Pada siang itu, Aisyah sudah selesai pekerjaannya mengawasi jalannya pekerjaan. Saatnya kini ia menuju ke gedung "TULIP".Aisyah sudah berada di mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Ia segera tancap gas menuju gedung tersebut.Dua puluh menit kemudian, ia sudah sampai di gedung tersebut. Ia turun dari mobil dan menuju gedung bernuansa eksotik tersebut.Gedung indah berwarna merah muda. Di samping gedung tersebut, dikeliling j taman dan dihiasi bunga beraneka warna. Ada air mancur juga sehingga terkesan asri dan segar. Hatinya yang gelisah sedikit memudar ketika Aisyah melihat alam yang segar tersebut. Ia memberanikan diri memasuki gedung indah tersebut. Saat sampai di dalam ruangan luas pada gedung itu, para tamu undangan sudah banyak yang datang. Terlihat Mama Linda sedang berbincang dengan wanita cantik bergaun merah muda. Seperti Dewi Kahyangan. Dia adalah Rina. Namun, Devan masih saja belum kelihatan. "Aisyah! Akhirnya kamu sudah datang juga! Teriak kasih, Sayang." Senyum hang
Pada siang itu, bukannya memberikan cincin di jemari milik Rina, Devan malah merebut mikrofon yang dipegang oleh moderator. Devan ingin berbicara kepada semua yang hadir pada acara tersebut. "Selamat siang para tamu undangan sekalian. Serta keluarga besar dari Rina yang saya kagumi. Yang telah lelah dan semangat menyambut tunangan kami. Namun, saya ingin sampaikan hal terpenting yang belum kalian ketahui. Sebelumnya saya mengucapkan maaf kepada Papa dan Mama saya yang mendesak untuk bisa bertunangan dengan Nona Rina. Saya pribadi, ingin mengatakan, apakah jodoh itu bisa dipaksakan? Saya tanya kepada Ibu yang memakai gamis berwarna biru di sana sialan ke sini dan jawab pertanyaan saya!" Devan memanggil seorang Ibu-Ibu tamu undangan yang memakai gamis berwarna biru. Ibu-Ibu tersebut tidak lama, maju ke atas panggung dan berada tepat di depan Devan. "Jawabnya jodoh nggak bisa dipaksakan anak muda? Apakah kamu ada masalah dengan tunangan ini?" tanya Ibu-Ibu tersebut dengan rasa curiga
Saat siang, perdebatan antara Devan dengan papanya semakin panas. "Silakan Pah. Jika Papa ingin menyita aset dari Perusahan Papa yang dikelola. Saya akan mencari peluang lain agar bisa berbisnis kembali. Rezeki itu datangnya tak disangka-sangka. Papa belum sadar apa yang saya katakan tadi? Cinta dan jodoh itu tidak bisa dipaksakan. Seandainya Mama kemarin nggak ngotot, hal ini tidak akan terjadi!" Papa Hadi geram. "Kamu memang keras kepala Devan! Jangan membuat Papa jantunga seperti ini! Argh!" Karena Papa Devan tidak bisa menerima semua kemauan Devan, penyakit jantung Pap Hadi mulai kambuh. Papa Hadi pingsan tak sadarkan diri."Pah, kenapa Papa harus pingsan. Selemah ini kah Papa? Pah, Devan tidak suka dengan Rina. Kenapa malah Papa yang pingsan?" Akhirnya para tamu undangan berhamburan pulang karena Papa Hadi malah pingsan.Papa Hadi dibawa ke kamar khusus yang ada di ruangan tersebut untuk diperiksa oleh Dokter yang sudah dipanggil oleh Mama Linda. Terpaksa Moderator mempersilak
Saat sore hari, Devan ditampar habis-habisan oleh papanya Rina. Tidak hanya ditampar, ia juga didorong sampai rubuh ke lantai keramik. Papanya Rina tidak terima jika tunangan tersebut dibatalkan. Hanya Devan yang berani menolak acara keluarga besar dari Rina. Devan mimisan dan masih dalam posisi duduk di lantai. Mama Linda panik. "Tuan Brama? Maafkan kesalahan Devan! Kita bisa bicara baik-baik mengenai acara tunangan ini? Sepenuhnya bukan salah Devan. Kami sebagai orang tua juga bersalah. Dari awal memang Devan tidak menyetujui tunangan ini. Namun, saya, Jeng Siska dan Rina ingin kekeh mengadakan acara tunangan! Semua serba terpaksa."Akhirnya Mama Linda sadar diri atas kesalahannya. Mengetahui bahwa keluarganya Rina diduga licik karena telah mengambil sebagian omset Perusahaan yang harusnya dibagi secara adil."Tapi kalau Devan sudah mau dalam acara tunangan tersebut, harusnya mau dan tidak mempermalukan keluarga kita! Saya sebagai pemimpin keluarga sangat malu! Saya merasa dihinak
Masih pada sore hari, Devan mengejar Aisyah yang berjalan cepat untuk pulang. "Ada apa Kak Devan? Aku bisa pulang sendiri, aku kan bawa mobil?" Devan tidak tahu kalau Aisyah membawa mobil sendiri saat berangkat tadi. "Syah, aku mohon, aku ingin bicara denganmu di suatu tempat. Kamu mau ya? Kita ke Kafe X yuk? Mumpung kita bertemu, Syah?" Devan menatap wajah Aisyah dengan gelisah saat Aisyah berbalik badan dan tak sengaja memandang Devan sekilas. Lalu Aisyah menunduk kembali karena malu dengan Devan. "Memang penting?" tanya Aisyah sambil mengernyitkan dahi. Aisyah sedikit tidak enak dengan kedua orang tuanya Devan karena baru saja ada acara tunangan yang gagal. Ia takut akan disalahkan. Devan menatap Aisyah dengan serius. "Penting banget Syah. Aku mohon?" Devan memohon agar Aisyah mau bertemu dengannya. "Tapi aku takut Mama dan Papa kamu marah, Kak? Aku pulang dulu ya?" Aisyah masih membantah omongan Devan karena ia tidak mau bermasalah dengan kedua orang tua D
"Rina? Kenapa kamu selalu mengganggu hidupku! Jaga mulut kamu! Aisyah itu tidak serendah apa yang kamu ucapkan! Aku menyukai dia dan yang mengajak dia ke sini adalah aku! Pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi!" Devan geram ketika pada waktu senja itu, Rina tiba-tiba datang dan menghina Aisyah. Rina tersenyum kecut. "Karena aku menyukaimu Devan! Aku tidak akan rela jika kamu bersama wanita lain! Aku ingin kita jadi menikah! Apa itu salah?"Rina masih saja kekeh dalam pendiriannya. "Sudah-sudah. Jangan banyak drama begini. Kamu yang pergi, atau kami yang akan pergi. Syah, kita pergi saja dari sini. Dia akan lebih cerewet kalau diladenin terus!"Karena Devan tidak mau ribut dengan Rina, Devan mengajak Aisyah untuk pergi.Karena Aisyah sangat tidak nyaman dengan tingkah Rina, Aisyah menuruti permintaan Devan. Devan dan Aisyah berjalan menuju tempat lain. "Syah, kita pulang yuk? Ini sudah malam. Aku antar ya?" Karena waktu hampir Maghrib, Devan ingin mengantar Aisyah untuk pulang
Pada pagi itu, ketika Aisyah hendak diajak Devan kerumahnya, mereka dikejutkan oleh kedatangan Denis. Denis berniat ingin meminjam uangnya Aisyah untuk melunasi hutang hutangnya yang belum kelar. Tidak hanya itu, Denis juga mengaku bahwa Zola telah meninggal dunia akibat operasi sesar. Aisyah sok mendengar berita dari Denis tersebut."Innalilahi wainnailaihi roji'un. Jadi Zola meninggal dunia? Ya ampun Mas! Kenapa kau nggak bilang dari kemarin? Aku sudah bilang, kemarin Zola sama aku saja. Sekarang Zola malah tidak tertolong. Mungkin ini sudah takdir. Maaf, Mas aku nggak bisa pinjamkan uang untuk kamu. Kamu telah menyakiti aku Mas! Cari pinjaman ke Bank atau minta sama siapa terserah Mas!" Aisyah tidak mau meminjamkan uang ke Denis. Rasa sakit hati Aisyah masih ada walaupun Denis sudah ia maafkan. Denis menunduk lesu. "Dek, kamu kok tega sama aku? Aku bisa dipenjara kalau nggak bisa melunasi hutang temanku! Apa aku m4ti saja di dunia ini!" Denis frustasi dengan apa yang sedang ter
Siang itu, Devan dan Aisyah berencana akan sepakat untuk nembungnkepada Mama Linda dan Papa Hadi untuk menikah. Devan memberanikan diri menjawab pértanyaan papanya yang sudah tidak sabar. "Pah, Mah, saya membawa Aisyah ke sini bertujuan untuk meminta restu. Semoga kalian merestui hubungan pernikahan antara saya dan Aisyah. Kami berdua sepakat akan menikah. Kami terikat hati yang saling cintandan tidak ada paksaan. Kami sudah berdiskusi." Dengan pelan tapi pasti, Devan akhirnya bisa mengutarakan maksud hatinya kepada kedua orang tuanya. Papa Hadi memegang dagunya. Ia menghela napas. "Mah, bagaimana ini?" Papa Hadi terkejut. Ia tidak marah namun, menoleh kepada sang istri yang tampak wajahnya terkejut. Sama seperti dirinya. "Serius? Ma—ma tidak bisa berkata-kata. Kirain kalian itu nggak saling cinta. Van, ini sungguh konyol. Jangan main-main dengan pernikahan seperti Denis! Aku nggak mau, Aisyah sakit untuk yang kedua kalinya. Mama dan Papa sudah menganggap Aisyah sebagai anak k
"Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar
Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap
Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi
Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja
Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka
"Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo
Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek
Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi
"Ya Alloh Neli, berikan amplop berisi uang itu kepada Den Devan. Ibu malu, kamu bersikap seperti itu. Kalau nanti Ibu dipecat, Ibu kerja di mana? Sudah kubilang, kalau Ibu akan memberi kamu uang saat gajian!" kata Mbok Ginah dengan memelas. Sebelum Devan marah besar, Mbok Ginah memperingatkan Neli terlebih dahulu. "Sudah, sudah. Begini saja Neli. Jika kamu tidak mau memberikan amplop itu kepada saya, jalur hukum solusinya!"Devan mulai tegas kepada Neli karena sudah mengambil barang yang bukan menjadi haknya. "Laporkan saja aku pada polisi, aku tidak takut! Aku bosan dengan kemiskinan ini. Lebih baik aku di sel penjara, dari pada bebas tapi tidak punya uang!" Neli sudah frustasi dengan hidup. Dia tidak pernah bersyukur dengan uang hasil pemberian Mbok Ginah. Padahal Mbok Ginah selalu menghemat pengeluaran."Oke, ayo ikut saya ke kantor kepolisian. Kamu itu sudah merampas uangnya Aisyah. Sama saja kamu mencuri! Jika kamu memberikan amplop beserta uang itu kepadaku, aku juga akan me