Suasana malam kali ini belumlah terlalu larut, tapi karena tempat yang sedang dituju oleh Rangga kali ini adalah sebuah daerah yang sangat terpencil, maka terasa begitu mencekam. Ditambah lagi lampu penerangan dari PLN, belum sampai di tempat tersebut. Rimbunnya pohon-pohon besar disepanjang jalan, membuat bulu kuduk meremang bagi siapun yang melewati jalan itu.
Dari kejauhan yang tersorot oleh lampu mobil yang sedang dikemudikan oleh Rangga, nampak sesosok wanita dengan pakaian compang-camping berusaha menghentikan laju mobilnya. Tentu saja hal itu membuat jantung Rangga seakan berhenti seketika, dan kemudian melambatkan kecepatan kendaraannya. Terlihat wanita itu berjalan lemah dan sempoyongan ke arah mobilnya, kemudian ambruk seketika. Rangga pun dengan segera menghentikan kendaraannya, tapi tidak langsung menghampiri wanita itu. Dirinya masih dalam keadaan waspada dan memperhatikan sekeliling, khawatir jika dirinya masuk kedalam perangkap orang jahat. Tangannya mencari sebuah benda yang selalu disembunyikan dalam dashboard mobilnya, dan kemudian memasukan barang tersebut kedalam kantong celananya.Rangga keluar dari dalam mobilnya, setelah ia merasa yakin keadaan disekitarnya aman. Dengan berlari kecil, dirinya mendekati sosok wanita itu.“Astaghfirllah!” pekik Rangga tertahan, kala melihat kondisi yang sangat mengenaskan dari wanita itu. Bagaimana tidak, wajahnya melepuh dan tubuhnya pun nyaris penuh dengan luka yang menganga.“Wanita ini masih hidup, aku harus segera membawanya ke rumah sakit,” gumamnya setelah mengecek denyut nadi dari pergelangan tangan dan juga hembusan napas dari hidung wanita tersebut.Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Rangga berusaha membopong tubuh wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Kondisi Rangga yang sudah tidak muda lagi, membuatnya kepayahan. Namun karena niatnya untuk menolong, dengan tertatih-tatih akhirnya Rangga membaringkan tubuh wanita itu di kursi belakang.“T-to-tolong se-selam-atkan saya, Tu-tuan,” lirih terdengar suara perempuan itu terdengar di telinga Rangga, kala tiba-tiba saja wanita itu mencekal lengan Rangga.“Tenanglah! Saya akan membawamu ke rumah sakit segera!” Rangga menjawab dengan tegas, dan setelah mendengar jawaban darinya, perempuan itu terkulai lemas tak berdaya. Segera Rangga menutup pintu mobil dan berlari memutar kearah pintu mobil lainnya. Setelah berada dibelakang kemudi, dengan kecepatan tinggi ia memacu kendaraannya agar bisa segera sampai di rumah sakit.Selama dalam perjalanan, Rangga mencoba menghubungi sahabatnya yang menjadi dokter spesialis penyakit dalam.“Hallo Ga, ada apa malam-malam begini telepon? Sakitmu kumat lagi?” tanya Zaldi dengan suara malas, ketika terlihat olehnya nama sahabatnya yang menghubunginya.“Tolong Zal, aku sedang membutuhkan pertolonganmu. Cepatlah siaga di AMINAH, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat. Nanti aku hubungi kembali!” Rangga kemudian menutup pembicaraan begitu saja, karena dirinya harus fokus mengemudi.Beruntunglah dari jauh sudah terlihat sebuah bangunan rumah sakit yang sempat dilaluinya tadi. Bergegas Rangga membelokkan kendaraannya memasuki bangunan tersebut, kemudian berhenti tepat di depan pintu IGD. Kemudian ia keluar dari mobilnya dan berlari memasuki gedung seraya berteriak, “Tolong … Dokter, Suster … tolong bantu saya!”Beberapa perawat kemudian berlari mengikuti Rangga menghampiri mobilnya. Saat Rangga membuka pintu kendaraannya, perawat terhenyak dan saling menoleh satu sama lain. Tak lama kemudian mereka sadarakan situasi darurat yang sedang dihadapinya, kemudian membantu tubuh lemah yang tergolek di dalam mobil dan meletakannya diatas brankar yang mereka bawa. Dengan tergesa-gesa perawat mambawanya ke dalam ruang tindakan, dimana beberapa Dokter pun telah sigap menunggu untuk memberikan pertolongan. Sementara Rangga berdiri mematung di tempat tak jauh dari kamar pemeriksaan.Terasa berabad bagi Rangga, menunggu seseorang keluar dari dalam sana, untuk menemuinya dan mengabarkan tentang keadaan wanita itu. Hingga terdengar suara ponsel dari dalam kantong celananya menjerit, segera ia meraih benda tersebut. Tertera nama sahabatnya dilayar, segera ia memijit tombol hijau.“Ya Zal,”“Ga, kondisi darurat apa yang kamu maksudkan tadi? Aku sudah di rumah sakit sekarang?”“Tunggulah sebentar Zal, akupun belum tahu situasinya saat ini. Yang jelas aku membutuhkan bantuanmu sesegera mungkin. Aku gak tahu apa yang mesti kulakukan sekarang,”“Katakan posisimu sekarang, Ga.”“Aku di rumah sakit Karya Bhakti ….”Tuut!Komunikasi pun terputus sepihak, Rangga pun kembali memasukan ponselnya dan kini ia bergerak menuju kursi tunggu, hendak duduk di sana. Kurang lebih satu jam lamanya menunggu, hingga akhirnya salah seorang dokter keluar dengan wajah lelahnya. Rangga bergegas berdiri menghampiri dokter tersebut.“Bagaimana kondisi pasien, Dok?”“Saudara keluarga pasien?”“Bukan, saya yang menemukan pasien dijalan dalam keadaan mengenaskan. Kemudian berinisiatif membawanya kesini, untuk mendapatkan pertolongan,”“Semua luka-lukanya sudah dibersihkan dan dijahit, karena banyaknya luka tersebut, menyebabkan lamanya tindakan. Sejauh ini kondisinya masih kritis, semoga saja masih ada keajaiban untuknya. Selain itu juga kondisi wajahnya yang melepuh, saya rasa sangat sulit untuk bisa kembali pulih. Kemungkinan pasien merupakan korban tindakan kekerasan, karena terbukti melepuhnya kulit pasien disebabkan terkena dari cairan kimia yang berbahaya. Jadi saran saya lebih baik bapak juga melaporkan kasus ini ke polisi, kalau begitu saya permisi pak.” ucap sang dokter kemudian berlalu meninggalkan Rangga yang masih termangu mendengar penjelasannya, kemudian menghempaskan bokongnya kembali di kursi yang ia duduki tadi.Tak lama kemudian dirinya tersentak saat sebuah tangan menyentuh bahunya, “Ah kau rupanya, Zal. Cepat sekali?” Rangga menatapnya dengan heran.“Aku pakai motor salah satu karyawan yang sedang piket, jadi sekarang katakan, apa yang harus kulakukan sampai kamu mengganggu waktu istirahatku?” jawab Zaldi seraya menatap sahabatnya itu lekat. Dengan menghela napas sebelumnya, Rangga menceritakan kronologis kejadian yang dialaminya.“Jika kejadiannya seperti itu, tentu saja kamu harus melaporkannya ke polisi. Siapa tahu saat ini keluarganya sedang kebingungan mencari kabar tentang wanita itu, ayolah, kuantar kamu lapor sekalian,” ujar Zaldi.“Tunggu dulu Zal, aku belum tahu bagaimana keadaan wanita itu sekarang. Setidaknya aku tahu jika ia sudah baik-baik saja sekarang,” sahut Rangga seakan enggan untuk meninggalkan wanita di dalam sana sendirian.“Heeei, ada apa denganmu kawan? Mengapa kamu bersikap seperti ini? Apa kamu kenal dengannya?” tanya Zaldi bertubi-tubi.“Entahlah Zal, hatiku berkata ada sesuatu yang membuatku harus menolongnya. Aku sendiri gak tahu itu apa,” keluh Rangga seraya menatap sendu pada sahabatny itu.“Aku mengenalmu bukan hanya satu atau dua hari Ga, tapi sudah puluhan tahun yang lalu sejak kita menggunakan seragam putih abu. Jadi aku tahu betul seperti apa dirimu, dan kali ini aku percaya instingmu, tenanglah …,” papar Zaldi sembari memukul pelan bahu Rangga, berharap ucapanya bisa sedikit menenangkan perasaan sahabatnya itu.“Thanks Bro …,” jawab Rangga dengan senyum simpulnya.Tak lama seorang perawat menghampiri Rangga, seraya menyerahkan sesuatu dalam plastic bening.“Maaf pak, silahkan mengurus administrasinya di depan, agar pasien segera dipindahkan ke ruang ICU. Dan ini, kami sudah mengganti pakaian pasien dengan baju rumah sakit, permisi,” pamit perawat tersebut setelah bungkusan tersebut diterima oleh Rangga.Terbelalak mata Rangga ketika melihat yang ada didalam bungkusan itu, wajahnya pucat dan kemudian terduduk dengan panik.“I-ini kan, d-dia …”“I-ini kan, d-dia …” ucap Rangga terbata-bata, keringat mulai membasahi keningnya. Malihat itu, tentu saja membuat Zaldi terkejut.“Ga, ada apa?”“B-ba-baju ini Zal, aku tahu siapa pemakainya. Karena tadi siang wanita itu yang sudah menyelamatkan nyawaku,” jawab Rangga, membuat Zaldi kaget bukan kepalang.“Apa maksudmu, Ga?”Flash back on***Saat aku baru saja keluar dari kantor pengacara untuk menyerahkan data-data kelengkapan gugatan kerjasama dengan salah satu relasi bisnis, tiba-tiba saja dua unit motor menghentikan laju kendaraan yang sedang kukemudikan. Disebuah tempat yang tidak terlalu ramai, dua orang menghampiriku dan mengetuk kaca pintu mobilku.Tok! Tok! Tok!Akupun hanya membuka sedikit kaca mobilku.“Turun!” ucap salah seorang dari mereka dengan mendelikan kedua matanya. “Turun atau kuhancurkan mobilmu sekalian!” kembali orang itu mengeluarkan ancaman.Dengan ketakutan, terpaksa kuikuti kemauannya. Kemudian kedua orang itu menarikku dan menghempaskan tubuhku mepet dengan
“Baiklah, saya menghargai privasi Anda. Satu hal yang harus saya katakan, saya lupa tadi menyampaikannya, bahwa pasien saat ini sedang mengandung janin berusia sekitar enam minggu.”“A-apaa? Hamiiil?” Rangga menatap wajah dokter itu dengan ekspresi terkejut bukan main. “Ya, itu saja yang ingin saya sampaikan. Permisi!” Dokter itu kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan Rangga yang masih terkejut dengan informasi yang baru saja didengarnya.Pria itu masih duduk tepekur dikursi, bergelut dengan pikirannya sambil menunggu Zaldi menyelesaikan urusan administrasi. Jelas sekali terlihat wajah kusutnya, seakan tengah menyimpan beribu beban dipundaknya. “Ga, Aku sudah menyelesaikan semuanya. Wanita itu sedang dalam proses persiapan pemindahan perawatan,” beber Zaldi yang tiba-tiba saja sudah duduk bersama Rangga.Zaldi yang melihat sahabatnya itu hanya diam tanpa menunjukan ekspresi apapun, merasa heran. Tak biasanya Rangga mengacuhkan ucapan dirinya seperti saat ini.“Ada apa lagi, Ga?” Z
“Wanita yang kau tolong itu, sekarang ….”“Sebentar Zal, wanita yang mana?” Rangga menatap sahabatnya dengan raut wajah yang bingung.“Hah sudahlah! Ikut saja denganku!” Zaldi pun kemudian mengambil jas putihnya kemudian kembali berlari tanpa mengindahkan sahabatnya itu mengikutinya atau tidak. Masih dalam kondisi belum sepenuhnya tersadar dengan keadaan, Rangga pun mengikuti Zaldi berlari menyusuri koridor rumah sakit. Setelah melihat sahabatnya itu memasuki ruang ICU, langkahnya terhenti dan tercenung sejenak, ‘Siapa yang di dalam sana? Mengapa Zaldi terlihat begitu panik?’ Monolognya dalam hati.Meskipun begitu ia akhirnya tetap melanjutkan langkahnya, menuju ruangan di mana Zaldi sedang melakukan tugasnya. Dirinya berdiri mematung memperhatikan sahabatnya yang seperti sedang dilanda kepanikan luar biasa di dalam sana. Tak lama kemudian masuk seseorang yang ia tahu bahwa itu adalah dokter ahli kandungan. Seorang perawat hendak menutup tirai
“Apa ini?”Tertera Zora Intan Prameswari disampul surat, berlogo sebuah klinik kesehatan. Bergegas pria itu membuka surat tersebut, seketika itu pula matanya terbelalak kala ia telah membaca semua yang tertulis dalam surat itu.“Ya Tuhan! Apa yang sudah kulakukan?” Pria itu terduduk lemas diatas kasur, sembari mengusap wajahnya kasar dan bergumam.“Jadi, kamu sedang mengandung buah hati kita sayang? Karena itukah, kamu mendesakku untuk segera menikah?” Kembali laki-laki itu mengungkapkan penyesalannya, bahkan kini tanpa ia sadari tetesan air matanya mulai membasahi kedua pipinya.Wajah tampan nan rupawan itu kini tergugu, kala menyadari kekeliruannya. Semakin lama tangisan itu berubah menjadi raungan yang menyesakkan. Tiba-tiba saja ia bangkit dan berlari menuju balkon tempatnya tadi ia bersantai, seperti orang gila ia mencari-cari serpihan kecil foto mereka yang sudah ia hancurkan, kini dipungutinya satu per satu serpihan itu bersama uraian air m
Namun semua mimpi dan harapannya lenyap, saat suatu hari Hendrick memberikan sebuah kenyataan yang membuat Rangga sangat murka. Dan hal inilah yang disesalinya hingga kini ….Hendrik yang saat itu telah dijodohkan dengan salah satu keluarga bangsawan dari suku Jawa, menolak perjodohan itu dengan dalih bahwa ia telah jatuh cinta dengan seorang wanita cantik yang dikenalnya kala menunaikan ikatan dinas kedokterannya di sebuah desa terpencil. Bahkan dalam waktu dekat berniat akan melamarnya.Mendengar jawaban jujur dari putranya itu, Rangga murka dan memberikan pilihan pada Hendrik. Menikah dengan wanita pilihan Rangga, atau tetap menikahi wanita pilihan putranya, tapi harus rela kehilangan semua fasilitas yang ia miliki sekarang.Hendrick yang saat itu sudah merasa yakin dengan pilihannya, akhirnya memilih melepaskan semuanya, ia pergi hanya menggunakan pakaian yang melekat dibadannya. Hal itu sungguh diluar perkiraan Rangga, bahwa putranya memilih jalannya sendiri.Itulah terakhir kali
“Dokter Abram. Tapi mulai hari ini beliau mengajukan cuti, selama tiga hari. Tapi anehnya, semua perawat dan dokter yang terlibat malam itu dipindah tugaskan secara mandadak. Hanya tertinggal Dokter Abram saja, termasuk saya sendiri. Kebetulan saat pasien datang, saya baru saja berganti shiff. Jadi tidak ikut dimutasi, entah itu suatu kebetulan belaka atau juga sebuah konspirasi. Saya tidak tahu,” tutur perawat itu menjelaskan.Mendengar informasi yang diberikan barusan, pria yang sejak tadi hanya diam menyimak, tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan kemudian menghubungi seseorang.“Hallo Boss, kami dapatkan informasi dari salah seorang perawat yang bertugas,”[ …]“Baik, Boss!” Kemudian pria itu memberikan ponselnya pada perawat tersebut, sang boss ingin bicara langsung dengan yang bersangkutan.“Ya, ha-hallo?” Perawat itu menyapa dengan terbata-bata karena didera gugup yang menyerangnya tiba-tiba.[ … ]“Iya benar, Tuan, apa yang saya ketahui sudah saya sampaikan pada mereka. Dan mer