Saat pagi, sekitar jam 10, Mama Linda menelepon Devan. Ia disuruh Mama Linda ke Butik untuk membeli gaun tunangan. Ternyata Devan dijodohkan oleh mamanya dengan Rina. Hal tersebut membuat Devan geram dan terpaksa berbohong. Ia mengaku sudah mempunyai pacar padahal ia masih jomblo. "Pacar aku ada pokoknya Ma. Kalau Devan belum siap, Devan belum bisa kenalkan ke Mama. Mah, aku sudahin dulu teleponnya ya?" Devan malas menelepon mamanya yang kekeh membahas Rina. "Devan, kamu harus ke sini sekarang juga! Jangan membuat Mama malu. Jika kamu tidak ke sini, Mama marah padamu dan Mama tidak lagi anggap kau sebagai anak!" Karena Rina, Mama Linda menjadi berubah. Ia mengekang Devan agar mau menikahi Rina. "Kok Mama jadi pemaksa begitu? Mama sudah dihasut sama Rina ya? Rina itu licik Mah, jika Mama menuruti kemauan Rina, Mama akan menjadi wanita pemaksa!" Devan berusaha menasihati mamanya agar tidak terbujuk rayuan Rina. "Mama nggak dihasut kok.Mama hanya ingin kamu punya pe
Saat siang, Rina dan Devan sedang memilih cincin tunangan. Wajah Mama Linda cemas. "Devan, Rina, kalian sudah membeli cincinnya belum? Jika sudah, Rin, biar kamu nanti diantar pulang Devan. Mama mau ada meeting dadakan ini. Mama naik taksi aja!"Mama Linda tiba-tiba ditelepon karyawannya untuk meeting. Devan menatap Mama Linda. "Devan yang Antar Mama. Rina naik taksi saja. Kasihan jika Mama naik taksi sendiri? Boleh ya?" Devan lebih memilih mengantar mamanya rapat dari pada mengantar wanita seperti Rina. Yang jelas-jelas Devan sangat ilfil melihatnya.Mama Linda menggelengkan kepala. "Jangan Van. Mama dah pesan taksi kok. Kasihan Rina, dia nggak biasa pulang naik taksi sendirian. Dia kan wanita muda, harusnya dijaga dan kamu antar! Dah, Mama berangkat ke kantor dulu! Tuh, taksinya sudah Atang!"Terlihat taksi berwarna biru berhenti tepat di depan Mama Linda. Beliau segera masuk ke dalam taksi tersebut dan tidak lama, taksi berwarna biru melesat pergi dengan cepat.Di depan toko ema
Menjelang sore, Zola ditarik paksa oleh Denis di sebuah taman. "Lepaskan aku, Mas Denis! Aku masih ingin bersama Aisyah! Aku nggak mau hidup sama kamu dan Mawar. Hiks ... hiks."Zola menangis karena Denis menarik paksa Zola. "Lepaskan Zola, Mas Denis! Kamu mau ajak Zola ke mana?"Asiyah berusaha melepas Zola dari genggaman Denis namun, tak bisa. Tangan Denis begitu kuat. Ia juga langsung menggendong Zola dan masuk ke dalam sebuah mobil entah mobil siapa. Tidak lama, Denis dan Zola pergi entah ke mana. "Tuhan, kenapa Zola pergi dariku secepat ini! Aku masih butuh teman curhat! Nggak nyangka, Denis selalu membuat kacau hidupku! Hiks ... hiks."Aisyah rubuh di taman dan menangis. Dad4nya terasa sesak. Baru saja ia senang sedikit bersama Zola, Denis datang dan membuat dirinya bersedih lagi."Nona, Aisyah? Kamu menangis?"Saat sedih-sedihnya dan dalam posisi duduk di paving, Aisyah mendengar suara pria memanggilnya. Aisyah kemudian menoleh ke sumber suara. Setelah melihat siapa yang data
"Mama!" Devan terkejut ketika Mama Linda datang."Aisyah, cepat katakan Denis ada di mana?" tanya Mama Linda kepada Aisyah dengan nada tegas. "Dia sudah pergi dari rumah ini Mah. Dia bersama kedua istri barunya," jawab Aisyah sambil menunduk. Mama Linda syok. "Kenapa kalian tidak menghubungi Mama? Aisyah, kamu selalu menyembunyikan masalahmu kepada Mama! Jika Denis itu be jat! Akan Mama beri hukuman! Sekarang katakan di mana Denis?Desas-desus terdengar bahwa Denis tidak adil dengan ketiga istrinya. Kehidupan kalian semakin berantakan dan kacau. Ditambah, Devan nggak mau menikah dengan Rina? Apa saya salah mendidik anak? Hiks ... hiks!"Mama Linda berdiri di depan Devan yang juga berdiri di depan teras. Beliau menangis karena merasa gagal mendidik anaknya menjadi pria yang baik. "Mah, kita duduk di ruang tamu yuk? Nggak baik berdiri di sini. Aisyah jelasin semaunya. Mama jangan marah sama Aisyah ya?" Aisyah berusaha lembut kepada mantan mertua. Ia memapah Mama Linda menuju ruang
Pada siang itu, Aisyah sudah selesai pekerjaannya mengawasi jalannya pekerjaan. Saatnya kini ia menuju ke gedung "TULIP".Aisyah sudah berada di mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Ia segera tancap gas menuju gedung tersebut.Dua puluh menit kemudian, ia sudah sampai di gedung tersebut. Ia turun dari mobil dan menuju gedung bernuansa eksotik tersebut.Gedung indah berwarna merah muda. Di samping gedung tersebut, dikeliling j taman dan dihiasi bunga beraneka warna. Ada air mancur juga sehingga terkesan asri dan segar. Hatinya yang gelisah sedikit memudar ketika Aisyah melihat alam yang segar tersebut. Ia memberanikan diri memasuki gedung indah tersebut. Saat sampai di dalam ruangan luas pada gedung itu, para tamu undangan sudah banyak yang datang. Terlihat Mama Linda sedang berbincang dengan wanita cantik bergaun merah muda. Seperti Dewi Kahyangan. Dia adalah Rina. Namun, Devan masih saja belum kelihatan. "Aisyah! Akhirnya kamu sudah datang juga! Teriak kasih, Sayang." Senyum hang
Pada siang itu, bukannya memberikan cincin di jemari milik Rina, Devan malah merebut mikrofon yang dipegang oleh moderator. Devan ingin berbicara kepada semua yang hadir pada acara tersebut. "Selamat siang para tamu undangan sekalian. Serta keluarga besar dari Rina yang saya kagumi. Yang telah lelah dan semangat menyambut tunangan kami. Namun, saya ingin sampaikan hal terpenting yang belum kalian ketahui. Sebelumnya saya mengucapkan maaf kepada Papa dan Mama saya yang mendesak untuk bisa bertunangan dengan Nona Rina. Saya pribadi, ingin mengatakan, apakah jodoh itu bisa dipaksakan? Saya tanya kepada Ibu yang memakai gamis berwarna biru di sana sialan ke sini dan jawab pertanyaan saya!" Devan memanggil seorang Ibu-Ibu tamu undangan yang memakai gamis berwarna biru. Ibu-Ibu tersebut tidak lama, maju ke atas panggung dan berada tepat di depan Devan. "Jawabnya jodoh nggak bisa dipaksakan anak muda? Apakah kamu ada masalah dengan tunangan ini?" tanya Ibu-Ibu tersebut dengan rasa curiga
Saat siang, perdebatan antara Devan dengan papanya semakin panas. "Silakan Pah. Jika Papa ingin menyita aset dari Perusahan Papa yang dikelola. Saya akan mencari peluang lain agar bisa berbisnis kembali. Rezeki itu datangnya tak disangka-sangka. Papa belum sadar apa yang saya katakan tadi? Cinta dan jodoh itu tidak bisa dipaksakan. Seandainya Mama kemarin nggak ngotot, hal ini tidak akan terjadi!" Papa Hadi geram. "Kamu memang keras kepala Devan! Jangan membuat Papa jantunga seperti ini! Argh!" Karena Papa Devan tidak bisa menerima semua kemauan Devan, penyakit jantung Pap Hadi mulai kambuh. Papa Hadi pingsan tak sadarkan diri."Pah, kenapa Papa harus pingsan. Selemah ini kah Papa? Pah, Devan tidak suka dengan Rina. Kenapa malah Papa yang pingsan?" Akhirnya para tamu undangan berhamburan pulang karena Papa Hadi malah pingsan.Papa Hadi dibawa ke kamar khusus yang ada di ruangan tersebut untuk diperiksa oleh Dokter yang sudah dipanggil oleh Mama Linda. Terpaksa Moderator mempersilak
Saat sore hari, Devan ditampar habis-habisan oleh papanya Rina. Tidak hanya ditampar, ia juga didorong sampai rubuh ke lantai keramik. Papanya Rina tidak terima jika tunangan tersebut dibatalkan. Hanya Devan yang berani menolak acara keluarga besar dari Rina. Devan mimisan dan masih dalam posisi duduk di lantai. Mama Linda panik. "Tuan Brama? Maafkan kesalahan Devan! Kita bisa bicara baik-baik mengenai acara tunangan ini? Sepenuhnya bukan salah Devan. Kami sebagai orang tua juga bersalah. Dari awal memang Devan tidak menyetujui tunangan ini. Namun, saya, Jeng Siska dan Rina ingin kekeh mengadakan acara tunangan! Semua serba terpaksa."Akhirnya Mama Linda sadar diri atas kesalahannya. Mengetahui bahwa keluarganya Rina diduga licik karena telah mengambil sebagian omset Perusahaan yang harusnya dibagi secara adil."Tapi kalau Devan sudah mau dalam acara tunangan tersebut, harusnya mau dan tidak mempermalukan keluarga kita! Saya sebagai pemimpin keluarga sangat malu! Saya merasa dihinak
"Itu ada yang ingin melamar pekerjaan menjadi asisten pribadi di kantor," jawab Devan sambil menekan keyboard ponsel untuk menjawab karyawannya yang bernama Joni. "Jadi, Ayah Aslam besok mau bekerja hari ini kah?" Aisyah sedikit penasaran dengan info yang baru saja ia dengar dari suaminya. Devan menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Tidak. Biarkan Joni yang mewawancarai. Besok aku ingin memesan dua ekor kambing di salah satu peternak di Kota ini. Nanti ada ART yang ke sini. Bisa saya tinggalkan, Sayang? Ini demi keberkahan rumah tangga kita!"Devan ingin segera pergi untuk memesan dua kambing di salah satu peternak pada keesokan hari. Hari itu sudah larut Devan dan Aisyah mulai beristirahat. **Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun dari tidur. Namun, ia belum sempat menyiapkan sarapan karena Aslam rewel. Sementara Devan baru saja selesai mandi untuk persiapan menuju ke penjual kambing. "Sayang, aku biru-biru berangkat ya? Biar nanti cepat pulng."Devan berpamitan dengan Aisyah u
"Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar
Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap
Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi
Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja
Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka
"Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo
Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek
Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi