“Aku merasa hubungannya dengan calon suaminya agak aneh. Calon suaminya memang sering antar jemput dia, tapi entah kenapa aku merasa mereka nggak seperti pasangan yang lagi pacaran saja.”“Kamu juga merasakannya, ya? Kami juga sudah merasakannya sejak dulu.”Melia sedang berdiri di dinding samping pintu. Saat mendengar orang-orang di dalam pantri sedang menggosipnya, dia pun menunduk.Bahkan orang luar juga bisa menyadari hubungan Melia dengan Gilbert. Jujur saja, Melia cukup syok ketika Gilbert mengajaknya untuk berpacaran.Hanya karena satu tusukan, Gilbert malah ingin hubungan mereka menjadi serius. Dia masih tidak belum terbiasa dengan perubahan sikap Gilbert. Sebenarnya Melia sendiri bisa merasakan bahwa Gilbert merasa bersalah terhadapnya.Saat ini, di Grup Boga.“Pak Suryadi, Gilbert sudah mengambil alih saham perusahaan di Kota Oman. Selain itu, dua hari lalu dia pergi ke kasino.”Setelah mendengar laporan sekretaris, Suryadi meletakkan cangkir tehnya. Keningnya tampak berkerut
“Ayah suruh kamu bawa aku ke mana?”“Telah terjadi sesuatu dengan Ayah.” Gilbert menunduk, lalu melanjutkan dengan tenang, “Dia butuh uang. Dia beri tahu aku uangnya dia simpan di dalam rekeningmu. Apa benar seperti itu?”Kentley ragu sejenak. “Tapi kata Ayah, kartu itu tidak boleh diberikan kepada orang lain.”“Tapi Ayah tidak pernah mengatakan tidak boleh memberikan kartu itu kepada adikmu, ‘kan?”Ucapan Gilbert semakin membingungkan Kentley. Pada dasarnya Kentley mengalami gangguan mental. Hanya saja, seingatnya, dia memang memiliki seorang adik, tetapi dia tidak ingat siapa namanya.Kentley mengangguk dengan bingung. “Gimana caranya aku bisa membantu Ayah?”Gilbert membalas, “Serahkan kartu itu kepadaku. Aku akan antar kamu ke tempat ibumu. Kamu akan sangat aman selama bersama ibumu.”Sesungguhnya Kentley memang sangat merindukan ibunya. Dia menyerahkan kartu debit kepada Gilbert. Gilbert langsung mengambilnya, lalu menepuk-nepuk pundak Kentley. “Ayo, aku antar kamu ketemu orang ya
Pada saat ini, Suryadi menerima kabar mengenai menantu dari Emir Gozali. Tak disangka, orang tersebut adalah anak haramnya sendiri, Gilbert.Gilbert baru saja bertunangan dengan putrinya Emir. Masalah ini juga masih belum dipublikasikan.Suryadi duduk tertegun di baris belakang mobil. Terlihat ekspresi putus asa di wajahnya.Di sisi lain, Gilbert menyerahkan bukti rekening penggelapan Suryadi kepada kantor provinsi. Rekening Kentley adalah rekening luar negeri. Pihak kantor provinsi segera menghubungi kementerian luar negeri setempat. Tak lama kemudian, Suryadi pun dicekal tidak diizinkan untuk ke luar kota.Setelah masalah berakhir, Gilbert menaiki pesawat kembali ke ibu kota. Dia tidak lagi bertemu dengan Suryadi.Manajer kafe datang menjemput Gilbert di bandara. Ketika melewati toko bunga, Gilbert menyuruhnya untuk menghentikan mobil.Gilbert membeli sebuket bunga krisan, lalu kembali ke mobil. Manajer melihat dari kaca spion tengah. “Untuk Bu Melia?”Gilbert tidak berbicara seolah-
Gilbert menatap Melia. Terlihat senyuman tipis di wajahnya. “Tenang saja.”Jawaban singkat itu seolah-olah memiliki kekuatan gaib saja. Melia spontan merasa tenang.….Pada hari itu, hukuman Suryadi sudah diturunkan. Semua aset pribadi Suryadi dibekukan dalam waktu satu malam. Berhubung dia tidak diperbolehkan untuk ke luar kota, dia pun kehilangan kesempatan untuk menjalankan rencana ke luar negerinya.Tak lama kemudian, Suryadi pun ditahan untuk diinvestigasi.Gilbert pergi mengunjungi Suryadi di tahanan. Suryadi dibawa polisi ke ruang tunggu. Mereka saling bertatapan dengan dibatasi oleh kaca. Saat ini Suryadi tidak kelihatan arogan seperti sebelumnya.Suryadi mengangkat telepon, lalu berkata dengan geram, “Gilbert, kamu sungguh hebat. Berani-beraninya kamu bermain dua muka di hadapanku!”Gilbert tersenyum. “Aku sudah terbiasa seperti itu.”Suryadi tersenyum menyindir. “Ternyata anak yang tidak dibesarkan sendiri akan begitu berdarah dingin. Waktu itu, seharusnya aku menyuruh ibumu
Malam harinya, Gilbert tiba di Kediaman Gozali. Dia berdiri di depan rumah menunggu Melia membukakan pintu. Melia baru selesai keramas, masih tercium aroma wangi samponya.Malam ini Melia tidak merias wajahnya. Dia kelihatan sangat polos. Jarang-jarang ada wanita memiliki kondisi kulit sebagus ini di saat tidak merias wajah.“Sudah datang, ya. Ayo cepat masuk.” Melia menarik Gilbert ke dalam rumah, lalu menutup pintu rumah.Giselle pun menjamu Gilbert. Dia sudah mempersiapkan banyak makanan, hanya menunggu kedatangan Gilbert saja.“Paman, Tante.” Gilbert mengangguk bersikap sopan.Giselle tersenyum. “Sudahlah, ayo cepat cuci makan. Tinggal tunggu kamu saja.” Kemudian, dia melanjutkan, “Melia juga tidak tahu kamu suka makan apa. Jadi, kami masak masakan yang biasa kami makan.”Gilbert melirik Melia sekilas, lalu tersenyum datar. “Tidak apa-apa. Aku juga tidak pemilih.”Melia merasa agak canggung. Sepertinya dia tidak begitu memahami Gilbert. Saat makan, Emir menuangkan dua gelas anggur
Giselle merasa bingung. Dia mengambil piring buah dan teh ke lantai atas. Kebetulan tampak Gilbert dan Emir berjalan keluar ruang baca. Dia pun tertegun sejenak. “Dari tadi kalian di ruang baca?”Gilbert mengangguk.Emir menatapnya. “Aku lagi bahas sesuatu dengan Gilbert di ruang baca. Ada apa?”“Tadi aku suruh Melia antarin buah dan minuman ke atas. Tapi dia bilang dia tidak menemukan kalian di di ruang baca ….”Raut wajah Emir spontan berubah. Dia langsung bertukar pandang dengan Gilbert. Sepertinya, Melia sudah mendengarnya.Di sisi lain, Melia sedang duduk sendirian di kolam halaman belakang. Langit sudah gelap. Lampu di halaman sudah menyala.Gilbert mengikuti pelayan berjalan ke halaman belakang. Pelayan mengatakan sesuatu, lalu berpamitan. Dia berjalan ke sisi Melia. Melia sedang melempar kerikil di tangan ke dalam kolam.Saat mendengar adanya suara langkah kaki, Melia pun tertegun. Tanpa menoleh, dia berkata, “Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Tapi nggak apa-apa. Aku juga n
“Melia, perasaan bisa dipupuk. Setidaknya ucapanku itu serius, tidak ada hubungannya dengan utang budi.” Angin malam mengembus kerah pakaiannya. Tatapan Gilbert masih terlihat panas. “Kalau aku hanya ingin menebusmu, aku punya banyak cara untuk menebusmu, tidak mesti menggunakan cara ini.”Melia masih tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia baru bersuara, “Apa kamu menyukaiku? Meski hanya sedikit saja.”Gilbert menunduk untuk menatap Melia. “Setidaknya aku tidak merasa risi dan tidak membencimu.”Kali ini Melia tidak berbicara lagi.Gilbert mengangkat tangan mengusap pipi Melia. Melia terdiam di tempat. Detak jantungnya berdetak semakin kencang lagi. Dia menunduk, tidak berani bergerak.Telapak tangan Gilbert sangatlah kasar. Tangan kasar itu meraba-raba di wajah Gilbert, lalu meraba ujung bibirnya.Gilbert mendekat dengan perlahan. Tangan di sisi tubuh Melia dikepal erat. Dia pun menahan napasnya.Saat Gilbert mendekati bibirnya, tetiba dia berhenti, lalu beralih mengecup keni
Moris juga merasa lega. “Untung saja dia tidak satu komplotan dengan Pak Suryadi.”Jika tidak, Grup Boga akan semakin semena-mena lagi.Tak lama kemudian, Moris pun meninggalkan ruangan.Javier menuang minuman dengan perlahan. “Sekarang Grup Boga diambil alih dia?”Roger menggeleng. “Bukan, Gilbert hanya mengambil sebagian sahamnya saja. Dia tidak mengambil alih Grup Boga. Dia malah menyerahkan Grup Boga kepada Bu Larissa.”Javier meletakkan cangkir teh ke depan mulut. Gilbert menyerahkan Grup Boga kepada mantan istri Suryadi. Sepertinya Larissa bisa mengetahui masalah penggelapan dana Suryadi juga karena diberi tahu Gilbert.Gilbert tidak turun tangan sendiri. Dia malah bersembunyi di belakang mengalihkan pandangan Suryadi, lalu memanfaatkan Larissa. Seandainya Gilbert adalah musuh, dia adalah tokoh yang tidak gampang untuk dihadapi.Pada saat ini, di Grup Boga.Gilbert dan Larissa sedang duduk di dalam ruang kerja sembari mencicipi teh dan mengobrol. Dia tidak begitu menyukai anak ha
“Oh, ya, di mana Kak Ariel?” tanya Bastian.Jodhiva membalas, “Dia lagi temani ayahnya untuk jalan-jalan. Sekarang aku juga mau nyusul ke sana. Aku permisi dulu.”Usai berbicara, Jodhiva meninggalkan tempat.Bastia berdecak sembari menggeleng. “Orang yang sudah punya istri memang berbeda.”“Kamu ngomongnya seolah-olah kamu nggak sama dengan dia.” Yura juga meninggalkan tempat.Bastian meletakkan gelasnya, lalu mengikuti langkah Yura. “Hei, kenapa kamu malah meninggalkanku. Tunggu aku.”Claire berhenti di hadapan Javier. Javier menggandeng tangannya. “Sudah selesai mengenang masa lalu?”“Menurutmu? Bukannya sore nanti, kamu dan Ayah akan pergi ke Kediaman Keluarga Tanaka?”Javier tersenyum. “Aku lagi menunggumu untuk makan di sana.”Roger berjalan di sisi Izza, lalu menatap mereka. “Tuan Javier, Nyonya Claire. Kalau begitu, kamu pergi cari Ayah Angkat dulu.”Javier mengangguk. Dia merangkul pundak Claire, lalu berjalan ke koridor. Cahaya matahari dipantulkan ke sisi jendela. Bayangan d
Jessie tersenyum lebar. “Kalau begitu, aku akan mengenakan mahkota ini saat pernikahanku nanti. Anggap saja sebagai iklan desain ibuku.”Jules memeluk Jessie dari belakang. “Yang penting kamu suka.”…Anggota Keluarga Fernando baru tiba di Negara Hyugana dua hari sebelum resepsi pernikahan. Mereka tinggal di hotel yang dipesan Jules. Seluruh hotel ini telah dipesan oleh anggota keluarga kerajaan untuk menjamu para hadirin.Keluarga Chaniago dan Keluarga Kenata juga telah datang. Tobias juga tidak absen. Bahkan Shinta, Erin, Levin, dan Samuel yang berasal dari dunia hiburan juga telah datang. Tentu saja, Yura dan Bastian juga masuk dalam daftar undangan.Claire tiba di restoran. Pelayan membawanya ke dalam ruangan VIP. Ketika melihat pria yang duduk di dalam sana, dia pun tersenyum. “Ayah Angkat.”Owl memutar tubuhnya dengan perlahan. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Owl masih seperti dulu saja, tapi tubuhnya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya. Claire langsung maju untuk m
Orang lainnya juga ikut tersenyum.Menjelang malam, seluruh kota diselimuti dengan cahaya lampu neon. Setelah Jessie dan Jules menyelesaikan makan malam, mereka pun kembali ke Kompleks Amara.Jessie baru selesai mandi. Rambutnya pun masih basah. Jules mengambil handuk dari tangan Jessie, lalu membantunya untuk mengeringkan rambut.Saat ini, Jessie duduk di depan meja rias sembari menatap orang di dalam cermin. Senyuman merekah di atas wajahnya. “Kak Jules, aku sangat menantikan resepsi pernikahan kita.”“Oh, ya?” Jules mengusap rambut lembut Jessie. “Aku juga menantikannya.”“Aku merasa hidupku sangat sempurna karena bisa menikah dengan orang yang paling aku cintai, apalagi bisa bersama orang yang aku cintai berjalan ke jenjang berikutnya.”Jules pun tertawa, lalu membungkukkan tubuhnya untuk berbisik di samping telinga Jessie. “Apa kamu tahu, keinginan dalam hidupku juga sudah terwujud.”Jessie menoleh untuk menatapnya. “Keinginan apa?”Jules berbisik di samping telinga Jessie, “Menik
Hiro mengiakan.“Setelah di luar beberapa saat, kamu menjadi semakin dewasa saja.” Naomi menepuk-nepuk pundaknya. “Semoga kamu bisa semakin baik lagi.”Hiro hanya tersenyum dan tidak berbicara.…Dalam sekejap mata, akhirnya telah sampai ke akhir bulan. Liburan Jessie dan yang lain sudah berakhir. Mereka pun kembali ke ibu kota.Claire dan Javier berdiri di depan halaman untuk menunggu mereka. Setelah mereka menuruni mobil, Jessie langsung berlari ke sisi mereka. “Ayah, Ibu!” Dia langsung memeluk kedua orang tuanya.Javier mengusap kepala Jessie dengan tidak berdaya. “Padahal kamu sudah dewasa, masih saja minta dipeluk.”Senyuman di wajah Jessie semakin lebar lagi. “Tapi, di mata kalian, selamanya aku itu anak kecil!”Claire tersenyum tipis. Dia menatap beberapa orang yang berjalan kemari. “Baguslah kalau kalian bermain dengan gembira. Ayo, kita ke dalam dulu. Nanti malam kita makan bersama.”Setelah Dacia dan Ariel memasuki rumah, mereka duluan naik ke lantai atas untuk melihat anak.
Jules menatap mereka. “Kebetulan sekali kalian juga ada di sini.”Yura membalas, “Aku dan Bastian memang ada di sini. Setelah lihat unggahan Jessie, aku baru tahu ternyata kalian juga di sini.”Jessie membawanya ke tempat duduk. “Kalau begitu, kita tinggal beberapa hari bersama.”Setelah Bastian duduk, Jodhiva memperkenalkannya kepada Dacia dan Jessie. “Ini adik iparku, Dacia, dan adikku, Jessie.”“Aku pernah bertemu mereka di pernikahanmu.” Bastian masih mengingatnya. Dia pun berkata, “Adikmu itu satu sekolah dengan istriku. Istriku sering mengungkitnya.”Yura menatapnya. “Istrimu? Belum pasti aku akan menjadi istrimu.”Kening Bastian berkerut. “Kita saja sudah tunangan. Apa kamu masih bisa menikah sama orang lain?”Semua orang pun tertawa. Hanya Jessie saja yang terbengong. “Tunangan apaan? Yura, kamu sudah tunangan?”Yura berdeham ringan. “Aku lupa beri tahu kamu.”“Kamu nggak setia kawan banget, sih. Malah nggak beri tahu aku. “Jessie mencemberutkan bibirnya. Dia benar-benar tidak
Bos pemilik permainan berkata, “Dua puluh ribu diberi tiga kesempatan.”“Mahal sekali? Dua puluh ribu hanya diberi tiga kali kesempatan saja?” Dacia merasa sangat tidak menguntungkan.Bos mengangkat kepalanya. “Ini sudah paling murah. Tempat lain malah tiga puluh ribu.”Jessie menarik Dacia. “Dua puluh ribu juga nggak masalah. Nggak gampang bagi mereka untuk berbisnis. Kita juga cuma main-main saja.”Seusai berbicara, Jessie mengeluarkan uang tunai sebesar empat puluh ribu kepada bos. “Berarti enam kali kesempatan, ya.”Bos menyerahkan enam gelang kepada Jessie. Jessie menyukai sebuah gelang. Dia tahu gelang itu hanya barang KW, tapi kelihatannya sangat cantik. Jessie melempar ke sana, tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya.Setelah melempar dua kali lagi, Jessie masih saja tidak berhasil mendapatkan targetnya. Sekarang hanya tersisa tiga kali kesempatan.Ketika melihat Jessie putus asa, Ariel pun mengambil sisa gelang dari tangan Jessie. “Coba lihat aku.”Ariel melirik tepat ke sisi
Larut malam, kota kuno ini terasa sunyi dan hening, hanya suara serangga yang bergema di antara rerumputan.Sebuah lampu menerangi rerumputan di luar tenda, menambah suasana menjadi semakin hening dan tenang.Jessie membalikkan tubuhnya masih belum tertidur. Saat sebuah tangan panjang merangkul pinggangnya, lalu memasukkan Jessie ke dalam pelukannya. “Tidak bisa tidur?”“Emm.” Jessie bersandar di dalam pelukannya. “Kak Jules, aku ingin ke toilet, tapi aku nggak berani.”Jules mencium kening Jessie. “Biar aku temani.”Mereka berdua berjalan keluar tenda. Jules mengeluarkan senter, lalu berjalan bersama Jessie. Saat mereka tiba di depan pepohonan, Jessie membalikkan tubuhnya untuk menatap Jules. “Tunggu aku di sini.”Jules mengangguk. “Panggil aku kalau ada apa-apa.”Jessie berjalan ke dalam pepohonan, tetapi dia juga tidak berani berjalan terlalu jauh.Setelah buang air, Jessie segera keluar dan memeluk lengannya. “Selesai.”Jules mengulurkan tangan untuk merangkul Jessie.Setelah kemba
Jodhiva juga tersenyum. “Cepat juga, tapi masih tergolong pagi.”Jessie menyandarkan kepalanya di atas paha Jules sembari memandang langit. Beberapa saat kemudian, dia bertanya, “Kenapa rasanya bakal turun hujan?”Orang-orang langsung melihat ke sisi Jessie.Jerremy menarik napas dalam-dalam. “Kamu jangan sembarangan bicara.”Dacia memandang ke atas langit. Langit memang kelihatan cerah, tetapi malah kelihatan mendung di bagian atas gunung. “Mungkin cuma mendung saja?”Sudah jam segini, tapi matahari masih belum menampakkan diri. Seharusnya hanya mendung, tidak sampai tahap turun hujan.Ariel berkata, “Ramalan cuaca hari ini tidak mengatakan akan turun hujan hari ini. Aku merasa seharusnya tidak akan turun hujan.”Kecuali, ramalan cuaca tidak akurat!Beberapa orang tinggal sejenak. Jules merasa ada tetesan air di wajahnya. Dia mengusap sejenak. “Eh, turun hujan, deh.”Ariel duduk di tempat. “Apa?”Jessie menunjukkan senyuman canggung di wajahnya. “Firasatku mengatakan bakal turun hujan
Yang lain juga sudah setuju.Setelah masakan disajikan, Jessie melihat makanan berwarna putih dengan berbentuk seperti kipas. Dia bertanya pada bos, “Apa ini?”Bos memperkenalkan dengan tersenyum, “Ini namanya ‘milk fan’, terbuat dari susu. Karena warnanya putih dan agak transparan, ditambah bentuknya seperti kipas, makanan ini pun diberi nama ‘milk fan’.”Ariel mencicipinya. “Emm, rasanya enak juga.”Dacia dan Jerremy juga telah mencicipinya. Rasanya memang cukup enak.Setelah masakan selesai dimasak, Bos pun menyajikan ke atas meja. “Ini adalah mie beras dengan ditaburi ayam dingin dan berbagai bahan tambahan. Ayam dimasak dengan bumbu khas, lalu disiram dengan saus buatan sendiri, minyak cabai, minyak lada hitam, dan ditambahkan kenari panggang. Ini adalah salah satu makanan khas daerah kami. Biasanya para wisatawan juga sangat menyukainya.”Jessie mencicipi sesuap. Ariel pun bertanya, “Gimana rasanya?”Jessie mengangguk, lalu menyantapnya dengan suapan besar.Yang lain juga ikut me