti akan ada di sana. Kamu yang menyembunyikan ini dariku!"Kenzi yang duduk di samping Lisa, langsung meraih tangannya. "Tenang, Nona. Ini bukan tempatnya untuk emosi. Kita harus tetap fokus."Namun, amarah Lisa sulit dibendung. Dia mengalihkan pandangannya kepada Farhan dengan penuh luka. "Kamu selalu begitu, Farhan. Selalu berpikir semuanya bisa kamu kendalikan! Davin bukan hanya sekadar hasil dari sebuah tes DNA! Dia anakku!"Satria, yang duduk di sisi lain Lisa, mencoba ikut menenangkannya. "Lisa, kita masih punya kesempatan. Jangan terpancing emosi. Kita akan mengumpulkan bu
Bab 56Hari-hari menjelang sidang berikutnya semakin membuat Lisa tertekan. Davin masih kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi instingnya cukup tajam untuk merasakan ketegangan yang menghantui ibunya. Setiap malam, Lisa terjaga, memikirkan ancaman gugatan hak asuh dari Farhan. Satria dan Kenzi selalu ada untuk mendukungnya, tetapi perasaan takut kehilangan Davin tetap menghantuinya.Suatu sore, di kantor, Lisa duduk termenung di ruangannya. Pikiran tentang sidang yang akan datang terus berputar-putar di kepalanya. Tiba-tiba, pintu terbuka dan Satria masuk dengan ekspresi serius."Lisa, kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil duduk di depan mejanya.Lisa tersenyum lemah. "Aku hanya memikirkan Davin. Apa yang akan terjadi jika aku kalah? Bagaimana jika Farhan benar-benar mendapatkan hak asuhnya?"Satria meraih tangan Lisa, mencoba memberinya dukungan. "Aku tahu kamu takut, Lisa. Tapi kamu harus ingat, kamu adalah ibu yang luar b
Bab 57Hari ini, Kakek Rio mengadakan konferensi pers di hotel mewah yang dimiliki keluarganya. Ruangan dipenuhi wartawan, para pengusaha, dan beberapa tokoh penting dari berbagai kalangan. Berita tentang pengumuman besar ini sudah tersebar luas, dan banyak spekulasi yang berkembang mengenai apa yang akan dikatakan oleh Rio Ghaisan Yudhistira, pengusaha ternama yang selama ini jarang muncul di hadapan publik.Kakek Rio, dengan penampilan rapi dan penuh wibawa, berjalan ke podium, didampingi oleh Lisa dan Satria yang berdiri di sampingnya. Setelah mengatur mikrofon, Rio memulai pidatonya.“Saya ingin berterima kasih kepada semua yang hadir di sini hari ini,” ujar Kakek Rio dengan suara yang tenang namun tegas. “Saya ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting, tidak hanya untuk saya pribadi, tetapi juga untuk keluarga besar Yudhistira.”Seluruh ruangan hening, semua mata tertuju padanya. Kenzi yang juga hadir di konferensi pers tersebut, berdiri
Bab 58"Mama tidak mau tahu. Pokonya, kamu Haris mendekati Lisa lagi. Mama sudah memberikan restu. Masalah Sonya, biar jadi urusan mama," ujar Arum dengan tegas.“Aku akan pikirkan,” jawab Farhan akhirnya sebelum menutup telepon.Setelah percakapan itu, Farhan duduk diam di kursinya, memandangi jendela kantornya yang besar. Pikiran tentang Lisa, Davin, dan ibunya berputar di kepalanya. 'Apakah aku harus mengejar cintaku kembali?' tanya Farhan dalam hati.Di tempat lain, Lisa duduk di balkon kamarnya, menatap langit malam yang gelap, dipenuhi bintang. Udara malam terasa sejuk, namun pikirannya tak bisa tenang. Pikiran tentang Satria dan Kenzi terus menghantui dirinya, di tengah semua masalah yang dia hadapi dengan Farhan dan Davin. Hatinya terasa berat, bingung dengan perasaannya sendiri.***Pagi itu, Lisa sedang menyiapkan sarapan ketika bel pintu berbunyi. Dia menoleh, sedikit terkejut karena tidak mengharapkan tamu pagi-pagi b
Bab 59Lisa menarik napas dalam-dalam, merasa hatinya mencelos, lalu mengangguk pelan. "Iya, Nak. Ini papa kamu."Farhan menatapnya dengan mata yang penuh air mata, lalu kembali memeluk anak itu. Kali ini, lebih erat, lebih dalam, seolah dia berusaha menyalurkan semua perasaan yang tertahan bertahun-tahun. Ada perasaan hangat yang menyeruak di dalam hatinya. Farhan tahu, ini bukan pelukan yang biasa. Ini adalah pelukan seorang ayah yang baru menemukan kembali anaknya, dan pelukan itu penuh dengan harapan, cinta, dan penyesalan.Di dalam pelukan itu, Farhan merasa sebuah kekosongan besar dalam hidupnya mulai terisi. Ada sesuatu yang dulu hilang dan kini kembali. Namun, bersama kebahagiaan itu, muncul pula rasa bersalah yang menggigit. Dia menyadari, kenapa tidak sejak awal? Kenapa tidak sejak mengetahui fakta bahwa Davin adalah putranya, dia segera menemui anak itu? Kenapa malah membiarkan ego dan rasa marahnya menguasai dirinya, hi
Bab 60Farhan tersenyum. "Iya, Papa juga suka."Suasana berubah lebih santai. Farhan menikmati setiap momen bersama Davin, sementara Lisa, yang duduk tidak jauh dari mereka, merasa perasaannya bercampur aduk. Melihat Davin bahagia membuat hatinya lega, tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan was-was yang terus menghantuinya.Saat sore menjelang, mereka kembali ke rumah. Farhan menurunkan Davin dari mobilnya, lalu menatap Lisa yang berdiri di samping mereka."Terima kasih, Lisa. Aku tidak akan melupakan hari ini," kata Farhan dengan nada tulus.Lisa mengangguk singkat, meski masih merasa berat. "Ini bukan tentang kamu, Farhan. Ini tentang Davin. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya."Farhan tersenyum samar, memahami maksud Lisa. "Aku tahu. Dan aku akan melakukan yang terbaik untuknya, Lisa."Mereka saling berpandangan dalam keheningan yang terasa begitu berat. Mata Lisa menatap dalam-dalam ke arah Farhan, seolah menc
Bab 61Farhan merasa hatinya hampir meledak. Air mata yang dia tahan akhirnya jatuh juga. Dia menarik napas panjang, mencoba tetap tenang di hadapan putranya. Tangan besarnya dengan lembut mengusap punggung Davin, mencoba menenangkan bocah kecil itu yang tampak begitu terluka."Davin, Papa janji... Papa akan datang lagi. Papa gak akan ninggalin kamu, ya?" ulangnya lagi, kali ini dengan lebih lembut.Lisa akhirnya melangkah maju, berusaha membantu menenangkan situasi. Dia menunduk, menyentuh bahu kecil Davin dengan lembut. "Sayang, Papa harus pulang sekarang. Tapi nanti Papa akan datang lagi, kok. Kamu bisa main sama Papa lagi.""Gak mau. Papa gak boleh pergi," seru Davin yang tetap kekeuh dengan keinginannya. Lisa dan Farhan pun mulai kesalahan membujuknya."Lisa, tolong izinkan aku nemenin dia sampai tertidur. Aku janji akan pergi setelahnya," pinta Farhan. Batinnya pun ikut teriris mendengar tangisan putranya. Lisa yang sudah
Bab 62Setelah beberapa saat, Farhan akhirnya berdiri perlahan, berusaha tidak membuat suara yang bisa membangunkan Davin. Dia melangkah ke pintu, menoleh sekali lagi ke arah anaknya yang masih terlelap, lalu perlahan menutup pintu kamar dengan hati-hati.Di luar kamar, Lisa sedang menunggu di ruang tamu. Saat Farhan keluar, mereka bertatapan sejenak. Suasana antara mereka terasa lebih damai malam itu, meskipun masih ada banyak hal yang belum terselesaikan. Farhan berjalan mendekat, berhenti di depan Lisa.Lisa menatapnya penuh arti, ada kehangatan di matanya meskipun ia masih tampak lelah. "Dia sudah tidur?" tanyanya pelan.Farhan mengangguk. "Sudah. Dia sangat senang hari ini. Terima kasih sudah mengizinkan aku menghabiskan waktu dengan Davin."Lisa tersenyum kecil, lalu menarik napas panjang. "Kamu papa kandungnya, Farhan. Davin berhak mengenalmu. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya," ucap Lisa dengan jujur.Farhan mengangguk pelan, matanya menunjukkan rasa terima kasih yang tulu
Bab 128Tubuh Najwa menegang, tetapi bukan karena ketakutan. Ada sesuatu yang asing menjalar di dalam dirinya. Sensasi yang membuatnya bingung.Tangan Farhan yang semula hanya mengusap pipinya, kini bergerak turun, meremas gundukan kenyal dengan lembut. Tanpa sadar, Najwa mendesis lirih.Merasa mendapat respon, Farhan semakin intens melancarkan serangannya. Sementara itu, Najwa semakin tak dapat mengendalikan diri merasakan sensasi baru yang terasa candu.Tiba-tiba, Farhan mengehentikan aksinya. Ditatapnya gadis di bawahnya dengan intens. Sementara itu, Najwa balik menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya."Wa, bolehkah?" tanya Farhan dengan suara berat. Untuk sesaat, Najwa meragu. Meskipun belum berpengalaman, namun dia paham arah pembicaraan pria di hadapannya tersebut.Beberapa saat kemudian, Najwa menganggukkan kepalanya. Akhirnya, Farhan kembali melancarkan aksinya dengan lembut dan hati-hati. Dia paham betul jika ini pengalaman pertama bagi wanita di hadapannya tersebut.Aksi
BAB 127PERASAAN YANG TAK TERDUGASesampainya di apartemen, Najwa segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Ia berjalan menuju ranjangnya, lalu duduk di tepinya dengan wajah kesal. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian di kafe tadi.Bayangan Farhan bersama wanita lain terus mengusik benaknya. Tatapan mata wanita itu, senyum genitnya, cara dia menyentuh lengan Farhan, semua itu membuat dadanya terasa sesak.Najwa menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, perasaan aneh yang menggelayuti hatinya tak kunjung pergi.Tak lama kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.Tok tok tok...."Najwa?"Najwa mendongak sejenak, mengenali suara itu. Namun, alih-alih menjawab, ia malah memalingkan wajahnya.Farhan, yang tak mendapat respons, akhirnya memutuskan untuk masuk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri gadis itu hingga hanya berjarak dua jengkal."Kamu kenapa?" tanyanya tenang.Najwa tetap tak melihat ke arahny
Bab 126Rahasia yang TerpendamFarhan menyesap kopinya perlahan, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba merayapi benaknya. Ia menatap David yang duduk di hadapannya, pria itu terlihat tenang, tetapi jelas sedang mengamati setiap gerak-geriknya."Jadi?" David mengangkat alisnya. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Farhan. Apa hubunganmu dengan Najwa?"Farhan menaruh cangkir kopinya dengan gerakan yang terkendali. "Maaf, tapi itu bukan urusan Anda."David tersenyum tipis. "Sebenarnya, itu urusanku. Najwa adalah anak tiriku sekarang dan aku ingin memastikan dia berada di tangan yang tepat."Farhan tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di sana. "Anda tidak perlu khawatir soal itu. Najwa baik-baik saja."David mencondongkan tubuhnya, tatapannya semakin tajam. "Dengar, aku tidak bodoh, Farhan. Fara sudah memberitahuku bahwa mantan suaminya tidak memiliki kerabat. Jadi bagaimana mungkin kau bisa menjadi 'om' bagi Najwa?"Farhan tetap tenang, tetapi jari-jarinya mengepal di bawa
Bab 125Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Fara masih dihantui rasa bersalah.Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Dari dalam laci, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah lama ia simpan. Perlahan, ia membuka tutupnya, memperlihatkan sebuah foto usang, foto dirinya bersama Najwa dan Suratman.Air matanya langsung mengalir. Ia menyusuri wajah kecil Najwa dalam foto itu dengan jemarinya yang bergetar."Najwa, sedikit saja, apakah tidak ada perasaan rindu untuk ibu?"Pertanyaan itu terus mengganggunya sejak pertama kali dia bertemu kembali dengan putrinya. Putri kecilnya yang kini telah beranjak dewasa.***Farhan masih sibuk memeriksa laporan keuangan ketika suara pintu ruang kerjanya terbuka tanpa izin."Farhan!" suara Arum terdengar tajam. Wanita paruh baya itu berjalan masuk dengan wajah kesal.Farhan menutup map di hadapannya dan mengusap wajah dengan lelah. "Ada apa, Ma?""Apa maksudmu bertanya ada apa?" Arum melipat tangan di depan dada. "Uang yan
Bab 124SURAT CERAITangannya bergetar saat menatap lembaran itu. Nama Fara tertera jelas di sana. Ia nyaris tidak bisa percaya dengan apa yang ia baca."Ini tidak mungkin. Fara tidak mungkin melakukan ini," gumam Suratman dengan suara bergetar."Sudah cukup. Jangan cari dia lagi. Kalian sudah bukan siapa-siapa."Suratman menatap pria tua itu dengan mata membelalak. "Kenapa? Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan pada Fara?"Pak Karim tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum akhirnya menutup pintu tanpa sepatah kata lagi.Suratman berdiri di sana, masih memegang surat cerai itu dengan tangan gemetar.Dengan langkah gontai, ia kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana mungkin Fara meninggalkannya begitu saja? Kenapa tanpa penjelasan?Ketika ia tiba di rumah, Najwa berlari menghampirinya. "Ayah! Ibu sudah pulang?"Suratman menatap wajah polos putrinya dan seketika dadanya sesak. I
Bab 123SAAT-SAAT TERAKHIRHari demi hari berlalu, dan kondisi Najwa semakin membaik. Warna di wajahnya mulai kembali, senyum kecilnya sudah lebih sering muncul, dan suaranya tak lagi selemah dulu. Fara selalu berada di sampingnya, membacakan cerita sebelum tidur, menyuapinya makan, dan menggenggam tangannya setiap kali Najwa merasa kesakitan.Namun, di balik senyum yang ia tampilkan, ada kesedihan yang semakin dalam. Setiap kali melihat Suratman tertidur di kursi samping ranjang Najwa, Fara ingin menangis. Setiap kali pria itu bangun dan tersenyum padanya, seolah mereka adalah keluarga yang utuh, hatinya semakin hancur.Di saku tasnya, surat panggilan dari pengadilan agama telah berulang kali ia lipat dan sembunyikan. Ia tahu waktunya semakin sedikit. Proses perceraiannya dengan Suratman hampir selesai, dan saat Najwa benar-benar pulih, ia harus pergi.***Suatu sore, ketika Suratman pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang di rumah, Fara duduk di samping Najwa yang tengah ter
Bab 122TAWARANFara berdiri di depan rumah orang tuanya dengan dada sesak. Tangannya gemetar saat hendak mengetuk pintu. Selama ini, ia sudah dianggap tidak ada oleh keluarganya setelah memutuskan menikah dengan Suratman, seorang pedagang keliling yang menurut mereka tidak pantas untuknya.Namun, sekarang ia tidak punya pilihan lain.Ia mengetuk pintu dengan ragu. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka, memperlihatkan wajah sang ibu, Bu Halimah, yang langsung berubah dingin begitu melihatnya."Untuk apa kamu kemari?" suara wanita paruh baya itu terdengar tajam.Fara menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh."Ma, aku butuh bantuan," suaranya bergetar.Bu Halimah melirik anaknya dari ujung kepala hingga kaki, lalu mendengus. "Jadi sekarang kamu ingat keluarga setelah sekian lama menghilang?"Fara menggeleng cepat. "Aku nggak pernah melupakan papa dan mama. Aku hanya… aku hanya tidak punya keberanian untuk kembali.""Tapi sekarang kamu kembal
BAB 121SEPULUH TAHUN YANG LALULangit sore mulai meredup ketika suara tawa anak-anak masih terdengar di gang sempit perkampungan kecil di pinggiran kota. Najwa, bocah perempuan berusia delapan tahun, berlari kecil mengejar bola plastik yang meluncur ke jalan raya. Tanpa sadar, langkah kakinya melampaui batas aman dari gang sempit itu.Tiba-tiba, suara klakson yang keras menggema di udara. Dalam sekejap, tubuh kecil Najwa terpental ke aspal, diikuti oleh jeritan histeris dari anak-anak lain yang menyaksikan kejadian itu. Mobil yang menabraknya melaju kencang tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan, menghilang di belokan sebelum ada yang sempat mencatat nomor platnya."Najwa!"Seorang wanita berlari dari dalam rumah, wajahnya pucat pasi saat melihat tubuh kecil putrinya tergeletak tak bergerak di jalan. Darah mengalir dari pelipis dan hidungnya, membentuk genangan kecil di aspal.Orang-orang mulai berdatangan. Beberapa ibu berteriak panik, sementara beberapa bapak berusaha menenangkan i
BAB 120KERINDUAN YANG TAK TERPADAMKANFara duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah yang dipenuhi kesedihan. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia sudah menangis cukup lama. Di tangannya, ia menggenggam erat selembar foto lama, foto seorang gadis kecil dengan senyum polos yang begitu dirindukannya.David duduk di sampingnya, tangannya dengan lembut mengusap punggung istrinya, berusaha menenangkan. Namun, Fara tetap terisak, rasa sesak yang menghimpit dadanya tak kunjung mereda."Aku tidak bisa terus seperti ini, Mas. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya setidaknya sekali saja. Aku ingin menebus semua kesalahan yang telah aku buat," ujar Fara dengan suara bergetar.David menarik napas dalam. Ia paham betul bagaimana perasaan istrinya. Setiap malam, ia melihat Fara duduk termenung di depan jendela, matanya menerawang jauh, pikirannya entah ke mana."Sayang, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus bersabar sedikit lagi. Jangan gegabah, kita harus menunggu waktu yang te