Niat hati Lanting Beruga sebenarnya ingin memeriksa beberapa kelompok Aliran Putih yang tersebar di sekitar wilayah Kekaisaran Tang, tapi dia dan Burung Elang itu malah nyasar hingga menuju Kekaisaran Tang.
"Kencana bodoh! bodoh!" ucap Lanting Beruga terus saja ngedumel ketika Garuda Kencana terbang di atas langit Istana Kekaisaran Tang.
Situasinya sekarang malam hari, jadi tidak ada yang menyadari keberadaan pemuda itu di atas langit. Hal ini pula karena dirinya tidak memiliki tekanan tenaga dalam atau aura alam, sehingga sulit untuk mengantisipasi kedatangan Lanting Beruga.
"Aku sudah bilang ke arah barat! barat! dasar Kencana Bodoh!" ucap Cakra Buana, terus-terusan memaki sahabatnya, bahkan sesekali menarik bulu kepala burung itu hingga dia mulai kesal.
Garuda Kencana cukup bersabar saat ini, tapi ketika Lanting Beruga menjahilinya terlalu berlebihan, Garuda Kencana malah bergerak ke tinggi ke langit, lalu turun menukik dengan kecepatan penuh.
"
Lanting Beruga langsung diringkus oleh para prajurit itu, dia tidak keberatan dan tidak pula marah. Menurut pemuda itu, pasti ada hal menarik ke depannya. Lagipula, dia ingin tahu apakan tempat ini berhubungan dengan aliran hitam, atau tidak.Lima prajurit membelenggu pemuda itu dengan banyak rantai, lalu menandunya ke ruangan yang lain.Jikalah dia mau, semua rantai ini bisa saja hancur dalam seketika, tapi Lanting lebih memutuskan untuk diam.Tubuh pemuda itu dihempaskan di lantai yang kali ini sangat kering, ada banyak lentera di dalam ruangan besar tersebut, tapi demikian ruangan bawah tanah ini tidak memiliki struktur bangunan yang rapi.Sekitar 50 prajurit berada di sana, dengan banyak luka dan tubuh yang dililit oleh perban. Di depan Lanting Beruga ada seorang pria tua, berbaju putih yang dipenuhi dengan tambalan, dan juga rambut serta janggut yang panjang terurai.Sekali pintas, orang akan memanggilnya hantu karena tampilannya tersebu
Lanting Beruga dihajar oleh puluhan prajurit berperban putih, hingga kini dia terseok di sudut ruangan.Beberapa prajurit masih memaki-makinya, tapi beberapa prajurit lain mulai menyadari jika Lanting Beruga bukan orang sembarangan, struktur tulangnya sangat keras, beberapa kali mereka meninju kepala Lanting Beruga, tapi yang mengalami sakit malah kepalan tinju mereka sendiri."Maf maf..." ucap Lanting Beruga. "Roti kalian terlihat nikmat sekali, aku belum berbuka dari pagi tadi."Sang Ratu berusaha bangun dari pembaringan, meskipun beberapa tabib melarang dirinya melakukan hal tersebut.Mendengar bahasa yang digunakan oleh Lanting Beruga, ratu tahu jika pemuda itu berasal dari bumi selatan satu wilayah dengan mantan suami pertamanya."Kenapa kau datang ke sini?" tanya Sang Ratu lagi, "kau bukan utusan dari Aliran Hitam.""Huhhhh ..." Lanting Beruga mengeraskan ototnya, membuat seluruh rantai yang membelenggu tubuh pemuda itu put
Lanting Beruga hanya tersenyum mendengar hal tersebut, jika dia bisa, dia tidak akan membunuh Pangeran Jianhen ketika perang meletus nanti.Namun, saat ini Lanting Beruga masih merasa bersalah karena telah menghabiskan makanan terakhir para prajurit di sini, dia ingin membalas hal tersebut dengan mencari obat penawar yang berada di dalam gudang obat-obatan."Ada yang bisa membantuku, pergi ke gudang itu!" ucap Lanting Beruga. "Aku yakin ada penawar yang bisa menghentikan racun yang bersarang di dalam tubuhmu!""Tapi Elang Api, gudang itu dijaga oleh banyak prajurit!" timpal Sang Ratu, merasa tidak percaya jika Lanting Beruga dapat mendapatkan penawar tersebut.Namun, Lanting Beruga telah membulatkan tekadnya, dia akan mendapatkan penawar racun tersebut, tapi dia membutuhkan bantuan seorang prajurit.Tidak perlu kuat, Lanting Beruga akan melindungi prajurit tersebut, tapi dia harus cukup pintar."Aku akan pergi bersama dirinya," ucap seorang
Lanting Beruga memotong gembok gudang, lalu masuk lebih dahulu ke dalam bangunan tersebut, kemudian disusul oleh tabib tua.Di dalam gudang tersebut, ada berbagai macam jenis ramuan dan obat-obatan dari yang biasa saja, hingga pada level yang cukup langka.Tabib tua memilah beberapa jenis obat-obatan yang dibutuhkan, terlihat seperti akar-akar, atau pula cairan-cairan yang disimpan di dalam botol.Setelah memastikan tidak ada ramuan yang tertinggal, Tabib itu mengajak Lanting Beruga keluar dari dalam gudang itu, tapi pemuda itu malah tertawa kecil."Kenapa kita tida membawa semua ramuan ini?" Setelah mengatakan hal itu, dia menyerap seluruh ramuan level langka ke dalam tanda api.Melihat hal itu, wajah tabib tua menjadi tegang. Jika Lanting Beruga bisa melakukan hal itu, kenapa dia harus menyiapkan keranjang obat yang merepotkan ini?Namun sebelum mereka keluar, tiba-tiba mata kiri Lanting Beruga mulai berdenyut kuat, dia menoleh ke kiri men
Tabib tua menjatuhkan rantang obat-obatan, dan mulai bersujud di hadapan Chang Yi dan memohon ampunan untuk sang Ratu.Namun Chang Yi tidak mewujudkan keinginan Tabib Tua, dia malah melepaskan pukulan energi ke arah tabib tersebut.Cahaya terang menderu ke arah tabib tua, tapi sebelum cahaya tersebut mengenai wajah pria tersebut, Lanting Beruga langsung menghancurkannya."Kau membuatku menjadi muak," ucap Lanting Beruga. "Dengan menyandra Sang Ratu, apa kau pikir bisa lolos dari tanganku, cobalah jika kau bisa!"Setelah berkata demikian, Lanting Beruga menderu cepat, meninggalkan bayangan merah dan kini telah melewati tubuh Chang Yi.Pada saat yang sama, teriakan keras terdengar memekakkan, bergema di dalam ruangan ini. Tubuh Sang Ratu terhuyung ke depan, dan hampir saja jatuh ke dasar, jika bukan karena Lanting Beruga menyambarnya dengan gerakan yang cepat.Pemuda itu meletakan Sang Ratu di atas pembaringan, kemudian meminta Tabib Tua untuk
Tidak ada yang tahu jika salah satu petinggi aliran hitam telah mati di dalam ruangan bawah tanah, mereka pikir Chang Yi dari Sekte Seratus Kematian hanya keluar dari kamarnya untuk jalan-jalan. Tapi sayangnya, dia tidak akan pernah kembali lagi, tidak pula mereka akan melihat batang hidungnya lagi.Yang tersisa di dalam ruangan bawah tanah hanya ada empat orang saja saat ini. Petinggi berpakaian putih yang merupakan panglima perang setia, tabib tua, Sang Ratu dan tentu saja Lanting Beruga.Untuk saat ini, Lanting Beruga belum banyak melakukan tindakan, dia fokus melihat perkembangan Ratu Tang yang dalam masa pemulihan.Sesekali ada dara hitam keluar dari dalam mulut wanita itu, kemudian lendir yang kental. Namun, dengan bantuan Panglima Berpakaian Putih, yang mengalirkan tenaga dalamnya kepada Sang Ratu, wanita itu dapat bertahan menjalani pengobatanannya.Lima hari telah berlalu, dan pada akhirnya Sang Ratu mulai berangsur-angsur pulih dari racun yang d
Pasukan lain baru saja datang ke Istana Kekaisaran Tang, terdiri dari 4 Ketua sesat dari wilayah Aliran Darah Besi.Melihat jumlah pasukan yang begitu besar, wajah Pangeran Jianhen dipenuhi oleh semangat. Dia punya kepercayaan diri untuk memenangkan pertarungan ini.Wan Hua langsung mendatangi Pangeran Jianhen, dan berkata, "Lihatlah pasukan yang aku bawa untuk dirimu, Pangeran?""Aku merasakan kekuatan Kekaisaran Tang bertambah beberapa kali lipat," ucap Pangeran Jian Hen.Pada waktu bersamaan, Seluruh pasukan aliran putih telah berkumpul dan bersatu dengan Putri Sin Tang.Total jumlah pasukan yang ada sekitar 1000 orang, tapi sekarang ada satu pasukan lagi yang belum datang. Hal ini membuat Putri Sin Tang mulai bertanya-tanya, gerangan apa yang terjadi dengan pasukan tersebut."Aku khawatir jika salah satu petinggi aliran hitam membuat kekacauan terhadap Tetua Teratai Me
Benturan antara Ketua Sekte melawan Tao berlangsung cukup lama, hingga sebagai besar tempat perkumpulan Sekte Teratai Merah luluh lanta karena pertarungan dua orang itu.Tao mengalami pendarahan pada telapak tangannya ketika menahan serangan Ketua Sekte yang begitu mendominasi pertarungan.Rasa perih yang dialami oleh Tao membuatnya mulai kesulitan menggunakan senjata tombak dengan leluasa, dan hal ini membuat Ketua Sekte Teratai Merah dapat melihat beberapa celah pertahanan Tao.Dia tidak akan membiarkan celah itu lepas, dengan jurus level tinggi yang dikuasainya, Ketua Sekte mulai menyerang Tao sekali lagi.Sinar terang dari bunga teratai yang terbentuk oleh energi pedang, berputar begitu cepat, menebas benda apapun yang dilewatinya.Pohon-pohon tumbang, bebatuan terpotong dengan rapi, dan permukaan tanah terkelupas oleh teratai itu.Tao sekuat tenaga menahan serangan terebut dengan ujung tombaknya, dan sekarang tercipta percikan bunga api