“Rumah?”
Kimi hampir saja menyemburkan biskuit yang masih ada di dalam mulutnya, begitu mendengar permintaan yang disampaikan oleh bibinya. Kepalanya mendadak terasa pening, sehingga ia sulit untuk memikirkan reaksi seperti apa yang seharusnya ia perlihatkan, selain terkejut dan berteriak secara spontan.
Kimi tahu, membawa sosok seperti Hans ke rumahnya untuk membicarakan pernikahan akan berujung seperti ini. Bibinya takkan mudah melepaskannya untuk orang lain. Dengan dalih bahwa selama ini ia telah membesarkannya dengan susah payah, dia menginginkan suatu penebusan.
Jadi, begitu ia berdiri di depan pintu bersama Hans, ditemani oleh asistennya, Rob, yang meskipun tampak tua tapi menyorotkan sinar kemapanan, mata Bibi Kimi pun seketika menjadi cerah. Hidungnya bisa mencium aroma uang yang bertumpuk dari dua pria yang menyatroni rumahnya tanpa pemberitahuan.
Wanita culas itu semakin girang, ketika Hans mengutarakan niat kedatangannya dan berakting dengan sangat bagus, sewaktu menyatakan bahwa ia sangat mencintai Kimi dan ingin segera menikahinya. Itu sebabnya bibi tak melewatkan kesempatan untuk mengungkapkan kebutuhannya saat ini tanpa malu-malu. Dia sudah lama ingin memiliki rumah sendiri.
Kimi memandang Hans yang duduk di kursi usang, yang salah satu kakinya tak seimbang; sehingga jika pria itu bergerak sedikit saja, kursi itu pasti akan menggulingkannya ke lantai. Sosoknya yang sangat rapi dan berkilau sangat kontras dengan suasana ruang tamu keluarga Kimi yang kusam.
Jika Kimi tampak gugup atas permintaan bibinya, maka Hans masih setia dengan mimik datarnya. Pria beralis tebal itu hanya menjawab, “Baik. Aku bisa memberikan salah satu rumah di kawasan timur yang dekat dengan area wisata kepada keluarga Anda. Asistenku akan mengurus segala administrasinya nanti.”
Kimi semakin tercengang dengan reaksi Hans yang menurutnya terlalu gampang mengabulkan syarat yang diajukan oleh bibinya. Dia tak bisa berkutik, ketika melihat wanita berusia 50 tahun itu bangkit dari kursinya dan berlutut di hadapan Hans, meraih tangan pria itu dan mengelusnya penuh semangat.
“Ohh, kau baik sekali, Nak. Kau pasti sangat mencintai Kimi-ku.” Bibi memalingkan wajahnya pada Kimi, lalu memicingkan kedua matanya. “Dan kau! Bisa-bisanya kau tak memberitahuku kalau kau punya kekasih sebaik dia. Membuatku terkesan seperti bibi yang tidak peduli pada keponakannya.” Kimi menanggapinya dengan dengusan kasar dan melengos ke arah lain.
Sementara Hans yang tak nyaman, menarik tangannya yang tengah dielus-elus oleh Bibi Kimi, dan pura-pura menggunakannya untuk mengusap dahi yang tak berkeringat. “Kurasa sudah cukup jelas pembicaraan malam ini …, Bibi.” Hans terlihat menahan diri untuk bergidik, ketika mulutnya terpaksa mengikuti cara Kimi menyebut wanita tua dengan rambut awut-awutan itu dengan panggilan bibi.
“Ya, ya, kau tentu saja mendapat restuku, Hans. Ambillah Kimi dan hiduplah bahagia.”
Hans tersenyum tipis. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya, terlihat sangat lega karena akhirnya bisa terbebas dari kursi yang mengancam keseimbangan tubuh tegapnya. Dengan isyarat kerlingan mata, ia memerintahkan Kimi untuk mengantarnya ke luar.
“Datanglah ke kantor besok untuk menandatangani surat perjanjian kita,” kata Hans begitu mereka sudah berada di luar. Mereka bertiga menuruni tangga hanya dengan bantuan lampu temaram di sepanjang koridor.
Kimi yang masih merasa tak nyaman sejak mendengar permintaan bibinya, hanya menundukkan kepala dan bersuara lirih, “Jam berapa? Aku tidak bisa terlalu sering minta izin ke manajerku, terutama setelah jam makan siang. Itu jam-jam di mana toko kami ramai pengunjung.”
Mendengar itu, Hans langsung berhenti. “Aku lupa memberitahumu. Begitu kau menandatangani kontrak kita besok, aku ingin kau berhenti bekerja di toko itu. Aku ingin calon istriku dikenal sebagai seorang pengusaha, bukan karyawan biasa yang melayani orang lain.”
Kimi mengerutkan dahinya. Di bawah tatapan tajam Hans, ia seolah-olah sulit untuk menolak setiap perkataannya. Suaranya terdengar penuh kebingungan, ketika berkata, “Tapi aku tidak—”
“Fashion, kuliner, agensi, apapun itu yang menarik minatmu, aku akan memberimu modal. Jadi, berhenti bekerja untuk orang lain. Kau tidak akan mengerjakan perintah kecuali dariku. Paham?”
Tatapan Kimi saat memandang Rob menyiratkan rasa putus asanya. Kalau saja asisten Hans itu tidak mengacungkan jari telunjuknya di belakang punggung bosnya untuk mengingatkan Kimi bahwa semua itu hanya akan berlangsung selama satu tahun, Kimi mungkin lebih memilih untuk menjalani kehidupan realistis ketimbang menjadi Cinderella di atas kertas, sebab intuisinya sebagai wanita mengatakan bahwa Hans tipikal pria yang seharusnya ia hindari.
***
Sarapan pagi terasa sangat berbeda. Kimi tidak mendapatkan roti kering dan selai sisa seperti biasanya. Ia dibangunkan oleh aroma daging panggang yang menguar ke seluruh penjuru rumah. Dan ketika ia selesai bersiap, bibinya juga telah selesai menyiapkan menu istimewanya di meja makan.
“Apakah ini karena Kimi akan menikahi orang kaya, Ibu? Jadi, kau memperlakukannya dengan baik sekarang,” ucap Figo, putra sulung si Bibi.
“Ahh, aku selalu bersikap baik pada kalian semua. Jika kalian merasakan sebaliknya, itu karena aku tidak pernah punya cukup uang untuk memberi kalian apa yang kuinginkan. Segalanya butuh uang.”
“Tapi seharusnya kau memberi kami makanan seperti ini tiap kali Kimi memberimu gajinya.”
Bibi melotot ke arah Rado, putra bungsunya yang berusia 15 tahun. “Kau masih kecil. Tidak tahu kebutuhan rumah tangga. Menikahlah, maka kau akan tahu rasanya.” Ia terdiam sejenak, lalu berpaling pada Kimi yang duduk di dekatnya, dan memaksakan senyum lebar yang malah terlihat aneh. “Yah, kecuali kalau kau berhasil mendapatkan pasangan yang kaya raya. Kau tidak akan melupakan bibimu ini ‘kan, Kimi?”
Wanita muda berambut merah itu hanya tersenyum kecut, tanpa menimpali perkataan bibinya. Ia sudah lelah jika harus berdebat tentang uang dengan bibinya. Gajinya sebagai karyawan toko dan kasir di toserba selalu habis tak bersisa.
Untuk memenuhi kebutuhan tertentu saja, ia sampai harus mengambil pinjaman karyawan. Untungnya, manajer tua di toko furnitur menyukainya, sehingga ia tak mendapat kesulitan jika harus mengajukan pinjaman setiap tahunnya untuk membayar sewa rumah.
Karena itu, membayangkan keluar dari toko dan berpisah dari teman serta atasannya, terasa sangat berat bagi Kimi. Ia sampai tak bisa tidur semalaman karena membayangkan hal tersebut. Selama ini, hanya di toko furniturlah ia merasa tenang, jauh dari cercaan atau rongrongan bibinya.
“Jadi, apakah Hans sudah memberitahumu kapan kami bisa pindah dari tempat ini?”
Kimi menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan umpatan yang memaksa keluar. Dia menatap Figo, berharap sepupunya itu bisa membungkam mulut ibunya barang sejenak. Akan tetapi, sama halnya dengan ibunya, lelaki itu hanya diam saja, menunggu jawaban darinya. Sehingga membuat suasana hati Kimi yang sudah buruk menjadi lebih parah lagi.
“Bibi, bisa tidak sih kau kendalikan dirimu sedikit saja? Hans baru datang kemarin, dan Bibi sudah menodongnya dengan meminta rumah. Dia sudah berjanji akan memberikannya. Jadi, kumohon kali ini tahanlah dirimu dan bersabar!”
Suara dentingan yang keras terdengar ketika bibi memukul piringnya dengan garpu. Dia kemudian mengacungkan alat makannya ke wajah Kimi. “Kau! Beraninya kau menyuruhku bersabar setelah bertahun-tahun kulalui dengan membesarkanmu. Itu tidak mudah,” semburnya berapi-api. “Orang tuamu tidak meninggalkan cukup uang untuk bisa dipakai merawatmu. Kau tahu dari mana aku membeli butiran beras atau roti yang masuk ke perutmu? Dari hasilku bersabar menjadi pekerja kasar di mana-mana! Dan kau masih menyuruhku bersabar sekarang, heh?”
Kimi mencengkeram peralatan makannya kuat-kuat. Tangannya yang gemetar menunjukkan betapa ia berusaha untuk menahan ledakan emosi dalam dirinya. “Dan apakah aku selama ini hanya berdiam diri? Di saat Figo bisa pergi bersenang-senang dengan temannya, aku harus mencari uang dengan menawarkan jasa payung saat hujan deras. Aku bahkan sering melewatkan kegiatan sekolah karena Bibi memintaku melakukan ini dan itu—”
“Sudahlah, kalian berdua. Demi Tuhan, ini masih pagi,” keluh Figo frustrasi.
Kimi sudah sepenuhnya kehilangan selera terhadap daging panggang di hadapannya. Dengan wajah merah padam, ia meninggalkan meja makan dan keluar rumah. Di toko, ia harus berusaha keras menata suasana hatinya supaya bisa tetap tersenyum melayani pelanggan yang banyak bertanya.
Begitu jam makan siang tiba, ia langsung menghilang dari toko dan pergi ke kantor Hans. Sayangnya, ia hanya berjumpa dengan Rob saja, yang manyampaikan bahwa bosnya masih ada urusan pribadi dan akan terlambat datang.
Sambil menunggu kedatangan Hans, Rob sengaja mengajak Kimi mengobrol ringan. Dia banyak bertanya tentang latar belakang wanita yang akan menjadi istri kontrak bosnya itu. Namun, sesekali ia juga menyelipkan petunjuk tentang kiat-kiat menangani pimpinan Wira Property, jika kelak mereka akan tinggal serumah.
“Sekilas dia mungkin terlihat seperti orang yang keras, tapi di balik sikapnya itu … Tuan Hans adalah orang yang hangat. Aku yakin nanti Anda tidak akan menyadari kalau waktu kontrak sudah habis.”
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah tadi pagi, Kimi tertawa tanpa dibuat-buat. Baginya lucu sekali membayangkan sosok Hans yang selalu bermuka datar tiba-tiba berubah menjadi pria penyayang. Kimi menggeleng-gelengkan kepala.
“Entahlah, Pak Rob. Kurasa aku akan berhati-hati menghadapinya. Aku bersedia melakukannya karena dia berjanji akan memberiku imbalan. Tidak lebih dari itu.”
Rob tersenyum simpul. “Jadi, benar-benar karena uang? Sama sekali tidak tertarik padanya?”
Sambil terkekeh, Kimi menjawab dengan tegas, “Tidak sama sekali.”
Rob masih mengulum senyum di bibirnya, sementara tangan kanannya mengusap bolpen berwarna emas yang ada di saku jas. Kilat di mata tuanya terlihat ganjil, ketika ia mengamati wajah polos wanita di hadapannya.
Tepat ketika Rob bangkit dari kursi, pintu ruangan terbuka dan Hans muncul dari sana. Pria tampan itu mengerling ke arah Kimi sekilas, lalu bicara kepada asistennya, “Kau sudah menyiapkan berkasnya ‘kan, Rob?”
“Sudah, Tuan Hans.” Rob menyodorkan sebuah map kepada Kimi, yang segera dibaca dengan saksama oleh wanita tersebut.
Kimi membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk membaca seluruh poin-poin perjanjian, sebelum akhirnya membubuhkan tanda tangannya di surat perjanjian itu. Begitu selesai, Hans langsung menyambar map berisikan surat perjanjian mereka.
“Baiklah, mulai sekarang kau resmi menjadi calon istriku. Pernikahan kita akan diatur segera. Tapi sebelum itu, ada satu tugas yang harus kau kerjakan dengan baik.”
Kimi menahan napas, saat bertanya, “Tugas apa itu?”
“Kau akan menemaniku ke acara ulang tahun asosiasi pengusaha akhir pekan ini. Tunjukkan penampilan terbaikmu di sana!”
***
“Bagaimana penampilanku?” Kimi mengarahkan layar ponsel dari atas ke bawah, supaya Icha bisa memperhatikan detail penampilannya kali ini.Dia sedang berada di salon kecantikan dan baru saja selesai dirias. Karena mendadak merasa gugup, maka ia melakukan panggilan video kepada sahabatnya. Dia tahu di jam-jam petang, toko furnitur pasti sedang santai dan tidak akan mengganggu jika ia menyita waktu Icha barang 5 menit.“Aku tidak pernah melihatmu secantik ini, Kim,” puji Icha dengan tulus. “Kau terlihat sangat berbeda. Kau bahkan mengganti warna rambutmu. Lagi!”Kimi mengusap rambutnya yang sekarang berwarna seperti karamel dan disanggul dengan anggun. Dia harus izin cuti dari toko hari ini, supaya bisa datang ke salon lebih awal dan mendapatkan perawatan total untuk merombak penampilannya.Dia harus merelakan rambut merahnya dan menyerahkan pilihan kepada hairstylist untuk menentukan warna apa yang serasi untuk dirinya, sekaligus cocok untuk menghadiri sebuah pesta dari kalangan para ek
Kimi menatap wajah Hans dengan rasa tak percaya. ‘Laki-laki ini … pasti ada yang salah dengan isi kepalanya,’ bisiknya dalam hati. Dia tentu saja merasa tersinggung dengan perkataan Hans. Kimi memang merasa gugup sebelumnya karena berada di situasi yang asing baginya. Namun, dia tak berpikir jika penampilannya seburuk itu hingga bisa disebut mengecewakan.“Kau tahu berapa yang kuhabiskan untuk terlihat seperti ini?”Hans tertawa pendek. “Ooh, itu bahkan lebih mengecewakan lagi! Mengingat akulah yang harus membayar tagihannya nanti,” tukasnya tanpa perasaan.Mendengar itu, emosi Kimi jadi ikut tersulut. “Astaga! Aku tak tahu lagi bagaimana penampilan terbaik menurut versimu, Mr. Perfect!” balas wanita tersebut, dengan masih bertahan di tempatnya berdiri. Ia tak beranjak sedikit pun, bahkan ketika Hans berdiri dari tempat duduk dan maju selangkah ke arahnya.“Kau datang ke sini sebagai pasanganku. Jadi, perhatikan kata-katamu!” desis pria berbadan jangkung dan berbahu lebar itu.Kimi me
Kimi secara diam-diam mencuri pandang ke arah kanan, di mana sosok Hans sedang duduk di sampingnya. Sementara mobil yang dikemudikan oleh Rob terus melaju melewati lampu-lampu jalan raya yang masih dipadati oleh lalu lintas malam. Sejak keluar dari Mountain View Hotel 15 menit yang lalu, Hans sama sekali belum bicara. Bahkan ketika Kimi tersandung pintu lift dan hampir membuat pria tersebut ikut jatuh, kebungkamannya masih tetap bertahan. Dan Kimi semakin yakin bahwa asumsinya benar belaka. Dia tak punya keraguan sedikit pun, tentang hati Hans saat ini. Acara pesta para eksekutif beberapa saat lalu, sudah cukup memberikan bukti. Kimi masih ingat, setelah Jessy menyebut nama Desi, Hans -dengan mengemukakan alasan hendak menemui koleganya yang lain- segera menarik Kimi ke sudut lain yang lebih sepi. Menghindari kerumunan dan mulai mengunci mulutnya. Kimi melalui 40 menit di sana dengan menjadi manekin. Para pria banyak meliriknya, tapi Hans memasang mimik sangar sehingga tak seorang
Kimi merinding di bawah tatapan wanita yang lebih jangkung darinya. Dia seakan-akan dibuat membeku oleh kata-kata dingin yang baru saja meluncur dari mulutnya. Sehingga saat Hans meraih pinggang kecilnya, Kimi oleng begitu saja ke pelukan pria tersebut.“Tidak. Aku tidak memilihnya secara acak, Ibu. Aku sudah mengenalnya beberapa waktu dan berpikir kalau dia sangat cocok menjadi pendamping hidupku.”Ibu Hans memicingkan matanya hingga membentuk garis sabit. “Kau pikir pernikahan itu seperti acara sulap? Yang bisa kau mainkan sesuka hatimu? Kami bahkan belum mengenalnya.”Tanpa rasa gentar sedikit pun, bahkan cenderung terlihat santai, Hans membalas, “Yah, Ibu, itulah kenapa aku membawanya ke acara kita malam ini. Supaya kalian semua bisa mengenalnya.”Ibu Hans membuka mulut hendak menimpali ucapan anaknya, ketika seorang wanita lain yang tampak jauh lebih sepuh ikut angkat bicara, “Ira, Ira … sudahlah, mereka baru saja datang. Jangan mendebatnya seperti itu!”“Tapi, Ibu—”Decakan kasa
Kimi tersenyum geli, kala melihat sahabatnya terkesima dengan kafe miliknya. Icha mendesah kagum setiap kali melihat perabot atau peralatan kafe yang semuanya tampak unik dan estetik.“Aku yakin di kehidupan sebelumnya kau adalah putri raja yang dikorbankan, Kim. Itulah kenapa di kehidupan sekarang kau begitu beruntung.”Kimi tertawa pendek, lalu menimpali, “Kau lupa 18 tahun yang kulalui dalam kesengsaraan di rumah bibiku?”Icha mencubit lengan Kimi dengan lembut, kemudian memeluknya. “Ohh, ayolah, aku tidak bermaksud begitu, Kim. Aku hanya mengungkapkan betapa kehidupanmu sekarang tampak begitu … sempurna. Keluarga bibimu tentu saja masih sialan di mataku.”Ketika mereka saling melepaskan pelukan, Kimi tersenyum kecil. “Bagaimana kabar di toko?”Icha menjatuhkan diri di salah satu kursi yang ada di depan meja bar, begitu juga dengan Kimi. “Manajer terus mengeluh. Katanya tidak ada karyawan yang cekatan sepertimu. Kau seharusnya tahu bagaimana aku dan si Keriting Layla mencoba menghi
Kimi seolah tak berani menggerakkan otot lehernya, bahkan ketika tangan yang berotot itu semakin kuat mengunci pinggangnya. Belum lagi kulit lututnya yang menggesek paha Hans yang berbalut celana gelap. Wajah pria itu begitu dekat dengan dadanya. Kimi bahkan bisa merasakan embusan napasnya menerpa lengan. Dia hanya bisa duduk di sana, dalam pangkuan Hans, dengan tatapan yang hanya bisa ia tujukan kepada Desi. Bukan karena ia ingin begitu, tapi karena ia memang tak sanggup memandang wajah di dekatnya, terutama dengan jantung yang mendadak berdegup kencang. “Begitu tidak bekerja di sini, kau melupakan etikamu, Desi?” Suara dingin Hans semakin meningkatkan keinginan Kimi untuk bergidik. Namun, ia berhasil menahannya. Apalagi saat dilihatnya sosok Desi tetap melenggang ke arah sofa dan duduk di sana. “Maaf, Hans. Ini hampir jam makan siang. Jadi, kupikir kau sedang senggang seperti biasanya dan—” “Seperti biasanya,” ulang Hans yang diakhiri dengan tawa pendek. “Well, mulai sekarang kau
Kimi bisa bernapas lega kali ini, karena Hans tidak melontarkan kritik pedas terhadap dirinya. Itu semua berkat Rob yang memberinya saran dan membantunya memilihkan pakaian serta detail lain yang sebelumnya terlewatkan.Sekarang setelah ia tahu apa yang membuat Hans waktu itu mengkritik penampilannya, ia merasa lelaki tersebut benar-benar sentimental. Bagaimana tidak? Saat menemuinya diam-diam kemarin, Rob berkata, “Nona, jadilah dirimu sendiri! Tuan Hans memilihmu karena dia sudah melihat karaktermu. Jadi, jangan mengubahnya! Apalagi berpenampilan seperti di acara tahunan di Mountain View tempo hari. Anda hanya akan mengingatkannya pada sakit hati yang dirasakannya, karena penampilan Anda saat itu mirip dengan seseorang.”Kimi jadi tersenyum-senyum sendiri setiap kali teringat perkataan Rob itu. Seperti sekarang, ketika ia dan Hans duduk berdampingan di dalam mobil yang dikemudikan oleh asisten tuanya. Dia beberapa kali tersenyum pada bayangannya sendiri yang terpantul di jendela mob
“Akhir bulan ini?” celetuk Violetta, yang pertama kali tergugah dari kebisuan. Pertanyaannya itu dijawab Kimi dengan anggukan yang disertai senyuman malu-malu. “Wah … ini benar-benar seperti mimpi di siang bolong. Hans akhirnya akan menikah!” imbuh Vio sembari menoleh ke semua temannya.“Tanpa acara tunangan? Langsung menikah saja?” timpal yang lain tak kalah terkejut.Hans tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Kimi dengan penuh kelembutan. “Kami sepakat untuk tidak membuang-buang waktu.”Pria yang duduk di sebelah Hans, menyikut perutnya. “Hei hei … acara seperti ini tidak bisa disebut membuang waktu. Orang-orang seperti kita selalu melewatinya tahap demi tahap. Kau ingin melanggar tradisi?”Hans mengedikkan bahunya acuh tak acuh. “Keluarga kami sudah setuju untuk mempercepat acara pernikahan,” pungkasnya, membuat semua orang kembali saling melempar pandang.Tak ingin tamunya terlalu banyak menyita perhatian tamu lainnya, Victor pun berkata, “Kau memang menyebalkan, Hans. Bisa-bisan