Raden Amara tak bisa melanjutkan perkataanya karena Rababu tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya sambil terisak-isak. Memeluk erat seperti ingin melepaskan beban berat yang membelenggunya.
Ya, rasa cinta kepada raden Amara adalah penderitaannya karena dia sudah bersuami.Dibandingkan dengan Rahyang Sempakwaja suaminya, jelas Raden Amara lebih gagah dan tampan, karena suaminya hanyalah seorang yang mempunyai cacat di badannya.Raden Amara tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia memeluk erat-erat tubuh mulus Rababu. Bukankah ini yang diinginkan dari rencananya mengadakan pesta.Bukankah ini yang sangat diharapkannya, bisa berdekatan dengan sang pujaan hatinya walau sudah menjadi milik orang?Cinta memang bisa membuat buta segalanya, termasuk buta adat dan aturan, mereka telah lupa bahwa hal itu adalah tabu untuk dilakukan.Semakin lupa lagi karena nafsunya yang membara, Raden Amara memperlakukan Rababu seperti istrinya sendiri.Kabar ini dibawa oleh pembantu satu-satunya Ki Bantrangsana.Diberitakan bahwa tadi malam Purbasora membawa pasukan menyerbu markas Laskar Dewawarman.Pemimpin laskar yang tidak mampu mengimbangi kesaktian Purbasora akhirnya takluk.Diketahui ternyata markas Laskar Dewawarman masih berada di wilayah Indraprahasta. Semua anggota termasuk pemimpinnya dijebloskan ke penjara menanti hukuman.Kabar selanjutnya siang ini. Atas jasanya yang menumpas gerombolan Laskar Dewawarman, Purbasora dipercaya menggantikan Prabu Padmahariwangsa."Bagaimana?" tanya Ki Bantrangsana kepada semua yang berkumpul di ruang depan rumahnya.Mereka saling pandang satu sama lain. Kecuali Kameswara yang duduk di pojokan.Arya Soka ingat ramalan Kameswara. Bahwa Purbasora akan menjadi raja Indraprahasta sudah menjadi kenyataan sekarang."Ingat, pada akhirnya akan berujung ke sana!" ujar Ki Bantrangsana."Penyerbuan Laskar Dewawarman h
Pada malam harinya para pemuda langsung turun gunung. Mengemban misi. Mengingat letak kerajaan Galuh cukup jauh dari sana.Beruntung Ki Bantrangsana memberikan masing-masing kuda tunggangan. Jadi perjalanan mereka akan lebih cepat.***Kerajaan Galuh.Mendung menggelayuti wajah Prabu Sena Sang Raja di kerajaan Galuh. Sang Permaisuri bersimpuh bersandar ke lututnya. Sepasang suami istri ini dirundung gelisah tak menentu."Rasanya aku ingin berada di dekat Sanjaya," lirih Prabu Sena."Sampai kapan kita begini, Kanda?""Aku tetap bingung, Dinda. Setidaknya aku akan mempertahankan harga diri sebagai raja, walau kenyataannya aku hanya dianggap pajangan saja. Lebih baik mati terhormat dari pada jadi pecundang...""Tapi itu konyol, Kanda...""Setidaknya ada perlawanan, jangan mau ditindas... kecuali...""Kecuali apa?""Uwak Resi yang meminta langsung, maka dengan rela aku akan memberikannya,"
Hutan itu memang masih dekat dengan kawasan istana sehingga mudah saja bagi serombongan prajurit yang mengejar menemukan mereka."Itu mereka!""Tangkap!"Namun, beberapa langkah sebelum menyerbu, sesuatu melesat dari atas pohon tanpa sempat mereka menyadari.Bress! Bress!Bress!"Aaahhh...!"Rombongan pengejar menjerit lalu terjatuh, semuanya tak berkutik lagi.Mereka terkena senjata perangkap berupa rangkaian bambu runcing yang dipasang di atas pohon dan melesat ketika alatnya diinjak Arya Soka sang perancang alat itu.Setelah berhenti karena terkejut mendengar teriakan, Prabu Sena melanjutkan perjalanan lagi."Teman saya sudah memasang perangkap di sepanjang jalan yang akan kita lalui." jelas Kameswara."Kalian sudah merencanakan semuanya?" tanya Prabu Sena."Ya, Paduka, atas perintah guru kami,""Siapa?"Sambil berjalan penuh waspada Kameswara menceritakan siapa dia
Kejap berikutnya keduanya sudah bersiap dengan kuda-kuda mantap.Puspa Arum memaklumi kalau tokoh hampir tua ini memiliki tenaga yang besar pasti karena pengalaman. Sementara Nyai Permoni sedikit terkejut melihat perempuan yang masih muda memiliki kekuatan yang tak bisa dianggap sembarangan.Entah siapa yang mulai duluan, tahu-tahu keduanya bersamaan menerjang ke depan sambil mengayunkan senjata masing-masing.Trang!Dua senjata sama-sama menusuk ke sasaran namun bertemu dalam benturan sebelum mencapai tujuan.Begitu seterusnya, setiap salah satunya mengincar bagian yang mematikan maka yang satu lagi menangkis. Tidak hanya menangkis tapi dilanjutkan menyerang.Trang! Trang! Trang!Tongkat panjang Nyi Permoni kelihatannya lebih beruntung karena bisa menjangkau jarak lebih panjang, tapi pedang Puspa Arum yang lebih ringan juga kuat tak bisa dianggap remeh.Sampai sejauh ini keduanya belum mengerahkan ten
Si gemuk kerahkan semua tenaga dalam. Dialirkan ke kepala dan dua tangan. Seketika kepala dan dua tangan sebatas siku tampak berubah warna merah.Sementara si kurus tinggi mengambil jarak beberapa langkah kemudian membuat gerakan seperti menari. Jurus ini bukan sembarangan meski terlihat menggelikan.Lama kelamaan sosok yang bernama Destawana ini tampak seperti bayangan. Inilah jurus Kalangkang Ibing. Dengan jurus ini Destawana bisa bergerak lebih capat seperi bayangan.Sedangkan Madrawi mengeluarkan ajian Mastaka Wesi. Dengan ajian ini bagian tubuh yang berwarna merah itu menjadi kebal terhadap senjata.Kali ini Arya Soka dibuat kelimpungan. Pedangnya tidak mempan terhadap Madrawi, sementara dia juga harus bergerak lebih cepat guna menghindari serangan Destawana.Di sisi lain dia tidak mempunyai waktu untuk menambah tenaga dalam atau mengganti jurus. Kedua lawannya menutup semua celah.Keadaan berubah, Arya Soka terdesak. Akan t
Si Tombak Maut harus direpotkan dengan menghindar dan menangkis serangan tanpa bisa membalas. Ini juga prinsip persilatan, siapa yang lebih cepat dia yang akan unggul.Begitu hingga sepuluh jurus berikutnya lelaki setengah baya berambut gimbal ini mulai keteteran. Pikirannya juga mulai kacau. Masa sama gadis belia dia kalah?Tambah kacau lagi dengan gerakannya yang asal-asalan menghindar dan menangkis tidak sesuai lagi dengan pola gerak jurusnya.Sebenarnya ini kesempatan bagi Widuri untuk segera melumpuhkan lawannya. Tapi gadis ini mempunyai pikiran lain. Keadaan seperti ini malah digunakan untuk mempermainkan si gimbal.Dengan jurus pedangnya yang sudah sempurna dan sangat cepat dia terus mendesak lawan tak memberi kesempatan menyerang balik hingga Si Tumbak Maut itu tampak kelelahan dan mulai melambat gerakannya.Widuri menggunakan salah satu jurus ajaran Nyai Mintarsih, Dewi Pedang Menari. Sama seperti yang lain, selama perjalanan men
Jagat Kundalini meskipun berbadan seperti raksasa, tapi gerakannya cepat layaknya lelaki biasa seukuran Kameswara. Maka itu merupakan kelebihan.Karena setiap pukulan dari tenaga kasar saja akan menghasilkan hantaman kuat yang bisa meremukkan batu sebesar kepala.Apalagi kalau disertai tenaga dalam.Kalau bukan karena tenaga dalam yang besar, Kameswara mungkin akan kalah cepat dan sudah jadi bulan-bulanan serangan si tinggi besar berkepala botak ini.Sementara yang dirasakan si botak bermacam-macam. Ada rasa kepuasan seorang pendekar mendapatkan lawan yang tangguh.Ada perasaan penasaran siapa sebenarnya Kameswara, kenapa semuda ini sudah memiliki kemampuan luar biasa dan dari mana asalnya?Dan ada perasaan geram, karena pemuda ini bersikap menganggap enteng. Apa mungkin pemuda ini belum tahu nama besar Si Raja Begal?Lewat puluhan jurus Kameswara belum melakukan serangan balik. Dia masih membaca inti sari jurus yang dig
Tiba-tiba angin berhembus kencang. Purbasora tahu ini angin pertanda kehadiran seseorang, tapi dia tidak melihat siapapun. Hanya merasakan energi kehadirannya saja."Ayahanda!" Purbasora menjura."Dia adalah ancaman yang paling berbahaya daripada keluarga Sena. Jika kau ingin menyingkirkan semuanya, maka dia yang pertama harus dihabisi. Keluarga Sena akan bergantung padanya!"Suara itu terdengar tanpa memperlihatkan wujudnya. Menandakan betapa tinggi ilmunya. Pantas kalau disebut tokoh paling sakti di tanah Pasundan."Dia memiliki ajian Bantai Jagat dan Serap Sukma, kemungkinan dia juga memiliki ilmu Membalik Langit. Dari mana mendapatkannya?""Hal itu aku juga tidak bisa mengerti. Asal usulnya tidak jelas. Dia seperti datang dari dunia lain!"Adalah aneh kalau sekelas maharesi yang paling sakti tidak bisa menemukan asal usul Kameswara. Sedangkan Ki Jagatapa bisa tahu.Itu karena Ki Jagatapa memiliki keahlian khusus yang
Para wanita bajak laut membentuk beberapa kelompok. Masing-masing kelompok membuat sebuah formasi jurus. Mereka bergerak lebih dulu menyerang pasukan Sunda."Bagaimana, Gusti?" tanya Arya Soka kepada Sanjaya."Lumpuhkan saja, jangan sampai ada yang terbunuh!"Pertempuran pun terjadi. Terbagi menjadi beberapa kelompok. Walaupun jumlah pasukan tiga kali lebih banyak dari bajak laut Raja Sagara, tapi mereka cukup kesulitan.Selain karena kepandaian para wanita ini yang ternyata di atas rata-rata, juga perintah Sanjaya yang tidak boleh membunuh membuat mereka sedikit segan saat menyerang.Karena dalam perang, selain membunuh ya dibunuh. Kecuali lawan menyerah. Namun, yang ini beda, bertempur melawan pasukan yang semuanya perempuan.Sanjaya tidak melihat Kameswara di dekat sini, dia mengira pemuda ini pasti masih ada masalah lain. Lalu dia berkelebat mendekati Tuan Raja."Kau yang memimpin pasukan ini?" tanya Tuan Raja.
Langit-langit ruangan tiba-tiba terbuka. Tidak menyangka kalau di atas ada sebuah pintu dan juga ruangan lagi. Dari ruangan atas itu jatuh tiga benda sangat keras. Jatuhnya tepat di sekeliling Kameswara.Benda ini awalnya bulat sebesar orang meringkuk, ternyata memang benar itu adalah orang yang meringkuk karena sekejap kemudian mereka bardiri."Manusia batu?" gumam Kameswara melihat tiga benda yang jatuh tadi ternyata berwujud manusia, tapi terbuat dari batu."Lenyapkan penyusup ini!" perintah Tuan Raja kepada manusia batu.Tiga manusia batu serempak langsung menyerang Kameswara. Sebagai percobaan pemuda ini memapak salah satu pukulan manusia batu.Dukkk!"Aww!"Untung tulang Kameswara sudah sangat kuat, itu juga dilapisi tenaga dalam. Ada sedikit kebas saat beradu tadi. Selanjutnya Kameswara lebih banyak berkelit.Pertarungan tidak hanya di tempat itu, tapi perlahan bergerak ke tengah ruangan. Para wanita baja
Kameswara memperhatikan ruangan besar ini. Tidak ada lubang udara sama sekali, tapi semuanya tidak merasakan pengap. Jalan keluar masuk satu-satunya adalah yang sedang dia tempati sekarang.Pemuda ini menenangkan pikirannya. Mengendalikan degupan jantung yang tidak karuan. Bagaimana tidak, semua wanita ini bagai patung lilin. Polos tanpa busana."Pemujaan kepada Hyang Batara Gara, keyakinan macam apa ini? Wah, dasar si otak kotor!"Kameswara bergerak masuk ke ruangan utama di dalam bukit batu ini. Dia menuju satu sisi yang tadi terdapat batu kotak. Lalu dia menembus ruangan yang ada di bawahnya.Gelap juga, tapi tidak bagi Kameswara. Di ruangan ini terlihat adegan kotor yang dilakukan lelaki tinggi besar kepada wanita muda di atas batu kotak."Selain dijadikan anak buahnya sebagai bajak laut, rupanya dijadikan budak nafsunya juga. Ini orang lebih gila dariku!"Kameswara berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Masa menonton
Langit di sebelah selatan tampak hitam. Kilatan-kilatan petir menyeruak di balik awan tebal yang juga hitam.Di bawahnya, pusaran angin dahsyat membumbung tinggi. Membuat air laut pasang cukup tinggi.Akhirnya menciptakan gulungan ombak raksasa yang sampai ke tempatnya Kameswara mengayuh dengan tanaga dalam. Posisi berdirinya cukup kokoh, meski perahunya terombang-ambing."Rupanya ada badai, ini yang aku belum bisa. Membaca alam. Sepertinya aku akan terjebak dalam pusaran badai itu,"Sesakti apapun manusia, tidak akan bisa melawan ganasnya alam. Kameswara tidak mau 'agul' walaupun memiliki kesaktian luar biasa. Dia tidak akan melawan alam.Kameswara buka 'mode on' Rompi Nyumput Buni. Perahunya diikut sertakan. Kemudian menggunakan ilmu meringankan tubuh agar meluncur lebih cepat.Pusaran badai ini datang terlalu cepat. Lingkaran pusaran ini sangat besar. Kira-kira seluas bukit. Tubuh Kameswara tidak tersentuh ganasnya badai, tapi
Benar juga secara kebetulan gadis kecil itu menoleh ke luar pagar. Seketika raut wajah gadis itu berubah. Sikapnya juga seperti ketakutan.Beberapa kali dia memandang laki-laki tua yang sedang melatih. Akhirnya dia memiliki keberanian untuk meminta ijin keluar.Untungnya laki-laki tua itu terlihat ramah dan membolehkannya keluar.Si gadis kecil berlari ke tempat Kameswara berdiri. Begitu saling berhadapan, keduanya langsung mematung.Kameswara terperangah melihat wajah si gadis kecil yang mirip dengan Ayu Citra. Persisnya Ayu Citra sewaktu kecil. Meski badannya kecil, tapi cara menatap dan sikapnya seperti orang dewasa.Sementara si gadis kecil juga tampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ada rasa senang juga dalam hatinya. Dia seperti menemukan sesuatu yang sudah lama dia nantikan."Kau, Kameswara?"Si pemuda terkejut gadis kecil ini bisa berbahasa seperti dirinya walau beda logatnya. Lebih terkejut lagi ketika
Pertempuran berhenti. Semua anggota bajak laut Naga Samudera apalagi ketua Madara terkejut, pimpinan mereka yang kesaktiannya dahsyat kini tertawan oleh pemuda misterius yang ternyata bagian dari pasukan Sunda.Tidak ada jalan selain kecuali menyerah. Nasib mereka kini tergantung keputusan raja Sunda nanti.Anggota bajak laut Naga Samudera yang tersisa diangkut ke dalam satu kapal khusus untuk para tawanan.Sementara orang-orang yang kurung bajak laut ditempatkan di kapal paling besar di mana Sanjaya berada.Termasuk Iswari yang dari awal menyaksikan pertempuran dari jauh. Dia ikut menyelinap masuk lalu bergabung dengan tawanan lain yang dibebaskan.Ekspedisi ke pulau Sangiang bisa dikatakan berhasil. Pasukan Sunda kembali membawa tawanan pada saat angin darat bergerak ke laut.Yang membuat heran buat para bajak laut adalah melihat sikap Gusti Ratu yang wajahnya begitu cerah. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan.Tidak
Sampai di rumah bunga Kameswara membaringkan Gusti Ratu di atas dipan. Walaupun lemah, tapi wanita cantik ini masih bisa melepaskan pakaian kebesaran yang melekat di tubuhnya.Beberapa saat kemudian pemandangan indah terpampang di depan mata Kameswara. Gusti Ratu menatap sayu pemuda ini.Tatapan memanggil agar Kameswara segera memberikan apa yang dimintanya tadi.Tentu saja Kameswara tidak ingin melewatkannya begitu saja. Dia masih tidak mampu mengendalikan kelemahannya. Sambil memulai pemanasan, Gusti Ratu menuturkan kisahnya."Kau benar aku mempunyai masa lalu yang kelam. Dulu aku anak bungsu seorang saudagar di pulau Swarnabhumi. Hanya saja nasibku buruk, aku memilki penyakit yang dianggap kutukan,""Apa yang kau derita?" tanya Kameswara."Seluruh tubuhku penuh bisul dan bau tak sedap. Pada suatu perjalanan menyeberangi lautan menuju Sunda. Tidak disangka keluargaku membuang aku ke lautan dengan alasan menghilangkan kutukan. A
Pimpinan tertinggi yang disebut Gusti Ratu langsung menoleh pada sumber suara. Kameswara berdiri di tempat Madara berdiri tadi dengan tatapan tajam dan sedikit senyum.Bisa masuk ke markas tanpa ketahuan memastikan bahwa dia bukan orang sembarangan.Maka wanita ini langsung menyerang Kameswara dengan hawa saktinya. Serangan energi batin.Akan tetapi bukan Kameswara kalau tidak bisa mengimbanginya. Pertarungan batin seperti ini lebih dahsyat daripada pertarungan adu jurus biasa. Kameswara kagum karena yang menjadi lawannya seorang perempuan.Dulu pertama kali bertarung semacam ini ketika melawan seorang kakek bertubuh gemuk. Dari sinilah dia menciptakan tenaga batin.Yang kedua melawan dua orang sekaligus, salah satunya Gentasora. Pertarungan ini berakhir membuat dirinya terpesat ke masa sekarang ini.Akankah pertarungan ini juga akan membuatnya terpesat lagi? Namun, kata Ki Jagatapa harus dengan secara tidak sengaja."Se
Madara tidak menjawab. Dia langsung masuk hendak menghadap pimpinan tertinggi. Saat ini baru kelompok yang dipimpin Madara hendak beroperasi di lautan. Empat belas ketua lain masih di markas.Namun, setelah diberi tahu bahwa sang pimpinan tertinggi sedang menutup diri sejak kemarin. Akhirnya Madara lebih menceritakan kepada ketua lainnya.Karena dia tahu kalau pimpinan tertinggi sudah menutup diri maka akan lama menunggu sampai keluar dari ruangan pribadinya."Aku belum percaya kalau tidak melihatnya sendiri!""Ini aneh, yang aku tahu kau kembali sendirian saja!"Madara mendengkus kesal. Dengan apa yang mereka lihat tentu saja kurang percaya dengan yang dia ceritakan."Aku yakin pemuda itu sudah menyusup ke sini!" ujar Madara karena sewaktu perahu Kameswara hancur ditabrak, pemuda itu tiba-tiba sudah berada di atas tiang layar."Aku sarankan kita semua harus hati-hati ilmunya tidak bisa dianggap remeh!" kata Madara lagi.