Pagi itu, Mawar akan membuat kopi untuk Zola. Ia sudah berada di dapur. Kemudian memasukkan sebungkus kopi hitam sachet ke dalam cangkir dan dibubuhi oleh obat penggugur kandungan yang sudah ia haluskan.Setelah bahan tercampur, ia mengucurkan air panas pada dispenser ke dalam cangkir tersebut.Tidak lama, kopi pun jadi. Ia langsung membawa secangkir kopi tersebut ke ruang makan."Ini kopinya. Silakan diminum," ujar Mawar yang sudah meletakkan secangkir kopi di atas meja yang tepatnya di depan di mana Zola duduk.Zola tersenyum. "Makasih, Mawar. Nanti kalau sudah hangat, akan saya minum!" Mawar tersenyum kecut. "Oke. Minum saja kalau mau. Kalau enggak ya nggak papa," jawab Mawar yang berpura-pura bersikap kalem dan duduk kembali di ruang makan. Ia melanjutkan makan sambil melirik ke arah Denis. Denis seharusnya Hari ini gajiannya namun, karena kartu ATM-nya diduga hilang, ia tidak bisa mengajak jalan-jalan Mawar.Setelah kopi agak hangat, Zola segera meminum kopi buatan Mawar."Huek
Pagi itu, sebelum Aisyah akan berangkat kerja, ia malah bertengkar dengan Mawar. Ia tidak sengaja mendorong Mawar hingga ia terjatuh.Saat itu juga Mawar mengeluarkan da rah dari jalan lahirnya."Sakit sekali Syah!!! Tolong aku!!! Semua ini gara-gara kamu! Lihat aku pen da ra han. Jika terjadi sesuatu sama ja nin aku, kamu harus tanggung jawab!!" ujar Mawar yang malah menyalahkan Aisyah. Mawar masih duduk dengan kaki lurus ke depan dan menahan sakit."Astaghfirullah, Mawar. Di saat kamu kena musibah kamu malah menyalahkan aku? Kamu mau aku tolong lho!! Tapi kamu malah bersikap seperti itu!! Tadi yang mulai siapa? Haduh, aku harus telepon pihak medis ini agar kamu segera di tangani oleh pihak Rumah Sakit!!"Aisyah tidak menghiraukan tuduhan buruk dari Mawar, ia langsung menelepon pihak rumah sakit langganannya. Setelah menekan nomor yang dituju, nomor tersebut segera diangkat. Akhirnya pihak rumah sakit akan segera datang dengan membawa ambulan. "Mawar, saya harap kamu jangan mengel
Mawar yang ada di ruang tunggu, sesegera mungkin akan menuju ke ruangan di mana Mawar dirawat karena ia mendengar suara rintihan Mawar yang kesakitan.Tidak lama, ia sudah di samping Mawar. "Mawar, kamu kesakitan? Apa aku harus panggil Dokter sekarang?" tanya Aisyah yang gugup karena ia melihat wajah Mawar yang sangat pucat. "Iya Syah. Perut aku sakit sekali. Seperti mau me nge jan. Hik hik!"Terlihat Mawar yang sedang meringis kesakitan. Tangannya memegang tiang besi yang ada disampingnya."Bertahanlah Mawar. Perbanyak istighfar. Aku akan panggil Dokter sekarang!!"Karena Aisyah sangat takut melihat Mawar yang kesakitan luar biasa, Ia segera menemui ruang Suster dan menyampaikan keluhan yang dialami oleh Mawar."Saya akan telponkan Dokter. Kakak silakan ke ruang Nona Mawar kembali untuk segera menemani! Khawatir dia akan kenapa-kenapa!" ujar salah satu perawat. Ia langsung menelepon Dokter yang tadi memeriksa Mawar.Aisyah kembali ke ruangan UGD untuk menemani Mawar yang ternyata m
Setengah jam kemudian, Aisyah sudah sampai di gedung barunya yaitu gedung yang dekat rumahnya Jiho. Gedung sebagai tempat produksi jahitan berkualitas bagus dan patut diacungi jempol. "Maaf, Jiho. Saya terlambat. Baru saja saya mengantar Mawar ke rumah sakit!" Dengan nafas ngos-ngosan Aisyah menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Tepat pukul 09.00 pagi, Aisyah kemudian duduk di mesin jahit dan sedang mulai mengerjakan jahitan yang menumpuk. Waktu itu belum ada karyawan yang membantu karena masih proses perekrutan karyawan. Kerjaan Aisyah saat ini adalah menjahit pakaian dari Ibu-Ibu yang memesan dari tetangga dekatnya sendiri. "Mawar sakit apa Aisyah? Apakah dia sudah baik-baik saja dan ada yang menemani? Tahu gini, aku nggak mendesak kamu. Biarkan aku sendiri yang mengerjakan tadi. Maafkan aku ya Syah!" Jiho sangat ramah dan tidak galak sehingga Aisyah semakin betah bekerja sama dengan Jiho. Walaupun mereka belum terlalu akrab. "Dia pen da ra han, Jiho. Ternyata dia h
Saat sore hari, Aisyah sudah selesai bekerja ada suara-suara tidak enak yang menghina dirinya. Rina menghina dirinya sebagai wanita perebut pria lain dan disebut gan jen."Astaghfirullah, Rin, yang gan jen itu siapa? Saya di sini itu bekerja keras! Tidak ada waktu untuk menggoda pria. Kamu ke sini ngapain?" tanya Aisyah sambil menatap tajam ke arah Rina. Rina memicingkan mata. "Kamu itu, sukanya dekat sama Devan. Buktinya ia nyamperin kamu. Kamu juga kerjanya juga sama pria. Pria tampan pula! Apa kamu tidak malu?" ujar Rina yang tidak mau mengalah. Ia sudah sakit hati karena kalah dengan Aisyah.Aisyah berdiri mematung sambil mendengarkan ocehan Rina yang tidak bermutu. "Malu itu kalau aku berbuat zi na! Kalau aku kerja halal tidak akan malu! Nanti juga teman-temanku banyak!" Aisyah terbawa emosi dengan kata-kata pedas yang diucapkan oleh Rina."Selamat sore!"Saat Aisyah berdebat dengan Rina datanglah sepuluh orang wanita yang datang menemui Aisyah. "Selamat sore! Ini kesepuluh or
Aisyah tidak langsung menjawab notif dari Denis yang memerlukan bantuan. Ia masih berdiri mematung memikirkan kondisi Mawar yang memburuk. Ia sangat kesal dengan kelakuan Mawar yang selalu benci padanya. Namun, disisi lain ia juga iba karena ada nyawa bayi yang harus diselamatkan."Jiho, Kak Devan, aku pergi dulu ya? Sampai jumpa besok lagi!"Aisyah segera pergi ke rumah sakit menemui Mawar. Jiho mengangguk dan mempersilakan Aisyah untuk pulang. Sementara Devan mengikuti Aisyah hingga ia keluar dari pabrik tersebut."Syah, kamu mau pulang sekarang? Aku boleh mampir?" tanya Devan dengab raut wajah ramah.Aisyah murung. "Kak, aku harus ke rumah Sakit. Mawar harus diselamatkan. Aku nggak tega dengannya," ujar Aisyah dengan jujur.Devan terkejut. " Ada apa dengan Mawar, Syah? Barang kali aku bisa membantu," tanya Devan penasaran.Aisyah menatap tajam Devan. "Mawar mengalami pen da ra han. Setelah dicek Dokter, janin yang ada dalam rahimnya Mawar tidak sehat. Harus memilih dioperasi atau m
Saat hampir Maghrib, Keputusan terakhir dari Dokter, Mawar harus dioperasi walaupun Mawar tidak setuju."Mawar, kata Dokter, kamu harus dioperasi! Agar kamu sehat kembali," kata Denis kepada Mawar. Kini Denis sudah ada samping Mawar yang masih tergeletak di ranjang dan tidak berdaya."Apa kamu punya biaya Mas? Operasi kan mahal?"Akhirnya Mawar merespek perkataan Denis. "Biarkan aku yang menangani biaya operasi ini Mawar! Yang jelas kamu bisa diselamatkan!" sahut Devan yang juga sudah ada di ruangan rawat inap tersebut. Pada asalnya, Mawar dari ruang UGD. Kini dipindah di ruang rawat inap agar lebih nyaman ditunggu oleh keluarganya.Mawar memejamkan matanya. "Kalau itu yang terbaik. Aku pasrah saja. Mas Denis, doain aku selamat ya? Mas Devan, makasih sudah mau menanggung biaya operasi saya. Sungguh, saya sangat terpukul dengan kejadian ini," sahut Mawar yang akhirnya ia setuju jika dioperasi. Ia menangis. Menangisi janinnya yang terancam tidak bisa diselamatkan lagi. Padahal ia sud
Aisyah menoleh sesaat ketika Devan memanggilnya. "Ada apa lagi Kak?" tanya Aisyah yang berpura-pura tidak mendengar."Kamu marah sama aku, Syah?" tanya Devan dengan rasa panik."Ti—tidak Kak. Ini sudah malam, aku harus ke dalam secepatnya nggak enak sama tetangga!" jawab Aisyah yang menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah jambu karena tersipu."Yasudah. Kamu ke dalam, tutup pintu dengan rapat. Jangan lupa dikunci!" kata Devan dengan nada serius. Aisyah mengangguk dan mengiyakan perintah Devan. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu tersebut.Setelah itu, Aisyah mengintip di balik tirai jendela melihat apakah Devan susah pergi. Ia melihat Devan sedang melakukan mobil dengan kecepatan sedang. Itu artinya ia sudah beranjak pergi.Terlihat Zola sedang duduk di ruang tamu dan tertidur. Aisyah menggelengkan kepala. "Ya Tuhan, ternyata Zola kelelahan. Kasihan dia. Ini sudah jam delapan malam. Pasti Zola belum makan! Kasihan janinnya. Aku harus membeli bakso di Mang Udin se
"Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar
Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap
Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi
Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja
Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka
"Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo
Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek
Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi
"Ya Alloh Neli, berikan amplop berisi uang itu kepada Den Devan. Ibu malu, kamu bersikap seperti itu. Kalau nanti Ibu dipecat, Ibu kerja di mana? Sudah kubilang, kalau Ibu akan memberi kamu uang saat gajian!" kata Mbok Ginah dengan memelas. Sebelum Devan marah besar, Mbok Ginah memperingatkan Neli terlebih dahulu. "Sudah, sudah. Begini saja Neli. Jika kamu tidak mau memberikan amplop itu kepada saya, jalur hukum solusinya!"Devan mulai tegas kepada Neli karena sudah mengambil barang yang bukan menjadi haknya. "Laporkan saja aku pada polisi, aku tidak takut! Aku bosan dengan kemiskinan ini. Lebih baik aku di sel penjara, dari pada bebas tapi tidak punya uang!" Neli sudah frustasi dengan hidup. Dia tidak pernah bersyukur dengan uang hasil pemberian Mbok Ginah. Padahal Mbok Ginah selalu menghemat pengeluaran."Oke, ayo ikut saya ke kantor kepolisian. Kamu itu sudah merampas uangnya Aisyah. Sama saja kamu mencuri! Jika kamu memberikan amplop beserta uang itu kepadaku, aku juga akan me