Meisya tersenyum misterius. "Kau akan segera mengetahuinya."
Ia harus memainkan kartunya dengan hati-hati. Yama bukan orang bodoh. Jika ia ingin menang, ia harus menjadi lebih cerdik dari siapa pun.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan dan makanan mulai disajikan. Melihat Yama yang masih menatap makanan di hadapannya dengan ragu, Meisya tertawa kecil.
"Mengapa hanya sebuah makan malam sudah membuatmu ragu? Apakah kamu takut aku meracunimu?"
Yama menengadahkan kepalanya, menatap Meisya dalam-dalam, mencari keseriusan dalam kalimatnya.
"Ya, sudah," ucap Meisya seraya menukar piring makanannya dengan piring makan Yama. "Kamu memang penuh dengan kewaspadaan, tetapi bila aku berniat meracunimu, aku tidak akan mengajakmu ke restoran mewah, hanya butuh sedikit kacang dan kamu akan sesak napas," kekeh Meisya.
"Makanlah sebelum dingin," lanjutnya.
***
Beberapa saat
Dengan alis mengernyit, ia membuka pesannya. Sebuah lokasi hotel dan pesan yang mengabari bahwa Yama berada dalam situasi yang membahayakan."Astaga..." Dea langsung bangkit, kain pel yang dipegangnya terjatuh ke belakang.Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Tanpa ragu, Dea mengambil tasnya dan berlari keluar dari restoran tanpa mengganti pakaian kerja.Dea sampai di hotel dalam waktu lima belas menit.Jantungnya berdebar kencang saat ojek online yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang masih sibuk meski malam sudah larut. Pikirannya dipenuhi tanda tanya.Apa yang terjadi dengan Yama? Kenapa dia mengirimkan lokasinya tanpa penjelasan? Kenapa suaranya terdengar begitu putus asa?Begitu motor berhenti di depan hotel, Dea segera turun tanpa menunggu kembalian. Ia berlari masuk, tatapannya langsung menyapu lobi yang megah. Panik ...
Hatinya berdegup kencang, bukan karena rasa malu, tetapi karena kebingungan."Buka dalamanmu!"Dea menggeleng dengan rasa panik. Yama menatapnya dengan mata penuh intensitas. Dalam tatapan itu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar nafsu. Ada permohonan."Tolong aku."Dea membeku. Ia bisa melihat kelelahan dalam sorot mata Yama. Ia tidak sedang bermain-main.Dea menggigit bibirnya, tangannya gemetar. Ia ingin berteriak, ingin marah, ingin meminta penjelasan. Tapi sesuatu dalam dirinya menyuruhnya percaya. Maka ia pun pasrah. Dea membuka dalamannya lalu menutupi dengan handuk."Tidurlah di ranjang," perintahnya kepada Dea.Lalu Yama bergerak membuka pintu. Di luar, Meisya berdiri dengan wajah penuh harap. Namun, begitu melihat apa yang ada di balik pintu, wajahnya langsung pucat.Yama hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangny
Dea langsung tersentak mundur. Matanya melebar, dadanya berdegup lebih cepat."Apa maksudmu…?"Yama mengusap wajahnya kasar. Menelusuri lekuk tubuh Dea yang hanya tertutup handuk sebagian. Betapa menderita bagian dirinya yang meronta sedari tadi.Betapa dia menginginkan wanita itu lebih dari obat yang dia membuatnya menderita. Artinya, tanpa obat sekalipun, dia sangat menginginkan Dea."Aku tahu ini salah… Tapi aku masih terpengaruh obat itu, Dea. Aku tidak bisa ke rumah sakit dalam kondisi seperti ini! Aku tidak bisa membiarkan siapa pun melihatku seperti ini!"Napas Dea tercekat. Sekarang dia paham.Dea menggigit bibirnya, menatap pria di depannya. Yama masih juga berjuang melawan efek yang menyerangnya. Mata Yama terlihat gelap, penuh gejolak yang ia sendiri tidak bisa kendalikan walau pria itu sudah mencoba menenggalamkan dirinya ke dalam air dingin.
Saat pagi menyapa, sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar hotel. Udara masih dingin, dan suasana begitu sunyi.Dea membuka matanya lebih dulu.Dia menoleh ke arah Yama, yang masih terlelap di ranjang. Napasnya kini lebih tenang, tubuhnya tidak lagi gemetar seperti semalam."Tampan sekali pria ini," gumamnya lembut menelusuri wajah Yama yang terlihat maskulin. Pria itu tidur dengan tenang seolah-olah semua masalahnya tidak pernah ada."Yama terlihat sudah mulai pulih. Sepertinya tidak ada lagi efek obat jahanam itu", bathin Dea seraya menelusuri sosok bak model sempurna yang terlelap di sampingnya.Dea menarik napas lega. Untung saja dia bertahan semalam walau sempat pingsan beberapa kali.Namun, sebelum Yama bangun, Dea memutuskan untuk pergi lebih dulu. Dia butuh waktu untuk berpikir, tentang semua yang terjadi.Tentang bagai
Nenek Yama tidak langsung menjawab, tapi matanya memperhatikan Dea dengan tatapan dalam dan menilai. Setelah beberapa detik hening, ia mengangguk kecil."Sial sekali kamu, nak." Suaranya terdengar tajam. "Wajahmu sendiri yang membuatmu celaka. Kau tidak seharusnya mirip dengan Ibu Yama."Dea tertegun."Jadi ini alasannya?" batinnya bertanya.Dea masih merasakan dinginnya air yang mengguyur tubuhnya, membangunkannya dari ketidaksadaran. Matanya masih sedikit buram, tetapi suara di sekitarnya mulai jelas.Meisya dan seorang wanita tua berdiri di depannya."Nenek Yama?" Dea menelan ludah, masih mencoba memahami situasi. Apakah wanita tua itu adalah nenek Yama? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka membawanya ke sini?Tapi yang paling mengganggu pikirannya adalah kata-kata Meisya barusan yang mengatakan bahwa dia mirip dengan Ibu Yama.
Nenek Yama terkejut dan mengenggam kepala tongkatnya lebih erat, memikirkan sebuah pertimbangan sementara Meisya membeku.Seolah tidak ada yang menyangka Dea akan berkata seperti itu.Nenek Yama menatapnya tajam, berusaha mencari kebohongan di wajahnya. Tapi Dea tetap tenang.Meisya menggertakkan giginya."Tidak mungkin!" serunya, wajahnya merah padam. "Kau hanya pura-pura! Kau ingin terlihat tidak tertarik, tapi sebenarnya kau hanya menunggu waktu untuk masuk ke dalam keluarga ini!"Dea menatap Meisya dengan ekspresi datar. "Percaya atau tidak, itu urusanmu. Kemarikan obat itu dan berikan sedikit air minum."Nenek Yama menghela napas panjang. "Meisya," katanya dengan nada lebih tenang. "Diamlah sebentar."Meisya terkejut. "Nenek! Kau tidak bisa mempercayainya!""Tidak ada gunanya menahan seseorang yang tidak punya ke
"Hmm, dia mungkin sudah jatuh cinta padaku," tantang Dea, sengaja memperkeruh suasana karena dia merasa kesal dengan tawaran yang tidak bisa dia tolak tetapi segan dia ambil juga.Nenek Yama memperhatikan dengan tatapan tajam. Dea tidak menunjukkan tanda-tanda tergoda. Sikapnya netral dan ketus sehingga Nenek Yama tidak sanggup menebak dengan jelas.Meisya mengepalkan tangannya. "Jangan banyak bicara! Tandatangani saja!"Dea menyeringai. "Dan jika aku menolak?""Maka kau tidak akan keluar dari rumah ini dengan mudah." Meisya menyilangkan tangan, senyum penuh ancaman terukir di wajahnya.Dea tertawa lagi, kali ini lebih dingin. Lututnya semakin gemetar, tetapi dia tetap berusaha tenang.Ia mengambil kertas itu, lalu tanpa ragu merobeknya di depan wajah Meisya.Sret! sret!Suara kertas yang terkoyak memenuhi ruangan.
"Kirim uang itu ke rekeningku," ucap Dea dengan suara lemah. Dia tidak ingin setelah menandatangani perjanjian, mereka akan mengingkari janji dan akan sangat kesulitan juga membawa koper berisi uang sebanyak itu. Dia tidak berharap dirampok dan dia pastinya akan kesulitan dalam menyimpan uang tersebut."Bisa diatur," ucap Meisya lalu segera mengangkat ponselnya. Memerintahkan sesuatu kepada suara seberang panggilan.Tidak lama kemudian, ponsel Dea berdering. Dea segera mendapatkan pesan berhasil masuknya dana secara online.Dea membelalak, terkejut dengan jumlah angka nol yang tertera. Dia menelan salivanya.Nenek Yama benar-benar bukan seseorang yang biasa. Walau Dea masih heran apa alasan Yama menjadi pria penghibur, tetapi tidak ada keinginan untuk tahu lebih lanjut.Dia hanya perlu keluar dari kehidupan aneh ini. Putuskan hubungannya dengan Yama. Sesuatu yang harus dia lakukan sejak
"Aku hanya perlu melakukan ini sekali saja," gumamnya, meyakinkan dirinya sendiri. "Setelah itu, aku bisa segera kembali ke Indonesia."Sanjaya melangkah dengan tekad bulat untuk pergi mencari obat yang bisa membuat Dea tertidur, tanpa menyadari bahwa ia tengah berjalan menuju kehancurannya sendiri, juga kehancuran Dea.Senja menjelang ketika Meisya kembali menghubungi Sanjaya. Nada suaranya dingin dan tegas, tanda bahwa kesabarannya mulai menipis."Jadi?" tanyanya tanpa basa-basi. "Mana obat tidur yang kusuruh kau beli?"Di seberang telepon, Sanjaya menelan ludah. "Aku... aku belum berhasil mendapatkannya. Obat seperti itu tidak dijual sembarangan, Meisya. Aku sudah mencari di beberapa tempat, tapi...""Alasan!" bentak Meisya. "Aku membayar mahal untuk rencana ini, Sanjaya! Kalau kau tidak becus, aku akan mencari orang lain.""J-jangan!" Sanjaya mengepalkan tangan. Diriny
Di dalam kamar hotel yang mewah dengan lampu redup, Meisya duduk di atas sofa berlapis beludru berwarna lembut. Jemarinya yang ramping menggulung layar ponsel berisi setumpuk foto yang baru saja dikirimkan kepadanya. Bibirnya menipis, matanya menyipit menatap gambar-gambar itu.Dea tampak tersenyum di salah satu foto, duduk berdampingan dengan Sanjaya di sebuah kafe. Di foto lain, pria itu terlihat menatapnya dengan intensitas yang sulit diartikan. Meisya menggigit bibirnya, menahan amarah yang mendidih di dadanya. "Tatapan penuh cinta! Menggelikan pria munafik ini!"Dalam foto lain, Sanjaya terlihat sedang menikmati makanannya dengan Dea di kursi rumah sakit. Sebuah pemandangan yang menunjukkan keakraban mereka dalam berbagi moment kebersamaan, tetapi Meisya tidak merasa tertarik sama sekali."Cih! Foto yang membuang uang!" geram Meisya.Dia sangat kesal karena Yama tetap saja memikirkan Dea, meskipun ia telah me
Namun, secepat kilat, Dea melangkah mundur, kedua matanya melebar lalu berlari menjauh. “Aku bau sekali! Dan kau gila!” serunya tanpa menoleh lagi.Yama hanya bisa terpaku, menatap punggung Dea yang semakin menjauh, meninggalkannya dengan seribu pertanyaan yang belum terjawab. Yama bertempur dengan perasaannya sendiri, dia sangat membenci wanita itu sekaligus ingin menciumnya. "Ya, dia memang bau sekali saat ini, bau kuda! Tetapi aku benar-benar ingin menciumnya!" geram Yama dengan kedua mata mulai memerah bercampur amarah.“Bob!” panggilnya tiba-tiba.Asistennya yang selalu sigap itu segera menghampiri. “Ya, Tuan!”“Saya mengerti dan akan segera pergi mengikutinya untuk mencari tahu semua data!” kata Bob dengan penuh semangat.Yama sedikit terkejut. Menoleh, menatap Bob tanpa berkedip. Biasanya, ia harus memberi perintah lebih jelas,
Pagi di London masih diselimuti kabut tipis ketika Yama menatap ponselnya dengan wajah dingin. Sejauh ini, Bob belum mendapatkan kabar apa pun tentang Dea. Setiap upaya untuk melacak keberadaannya di Inggris selalu menemui jalan buntu. Sepertinya nenek telah menggunakan kekuasaannya untuk menghalangi mereka mendapatkan informasi. Untuk saat ini, Yama memutuskan untuk fokus penuh pada proyek yang ditugaskan kepadanya.“Masih tidak ada kabar?” Yama bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela suite hotelnya.Bob menggeleng. “Kami sudah mencoba berbagai cara, tapi tidak ada satu pun petunjuk. Sepertinya seseorang telah menutupi semua jejaknya dengan sangat rapi.”Yama menghela napas panjang, lalu merapikan dasinya. “Kalau begitu, kita mainkan dulu permainan ini sesuai aturan mereka.”Sesaat kemudian, Yama tiba di lapangan polo kerajaan dengan penuh persiapan. Ia mengenakan
{Laporkan bahwa kartu itu hilang dan lakukan pencarian terhadap tersangka pencurian kartu.}Beberapa menit kemudian, perintah itu dijalankan. Dea masih berdiri di depan meja kasir saat membayar biaya tambahan untuk ayahnya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara mesin EDC yang berbunyi nyaring."Maaf, kartu Anda ditolak," ujar petugas administrasi dengan ekspresi meminta maaf dan wajah penuh kecurigaan."Apa? Itu tidak mungkin," gumam Dea panik. Dia mengeluarkan kartu itu lagi dan mencobanya sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Kartu itu tidak dapat digunakan.Panik mulai menjalari tubuhnya. Dia mencoba menghubungi Meisya, tetapi jawaban dari mesin penjawab membuatnya semakin putus asa.Di saat yang sama, Meisya sedang berada di dalam pesawat ekonomi dan sedang berhadapan dengan beberapa hal yang membuatnya ingin muntah setiap saat."Maaf, Nona. Kartu ini telah dila
Wanita itu bahkan membuang benihnya dengan menelan obat kontrasepsi, serendah itukah moralnya sebagai seorang wanita? Sejijik itukah dia untuk memiliki bayi bersamanya?Yama mendengus dan mengepalkan tangannya erat-erat! Sklera merah pada matanya membuat sorotan tatapannya tajam seperti elang yang hendak membunuh mangsanya. Dia membenci Dea!Setibanya di hotel, Yama langsung masuk ke suite mewahnya tanpa banyak bicara. Ia membuka laptop dan mulai membaca laporan-laporan yang dikirimkan Bob satu hari sebelumnya. Sementara Bob mengekori langkah majikannya sambil berulang kali meniup tangan dan menempelkannya ke telinga untuk mengatasi dengung akibat jetflag yang ia alami dalam setiap penerbangan.Setiap detail tentang proyek ini telah dipersiapkan dengan matang. Da membaca ulang daftar tamu yang akan menghadiri pesta kerajaan. Ada beberapa nama yang menarik perhatiannya—tokoh bisnis, politisi, serta anggota keluarga kerajaan
Bob tidak tahan lagi. Dengan cepat, ia melangkah maju, menarik Jean dari genggaman Ayah tirinya."Hei, kau siapa? Sekuriti!" teriak Ayah tiri Jean mulai marah."Aku pacarnya," kata Bob dengan nada tegas. "Dan kamu hanya ayah tirinya. Kamu tidak punya hak mengurusnya!"Semua orang di ruangan itu terkejut. Termasuk Jean yang kini berada dalam pelukan Bob."Ada apa ini?" Ibu Jean datang menghampiri mereka dan sedikit terkejut melihat keberadaan Bob dalam pesta mereka, "hei, bagaimana kamu bisa masuk kemari?"Ayah tiri Jean menyipitkan mata. "Apa maksudmu? Panggil sekuriti, lepaskan putriku!"Bob menarik napas dalam sebelum mengucapkan kalimat yang membuat ruangan membeku."Kami bahkan sudah tinggal bersama. Kita akan menikah dalam waktu dekat! Jean milikku! Dia bukan putri kecil milikmu lagi, mengerti!? "Suasana mendadak hening.
"Siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke Inggris. Aku ingin kita berangkat dalam tiga hari. Selain itu, selidiki bagaimana cara mendapatkan perhatian dari sang Pangeran dan Ratu. Kita tidak bisa datang begitu saja dan berharap mereka tertarik dengan proyek kita. Kita harus mencari cara yang lebih cerdas."Bob mengangguk, mencatat perintah itu dalam kepalanya. "Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi beberapa kontak di sana dan mencari tahu informasi lebih lanjut.""Bagus. Dan satu hal lagi, pastikan kita mendapatkan akses ke pesta perayaan yang diadakan oleh sang Ratu. Itu akan menjadi langkah pertama kita."Bob tersenyum kecil. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan memastikan undangan itu ada di tangan Anda sebelum keberangkatan kita."Namun sebelum Bob keluar ruangan, ia tampak ragu sejenak. Yama yang peka terhadap perubahan ekspresi orang-orang di sekitarnya segera menyadarinya.
Yama masih menatap Neneknya. Dia tidak percaya sepenuhnya karena dia mengenal kedua wanita beda generasi itu dengan baik. Ada hal lain yang perlu dipastikan sebelum ia benar-benar memutuskan segalanya."Nek, kamu ingin aku segera menyelesaikan proyek di Inggris, bukan?" tanyanya, mencoba menegaskan posisinya dalam keputusan ini.Sang Nenek mengangguk lagi. "Ya, sesudah itu, kalian akan melangsungkan pernikahan. Hal itu sudah kusampaikan dari jauh hari sebelum kamu bertemu dengan Dea si murahan itu."Meisya menahan senyum kemenangan di balik ekspresi datarnya. Ini berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan."Baik," Yama akhirnya berkata. "Aku akan segera berangkat ke Inggris dan menyelesaikan semuanya.""Aku ikut," selak Meisya cepat, nadanya penuh ketegasan.Yama menoleh padanya dengan ekspresi kesal. "Terserah!" sahutnya ketus sebelum beranjak pergi.