Maaf ya baru updateššš Terima kasih yang sudah mengikuti cerita inj
Pagi itu saat aku baru tiba di kantor, di atas meja kerjaku ada sebuah amplop cokelat bertuliskan namaku di atasnya. Berbeda dengan surat yang biasa aku terima. Di atasnya hanya tercantum āKepada Ibu Pengacaraā, bukan kepada firma hukum Sahid Anwar, S.H. Jelas Kendra yang mengirim. Tanpa menunggu lama, lekas kubuka surat itu. āWhat? Apa-apaan si Kendra!ā Di dalamnya ada passport Rajata beserta foto kopi tiket pesawat ke Amerika. Tanggalnya tinggal dua minggu lagi. Seketika itu pula kakiku lemas tak bertenaga. Konsentrasiku untuk bekerja langsung buyar dan moodku memburuk. āRi, kau kenapa?ā ucap Om sahid yang baru saja datang. Ia kemudian memangkas jarak denganku lalu mengambil passport milik Rajata yang masih berada di tanganku. āKendra yang mengirim ini?ā Aku mengangguk lesu. Air mata yang berusaha keras kutahan agar tidak keluar akhirnya jatuh juga. Di depan Om Sahid aku menangis seperti anak kecil. Sambil menutup wajahku dengan kedua tangan, masih bisa kudengar desahan kasar dar
Setibanya di rumah, sikapku pada Rafif masih cuek. Meski dia berusaha mendekat, tapi aku terus menghindar. Hingga pada saat jam dinding berdentang sepuluh kali dan aku baru keluar dari kamar mandi, ia menyergapku dan mengangkat tubuhku ke dadanya. "Rafif, apa-apaan, sih? Lepas!" Dia hanya memandangku lekat sambil tersenyum. Pelan-pelan ia meletakkanku di ranjang sambil menciumi wajahku. "Ini hukuman karena udah nyuekin suami," ucapnya dengan deru napas yang menderu. Sapuan udara dingin membelai wajah dan tubuh kami yang sudah tak berjarak. Lambat laun aku pun terbuai pada irama cinta yang sudah ia mainkan. Diiringi suara dedaunan yang tertiup angin, kami terus bersenandung hingga tengah malam. ***Hari kepergian Rajata pun tiba. Semalam anak kecil itu akhirnya mengetahui kenyataan yang sebenarnya kalau Friska adalah ibunya dan Kendra merupakan ayah kandungnya. Awalnya ia bingung dan tidak mengerti. Namun, setelah kujelaskan pelan-pelan, ia paham dan bisa menerima semuanya. Bahkan,
Pov AuthorSepuluh tahun kemudianLiana baru meninggalkan meja kerjanya saat telepon di mejanya berdering. Gadis itu mengerutkan dahi seraya mendecap. "Siapa, si? Baru juga mau pulang," ucapnya seraya kembali duduk. Sambil memasang raut wajah kesal ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Hallo, selamat sore, dengan pengacara Liana. Ada yang bisa dibantu?"Meski kesal, tapi ia tetap bersuara ramah. Maklum saja, jika ia ketus sudah pasti jasanya sebagai pengacara akan tidak terpakai. Bisa dimarahi oleh Ibu dan Opungnya dia nanti. "Kak, udah mau pulang belum?" ucap Riana di ujung telepon. "Oh, Ibu. Kirain siapa? Kok, nggak ke hp kakak aja, Bu?""Udah, Sayang. Udah ratusan kali," kata Riana sambil melebih-lebihkan. "Coba itu kenapa hp kamu susah banget dihubungin?"Liana menjauhkan gagang telepon lalu merogoh ke dalam tas tangan bucherrynya. Setelahnya ia kembali bicara pada Riana. "Ya Ampun, pantesan aja wong hapenya mati, Bu.""Tuh, kan. Kakak mah kebiasaan. Suka banget lupa ng
"Heh, cepetan keluar malah bengong! Jangan sampe gue panggilin orang-orang buat ngeroyok lu ya!""Rajata?" ucap Liana masih sambil membelalakkan mata. Meski pria di depannya masih mengomel, Liana malah memandangi wajah pemuda itu dengan lekat. Liana lalu keluar dari mobil lalu memeluk pemuda itu. "Rajata? Alhamdulillah kamu masih hidup, Dek." Liana mengendurkan pelukan lalu menangkup wajah pemuda yang dikiranya Rajata itu. "Apaan, sih, meluk-meluk? Lo mau lepas tanggung jawab? Sorry, gue nggak bakal ketipu. Lo tu bukan tipe gue. Lagian siapa itu Rajata? Nama gue Andra! Rajata! Rajata! Sekarang cepetan tanggung jawab! Lihat tuh, motor gue! Gue juga luka-luka!"Liana mengernyitkan dahi. Setelahnya ia menarik napas dalam lalu membuangnya. "Apa aku salah mengenali orang? Apa memang benar dia bukan Rajata? Kenapa mukanya mirip banget sama Rajata? Ah, Liana kamu jangan ngelindur! Rajata kan sudah meninggal! Anak itu pasti cuma berandal yang suka kebut-kebutan di jalan. Nggak mungkin Rajat
Pipi Andra sontak memerah. Garis-garis keunguan di wajahnya pun terlihat. Dengan cepat pemuda itu menangkap tangan Liana dan mencengkeramnya kuat. Setelahnya ia menarik gadis itu ke luar ruangan dokter Sandi. Tak dipedulikannya teriakan lelaki paruh baya itu yang mencegahnya agar menghentikan aksinya. "Lepasin nggak!" ucap Liana tajam sambil menarik tangannya dari cengkeraman Andra. Namun, meski ia jago taekwondo tenaganya kalah jauh dari pria itu. Liana menyadari jika pemuda di depannya pun menguasai ilmu yang sama. "Lo pikir setelah tadi nabrak dan nampar gue, lo bakal gue maafin gitu aja." Liana melemahkan tarikan tangannya. "Iya sorry. Lagian sih, lo ngomongnya nggak sopan tentang ibu saya. Saya tuh paling nggak suka kalau ada yang menyepelekan Ibu saya kayak yang tadi kamu lakuin!" Andra mengempas kasar tangan Liana. Kalimat Liana tentang ibu membuat perasaannya sedikit gerimis. Ia tidak habis pikir jika ada seseorang yang begitu mengagungkan sosok Ibu, sosok yang tidak perna
Mataku membulat saat pemuda bernama Andra muncul di depanku. Hari itu, Liana sengaja mempertemukanku dengan pemuda yang membuatku kembali teringat akan sosok Rajata itu. Meski awalnya dia menolak karena tidak ingin lagi berurusan dengan Andra, toh setelah kupaksa akhirnya ia setuju. Dan aku yakin kalau pemuda di depanku adalah Rajata! Tapi kenapa dia sama sekali tidak mengingatku? "Kenalin saya Riana, ibunya Liana," ujarku pada pemuda di depanku. Wajahku pun kubuat seramah mungkin. Namun, dia berekspresi aneh. Apa karena melihat sedikit luka bakar di pipi kiriku? Padahal kini lukanya sudah tidak semenyeramkan dulu. "Andra." Refleks aku menggeleng. Bukan, kamu adalah Rajata. Rajataku yang hilang. Dia lalu melirik Liana. Pandangan matanya yang berganti-ganti antara aku dan Liana, serta dahinya yang berkerut mengatakan kalau dia tengah membandingkan wajahku dan Liana. "Ternyata kecantikan Liana menurun dari ibunya," ujarnya disambung senyum. Hatiku sontak menghangat. Ternyata si
Mataku sontak membulat. Terlebih dengan cepat Rafif merebut ponsel dari tanganku. āAnak ini lagi?ā Nada suaranya langsung meninggi. Dengan sekejap ia pun mematikan panggilan. Benang kuat di wajahnya yang semula sudah terurai mendadak kembali menegang. āAku mengantuk. Kau juga tidurlah,ā ucapnya sambil membetulkan kembali pakaiannya yang sempat terbuka. Lalu ia membelakangiku sambil memeluk erat guling. Kepalaku seketika dipenuhi kebimbangan yang begitu menyiksa. Suara Andra yang terdengar lemas kembali terngiang. Satu sisi aku tidak ingin membuat Rafif marah, tapi jujur perasaan khawatir pun sangat membuat dadaku menyesak. Perlahan kupeluk suamiku dari belakang. āMas, jangan marah. Dia kan nggak tahu sekarang kita sedang ngapain. Dia sakit, Mas.ā Rafif melepas paksa ikatan tanganku di pinggangnya. āRi, dia bukan anak-anak. Dia sudah 20 tahun. Lagipula, memangnya kau dokter sampai-sampai dia harus meneleponmu?ā Ia lalu bangkit dan keluar kamar lalu membanting pintu hingga membuatku
Lekas kutekan nomor Rafif. Tidak aktif. Ya Tuhan, dia ke mana si? Sontak, ragaku melorot ke lantai. Mengetahui kalau suamiku tidak ada di rumah di waktu selarut ini membuat aneka pikiran buruk mendatangi kepalaku. Aku melirik jam dinding. Sudah hampir pukul satu. Tidak mungkin aku bangunkan Liana atau Bik Sumi untuk bertanya soal Rafif. Sedangkan untuk berbaring dan tidur pun aku tidak bisa. Rasa lelah yang tadi sempat kurasakan musnah sudah. "Mas, tolong aktifkan ponselnya." Sekali lagi kucoba untuk menghubunginya. Namun, nomornya masih dijawab oleh operator. Dadaku semakin sesak dan air mataku sudah menganak sungai. "Mas, maaf, apa kamu marah karena aku pergi ke tempat Andra? Tapi aku kan tadi sudah pamit, Mas," ucapku sambil menyeka wajah dengan punggung tangan. "Lho, Ibu? Ibu kenapa nangis di sini?" Bik Sumi tiba-tiba melongok masuk. Kehadirannya sontak membuatku terkejut dan lega dalam waktu bersamaan. "Bik, Bik Sumi belum tidur?""Ya sudah, Bu. Ini Bibik baru bangun, mau tah