"Perkenalkan saya calon Ibunya Danda, Raya Maharani. Danda, sini sama Mama, kamu tidak boleh seperti itu. Apalagi dengan orang yang tidak dikenal," ucap Raya yang memperkenalkan dirinya sebagai Ibu dari Danda dan meminta Danda untuk mendekatinya.
Danda yang mendengar perkataan dari Raya, menatap nanar ke arah Anne, Danda makin mempererat pelukkannya. Danda, sepertinya tidak mau jika Raya membawanya pergi. Melihat Danda tidak ingin bersamanya membuat Raya kesal setengah mati padahal tangannya sudah terulur ke arah Danda.
"Nggak Ayah, nggak anak sama saja, menyusahkan sekali. Jika bukan karena harta aku tidak sudi untuk dekat dengan anak sialan ini," ucap Raya dalam hati yang menarik paksa tangan Danda agar lepas dari pelukkan Anne.
Anne yang melihat tangan wanita tersebut menarik paksa merasa kesal, Anne bisa melihat jika Danda kesakitan akibat tarikkan Raya. Anne mencoba melepaskan tangan Raya dari tangan Danda yang terlihat kesakitan.
"Mbak, jangan memaksanya, nanti tangannya sakit. Apa Mbak tidak merasa kasihan dengan Danda, seharusnya sebagai ibu walaupun hanya ibu pengganti, Mbak harus bersikap lembut bukan seperti ini!" tukas Anne yang berusaha menepis tangan Raya dan akhirnya tangan Raya lepas dari tangan Danda.
Raya yang tidak terima tangannya ditepis oleh Anne, mengepalkan tangannya. Dia tidak suka ada wanita yang mencoba mendekati Danda, karena bisa mengacaukan rencananya.
"Hei, perempuan tidak tahu diri, kamu siapa? Berani-beraninya menyentuh tangan saya, kembalikan Danda, cepat kembalikan! Jangan sampai saya panggil Satpam untuk mengusir kamu dari rumah ini, ini rumah calon suami saya. Kamu mengerti?!" tanya Raya dengan bentakan karena sudah mulai emosi merasa Danda dekat dengan Anne.
Marlin, yang menunggu di depan pintu dan mendengar keributan di taman terkejut. Marlin, berjalan menghampiri sumber suara, dia takut jika Anne mendapatkan masalah.
Dan, benar saja terlihat Anne sedang adu mulut dengan seorang wanita, dengan cepat Marlin berlari dan menghampiri Anne. Sang empunya rumah, mendengar kegaduhan dari luar dan melihat Satpam mengantarkan bunga masuk ke dalam rumahnya, menyerngitkan keningnya.
"Sekar saking sinten? Dan, wonten punapa teng jawi, punapa ribut mawon?" tanya Nyonya rumah kepada Satpam bunga siapa itu dan ada keributan apa diluar.
"Mboten sumerep, Nyonya besar. Sekar di antar sareng Mbak pelayan toko, saking Tuan Darren," ucap Pak Satpam yang mengatakan tidak tahu apa yang terjadi di luar dan mengatakan jika bunga ini pesanan dari Darren.
"Sampun teng riku, sareng sekar di simpen teng riku mawon. Wonten ribut teng griyane kula. Tunggu, wonten cucuku danda? Wonten punapa cucuku?" tanya Nyonya besar yang khawatir dengan Danda yang dia dengar saat ini Danda menangis cukup kencang.
Nyonya besar yang bernama Nyonya Dinda segera mengikuti Satpam yang lebih dulu pergi melihat ada keributan apa. Raya yang awalnya ingin bertemu Darren, tanpa sengaja melihat calon anak tirinya memeluk wanita lain yang lebih cantik. Rasa iri dihatinya membuat Raya menghampiri keduanya.
Raya takut, jika Danda tidak menyetujui hubungannya dengan Darren. Karena, Darren sangat menyayangi anaknya, jika Danda suka maka Darren juga suka. Danda, adalah kesayangan Darren adalah seorang duda yang ditinggalkan oleh istrinya demi pria lain.
Darren, yang dulunya kaya raya harus bangkrut karena seluruh hartanya dijual demi membayar hutang judi online istrinya. Setelah hartanya habis dijual, sang istri menceraikannya dan memilih pria kaya. Di saat Danda masih bayi dan butuh kasih sayang ibunya, Darren menerima kenyataan jika sang istri malah meninggalkannya dan Danda.
Walaupun begitu, Darren bangkit kembali dan sampai saat ini Darren menjadi pria sukses, tapi Darren trauma untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Raya, wanita yang dijodohkan oleh Nyonya Dinda. Ibu Raya teman arisan Nyonya Dinda, sehingga Nyonya Dinda tidak masalah jika anaknya menikah dengan Raya.
"Aduh, ada apa ini, kenapa kalian berkelahi? Mbak Raya, ada apa? Kenapa Non Danda menangis, kalau sampai Tuan tahu bisa bahaya ini, sudah bubar kalian," usir Pak Satpam kepada Raya, Anne dan juga Marlin.
Pak Satpam, menarik tangan Danda, dia tidak mau jika Tuannya sampai murka karena anaknya menangis, karena selama ini Danda tidak pernah menangis. Tapi kali ini, Danda menangis. Nyonya Dinda yang datang terkejut melihat cucu kesayangannya menangis dan memeluk wanita lain. Nyonya Dinda merasa heran, selama ini Danda tidak dekat dengan wanita dewasa terlebih-lebih dengan Raya tapi saat ini dia malah dekat dengan wanita asing.
"Danda, kenapa kamu, Sayang? Apa yang terjadi dengan cucuku, kalian apakan cucuku? Sini, Danda dengan Uti," ajak Nyonya Dinda yang mendekati Danda yang saat ini menangis dan terlihat tangan Danda merah akibat tarikkan Raya tadi. Danda tidak mau mendekati Nyonya Dinda, Danda lebih memilih tetap bersama dengan Anne, Danda tidak ingin melepaskan Anne sama sekali.
"Uuu, Danda mau sama Mama. Danda tidak mau dengan Tante Raya, Uti." Jawaban jujur dari Danda membuat Raya sontak terkejut.
Raya tidak bisa terima dengan apa yang Danda katakan, Raya mencoba tenang karena dia tidak mau emosi di depan calon mertuanya. Marlin yang melihat Raya menunjukkan raut wajah kesal menyindir Raya.
"Makanya, jadi orang itu jangan galak dan memperlihatkan sisi negatif, anak kecil jelas nggak mau lah. Tunjukkan sisi malaikat bukan sisi mak lampir," ujar Marlin yang menyindir Raya sambil melirik ke arah Raya yang memandang Marlin dengan tatapan tajam.
"Maaf, Nyonya, sudah membuat keributan. Danda tadi menangis sendirian di taman. Jadi, saya samperin dan Mbak ini datang dan memaksa Danda ikut dengan dia. Karena Danda tidak mau ikut dia menangis," jawab Anne yang menjelaskan kenapa Danda menangis.
"Tapi, kenapa tangan cucu saya seperti itu, kamu apakan cucuku?" tanya Nyonya Dinda yang mempertanyakan kenapa tangan Danda merah.
Anne dan Marlin terkejut melihat tangan Danda merah, keduanya yakin jika tarikan tangan Raya membuat tangan Danda merah. Anne mengangkat tangan Danda dan ada luka."Sakit, Mama. Tangan Danda sakit, uuu!" tangis Danda yang mengadukan ke Anne jika tangannya sakit.
"Diobati ya, sini sama Uti," bujuk Nyonya Dinda yang mendekati cucunya untuk diobati karena jika anaknya datang tentu saja akan ada omelan dan sudah dipastikan semua orang akan diamuk oleh anaknya.
"Ndak mau, Uti. Danda, mau sama Mama saja," jawab Danda yang memeluk Anne dengan erat dan tidak melepaskannya.
Nyonya Dinda pun pasrah, cucunya yang pendiam dan tidak pernah dekat dengan orang lain selain Darren dan dirinya sekarang malah tidak mau lepas dari Anne. Nyonya Dinda melirik tajam ke arah Raya, dia yakin ini pasti ulah Raya yang menyakiti Danda.
"Kamu keterlaluan, Raya. Kamu lukai cucu saya, jika Danda tidak mau, ya sudah jangan kamu sakiti. Lihat ini, sekarang kamu pulang sebelum Darren mengetahui apa yang terjadi cepat pulang sana!" usir Nyonya Dinda.
"Tapi, Tante .... Raya tidak tahu, Raya baru datang dan Raya takut Danda diculik dengan wanita miskin ini, makanya Raya ingin mengajak Danda masuk. Tapi wanita miskin ini malah menarik Danda hingga terluka. Danda, sayang sini, Nak. Mama obati, nanti kita beli es krim." Raya terus berusaha membujuk Danda untuk mencari muka pada Ibu Darren.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" tanya seseorang yang sudah berdiri di belakang mereka.
Saat mendengar suara berat dan dingin yang seperti dikenalnya, dia teringat suara pria yang ditemuinya di hotel. Anne ingin menoleh, tapi seolah lehernya kaku karena tegang. "Suara Tuan Tanah, apa benar itu dia? Tidak-tidak, aku yakin itu bukan dia, iya benar itu bukan si Tuan Tanah. Anne, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh ya," gumam Anne yang meyakinkan dirinya jika itu bukan suara dari pria yang disebutnya Tuan Tanah.Semua orang yang berada di taman seketika berbalik dan melihat sosok yang bertanya itu. Dan, saat akhirnya Anne bisa berbalik ke belakang, Anne seperti tersambar petir. Ternyata firasatnya benar jika suara itu adalah suara Tuan Tanah. "Ka~kamu, Tuan Tanah." Anne dengan terbata-bata bersuara karena melihat Darren Stockholm di hadapannya. "Oh, ternyata ada si gadis nakal di sini. Ketemu juga kamu ya, tapi tunggu dulu ... Danda sayang, kamu kenapa nangis, Nak? Hei, gadis nakal kamu apakan anakku? Sini, Sayang." Darren memanggil Danda dan menuding Anne yang menyebab
Darren membawa Anne ke ruang kerjanya, niat hati ingin membalaskan apa yang sudah Anne lakukan tapi Darren mengingat bagaimana anaknya Danda yang begitu dekat dengan Anne membuat Darren mengurungkan niatnya. Darren membuka pintu ruang kerjanya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam. "Masuk!" Darren meminta Anne untuk masuk mengikuti dirinya. Anne yang mendengar suara Darren memintanya masuk, dengan cepat masuk ke ruangan tersebut dengan jantung yang berdebar Anne memberanikan diri melangkahkan kakinya. Jangan di tanya kakinya saat ini sudah seperti kaki ubur-ubur lemes. Anne mengerjapkan matanya karena takjub melihat ruang kerja yang terlihat mewah dengan furniture yang terbuat dari kayu jati yang berwarna coklat dan kursi yang mahal dan kalau dijual akan membuat si penjual kaya raya pikir Anne dengan senyum jahatnya. "Ehmm, apa yang kamu pikirkan? Jangan pernah berpikir dan mempunyai niat untuk menjual barang ini, paham kamu!" ketus Darren dengan tatapan tajam. Anne yang mendengar
Anne hanya bisa menganggukkan kepala mendengar Marlin meminta dia menjelaskan semuanya. Mobil pickup melaju meninggalkan rumah mewah Andara milik Darren. Di perjalanan tidak ada yang berbicara sampai akhirnya mereka sampai di toko bunga. Marlin dan Anne turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko. "Hari ini kita tutup saja, gue lelah." Marlin meminta kepada Anne untuk tutup lebih cepat, biasanya mereka akan tutup jam 8 malam, tapi kali ini mereka tutup lebih awal. "Iya," jawab Anne singkat. Anne membawa papan bunga yang di depan untuk dibawa masuk dan Anne juga menyusun bunga di luar untuk disimpan di dalam toko. Setelah selesai, Anne dan Marlin duduk di kursi santai tidak lupa mereka membawa minuman dan makanan kecil untuk menemani mereka melepas rasa lelah sebelum pulang. "Jadi, apa dia Tuan Tanah yang kamu katakan itu? Dan apa dia yang katakan kepadamu di ruangan itu? Apa dia melakukan sesuatu?" tanya Marlin yang menatap Anne dengan tajam. "Hmm," jawab Anne singkat. Mar
"Komo, cepat kejar elu kenapa lelet bener sih, gue udah katakan ke elu jangan lelet, elu udah sarapan apa belum sih? Ngejar sepeda aja elu kagak bisa," omel Darren yang kesal karena Komo tidak bisa mengejar orang yang dia yakini adalah Anne. "Lu dengar ya baik-baik, gue ini bingung sama lu sebenarnya lu itu ngejar siapa sih?" tanya Komo yang sudah terlanjur kesal karena dia diminta untuk terus mengejar sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa yang dia kejar. "Wanita nakal orang yang sudah membuat anak gue dari tadi malam hingga pagi dan mungkin nanti dan seterusnya akan terus menyebut nama dia sekarang lu kejar itu sepeda butut dia cepat!" ketus Darren yang meminta kepada Komo untuk mengejar sepeda yang ada di depannya. "Maksud lu sepeda yang berwarna pink itu, apa lu yakin itu sepeda wanita pengantar bunga yang Danda panggil Mama?" tanya Komo yang penasaran dengan pengendara sepeda yang ada di depannya. "Iya gue yakin tuh wanita nakal itu, cepat kejar lu jangan banyak cerita deh.
"Iya gue yakin itu pasti dia tapi kenapa wajahnya berbeda. Coba lihat itu apa dia tukar sepeda maksudku apa tadi .... Komo tunggu sebentar gue mau tanya dengan tu orang jika memang salah maka kita langsung saja balik ke kantor," ucap Darren yang turun dari mobil untuk bertanya kepada si pengendara sepeda. Komo hanya mengganggukkan kepala, dia tidak mengatakan apapun. Hanya saja Komo heran kenapa bisa sahabatnya itu mengejar wanita penjual bunga walaupun hanya untuk anaknya tapi perlakuan yang Darren lakukan tidak sampai seperti ini. Darren mendekati wanita tersebut dengan wajahnya yang datar. "Permisi Ibu, saya ingin bertanya bukannya tadi sepeda ini yang bawa gadis ya maksud saya wanita yang sedikit lebih muda tapi kenapa Anda yang membawa sepeda ini?" tanya Darren. Wanita tersebut memandang ke arah Darren yang wajahnya datar dan juga dingin. "Maaf sebelumnya Mas, yang membawa sepeda ini dari rumah itu saya. Kalau Anda bertanya yang bawa sepeda ini wanita muda, Anda salah karena
Mendengarkan tantangan dari Anne, Raya mendekati Anne yang saat ini memandangnya dengan tajam, keduanya saling menatap satu sama lain. "Lu berani dengan gue, dengar baik-baik gue tidak segan-segan untuk menghabisi lu jika lu berani mendekati calon suami gue dan anak tiri gue maka hidup lu tidak akan lama lagi, gue pastikan itu!" ancam Raya yang membuat Anne dan Marlin terdiam. Marlin yang mendengar ancaman dari Raya langsung emosi tanpa babibu Marlin balik mengancam Raya. "Hei, perempuan tidak tahu diri, lu harusnya berkaca pada diri sendiri, lu nggak tahu semalam itu calon suami lu itu malah memilih sahabat gue daripada lu. Jadi, elu jangan bermimpi deh lagi pula siapa juga yang mau merebut calon suami lu yang dingin dan kaku itu, harusnya lu bilang sama calon suami lu itu jangan berusaha untuk mendekati sahabat gue jika tidak gue sendiri yang akan laporin calon suami elu ke kantor polisi sekarang lu keluar dari toko gue. Dan satu hal lagi jika lu berani macam-macam dengan sahaba
"Kalau ke rumah sakit harus sakit apa? Gue mau konsultasi dan gue mau bertanya beberapa hari ini jantung gue nggak aman. Jadi, mau gue tanyakan kenapa dia tidak aman," jawab Darren yang membuat Komo mengerjapkan matanya. "Lu sakit jantung ya, tapi bukannya elu kagak ada riwayat sakit jantung kenapa elu mengatakan jantung elu nggak aman, elu salah makan atau coba elu ingat kira-kira elu ada makan apa beberapa hari belakang ini tidak? Hingga buat elu merasa jantung elu seperti itu?" tanya Komo yang panik karena sahabatnya ini mengatakan jika jantungnya tidak aman dan dia juga menanyakan apakah sahabatnya ini salah makan atau tidak. "Hahhh, makanya gue juga heran kenapa jantung gue seperti ini, sudah lah elu lanjut kerja sana!" usir Darren yang saat ini fokus dengan isi dalam amplop tersebut. Jadi, di sini rumah kamu wanita nakal. Baiklah, aku akan menemuimu nanti bathin Darren yang segera menyimpan kertas tersebut. Darren melihat ke arah depan si Komo masih di depannya dengan senyu
Dokter Surya menganggukkan kepala karena dia tahu arah dari apa yang akan Darren katakan. Darren menghela nafas dan tentu saja itu membuat Darren malu karena dia terlalu cepat mengatakan jika dia sakit jantung padahal tidak. Akhirnya Darren pun memutuskan untuk pergi dari hadapan Dokter Surya. "Saya permisi dulu Dokter. Terima kasih banyak maaf menganggu," ucap Darren yang bersalaman sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Darren segera keluar dari ruangan dan saat di luar terlihat Komo yang duduk dan segera berdiri mengikuti Darren yang berjalan menuju lobby. "Elu kagak dikasih obat ya? Mana obatnya biar gue tebus," ucap Komo yang merasa heran kenapa Darren tidak menebus obat bukannya tadi dia mengatakan jantungnya tidak aman. "Cepat ambil mobil, gue mau pulang ke rumah. Gue mau ketemu Danda," jawab Darren yang meminta Komo untuk segera mengambil mobil tanpa menjawab apa yang Komo ucapkan tadi. Komo tidak bertanya lagi, dia segera ke parkiran dan segera mengambil mobil. Setelah
Raya tidak menjawabnya, dia membuang wajahnya. Mustafa pasrah, dia akhirnya pergi dari ruangan tersebut. Tidak akan memaksa wanita jika tidak mau menikah dengan dirinya. Lebih baik dirinya pergi dan menjauh. Sejak kejadian tersebut Mustafa tidak lagi bertemu dengan Raya. Dia bekerja di tempat penjual bunga milik Marlin. Toko bunga yang dia kelola sangat ramai karena wajah rupawan Mustafa membuat toko bunganya ramai di datangi oleh pelanggan terutama pelanggan wanita. Anne dinyatakan hamil, Danda dn Darren juga Nyonya Dini ikut bahagia, begitu juga dengan Komo juga mendapat kabar jika Marlin hamil. Bulan berganti bulan, baik Darren dan Komo sudah mendapatkan buah hati mereka. Tepat satu tahun, anak kedua Darren berjenis kelamin laki-laki di beri nama Dafa Putra Stockholm berulang tahun."Mama, adik tidak mau pakai pakaiannya!" teriak Danda mengatakan jika adiknya Dafa tidak mau memakai pakaiannya.Darren dan Anne yang mendengar teriakkan Danda menggelengkan kepala. "Lihat anakmu itu,
Darren menggelengkan kepala dia tidak tahu apa yang terjadi. Baginya anak dan istrinya sudah selamat itu yang terpenting. Tidak berapa lama mobil polisi tiba. "Itu mobil polisi, ayo kita keluar dan lihat apakah dia selamat atau tidak." Darren mengajak Anne dan anaknya turun. Komo yang sudah menghubungi Surya bisa bernapas lega, Surya sudah sampai di lokasi dan sudah membawa ambulan untuk mengevakuasi kecelakaan. "Aku harap Darren dan keluarga kecilnya selamat." Komo memarkirkan mobil sedikit jauh dari lokasi kecelakaan. Jalanan yang tadinya sepi mulai ramai. Warga sekitar mendengar terjadinya kecelakaan berbondong-bondong ke lokasi kejadian. Garis polisi terpasang. Komo berlari mencari Darren dan saat melewati kerumunan warga akhirnya Komo bisa bertemu dengan Darren serta anak dan istrinya. "Syukur lah, elu bisa selamat. Gue pikir elu yang kenapa-napa. Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa elu bisa diserang oleh si rubah itu. Dan kenapa si rubah itu yang kecelakaan?" tanya Komo pe
Mustafa, pria tersebut sudah berubah menjadi pria pada umumnya. Dia tidak lagi berbicara seperti biasanya. Dia jatuh cinta dengan Raya pada pandang pertama. Tentu saja itu membuat Mustafa senang karena gaya bicaranya yang semula seperti pria gemulai sekarang dia menjadi pria sejati. "Aku yakin dia pasti bertemu dengan Dinda, si rubah itu. Aku tidak mau Raya terpengaruh lagi. Aku harus selamatkan Raya," ucap Mustafa yang segera mengikuti Raya. Raya yang tahu di mana sekolah Danda segera ke sana. Raya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera bertemu dengan Dinda dan tentunya dia ingin membantu Dinda karena sedari awal dia membantu Dinda. "Sayang, bawa mobilnya pelan saja, jangan ngebut. Lagi pula masuk sekolah juga masih lama, tapi tumben ya tidak macet," ucap Anne meminta ke Darren untuk tidak terburu-buru. "Ini standar saja, Sayang. Tidak ngebut juga. Kamu tenang saja. Jalan masih lenggang karena besok hari libur, jadi banyak yang malas kerja," jawab Darren. "Ck
Paman Boni segera menjawab panggilan telpon yang masuk. Panggilan tersebut dari anak buahnya yang mengikuti Dinda. "Hmm, ada apa?" tanya Paman Boni. "Dia baru membunuh satu orang lain. Kami tidak tahu dia siapa dan mayatnya dibuang di jurang," jawab anak buah paman Boni mengatakan jika Dinda membunuh orang. Paman Boni mendengar apa yang dikatakan oleh anak buahnya terkejut. "Apa? B~bunuh orang? Apa tidak salah?" tanya Paman Boni yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak buahnya. "Iya, kami tidak salah sama sekali. Kami ada di sana saat dia membuangnya. Kami juga ada rekaman saat dia membuang mayat itu. Segera kami kirim, Tuan," jawab anak buah Paman Boni. Paman Boni tidak pernah menyangka jika Dinda lagi-lagi membunuh orang. Entah yang ada di pikiran wanita itu. Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. "Baiklah, sekarang kalian awasi dia. Jangan sampai ketahuan. Nanti saya hubungi lagi," ucap Paman Boni mengakhiri panggilan dengan anak buahnya. Darren dan Ko
"Ini tidak salah? Benar ini suara dia dan dia mengatakan hal itu?" tanya Darren lagi memastikan apa yang terjadi dengan suara rekaman tersebut. "Benar, itu suara dia. Gue juga dengar sendiri dia mengatakan itu. Jadi, apa rencana lu?" tanya Mona. "Sebentar dulu, suara elu kenapa berat gitu. Apa ketelan balok lu saat di dekat Raya? Atau suara lu baru di cor?" tanya Komo yang sedikit curiga kenapa suara sahabat istrinya berubah seperti itu. "Bener bos, suaranya berubah. Apa tadi ke sini elu. . Makan biji kedongdong ya, makanya nyangkut di tenggorokan elu. Bos, ini tidak bisa dibiarkan, dia harus di operasi. Kalau tidak suaranya tidak pulih," ucap Paijo meminta ke Komo membawa Mustafa atau Mona untuk operasi suara. Mona menghela nafas, dia tidak mengerti kenapa keduanya mempermasalahkan suarnya yang seperti itu. Mona menatap ke arah Darren yang masih terus mengulang suara dari Dinda terlihat juga wajahnya mengetat saat suara Dinda yang meminta menghabisi kesayangannya itu. "Jadi, apa
Raya akhirnya mengikuti apa yang Mustafa katakan. Dia menjawab panggilan dari seseorang yang tidak lain adalah Dinda. Raya mengaktifkan speaker dan berjalan menuju Mustafa. Raya duduk di sebelah Mustafa. Dia melihat ke arah Mustafa dengan wajah ketakutan. Mustafa memberikan kode kepada Raya untuk tidak khawatir dan takut kepadanya. Raya pun memberanikan diri untuk menjawabnya. "H~halo, ada apa?" tanya Raya dengan suara terbata-bata. "Wah, kamu senang sekali aku tidak menghubungi kamu. Apa selama ini kamu tidak tahu aku menunggu hasil kerjamu. Jangan katakan kalau kamu sedang bersama pria dan bermain di ranjang. Ck, dasar perempuan murahan!" hina Dinda yang membuat Mustafa mengetatkan rahangnya mendengar perkataan dari Dinda. Raya yang tidak terima di hina segera angkat bicara. "Aku perempuan murahan. Kamu yang murahan, aku tidak pernah sedikitpun mengejar suami orang. Dan aku juga tidak mengakui jika suami orang itu suamiku, tidak sepertimu. Sudah selingkuh tapi masih mengakui suam
Anak buah Paman Boni mengikuti Dinda mereka ingin tau kemana Dinda pergi dan mereka ingin mencari tahu apa yang Dinda lakukan. Dinda terus melaju menuju tempat yang akan dia tuju. Walaupun menempuh perjalanan yang cukup jauh Dinda tidak peduli. "Aku harap tidak ada yang menemukanmu, aku akan buat kamu di tempat yang jauh dan ini balasan atas apa yang terjadi. Aku pastikan kamu akan membusuk di sana," gumam Dinda yang terus menerus mengomel sepanjang perjalanan. Perjalanan yang cukup jauh akhirnya membawa Dinda sampai di tujuannya. Suasana sudah gelap gulita saat sampai di tepi jurang. Dinda melihat suasana yang cukup sepi. 'Baiklah, saatnya aku membuang ini semuanya. Aku akan membuangnya di sana. Semoga tidak ada yang tahu apa yang aku lakukan.' bathin Dinda yang turun dari mobil dan berjalan ke arah bagasi mobil. Dari kejauhan anak buah Paman Boni sudah merekam semua yang di lakukan Dinda. Mereka terkejut melihat apa yang dikeluarkan oleh Dinda. "Lihatlah, dia bawa apa itu. Apa
"Kita tunggu kabar dari Mona sahabatmu itu dan paman Boni karena saat ini Paman Boni mengumpulkan data. Sekarang sudah jangan kamu pikirkan itu. Kita harus berjaga-jaga, jangan sampai kita lengah," jawab Darren memeluk Anne. Anne balas memeluk Darren dia percaya suaminya akan melindunginya. Keduanya berada di kamar mandi dan tentu saja saat ini, Darren ingin bermain panas di kamar mandi. "Baby, mandikan aku boleh?" tanya Darren dengan senyum mengembang. "Kalau mandi saja aku mau, tapi kalau mandi keringat aku tidak mau, Sayang. Kasihan Danda dia pasti menunggu kita di bawah, nanti saja," jawab Anne yang berjalan ke arah kamar mandi. Anne bukan menolak suaminya, tapi saat ini dia sudah mandi dan anaknya juga pasti menunggu mereka. Jika terlalu lama yang ada Danda akan mencarinya terlebih lagi dengan mertuanya. "Baby, ayo dunk. Udah tegang ini, lihatlah, kamu tidak kasihan. Masa aku harus main solo. Nggak enak, Baby," rengek Darren yang mengikuti ke Anne kemana saja. Anne menghel
Mendengar perkataan Raya, Mona atau Mustafa langsung melumat bibir Raya. Tidak peduli dengan jawaban dari Raya. Baginya sudah terlanjur gairahnya keluar jadi dia harus menuntaskannya. "Jangan menyalahkan aku jika nanti kamu kehilangan sesuatu dari dirimu, Baby," ucap Mustafa yang memperingati jika dia akan mengambil sesuatu dari Raya. Mustafa mengira jika Raya sudah tidak virgin lagi. Jadi, dia berkata seperti itu untuk membuat Raya mencegahnya tapi nyatanya Raya tidak melakukannya dia ikut dalam gairahnya alhasil keduanya melanjutkan tanpa lgi peduli apa yang terjadi nanti. "Euhmm, aku ingin lebih," racau Raya. "Aku akan memberikannya lebih padamu, Sayang. Tunggulah dulu," jawab Mustafa. Mustafa merobek pakaian Raya begitu saja dan membuangnya di sembarangan tempat. Mata Mustafa membola saat melihat lekuk tubuh Raya. Walaupun masih tertutup segitiga dan penghalang gunungnya tapi kemolekan tubuh Raya benar-benar menggoda. "Sangat cantik, tubuh yang aku sukai, ayo kita lakukan s