"Masih ada 2 beling. Nona, tahan sedikit ya," tutur dokter. Dia meletakkan beling yang berlumuran darah ke atas nampan, lalu terus mencabut beling yang tersisa.Suster yang berdiri di samping menahan Chelsea. Wajah Chelsea tampak pucat, bibirnya bergetar, dan dahinya sudah dibasahi keringat. Setelah beling terakhir dicabut, suster membersihkan lukanya. Kemudian, suster mengoleskan obat bius lagi dan menjahit lukanya.Chelsea memalingkan wajahnya. Rasa sakit saat dijahit memang tidak senyeri saat pencabutan beling. Namun, dia tetap meringis karena merasakan sakit seperti disengat semut merah.Benn masuk ke kamar rawat Chelsea dengan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak sempat mengenakan jasnya. Dasinya juga miring. Kemeja putih yang dia kenakan sudah bermandikan keringat dan menjiplak otot-ototnya sampai terlihat jelas.Benn menutupi wajahnya sembari menarik napas dalam-dalam, seolah-olah sedang mengendalikan emosinya. Setelah merasa tenang, dia berjalan ke samping tempat tidur.Ketika suster
Pengawal itu berujar dengan canggung, "Nona Chelsea tidak perlu berterima kasih, sebenarnya ...." Ucapannya terhenti saat melihat sosok Benn di depan pintu. "Tuan Benn?" ujar si pengawal.Chelsea menoleh ke pintu dan berkata, "Eh, kamu sudah bangun?"Benn mengernyit dan membalasnya, "Kamu seharusnya istirahat dengan baik, kenapa malah kelayapan?"Chelsea mengusap bahunya dan berkata, "Lukaku nggak serius, terus kakiku juga nggak apa-apa. Kenapa aku nggak boleh jalan-jalan? Lagian, luka pengawalmu lebih serius, seharusnya dia yang harus banyak istirahat."Benn menarik napas dalam-dalam sebelum berujar lagi, "Terus kenapa kamu datang mengganggunya?"Ucapan Benn membuat Chelsea tertegun sejenak. Kemudian, dia berkata, "Aku cuma ... datang buat mengucapkan terima kasih. Kalau bukan karena keterampilan mengemudinya yang baik, kami berdua mungkin sudah mati.""Tuan Benn," ujar si pengawal sambil melirik Benn. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya pembicaraan itu hanya bisa
Yuna menatap Chelsea penuh selidik, seolah-olah ingin melihat apakah Chelsea menyimpan suatu rencana licik.Saat itu, Benn mendorong pintu dan masuk bersama pengawal. Begitu melihat Yuna di sana, dia sontak bertanya dengan ekspresi masam, "Apa yang Ibu lakukan di sini?"Yuna menoleh pada Benn dan menjawab, "Kamu tahu sendiri jawabannya, Benn."Benn berujar sinis, "Jadi, Ibu mengaku kalau ini ulah Ibu?"Yuna membalas dengan nada kesal, "Ibu cuma membantu meratakan jalan untukmu. Kalau kamu tidak mau melepasnya, Ibu akan membuatnya lebih menderita."Chelsea tercengang. Apa maksud ucapan Benn? Apa kejadian kemarin malam bukan hanya kecelakaan? Dia melihat Benn tengah menatapnya tanpa ekspresi. Beberapa saat kemudian, pria itu menghampirinya, lalu membawanya pergi sambil merangkul bahunya."Benn, Ibu akan memberimu satu kesempatan terakhir!" seru Yuna.Langkah Benn terhenti dan cengkeramannya di bahu Chelsea mengencang. Dia menoleh pada ibunya, lalu berkata dengan ekspresi marah, "Ibu coba
Napas Chelsea tersendat saat mendengar suara langkah kaki di luar pintu. Dia menoleh dan melihat beberapa orang membuka pintu. Wanita yang berjalan masuk ternyata adalah Jemima, tunangan Benn.Jemima tersenyum tipis dan berkata, "Maaf, ya. Aku mengundangmu dengan cara ini.""Mengundangku? Ini lebih tepat kalau disebut penculikan," balas Chelsea.Jemima berkata dengan abai, "Memangnya kenapa kalau ini penculikan? Di Negara Hyugana, polisi pun nggak berani macam-macam pada Keluarga Yamin. Kamu pikir polisi bisa membantumu?"Chelsea menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya dengan raut muram, "Apa maumu?"Jemima menghampiri Chelsea dengan tangan disilangkan di dada. Katanya, "Benn itu pria yang kusukai. Aku sudah menyukainya saat dia ... bersama dengan Priscila."Jemima berhenti di samping Chelsea dan melanjutkan, "Aku nggak masalah biarpun Benn nggak mencintaiku karena aku ditakdirkan untuk menikah dengannya. Setelah Priscila mati, hati Benn juga ikut tertutup. Kalaupun dia nggak bisa men
Senyum Jemima langsung surut. Kemudian, dia menyahut, "Apa harus ada cinta dalam pernikahan? Aku sudah puas asalkan bisa menjadi istri Benn. Aku nggak peduli dia mencintaiku atau nggak. Asalkan aku mencintainya, itu sudah cukup. Kami adalah pasangan yang sempurna. Cuma aku yang layak menyandang status sebagai istrinya!"Jemima mendorong Chelsea hingga menabrak dinding. Setelah itu, dia menendang bahunya yang terluka dengan sekuat tenaga. Chelsea meringis menahan sakit. Darah yang merembes dari perbannya telah menodai separuh kerah pakaiannya.Jemima membungkuk dan melempar senyum sinis sambil berujar, "Sakit? Sayang sekali, ini belum ada apa-apanya. Hari ini, aku bakal membuatmu merasakan sakit yang nggak akan pernah terlupakan."Setelah berkata begitu, Jemima mengangkat tangan untuk memanggil empat pria masuk ke dalam. Melihat itu, wajah Chelsea seketika menjadi pucat.Jemima mencengkeram lengan Chelsea dan mendorongnya ke hadapan para pria itu. Dia berujar dengan angkuh, "Benn nggak
"Ibulah yang melahirkan dan membesarkanku, jadi aku tidak bisa mencelakai Ibu. Tapi, karena Ibu sudah memberiku nyawa, aku akan kembalikan itu pada Ibu," ujar Benn.Benn melanjutkan dengan dingin, "Selama 37 tahun aku hidup, 25 tahun di antaranya berada dalam kendalimu. Aku tidak membenci Ibu karena Ibu memang menyayangiku. Tapi, aku tidak tahan dengan cara ibu mengungkapkan rasa sayang.""Priscila tidak bersalah, akulah yang salah. Aku tidak seharusnya jatuh cinta padanya. Chelsea juga tidak salah, tapi aku yang salah. Aku tidak seharusnya memprovokasi dia. Tapi, perbuatan Ibu kali ini sudah keterlaluan. Hanya dengan mati, aku bisa membuat Ibu berhenti," tambah Benn."Benn, buang pistol itu dan dengarkan Ibu. Kamu itu sumber kehidupan Ibu, Ibu tidak bisa hidup tanpamu ...," ujar Yuna sambil menggelengkan kepalanya. Dia belum pernah merasa setakut ini sebelumnya. Benn mengancam untuk bunuh diri untuk menentangnya!Tanpa bicara, Benn mulai menarik pelatuk dengan jarinya. Yuna seketika b
Benn merasa dirinya pantas mati. Semua itu memang salahnya. Dia sudah gagal melindungi wanita yang dicintainya....."Dokter, bukankah putraku sudah sadar? Ini sudah seminggu penuh, kenapa kondisinya masih seperti ini?" tanya Yuna sambil mengguncang bahu dokter dengan histeris.Dokter memandang Benn yang tidak responsif bak mayat hidup sejak sadar. Dia berujar tanpa daya, "Maaf, Bu Yuna. Kami sudah mengusahakan yang terbaik, tapi kondisi pasien kemungkinan disebabkan masalah psikologis."Masalah psikologis .... Yuna melepaskan cengkeramannya pada dokter itu dan berujar dengan linglung, "Kenapa bisa jadi begini?""Kamulah yang membuat Benn jadi seperti ini!" seru Cecilia. Dia berjalan masuk dengan tongkatnya dan melayangkan tamparan ke wajah Yuna.Yuna hanya bisa tertegun saat merasakan sengatan panas di pipinya. Sementara itu, Javier dan Claire yang datang bersama Cecilia berdiri di luar pintu, menyaksikan semuanya dalam diam."Kak ...," panggil Yuna pelan."Kamu diserahi tanggung jawa
Melihat Benn hanya diam, Javier pun tertawa dan berujar lagi, "Aktingmu bagus juga. Bagaimana kalau kamu menyerahkan proyek Teluk Bomin ....""Kamu menjengkelkan sekali," sela Benn. Dia berbalik dan menatap Javier dengan sebal.Javier masuk ke kamar, lalu duduk di kursi dan berkata, "Tidak kusangka pemain wanita sepertimu akan bertingkah seperti ini demi seorang wanita."Benn menyandar ke bingkai jendela. Dia menyahut dengan datar, "Menggelikan sekali, 'kan? Aku juga merasa ini sangat konyol. Aku baru mengenal dia selama 3 bulan, tapi aku sudah membiarkannya masuk ke hatiku. Rupanya tidak terlalu menawan, tapi bentuk tubuhnya lumayan. Dia pemarah dan naif. Biarpun terlihat pintar, dia sebenarnya bodoh dan lugu."Javier memainkan arloji di pergelangan tangannya. Dia mendongak untuk menatap Benn tanpa bersuara.Masih dengan pandangan tertuju ke luar jendela, Benn berkata lagi, "Aku peduli padanya karena dia agak lugu seperti Priscila. Awalnya, aku cuma ingin bersenang-senang, tapi ...."
“Oh, ya, di mana Kak Ariel?” tanya Bastian.Jodhiva membalas, “Dia lagi temani ayahnya untuk jalan-jalan. Sekarang aku juga mau nyusul ke sana. Aku permisi dulu.”Usai berbicara, Jodhiva meninggalkan tempat.Bastia berdecak sembari menggeleng. “Orang yang sudah punya istri memang berbeda.”“Kamu ngomongnya seolah-olah kamu nggak sama dengan dia.” Yura juga meninggalkan tempat.Bastian meletakkan gelasnya, lalu mengikuti langkah Yura. “Hei, kenapa kamu malah meninggalkanku. Tunggu aku.”Claire berhenti di hadapan Javier. Javier menggandeng tangannya. “Sudah selesai mengenang masa lalu?”“Menurutmu? Bukannya sore nanti, kamu dan Ayah akan pergi ke Kediaman Keluarga Tanaka?”Javier tersenyum. “Aku lagi menunggumu untuk makan di sana.”Roger berjalan di sisi Izza, lalu menatap mereka. “Tuan Javier, Nyonya Claire. Kalau begitu, kamu pergi cari Ayah Angkat dulu.”Javier mengangguk. Dia merangkul pundak Claire, lalu berjalan ke koridor. Cahaya matahari dipantulkan ke sisi jendela. Bayangan d
Jessie tersenyum lebar. “Kalau begitu, aku akan mengenakan mahkota ini saat pernikahanku nanti. Anggap saja sebagai iklan desain ibuku.”Jules memeluk Jessie dari belakang. “Yang penting kamu suka.”…Anggota Keluarga Fernando baru tiba di Negara Hyugana dua hari sebelum resepsi pernikahan. Mereka tinggal di hotel yang dipesan Jules. Seluruh hotel ini telah dipesan oleh anggota keluarga kerajaan untuk menjamu para hadirin.Keluarga Chaniago dan Keluarga Kenata juga telah datang. Tobias juga tidak absen. Bahkan Shinta, Erin, Levin, dan Samuel yang berasal dari dunia hiburan juga telah datang. Tentu saja, Yura dan Bastian juga masuk dalam daftar undangan.Claire tiba di restoran. Pelayan membawanya ke dalam ruangan VIP. Ketika melihat pria yang duduk di dalam sana, dia pun tersenyum. “Ayah Angkat.”Owl memutar tubuhnya dengan perlahan. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Owl masih seperti dulu saja, tapi tubuhnya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya. Claire langsung maju untuk m
Orang lainnya juga ikut tersenyum.Menjelang malam, seluruh kota diselimuti dengan cahaya lampu neon. Setelah Jessie dan Jules menyelesaikan makan malam, mereka pun kembali ke Kompleks Amara.Jessie baru selesai mandi. Rambutnya pun masih basah. Jules mengambil handuk dari tangan Jessie, lalu membantunya untuk mengeringkan rambut.Saat ini, Jessie duduk di depan meja rias sembari menatap orang di dalam cermin. Senyuman merekah di atas wajahnya. “Kak Jules, aku sangat menantikan resepsi pernikahan kita.”“Oh, ya?” Jules mengusap rambut lembut Jessie. “Aku juga menantikannya.”“Aku merasa hidupku sangat sempurna karena bisa menikah dengan orang yang paling aku cintai, apalagi bisa bersama orang yang aku cintai berjalan ke jenjang berikutnya.”Jules pun tertawa, lalu membungkukkan tubuhnya untuk berbisik di samping telinga Jessie. “Apa kamu tahu, keinginan dalam hidupku juga sudah terwujud.”Jessie menoleh untuk menatapnya. “Keinginan apa?”Jules berbisik di samping telinga Jessie, “Menik
Hiro mengiakan.“Setelah di luar beberapa saat, kamu menjadi semakin dewasa saja.” Naomi menepuk-nepuk pundaknya. “Semoga kamu bisa semakin baik lagi.”Hiro hanya tersenyum dan tidak berbicara.…Dalam sekejap mata, akhirnya telah sampai ke akhir bulan. Liburan Jessie dan yang lain sudah berakhir. Mereka pun kembali ke ibu kota.Claire dan Javier berdiri di depan halaman untuk menunggu mereka. Setelah mereka menuruni mobil, Jessie langsung berlari ke sisi mereka. “Ayah, Ibu!” Dia langsung memeluk kedua orang tuanya.Javier mengusap kepala Jessie dengan tidak berdaya. “Padahal kamu sudah dewasa, masih saja minta dipeluk.”Senyuman di wajah Jessie semakin lebar lagi. “Tapi, di mata kalian, selamanya aku itu anak kecil!”Claire tersenyum tipis. Dia menatap beberapa orang yang berjalan kemari. “Baguslah kalau kalian bermain dengan gembira. Ayo, kita ke dalam dulu. Nanti malam kita makan bersama.”Setelah Dacia dan Ariel memasuki rumah, mereka duluan naik ke lantai atas untuk melihat anak.
Jules menatap mereka. “Kebetulan sekali kalian juga ada di sini.”Yura membalas, “Aku dan Bastian memang ada di sini. Setelah lihat unggahan Jessie, aku baru tahu ternyata kalian juga di sini.”Jessie membawanya ke tempat duduk. “Kalau begitu, kita tinggal beberapa hari bersama.”Setelah Bastian duduk, Jodhiva memperkenalkannya kepada Dacia dan Jessie. “Ini adik iparku, Dacia, dan adikku, Jessie.”“Aku pernah bertemu mereka di pernikahanmu.” Bastian masih mengingatnya. Dia pun berkata, “Adikmu itu satu sekolah dengan istriku. Istriku sering mengungkitnya.”Yura menatapnya. “Istrimu? Belum pasti aku akan menjadi istrimu.”Kening Bastian berkerut. “Kita saja sudah tunangan. Apa kamu masih bisa menikah sama orang lain?”Semua orang pun tertawa. Hanya Jessie saja yang terbengong. “Tunangan apaan? Yura, kamu sudah tunangan?”Yura berdeham ringan. “Aku lupa beri tahu kamu.”“Kamu nggak setia kawan banget, sih. Malah nggak beri tahu aku. “Jessie mencemberutkan bibirnya. Dia benar-benar tidak
Bos pemilik permainan berkata, “Dua puluh ribu diberi tiga kesempatan.”“Mahal sekali? Dua puluh ribu hanya diberi tiga kali kesempatan saja?” Dacia merasa sangat tidak menguntungkan.Bos mengangkat kepalanya. “Ini sudah paling murah. Tempat lain malah tiga puluh ribu.”Jessie menarik Dacia. “Dua puluh ribu juga nggak masalah. Nggak gampang bagi mereka untuk berbisnis. Kita juga cuma main-main saja.”Seusai berbicara, Jessie mengeluarkan uang tunai sebesar empat puluh ribu kepada bos. “Berarti enam kali kesempatan, ya.”Bos menyerahkan enam gelang kepada Jessie. Jessie menyukai sebuah gelang. Dia tahu gelang itu hanya barang KW, tapi kelihatannya sangat cantik. Jessie melempar ke sana, tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya.Setelah melempar dua kali lagi, Jessie masih saja tidak berhasil mendapatkan targetnya. Sekarang hanya tersisa tiga kali kesempatan.Ketika melihat Jessie putus asa, Ariel pun mengambil sisa gelang dari tangan Jessie. “Coba lihat aku.”Ariel melirik tepat ke sisi
Larut malam, kota kuno ini terasa sunyi dan hening, hanya suara serangga yang bergema di antara rerumputan.Sebuah lampu menerangi rerumputan di luar tenda, menambah suasana menjadi semakin hening dan tenang.Jessie membalikkan tubuhnya masih belum tertidur. Saat sebuah tangan panjang merangkul pinggangnya, lalu memasukkan Jessie ke dalam pelukannya. “Tidak bisa tidur?”“Emm.” Jessie bersandar di dalam pelukannya. “Kak Jules, aku ingin ke toilet, tapi aku nggak berani.”Jules mencium kening Jessie. “Biar aku temani.”Mereka berdua berjalan keluar tenda. Jules mengeluarkan senter, lalu berjalan bersama Jessie. Saat mereka tiba di depan pepohonan, Jessie membalikkan tubuhnya untuk menatap Jules. “Tunggu aku di sini.”Jules mengangguk. “Panggil aku kalau ada apa-apa.”Jessie berjalan ke dalam pepohonan, tetapi dia juga tidak berani berjalan terlalu jauh.Setelah buang air, Jessie segera keluar dan memeluk lengannya. “Selesai.”Jules mengulurkan tangan untuk merangkul Jessie.Setelah kemba
Jodhiva juga tersenyum. “Cepat juga, tapi masih tergolong pagi.”Jessie menyandarkan kepalanya di atas paha Jules sembari memandang langit. Beberapa saat kemudian, dia bertanya, “Kenapa rasanya bakal turun hujan?”Orang-orang langsung melihat ke sisi Jessie.Jerremy menarik napas dalam-dalam. “Kamu jangan sembarangan bicara.”Dacia memandang ke atas langit. Langit memang kelihatan cerah, tetapi malah kelihatan mendung di bagian atas gunung. “Mungkin cuma mendung saja?”Sudah jam segini, tapi matahari masih belum menampakkan diri. Seharusnya hanya mendung, tidak sampai tahap turun hujan.Ariel berkata, “Ramalan cuaca hari ini tidak mengatakan akan turun hujan hari ini. Aku merasa seharusnya tidak akan turun hujan.”Kecuali, ramalan cuaca tidak akurat!Beberapa orang tinggal sejenak. Jules merasa ada tetesan air di wajahnya. Dia mengusap sejenak. “Eh, turun hujan, deh.”Ariel duduk di tempat. “Apa?”Jessie menunjukkan senyuman canggung di wajahnya. “Firasatku mengatakan bakal turun hujan
Yang lain juga sudah setuju.Setelah masakan disajikan, Jessie melihat makanan berwarna putih dengan berbentuk seperti kipas. Dia bertanya pada bos, “Apa ini?”Bos memperkenalkan dengan tersenyum, “Ini namanya ‘milk fan’, terbuat dari susu. Karena warnanya putih dan agak transparan, ditambah bentuknya seperti kipas, makanan ini pun diberi nama ‘milk fan’.”Ariel mencicipinya. “Emm, rasanya enak juga.”Dacia dan Jerremy juga telah mencicipinya. Rasanya memang cukup enak.Setelah masakan selesai dimasak, Bos pun menyajikan ke atas meja. “Ini adalah mie beras dengan ditaburi ayam dingin dan berbagai bahan tambahan. Ayam dimasak dengan bumbu khas, lalu disiram dengan saus buatan sendiri, minyak cabai, minyak lada hitam, dan ditambahkan kenari panggang. Ini adalah salah satu makanan khas daerah kami. Biasanya para wisatawan juga sangat menyukainya.”Jessie mencicipi sesuap. Ariel pun bertanya, “Gimana rasanya?”Jessie mengangguk, lalu menyantapnya dengan suapan besar.Yang lain juga ikut me