Beranda / Fantasi / Kuro Dan Naga Warisan / Hancurnya Desa Kamashiro

Share

Kuro Dan Naga Warisan
Kuro Dan Naga Warisan
Penulis: Khomairoh

Hancurnya Desa Kamashiro

Penulis: Khomairoh
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-24 15:48:12

Angin malam bertiup lembut di Desa Kamashiro, menggoyangkan dedaunan pohon sakura yang sedang bermekaran. Cahaya bulan purnama menyinari rumah-rumah kayu tradisional yang berjajar rapi di sepanjang jalan desa. Anak-anak masih berlarian di halaman rumah mereka, sementara para petani baru saja pulang dari ladang, membawa hasil panen musim ini. Malam ini terasa begitu damai, seakan dunia sedang beristirahat dalam ketenangan.

Di sebuah rumah besar di tepi desa, seorang pria tinggi dengan rambut hitam panjang duduk di beranda. Akihiro Kamashiro, kepala desa sekaligus seorang pendekar legendaris, tengah mengasah pedangnya yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Wajahnya tegas namun penuh kebijaksanaan. Ia sesekali melirik ke dalam rumah, ke arah seorang wanita yang tengah menimang seorang anak kecil.

"Kuro sudah tertidur?" tanya Akihiro dengan suara lembut.

Wanita itu, Hana, tersenyum tipis sambil mengusap rambut anak mereka yang baru berusia lima tahun. "Ya. Dia kelelahan bermain seharian tadi. Kau tahu sendiri, dia tak pernah kehabisan energi."

Akihiro terkekeh kecil, tetapi matanya tetap memancarkan kegelisahan. Hana menyadari itu. "Kau memikirkan sesuatu?" tanyanya.

Sebelum Akihiro sempat menjawab, suara dentuman keras mengguncang tanah. Getaran hebat terasa di seluruh desa, membuat lampu-lampu minyak bergoyang liar. Teriakan panik mulai terdengar dari luar rumah. Akihiro segera berdiri, meraih pedangnya, dan berlari keluar.

Dari kejauhan, api merah menjulang ke langit. Asap hitam mulai mengepul, menelan bintang-bintang yang tadi bersinar terang. Bangunan-bangunan di ujung desa mulai runtuh, dilahap oleh api yang seolah hidup.

Dan di tengah kobaran api itu, berdiri sesosok makhluk mengerikan.

Tingginya hampir tiga meter, dengan tubuh bersisik hitam yang tampak sekeras baja. Sepasang tanduk menjulang dari kepalanya, dan mata merahnya bersinar seperti bara api. Di tangannya, ia menggenggam pedang besar berwarna gelap, yang setiap ayunannya menghancurkan apapun yang dilewatinya.

Akihiro menggertakkan giginya. "Ryukiro…" desisnya penuh kebencian.

Makhluk itu melangkah maju, menginjak tanah dengan kekuatan yang membuat bumi bergetar. "Akihiro Kamashiro," suaranya dalam dan bergema. "Sudah lama aku menunggumu. Malam ini, aku akan menghabisimu… dan seluruh desa ini!"

Akihiro tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya, bersiap menghadapi musuh yang telah menghantui masa lalunya. Namun, dalam hatinya, ada satu hal yang paling ia khawatirkan—anaknya, Kuro.

Api membakar langit malam, mengubah desa Kamashiro menjadi neraka di bumi. Jeritan warga yang melarikan diri bercampur dengan dentingan pedang dan suara reruntuhan yang jatuh. Di tengah kekacauan itu, seorang pria berdiri tegap, menghadang sosok tinggi berbalut kegelapan.

Akihiro Kamashiro menggenggam pedangnya erat, matanya menatap tajam ke arah musuhnya. Angin membawa abu yang mengepul di udara, menambah aura kehancuran yang menyelimuti desa.

“Ryukiro…” Akihiro menyebut nama itu dengan penuh kebencian.

Di hadapannya, makhluk mengerikan dengan mata merah menyala tersenyum licik. Ryukiro, sosok yang selama ini menjadi bayang-bayang kegelapan dalam hidupnya, berdiri di antara kobaran api. Pedang hitam di tangannya meneteskan darah segar.

“Kau tak bisa lari lagi, Akihiro,” kata Ryukiro dengan suara dalam yang bergema di udara. “Takdir keluargamu berakhir malam ini.”

Akihiro tidak menjawab. Ia hanya mempererat cengkeramannya pada gagang pedang, bersiap untuk pertempuran hidup dan mati.

Tanpa aba-aba, Ryukiro melompat maju dengan kecepatan mengerikan. Pedang hitamnya menebas ke arah Akihiro, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan rumah di belakangnya. Akihiro melompat ke samping, menghindar dengan gesit, lalu membalas dengan tebasan cepat.

Benturan pedang mereka memercikkan api di udara. Akihiro menekan lebih kuat, mencoba mendorong Ryukiro mundur. Namun, makhluk itu terlalu kuat.

Di kejauhan, Hana berlari dengan Kuro dalam gendongannya. Nafasnya tersengal, matanya dipenuhi ketakutan. Ia tahu bahwa Akihiro tidak mungkin menang melawan Ryukiro.

“Aku harus menyelamatkan Kuro…” bisiknya, menguatkan diri.

Di belakangnya, kehancuran terus berlanjut. Desa Kamashiro hampir rata dengan tanah, dan harapan pun semakin memudar.

Sementara itu, pertempuran antara Akihiro dan Ryukiro semakin sengit. Akihiro mulai kehabisan tenaga, sedangkan Ryukiro tetap kuat, seolah menikmati pertarungan ini.

“Kau lelah, Akihiro,” ejek Ryukiro. “Ini akhirnya.”

Dengan satu tebasan cepat, Ryukiro menusukkan pedangnya ke dada Akihiro. Mata Akihiro membelalak, darah hangat mengalir dari lukanya. Tubuhnya melemah, namun ia tetap menatap musuhnya dengan penuh kebencian.

“Kau… tidak akan… mendapatkan anakku…” bisik Akihiro dengan napas terakhirnya.

Ryukiro tertawa dingin. Ia menarik pedangnya dan membiarkan tubuh Akihiro roboh ke tanah, tak bernyawa.

Hana yang melihat kejadian itu dari kejauhan menutup mulutnya, menahan isak tangis. Namun, ia tidak punya waktu untuk berduka. Ia harus melindungi Kuro, satu-satunya harapan yang tersisa.

Malam itu, desa Kamashiro hancur. Tapi di tengah kehancuran, takdir baru mulai terukir—takdir Kuro Kamashiro.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Kuro Dan Naga Warisan   PERTARUNGAN TERAKHIR AKIHIRO

    Di tengah reruntuhan desa Kamashiro yang terbakar, Akihiro berdiri dengan napas tersengal. Tubuhnya penuh luka, darah mengalir dari pelipis dan lengannya yang sobek. Di depannya, Ryukiro berdiri tegap, pedang panjangnya masih berlumuran darah.Hana berlutut di samping Akihiro, tangannya gemetar saat mencoba menghentikan pendarahan suaminya. Mata mereka bertemu—ada ketakutan, tetapi juga tekad yang tak tergoyahkan.“Kita tidak bisa mundur, Hana,” bisik Akihiro. “Aku akan menahan Ryukiro… kau harus pergi.”Hana menggeleng keras. “Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!”Ryukiro tertawa dingin. “Sudah terlambat untuk melarikan diri. Keluarga Kamashiro akan musnah malam ini.”Akihiro mengangkat pedangnya, meskipun tangannya gemetar. “Selama aku masih berdiri, kau tidak akan menyentuh Hana atau anakku.”Ryukiro bergerak cepat—terlalu cepat. Dalam sekejap, pedangnya hampir menyentuh leher Akihiro. Tapi Hana melompat ke depan, menangkis serangan dengan sebilah pisau pendek.Akihiro tidak menyi

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Gidi, Naga Emas

    Kegelapan malam semakin menggelayuti langit, namun cahaya samar dari bulan purnama memberikan sedikit penerangan pada perkampungan kecil di ujung hutan. Udara malam itu terasa hangat, penuh dengan ketegangan yang belum juga mereda setelah pertarungan besar melawan Ryukiro.Akihiro terbaring lemah di atas tempat tidur, tubuhnya diliputi luka-luka yang belum sepenuhnya sembuh. Hana duduk di sampingnya, memegangi tangan suaminya dengan erat, matanya terus mengawasi setiap gerakan Akihiro yang tak stabil. Meski mereka telah menang, rasa takut dan kecemasan terus mengganggu hati Hana—terutama mengenai masa depan yang tidak pasti.Namun, pada malam yang hening itu, suara gemuruh yang datang dari dalam hutan mengubah segalanya. Tak lama setelahnya, sebuah cahaya terang muncul di langit, menyebar seperti ledakan besar yang mengubah segala yang ada di bawahnya menjadi bayangan.Hana terkejut, melompat berdiri dan memandang ke luar jendela. “Apa itu?”Suara gemuruh semakin keras, dan di kejauha

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Kematian Hana Dan Akihiro: Pelarian Gidi Dan Kuro

    Malam itu semakin gelap, dan ketegangan di desa kecil itu kian terasa. Gidi, yang telah melangkah jauh ke dalam dunia gelap, kini kembali. Namun, kehadirannya berbeda—penuh kelelahan, dan ekspresi wajahnya menunjukkan banyak beban. Kuro, yang sempat terjebak dalam dunia kegelapan, kini sudah kembali pada dirinya sendiri, berkat usaha Gidi untuk menyelamatkannya.Di rumah Hana dan Akihiro, suasana semakin menegangkan. Akihiro terbaring lemah, tubuhnya semakin tak bertenaga. Hana di samping suaminya, menggenggam erat tangan Akihiro, mencoba memberi semangat. "Akihiro, apa yang akan terjadi pada Kuro?" tanyanya dengan suara gemetar.Akihiro, meski tubuhnya semakin lemah, berusaha membuka mata dan menatap istrinya. "Aku... aku percaya pada Gidi, Hana. Dia pasti bisa menyelamatkan Kuro."Namun, sebelum Hana bisa memberi jawaban, suara ledakan yang mengerikan mengguncang rumah mereka. Dinding bergetar, dan suasana menjadi semakin mencekam. Hana, dengan cepat, berlari menuju jendela untuk me

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Penerbangan Kegunung Kiryu

    Setelah kehancuran yang menghancurkan desa mereka, Kuro dan Gidi melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan tempat yang hancur dan penuh kenangan. Gidi yang terluka parah, memaksakan dirinya untuk bertahan, sementara Kuro, meskipun baru saja dibebaskan dari kegelapan, merasakan beban berat di pundaknya."Kita harus cepat," kata Gidi dengan suara yang serak, meskipun jelas terlihat bahwa tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Kuro mengangguk, menatap Gidi dengan penuh kekhawatiran, namun tahu bahwa mereka tidak memiliki banyak pilihan. Dunia mereka kini telah berubah, dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah mencari tempat yang aman."Mereka akan mengejar kita," ujar Kuro, memikirkan bahaya yang terus mengintai mereka. "Di Gunung Kiryu, kita mungkin bisa menemukan perlindungan."Gidi menatap Kuro dengan mata yang penuh makna. "Kita harus sampai ke sana. Tapi jangan berharap kita akan tenang. Gunung Kiryu menyimpan banyak rahasia dan bahaya, tetapi itu mungkin satu-satunya tempat yang masih

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Rumah Baru di Gua Kiryu

    Mereka akhirnya tiba di sebuah gua besar di lereng Gunung Kiryu. Udara di sana lebih sejuk, dan suara angin yang bertiup melewati celah-celah batu menciptakan harmoni yang menenangkan. Kuro dan Gidi melangkah masuk dengan hati-hati, mata mereka menyesuaikan diri dengan kegelapan yang menyelimuti bagian dalam gua."Kita bisa bertahan di sini untuk sementara waktu," kata Gidi sambil menyalakan obor kecil yang ia bawa.Kuro mengamati sekeliling. Dinding gua itu kokoh, tinggi, dan memiliki banyak cabang lorong yang bisa menjadi tempat persembunyian. Lantai berbatu cukup rata, meskipun beberapa bagian masih kasar dan berbahaya. Mereka bisa merasakan aroma kelembapan bercampur dengan udara dingin dari dalam."Setidaknya, tempat ini lebih aman daripada desa," ujar Kuro.Gidi mengangguk. "Kita perlu membuat tempat ini lebih nyaman. Aku akan mencari kayu kering untuk api. Kau bisa mengeksplorasi bagian dalam gua dan mencari sumber air."Tanpa banyak bicara, mereka segera berpencar menjalankan

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Rahasia Naga Emas

    Langkah kaki bergema di lorong gua yang sunyi. Kuro dan Gidi menahan napas, tubuh mereka menegang. Suara itu semakin dekat, membuat keduanya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.Gidi merapatkan tubuhnya ke dinding batu, sementara Kuro menggenggam gagang pisaunya dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena ancaman yang mungkin datang, tetapi juga karena perasaan aneh yang terus mengganggunya sejak tadi malam.Tiba-tiba, bayangan hitam muncul di ujung lorong. Sosok itu berhenti, lalu perlahan melangkah maju, memperlihatkan wajahnya di bawah cahaya redup obor.Seorang pria tua, berjubah panjang dengan rambut putih yang tergerai. Matanya tajam dan penuh wibawa."Jadi... kalian akhirnya sampai di sini," katanya dengan suara dalam dan bergetar.Kuro dan Gidi saling berpandangan, tidak mengenali sosok itu. Tapi ada sesuatu dalam tatapan pria tua itu yang membuat Kuro merasakan ikatan yang aneh."Siapa kau?" tanya Kuro, masih waspada.Pria itu tersenyum tipis, lalu menghe

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Takdir Kuro

    Kuro merasakan denyut energi dari pedang di tangannya. Cahaya keemasan berpendar dari bilahnya, seakan merespons keberadaannya. Gidi berdiri di sampingnya, matanya waspada menatap pintu gua yang sebentar lagi akan diterobos oleh para pemburu Ordo Kegelapan."Kuro, kau harus bersiap," kata Gidi. "Mereka bukan lawan biasa."Pria tua itu, yang masih belum menyebutkan namanya, menatap Kuro dengan penuh keyakinan. "Pedang itu telah memilihmu. Sekarang, pertanyaannya adalah... apakah kau akan menerima takdirmu?"Suara benturan keras menggema dari luar gua. Batu-batu berjatuhan dari langit-langit. Kuro menelan ludah, jari-jarinya semakin erat menggenggam pedangnya."Aku tidak punya pilihan lain, bukan?" gumamnya.Pria tua itu mengangguk. "Kau selalu punya pilihan. Tapi hanya satu jalan yang bisa menyelamatkan dunia ini."Tiba-tiba, dinding gua di bagian depan meledak, menghantam ke dalam dengan kekuatan luar biasa. Debu dan pecahan batu berhamburan. Dari balik kabut asap, beberapa sosok berj

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Kuro Dan Naga Warisan   Kekuatan Yang Tersembunyi

    Angin malam bertiup kencang di atas tebing tempat Kuro berdiri. Tubuhnya masih dipenuhi sisa energi pertempuran sebelumnya, napasnya tersengal. Gidi berdiri di sampingnya dalam wujud manusianya, menatap jauh ke arah kegelapan di cakrawala."Ragnor berhasil kabur," kata Gidi. "Tapi aku yakin dia akan kembali, lebih kuat dari sebelumnya."Kuro mengangguk, menggenggam pedangnya lebih erat. "Aku bisa merasakannya... Aku bisa merasakan kekuatan di dalam diriku, tapi aku belum benar-benar mengendalikannya."Gidi menatap Kuro dengan penuh perhatian. "Kekuatanmu itu bukan sekadar warisan Naga Emas, Kuro. Itu adalah sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang mungkin belum pernah muncul di dunia ini sebelumnya."Kuro menunduk, merasakan kehangatan yang masih berdenyut di dadanya. Saat ia menghadapi Ragnor, sesuatu dalam dirinya telah terbangun—sebuah kekuatan yang bukan berasal dari pedang, melainkan dari dirinya sendiri.Sejak pertarungan itu, penglihatannya terasa berbeda. Saat malam semakin laru

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24

Bab terbaru

  • Kuro Dan Naga Warisan   Akhir Dari Perjalanan: Sebuah Legenda, Sebuah Pilihan

    Debu mulai mengendap. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kehidupan baru. Dunia telah selamat. Pertempuran dahsyat melawan Sang Penenun dan ancaman yang lebih besar telah berakhir. Namun, jejaknya tetap terukir dalam setiap sudut dunia. Bekas luka menganga di permukaan bumi, mengingatkan akan kekuatan dahsyat yang hampir menghancurkan segalanya. Kota-kota hancur, desa-desa porak-poranda, dan jutaan jiwa telah hilang. Namun, di tengah kehancuran itu, tumbuh tunas-tunas kehidupan baru. Tanaman-tanaman mulai tumbuh kembali, menunjukkan kekuatan regenerasi alam yang luar biasa. Manusia, yang telah kehilangan begitu banyak, mulai membangun kembali kehidupan mereka, mencari harapan di tengah keputusasaan. Kuro, pahlawan yang telah menyelamatkan dunia, tidak ada di sana untuk menyaksikannya. Pengorbanannya telah menyelamatkan alam semesta, tetapi dengan harga yang sangat mahal—kehidupannya sendiri. Ia telah lenyap, menjadi bagian dari alam semesta. Namun, kisahnya tetap hid

  • Kuro Dan Naga Warisan   Harmoni Terakhir – Keseimbangan yang Sempurna

    Kuro terhuyung, tubuhnya hancur lebur, luka menganga di sekujur tubuhnya seperti peta bintang yang mengerikan. Darah segar membasahi tanah yang sudah retak dan terbakar, mencampur dengan debu dan abu yang beterbangan. Namun, di tengah kehancuran itu, cahaya emas Kekuatan Naga Emas masih menyala, suatu suar harapan yang gigih melawan kegelapan yang hampir membenamkan segalanya. Ia telah menggunakan hampir semua kekuatannya, mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga ke titik kering. Namun, Sang Penenun, entitas kekacauan itu, masih berdiri teguh, pusaran energi gelapnya semakin besar, semakin ganas, menelan segalanya dalam cengkeramannya yang tak kenal ampun. Harmoni yang Kuro coba ciptakan, harmoninya yang merupakan benteng terakhir melawan kekacauan, terasa rapuh, seperti kaca yang siap hancur berkeping-keping. Ia merasakan kelelahan yang luar biasa, tubuhnya terasa seperti akan runtuh, namun tekadnya tetap membara. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus menang.Pandan

  • Kuro Dan Naga Warisan   Harmoni Yang Hilang

    Bab 149: Harmoni yang Hilang – Pertempuran SengitAlam semesta bergetar. Bukan getaran lembut, namun guncangan dahsyat yang mengguncang realitas itu sendiri. Kekuatan tiga naga – Muzunoryu, Tsuchiryu, dan Arashiryu – berbenturan dengan kekuatan Sang Penenun, menciptakan gelombang energi yang tak terbayangkan. Air, tanah, dan angin beradu dengan kegelapan, menciptakan pusaran yang mengerikan, pusaran yang mengancam untuk menghancurkan segalanya. Kuro, di tengah badai itu, merasakan kekuatan dahsyat yang mengguncang jiwanya.Tubuhnya, yang sudah penuh luka, terasa seperti akan hancur. Setiap inci kulitnya terasa perih, setiap tulang terasa remuk. Ia telah menggunakan hampir semua kekuatannya, namun Sang Penenun masih berdiri teguh, pusaran energi gelapnya semakin besar dan semakin ganas. Harmoni yang ia coba ciptakan, harmoninya yang merupakan benteng terakhir melawan kekacauan, terasa rapuh, hampir hancur.Kuro tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu, dan cepat.

  • Kuro Dan Naga Warisan   Kekalahan dan Kebangkitan – Harapan yang Memudar

    Kelelahan mencengkeram Kuro. Tubuhnya, yang biasanya dipenuhi dengan energi kosmik yang tak terbatas, kini terasa lemah dan remuk. Luka-luka yang ia derita dalam pertempuran sebelumnya masih terasa perih, ditambah dengan luka-luka baru yang ia dapatkan dari serangan Sang Penenun. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, menodai jubahnya yang sudah compang-camping. Ia merasakan kekuatannya terkuras, semakin menipis, seperti lilin yang hampir padam.Sang Penenun, entitas kosmik yang mengerikan itu, mengeluarkan kekuatannya yang sebenarnya. Ia melepaskan serangan yang mampu memanipulasi realitas itu sendiri. Waktu dan ruang menjadi terdistorsi, berputar-putar seperti pusaran air yang tak berujung. Ilusi-ilusi yang membingungkan muncul di mana-mana, menciptakan pemandangan yang surealis dan mengerikan. Kuro merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung, di mana realitas dan ilusi bercampur aduk, di mana ia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana y

  • Kuro Dan Naga Warisan   Kebangkitan Naga

    Kekalahan di awal pertempuran telah meninggalkan jejak yang dalam pada Kuro. Tubuhnya terasa remuk, namun tekadnya tetap membara. Darah masih mengalir dari sudut bibirnya, menodai jubahnya yang sudah compang-camping. Ia menatap Sang Penenun, pusaran energi gelap yang tak berujung itu, dengan mata yang dipenuhi dengan campuran rasa sakit, kemarahan, dan tekad yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa ia harus menggunakan semua kekuatannya, semua kemampuannya, untuk melawan entitas kosmik yang mengerikan ini. Ia harus menciptakan harmoni yang sempurna, keseimbangan yang mutlak, untuk melawan kekacauan yang mengancam untuk menelan segalanya.Dengan napas yang tersengal-sengal, Kuro memanggil Kuchiyose Kinpika Ryu (Naga Emas). Api emas berkilauan menerangi kegelapan yang mencekam, menciptakan kontras yang dramatis antara cahaya dan bayangan. Kinpika Ryu, naga emas yang megah dan perkasa, muncul dari dimensi lain, sisiknya berkilauan seperti emas murni yang dilebur oleh mat

  • Kuro Dan Naga Warisan   Serangan Awal

    Langit bukan lagi langit. Ia adalah kanvas gelap yang tercabik-cabik, dirobek oleh tentakel-tentakel energi hitam yang tak terhitung jumlahnya. Tentakel-tentakel itu, tebal seperti gunung dan hitam pekat seperti jurang maut, menari-nari dengan kejam di antara bintang-bintang yang meredup. Mereka bukan sekadar energi; mereka adalah manifestasi dari kekacauan itu sendiri, perpanjangan dari kehendak Sang Penenun, entitas kosmik yang haus akan jiwa. Jiwa-jiwa manusia, terhisap oleh tentakel-tentakel itu, menghasilkan jeritan yang menyayat hati, simfoni kematian yang mengerikan yang bergema di seluruh dunia. Di tengah badai ini, Kuro berdiri tegak, sebuah patung marmer yang tak tergoyahkan di tengah badai yang mengerikan.Rambut putihnya yang panjang berkibar ditiup angin yang berputar-putar, menyerupai api yang siap menyala. Wajahnya, yang biasanya dipenuhi dengan ketenangan, kini dikerutkan oleh tekad yang tak tergoyahkan. Ia bukanlah manusia biasa lagi; ia adalah m

  • Kuro Dan Naga Warisan   Gerbang Roh – Mencari Jawaban Terakhir

    Kuro, yang telah mencapai usia lanjut namun tetap teguh dalam semangatnya, merasakan sebuah panggilan yang kuat dari dalam dirinya. Bukan panggilan untuk bertempur, melainkan panggilan untuk mencari pemahaman yang lebih mendalam. Selama beberapa dekade terakhir, ia telah memimpin dunia menuju perdamaian dan kemakmuran, namun sebuah pertanyaan besar tetap terngiang dalam pikirannya: apakah perdamaian ini akan bertahan selamanya? Apakah ancaman kegelapan benar-benar telah musnah? Ataukah masih ada misteri yang tersembunyi, mengintai di balik kedamaian yang tampak sempurna ini?Pertanyaan-pertanyaan ini telah menghantuinya selama bertahun-tahun. Ia telah berkonsultasi dengan para bijak, para pendeta, dan para ilmuwan, namun tak satu pun dari mereka mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Ia merasa ada sesuatu yang masih tersembunyi, sesuatu yang hanya dapat ditemukan di tempat yang terdalam dan terjauh—dunia roh.Ia telah mendengar legenda tentang dunia roh, dunia di m

  • Kuro Dan Naga Warisan   Takdir Sang Pelindung

    Debu pertempuran masih menyelimuti lembah, mengingatkan akan pertarungan sengit yang baru saja berakhir. Aroma tanah basah bercampur dengan bau darah—bau yang tak akan pernah hilang dari ingatan Kuro, Sylva, dan Kaien. Kemenangan atas entitas kegelapan terasa pahit, dibumbui oleh kehilangan dan kelelahan yang mendalam. Banyak sekutu mereka telah gugur, korban dari pertempuran yang hampir menghancurkan dunia. Keheningan yang menyelimuti mereka dipenuhi oleh kesedihan yang dalam, namun juga oleh rasa syukur yang tak terhingga. Mereka telah berhasil. Mereka telah menyelamatkan dunia.Kuro, dengan luka-luka yang masih menganga di tubuhnya, duduk bersila di tengah reruntuhan. Ia menatap langit yang mulai dipenuhi bintang, merasakan beban tanggung jawab yang luar biasa di pundaknya. Ia bukan hanya seorang pemimpin bagi pasukan mereka, tetapi juga seorang pemimpin bagi dunia yang baru saja mereka selamatkan—dunia yang hancur, dunia yang membutuhkan pemulihan yang panjang dan

  • Kuro Dan Naga Warisan   Ancaman Muncul

    Setelah berhasil mengendalikan kekuatan Naga Bumi dan menyeimbangkan energi di dalam dirinya melalui ritual purba, Kuro merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, kedamaian itu hanyalah sementara. Ia tahu bahwa entitas kegelapan yang telah merasukinya belum sepenuhnya hilang. Ia masih merasakan bisikan-bisikan jahat di dalam pikirannya, dan ia masih melihat kilasan-kilasan gambar yang mengerikan. Ia tahu bahwa ancaman itu masih mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menyerang kembali.Ia menghabiskan beberapa bulan berikutnya untuk berlatih dan bermeditasi, menjaga keseimbangan antara kekuatan cahaya dan kegelapan di dalam dirinya. Ia juga menghabiskan waktu bersama Sylva dan Kaien, menikmati kedamaian dan kebersamaan yang telah lama dirindukannya. Namun, ia selalu waspada, selalu siap untuk menghadapi ancaman yang mungkin datang kapan saja.Suatu hari, saat ia sedang berlatih di hutan, ia merasakan perubahan di udara. Udara terasa dingin da

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status