Share

73. Kamu Tega

Penulis: Ayu Sekti
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-22 08:51:33

Pada pagi itu, ketika Aisyah hendak diajak Devan kerumahnya, mereka dikejutkan oleh kedatangan Denis. Denis berniat ingin meminjam uangnya Aisyah untuk melunasi hutang hutangnya yang belum kelar.

Tidak hanya itu, Denis juga mengaku bahwa Zola telah meninggal dunia akibat operasi sesar. Aisyah sok mendengar berita dari Denis tersebut.

"Innalilahi wainnailaihi roji'un. Jadi Zola meninggal dunia? Ya ampun Mas! Kenapa kau nggak bilang dari kemarin? Aku sudah bilang, kemarin Zola sama aku saja. Sekarang Zola malah tidak tertolong. Mungkin ini sudah takdir. Maaf, Mas aku nggak bisa pinjamkan uang untuk kamu. Kamu telah menyakiti aku Mas! Cari pinjaman ke Bank atau minta sama siapa terserah Mas!"

Aisyah tidak mau meminjamkan uang ke Denis. Rasa sakit hati Aisyah masih ada walaupun Denis sudah ia maafkan.

Denis menunduk lesu. "Dek, kamu kok tega sama aku? Aku bisa dipenjara kalau nggak bisa melunasi hutang temanku! Apa aku m4ti saja di dunia ini!"

Denis frustasi dengan apa yang sedang ter
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
kho pinjam ais kan ortunya debis kaya pengusaha
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   74. Debaran Rasa

    Siang itu, Devan dan Aisyah berencana akan sepakat untuk nembungnkepada Mama Linda dan Papa Hadi untuk menikah. Devan memberanikan diri menjawab pértanyaan papanya yang sudah tidak sabar. "Pah, Mah, saya membawa Aisyah ke sini bertujuan untuk meminta restu. Semoga kalian merestui hubungan pernikahan antara saya dan Aisyah. Kami berdua sepakat akan menikah. Kami terikat hati yang saling cintandan tidak ada paksaan. Kami sudah berdiskusi." Dengan pelan tapi pasti, Devan akhirnya bisa mengutarakan maksud hatinya kepada kedua orang tuanya. Papa Hadi memegang dagunya. Ia menghela napas. "Mah, bagaimana ini?" Papa Hadi terkejut. Ia tidak marah namun, menoleh kepada sang istri yang tampak wajahnya terkejut. Sama seperti dirinya. "Serius? Ma—ma tidak bisa berkata-kata. Kirain kalian itu nggak saling cinta. Van, ini sungguh konyol. Jangan main-main dengan pernikahan seperti Denis! Aku nggak mau, Aisyah sakit untuk yang kedua kalinya. Mama dan Papa sudah menganggap Aisyah sebagai anak k

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-23
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   75

    "Aisyah, sekarang kamu sudah menjadi istriku, maukah nanti sore aku ajak kamu ke suatu tempat? Kita bulan madu di sana?" tanya Devan setelah tujuh hari pernikahan. Waktu itu pagi hari, Aisyah dan Devan sedang berada di taman depan rumah. Mereka sedang menikmati pemandangan alam. "Setuju saja. Kapan kita ke sana?" tanya Aisyah sambil memetik bunga di kebun. Kebetulan waktu itu, bunga di depan halaman rumah tersebut sedang bermekaran. Semekar hatinya Aisyah saat itu. "Nanti sore. Kita persiapan sekarang!"ajak Devan kepada Aisyah untuk menuju kamar pribadinya. Devan membantu Aisyah mempersiapkan barang yang akan dibawa ke penginapan. Selesai mempersiapkan barang yang akan dibawa nanti, Aisyah menuju dapur untuk mempersiapkan masakan untuk Devan dan keluarganya. Masakan sudah Aisyah masak sejak tadi pagi sehingga ia hanya memanasi dan membawa maskaan tersebut ke ruang makan. "Mas, dari tdi kita belum sarapan, ini udah jam sembilan pagi, yuk, kita sarapan bareng?" ajak Ai

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   76. Konten Video

    "Aku cuma mau kamu ganti rugi atas anak yang kamu kandung! Kamu telah tega menodaiku malam itu, Devan!" Singa hari, Rina tersenyum licik karena ia berhasil bertemu Devan dan mempunyai rencana. "Maksudmu apa, Rina? Saya tidak pernah berhubungan dengan kamu, kau tuduh aku telah mengandung anakku?" Devan terkejut dengan penuturan Rina. Wanita itu selalu mengganggu hidupnya. Rina maju selangkah lebih dekat dengan Denis. Saat ini, ia berdiri tepat di depan Devan yang berdiri. Sementara Aisyah melihat dengan tatapan terkejut. "Lihat, video ini! Kamu tidur denganku! Jangan bilang aku tidak mempunyai video itu!" Rina memperlihatkan video di mana Devan sedang terlelap tidur. Disamping Devan, Rina sedang memeluk pria itu. Aisyah terkejut. Ia ikut melihat durasi konten tersebut dengan saksama. "Mas Devan! Itu benar-benar kamu?" Aisyah menutup mulut dengan kedua tangannya sambil melirik Devan dengan tajam karena ia tak menyangka, bahwa di dalam video tersebut ada Devan. "Sya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   77. "Masa Sih?"

    "Mana buktinya kalau kamu disekap, Devan! Jika ada buktinya, kami mempercayai kamu, tetapi kalau tidak, kami akan mengusir kamu dari komplek ini. Meracuni komplek ini saja!" Siang itu, Bu Lurah yang memakai daster coklat meminta bukti kebenaran apa yang dikatakan oleh Devan. "Ayo, kalian semua saya antarkan ke hotel di mana saya disekap! Pasti di situ masih terekam CCTV. Dan kebetulan pemilik hotel tersebut adalah teman dekat saya! Dia itu wanita licik, tapi kenapa, Ibu-Ibu cepat percaya dengannya?" Devan meyakinkan warga setempat meski mereka belum terlalu percaya dengannya. Warga mulai terdiam. Mereka meresapi perkataan Devan yang ada benarnya juga. "Begini saja, nanti Pak RT sama Devan datang ke hotel itu, untuk mengungkap kebenaran! Jika memang Devan benar, kita harus meminta maaf kepadanya, tetapi jika memang dia dusta, kita beri hukuman padanya. Bagaimana?" Bu Lurah berusaha memberikan solusi agar masalah cepat selesai. "Sekarang juga, saya akan ajak Pak RT da

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   78. Karena Spageti

    Di sore yang cerah itu, Devan dan Aisyah masih berada di kamar. Mereka saling bertemu pandang dan berbagi kasih. "Biarkan aku lepas hijabnya sekarang, Suamiku. Lihatlah aku yang banyak kekurangan ini," tutur Aisyah sambil menundukkan kepala dan melepas hijabnya secara perlahan-lahan. Saat itu juga, Aisyah memperlihatkan mahkota indahnya kepada Devan. Seketika, Devan tak berkedip. "Kamu itu cantik, Syah. Sayang sekali kamu Denis, membuang berlian demi batu kali," batin Devan sambil menatap Aisyah karena takjub dengan keindahan wajah dan rambut Aisyah yang panjang dan bergelombang. "Mas Devan, kenapa kamu lihat aku seperti itu? Apa aku jelek?" Aisyah malah merasa dirinya tidak cantik. Ia belum sadar, bahwa Devan sangat mengagumi paras Aisyah yang manis. Devan terkekeh. "Apa aku bilang kamu jelek? Kamu cantik, Aisyah. Seperti bidadari surga. Ditambah hatimu yang lembut. Yuk, kita lalui malam ini dengan keindahan!" Devan langsung memeluk sang istri dan mengecup bibir milik A

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-27
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   Bab 79. Menangis

    "Tidak apa-apa, Suamiku. Kita jenguk Mama Linda sekarang juga!" tegas Aisyah mulai berdiri dari rumah makan. Kemudian ia mengambil tas yang berisi barang penting yang dibawa saat pergi. Setelah mengambil tas pribadinya yang ada di kamar, ia keluar rumah bersama Devan. Devan dan Aisyah sudah berada di mobil. Kini saatnya menuju rumah sakit Medika. Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit tersebut. Mobil sudah terparkir di area parkir sehingga mereka turun dari mobil. Devan langsung ke ruang medis untuk menanyakan di mana Mama Linda berada. Ternyata Mama Linda sedang berada di rumah VIP nomor 8. Akhirnya, mereka berdua menuju ruangan tersebut. Saat sampai di depan ruangan yang dituju, terlihat beberapa petugas medis membawa brankar dan Mama Linda keluar dari ruangan tersebut. "Maaf, Pak Hadi, Pasien harus dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya sedang darurat! Dimohon keluarga bersabar dan tidak boleh berada dalam ruangan tersebut!" tegas salah satu pet

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-28
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   Bab. 80

    Dokter yang menangani tindakan Mama Linda baru baru saja keluar dari ruang ICU. Beliau mendekati Pak Hadi yang sedang duduk panik di ruang tunggu dengan wajah gugup. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Hadi dengan raut wajah panik. "Anda harus sabar, Tuan Hadi. Mungkin kenyataan ini lebih baik untuk Nyonya Linda. Saya ikut kagum dengan kerja keras istri Anda!" Dokter tersebut juga merupakan temannya Hadi Wiguna sehingga sudah saling kenal. "Maksud Dokter apa? Jangan menakut-nakuti saya!" tegas Hadi dengan perasaan semakin tidak karuan. Pikirannya menerawang ke mana-mana. "Nyonya Linda telah meninggal dunia. Kami sudah berusaha yang terbaik, tetapi Tuhan berkehendak lain, semoga Tuan Hadi bisa kuat," jawab Dokter berwajah bundar tersebut mulai menjelaskan kondisi Mama Linda yang ternyata sudah tidak bernyawa lagi. Tuan Hadi syok. "Itu tidak mungkin, Dokter. Kemarin dia masih sehat? Dia istriku tercinta! Tidak!" Hadi Wiguna tidak kuat menghadapi istrinya yang menin

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-29
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   81. Kamu Tidak Tahu

    "Ayo, kita usir saja orang gila ini dari rumah Devan! Mengganggu prosesi pemakaman saja!" Saat sore hari, Pak RT di komplek tersebut mengarahkan para warga untuk membawa Mawar pergi dari tempat tersebut tersebut. Ia mengalami gangguan jiwa berat hingga datang ke rumah Devan dan mengganggu.Beberapa warga berhasil mengamankan Mawar menuju tempat rumah sakit jiwa karena mereka iba dengan kondisi kehamilannya. Ia juga sudah tidak punya siapa-siapa karena ibu kandungnya masuk penjara karena kasus pencurian uang milik tetangganya sendiri. ,,,Satu jam kemudian, akhirnya kedua orang tua Devan berhasil dikuburkan. Semua orang yang bertakziah pulang. Kini tinggal Devan dan Aisyah yang berada di makam. "Kenapa jadi begini, Mah, Pah? Devan masih ingin bersama kalian! Devan harus mengelola Perusahan sendirian tanpa kalian itu rasanya berat!" Devan merasa ada beban berat yang harus ditanggung ketika kedua orang tuanya meninggal. Netra Aisyah berkaca-kaca sambil berjongkok dan memegang erat

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-30

Bab terbaru

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   Habiskan

    "Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   116

    Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   115. Nama

    Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   114. Gila

    Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   113. Vila

    Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   112. Nyonya Lin Lin

    "Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   111. Panas Tak Karuan

    Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   110. Siapa Kamu?

    Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   109. Bye

    "Ya Alloh Neli, berikan amplop berisi uang itu kepada Den Devan. Ibu malu, kamu bersikap seperti itu. Kalau nanti Ibu dipecat, Ibu kerja di mana? Sudah kubilang, kalau Ibu akan memberi kamu uang saat gajian!" kata Mbok Ginah dengan memelas. Sebelum Devan marah besar, Mbok Ginah memperingatkan Neli terlebih dahulu. "Sudah, sudah. Begini saja Neli. Jika kamu tidak mau memberikan amplop itu kepada saya, jalur hukum solusinya!"Devan mulai tegas kepada Neli karena sudah mengambil barang yang bukan menjadi haknya. "Laporkan saja aku pada polisi, aku tidak takut! Aku bosan dengan kemiskinan ini. Lebih baik aku di sel penjara, dari pada bebas tapi tidak punya uang!" Neli sudah frustasi dengan hidup. Dia tidak pernah bersyukur dengan uang hasil pemberian Mbok Ginah. Padahal Mbok Ginah selalu menghemat pengeluaran."Oke, ayo ikut saya ke kantor kepolisian. Kamu itu sudah merampas uangnya Aisyah. Sama saja kamu mencuri! Jika kamu memberikan amplop beserta uang itu kepadaku, aku juga akan me

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status