Jantungnya berdegup kencang, wajahnya memanas. Ia hampir kehilangan keseimbangan karena shock dengan keberadaan Yama di belakangnya secara tiba-tiba, tetapi sebelum tubuhnya jatuh, tangan Yama dengan sigap menarik pinggangnya dan menahannya agar tetap berdiri.
Kedekatan ini…
Dea bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu dari belakangnya. Napasnya tercekat, sementara pikirannya mendadak kosong.
Gawat!
Yama… mengetahui bahwa dia masih perawan di malam itu. Wajah Dea terasa panas, membayangkan malam penuh gairah yang sudah mereka alami tanpa bisa dicegah saat itu. Walau kesadarannya minim saat itu, tetapi dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia ikut menikmati pelayanan yang diberikan pria tampan tanpa kekurangan itu.
Ia berusaha mengumpulkan pikirannya dan menjawab, meskipun suaranya terdengar lebih gugup dari yang ia harapkan. "A-aku, aku sudah pasti lebih mahal!"<
Sementara itu, Yama terus menatapnya dan tertawa kecil dalam hati. Wanita itu tampak seperti bidak catur yang baru saja terpojok tanpa jalan keluar.Taktik yang sangat sempurna!Seolah belum cukup menjebaknya, Yama melanjutkan dengan nada lembut namun mematikan, "Aku memiliki sebuah rumah kecil. Mari kita menikah dan tinggal bersama di rumah itu. Aku akan melayanimu setiap malam.""Tidak usah!" pekik Dea panik.Wajahnya semakin merah, entah karena marah, malu, atau frustasi menghadapi pria yang satu ini.Ia benar-benar terperangkap!Senyum Yama semakin melebar. "Kenapa tidak? Bukankah ini solusi terbaik?"Dea buru-buru mendorong tubuh Yama sehingga ada jarak untuk melarikan diri. Yama mengikuti gerakannya saat ia mundur selangkah demi selangkah, Yama menatapnya seolah ia tidak punya tempat untuk lari.Dalam hati, Dea
"Pergi," perintahnya dingin. "Cari tahu siapa gadis itu, dan suruh seseorang untuk memberinya pelajaran. Aku tidak peduli siapa dia—dia tidak boleh ada dalam kehidupan Yama."Meisya menatap nenek Yama dengan mata berbinar penuh harapan. "Nenek benar-benar akan membantuku?"Nenek Yama menatap Meisya dengan tajam. "Kau sudah membuktikan kesetiaanmu. Kau seharusnya menjadi istri Yama, bukan gadis tidak tahu diri itu.""Terlebih bila dia mirip Ibu Yama," lanjutnya.Meisya tersenyum penuh kemenangan. "Aku tidak akan mengecewakan Nenek."Di dalam ruang kaca yang penuh dengan tanaman hias itu. Meisya masih berlutut di hadapan nenek Yama, menunggu instruksi selanjutnya, sementara wanita tua itu menatapnya dengan sorot mata dingin dan penuh perhitungan.Matanya menyipit, seolah kenangan masa lalu kembali mengusik pikirannya."Meisya, kau tahu mengapa Nene
Kakinya terasa lemas, tetapi ia menolak menunjukkan kelemahannya di hadapan wanita tua itu. Meisya mengepalkan tangannya lebih erat, berusaha menahan getaran yang mulai menjalari tubuhnya."B-baik, Nek. Meisya... mengerti.""Pergilah dan hapus air matamu," ujar Nenek Yama tanpa menoleh lagi. "Menantu keluarga yang kupilih bukan seseorang yang cengeng!""Jangan samakan dirimu dengan istri simpanan putraku, tidak berguna! Aku mengambil dan mengasuh Yama adalah karena dia satu-satunya darah dagingku yang tersisa. Sementara waniyta tidak berguna yang seperti Ibu Yama..." Kedua mata Nenek Yama menyipit, menatap kosong ke arah bunga mawar yang sedang mekar.Sret...Kepala bunga mawar yang sudah mekar dengan indah itu terputus lalu jatuh ke tanah seolah-olah tidak berharga sama sekali.Meisya merasa gentar dan bisa menilai keseriusan dalam setiap kalimat sang nenek.Keheni
Polisi menoleh ke arahnya. “Kami menemukan bukti tertulis yang menunjukkan bahwa Ibu Anda bertanggung jawab atas Bapak Jonatan.”“Itu palsu!” teriak Yama. “Ibu tidak mungkin melakukan ini!” Ibu Yama menatap Yama memelas, meminta perlindungan."Yama, Nak, dengarkan Ibu. Semalam ada seorang wanita bernama Dea, dia yang menjebak ibu sehingga menandatangani surat itu. Surat itu kosong awalnya, Nak itu jebakan..."Lalu—sebuah suara lain terdengar.Nenek Yama berdiri di belakang mereka, dengan wajah penuh kesedihan yang dibuat-buat.“Jangan biarkan dia berbicara lagi,” potongnya dengan nada penuh luka. “Dia telah membunuh putraku… dan mungkin juga dia akan mencelakai aku yang sudah tua ini, suatu saat.”Semua orang menoleh.Yama menatap neneknya dengan terkejut. “Nen
Meisya tersenyum misterius. "Kau akan segera mengetahuinya."Ia harus memainkan kartunya dengan hati-hati. Yama bukan orang bodoh. Jika ia ingin menang, ia harus menjadi lebih cerdik dari siapa pun.Beberapa saat berlalu dalam keheningan dan makanan mulai disajikan. Melihat Yama yang masih menatap makanan di hadapannya dengan ragu, Meisya tertawa kecil."Mengapa hanya sebuah makan malam sudah membuatmu ragu? Apakah kamu takut aku meracunimu?"Yama menengadahkan kepalanya, menatap Meisya dalam-dalam, mencari keseriusan dalam kalimatnya."Ya, sudah," ucap Meisya seraya menukar piring makanannya dengan piring makan Yama. "Kamu memang penuh dengan kewaspadaan, tetapi bila aku berniat meracunimu, aku tidak akan mengajakmu ke restoran mewah, hanya butuh sedikit kacang dan kamu akan sesak napas," kekeh Meisya."Makanlah sebelum dingin," lanjutnya.***Beberapa saat
Dengan alis mengernyit, ia membuka pesannya. Sebuah lokasi hotel dan pesan yang mengabari bahwa Yama berada dalam situasi yang membahayakan."Astaga..." Dea langsung bangkit, kain pel yang dipegangnya terjatuh ke belakang.Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Tanpa ragu, Dea mengambil tasnya dan berlari keluar dari restoran tanpa mengganti pakaian kerja.Dea sampai di hotel dalam waktu lima belas menit.Jantungnya berdebar kencang saat ojek online yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang masih sibuk meski malam sudah larut. Pikirannya dipenuhi tanda tanya.Apa yang terjadi dengan Yama? Kenapa dia mengirimkan lokasinya tanpa penjelasan? Kenapa suaranya terdengar begitu putus asa?Begitu motor berhenti di depan hotel, Dea segera turun tanpa menunggu kembalian. Ia berlari masuk, tatapannya langsung menyapu lobi yang megah. Panik ...
Hatinya berdegup kencang, bukan karena rasa malu, tetapi karena kebingungan."Buka dalamanmu!"Dea menggeleng dengan rasa panik. Yama menatapnya dengan mata penuh intensitas. Dalam tatapan itu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar nafsu. Ada permohonan."Tolong aku."Dea membeku. Ia bisa melihat kelelahan dalam sorot mata Yama. Ia tidak sedang bermain-main.Dea menggigit bibirnya, tangannya gemetar. Ia ingin berteriak, ingin marah, ingin meminta penjelasan. Tapi sesuatu dalam dirinya menyuruhnya percaya. Maka ia pun pasrah. Dea membuka dalamannya lalu menutupi dengan handuk."Tidurlah di ranjang," perintahnya kepada Dea.Lalu Yama bergerak membuka pintu. Di luar, Meisya berdiri dengan wajah penuh harap. Namun, begitu melihat apa yang ada di balik pintu, wajahnya langsung pucat.Yama hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangny
Dea langsung tersentak mundur. Matanya melebar, dadanya berdegup lebih cepat."Apa maksudmu…?"Yama mengusap wajahnya kasar. Menelusuri lekuk tubuh Dea yang hanya tertutup handuk sebagian. Betapa menderita bagian dirinya yang meronta sedari tadi.Betapa dia menginginkan wanita itu lebih dari obat yang dia membuatnya menderita. Artinya, tanpa obat sekalipun, dia sangat menginginkan Dea."Aku tahu ini salah… Tapi aku masih terpengaruh obat itu, Dea. Aku tidak bisa ke rumah sakit dalam kondisi seperti ini! Aku tidak bisa membiarkan siapa pun melihatku seperti ini!"Napas Dea tercekat. Sekarang dia paham.Dea menggigit bibirnya, menatap pria di depannya. Yama masih juga berjuang melawan efek yang menyerangnya. Mata Yama terlihat gelap, penuh gejolak yang ia sendiri tidak bisa kendalikan walau pria itu sudah mencoba menenggalamkan dirinya ke dalam air dingin.
Di dalam kamar hotel yang mewah dengan lampu redup, Meisya duduk di atas sofa berlapis beludru berwarna lembut. Jemarinya yang ramping menggulung layar ponsel berisi setumpuk foto yang baru saja dikirimkan kepadanya. Bibirnya menipis, matanya menyipit menatap gambar-gambar itu.Dea tampak tersenyum di salah satu foto, duduk berdampingan dengan Sanjaya di sebuah kafe. Di foto lain, pria itu terlihat menatapnya dengan intensitas yang sulit diartikan. Meisya menggigit bibirnya, menahan amarah yang mendidih di dadanya. "Tatapan penuh cinta! Menggelikan pria munafik ini!"Dalam foto lain, Sanjaya terlihat sedang menikmati makanannya dengan Dea di kursi rumah sakit. Sebuah pemandangan yang menunjukkan keakraban mereka dalam berbagi moment kebersamaan, tetapi Meisya tidak merasa tertarik sama sekali."Cih! Foto yang membuang uang!" geram Meisya.Dia sangat kesal karena Yama tetap saja memikirkan Dea, meskipun ia telah me
Namun, secepat kilat, Dea melangkah mundur, kedua matanya melebar lalu berlari menjauh. “Aku bau sekali! Dan kau gila!” serunya tanpa menoleh lagi.Yama hanya bisa terpaku, menatap punggung Dea yang semakin menjauh, meninggalkannya dengan seribu pertanyaan yang belum terjawab. Yama bertempur dengan perasaannya sendiri, dia sangat membenci wanita itu sekaligus ingin menciumnya. "Ya, dia memang bau sekali saat ini, bau kuda! Tetapi aku benar-benar ingin menciumnya!" geram Yama dengan kedua mata mulai memerah bercampur amarah.“Bob!” panggilnya tiba-tiba.Asistennya yang selalu sigap itu segera menghampiri. “Ya, Tuan!”“Saya mengerti dan akan segera pergi mengikutinya untuk mencari tahu semua data!” kata Bob dengan penuh semangat.Yama sedikit terkejut. Menoleh, menatap Bob tanpa berkedip. Biasanya, ia harus memberi perintah lebih jelas,
Pagi di London masih diselimuti kabut tipis ketika Yama menatap ponselnya dengan wajah dingin. Sejauh ini, Bob belum mendapatkan kabar apa pun tentang Dea. Setiap upaya untuk melacak keberadaannya di Inggris selalu menemui jalan buntu. Sepertinya nenek telah menggunakan kekuasaannya untuk menghalangi mereka mendapatkan informasi. Untuk saat ini, Yama memutuskan untuk fokus penuh pada proyek yang ditugaskan kepadanya.“Masih tidak ada kabar?” Yama bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela suite hotelnya.Bob menggeleng. “Kami sudah mencoba berbagai cara, tapi tidak ada satu pun petunjuk. Sepertinya seseorang telah menutupi semua jejaknya dengan sangat rapi.”Yama menghela napas panjang, lalu merapikan dasinya. “Kalau begitu, kita mainkan dulu permainan ini sesuai aturan mereka.”Sesaat kemudian, Yama tiba di lapangan polo kerajaan dengan penuh persiapan. Ia mengenakan
{Laporkan bahwa kartu itu hilang dan lakukan pencarian terhadap tersangka pencurian kartu.}Beberapa menit kemudian, perintah itu dijalankan. Dea masih berdiri di depan meja kasir saat membayar biaya tambahan untuk ayahnya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara mesin EDC yang berbunyi nyaring."Maaf, kartu Anda ditolak," ujar petugas administrasi dengan ekspresi meminta maaf dan wajah penuh kecurigaan."Apa? Itu tidak mungkin," gumam Dea panik. Dia mengeluarkan kartu itu lagi dan mencobanya sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Kartu itu tidak dapat digunakan.Panik mulai menjalari tubuhnya. Dia mencoba menghubungi Meisya, tetapi jawaban dari mesin penjawab membuatnya semakin putus asa.Di saat yang sama, Meisya sedang berada di dalam pesawat ekonomi dan sedang berhadapan dengan beberapa hal yang membuatnya ingin muntah setiap saat."Maaf, Nona. Kartu ini telah dila
Wanita itu bahkan membuang benihnya dengan menelan obat kontrasepsi, serendah itukah moralnya sebagai seorang wanita? Sejijik itukah dia untuk memiliki bayi bersamanya?Yama mendengus dan mengepalkan tangannya erat-erat! Sklera merah pada matanya membuat sorotan tatapannya tajam seperti elang yang hendak membunuh mangsanya. Dia membenci Dea!Setibanya di hotel, Yama langsung masuk ke suite mewahnya tanpa banyak bicara. Ia membuka laptop dan mulai membaca laporan-laporan yang dikirimkan Bob satu hari sebelumnya. Sementara Bob mengekori langkah majikannya sambil berulang kali meniup tangan dan menempelkannya ke telinga untuk mengatasi dengung akibat jetflag yang ia alami dalam setiap penerbangan.Setiap detail tentang proyek ini telah dipersiapkan dengan matang. Da membaca ulang daftar tamu yang akan menghadiri pesta kerajaan. Ada beberapa nama yang menarik perhatiannya—tokoh bisnis, politisi, serta anggota keluarga kerajaan
Bob tidak tahan lagi. Dengan cepat, ia melangkah maju, menarik Jean dari genggaman Ayah tirinya."Hei, kau siapa? Sekuriti!" teriak Ayah tiri Jean mulai marah."Aku pacarnya," kata Bob dengan nada tegas. "Dan kamu hanya ayah tirinya. Kamu tidak punya hak mengurusnya!"Semua orang di ruangan itu terkejut. Termasuk Jean yang kini berada dalam pelukan Bob."Ada apa ini?" Ibu Jean datang menghampiri mereka dan sedikit terkejut melihat keberadaan Bob dalam pesta mereka, "hei, bagaimana kamu bisa masuk kemari?"Ayah tiri Jean menyipitkan mata. "Apa maksudmu? Panggil sekuriti, lepaskan putriku!"Bob menarik napas dalam sebelum mengucapkan kalimat yang membuat ruangan membeku."Kami bahkan sudah tinggal bersama. Kita akan menikah dalam waktu dekat! Jean milikku! Dia bukan putri kecil milikmu lagi, mengerti!? "Suasana mendadak hening.
"Siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke Inggris. Aku ingin kita berangkat dalam tiga hari. Selain itu, selidiki bagaimana cara mendapatkan perhatian dari sang Pangeran dan Ratu. Kita tidak bisa datang begitu saja dan berharap mereka tertarik dengan proyek kita. Kita harus mencari cara yang lebih cerdas."Bob mengangguk, mencatat perintah itu dalam kepalanya. "Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi beberapa kontak di sana dan mencari tahu informasi lebih lanjut.""Bagus. Dan satu hal lagi, pastikan kita mendapatkan akses ke pesta perayaan yang diadakan oleh sang Ratu. Itu akan menjadi langkah pertama kita."Bob tersenyum kecil. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan memastikan undangan itu ada di tangan Anda sebelum keberangkatan kita."Namun sebelum Bob keluar ruangan, ia tampak ragu sejenak. Yama yang peka terhadap perubahan ekspresi orang-orang di sekitarnya segera menyadarinya.
Yama masih menatap Neneknya. Dia tidak percaya sepenuhnya karena dia mengenal kedua wanita beda generasi itu dengan baik. Ada hal lain yang perlu dipastikan sebelum ia benar-benar memutuskan segalanya."Nek, kamu ingin aku segera menyelesaikan proyek di Inggris, bukan?" tanyanya, mencoba menegaskan posisinya dalam keputusan ini.Sang Nenek mengangguk lagi. "Ya, sesudah itu, kalian akan melangsungkan pernikahan. Hal itu sudah kusampaikan dari jauh hari sebelum kamu bertemu dengan Dea si murahan itu."Meisya menahan senyum kemenangan di balik ekspresi datarnya. Ini berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan."Baik," Yama akhirnya berkata. "Aku akan segera berangkat ke Inggris dan menyelesaikan semuanya.""Aku ikut," selak Meisya cepat, nadanya penuh ketegasan.Yama menoleh padanya dengan ekspresi kesal. "Terserah!" sahutnya ketus sebelum beranjak pergi.
“Jadi, kau baru menyadarinya sekarang?”Suara lembut itu menyusup masuk ke dalam ruangannya seperti angin dingin. Yama tidak menoleh. Bahkan tidak menegadahkan kepalanya. Ia tahu siapa yang berbicara. Meisya, wanita yang selama ini duduk di sisi sang nenek, menatapnya dengan senyum simpati yang penuh arti.“Aku sudah menduganya sejak awal,” lanjut Meisya, berdiri dengan anggun lalu melangkah mendekati Yama dan duduk di sampingnya dengan elegan.“Tapi aku tidak ingin ikut campur. Aku ingin kau sendiri yang menyadari siapa Dea sebenarnya.”"Namun, dari hari ke hari, dia malah semakin menjadi-jadi."Yama diam. Matanya masih terpaku pada bukti-bukti di hadapannya. Meisya bergerak perlahan, lalu dengan lembut mengambil salah satu foto yang ada di meja dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.“Dia tidak pernah benar-benar mencintaimu, Yama,” bisiknya pelan,